Tuesday, December 31, 2013

Malam Minggu Ditri

Setelah sekian lama gak posting,alhamdulillah bisa posting lagi di blog tercintah :D Hmm kali ini seperti judulnya, saya akan membahas tentang malam minggu. But, why so sudden? Tumben-tumbennya ya saya bahas masalah beginian? Saya aja gak ngerti hehe. Gak ding, pembahasan ini bukan tanpa maksud. Gak mungkinlah saya nulis sesuatu yang useless.
Ya, mungkin kesannya tiba-tiba. Iyalah, seorang Ditri tiba-tiba bikin postingan sendu nan melankolis begini? Kayaknya besok mau kiamat ya? Haha, gak juga. Postingan ini saya buat karena beberapa hal. Yang pertama, semalam saya home alone ditinggal mudik sama semua teman kontrakan. Jadilah saya hanya sendiri di kontrakan bertemankan speedy :D Tapi, alhamdulillah seorang bule cantik dari Vietnam bersedia menemani saya tadi malam jadinya gak sepi-sepi banget *apalagi diputerin lagu bahasa Vietnam, Oh My!* Kedua, karena ternyata malam Minggu itu masih jadi sesuatu yang gimanaa gitu di kalangan orang-orang dengan status jomblo. Termasuk para pengemban dakwah ideologis. Saya jadi mikir, apa segitunya ya malam Minggu? Perasaan selama saya jadi jomblo, dari lahir sampai sekarang, malam Minggu ya sama aja dengan malam-malam yang lain. Meskipun penyebutannya agak gimanaa gitu. Cuma kadang kalo lagi kesepian *kayak tadi malam* saya ngirim SMS iseng aja ke beberapa teman yang saya tahu banget kegombalannya tingkat berapa.

Realita malam Minggu emang ternyata masih menjadi malam yang spesial. Saya gak kebayang aja ntar yang jomblo-jomblo itu kalo udah pada nikah juga akhirnya malmingan sama kekasih halalnya. Ya, gapapa sih. Saya gak iri kok. Cumaa, kalo itu pengemban dakwah rasanya agak gimanaa gitu. Okelah, dulu nih jaman saya masih SD *jaman kapan ya?* emang malam Minggu itu adalah malam paling membahagiakan. Kenapa? Karena besoknya sekolah libur. Yeah, jadi bisa tidur larut malem, mantengin tipi sampe bosen trus besoknya nonton kartun dan supersentai :D Tapi, seiring dengan berjalannya waktu ya akhirnya sama aja malam Minggu atau bukan. 
Last but not least, malam Minggu sebenarnya sama kok dengan malam-malam yang lain. Banyak hal yang bisa dilakukan meskipun jomblo. Jadi, gak usah deh lebay-lebay sampe apdet status segala karena kesepian. Life still goes on, so just let it flow~ 
Lagian nih ya, hari Minggu itu kan harinya kaum pagan dan hari ibadah agama Nasrani. Kalo kaum Muslimin mah tiap hari sama aja, kecuali hari Jumat. Kalo itu emang spesial karena banyak barokah di sana. Alhamdulillah, malam Minggu kemarin saya tidak sendirian. Ditemani bule cantik dari Vietnam, che Lyn. Kam en, chi *haha
So, say no to galau pas malming. Pengemban dakwah gak pantes mah. Apalagi pengemban dakwah ideologis. Musuh kita di depan mata, so don't let your guard down :)

Wrote at December 29th 2013. Edited at December 31th.


Saturday, December 28, 2013

Distance

I look the sky
And see you in the distance
Your face seems so bright
As if nothing happens

You've gone
And it makes our distance become longer
But it's a relief
Because you're going to His side

Eventhough it seems so soon
Asking why so sudden
Just make everything useless
I should accept it sincerely

Now, you're not here anymore
But your memories stand still
Even the time goes by
Those memories will be forever

I'm crying
See you leaving
Hope we'll meet
In His Most Beautiful Place

I learn a lot from you
That this world
is just a journey
that taking us back to Him

Hope I can be strong like you
who fight till the end
Till He takes you back
on His side


Teruntuk ukhti Yunila Yura. Eventhough we never met before, let me say goodbye. Hope you reach the most beautiful place by His side.

271213.

Thursday, December 19, 2013

My Guardian Prince

Hari ini. Aku bersyukur padaNya yang telah mengirimmu ke kehidupaku, ke kehidupan kami. Satu per satu pertanyaan terjawab mengapa kau ada. 
Dulu, aku selalu menganggapmu sebagai musibah. Bencana. Punya adik laki-laki itu menyebalkan. Karena semua anak laki-laki pasti begitu. Nakal, menyebalkan, suka mengganggu, bikin nangis, dll. 
Masih terbayang jelas bayangan kita di masa kecil. Betapa kau sangat nakal dan suka mengganggu. Semakin aku berteriak, kau akan semakin bersemangat menggangguku. Jika kau sakit, aku yang sering kena marah Mama. Bapak juga sangat menyayangimu. Kakek juga begitu. Kenapa? Karena kau laki-laki satu-satunya. Dulu aku berpikir enaknya punya kakak laki-laki daripada adik laki-laki. Mending punya adik perempuan. 
Kadang aku membenci kelakuanmu. Kau selalu dapat pembelaan. Kadang aku juga iri, kau selalu mendapatkan semua pertama kali. Kepercayaan, barang-barang. Dan parahnya kau dulu sangat pelit. Dipinjam bentar aja gak boleh. Mana cueknya minta ampun. Kalo sama yang lain aja baik, tapi sama kakaknya haduuh harus ngemis dulu baru dapat. 
Ya, that’s you. Prince Kerupuk. Tapi, saat aku jauh, aku merasa kehilangan. Karena seiring dengan berjalannya waktu, kau tidak lagi menjadi anak kecil yang nakal dan suka mengganggu. Kau tumbuh menjadi seorang anak yang beranjak dewasa. Dan disitulah rasa syukurku perlahan membesar.
Ketika Islam menyentuh hidupku, aku benar-benar merasa tertolong dengan keberadaanmu. Ketika harus pergi ke tempat yang jauh entah untuk halqoh atau dakwah dan yang lain, kau selalu ada untuk mengantarku meski awalnya harus ngomel dulu. Aku senang saat kita berpapasan dengan salah seorang sahabatmu ketika kau akan mengantarku sebelum pergi ke sekolah.
"Im, ayo!," katanya.
"Iya, gue nyusul. Gue mau nganterin Kakak gue dulu", balasmu.
Mungkin itulah yang membuat teman-temanmu sering menyebutku sebagai kakak durhaka karena aku hampir tidak pernah memperhatikanmu. Padahal, mungkin saja kau sangat memperhatikanku meski kau tidak pernah menampakkannya. 
Ya, sampai nanti ketika aku bertemu dengan pasangan hidupku, kaulah yang akan menjadi pangeran penjagaku. Karena aku tidak bisa selalu berharap pada Bapak seperti dulu saat masih SD atau SMP. 
Aku takkan pernah lupa saat kau mengirimkan pesan.
"Lebaran pulang gak?"
"Kenapa, kangen aku ya?"
"Gak, pengen ngumpul aja"
Kau tau, rasanya seperti jalan diatas jembatan pelangi. Aku senang sekali. Setelah sekian lama akhirnya kau mengirimkan pesan. Mungkin karena jarak yang jauh. 
Kau banyak berubah. Semoga kau berubah menjadi lebih baik lagi, adikku. Karena kaulah harapanku di masa depan. Menjadi pemimpin bagi kami, kakak-kakak dan ibumu. Meski sekarang semua sudah tak sama lagi. Teruslah menjadi pangeran penjaga bagi kami. 
Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu, tidak hanya di hari ini tetapi hari-hari selanjutnya. Semoga kau kelak mendapatkan hidayah untuk menjadi pejuang agamaNya bersama-sama lagi seperti dulu. Aku, Kau dan Kakak. 
Wish u all the best, bro. Love you in Allah <3
*Special for my younger brother, Ibrahim Fantri Teddy Kurniawan.

