Showing posts with label Free Read. Show all posts
Showing posts with label Free Read. Show all posts

Tuesday, September 02, 2014

Selamat Datang di Putaran ke-22


Hari ini mungkin saya hanya bisa sedikit mengutip hadits ini...
Rasulullah SAW. bersabda :
“Orang yang kuat (akalnya) adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya (atau mengevaluasi) dan melakukan amal perbuatan untuk apa yang ada setelah kematian, sedangkan orang yang lemah (akalnya) adalah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya (tidak pernah mengevaluasi diri) dan berspekulasi terhadap Allah”. (HR. At Tirmidzi)
***
Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan, tapi tentu saja tidak di sini. Lebih baik saya simpan sendiri muhasabah untuk diri saya.

Terima kasih untuk semua orang yang telah berjasa dalam hidup saya. Ketiga orang tua saya, Mama, Bapak, Om. Gak lupa tante Eni yang dulu mengasuh saya selama beberapa tahun. Terima kasih juga untuk kak Maya dan masbro Aim juga kak Ebet, tiga orang saudara saya yang luar biasa. Untuk guru-guru saya dari SD sampai SMA. Untuk musyrifah-musyrifah saya, Ustadzah Reni (almh), Ummu Afiq, Ummu Rifa, Ummu Aqilah, Mb Lola, Mb Dina, Mb Afiqoh, Mb Hanifah, Bu Halimah. Untuk sahabat-sahabatku dalam perjuangan ini, Aoi, Mido, Chai, Fitri, Ipeh, Ami, Maryam. Untuk teman-teman halqoh, Mb Esty n Muthi. Untuk saudara-saudaraku para penduduk Khairunnisa 1453, Kanjeng Mami, Nurul, dek Epit. Untuk adik-adikku, Fima, Nikma, Icha, Andra, Putri, Ithoh, Amel, Fita, Nurus, Arin, Putri, dek Fitri. Untuk anak-anak Propaganda, uri Partner (Uchum), Yeni, Ocha, Titin. Untuk teman-teman MHTI Chapter UB. Untuk teman-teman seperjuangan dimanapun berada. Uhibbukum fillah <3

Keep on fight toward Islamic revolution!


Shelter, September 2nd 2014.
backsound : Big Bang-Still alive

Friday, August 29, 2014

Episode; Aku dan Perang Mu'tah

Gak terasa udah tanggal udah hari Selasa aja. Udah dua hari sejak HUT Kemerdekaan RI. Haha, kenapa malah tiba-tiba bahas 17-an ya? Yah, mungkin karena emang masih hot *dari oven?*
Baiklah, daripada berlama-lama, saya mau refreshing. Kemarin berasa jadi alien. Hikikomori 8 jam di kamar. Sadar-sadar udah maghrib aja. Duduk nyari Kanji plus artinya sukses bikin kepala nge-dance *apaan sih?* Taihen da naa… But the day has over. Now, I have time to write, yeheet :D

Oke, kali ini saya mau cerita tentang apa yang saya kaji di halqah saya kemarin ba’da subuh. Ya, Daulah Islam. Kitab yang isinya tentang perjalanan Rasulullah mulai dari menjadi Rasul, membentuk kutlah, berdakwah, menegakkan Daulah Islam sampe keruntuhan Daulah Islam yang sekarang saya dan generasi Muslim hari ini merasakannya. Kacau-balau, porak-poranda, hancur-lebur. Tapi, gak tau apa Cuma saya dan segelintir orang yang ngerasain atau mungkin yang lain ada yang ngerasa tapi cuek aja, wallahu ‘alam

Pembahasan kemarin tentang Perang Mu’tah. Salah satu perang yang luar biasa diantara sekian banyak perang yang dilakukan kaum Muslimin selama penyebaran Islam. FYI, Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Bentuk jihad yang dimaksud di sini adalah perang. Tapi, itu gak sembarang perang. So, jangan samain kayak Israel nge-bom Palestine. That’s a huge different, dude. Sip, now let’s back to the topic. Tadi cuma trivia aja. Kalo mau bahas lebih lanjut, bisa ketemu saya :D

Perang Mu’tah adalah perang pertama kaum Muslimin melawan penguasa luar negeri di luar Jazirah Arab. Sebelumnya, perang yang dilakukan kaum Muslimin melawan kabilah-kabilah di Jazirah Arab. Seperti namanya, perang ini terjadi di Mu’tah, wilayah Syam (sekarang Suriah). Waktu itu Syam di bawah kekuasaan Romawi. Perang ini terjadi di bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriyah. Satu lagi, ini adalah perang pertama yang tidak dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Menurut saya pribadi, perang Mu’tah itu semacam Rectoverso-nya perang Uhud. Tapi, semoga ada istilah yang lebih bagus lagi. Dan perang ini sukses bikin saya nangis pas tau kisahnya. Meskipun di perang Uhud saya juga sedih tapi lebih banyak keselnya karena efek perang Uhud cukup bikin Rasulullah kewalahan untuk mengembalikan wibawa Daulah Islam dan kaum Muslimin. Saya juga akhirnya ingat kalo Mush’ab bin Umair meninggal di perang Uhud. Dan saya ngerasa katrok banget karena baru tau tentang perang ini soalnya dulu Cuma dapet cerita tentang perang Badar sama perang Uhud doang.

Sabda Rasulullah SAW yang paling bikin merinding di perang ini adalah setelah beliau menunjuk Zain bin Haritsah yang sudah seperti anak beliau sebagai panglima perang.
“Jika Zaid gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib yang akan memimpin pasukan. Jika Ja’far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang akan memimpin pasukan”.

Ya Allah, itu udah kayak tanda aja kalo 3 panglima dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin itu bakalan gugur sebagai syuhada. Air mata saya langsung jatuh gitu aja meskipun udah susah payah saya tahan. Dan yang bikin saya tambah terkejut adalah turut sertanya Khalid bin Walid di perang ini. Bukan lagi sebagai musuh tetapi sebagai salah satu dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin. Keren kan? :D

Perang ini emang gak mudah karena kaum Muslimin harus melawan 200.000 total pasukan Romawi plus Heraklius. Kaum Muslimin awalnya mau ngirim surat ke Rasulullah tapi kemudian Abdullah bin Rawahah bilang, “Wahai kalian, sesungguhnya kita tidak memerangi mereka karena jumlah, tidak pula karena kekuatan, pun karena banyaknya. Tapi, kita memerangi mereka tidak lain karena agama ini yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka, berangkatlah. Sungguh di sana akan kalian temukan, satu dari dua kebaikan, kemenangan atau syahid”. 

Akhirnya, kaum Muslimin berangkat. Tapi, karena pasukan yang sangat besar, tentu ini saat-saat yang sulit. Para panglima gugur sebagai syuhada. Terakhir, Panji diserahkan kepada Khalid bin Walid. Dengan strateginya, Khalid berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan memerintahkan membuat kamuflase debu seolah-olah pasukan kaum Muslimin bertambah jumlahnya. Hasil dari perang ini pun seri. 

Dari perang Mu’tah terlihat bagaimana loyalitas kaum Muslimin kepada Islam dan bagaimana loyalitas mereka kepada pemimpinnya. Terlihat pula keberanian para pasukan beserta yang melewati batas khayalan. Begitu pun para panglimanya, meski sudah dikabarkan syahid bahkan sebelum memulai peperangan, mereka tidak mundur selangkah pun. Bagi mereka, Surga adalah segalanya. Ridho Allah adalah cita-cita di atas cita-cita. 

