Showing posts with label Hizbut Tahrir. Show all posts
Showing posts with label Hizbut Tahrir. Show all posts

Sunday, May 18, 2014

Berjalan Bersama Luka

 equinoxeles.blogspot.com
“Kau tidak akan bisa menjadi seorang Kage jika kau belum bisa menanggung beban seorang Kage”. (Gaara kepada Naruto)


”Selama dunia Ninja masih dengan sistem seperti ini, selama itu pula dunia Ninja akan selalu diliputi oleh kebencian”. (Yondaime Hokage kepada Naruto)


Setiap orang pasti memiliki masa lalu kelam. Memiliki luka yang mereka tanggung dan sakit hati yang mereka bawa dalam hidupnya. Setiap luka dan kesendirian selalu meminta tempat untuk berteduh. Dan setiap orang mencari tempat untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit dari hatinya.

Allah SWT. Berfirman :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal beum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al Baqarah [2] : 214)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (Al Baqarah [2] : 155)

Rasulullah SAW. Bersabda :
“Para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih kemudain generasi setelahnya dan generasi setelahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-hentinya ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun” (HR. Ahmad)

Dan benarlah hadist Rasulullah. Bahwa seseorang diuji berdasarkan kadar keimanannya. Dan yang tentu merasakan luka yang paling dalam dan sakit yang paling berat adalah para Nabi dan Rasul. Diantara mereka pun masih ada yang lebih berat lagi, yakni Ulul Azmi dimana salah satunya adalah Rasulullah SAW. sendiri. Dan benar pula bahwa manusia tidak akan berhenti diuji hingga ia berjalan tanpa kesalahan sedikit pun dan itu berarti tidak mungkin hidup manusia tidak diliputi dengan ujian. Namun, tentu terdapat perbedaaan antara orang-orang yang kuat imannya dengan yang tidak.

Orang yang kuat keimanannya kepada Allah, percaya bahwa ujian berupa luka dan rasa sakit merupakan bukti cinta Allah dan tempaan Allah untuk menjadikannya semakin kuat dan tangguh. Ia sadar bahwa ujian akan membuatnya menjadi orang yang lebih baik sehingga ia berusaha mencintai setiap ujian yang datang padanya meski itu berupa luka dan rasa sakit. Berbeda dengan orang yang tidak kuat keimanannya kepada Allah. Ia akan membenci ujian dan berusaha menyalahkan apapun yang bisa ia salahkan. Berlari dan terus berlari dari kenyataan hingga ia tidak menemukan jalan keluar selain jebakan kebencian yang tidak ada habisnya.

Hal tersebut wajar karena saat ini jebakan kebencian itu berada dalam sebuah jebakan yang lebih besar lagi, yakni sistem Demokrasi-Kapitalisme. Jebakan kebencian ini muncul dari segala penjuru tanpa peduli siapa yang terjebak di dalamnya. Dan akhirnya tak ada yang berpikir untuk keluar dari jebakan ini. Karena cinta dan benci adalah dua hal yang tidak jauh berbeda. Dua-duanya dapat bermuara pada luka dan menimbulkan rasa sakit. Semakin seseorang mencintai, kemungkinan dia terluka akan semakin besar. Hingga akhirnya dia tidak bisa memilih kecuali membenci. Namun, rasa sakit karena mencintai tidak sama dengan rasa sakit karena membenci.

Di luar sana, ada orang-orang yang berusaha menghancurkan kutukan kebencian ini dengan menghancurkan sistem Demokrasi-Kapitalisme dan menegakkan sebuah sistem baru yang akan memberikan cinta kepada semua orang, yaitu Khilafah. Mereka berdakwah tanpa henti. Dan berjalan bersama luka karena sistem dan luka yang harus mereka rasakan sebagai seorang pengemban dakwah. Itulah luka karena cinta. Namun balasannya tentu tak terkira. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Allah SWT berfirman :
“Allah tidak akan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya…” (Al Baqarah [2] : 286)

“…Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”. Mereka itulah orang yang mendapat keberkahan sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Baqarah [2] : 155-157)

Besi kuat karena tempaan. Manusia kuat karena ujian. Tak seorang hebat pun yang tidak lahir dari luka dan rasa sakit. Maka seseorang yang beriman tentu tak takut dengan luka. Karena luka adalah penghapus dosa. Dan sisi Allah mereka akan mendapatkan tempat terbaik, yakni Surga. Karena Allah tidak akan ingkar janji.

“Aku percaya, suatu saat akan ada masa dimana semua orang bisa saling memahami satu sama lain” (Jiraiya Sensei)


Shelter, May 18th 2014. 10:25 AM. Membayangkan langit di luar sana.
Backsound : Utsusemi an instrument by Takanashi Yasuharu

Friday, May 02, 2014

Hajimeyou!

Ketika kebenaran dikembalikan kepada persepsi masing-masing orang, tentu caranya akan berbeda-beda dan bisa jadi satu dengan yang lain akan saling menghabisi atas nama kebenaran yang diusung kepala masing-masing. 