Malang, December 19th 2013

Thursday, December 12, 2013

Freedom is (Never) Free

Polwan pengen berjilbab. Akhir-akhir ini berita tersebut santer, khususnya di dunia maya. Sebenarnya saya sendiri sudah tahu dari beberapa waktu sebelumnya. Tapi ternyata ini bukan peristiwa biasa. Entah mungkin saat ini perasaan kaum Muslimin semakin kuat ke arah Islam ataukah memang karena hijab lagi trend *eh
Mengenai penggunaan kerudung bagi polwan sudah disampaikan oleh Kapolri bahwa itu hak asasi, jadi jika ingin menggunakan ya silahkan. Tetapi, tidak seperti Kapolri, Wakapolri justru mengatakan bahwa jika polwan ingin berkerudung ke Aceh aja sana, pindah tugas. Hmm, seolah-olah yang diwajibkan berkerudung hanya muslimah Aceh saja. Atau lebih picik lagi hanya muslimah timur tengah. Hadeh, tepok jidat deh sama orang-orang model begini. Batas teritorial menentukan hukum syara’ yang dipake. Besok-besok bisa jadi haji gak wajib karena kita jauh dari Arab Saudi. Hellow, Allah itu Pencipta dan Pengatur bukan justru diatur hukumnya seenak jidat elu pade. 
Namanya Muslimah, auratnya itu sudah jelas. Coba aja lihat pas sholat, semua tertutup kecuali wajah dan telapak tangan, seperti nash dari Rasulullah SAW.
"Sesungguhnya seorang gadis jika sudah haidh tidak layak terlihat darinya kecuali wajah dan tangannya sampai pergelangan tangannya" (HR. Abu Dawud)
Kemudian Allah SWT sudah berfirman dalam surat An Nuur ayat 31
"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya"
Tidak hanya itu. Ketika seorang muslimah ke luar rumah, mereka wajib berjilbab. 
Allah SWT berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 59
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka"
Hendak di sini bukan dalam bahasa Indonesia yang artinya anjuran. Tetapi sebuah kewajiban sama halnya dengan sholat. So, dosa kalo seorang muslimah keluar rumah tanpa jilbab dan kerudung. 
Nah, lucunya, terkait polwan yang pengen banget berkerudung *baru kerudung lho ya. Jilbabnya belum* orang-orang yang mengusung HAM dan gender kok gak ada yang koar-koar sekeras biasanya ya? Biasanya kan kalo ada diskriminasi perempuan atau ada hak-hak yang terabaikan mereka langsung koar-koar. KDRT koar-koar, poligami koar-koar, warisan koar-koar lagi, dsb. Nah, pas mau taat sama Allah kok malah bungkam? 
Lalu, mana kebebasan yang mereka usung? Benarkah Democrazy bener-bener melindungi kebebasan? Lantas, kebebasan seperti apa sih yang mereka maksud? Pada kenyataannya, freedom is (never) free.
Ketika Islam mengatur, bukan berarti Islam mengekang kebebasan. Islam justru mengarahkan agar kebebasan yang diinginkan tidak malah belok sampai kebablasan seperti sekarang ini.
Beware. Because freedom is (never) free.

Wallahu ‘alam bi ash shawwab

Healing Day. December 12th 2013.

Kita (Masih) Sekuler?

Tulisan ini bukan untuk menyindir pihak tertentu. Ini lebih sebagai muhasabah bagi saya dan juga renungan bagi kita semua. Anggap saja ini bentuk cinta saya kepada semua saudara se-aqidah yang telah mengikrarkan diri menjadi pembela agama Allah dengan berdakwah, bukan sembarang dakwah. Dakwah dengan metode khas dan tujuan yang mulia, yakni mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.
Sekuler. Sebuah kata yang sudah tidak asing lagi di kalangan pengemban dakwah ideologis. Kenapa? Karena kata inilah yang menjadi dasar berdirinya ideologi Kapitalisme yang saat ini sedang duduk di singgasana kekuasaan dunia dengan Amerika Serikat sebagai pengembannya. Sekuler adalah memisahkan agama dengan kehidupan. Sekulerisme menihilkan peran agama dalam mengatur kehidupan bernegara dan ini yang sering sekali digaungkan di tengah-tengah umat, ditampakkan kebobrokan dan kecacatannya kemudian dikomparasikan dengan ideologi Islam. 
Namun, terkadang pemikiran ini masih menjangkiti pengemban dakwah ideologis yang justru membenci sekulerisme. Yah, memang tidak bisa dinafikkan sejak Khilafah runtuh, kita dididik dengan pola pendidikan sekuler. Maka, wajar memang jika masih ada sisa-sisa sekulerisme yang (mungkin) seringkali tidak kita sadari masih ada dalam benak kita. Makanya, kata musyrifah saya, kalo halqoh itu yang sungguh-sungguh. Karena sejatinya halqoh itu adalah nyawa. Halqoh yang memberi sumbangsih mabda dan karena mabda itulah kita bergerak (dakwah). Halqoh yang akan membersihkan benak kita dari pemikiran-pemikiran kufur yang kemudian diganti dengan pemikiran Islam.
Ketika halqoh atau rapat tim atau mungkin juga pada liqo’ dan training kita semangat. Namun, saat dihadapkan pada kenyataan dimana pemikiran Islam harus berbenturan dengan kenyataan, tidak sedikit yang kemudian loyo bahkan terkesan mati suri. DiSMS gak dibalas, ditelpon gak diangkat,diajak kontak sibuk dan 1001 jenis alasan lainnya. Saya juga tidak ingin serta merta menyalahkan karena memang pada kenyataannya kita terikat dengan kepentingan individu kita masing-masing, tetapi itu juga bukan legitimasi bahwa kita boleh untuk individualis. Memisahkan antara urusan individu dengan urusan dakwah. Bukankah sama saja itu sekuler? 
Berkoar-koar tentang bobroknya sekuler tetapi masih sering menganggap bahwa urusan dakwah dengan urusan individu adalah dua hal yang berbeda. Memahami bahwa dakwah sebagai poros tetapi masih sering terbawa perasaan dalam berdakwah. Ketika dakwah selalu berakhir dengan penolakan dan kegagalan akhirnya gak semangat lagi dakwahnya. Lebih semangat nyari kerjaan sambilan dan melakukan hobi yang lain yang sebenarnya bisa menunjang dakwah tapi tidak digunakan juga untuk dakwah. Merencanakan pernikahan full barokah tapi kadang dakwah juga lost. Akhirnya nyari aman. Dakwah via dunia maya tapi masih terjebak juga dengan celoteh yang tidak penting. 
Saya kembali teringat pesan salah seorang musyrifah saya yang lain. Beliau mengatakan bahwa pemikiran itu shahih jika sudah dibuktikan dengan ujian. Ketika ditimpa ujian apakah kita bertahan dengan mafhum itu ataukah justru banting setir dan menyerah dengan keadaan. Maka ikhlas dan sabar turut menyertainya *huhu, saya benar-benar tertabok*
Kemudian di kesempatan lain, seorang musyrifah saya yang lain lagi menyampaikan, sekeras apapun ujiannya, sesulit apapun kehidupan ini menghimpit, jangan pernah tinggalkan dakwah.
Last but not least, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua dan menjadi lecutan untuk berfastabiqul khairaat menjadi yang terbaik dalam dakwah. Karena dakwah bukan sekedar jalan yang menjadikan kita terkenal di hadapan manusia atau mendapatkan harta, tahta dan wanita. Lebih dari itu. Dakwah adalah jalan hidup Nabi dan para shahabat. Dakwah pula yang menghantarkan para mujahid ke surga dan inilah yang kita kejar meski kita belum bisa menyamai amalan mereka. Kita ingin menjadi yang terbaik di sisiNya bukan karena apa atau siapa. Dakwah ini pula yang akan menghantarkan pada kembalinya kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah *in sya Allah*
Saya teringat *lagi* kutipan sebuah lagu
"Dari atas satu tanah tempat kita berpijak, teruslah bergerak, berhentilah mengeluh"

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Healing day. December 12th 2013.