Begitulah aktivitas sebuah Negara dengan tujuan yang jelas. Begitulah Islam mengajarkan kita. Meski sekarang opini tentang Khilafah terus diusahakan untuk redup oleh orang-orang kafir, tapi Allah tidak pernah tidur dan Allah tidak buta. Allah akan menjaga Islam lewat orang-orang yang Dia pilih yang lewat tangan mereka Islam akan kembali tegak. Is that you? Oh, no. That’s us! 

Last but not least, semoga kita termasuk di dalamnya. Generasi penjaga Islam terpercaya yang dicintai oleh Allah dan lewat tangan-tangan kita Allah memberikan pertolonganNya. Mari memantaskan diri and have a great day! 

Shelter, August 19th 2014. 09:26 AM. Try to love myself the way I am.

Sunday, August 03, 2014

Episode; Kejutan Itu Bernama Jodoh

Sebelum saya dibully orang-orang, sebaiknya emang saya jelasin dulu kenapa saya tiba-tiba nulis postingan ini. Sejagad raya pasti tau saya bukan tipe orang yang suka dengan hal romantis macam beginian. Haha, saya juga tidak tau kenapa tapi daripada ide ini hilang begitu saja dari kepala saya, sebaiknya saya tuliskan. Semoga bermanfaat dan bisa diambil ibrah-nya *khususnya buat yang nulis :D* Dan kenapa saya nulis ini? Mungkin ini adalah semacam respon saya atas tulisan adik junior saya, Nio. Kemarin saya baca postingan di blognya yang judulnya “Pacaran Tidak Mengenal Anda Lulusan Mana” dan “Jomblo Setengah Hati”. Bagi Nio yang emang punya pengalaman dengan hal begituan, nulis ulang cerita yang udah lewat pasti kerasa gimanaaa gitu. Seperti membangkitkan kenangan lama dari kubur. Sakit juga mungkin iya, apalagi dengan pemahaman seperti sekarang. Jelaslah dia tambah ilfeel. Oke, anggap saja begitu. Yang kedua, jawaban subjektif saya, saya menganggap ini salah satu hal yang menarik untuk saya tulis. Haha, siapa tau aja saya juga mengalami hal ajaib itu ketika bertemu dengan calon suami saya kelak. Who knows, right? :D
Well, let’s start from this verse. Allah SWT berfirman :
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)….” (TQS. An Nuur [24]:26).
Ya, ayat ini adalah salah satu ayat favorit saya. Inilah yang membuat saya sampai sekarang dengan penuh kepedean untuk tidak melakukan aktivitas maksiyat bernama Pacaran *sebelum menikah pastinya. Klo udah nikah mah gak pacaran lagi namanya. Sebutannya Suami-Istri* meski mungkin karena emang belum ada yang mau sama saya :p Yang jelas, ayat ini bikin saya yakin bahwa suatu saat saya akan bertemu dengan seorang Prince Charming yang pastinya dicintai Allah jika saya juga melakukan hal yang sama *eaaaaa*

Nah, ngomong-ngomong soal ayat di atas, saya punya 3 cerita yang berbeda, di tempat yang berbeda, waktu yang berbeda dan pastinya tokoh yang berbeda pula. Tapi, cara mereka bertemu dengan pasangan masing-masing adalah cara ajaib yang hampir mirip.
Cerita pertama yang saya dengar adalah cerita tentang sepasang manusia *ya iyalah* yang kuliah di kampus yang sama, fakultas yang sama, jurusan yang sama, bahkan sekelas. Hmm, sebut saja Dani dan Dina *biar gak bingung* Mereka berdua sama-sama pintar dan menjadi rujukan di kelasnya. Namun, ada yang beda. Dina adalah seorang aktivis pergerakan Islam sedangkan Dani adalah aktivis kampus yang yah gitu deh. Setiap orang punya masa lalu, hehe. Dani anak BEM Fakultas, sedangkan Dina anak pergerakan Islam. Oke, inilah jembatan pemisah yang cukup jauh antara mereka berdua meskipun mereka sekelas. Jelaslah Dina gak mungkin mau sama cowok model kayak Dani. Namun, namanya manusia yang punya kecenderungan, ternyata Dani beneran suka sama Dina. Serius suka. Dani yang ngebet banget sama Dina gak berhenti ngejar-ngejar Dina yang udah punya pemahaman gak mau pacaran *ya iyalah, masa aktivis Islam pacaran? OMG Helloww*
Singkat cerita, namanya hidayah itu kalo dijemput pasti dia akan datang ke kita. Alhamdulillah Dani dapat hidayah. Ngajilah dia di tempat yang sama dengan Dina. Tapi posisinya, Dina sudah lebih jauh di atas Dani. Emang dasarnya Dani pantang menyerah, dia tetep aja nguber-nguber Dina. Mungkin Dina kasian juga liat Dani udah ngos-ngosan ngejar dia, akhirnya Dina Cuma nyeletuk, “Kalo berani, ke rumah aja”. And you know Pemirsah? Dani beneran ngelamar Dina di depan orang tuanya!!! Haha, awesome. Kenapa? Karena waktu itu Dani sama Dina masih semester 5. Haha, saya gak kebayang model saya pas semester 5. Masih kacau balau :D Akhirnya mereka menikah. Dan menjelang pernikahan, Dani punya cara yang menurut saya gokil banget buat ngasihtau ke teman-teman sekelasnya. Jadi ceritanya pas lagi gak ada dosen. Dani tiba-tiba berdiri.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kata Dani untuk mengheningkan cipta, eh mengheningkan suasana kelas.
“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab teman-teman sekelasnya.
“Teman-teman mohon perhatiannya, ada yang ingin saya sampaikan ke teman-teman sekalian,” kata Dani kemudian.
Teman-teman sekelasnya penasaran. Apalagi beberapa cewek yang emang jadi secret admirernya Dani.
“Saya akan menikah….,” kata Dani.
Sontak semua heboh dan bertanya-tanya dengan siapa Dani akan menikah. Dina juga tidak kalah terkejut dengan teman-temannya yang lain.
“Bagi yang akan menikah dengan saya, saya harap berdiri,” kata Dani seolah menjawab pertanyaan teman-temannya.

Saya bisa bayangin ekspresi Dina waktu itu. Haha, pastinya kaget banget. Saya aja kalo digituin mungkin bakal jauh lebih shiock daripada dia.
Singkat cerita, Dina akhirnya berdiri dengan wajah merah menahan malu. Cukup sensasional sih dan menurut saya romantis haha :D Di akhir saya baru tau kalo Dina dan Dani adalah teman seangkatan suami ustadzah saya. Hmm, dunia ini emang sempit ^^

Sekarang, mereka berdua sedang menanti kelahiran anak pertama dan keduanya sudah lulus S2 dari Taiwan National University. Barakallah buat Mbak Dina dan Mas Dani hehehe. Wish you both all the best. Thanks for giving such a romantic story.
Ini adalah cerita ajaib pertama. Dan kedua datang dari seorang Mbak yang lain. Sebut saja namanya Renia. Saya kenal cukup baik dengan beliau karena beliau dulu sempat satu rumah dengan saya dan kami pernah satu tim halqah *sebutan untuk pembinaan intensif*
Suatu malam beliau datang ke kontrakan saya dan mengantarkan undangan pernikahan beliau. Saya sudah lama menebak bahwa beliau akan menikah. Dan ketika saya tau, saya tidak se-shock teman-teman saya. Soalnya Mbak Renia yang imut-imut itu akhirnya nikah juga hehehe :D Namanya juga penasaran, akhirnya saya nanya deh dengan siapa beliau menikah. Dan ternyata beliau mengisahkan cerita yang membuat saya merasa seperti nonton drama, haha :D
Suami beliau adalah seseorang yang sudah beliau kenal sejak SMP. Bermula dari lomba IT. Waktu itu Mbak Renia sangat berminat dalam dunia IT. Dan sejak SD mbak Renia selalu no.1. Orang pertama sekaligus cowok pertama yang sukses membuat Mbak Renia berada di posisi ketiga adalah suaminya sekarang. Waktu itu jelaslah mbak Renia gak bakal tau kalo cowok absurd dan rada autis itu bakal jadi suaminya sekarang. Mbak Renia nyaris gak bisa menerima kenyataan kalo dia akhirnya berada di posisi ketiga dan kalah dari seorang murid yang sekolahnya bahkan gak pernah menang lomba. Orang itu juara I pula.