Uchiha Madara ngebet banget pengen nguasain dunia untuk perdamaian dengan rencana Tsuki no Me. Tapi, dia gak nyadar kalo cara yang dia lakukan untuk mencapai perdamaian (versi kepalanya Madara) itu justru menimbulkan kekacauan dengan adanya Perang Dunia Shinobi IV.

Begitu juga dengan hari ini. Orang-orang senantiasa berkonotasi dengan hal-hal yang menurut perasaan mereka adalah baik. Seperti kata perdamaian. Konotasinya baik. Tapi, untuk mencapai hal itu digunakan cara yang merusak. Dengan penerapan Demokrasi yang justru membuat orang lain tanpa sadar merampas hak orang lainnya untuk mendapatkan kebebasannya sendiri.

Sayangnya, hidup ini bukan fantasy macam Naruto. Tapi, dalam cerita kehidupan selalu ada orang-orang seperti Madara dan Naruto. Orang yang niatnya baik tapi caranya salah. Dan orang yang memperjuangkan apa yang diyakininya untuk masa depan yang lebih baik dengan jalan yang benar. 

Dan kebenaran itu tidak mungkin datang dari tempat dimana perbedaan selalu ada. Ya, kebenaran tidak datang dari sisi manusia. Keberadaan hanya datang dari sisi Yang Maha Benar. Allah SWT. Dan karena keyakinan kita akan kebenaran itulah maka kita memilih untuk memperjuangkannya.


Saatnya memilih kebenaran bukan mencari pembenaran.

Finally, setelah sekian lama akhirnya bisa nulis lagi. And see, tulisannya bener-bener random :D Demo, daijoubu. Selama bisa menebar hikmah dan ibrah, gak masalah ^_^
Shelter, April 30th 2014. Malam Mayday.

Backsound : Goodbye to Onaji Kurai Thank You

Sunday, March 16, 2014

Saatnya Mahasiswi Bersuara

            Gak terasa sudah seminggu sejak diselenggarakannya Panggung Politik Mahasiswi di kota saya. Acara ini mengusung tema, Indonesia Lebih Baik; Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah. Dan untuk pertama kalinya saya yang terbiasa di belakang layar akhirnya nampang juga, haha. Tapi, saya gak bakal bahas itu kok.

Mahasiswa dan Pemilu
Tahun ini merupakan tahun politik bagi Indonesia. Kenapa? Karena tahun ini akan diselenggarakan Pemilu untuk memiliki calon legislatif (DPR, DPD) serta calon presiden dan wakilnya. Ajang yang sering disebut-sebut sebagai Pesta Demokrasi Akbar ini emang diselenggarakan 5 tahun sekali. Tapi, sepertinya animo masyarakat terkait Pemilu turun drastis dengan meningkatnya angka golput sejak Pilkada beberapa waktu silam. Namun, perlu diingat bahwa Negara ini memiliki jumlah pemuda yang sangat besar. Dan sebagian diantaranya adalah mahasiswa. Mahasiswa dengan latar belakang intelektualitas yang dimiliki mempunyai posisi strategis dalam Pemilu. Suara mereka termasuk dalam suara yang diperhitungkan. Jadi, gak heran kalo para caleg dan bahkan capres juga rame-rame ngegaet mahasiswa di parpolnya untuk menyukseskan langkah mereka di Pemilu mendatang.
Sayangnya mahasiswa hari ini tidak cukup cerdas untuk melihat permasalahan yang ada. Karena sebagian belum mampu menentukan sikap atas perpolitikan yang terjadi. Padahal, sebenarnya mereka memiliki peran strategis untuk mengawal perpolitikan bangsa. Sayangnya, pragmatisme yang ditanamkan melalui sistem pendidikan membuat para mahasiswa hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak sedikit yang apatis terhadap politik. Mereka lebih banyak memilih untuk tidak peduli. Jika pun tau mereka akan pura-pura tidak tahu. Entah untuk menyelamatkan diri atau karena memang terlalu lelah dengan beban perkuliahan. Bagi yang hanya bisa membebek, mereka akhirnya dijadikan mesin pencetak suara. Dan bagi mereka yang terjebak dalam hipnotis Demokrasi, akan memberikan sejuta harapan mereka kepada salah satu caleg atau capres partai dengan harapan bahwa suatu saat harapan itu akan terwujud. Sedang sisanya ada yang golput karena tidak percaya dan sudah sangat apatis terhadap perpolitikan bangsa ini.