Thursday, December 05, 2013

Arigatou, Megu Chan ^^

Sampai aku selesai menulis tulisan ini, judulnya masih belum ada. Kenapa? Karena aku bingung, hehe. Ya, sudahlah nanti saja kalau sudah mau diposting baru kutulis judulnya.
Untuk seseorang yang ngambek karena namanya tidak kucantumkan dalam tulisanku beberapa waktu yang lalu. Maaf ya, bukan karena aku sengaja dan tidak menganggapmu penting tetapi, kategorinya lain.
Aku bukan orang yang supel. Tetapi, alhamdulillah Allah memberiku banyak teman yang menyayangiku. Meski kehidupanku tidak sesempurna bayangan kebanyakan orang. Yah, begitulah hidup. Karena Allah Maha Adil, terkadang ada hal yang kita punya dan tidak dimiliki orang lain begitu pun sebaliknya.
Aku dikaruniai banyak adik. Adik kandungku sebenarnya cuma satu. Tetapi, aku punya banyak adik unofficial. Salah satunya, kamu. Aku masih ingat saat kau SMS dan mengabarkan akan mengunjungiku setelah lombamu selesai di Surabaya. Dan benar saja, kau melakukannya. Aku tidak membayangkan betapa capeknya kau dan rekan setimmu seharian dan kalian akhirnya datang ke tempatku berada. Malam itu aku sangat senang. Meskipun kita tidak banyak bercerita karena aku tahu kau pasti sangat capek. Tetapi, kau sudah punya pengalaman bukan? Jadi, tidak akan nyasar kalo ke sini untuk kedua kalinya :D
Malam itu kau juga memberitahuku nama barumu, Nafizah Hikari. Dan aku bilang, nama Hikari itu sudah terlalu mainstream. Lalu aku menambahkan nama baru, yaitu Megumi yang artinya anugerah. Daripada Chidori yang gak ada artinya, hehe. Jadilah namamu Nafizah Megumi. Aku menyebutnya Megu saja untuk menyingkatnya. Semoga kau tidak lupa dengan nama pemberianku. 
Saking terlalu banyak kenangan, aku lupa kapan tepatnya kita berkenalan. Aku hanya ingat waktu itu kau ikut Rohis sewaktu SMA. Dan alhamdulillah sekarang kau lebih militan dari yang bisa kubayangkan.
Semangat terus, Dek. Jangan pernah berhenti berjuang. Masa depan kampus ada di tangan kalian *padahal bentar lagi lulus :D* Kalian masih punya banyak kesempatan untuk beramal. Terima kasih karena telah mengizinkan Kakakmu yang lumayan bandel ini untuk belajar dari kalian yang lebih muda. Terima kasih juga karena sudah jadi fansku padahal sebenarnya aku biasa saja *haha geernya gue*
Senang rasanya melihat kalian tumbuh menjadi akhwat yang membanggakan. Doaku beserta kalian, adik-adikku. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan.

Widyaloka. December 5th 2013.

*Special For Nafeeza Megumi Gianizzari. Makasih buat hadiahnya. Harusnya dikasih langsung. Gak mau tau pokoknya dikirimin *eh :P

Wednesday, December 04, 2013

KTM-ku

Pukul 15.45 saya bergegas hendak sholat Ashar. Tiba-tiba ada dua orang teman, yang satu teman seangkatan, yang satu adik tingkat. Ketika saya berlalu di depan mereka, teman seangkatan saya langsung mencegat.

"Dit, Dit, pinjem KTMnya dong. Ini nih dia mau nyalon jadi DPM", katanya padaku sambil memandang ke arah adik tingkat itu.
"Iya Mbak, pinjem ya?", timpal adik tingkat saya kemudian.
Antara bingung, mau sholat Ashar atau menjelaskan saya cuma bisa bilang.
"Hah? KTM? Emmm, ntar ya mau sholat dulu", kata saya sambil ngibrit masuk ke gedung rektorat.

Suasana kampus saya memang lagi rame-ramenya kampanye untuk Pemira (Pemilu Raya, untuk memilih BEM Universitas dan DPM Universitas) serta Pemilwa untuk tataran fakultas. Nah, adik tingkat saya tadi sepertinya mau nyalon untuk DPM Fakultas.

Saya sih mau aja KTM saya dipinjam, tapi saya ingin kejelasan visi Si Calon. Ingin mengubah kampus tetapi memakai sistem yang sama, bukankah sama saja nyemplung ke dalam lubang yang sama? Parahnya ini bukan tidak sengaja tetapi sengaja. Okelah kalo mereka yang labelnya Nasionalis, dll. Tapi ternyata teman-teman yang backgroundnya pergerakan mahasiswa Islam pun ikut-ikutan tren memperbaiki kondisi lewat jalur sistem yang sebenarnya justru banyak membuat mereka terjebak dalam pragmatisme dan kompromi.

Sudah saatnya mainstream pergerakan mahasiswa berbelok arah. Banting setir kalo bahasa saya. Sistem Demokrasi inilah yang mengekang idealisme kita, para agen perubahan. Dan satu-satunya visi yang harus kita wujudkan adalah visi yang dapat mewujudkan perubahan hakiki, yakni perubahan yang berstandar pada kebenaran mutlak yakni dari Allah azza wa jalla.

Hmm, pada akhirnya ini jadi PR besar kita semua, khususnya teman-teman yang bergerak di dakwah kampus, especially gue yang bergerak ke teman-teman aktivis.
Saatnya kembali kepada Syariah di bawah naungan Khilafah.


Menjelang Maghrib diiringi rinai hujan. December 4th 2013.

Tuesday, December 03, 2013

Puisi Untuk Para Pejuang

Jalan ini begitu panjang, melelahkan dan berliku. Terkadang, kita butuh pohon untuk sekedar bersandar dan berteduh. Berhenti sejenak untuk mengatur langkah dan menarik nafas dalam-dalam untuk kembali berlari.
Puisi ini menjadi pengingat kala diri ini mulai letih dalam perjuangan dakwah menegakkan Khilafah

Jadilah akar yang gigih mencari air
menembus tanah yg keras
demi sebatang pohon

ketika pohon tumbuh berdaun rimbun
berdaun indah menampilkan keelokannya kepada dunia dan mendapatkan pujian

Lihatlah…
akar tetap berada di dalam kesunyian tersembunyi di balik tanah
itulah makna dari sebuah ketulusan dan keikhlasan
manusia yg memiliki perpaduan tulus, ikhlas, sabar dan tegar bagai akar
merekalah orang-orang yg mampu merubah zaman
merubah dunia, merubah warna zaman yg akan tetap hidup dan menghidupkan

Ingatlah saudara-saudaraku
jalan perjuangan selalu dirintis oleh orang-orang yang berilmu
dikerjakan oleh orang-orang yang ikhlas dan dimenangkan oleh orang-orang yang berani.