Singkat cerita, ketika mereka SMA, mbak Renia yang dapat amanah ngurusin dakwah remaja ketika itu sering bolak-balik sekolah untuk ngisi pengajian umum di sekolah. Dan kalo dakwah remaja itu, sering banget ngadain acara cowok-cewek aka ikhwan-akhwat. Saat mbak Renia lagi down dengan banyak masalah, tiba-tiba cowok itu muncul lagi. Haha, dunia itu sempit, mamen. Dan satu-satunya orang yang berani nyebut nama Mbak Renia adalah cowok itu. Yah, mbak Renia terkenal lumayan killer di depan cowok-cowok. Makin kesel dah dia. Dan pas tau kalo ternyata si cowok itu juga sudah halqah dengan pembahasan yang setingkat di atas mbak Renia, makin sebel dah sama tuh cowok. Ini kali kedua Mbak Renia dikalahin sama orang yang sama *kok kayak saya ya? Saya dulu gak suka dikalahin sama cowok :P* Akhirnya sejak saat itu Mbak Renia belajar mati-matian biar bisa ngalahin orang itu. Kemudian dia sadar kalo memahami dan berjuang untuk Islam itu bukan karena apa atau siapa tapi karena Allah semata. Akhirnya mbak Renia berhenti mengejar orang itu dari sisi prestasi. Tapi, banyak yang kenal sama orang itu dan sering nyeritain orang itu ke Mbak Renia bikin dia jadi tambah kesel. Tapi, ternyata ketika itu dia sadar kalo dia juga suka sama orang itu. Apalagi pas tau kalo orang itu akhirnya kuliah di jurusan IT sementara beliau yang udah mati-matian memperjuangkan biar bisa masuk IT akhirnya harus pasrah kuliah di Pendidikan Dokter.
Beberapa tahun gak ketemu dan Mbak Renia juga udah lupa sama orang itu, ternyata ketemu lagi di SNS *Social Networking Site* aka Sosmed. Mbak Renia gak nyangka kalo orang itu berubah. Ya, semua orang bisa berubah. Muka aja bisa berubah sekarang. Singkat cerita, akhirnya Mbak Renia memutuskan untuk menikah dengan suaminya itu. Dan ternyata Mbak Renia gak bertepuk sebelah tangan. Hahaa, sweet ending ^^ Satu lagi yang hampir lupa, suami Mbak Renia semasa SMA adalah murid suaminya ustadzah saya yang tadi saya ceritain sebelumnya. Hohoho, dunia emang bener-bener sempit. Sama seperti nemu orang yang mirip setelah berapa tahun :P
Ini akhir cerita kedua. Cerita ketiga datang dari tentor les saya saat kelas XII. Cerita ini baru saya dengar tadi pagi saat salah satu sahabat saya menelpon dan mengatakan bahwa tentor saya itu menikah dengan teman sekelasnya di SMA dulu. Tentor saya dan suaminya adalah teman sekelas kakak sahabat saya itu. Haha, lagi-lagi dunia sempit :D
Sebelumnya ada lirik yang mungkin mirip sama cerita tentor saya ini.

Being born in the same country
Talking in the same language
We’re so lucky, it’s such a relief
Nothing is for certain in this world

Saya kenal tentor saya dari sahabat saya saat SMA. Beliau adalah teman sekelas kakak sahabat saya. Dari situ juga saya tau tentang suami tentor saya itu. Teman saya menceritakan tentang kisah anak-anak pintar di sekolah kakaknya, termasuk tentor saya dan suaminya. Namanya juga teman sekelas pastinya ya biasa aja kalo minta tolong meskipun cowok ke cewek. Tapi saya setelah mengkaji Islam jadi aneh kalo ngomong sama teman cowok. Mungkin karena gak biasa hehe :D Jadi waktu mau masuk kuliah, suami tentor saya minta tolong ke tentor saya buat dicariin kenalan. Soalnya kuliahnya di luar kota, jauh dan gak ada saudara. Tentor saya yang emang aktivis Islam jelaslah ngarahin suaminya ini *waktu itu statusnya masih teman sekelas* ke orang yang juga aktivis Islam. Akhirnya dititipilah suaminya itu ke seorang Ustadz yang sekarang lagi naik daun gara-gara postingannya di SNS. Alhamdulillah, akhirnya suami menjemput hidayah di Ibukota Indonesia Raya. Dari sana akhirnya suaminya merintis dakwah di salah satu Sekolah Tinggi milik pemerintah di Ibukota. Dan sampai sekarang masih istiqomah.
Tahun lalu saya diberitau oleh sahabat saya yang lain bahwa tentor saya itu akan menikah dengan orang yang juga dari kampung halaman saya, Kendari. Saya pikir, siapa ya ikhwan Kendari di Jakarta? Kok saya gak kenal? Saya waktu itu gak mikir sampe ke sana. Mana mungkin juga tentor saya nikah sama temannya itu. Gak ada pikiran dah. Dan tadi pagi teman saya menelpon. Mengabarkan bahwa tentor saya itu akhirnya menikah dengan teman sekelasnya yang dulu ditolong pas mau masuk kuliah. Hahaha, bener-bener gak disangka. Jodoh itu deket banget. Ya, emang gampang aja sih bagi Allah nyiapin skenario pertemuan. Nyiapin skenario kehancuran jagad raya aja Allah bisa. Gak ada yang gak mungkin. Selamat deh buat Kak Yana dan Kak Juned. Selamat menunggu kelahiran anak pertamanya. Semoga lancar ^^
3 cerita tadi Cuma bisa bikin saya bilang, Subhanallah. Sutradara perfect emang Cuma Allah semata. Bagaimanapun seorang berusaha, hasil emang Cuma Allah yang nentuin. Saya yakin banget beliau-beliau di atas pasti gak pernah nyangka kalo suami atau istri mereka sekarang akan jadi suami atau istri mereka. Kayak saya yang sekarang punya pria idaman tapi mungkin aja suatu saat bakal lain hasilnya dan itu pasti gak disangka-sangka. Jika saya gak bisa, seluruh jagad raya juga gak bisa :D
Trus, respon buat tulisan Nio? Hmm, buat yang masih pacaran sekalipun lulusan pesantren dan universitas dengan label Islam, pikir-pikir lagi kalo mau maksiyat. Sayang banget tuh ilmu Cuma ngendap aja. Dan buat jomblo setengah hati, gak usah buru-buru, gak usah resah bin galau. Allah sudah nyiapin cerita yang indah buat kalian semua *termasuk saya :D* Buat para pengemban dakwah yang sekarang banyak godaan di usia 20-an, saran saya siapkan baik-baik dan yakinlah jika kita menolong Agama Allah, Allah akan menolong kita. Seperti janjiNya. So, siapkan, jangan sampai hal ini mengalihkan perjuangan. Saya pun terkadang begitu. Mungkin karena frame orang-orang tentang cinta termasuk pernikahan hanyalah sebatas pada “Aku dan Kamu”, jadilah terkadang di bayangan dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak :D
Sekali lagi, pernikahan pengemban dakwah itu bukan hanya aku dan kamu, tapi kita. Suami atau istri bukan milik sendiri tapi milik umat. Maka, bersiaplah untuk membagi suami atau istri kelak dengan umat ini karena umat butuh mereka. Dan pernikahan pengemban dakwah itu bukan pernikahan yang romantis melulu. Karena pernikahan pengemban dakwah ibarat pernikahan superhero atau pernikahan seorang agen misi. So, buat para akhwat jangan terlalu berharap. Bayangin aja dulu gimana istri Khalid bin Walid yang selalu ditinggal jihad oleh suaminya? Istri Zaid bin Haritsah yang harus rela melepaskan suaminya ke medan jihad. Istri Rasulullah SAW, istri para Khalifah yang pastinya kayaknya jarang banget nemuin sesuatu yang romantis. Karena kebahagiaan itu gak selalu muncul di saat-saat romantis. Buat para ikhwan juga jangan kepedean. Izinkanlah istri kalian kelak untuk tetap berdakwah sebagaimana ketika ia masih single. Izinkanlah istri kalian menjalankan kewajibannya kepada Allah dan RasulNya. Relakanlah istri kalian untuk membagi pikirannya dengan umat ini. Saat itu saya yakin, kalian pasti akan mengetahui seberapa tangguhnya perempuan yang kalian pilih. Selamat menyiapkan semuanya, selamat berdoa, selamat menjalani episode kehidupan yang penuh kejutan ini ^^ Have a nice weekend :D Wallahu ‘alam bi ash shawaab.
Shelter, August 3rd 2014. 10:20 AM. Let’s get up!