Demokrasi, Bukan Hanya Sekedar Memilih Pemimpin
Masih banyak pemuda yang menganggap bahwa Demokrasi adalah proses pemilihan pemimpin. Sehingga para pemuda, khususnya mahasiswa masih ada yang menggembar-gemborkan kampanye Anti Golput dan sebagainya. Padahal, sejak SD kita sudah diajarkan tentang definisi Demokrasi, yakni pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Artinya kedaulatan ada di tangan rakyat. Itu berarti pula bahwa rakyat yang berhak membuat hukum. Akhirnya dipilihlah wakil rakyat untuk menjadi pembuat hukum yang nantinya akan menduduki kursi DPR. Masa saya harus bilang kalo orang-orang hari ini gagal paham tentang definisi Demokrasi? Tapi, itu fakta. Dan lihatlah prestasi Demokrasi di negeri ini. Hampir seluruh sumber daya alam menjadi milik asing. Kita tidak lebih dari budak di negeri sendiri. Kekayaan yang harusnya kita nikmati hanya kita peroleh dengan menjadi buruh di perusahaan yang mengelola kekayaan tersebut. Para mahasiswa digiring untuk menjual ilmu mereka ke perusahaan-perusahaan swasta, khususnya asing. Pemuda tidak lebih dari mesin produksi. Mesin pencetak uang. Di sisi lain, liberalisme terus menguat. Pergaulan bebas tumbuh subur, aborsi meningkat, prostitusi menjamur, narkoba tak pernah berkurang, tawuran pelajar tak pernah ada habisnya. Rusaknya generasi menambah suram masa depan bangsa ini. Di sisi lain, para elit politik tak pernah peduli. Alih-alih memberikan edukasi pada rakyat, mereka justru menyuap rakyat untuk memberikan suara dalam Pemilu. Tak sedikit pula partai Islam yang akhirnya terjebak pragmatisme politik. Berharap bisa menegakkan Islam melalui parlemen, namun mereka justru mencelupkan diri mereka dalam jebakan yang dibuat oleh Demokrasi. Maka jelaslah bahwa Demokrasi itu rusak dan merusak. Rusak konsepnya dan merusak siapa saja yang menjadi pendukungnya.
Islam Memuliakan Peran Politik Pemuda
Hal ini berbeda dengan Islam. Islam sungguh memuliakan peran politik pemuda. Pemuda yang merupakan generasi penerus peradaban memiliki peran strategis dalam Islam. Islam dengan Khilafah akan mampu mencetak generasi visioner, generasi yang ahli dalam berbagai bidang, pun aktif dalam upaya mengkritisi penguasa yang menyimpang dari Syariat Allah. Dan ini tidak akan mungkin terwujud dalam sistem Demokrasi. Melalui sistem pendidikan akan dicetak generasi-generasi brilian yang akan menjadi ilmuwan sekaligus negarawan yang berdiri tegak di atas kebenaran, yakni ideologi Islam. Karena politik di dalam Islam bukanlah ajang rebutan kekuasaan, tetapi pengaturan urusan rakyat oleh Negara.
Sejarah telah mencatat bagaimana Islam mampu mencetak generasi visioner sejak masa Rasulullah hingga kekhilafahan terakhir yakni Khilafah Utsmany. Sebut saja Mush’ab bin Umair, Saad bin Muadz, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usamah bin Zaid, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Khawarizmi, hingga Muhammad Al Fatih. Mereka semua adalah tokoh besar dan generasi yang dicetak dalam Daulah Khilafah. Sangat berbeda dengan sistem Demokrasi yang justru mencetak generasi alay bin lebay yang sukanya hura-hura, having fun dan suka segala cara yang instan.
Islam juga akan melindungi generasi dari distorsi moral dengan sistem pergaulan. Didukung dengan dua suprasistem, yakni ekonomi dan politik sehingga para pemuda mampu menjadi generasi cemerlang pewaris peradaban gemilang.

Kick Democrazy, Stuggle For Khilafah
69 tahun bangsa ini merdeka dengan penerapan sistem Demokrasi yang bermacam-macam, namun kesejahteraan justru menjadi utopia yang semakin membuat negeri ini gersang dari kepercayaan. Maka sudah cukup tipuan ini memperdayakan kita, para mahasiswa. Saatnya membuang Demokrasi ke tong sampah peradaban. Karena sistem ini tak lebih dari ilusi.
Dan sebagai seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sudah saatnya kita mengambil kembali apa yang seharusnya kita genggam erat-erat, yakni Syariat Allah. Maka berjuanglah untuk menegakkannya kembali di bawah naungan Khilafah bersama jamaah yang juga memiliki visi melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.
Jika kau tidak ingin terbawa arus, maka ciptakanlah arus baru. Melawanlah atau kau akan kalah. Saatnya ambil bagian dalam sejarah menuju abad Khilafah Rasyidah yang kedua.

Khairunnisa, March 16th 2014. Salam Perjuangan, Salam Revolusi.
Saudarimu,
Ditri Ayu R.A.L.



Panggung Politik Mahasiswi adalah acara yang diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Acara ini berlangsung di seluruh Indonesia selama bulan Maret.