Pejuang sejati adalah mereka yang terus bertahan dan tetap bertahan dalam perjuangan ini
mereka akan selalu belajar dan belajar dari setiap masalah yang dihadapi
dari setiap momen yang dialami, hingga suatu hari..
ia mendapati dirinya telah berubah menjadi lebih sabar, lebih ikhlas dan lebih berani

Oleh karena itu, marilah kita singsingkan lengan baju,
kuatkan iman bulatkan tekad
bergeraklah terus tuk berjuang bersama
bagi tegaknya kembali izzul islam wal muslimin,
tegaknya kembali syariah dan khilafah..”

@ismailyusanto


—satu dari sekian puisi penyemangat yg paling sy kagumi —-

Monday, December 02, 2013

My Healing Journey

Nouryoku Shiken N3 menjadi ajang healing journey bagi saya. Alhamdulillah momentnya pas banget. Bukan bermaksud melarikan diri dari kenyataan. Karena manusia akan senantiasa diuji untuk membuktikan seberapa besar kadar keimanan mereka. Itu sudah sunnatullah. Bedanya, kalo orang Muslim ada pahala yang menanti. Sedangkan orang Non Muslim tidak. Tapi, beda lagi kalo ternyata setelah ujian itu dia masuk Islam.
Pergi sebentar untuk menyusun bekal saat kembali pulang adalah keinginan saya. Haha, untungnya ada Nouryoku Shiken. Jadinya bisa sekalian melepas penat. Dan ada beberapa hal yang sangat berkesan dari healing journey saya kemarin.
Pertama, ketika ujian akan dimulai. Saya tidak tahu, padahal ini yang ketiga kalinya saya ikut ujian tetapi ketika ujian akan dilangsungkan saya jadi gugup. Entah darimana perasaan itu. Selesai ujian barulah saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Saya kemudian membayangkan, untuk ujian mengetes kemampuan saja begini ketatnya, bagaimana nanti ketika seluruh manusia akan diadili untuk setiap amalnya di satu pengadilan yang sama? Pasti akan lebih ketat lagi. Saya teringat akan hafalan saya beberapa waktu yang lalu.
“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. (TQS. An Naba [78] : 38-39)
Hari penghisaban itu pasti akan terjadi. Seluruh manusia dari masa Nabi Adam as. Sampai manusia terakhir dari umat Rasulullah SAW. Akan dikumpulkan di hari yang sama. Maka sebenarnya apa yang kita tempuh saat ini adalah jalan menuju ke hari itu. Pertanyaannya, apa bekal yang sudah kita kumpulkan untuk menghadapi hari tersebut? Sungguh sangat tidak bijak ketika menghadapi ujian dengan putus asa. Karena sejatinya ujian untuk menguatkan dan mengembalikan kedekatan dengan Allah azza wa jalla. Galau itu manusiawi, tetapi bukan berarti menjadi legitimasi untuk menyerah pada hidup yang hanya sementara ini. Insya Allah dengan keyakinan akan hadir pertolongan dariNya, Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?(TQS. Al Ankabut [29] : 2)
Kedua, di sela-sela perjalanan saya, saya tidak sendiri. Ada sahabat-sahabat saya yang meskipun mereka jauh, mereka sangat peduli dan menyayangi saya. Rasa syukur yang tak terkira karena Allah menitipkan mereka untuk menyemangati saya. Meski saat ini semua yang ada di hadapan saya seolah menjadi hambatan bagi saya untuk berlari ke depan. Minna, hontou ni arigatou.
Dan saya teringat kata salah seorang teman saya. Bijaksana itu bukan tentang usia. Tetapi tentang bagaimana mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Begitu juga dengan apa yang saya alami. Saya masih terlalu lemah dan rapuh. Maka dengan ujian ini Allah ingin menjadikan saya lebih kuat dan mandiri. Dan yang lebih penting lagi, Allah ingin saya kembali mendekatiNya. Mungkin selama ini saya sering melupakanNya. Ujian ini adalah bentuk kasih sayangNya.
Ya Rabb, tiada kata yang lebih indah dari syukur yang tak terkira atas segala nikmat yang Engkau karuniakan, sekalipun saat kau memberi ujian, masih sering Engkau menyelipkan nikmat di sana. Maka benarlah firmanMu
“Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah kesulitan ada kemudahan” (TQS. Al Insyirah : 5-6)


With the rain. December 2nd 2013. 

Saturday, November 30, 2013

COLOURS; Together in Harmony

Akan sangat sulit mengumpulkan perasaan yang berserakan jika dilakukan sendirian. Tapi, ketika mengingat bahwa diri ini tak sendiri, beribu syukur dan terima kasih untukNya yang menitipkan kalian padaku. For you, colours in my life.
Menjadi sahabat dan dianggap sahabat merupakan sebuah hal yang sangat berarti. Meski kita terpisah beribu mil bahkan terpisah pulau dan zona waktu, meski ada di Negara yang sama. Namun, jarak nyaris tak ada diantara kita.
Mungkin terkadang, kita berselisih untuk beberapa hal. Tak jarang rasa sungkan menghampiri karena kehidupan yang berbeda. Namun, selalu ada rasa rindu yang melenyapkan semua itu. Rasa bahagia ketika kalian mengirimkan pesan karena kalian juga memiliki rasa rindu yang sama. Dan kita berbagi itu semua.

AOI
I used to like this colour so much. Seperti itu pula aku menyukaimu. Seorang gadis yang selalu bersemangat dan begitu supel. Meski terkadang tidak percaya diri untuk hal-hal tertentu. Ini hari dimana aku menangis karena kau akan pergi dalam keadaan tidak sehat. Dan untuk beberapa saat aku kesal karena aku tidak tahu. Banyak hal yang aku tidak tahu. Tapi, aku siapa? Aku jauh. Dan aku tidak bisa membantu apapun. Menyakitkan memang, Ai. Saat ini hanya doa yang bisa kupanjatkan untuk mengiringi kepergianmu. Baik-baik di sana. Semoga cepat sembuh ya.

MIDORI
Meski kita jarang berkomunikasi, kau selalu membuatku merindukanmu dengan gombalan super lebay itu. Aku senang saat kau SMS dan mengatakan bahwa kau merindukanku meski sebenarnya bukan hanya aku, haha. Makasih ya Mimi Chan. Kuharap kau selalu jadi Midori yang bersemangat membasmi kejahatan *eh membasmi kemungkaran. Tapi, ingat. Baqo juga harus dikontrol. Semangat bu PeJe. Urus anak-anakmu baik-baik. Good luck.

CHAIRO
Kau memang manis seperti cokelat. Kehangatan, perhatian dan kepekaan yang selalu kau tunjukkan pada teman-temanmu. Kau yang selalu gigih menghubungi mereka. Meski tak semua membalas. Termasuk aku kadang-kadang. Namun, itu sisi yang menarik darimu. Kau selalu ingin memberi tanpa meminta balasan. Tidak heran kenapa Allah memberi amanah itu di pundakmu. Lebih dulu beberapa langkah dariku yang selama ini menginginkannya. Aku tidak marah, karena kau memang layak mendapatkannya. Teruslah bersabar, Cha. Kau sudah punya modal besar yang tidak semua orang memilikinya. Seperti cokelat panas yang menghangatkan kala musim hujan tiba.

Dear my best friends, this just a simple note from me, Oren. Too much to tell about what I feel. Jazakumullah khairan katsir untuk semuanya. Semoga persahabatan dan persaudaraan ini senantiasa berada dalam jalan ketaatan. Dan kemudian kita bisa bertemu lagi di JannahNya kelak, aamiin.


With love. November 30th 2013.