Episode; Aku, Lebaran dan Idul Fitri

Sebelum saya mulai tulisan saya yang pastinya bakalan panjang ini *sekalian beres-beres blog*, izinkan saya mengucapkan “SELAMAT IDUL FITRI 1435 H”. Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf untuk segala kesalahan ^^
Tahun ini adalah kedua kalinya saya tidak pulang kampung saat Idul Fitri. Pertama adalah di tahun 2010. Saat itu saya baru saja masuk Universitas. Dan tahun terakhir saya di universitas *in syaa Allah* juga saya akhirnya memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman. Banyak pertimbangan sebenarnya. Tapi, ada satu hal yang membuat saya benar-benar ingin menyelesaikannya di sini. Dan Alhamdulillah semua sudah selesai *I really hope so :D*
Sejak awal Ramadhan sampai detik ini banyak sekali peristiwa yang sudah saya alami *ya iyalah, Ditriii* dan ada beberapa yang tidak akan terlupakan saking spesialnya. Ramadhan dan Idul Fitri emang selalu jadi momen paling tidak terlupakan buat saya. Setidaknya sejak saya hijrah ke perantauan :D Salah satunya adalah ketika saya menyadari banyak hal yang sudah berubah, baik diri saya sendiri, lingkungan sekitar saya, kehidupan saya, meski sebenarnya tidak semua juga menyadari perubahan itu dan mungkin Cuma saya aja haha :D Yang jelas, saya merasakan banyak yang berubah sejak saya kuliah.
Beberapa kenangan yang gak terlupakan di Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini
KKN
Setelah sekian lama akhirnya saya bisa magang juga haha. Yah, emang periode sebelumnya adalah karena kegalauan saya yang gak nentuin tempatnya dari awal. Alhamdulillah bisa KKN di tempat yang bagus. Pimpinannya baik dan ramah. Supervisornya enak. Murid-muridnya juga seru-seru. Pengalaman paling seru adalah ngawas UAS. Bener-bener ujian kesabaran ngeliat anak-anak super bandel. Untung aja mereka bukan murid-murid saya.
Seperti kata Aoi Chan dan Chairo Chan, everything will come in the right time. And these what Allah has prepared for me. A sweet scene just for me. Minna san, happy Ied Mubarak. Ina, Putri, Pak Kus, Bu Ratri, Bu Rina, Pak Eko, dan murid-muridku ^^
Aksi Solidaritas Palestina
Seluruh dunia kembali tercengang dengan aksi brutal Israel *laknatullah alaih* ke Gaza di bulan Ramadhan. Bahkan hingga detik ini, aksi kejam itu juga belum selesai. Dan yang lebih keterlaluan lagi adalah kaum Muslimin di belahan bumi yang lain hanya menonton saja. Khususnya para pemilik kekuasaan. Seolah Israel itu sangat dihormati akhirnya mereka seperti di atas angin, berbuat sesukanya. Padahal, Allah yang melaknat mereka. Solidaritas kaum Muslimin mengalir seperti air bah. Bantuan berupa dana, pakaian, obat-obatan semua diberikan. Namun, tidak ada yang berubah. Semua hanya jadi obat. Namun tetap tidak ada yang bisa menghentikan kekejian Israel. Kaum Muslimin tidak berdaya. Bener-bener jadi pecundang di depan hidung orang kafir.
Kali ini kami hanya bisa melakukan aksi. Menyeru para penguasa untuk turun tangan. Menunjukkan kepedulian mereka sebagai kaum Muslimin. Menunjukkan bahwa kaum Muslimin punya taring yang bisa merobek kesombongan dan kebengisan orang-orang kafir. Kami pun menyerukan bahwa selain bantuan dana dan sejenisnya ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni persatuan kaum Muslimin di bawah satu kepemimpinan. Kepemimpinan seorang Khalifah dalam naungan Khilafah. Bukan karena Nasionalisme yang justru menjadi racun pemecah-belah kaum Muslimin.
Dan saya pun semakin sadar, tantangan perjuangan ini semakin besar. Makanya menegakkan Khilafah tidak pernah mudah. Saya sudah berlari sejauh ini, maka tidak ada alasan untuk kembali. Tidak ada alasan untuk kabur dari perjuangan ini. Sudah cukup saya melihat semua ketidakadilan dan kerusakan akibat penerapan Demokrasi-Kapitalis. Sudah cukup saya merasakan begitu banyak kepahitan, kesedihan dan duka yang mendalam karena sistem rusak dan merusak ini. Saya tidak rela bahkan sampai saya mati sekalipun ketika sistem ini masih diterapkan. Jika pun nanti saya mati sebelum saya bisa menumbangkan sistem ini, saya yakin akan banyak orang-orang setelah saya yang akan tetap memperjuangkan tumbangnya sistem ini dan tegaknya Khilafah. Di tengah banyaknya fitnah terhadap dakwah ini, semoga dengan thoriqoh dakwah yang sudah saya pelajari dan saya yakini, saya bisa tetap berpegang teguh padanya. Pada thoriqoh yang dijalani dengan sepenuh jiwa oleh Rasulullah SAW. Semua hanya masalah waktu. Maka kesabaran itu perlu. Dan nyalakan terus api keyakinan itu. Kita semua pasti dimenangkan oleh Allah. Karena Allah dan RasulNya tidak akan pernah ingkar janji.
Berburu bareng teman-teman seperjuangan
Udah jadi kebiasaan kalo Ramadhan pasti bakalan nyerbu masjid. Ya apalagi kalo bukan tarawih? Tapi, kalo sama Dewi, semua bakal jadi plus-plus. Buka puasa, sholat Isya dan Tarawih. Kenang-kenangan 15 hari terakhir Ramadhan bareng Dewi, Arin dan Nurul. And of course, congrats buat Arin yang akhirnya diberi kelulusan. Sekarang di belakang namanya udah ada titel *eaaa* Barakallah ya, Rin ^^
Itikaf di 10 malam terakhir
Ini juga jadi agenda yang gak kalah seru. Itikaf di 10 malam terakhir. Bener-bener jadi safari masjid akhirnya :D dan yang paling seru adalah itikaf bersama di Batu. Haha, unforgettable banget. Everything. Suasananya, materinya, pemandangannya dan kebersamaannya. Ya, inilah indahnya berjamaah. Selalu ada yang mengingatkan dikala futur menyerang, menguatkan dikala jatuh, melangkah bersama dalam jalinan dakwah dan ukhuwah menuju satu tujuan, yakni melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah. Karena dakwah ini juga saya tidak pernah merasa sendirian meskipun jauh dari rumah. Jamaah ini adalah rumah kedua bagi saya. Teman-teman seperjuangan adalah keluarga besar saya. Dan Alhamdulillah, meski kadang kesepian, saya tidak pernah benar-benar merasakan kesepian. Karena mereka selalu ada, selain karena Allah juga pastinya. Uhibbukum fillah <3
Travelling sendiri ke Surabaya
Untuk pertama kalinya saya ke Surabaya naik kendaraan sendiri. Sebelumnya udah pernah, tapi waktu itu masih dijemput. Kali ini saya naik kereta, naik angkot dan sampai ke tempat tujuan sendirian. Haha, rasanya aneh sih travelling sendirian, tapi saya juga gak tau kalo saya pergi jauh mesti sendirian. Dan orang yang pertama kali nemenin saya travelling jauh adalah Nila :D Semoga aja suatu saat beneran punya teman travelling :p
Misskom di Hari Raya
Sebenernya kejadian ini rasa absurd dan memalukan buat diceritakan. Semua planning di awal berantakan. Hari Raya yang ternyata warnanya abu-abu. Tapi, Alhamdulillah saya punya teman yang berwarna lebih cerah. Jadi saya gak ada alasan untuk tetap mendung. Dengan kesederhanaan, kami mencoba mengukir senyuman. And it works ^^ Ziezie, Mbak Put, Balgis, Ani, thanks for the memories :D
Travelling ke Blitar dan Tulungagung
Nila adalah orang pertama yang bersedia travelling bersama saya. Udah gak tau apa-apa, modal peta sama HP. Akhirnya saya berangkat ke Tulungagung. Pertama kalinya juga naik sepeda motor. Ternyata setelah saya hitung-hitung, sekitar 1-1,5 jam kalo gak nyasar haha. Waktu itu saya sempat nyasar. Apalagi Nila puasa. Afwan ya, Nil. Jazakillah khairan katsir udah nemenin muter-muter nyari makam. And finally, I made my promise. See? If you don’t come then I’ll come to you. Finally, I came to meet you. Even it’s just a silent grave. I hope you see. I hope you see. I hope you see. Now, everything will be alright. End of our story. A sad ending one, but it makes so much lessons for me and the other. Thanks for coming into my life, thanks for giving me so many lessons, thanks for changing me to be a better person, thanks for bringing such colorful memories, thanks for giving me so much love and care, thanks for everything.
Meet New Family in Blitar
Nila, Bapak, Ibu, Pak Po, Pak Dhe, Bu Dhe dan semuanya akhirnya jadi keluarga baru saya selama di Blitar. Haha, saya gak tau apa saya kesana untuk melarikan diri dari hantu bernama kesepian. Hitung-hitung refreshing dan menepati janji ke Nila. Makasih untuk Ibu dan Bapak yang udah peduli banget dan nganggap saya seperti anak sendiri. Diajakin ke rumah saudara dan dapat angpao pula. Haha, saya jadi malu. Udah segede gini masih dapat angpao. Makasih Pak Dhe ^^ In syaa Allah kalo ada kesempatan, saya sempatin ke Blitar lagi, ngunjungin Bapak, Ibu, Pak Po dan semuanya. Rasanya gak cukup hanya dengan kalimat. Dan ini sukses bikin saya nangis. Love you all in Allah. I hope we’ll meet again. Dan semoga bisa ke Tulungagung lagi, ke rumah Pak Dhe-nya Maryam *Iam, ayo cepet balik :P*
Tuh kan, kalo udah lama gak nulis, sekali nulis jadi panjang banget tulisannya. Ya, semoga siapapun yang baca bisa ngambil pelajaran. Happy Ied Mubarak, all ^^