Friday, March 14, 2014

Cinta Ditolak, Akun FB Di-Hack

Saya aja gak percaya, tapi ini beneran. Judul di atas asli. Meskipun kelihatannya lebay bin alay. Trus, gimana ceritanya?
Dulu, Cinta Ditolak Dukun Bertindak. Kalo di jaman sosmed kayak gini ya seperti judul di atas. Haha, saya juga gak habis pikir. Padahal cerita itu udah lama. Ternyata dendamnya masih belum padam. Ceritanya, beberapa waktu lalu teman FB saya sempat kena hack sama seseorang yang ternyata dulu adalah teman sekolahnya waktu SMA. Motifnya dendam masa lalu. Haha, udah kayak beritain Buser aja :D Jadi si cowok dendam karena cintanya ditolak sama temen FB saya itu. Ya jelas aja, orang mbaknya udah paham Islam. Lagipula emang dianya juga gak ngaca. Cowok baik-baik gak bakalan ada yang sudi ngajak cewek yang dia suka untuk nyicipin maksiyat. Atau mungkin dia gak punya cermin kali ya buat ngaca? Ckckck… Hari gini? :D
Kalo saya boleh komen nih ya, peristiwa kayak gitu gak ujuk-ujuk ada. Semua emang karena ada sebuah sistem yang membuat kondisi jadi kacau-balau seperti hari ini. Atas nama cinta semua jadi legal. Termasuk ngobrak-ngabrik akun orang. Dan emang sih sekarang ini jaman dimana kebebasan menjadi sesembahan. Dipayungi oleh sebuah sistem bernama Demokrasi makin menjadilah kelakuan orang-orang hari ini. Mirisnya, mereka adalah Muslim.
Gitu deh realitas sistem Demokrasi dengan 4 pilar kebebasannya, yakni kebebasan berkeyakinan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkepemilikan. Gak ada lagi tuh kata halal-haram. Yang penting bebasss. Dan di sinilah rusaknya Demokrasi. Karena keputusan itu berada di tangan manusia. Padahal, kenyataannya manusia itu lemah, terbatas, serba kurang dan membutuhkan yang lain. Tapi, dengan “sok tau”-nya manusia bikin aturan sendiri. Gak Cuma rusak, tapi juga merusak. Buktinya? Ya, kayak cowok tadi. Cinta ditolak bukannya introspeksi diri, eh malah nge-hack. Malu-maluin banget.
Ini Cuma sebagian kecil dari realitas rusak dan merusaknya sistem Demokrasi. Masih banyak lagi realitas lain yang bisa kita temukan di kehidupan kita masing-masing kalo kita mau untuk mencermati. So, Stop Demokrasi Rusak dan Merusak. Ganti dengan Khilafah. Allahu Akbar!
Khairunnisa, March 6th 2014. 01:27 PM.

Setelah beberapa waktu vakum nulis karena sibuk di tim propaganda jadi Pembantu Umum. Alhamdulillah bisa nulis lagi ^_^

Thursday, February 20, 2014

Mencintai Itu Juga Dipelajari

“Cara tercepat untuk mendapatkan pengetahuan adalah dengan belajar”
(Syaikh Taqiyuddin An Nabhani)
            Quote ini saya temukan di kamar seorang Mbak ketika menginap di kontrakannya. Waktu itu saya belum tau kalo ternyata quote ini ada di dalam kitab Mafahim Hizbut Tahrir yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani. Akhirnya, quote ini saya tulis ulang dan saya tempel di dinding kamar kost saya waktu saya masih maba dulu hehe :D
            Quote itulah yang akhirnya memotivasi saya belajar bahasa Jepang yang merupakan jurusan saya di bangku kuliah. Karena pada awalnya saya sama sekali tidak tahu bahasa Jepang. Cuma tau dikit-dikit. Tapi kalo soal nulisnya, saya sama sekali gak bisa. Butuh waktu yang lumayan lama sampai saya benar-benar bisa bahasa Jepang. Akhirnya, saya pun menyukainya.
            Ngomongin soal cinta (lagi) nih. Haha, intermezzo. Tapi, semoga tidak menghilangkan ibrah. Karena cinta itu seluas langit dan samudera, mamen :D Oke deh, balik ke laptop eh pembahasan. Kalo orang Jawa bilang, cinta itu datang karena terbiasa. Kalo saya bilang, cinta itu bisa dipelajari. Karena belajar makanya terbiasa dan akhirnya cinta deh hehe *maksa
            Kalo ngomongin soal belajar mencintai, mungkin masih banyak yang mikir sebatas kepada pasangan alias rumah tangga kelak. Tapi, ada hal yang mungkin kita lupakan.
            Ingat gak waktu pertama kali kita mengkaji Islam? Mulai penasaran, habis itu nyari tau, berdiskusi dan mulai belajar mencintai segala sesuatu yang berbau Islam. Termasuk ketika mencintai jilbab yang kita pake disaat jilbab belum trend dan semua orang menertawakan kita dengan jilbab kita. Kita pun juga akhirnya harus belajar mencintai dakwah, halqoh, musyrifah, teman sekontrakan, teman seperjuangan dan semua hal yang dulunya asing bagi kita sebelum kita mengenal Islam.
            Semua itu adalah proses. Proses belajar untuk mencintai. Dimulai dengan mengenal kemudian berusaha untuk menerima meski terkadang harus merasakan sakit karena ada yang tidak sesuai dengan harapan. Tapi, kita tetap berusaha untuk membuktikan cinta yang sudah kita pelajari.
            Mungkin, terkadang kita merasa lelah, malas, frustasi atau bahkan ingin menyerah dan putus asa saat dakwah ini tak kunjung membuahkan hasil. Setiap hari ke kampus untuk kuliah. Setelah kuliah atau sebelumnya interaksi ideologi Islam dulu ke teman-teman kampus. Kadang ditolak, diajak ngobrol gak respon, sms gak dibalas, chat gak digubris, telepon gak diangkat dan berbagai macam kisah sedih nan menyayat hati. Namun, karena sudah terbiasa kita tetap cinta bahkan sekalipun itu menyakitkan. Karena rasa sakit itu dikalahkan oleh cinta. Dan kesemuanya itu kita pelajari.
            Jika kita bisa belajar mencintai makhluk yang jauh dari sempurna, kenapa tidak untuk belajar mencintai Allah Yang Maha Sempurna, mencintai RasulNya yang mulia dan mencintai jalan yang ditapaki oleh RasulNya (dakwah)? Masihkah kurang pelajaran dari para shahabat ketika mereka mengenal Islam dan belajar mencintai Islam dengan segenap jiwa mereka?  
            Begitulah cinta, begitulah dakwah, Kawan. Di sinilah kita belajar. Belajar mencintai dengan segenap hati dan pikiran kita. Untuk Allah, untuk RasulNya, untuk Islam dan kaum Muslimin.
            Jangan berhenti belajar. Jangan malas belajar. Karena tak satupun di dunia ini yang diperoleh tanpa belajar termasuk mencintai. Selamat belajar!