Thursday, November 28, 2013

Negara Bukan-Bukan

Sebuah percakapan mengiringi berakhirnya aksi kami sore ini. Sebuah percakapan yang kami lakukan setelah diskusi yang kami coba lakukan ke tengah-tengah aktivis kampus. Di bawah rintik hujan kami mulai bercengkrama.
“Mbak, emang ya ideologi itu yang akhirnya jadi penentu warna suatu Negara. Coba deh lihat Indonesia sekarang. Warnanya gak jelas. Bayangin aja, nyikapin penyadapan aja kayak gitu. Seolah ada diantara A dan B. Warnanya abu-abu. Gak mau dibilang Negara Islam tapi dibilang Negara Sekuler juga gak terima. Negara ini jadinya Negara bukan-bukan,” katanya memulai percakapan.
“Haha, iya Dek. Parah banget dah Indonesia. Sampai sekarang gak bisa ngambil sikap. Ideologi itu emang seperti akar yang menentukan apa yang ada di atasnya. Kalo akarnya aja gak jelas gimana atasnya?”, timpalku.
“Aku dari dulu selalu bertanya, dari zaman aku kecil. Kenapa ya, orang Indonesia itu cenderung plin plan? Sukanya basa-basi dan ngeles. Sekarang aku ngerti kenapa orang-orang Indonesia rata-rata begitu. Beda banget sama orang luar negeri yang kalo bilang A ya A, meskipun salah. Tapi, mereka jelas punya warna. Orang-orang Kapitalis sama Sosialis contohnya. Makanya dari dulu mereka itu dilihat karena mereka punya warna. Beda banget sama kita”, katanya kemudian.
“Iya, Lis. Bener juga katamu. Emang didikan negaranya beda sih. Kita gak dididik dengan ideologi yang jelas makanya jadi kayak gini hasilnya. Karena gak punya basic ideologi akhirnya Indonesia jadi Negara bukan-bukan. Untung aja ya kita mengkaji Islam, jadinya bisa nentuin sikap. Gak plin-plan,” balasku.
“Iya Mbak. Aku juga setelah ngaji baru ngerti jawabannya”.
Yah, begitulah sedikit percakapanku dengan adik se-timku di dakwah kampus. Ironis memang. Ketika berbicara tataran Negara ternyata meski sudah hampir 70 tahun merdeka tapi negeri ini belum menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Pantes aja modelnya masih alay dan ababil seperti anak ABG. Galau terus kalo mau nentuin sikap. Kegalauan Negara ini jelas tercermin dari pemerintahnya dalam menyikapi masalah. Contohnya masalah penyadapan AS dan Australia. Padahal ini bukan semata karena masalah pribadi. Ini harga diri bangsa sebagai Negara yang berdaulat tapi malah ngambil sikap like a loser. Hadeh, udah gak ada taringnya mah kita di hadapan Negara-negara Kapitalis yang super arogan itu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat itu tidak hanya kumpulan individu. Tetapi di dalamnya ada sebuah pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Se-heterogen apapun individunya, kalo pemikiran, perasaan dan aturannya sama, maka mereka akan menjadi masyarakat. Selama 3 hal itu belum berubah, keadaan masyarakatnya akan tetap sama. Persis kayak Indonesia. Saya gak hanya menyalahkan individu tetapi sistem (aturan) yang diterapkan di Negara ini yang akhirnya membuat individu masyarakatnya berantakan.
Negara ini butuh kejelasan warna. Kejelasan standar soal ketatanegaraannya. Ya, Indonesia harus milih mau model Negara seperti apa. Negara berlandaskan aqidah Islam (Khilafah) atau Negara Kapitalis-Sekuler. Atau mau tetap jadi Negara Bukan-Bukan?


*Makasiiih ya dek Kholisatut Tahliyah. You are my inspiration today ^_^



Bersiap rehat. November 28th 2013.


Harmoni Warna-Warni Dakwah Kampus (2)

Entah kenapa dari kemarin saya kebayang masa lalu melulu. Haha, tiba-tiba jadi puitis dan lebay. Tapi, gapapa. Saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya rasakan. Adalah sebuah kesyukuran yang tak terkira berada dalam sebuah jamaah dakwah. Ada yang memperhatikan, menyayangi dan semua itu bukan karena manfaat tetapi karena aqidah dan tsaqofah yang dikaji.
Gak terasa udah tahun ke-4 saya berada di dakwah kampus. Setiap majal (tempat) dakwah selalu punya ciri khasnya tersendiri. Pas masih SMA beda banget dengan suasana kampus. Apalagi dengan kondisi sistem yang menjerat sehingga tak jarang menurunkan militansi, bikin dada kembang-kempis nahan nafas saking nyeseknya. Berjumpa dengan 1001 pemikiran dan berdiskusi dengan banyak orang. Siapa yang sudah terbiasa dengan dakwah yang ritme-nya slow kayak lagu ballad, siap-siap aja kelabakan ketika masuk dalam dakwah kampus. Begitulah, semua warna-warni yang saya rasakan selama 4 tahun di sini.
Di sini kami rata-rata anak perantauan semua. Hal yang paling heboh adalah pasca Idul Fitri. Karena setelah Idul Fitri seluruh rubin (rumah binaan) mendadak jadi toko kelontong. Semua barang-barang tersedia, khususnya sembako. Minyak, beras, telur, mie, bawang, dsb. Saya selalu tersenyum kalo balik ke kota rantauan pas lihat teman-teman pada balik sambil nenteng kardus banyak isinya sembako. Apalagi pengemban dakwah, pulangnya jarang. Sekali pulang, sangunya langsung sekardus sembako. Mungkin ortunya pada shock ngeliat anaknya kurang gizi semua :D
Suasana berbagi, peduli, meski kadang ada prasangka dan menimbulkan clash. Namun, karena bersama semua jadi lebih indah. Ikatan tak kasat mata ini membuat kami selalu merasa cukup dalam segala keadaan. Belajar satu sama lain untuk senantiasa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri. Tersenyum dalam sakit, tetap tegar meskipun beribu ujian melanda. Bersama dakwah dalam jamaah tanpa sadar kita saling menguatkan. Dalam doa yang diam-diam disisipkan, selalu ada nama mereka. Teman-teman seperjuangan.
Dan sebuah keniscayaan dari pertemuan adalah datangnya hari perpisahan. Yah, namanya juga perantauan, pasti suatu saat akan balik ke kampung halaman. Dan saya pun merasakan. Selama di sini sudah banyak Mbak-mbak sebelumnya yang pindah. Ada yang ikut suami, ada yang memang pindah karena harus balik ke kampung halaman. Sedih emang. Tapi, kenangan itu gak akan terhapus bersama doa yang terus dipanjatkan. Karena sejauh apapun jarak, doa pasti akan sampai.
Ya Rabb, ikatlah hati kami dalam kecintaan dan ketaatan kepadaMu. Kokohkan pijakan kaki kami di jalan ini, teguhkan hati kami dalam memegang mabda ini dan kuatkan pundak kami untuk memikul amanah dakwah. Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam DienMu. Dan satukanlah kami di JannahMu kelak bersama para Nabi, Syuhada dan orang-orang shalih.
Minna, hontou ni arigatou.

*Spesial for che Lyn <3

Dalam dinginnya pagi. November 28th 2013.


Wednesday, November 27, 2013

Jembatan dan Bangunan itu Buat Siapa??