Shelter, August 2nd 2014. 08:50 AM. Gak terasa pas sebulan lagi.

Wednesday, July 09, 2014

Memaafkan Masa Lalu


Masa lalu terkadang mampu memberi semangat dalam hidup kita. Namun, tak jarang masa lalu juga justru malah sebaliknya, menjadikan diri kita trauma dan frustasi.

Masa lalu terkadang mampu memberi semangat dalam hidup kita. Namun, tak jarang masa lalu juga justru malah sebaliknya, menjadikan diri kita trauma dan frustasi. Bila ada sederet kebaikan, prestasi, kebahagiaan di masa lalu, itu akan jadi pemicu semangat hidup kita di masa kini dan yang akan datang. Tapi, jika masa lalu dipenuhi dengan deretan kepedihan, kesakitan, kegagalan, bahkan kenistaan, pada saat itulah kita menjadi berat untuk melangkah di hari ini. Seakan tak ada harapan di masa yang bernama nanti.

Sahabat, kita harus berubah. Itu pasti. Tapi bagaimana dengan masa lalu kita dengan segudang kenangan yang warna-warni? Kuncinya hanya satu. Kita harus berani untuk mengikhlaskannya. Kita harus berani menerimanya dengan sepenuh hati. Itulah masa lalu kita. Begitulah masa lalu kita. Tak perlu kita nafikan. Tak pelu kita bohongi.

Saat masa lalu ada sederet kegagalan, terimalah kenyataan itu hari ini. Tak mengapa. Ikhlaskanlah dan jadikan itu sebuah makna dalam kehidupan kita. Ingatlah bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kekalahan. Yang terpenting bukan kalahnya, tapi apa yang bisa kita pelajari dari kekalahan diri kita. Ingatlah pula dengan Rasulullah Saw bersama kaum Muslimin saat perang Uhud. Saat itu kaum Muslim kalah. Dan itu tak bisa dibohongi. Tapi yang terpenting kita bisa belajar, bahwa kekalahan itu bukan datang begitu saja. Tidak datang tiba-tiba. Ia datang dari “kelalaian” pasukan pemanah yang ada di bukit. Masa lalu kita pun demikian. Cobalah untuk mengikhlaskan kegagalan yang pernah terjadi, lalu kita pelajari apa gerangan “kelalaian” yang kita lakukan saat itu.

Masa lalu kita bisa jadi juga ada rasa sakit yang dirasakan. Apakah itu karena ucapan atau karena tindakan orang lain kepada kita. Baik itu oleh sahabat kita, tetangga kita, atau bahkan oleh orang yang kita cintai sekalipun. Itu bisa saja terjadi. Mulai sekarang, cobalah untuk memaafkannya, mengikhlaskan semua itu. Maafkan atas yang pernah dilakukan dan diucapkan orang lain kepada kita yang menyakitkan itu. Cobalah untuk mengikhlaskan apapun kesakitan yang kita derita karenanya. Cobalah untuk melihat bahwa di balik rasa sakit itu ada sejumput kebaikan yang Allah titipkan.