Wallahu a’lam bi ash shawaab

Khairunnisa, February 19th 2014. 04:59 PM. Kangen nulis.

Sunday, January 26, 2014

Mengembalikan Aktivis pada Fitrahnya

Ngomongin mahasiswa itu emang gak ada matinya. Kenapa? Karena mahasiswa itu punya segudang potensi. Usia muda, idealisme yang menggebu, tenaga yang kuat dan sejuta mimpi yang ingin diwujudkan. Karena itulah mahasiswa sering mendapat julukan, Agent of Change, Agent of Social Control dan Iron Stock *bukan stok setrikaan lho ya* Setidaknya slogan-slogan itulah yang sering saya dapatkan saat menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiswa. Dan yang paling sering dijadikan contoh adalah bagaimana mahasiswa bisa meruntuhkan sebuah rezim yang sudah berkuasa selama puluhan tahun. Ya, siapa yang tidak tahu peristiwa beralihnya zaman orde baru ke zaman reformasi. Semua sepakat, peralihan rezim politik itu karena mahasiswa. Tapi… ternyata sekarang mahasiswa sedang mengalami zaman kegelapan. Gak hanya mahasiswa biasa, tapi juga aktivis yang notabenenya adalah orang-orang yang peduli terhadap persoalan di sekitarnya.
Mahasiswa abad 21 emang udah jauh lebih canggih daripada mahasiswa zaman Orde Baru dulu. Sekarang gadget udah ngetren dimana-mana. Akses informasi gak perlu repot-repot. Udah gak jaman SMS-an. Sekarang jamannya BBM, WA, LINE, WE CHAT, KAKAO TALK, de es be. Tapi, bukan itu yang pengen saya bahas. Meskipun ada hubungannya. Kalo ngeliat pola kehidupan mahasiswa sekarang, gak sedikit yang miris.
Tadi saya baca sebuah postingan yang menurut saya sangat jujur. Kenapa? Karena emang kenyataan yang saya lihat dan beberapa orang pun bisa melihat dan merasakannya. Saat ini mahasiswa sudah kehilangan hampir semua taringnya. Mahasiswa seolah disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang lebih banyak menunjang hanya dari sisi akademik saja. Ketika pun menjadi aktivis, semata untuk meng-upgrade posisi akademiknya. IPK 3,5 ke atas dan lulus sebelum 4 tahun adalah sebuah kebanggaan. Seolah masalah akan selesai dengan IPK tinggi. Kenapa? Karena setelah itu, ia akan direkrut sebuah perusahaan, terlebih kalo perusahaan asing. Tanpa sadar, ia tidak hanya menjual dirinya tetapi juga menjual masa depan bangsanya kepada orang asing yang hanya mementingkan perut mereka. Terlepas dari seberapa berprestasinya seorang mahasiswa di ajang-ajang lomba, seperti Pimnas, dsb. Tidak lebih untuk kebanggan pribadi. Tidak peduli lagi permasalahan masyarakat yang ada yang seharusnya mereka selesaikan dengan keilmuan mereka. Tidak hanya itu, mahasiswa digiring untuk menjadi suksesor ekonomi Negara. Padahal, mereka punya potensi yang lebih dari sekedar mesin pencetak uang bagi Negara.
Lalu, bagaimana dengan para aktivis? Kenyataannya tetap aja 11-12 sama mahasiswa biasa. Padahal, dulu aktivis mahasiswa adalah mereka yang kritis dan peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa ini. Mereka pula yang aktif tidak hanya kuliah tetapi juga mencari solusi permasalahan yang ada. Namun, saat ini aktivis pun tetap disibukkan dengan permasalahan akademik yang tidak ada habisnya. Seolah mahasiswa emang tersistem untuk dibungkam sejuta bahasa dengan persoalan akademik. Bayangin aja, sekretariat lembaga bukan lagi jadi tempat diskusi tapi jadi tempat ngerjain laporan berjamaah. Belum lagi kegiatan yang diadakan oleh lembaga hampir semua adalah kegiatan olahraga dan hiburan. Tidak heran, karena mahasiswa sudah lelah dengan tugas kuliah yang menumpuk. Boro-boro mikir masalah masyarakat dan bangsa, mikirin tugas sama laporan aja gak selesai-selesai. Belum lagi pergaulan yang semakin menjadi-jadi. Kalo gak ada tugas ya hangout, pacaran, hura-hura, clubbing, dsb. Kalo gak gitu, jadi orang super introvert yang gaulnya sama ipad, iphone, dan smartphone yang lain. BBM-an, LINE, WA, dsb. Atau kalo gak gitu jadi fans artis dan penyanyi luar negeri macam JB, Suju, SNSD, Big Bang, dsb.