Siang setengah mendung. Saya menuju ke perpustakaan, salah satu tempat favorit saya di kampus. Bukan karena bukunya, tapi karena di sana ada PC dimana saya bisa menulis dengan tenang :D Lupakan. Saat melewati gedung rektorat, saya melihat sebuah sebuah banner terpasang di depan pintu masuk gedung tersebut. Isinya adalah ucapan selamat datang bagi para kontingen kompetisi jembatan dan kompetisi bangunan se-universitas di seluruh Indonesia. Tahun ini kampus saya menjadi tuan rumah dan saya baru tahu ternyata kampus saya berturut-turut menjadi juara umum Kompetisi Jembatan Nasional tersebut. Ini bisa dibilang hal yang membanggakan. Pastinya, karena bikin jembatan itu sulit lho meskipun Cuma replikanya saja. Tapi, ada hal yang mengganjal dalam benak saya.

Kalo seandainya ada kompetisi jembatan setiap tahun ditambah lagi kompetisi bangunan, harusnya Indonesia sudah lama jadi Negara maju kan ya? Tapi kok kenyataannya berbanding terbalik ya? Trus, jembatan dan bangunan itu buat siapa? Apa hanya jadi arsip Negara trus bisa dibeli konsepnya sama pihak lain dan dipatenkan trus yang membuat dapat royalty seumur hidup? Kapan Indonesia bisa maju?
Ah, sepertinya bayangan saya terlalu jauh. Tapi, kalo misal SDM yang tidak memadai sering menjadi dalih ketergantungan Negara kepada asing apa itu gak terlalu naïf? Ini kompetisi nasional, otomatis lulus ujian. Trus, kenapa gak bisa dimanfaatkan sama sekali? APBN kurang? SDA lho banyak. Trus, mau ngeles model apalagi? #tepokjidat gue sama yang kayak begini.
Gak bisa dipungkiri sebenarnya kalo kebobrokan negeri ini gak hanya sekedar siapa pemimpinnya. Karena di negeri ini gak hanya ada orang tetapi juga ada sistem yang diberlakukan atas kesepakatan orang-orang tersebut.

Hari ini kita bisa melihat betapa pragmatisnya kaum intelektual. Calon ilmuwan dan generasi masa depan. Hari ini mahasiswa mengikuti berbagai lomba semata membanggakan diri dan keluarganya. Nyaris tanpa dedikasi untuk bangsa dan negaranya. Boro-boro untuk agamanya, untuk bangsa dan Negara aja gak ada. Bahkan bangga ketika desainnya dipergunakan di luar negeri yang justru semakin membuat negaranya dipecundangi oleh Negara lain. Semua itu gak lepas dari sistem pendidikan berikut sistem yang mendukungnya yakni sistem politik dan ekonomi, dua suprasistem besar dalam sebuah Negara. Tidak bisa dipungkiri, sistem ekonomi Negara ini semakin Kapitalis dan semakin liberal. Ukuran kesejahteraan hanya diukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi yang hitungannya pun sangat tidak imbang. Akhirnya semua pihak dituntut untuk menjadi aktor dalam menyukseskan pertumbuhan ekonomi demi tercapainya kesejahteraan. 

Lantas, kesejahteraan seperti apa yang dimaksud jika orang kaya pun masih bingung tentang penghasilannya bagaimana ia bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak cucunya? Gak logis.
Setali 3 uang dengan sistem politiknya. Kepentingan oriented jelas sekali ada di sana. Semua kebijakan mengharuskan agar seluruh warga Negara menjadi mesin pencetak uang bagi Negara tetapi justru yang menikmatinya adalah pihak lain di luar Negara. Menindas rakyat atas nama rakyat. Sungguh keterlaluan.
Bukannya saya tidak setuju dengan kompetisi jembatan, dsb. Silahkan diadakan tetapi harus didukung dengan sistem lain yang sekiranya bisa memajukan negeri ini. Bayangin aja, dari jaman saya SMP, Indonesia masih dalam tahap Negara berkembang. Kapan majunya? Kalo gak berkembang-berkembang itu namanya Negara stagnan.

Udah bukan saatnya lagi kita berdebat tentang siapa yang salah. Apakah individu atau sistemnya. Sudah jelas sebenarnya. Sekarang yang harus kita pertanyakan adalah bagaimana solusi tuntas agar masalah ini tidak sekedar tambal sulam seperti minum obat penenang? Ibarat pohon kalo akarnya sudah rusak, bukan Cuma batang sama daunnya yang dipangkas tapi ya diganti dengan pohon baru. So, kalo sistemnya udah salah berarti diganti sistemnya bukan hanya individu yang menjadi pelaksana sistem. Dan yang pasti sistem itu bukan dari kecerdasan akal manusia. Karena sepintar-pintarnya manusia dia tidak akan mampu mengetahu mana yang terbaik untuk dirinya.

Kalo ditanya jawabannya, pastilah sistem itu berasal dari Rabb Semesta Alam, Allah azza wa jalla. Ya. Islam. Hanya dengan Islam. So, yang harus dilakukan sekarang adalah kampanyekan Islam sebagai sistem kehidupan, tidak hanya agama spiritual tetapi juga sebuah aturan lengkap terkait individu dan Negara.
Back to Islam, Back to Syariah dan Khilafah.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.


Menjelang Dhuhur. November 27th 2013.