Masa lalu pun tak jarang juga ada kesedihan yang menemani. Bisa jadi kesedihan itu karena kehilangan orang-orang yang kita cintai. Tak adanya lagi orang yang menemani kita menjalani hari. Itu bisa menjadi sebab hadirnya kesedihan. Atau bisa jadi juga karena menjauhnya orang-orang dari kita. Dan lebih menyakitkan lagi yang menjauhi kita itu adalah orang yang sangat kita sayangi. Cobalah untuk mengikhlaskan semua yang pernah terjadi. Renungkanlah, bahwa kerinduan itu hadir bukan karena kebersamaan. Rindu itu ada saat perbisahaan ada. Renungkanlah pula bahwa semua yang ada di muka dunia ini sementara, termasuk kebersamaan kita bersama orang yang kita cinta. Itu sementara. Pasti ada masa dimana kita akan dipisahkan darinya. Itu niscaya.

Sahabat, ikhlaskanlah masa lalumu. Seperti apapun itu. Sedih, pilu, duka, gagal, terimalah lalu maafkanlah. Maafkan diri Anda sendiri. Maafkan orang lain yang menjadi penyebab sedih itu ada. Lalu segeralah mengikhlaskan apapun yang terjadi di masa itu. Ikhlaskanlah, relakanlah masa Anda menjadi bagian dari perjalan hidup Anda. Lalu, terbitkanlah harapan baru dalam diri Anda, bahwa masa depan akan ada kebaikan yang bisa kita dapatkan. Ingatlah, kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh masa lalunya, tapi ditentukan oleh pilihan di masa kini dan harapannya di masa depan. Kenapa kita masih terbenam di masa lalu, semantara kita sedang menjalani masa kita dan menatap masa depan? Yuk berubah. Ikhlaskan… ikhlaskan…

Asep Supriatna

Keren banget judulnya. Dan isinya ngena banget. Selamat berproses, selamat move on ^^

Thursday, July 03, 2014

Jalan Pulang


Jalan pulang itu selalu terasa lebih dekat [Ditri Ayu R.A.L]

Bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang sangat berharga bagi kita? Bagaimana jika kita sudah tahu bahwa beberapa jam yang lalu adalah saat terakhir kita bersamanya? Atau mungkin sebaliknya? Bagaimana jika beberapa saat yang lalu adalah saat terakhir kita melihatnya tersenyum kepada kita? Lalu, beberapa saat kemudian, ia telah pergi untuk selamanya.
Ini adalah kesekian kalinya saya mendengar berita kematian dari orang yang saya kenal. Dan rasanya sama. Lemas dan tidak bisa berkata apa-apa. Namun, satu hal yang pasti. Itu akan terjadi kepada setiap yang bernyawa. Dan Allah telah menyebutkannya berkali-kali di dalam Al Qur’an. Saya kemudian berpikir, bagaimana jika itu terjadi pada saya? Bagaimana jika Bapak atau Ibu saya yang meninggal? Bagaimana jika Kakak atau Adik saya yang meninggal? Atau mungkin jika beberapa saat lagi saya dipanggil oleh Allah melalui malaikat Izrail? Apa yang akan saya lakukan?
Saat ini banyak orang yang belum bahkan tidak siap dengan kematian. Mungkin saya juga seperti itu. Entah karena ada yang merasa masih banyak urusan di dunia ini ataupun yang lain. Atau mungkin masih banyak amanah yang belum ditunaikan, dsb. Namun, ajal itu akan menghampiri siapa saja tanpa bisa dimundurkan atau dimajukan.
Maka Umar bin Khattab berpesan, cukuplah mati sebagai sebaik-baik pengingat. Karena setelah mati, kita tidak akan bisa hidup kembali. Setelah mati, kita akan bertanggung jawab terhadap seluruh pilihan kita di dunia. Seluruh perbuatan kita. Siapapun dia yang predikatnya manusia.
Hari ini saya melihat orang lain meninggal. Besok, bisa jadi saya yang mengalaminya. Lalu, bagaimana dengan mereka yang ditinggalkan? Tentu saja perasaan sedih sebagai manusia itu ada karena itu manusiawi. Pastinya itu berat bagi mereka. Maka bersabar adalah pilihan yang pasti terasa sangat pahit. Namun, di sisi Allah ada balasan yang besar. Karena Allah takkan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya.
Hari ini saya diuji masih dengan perkara yang sama. Perkara yang melemahkan saya yang datang dari diri saya sendiri. Masih di situ. Sedangkan orang lain sudah melewati tahapan ujian yang satu tingkat di atas saya. Mereka diuji lewat orang terdekatnya. Maka, ujian saya belum ada apa-apanya.
Mido Chan, semoga Ayahmu mendapat tempat yang terbaik di sisiNya dan semoga kelak kalian berkumpul bersama di surgaNya. Mido Chan, maafkan temanmu ini yang tidak bisa membantu lebih selain mendoakan beliau. Semoga Allah menguatkan jiwamu. Mido chan, kamu punya Ayah yang luar biasa. Jadilah anak shalihah untuknya.
Shelter, July 3rd 2014. 09:24 PM.
Dedicated to Mido’s Father and kak Eko Irwanto.