Akar Masalah
Gak ada asap kalo gak ada api. Fenomena mahasiswa kayak sekarang emang gak ujuk-ujuk ada. Semua gak terlepas dari sistem yang diterapkan hari ini. Ada dua suprasistem besar dalam sebuah Negara, yakni sistem ekonomi dan sistem politik. Sistem ekonomi hari ini yang super Kapitalis, meniscayakan sedikitnya peran Negara dalam mengurusi urusan rakyatnya. Lihat aja kerjaan Negara tiap hari malah menjual aset Negara ke asing dengan berbagai macam alasan. Dan lucunya alasan bego itu di-aminkan oleh orang-orang yang ngakunya intelektual. Masya Allah… Akhirnya apa? Rakyat juga ikut dijual. Generasi muda akhirnya secara sepihak dijadikan mesin pencetak uang dengan menjadikan mereka tenaga kerja murah dan babu di negeri sendiri dengan tunduk di bawah kaki orang asing. Naif banget kan?
Saya gak pernah iri sama mereka yang IPKnya tinggi. Tapi senggaknya mikirlah. Masa kepintaran yang luar biasa tapi gak digunakan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Minimal kita gak jadi kacung di negeri sendiri. Ironis banget gak sih?
Balik lagi nih. Karena sistem ekonomi yang seperti itu, akhirnya pembiayaan pendidikan pun dibebankan kepada perguruan tinggi. Setelah sebelumnya ada persetujuan dengan GATT dan WTO untuk meliberalkan sektor jasa diantaranya pendidikan dan kesehatan. Jadilah sekarang pendidikan tinggi sangat mahal harganya. Ya, seperti menggapai bintang di langit. Ini juga yang akhirnya membuat mahasiswa semakin matre, pragmatis dan individualis. Mereka gak sempat mikir apa-apa saking mereka udah dijerat dengan biaya pendidikan yang super mahal. Dan ini setiap tahun pasti naik dengan segala macam alasan. Belum kalo ternyata uang banyak itu dikorupsi. Akhirnya makin apatislah mahasiswa.
Belum lagi sistem politik Democrazy yang bebas. Gak hanya bebas tapi juga mahal. Gimana korupsi gak tumbuh subur kayak panu di badan orang yang gak mandi seminggu? Biaya kampanye super mahal, belum lagi segala keperluan untuk Pemilu. Kebijakannya pun selalu pro kepada asing daripada Negara sendiri. Makanya gak usah heran kalo tiap palu diketok mesti ada aset yang Negara yang kejual. Atau harga bisa dipastikan melonjak naik. Dan lucunya seolah semua itu gak sengaja. Emang ngetok palu sambil mimpi gitu? Gak mungkin banget. Bukti kezhaliman itu udah nyata. Tapi kenapa masih banyak yang pura-pura buta dengan semua itu? Apa udah gak punya hati kali ya? Saya juga gak tau.