Tentang Kiamat

Judulnya mungkin serem. Ngomongin kiamat pasti ngomongin soal akhir dunia, ancur, trus smua dibangkitkan, dikumpulin di Padang Masyhar trus dihisab dan akhirnya berakhir indah *eh gak mesti juga sih. Karena akhir kan ada dua. Happy ever after di Jannah atau menderita ever after di Neraka. Tapi, satu hal yang pasti, kiamat bakalan terjadi. Karena semua yang diciptakan pasti punya time limit. Itu mutlak. Begitu pun dengan dunia ini. So, jangan harap bisa happy ever after di dunia. Kagak bakal.
Ngomong-ngomong soal kiamat, kemarin saya nonton acara di salah satu stasiun tv *ya iyalah masa stasiun kereta* yang isinya membahas tentang dahsyatnya hari kiamat. Saya jadi teringat dua hari yang lalu ketika saya berdiskusi dengan seseorang yang merupakan pengurus sebuah lembaga riset di salah satu fakultas di kampus saya. Sebenarnya bukan dengan si Mbaknya sih, tapi temannya. Padahal, saya gak ngajakin temannya diskusi soalnya temannya itu laki-laki. Saya diskusinya Cuma sama perempuan. Awalnya saya agak bingung juga soalnya dia tiba-tiba nyela. Tapi, karena dia ngotot ya udah saya jelaskan seadanya.
Pembahasaannya panjang. Bermula dari penyadapan yang membuat negeri kita dipecundangi oleh negeri sebelah yang nota benenya mereka emang benci sama Islam. Akhirnya pas bagian akhir membahas solusi dan sampailah pada pembahasan tentang Khilafah. Kemudian dia bertanya tentang, mana yang penting, Negara Islam atau Negara yang berasaskan Islam? Ya saya jawab aja, kalo negaranya berasaskan Islam, berarti Negara Islam kan? Trus dia bilang lagi, lho beda Mbak. Kalo negaranya berasaskan Islam gak perlu nyebutin itu Negara Islam. Lha, saya yang bingung. Katanya Negara berasaskan Islam tapi disebut Negara Islam gak mau. Trus, mau disebut Negara apa? Saya sih bisa nangkap maksudnya. Maksudnya adalah gak perlu deh Negara Islam yang penting substansi Islam ada di sana. Mana bisa? Mau bilang kalo menerapkan nilai-nilai Islam dalam Negara Demokrasi itu bisa dengan mudah? Mana buktinya? Gimana bisa berasaskan Islam kalo negaranya aja gak beriman terhadap Islam? Ah, ngaco dah aktivis jaman sekarang. Saya terkaget-kaget karena dia Muslim. Tapi ketika ditanyakan tentang kesepakatannya dengan Khilafah (sistem pemerintahan Islam) malah ogah duluan dengan alas an plural bla bla bla. Oke, akhirnya saya jelaskan bagaimana Islam mengatur terkait kehidupan warga Negara. Bagaimana Islam memosisikan non Muslim dalam Daulah, dsb. Kemudian dia dan temannya, si Mbak yang saya ajak diskusi itu sepakat untuk tidak setuju *apaan* Sampai akhirnya saya jelaskan bahwa Khilafah yang saya maksud bukan hanya untuk Indonesia saja karena definisi Khilafah adalah satu kepemimpinan umum untuk seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia. So, gak Cuma Indonesia aja. Trus, spontan si cowok itu nyeletuk, lho, kalo gitu bentar lagi kiamat dong? Saya sebenarnya ingin tertawa. Trus, kalo kiamat emang kenapa? Saya ingin sekali bilang begitu. Tapi, saya bilang. Soal kiamat, wallahu ‘alam, Mas. Itu hanya Allah Yang Tahu. Rasulullah SAW pun gak tau kapan pastinya. Trus dia jawab, kan salah satu tandanya turunnya Imam Mahdi yang akan memimpin dunia dengan Khilafah. Saya jawab lagi, ya kalo emang itu tandanya bisa jadi, Mas. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Khilafah akan kembali tegak. Dan tidak menutup kemungkinan setelah itu kiamat. Kan Rasulullah emang Nabi akhir zaman. Lagian, sekarang udah banyak kok tanda-tanda kiamat, bla bla bla. Diskusi yang berakhir dengan “aneh” itu menyisakan pertanyaan di benak saya. Sebegitu seramnyakah hari kiamat? Hmm, itu pasti. Atau mungkin ada kemungkinan kedua. Orang-orang sudah terjangkit penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Seolah ketika dunia ini berakhir maka tidak ada lagi hal yang indah yang akan terjadi selanjutnya. Padahal, sebenarnya akhir itu adalah jalan menuju sebuah awal yang baru dan bisa jadi itu akan lebih indah. Maka, janji siapa yang akan lebih kita percayai daripada janji Sang Pemilik jagad raya, Allah SWT? Kenapa harus takut akan kiamat? Padahal, kita juga akan menemuinya. Kiamat kecil bagi kita adalah datangnya ajal yang tidak diketahui. Dan itu kiamat terdekat yang akan kita jumpai. Daripada kiamat yang lebih besar mending mati. Tapi, pertanyaan berikutnya, bekal apa yang udah disiapkan untuk hari kemudian?
Dikejar deadline. November 27th 2013.


Tuesday, November 26, 2013

(Just) A Feeling part 2


Terkadang, seorang pengemban dakwah ideologis dihadapkan pada situasi dimana ia harus melawan segara perasaan negatif dalam dirinya. Rasa takut akan ditolak sehingga ragu menyampaikan, rasa bingung untuk memulai menyampaikan sehingga ragu untuk memulai ataupun patah hati karena masalah lain. Atau mungkin terkadang, seorang pengemban dakwah merasa kurang siraman nafsiyah sehingga cenderung menyibukkan diri dengan amalan fardhiyah tetapi mengabaikan edukasi kepada umat.

Salah satu musyrifah saya pernah menyampaikan bahwa siraman nafsiyah seorang pengemban dakwah ideologis adalah ketika ia menyampaikan mabda yang ia emban kepada umat. Karena ketika ia menyampaikan Islam yang ia yakini secara tidak langsung ia pun mengingatkan dirinya sendiri sehingga ia pun selalu merasa dekat dengan Allah. Sehingga tak ada rasa malas, galau atau rasa-rasa yang lain dalam berdakwah. Yang ada hanyalah rasa bahagia sekalipun itu melelahkan, menyedihkan bahkan mungkin menyakitkan.

Maka benarlah kata syaikh Taqiyuddin An Nabhani Rahimahullah, jangan minta amanah yang ringan tetapi mintalah punggung yang kuat untuk memikul amanah yang berat.

Thanks for my ustadzah.
Terus bergerak. November 25th 2013.

(Just) A Feeling

Setiap orang pasti pernah merasakan kecewa. Bagaimanapun bentuknya. Karena memang itu naluriah. Manusiawi. Ngomong-ngomong soal kecewa, barusan saya mendapat kiriman postingan dari salah seorang sahabat ah teman. Entahlah aku masih tidak mengerti apa bedanya sahabat sama teman. Pokoknya itulah. Ini kutipan postingannya.

Sebagai seorang manusia, sometimes perasaan kecewa, sedih, marah itupun sempat mampir ke dalam diri.Kekecewaan yang lahir karena terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan yang benar2 terjadi. Atau ketika kita berharap terlalu tinggi kepada orang lain untuk menjadi seperti yang kita inginkan namun ternyata justru jauh panggang dari api.Kesedihan yang muncul akibat rasa kecewa, yang ketika itu terjadi sekali, dua kali, tiga kali, hingga beberapa kali pada akhirnya mengundang rasa amarah untuk muncul.Hembusan nafas panjang akhirnya yang dilakukan bagi mereka yang tak sanggup untuk melampiaskan amarahnya atau ditambah dengan istighfar bagi mereka yang lebih memilih untuk diam dan menghindari konflik. “Mengalah, mungkin itu jauh lebih baik.” Begitu mungkin pikirnya.

Namun, tak sedikit pula yang akhirnya karena kecewa, sedih, dan marah ini justru menjadikannya lebih skeptis terhadap permasalahannya tersebut, terhadap kata2 yang berkaitan dengannya, atau bahkan sampai kepada generalisasi semua orang yang akhirnya menyebabkan putus asa yang mendalam dalam dirinya.

Sometimes, sebagai manusia kitapun pernah merasakan itu semua, yang membedakan di antara kita mungkin tentang bagaimana kta menyikapinya, seberapa lama rasa itu kita biarkan hinggap dalam diri, dan bagaimana kita menghalau jikalau sewaktu-waktu ia kembali mengetuk pintu hati kita atau bahkan masuk tanpa izin.

Mungkin, buat teman-teman ada yang pernah mrasakan demikian, bisa berbagi cara dan solusi, ? 
Tapi buat saya pribadi, ada satu hal yang senantiasa coba saya ingat.

—Bahwasanya Allah tidak menghakimi kita atas apa yang orang lain lakukan kepada kita, Tapi Allah menghakimi kita atas apa yang kita lakukan terhadap orang lain

Mari menebar manfaat, mari menebar kebaikan. 
Mari mencari teman. 
Mari merajut persahabatan. 
Mengupayakan semaksimal yang bisa kita upayakan. 
Semoga menjadi pemberat di hari akhirat. 

Allah knows best.— 
Allahu a’lam 


Terima kasih Maryam. Setidaknya itu bisa sedikit menghibur. Mudah-mudahan gak pusing lagi haha :D


Move On. November 26th 2013.