Sunday, June 15, 2014

Tomodachi*

Waktu kecil saya pernah dikasihtau, kalo misalnya ngeliat jam yang angka jam sama menitnya sama, berarti ada orang yang lagi kangen sama kita. Waktu itu sih saya cuek aja. Karena saya jarang ngeliat jam yang angka jam sama menitnya bertepatan. Tapi, beberapa waktu belakangan ini saya sering sekali melihat angka jam dan menitnya sama. Entahlah, mungkin kebetulan. Saya juga gak mau terlalu percaya. Kalo pun ada yang kangen sama saya, saya juga gak tau siapa. Tapi, kemarin saya benar-benar dapat kejutan. Kejutan kecil yang tetap saja sukses membuat saya senyum sendiri dan berbunga-bunga *eaaaaaa
          Kejutan-kejutan kecil itu datang dari sahabat-sahabat saya sewaktu SMA. Sahabat seperjuangan dalam mengarungi dan belajar tentang arti hidup yang sebenarnya. Dan saya baru sadar bahwa sudah hampir 4 tahun kami berpisah. Dipisahkan oleh cita-cita yang masing-masing kami kejar. Namun, ada cita-cita yang lebih besar dari itu, yakni cita-cita meraih ridho Allah SWT dengan penerapan SyariahNya secara kaffah dalam naungan Khilafah.
          Kejutan pertama datang dari sahabat saya sejak SMP. Fitri yang sering saya sebut Bu Dokter karena memang dia calon dokter. Saya masih ingat pertama kali kami bertemu ketika akan berangkat untuk daftar ulang masuk SMP. Kebetulan kami satu kelompok MOS dan sekelas sampai kelas 3 SMP. Karena itulah kami selalu bersama meskipun sebenarnya dia sudah punya sahabat dekat sejak kelas 1 SD. Kenangan tak terlupakan adalah saat kami pertama kali naik eskalator di mall. Waktu itu saking bahagianya ketika toko buku terbesar di kota kami baru saja dibuka. Sejak saat itu kami rajin kesana meskipun hanya sekedar melihat-lihat. Tidak hanya itu, kami selalu menabung untuk membelikan hadiah bagi teman-teman yang lain. Dia juga sering sekali mengajak saya pergi dan mentraktir saya es krim. Dia juga adalah siswa terpintar saat itu, khususnya Matematika. Sayangnya dia tidak terlalu bisa menjelaskan sehingga sayalah yang menjadi juru bicaranya untuk menjelaskan ke teman-teman yang lain. Tapi, Alhamdulillah sekarang sudah berbeda. Karena sekarang dia adalah seorang pengemban dakwah. Seorang dokter umat yang pastinya harus cerewet.
Dan saat SMA pun kami juga sekelas di kelas XI dan XII. Di akhir kelas XII kami pernah bermimpi untuk berjalan bersama di atas koridor Fakultas Kedokteran namun ternyata Allah memberi dia kesempatan dan saya berjalan di koridor fakultas lain. Dan diantara sekian banyak orang hanya dia yang selalu menelfon saya bahkan berjam-jam. Meski hanya sekedar bercerita tentang apa yang dia pikirkan. Satu lagi, dulu dia sangat pintar menulis puisi. Seberapapun aku mencoba membuat yang sebagus puisinya, tetap saja tak bisa menyaingi puisi buatannya.
Kemarin dia tiba-tiba bilang bahwa dia sangat merindukan saya. Saya bahkan tidak bisa membayangkan kenapa tiba-tiba dia lebay seperti itu. Sepertinya dia belum tahu bahwa saya adalah orang yang paling tidak bisa mengungkapkan perasaan dengan cara yang diharapkan orang lain. Saya hanya tersenyum sendiri. Semoga saja kemarin dia sedang membayangkan saya sedang tersenyum padanya. Makasih ya, Bu Dokter. Makasih buat kata-katanya. Makasih karena sudah membuat diri ini merasa berarti untukmu. Jazakillah khair. Uhibbuki fillah, ukhty <3
Kejutan kedua datang dari sahabat saya yang lain. Seperti Fitri, dulu dia selalu bisa saya andalkan. Meskipun awalnya kami tidak terlalu akrab. Nunung, sahabat Fitri sejak kelas 1 SD hingga SMA. Bahkan sampai sekarang. Gadis pendiam tapi memendam sejuta bakat. Dia penuh percaya diri dan selalu melakukan yang terbaik. Dia akan selalu mempertahankan apa yang menurutnya benar. Makanya, dia bisa jadi debater yang keren. Jika bukan karena dia, saya tidak akan pernah ikut kompetensi debat. Selama lomba debat Bahasa Inggris pasti kami selalu jadi partner. Dan di tahun terakhir kami di SMA, kami akhirnya berhasil menjadi runner up lomba debat yang sudah kami ikuti sejak kelas XI dan selalu hanya bisa sampai semi final.
Setelah sekian lama lose contact, kemarin malam dia menelfon saya. Rasanya kembali bernostalgia ketika di SMA. Dan dia belum berubah. Tetap Nunung yang percaya diri, optimis dan keras kepala. Dia benar-benar tipe O. Hanya saja, sekarang dia sudah lebih cerewet dari yang dulu. Tapi, dia masih kritis seperti dulu. Makasih ya Nung. Makasih karena sudah telfon dan masih ingat sama aku. Aku harap suatu saat kamu bisa kembali dalam barisan perjuangan ini sebagai Nunung, sahabatku. Love you in Allah as always <3
Tidak lupa 3 akhwat super yang kupanggil Aoi, Chairo dan Midori. Sahabat sewaktu SMA yang juga masih akrab sampai hari ini. Mereka selalu membuat hariku tak pernah sepi dengan celotehan di whatsapp, BBM ataupun LINE. Ah, minna hontou ni aitakatta.
Chairo, makasih ya buat balasan suratnya. Speechless bacanya. Shock tau tiba-tiba nulis di note dan dicomment banyak orang itu memalukan. Berasa dapat surat dari penggemar *gayaaa Dan gak nyangka Chai bisa sebegitu puitisnya. Tulisan dari hati emang selalu menyentuh. Meskipun tidak akan mungkin menuliskan kalian hanya dalam lembaran-lembaran Microsoft Word. Terlalu banyak hal yang tidak bisa kutuliskan tentang kalian. Bahkan surat yang 2 lembar bolak-balik itu juga masih terlalu pendek untukku.
Sekarang saya mengerti. Lebih tepatnya baru ingat bahwa manusia memiliki kecenderungan yang disebut naluri. Hati ini memiliki begitu banyak ruang yang diisi oleh sesuatu bernama kenangan. Dan setiap ruangan memiliki hal yang berbeda dan tidak tergantikan.
Seperti halnya kalian. Kalian memiliki tempat istimewa di sini. Tempat yang tidak bisa tergantikan oleh sahabat-sahabatku yang saat ini bersama di tempat ini. Bukan berarti mereka tidak berarti bagiku. Hanya saja tempat kalian berbeda. Dan tempat itu tak bisa tergantikan. Meski rasa untuk kalian semua tetap sama. Semoga rasa ini ada karena Allah semata sehingga suatu saat kita bisa dikumpulkan kembali dalam naunganNya.
Seperti puisi yang berbunyi :
“Ketika seseorang datang dalam hidupmu maka itu adalah sesuatu yang besar. Karena ia membawa seluruh kehidupannya bersama dengannya”.
Ya, puisi itu tidak salah. Maka dalam hubungan apapun, menerima adalah niscaya. Karena setiap orang memiliki banyak ruang dalam hati mereka. Memiliki banyak sisi dalam hidup dan diri mereka.
Mungkin begitu juga denganmu. Hal yang baru saja kutemukan dari sahabat-sahabatku. Bukan karena aku tak berarti bagimu, hanya saja ada tempat yang takkan bisa kutempati di dalam hatimu. Tempat yang hanya bisa diisi oleh mereka yang kau sebut “teman”.

Tomodachi : Teman
Shelter, June 15th 2014. 09:36 PM.
pic from we heart it

Sunday, June 08, 2014

Masih Ada Orang Baik


Balik nulis setelah vakum itu rasanya nano-nano. Jari kaku semua. Bingung mau nulis apa. Rasanya jutaan huruf melayang-layang seperti bintang di langit. Mau nulis huruf apa dulu juga serbasalah. Dan sepertinya emang saya yang lebay (pake) banget :D

  Hari ini ada beberapa peristiwa yang sempat terangkum dalam memori saya. Mungkin isi tulisan sama judulnya “agak” gak nyambung. Tapi, gapapalah. Kan saya yang nulis. Jadi, suka-suka saya dong mau nulis apa *lagak udah kayak diktator*

   Saya kuliah jam 7 pagi. Dari kemarin saya emang udah ngeplot agenda hari ini. Tapi, karena waktunya ternyata gak cukup akhirnya ada beberapa yang digeser. Hari ini saya juga mulai KKN (magang). Jadi, saya bener-bener nyiapin buat hari ini. Seperti biasa, saya melewati jalan yang selama 3 tahun berturut-turut saya lewati. Dan saat tiba di perempatan ketiga, ada yang berbeda. Bukan karena “orang gila” yang suka jalan-jalan keliling kampung tiba-tiba ada di sana. Tapi, karena banyak kursi berjejer. Ya, kursi berjejer pertanda lagi ada hajatan. Tapi, ini bukan hajatan pemirsa. Ada orang yang meninggal. Ya, orang meninggal. Mungkin bagi kebanyakan orang itu biasa, soalnya orang meninggal hampir sama banyaknya dengan orang nikah atau lahiran. Dan emang udah tradisi kalo meninggal mesti melayat trus ngasih makan ke tetangga, dsb. Ini kejadian pertama.