Islam Solusinya
Haha, kayaknya bakalan banyak yang bertanya-tanya. Ekstrim banget solusi saya. Kok ujuk-ujuk Islam? Jawaban saya simple. Karena Islam itu sempurna, kawan. Sempurnanya dimana? Hmm, kalo belum tau, saya kasih tau.
Islam adalah sebuah ideologi. Islam bukan sekedar agama yang mengatur ibadah spiritual, tetapi juga mengatur kehidupan sosial termasuk kehidupan bernegara. Islam memiliki suprasistem, yakni ekonomi dan politik. Maka bisa dipastikan Islam juga ngatur soal pendidikan, dll. Dan kalo ada yang tanya, berarti Negara Islam ada? Saya jawab, ada. Negara di dalam Islam namanya Khilafah. Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang diwariskan oleh Rasulullah SAW sebagai utusan terakhir yang Allah utus untuk seluruh umat manusia. Dan siapa aja yang ngaku Muslim pasti sering denger kalo Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Yup, itu bener. Karena Islam mengatur seluruh aspek kehidupan.
Di dalam Islam, pendidikan adalah tanggung jawab Negara. Karena pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar warga Negara. Kalo dalam konsep Negara Kapitalis, kebutuhan itu Cuma sandang, pangan dan papan, dalam Islam kebutuhan dasar itu selain sandang-pangan-papan, ada juga pendidikan, kesehatan dan keamanan. Makanya pendidikan jadi tanggungan Negara. Trus, pembiayaannya gimana? Maka dari itu, Islam punya sistem ekonomi yang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok warganya. Dan Negara (Khilafah) wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang wajib bekerja (laki-laki yang sudah baligh). Jadi, gak ada cerita seorang kepala keluarga gak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Gak ada cerita seorang istri juga harus banting tulang membantu suaminya sampai jadi TKW dan harus disiksa. Gak ada cerita anak-anak harus putus sekolah karena gak punya uang buat bayar. Dan gak ada cerita aktivis hanya sibuk dengan akademik dan dirinya sendiri.
Selain itu, sistem politik Islam juga yang akan melahirkan kebijakan yang pro rakyat dan kepentingan rakyat. Politik Islam juga yang akan mengeluarkan kebijakan pendidikan yang dijamin mampu dienyam oleh seluruh warga Negara. Muslim maupun Non Muslim, kaya maupun miskin dengan jaminan yang sama. Gak ada cerita yang bodoh dan miskin gak bisa kuliah.
Mau bukti? Lihat aja, ilmuwan-ilmuwan yang mencetuskan berbagai macam teori dalam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah seorang Muslim. Mulai dari Ibnu Sina, Abbas Ibn Firnas, Al Khawarizmi, Al Jabar, dll. Mereka semua hasil bentukan Khilafah. Bukan Negara Demokrasi-Kapitalis seperti sekarang.

Menerapkan Islam adalah Panggilan Keimanan
Saat ini Islam sedang dicampakkan dari kehidupan sosial. Sejak 3 Maret 1924, berakhirlah kepemimpinan Islam di dunia. Saat itu Khilafah Utsmaniyah diruntuhkan oleh seorang agen Inggris la’natullah alaih. Maka sudah seharusnya kaum Muslimin bersatu untuk mengembalikannya. Bagaimana caranya? Contohlah apa yang dilakukan Rasulullah dulu sebelum Islam tegak di Madinah. Rasulullah SAW berdakwah dan membentuk sebuah kelompok ideologis kemudian menegakkan Daulah Islam di Madinah. Maka kita pun selayaknya mencontoh beliau. Bukan demi kekuasaan, jabatan dan harta. Tetapi semata karena panggilan keimanan. Dan saat ini ada sebuah kelompok politik yang sedang berupaya keras mengembalikan institusi Islam (Khilafah) dan melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungannya. Kelompok tersebut bernama Hizbut Tahrir atau Partai Pembebasan. Dan saat ini Hizbut Tahrir telah beraktivitas di seluruh dunia untuk melanjutkan kehidupan Islam, karena hanya dengan kembalinya kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, kehidupan ini akan terselamatkan. Tidak hanya mahasiswa yang kembali kepada fitrahnya, tetapi juga alam ini.

*Untuk tahu lebih jelas tentang Hizbut Tahrir khususnya Indonesia, klik www.hizbut-tahrir.or.id

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Khairunnisa, January 21st 2014. 09:12 PM.


Sunday, January 12, 2014

Jamal Harwood: dari pemeluk kristen yang taat menjadi pejuang Khilafah

Saya termasuk pemeluk Kristen yang taat sebelum menemukan Islam. Ketika saya masih berusia belasan tahun saya begitu tertarik mendalami ajaran Kristen. Namun, saya memiliki beberapa pertanyaan serius mengenai hal-hal pokok agama Kristen seperti bagaimana peran banyak Nabi yang berbeda, siapa sebenarnya Isa. Saya pun mengalami kebingungan memahami trinitas, anak tuhan, dan lain-lain.
Itulah yang kemudian membuat saya mulai berpikir bahwa pada suatu saat, mungkin setelah menyelesaikan pendidikan, saya akan melakukan perjalanan dan mencari agama-agama lain di dunia. Saya berharap sepulangnya dari perjalanan itu saya akan memperoleh sesuatu yang lebih jelas dalam hal keimanan yang dapat menjawab semua pertanyaan saya itu dengan meyakinkan. Alhamdulillah, ketika usia saya sekitar 20 tahunan, saya bisa melakukan perjalanan dan melihat agama-agama lain dan hal ini menjadikan saya mulai mempelajari Islam dan akhirnya memeluknya.
Saya pindah ke Inggris beberapa saat sebelum saya memeluk Islam. Sebelumnya saya tinggal di Kanada. Kaum Muslim yang saya temui di London, khususnya di Masjid Regents Park adalah orang-orang yang paling memberi pengaruh pada saya dan sangat membantu untuk menyarankan buku-buku untuk dibaca dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Semuanya sangat bersahabat dan saya senantiasa masih dekat dengan mereka. Karena saya pernah tinggal di beberapa negara lain saat saya muda dan sering melakukan perjalanan, saya senantiasa senang jika bertemu dengan orang-orang dari negara-negara lain, dengan agama dan kebudayaan yang berbeda.
Akhirnya saya memutuskan memeluk Islam pada 1986. Keputusan saya justru didukung oleh orangtua saya. Ketika itu mereka tinggal di negara lain, jadi kami tidak selalu bisa berhubungan. Tapi saya ingat dengan sangat jelas bahwa ayah saya sebelumnya pernah bekerja dengan orang-orang Muslim dan mengatakan bahwa Islam menekankan pada keluarga jadi dia bilang “Lanjutkan saja “.
Memang tidak mudah mengawali hal yang baru. Banyak tantangan. Mempelajari kewajiban-kewajiban dasar Islam itu perlu waktu. Apalagi saya tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang Islam berarti ada banyak hal yang harus saya pelajari. Tapi tidak ada yang terlalu sulit. Dan saya mempunyai pengalaman yang tidak terlupakan sejak menjadi seorang Muslim yakni pergi haji tahun 1994 melihat Ka’bah untuk pertama kalinya.
Setelah memeluk Islam, saya berbicara kepada saudara laki-laki maupun perempuan saya (semuanya Kristen) mengenai Islam kapanpun saya bisa. Beberapa saudara perempuan saya adalah orang-orang yang memegang teguh agama Kristen tapi kami tetap berhubungan baik, tidak ada kebencian, dan mereka suka anggota keluarga yang lain (yakni istri dan anak-anak saya) jadi hal ini sangat positif. Majalah Time pernah menampilkan suatu tulisan mengenai saya dan ketika itu sebagian besar anggota keluarga saya agak terkejut ketika mereka tahu bahwa saya aktif secara politik di Hizbut Tahrir, bahkan sebagian dari mereka menunjukkan kekhawatirannya bahwa aktivitas politik saya itu bisa menyulitkan saya dengan adanya sentimen-sentimen anti Islam di banyak bagian dunia. Saya katakan pada mereka, “Senantiasa ada risiko atas segala sesuatu tapi lebih baik melakukan sesuatu dengan alasan yang baik daripada menunggu sesuatu terjadi pada Anda.”