Tuesday, November 19, 2013

Untukmu di Bumi Anoa

Aku tidak tahu judul apa yang harus kububuhkan untuk membalas catatanmu. Haruskah aku mengatakan bahwa kau terlalu naif karena melihat sebuah kemiripan sebagai hal yang romantis? Hah, warawasenjaneyo (Jangan membuatku tertawa :p)

I'm used to be like you. Spending my night with all the thing that I have to finish soon. But I know, it doesn't good for health. Kau tahu, sejak beberapa waktu yang lalu aku berusaha untuk belajar "tidur telat, bangun cepat" dan hasilnya selalu sama. GAGAL. Sampai rasanya mau putus asa karena memang tidak biasa. Dan tidak survive untuk membiasakan :D

Kukira kau akan mengucapkannya dalam bahasa Korea. Kau tahu, itu membuatku shock. Tiba-tiba saja menjadi orang paling dirindukan. Padahal, dulunya aku adalah orang paling menyebalkan sejagad raya *eh

Kau terlalu berlebihan. Jangan overestimate. Teman-temanmu ini juga manusia biasa yang takkan luput dari dosa. So, don't expect too much, especially from me. Or you have to be ready to broken heart :p
Watashi mo ningen da.I'm just a human being. Demo, itsumo soba ni iru kara, zenbu daijoubu. Evef if I can't be perfect, as long as you all are with me, it's fine *eaaaa
Satu lagi, gue bukan lilin. I'm firefly :D Kalo lilin dia menerangi tapi membakar dirinya sendiri. Kalo kunang-kunang, dia menerangi dengan cahayanya yang berkelap kelip tetapi tidak membahayakan dirinya. Dan kau harus tau, kunang-kunang jika bersinar sendiri tidak cantik tetapi jika beramai-ramai, subhanallah indah sekali. Itulah kami semua, orang-orang yang kau anggap sahabatmu :)

Sepertinya kau belum tau. JLPT di Jepang levelnya terbalik. Level paling mudah level 5 dan paling sulit level 1. Desember aku akan ujian level 3. Dan sekarang aku belajar level 2. Taihen da. Demo, arigatou :)

Hellow, aku tidak sepecundang itu. Lebih tepatnya karena aku memang tidak berani. Aku di mutasi bukan karena aku menyerah pada mereka. Itu karena memang aku harus mengerjakan tugas yang lain. Dan itu tidak kalah beratnya. Sempat shock juga sih, karena gak percaya. Demo, ima daijoubu :)

Mungkin aku belum pernah mengatakan ini padamu. Tapi kurasa kau akan mengerti sendiri ketika kau membina darisah nantinya :) Jadi, aku takkan memberitahukan padamu sekarang.

Kau termasuk yang seperti itu. Tetapi, aku jarang menemukannya. Aku tidak bisa mengatakan seperti yang kukatakan padamu kepada yang lainnya. Kau orang pertama yang "kusemprot" dengan ocehanku.

Berhasil apanya? Kau berhasil membuatku bingung. Awas kau :D

Teruslah melangkah. Jangan berhenti. Selesaikan apa yang sudah kau mulai. Kau bisa melakukan lebih dari apa yang kau pikirkan. Meski saat ini kita berjauhan, doa kita akan sampai kepadaNya :)

PS. Maaf tidak diterima :p
But thanks cause you make my fingers back to dance again *sudah 3 hari gak nulis. Rasanya kaku mau nulis apa. You came in the right time :D Jazakillah khair, Aoi chan


At my favorite place. November 19th 2013.


Friday, November 15, 2013

Amar Makruf Nahi Munkar (Edisi Menampar Diri Sendiri)

Allah SWT berfirman : 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk". (An Nahl :125)
Allah SWT berfirman :
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah". (Ali Imran : 110)
Ayat sebelumnya Allah juga berfirman :
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung". (Ali Imran : 104)
Masih banyak ayat lain yang menyebutkan tentang amar makruf nahi munkar. Di dalam Al Qur’an Allah sering mengulang hal tersebut. Dalam kehidupan sehari-sehari pastinya kita sering mendapati orang satu dan yang lain saling menasehati, saling memuhasabahi dan saling mengingatkan. Ini pun merupakan bagian dari amar makruf nahimunkar. Namun, terkadang tidak semua orang bisa langsung menerima. Mungkin amar makruf iya, tapi tidak dengan nahi munkar. Kenapa? Entahlah. Bisa jadi karena manusia memiliki naluri mempertahankan diri sehingga mereka cenderung bersikap defense ketika “di-nahi munkar-i” *bahasanya ribet banget
Tidak hanya pada umat. Terkadang di dalam diri pengemban dakwah pun masih ada sikap seperti ini. Manusia seringkali tidak menyukai jika kesalahannya ditampakkan apalagi di depan orang banyak. Tetapi seharusnya itu bukan menjadi legitimasi baginya untuk tidak dimuhasabahi. Begitu pun dengan pengemban dakwah. Karena pengemban dakwah juga manusia, bisa salah dan lupa. Jika semua orang berkewajiban beramar makruf, maka begitupun dengan nahi munkar. Pengemban dakwah sekalipun berhak mendapatkan muhasabah. Bukan untuk menjatuhkan tetapi untuk memperbaiki. Bukan untuk menyakiti tetapi untuk menasehati.
Tapi tetap perlu diperhatikan bahwa amar makruf tidak sekedar amar makruf, begitupun nahi munkar. Semuanya tetap berpegang kepada apa yang sudah digariskan oleh Allah ta’ala dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Tipe orang ketika amar makruf nahi munkar beda-beda emang. Masing-masing punya style- nya sendiri-sendiri. Ada orang yang frontal tapi ada juga orang yang muter-muter dulu *angkot kali 
Tujuannya sama tapi dengan penyampaian yang berbeda-beda. Namun, ketika amar makruf nahi munkar, perlu diperhatikan juga sasarannya. Karena tidak semua orang bisa langsung menerima jika disampaikan secara frontal dan tidak semua orang juga bisa mengerti kalo dibuat muter-muter dulu. Tapi, tetap. Perasaan semata tidak bisa dijadikan legitimasi untuk membenarkan sesuatu. Kita seorang Muslim maka kita terikat dengan syariat Allah.
Saya adalah tipe orang yang muter-muter dulu apalagi untuk urusan muhasabah. Saya pun ketika dimuhasabahi masih ada perasaan defense, kadang. Saya kemudian berusaha menanamkan dalam diri bahwa semua itu merupakan masukan dan tidak mungkin ada 
saudara yang tega menyakiti saudaranya. Kalo dimuhasabahi kan berarti masih ada yang peduli. Kalo masih ada yang peduli berarti masih ada yang sayang :)
Tapi, karena sudah jadi kebiasaan akhirnya kadang salah tempat. Makanya, saya salut dengan mereka yang frontal. To the point. Mereka tidak pernah berpikir panjang ketika melihat ada sesuatu yang memang harus diperbaiki. Cuma terkadang, frontalnya itu diikuti dengan sedikit 
percikan emosi. Mungkin saking bersemangatnya karena realita umat hari ini memang sangat bebal akibat sistem yang semakin kuat mencengkram.
Istimewanya pengemban dakwah adalah mereka harus bisa memosisikan segala sesuatu agar tetap proporsional. Jika harus frontal, mereka akan frontal. Jika memang butuh pendekatan 
tertentu lebih dulu pun akan mereka lakukan tapi tetap dengan sebuah penyampaian yang jujur dan berlandaskan pada kebenaran. Semua dilakukan karena kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Bukan sekedar semangat mengingatkan apalagi karena pengen eksis *naudzubillah
Maka dari itu, seorang pengemban dakwah akan senantiasa berproses menuju kesempurnaan meskipun kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. Dan untuk senantiasa menjaga 
kemurnian proses butuh yang namanya amar makruf nahi munkar agar selalu ingat mana jalan yang lurus mana jalan yang bengkok.
Maka bersyukurlah berada dalam jamaah dakwah. Karena kita akan senantiasa terjaga. Meski kadang harus ada sakit terlebih dahulu, namun setelah itu akan sembuh dan memberi kekuatan baru.
Jazakumullah khairan katsir untuk semua teman-teman yang masih mau menasehati, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga kelak kita dikumpulkan kembali di JannahNya, aamiin…

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

On process. November 15th 2013.