   Kejadian kedua pas saya pulang kuliah. Dengan perut keroncongan, saya melewati jalan yang sama dengan tadi pagi. Sekitar pukul 9. Ternyata di depan gang kontrakan saya baru saja ada yang meninggal. Orang-orang yang biasa lewat naik motor akhirnya pada turun semua trus nuntun motornya. Yang males turun, belok ke gang lain.

  Saya jadi teringat, sebulan yang lalu saya juga dapat kabar meninggalnya kakak salah satu teman dekat saya di SMA. Beliau masih muda. Belum nikah juga. Beliau sailor. Tapi, bukan Sailormoon ya. Bukan bajak laut kayak Luffy juga. Emang pelaut beneran. Bagi saya, ketika melihat atau mendengar berita kematian seperti membangkitkan kenangan masa lalu ketika seseorang yang saya “anggap” penting tiba-tiba dipanggil kembali ke sisi Allah SWT. Dari sana saya akhirnya belajar, usia muda bukan jaminan umur panjang. Sehat bukan jaminan akan terus hidup. Singkatnya, kita bisa mati kapan saja. Karena tak ada satupun dari kita yang tau kapan kita akan mati. Justru karena itu kita berupaya mengumpulkan bekal. Tak lain dan tak bukan adalah ibadah kepadaNya. Bukan sembarang ibadah tapi emang ibadah yang kaffah. Menjalankan seluruh perintah Allah dan laranganNya. Dan benarlah kata Umar Ra. bahwa cukuplah mati sebagai pengingat.

   Trus, apa hubungannya sama masih ada orang baik? Makanya, kan udah saya tulis tadi. Ini rada gak nyambung.

  Okelah. Gini ceritanya. Tadi, dalam perjalanan ke tempat KKN, dalam keadaan jalanan yang cukup padat kendaraan. Karena jalan satu arah, akhirnya nyebrangnya rada susah. Dan tanpa sengaja saya melihat sebuah pemandangan yang “tidak biasa” dalam kacamata saya. Pasalnya, ada seorang cowok yang turun dari motornya bantuin kakek-kakek yang udah pake tongkat buat nyebrang. Cowok itu dibonceng temennya. Dan saya lihat temannya lagi nungguin dia di seberang sembari ngeliatin dia nyebrangin sang Kakek ke seberang jalan. Dan dari ekspresinya, si cowok bener-bener tulus. Meskipun saya gak lihat wajahnya. Soalnya ketutup helm. Sorry, gak maksud jelalatan. Pengen tau aja. Akhirnya scene yang tadi udah kayak edisi Power Ranger nyelamatin penduduk kota dari monster haha :D

            Dalam hati saya bergumam, jarang banget ada orang kayak gitu. Masih muda tapi peduli dengan orang lain. Apalagi di zaman yang kayak sekarang. Elu-elu, gue-gue. Derita lu bukan urusan gue. Ya, ternyata orang baik itu masih ada. Hanya saja, baik secara individu gak cukup untuk bisa memperbaiki seluruh masyarakat. Butuh sebuah sistem yang juga baik agar seluruh masyarakat bisa sama baiknya. Karena bisa jadi, seorang individu akan berubah dalam lingkungan yang memaksa dia untuk berubah.

  Karena sistem hari ini elu-elu gue-gue, makanya orang juga tercetak jadi elu-elu gue-gue dan akhirnya pemandangan kayak Mr. Power Ranger tadi itu juga langkaaaa banget. Coba aja kalo sistemnya itu adalah sistem amanah penuh kepedulian. Gak jaman lagi deh kampanye pencitraan dsb. Karena semua orang udah punya standar yang sama. Pemikiran, perasaan dan aturan.

 Seperti itu juga yang ditunjukkin oleh Rasulullah SAW. ketika membangun masyarakat di Madinah. Beliau bisa menyatukan individu yang heterogen dengan menyuasanakan kesamaan pemikiran, perasaan dan juga aturan. Itulah sistem Rasulullah yang oleh generasi selanjutnya disebut dengan Khilafah Islamiyah.

  So, orang baik hanya akan bisa terwujud dalam sistem yang baik. Tentu bukan sistem yang berasal dari kepala mayoritas yang isinya cuma 3D, duit, duit, duit. Tapi, sistem yang berasal dari Yang Empunya Semesta, yakni Allah SWT. Hanya Syariah.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Shelter, june 5th 2014. 11:41 PM. Edisi rumah lagi banyak tamu.

Tuesday, June 03, 2014

Together Everyone Achieve More

http://www.dragonbridgecapital.com/
November 2013, saya dinyatakan pindah tim. Awalnya saya berada di tim fakultas dan akhinya saya dipindahkan ke tim fungsional. Tim Kontak Aktivis. Tim yang tugasnya mendakwahkan Islam di kalangan para aktivis kampus. Mungkin, sekilas tim ini terlihat elit karena anggotanya pun sedikit. Tetapi, ternyata perjuangan mereka juga berat. Dan saya akhirnya menyadari, butuh waktu 3 tahun sampai akhirnya saya pantas diamanahi berada di tim ini.

Saya pun belajar bagaimana interaksi dengan aktivis. Jarang kami bisa berdiskusi karena kesibukan mereka yang padat. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah ada satu atau dua orang, meskipun jarang juga yang sepakat dengan ide yang kami bawa. Tapi, tak apa. Setidaknya kami diberi waktu menyampaikan ide kami. Awalnya di tim ada empat orang termasuk saya. Ada mbak Dina, Kholish dan Salma. Beberapa waktu kemudian ada Che Lyn. Setelah itu, Salma pindah karena sakit, Kholish juga pindah tim karena punya amanah baru dan Che Lyn harus pulang ke Vietnam. Kemudian masuklah personil baru. Anak-anak kecil yang luar biasa. Ada Yeni, Ummu, Khonsa dan Titin. Petualangan baru saya pun dimulai bersama empat anak ini.

Setiap kali rapat, selalu saja ada hal-hal baru yang dicetuskan. Rasa lelah karena harus keliling kampus ke UKM setiap hari terhapus ketika rapat dengan ide-ide kreatif bahkan terkesan absurd. Ummu selalu bisa jadi moodbooster untuk semuanya. Mbak Dina yang selalu menjelaskan apa adanya tapi tidak menggurui, Khonsa dan Titin yang selalu kompak ngikutin imajinasi Ummu. Dan Yeni dengan gayanya sendiri. Saya? Jadi cheerleader hehe, gak ya. Saya juga ikut meramaikan.

Ya, meskipun begitu tentu PR kami masih banyak. Begitupun PR dakwah ini. Menyadarkan umat bahwa sistem Demokrasi hari ini adalah penyebab kerusakan yang terjadi di seluruh dunia. Sistem Demokrasi yang telah memuluskan jalan bagi sistem ekonomi liberal untuk terus menjajah negeri-negeri dengan sumber daya alam yang banyak. Sistem Demokrasilah yang membuat sebuah negeri menjadi negara Korporasi termasuk Indonesia. Maka, sudah saatnya sistem busuk dan rusak ini diganti dengan sistem yang lebih manusiawi yakni sistem yang berasal dari Penciptanya manusia, Allah SWT. Karena semesta ini milik Allah. Saya, Anda, kita semua juga milik Allah. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk menolak aturan dari Allah.

Wallahu 'alam bi ash shawaab

Shelter, June 3rd 2014. 09:37 AM. Nungguin Partner in Crime