Dakwah Bersama HT
Alhamdullillah, saya pertama kali bertemu beberapa anggota HT tahun 1988. Saya prihatin dengan banyaknya ketidakadilan dan kemunduran yang saya lihat di dunia Muslim. Betapa pentingnya gagasan ummah, tapi banyak yang memiliki sedikit pemahaman politik mengenai sebab-sebab kemunduran itu, disamping tidak memiliki solusi untuk mengatasi kemunduran itu. HT berbicara mengenai isu-isu itu dan memberikan solusi-solusi yang jelas.
Ketika saya mulai belajar di HT, saya memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai Usul Fiqh, Ijtihad, dan Syariah, yang kesemuanya adalah penting dalam mengembangkan pemahaman saya mengenai Islam dan lebih baik dari apa yang sebelumnya saya baca dan pelajari. Buku-buku yang telah dikeluarkan partai adalah mengenai Sistem Islam, Konsep-konsep Hizbut Tahrir dan Struktur Partai adalah di antara buku-buku yang sangat bagus bagi yang ingin mendapatkan pemahaman yang baik mengenai dasar-dasar Islam dan keadaan umat pada saat ini. (mediaumat.com)


Saturday, August 31, 2013

Ketika Militer Berubah Menjadi Vampir; Save Egypt With Khilafah

Kayaknya judulnya serem. Tapi, emang itu kenyataannya. Sebelumnya di Suriah (Syam) juga terjadi hal yang sama bahkan sampai detik ini. Dan tanggal 14 Agustus lalu, kaum Muslimin kembali berduka. Padahal, baru aja kita menunaikan puasa Ramadhan dan merayakan Idul Fitri. Tapi, berita duka itu gak bohong. Junta militer Mesir sukses membantai ribuan warga Mesir yang notabene-nya adalah umat Islam. Awalnya karena kudeta yang dilakukan oleh Militer Mesir ke Presiden Mesir, Muhammad Mursi. Alasannya sih sepele, karena Mursi bawa-bawa Islam. Padahal, Mursi gak pernah nyinggung-nyinggung Islam apalagi Khilafah. Tapi, namanya juga orang kafir. Bukan orang kafir kalo gak hipokrit, apalagi sistemnya Demokrasi, komplit sudah. Nah, begitulah. Kalo orang-orang pada mau objektif sama Demokrasi, semua pasti bakalan angkat jempol tanda setuju bahwa Demokrasi itu bukanlah jalan yang akan menghantarkan pada perubahan hakiki. Lihat aja Mesir, Libia, Tunisia, Irak dan negeri-negeri di Timur Tengah sana. Yang paling terbaru adalah Mesir. Pemilunya Demokratis kok, tapi ternyata Presidennya bisa tumbang juga dengan kudeta. Padahal kan rakyat udah ridho. Trus, kenapa kok akhirnya kudeta? Karena Demokrasi gak ridho. Siapa orang-orang di balik Demokrasi, ya siapa lagi kalo bukan Amerika? Buktinya? Lihat aja tuh pas rakyat Mesir dibantai, gak ada satupun orang PBB atau pengemban HAM yang protes tanda mereka udah ngasih lampu hijau ke militer haus darah untuk ngebantai rakyat yang ternyata kebanyakan dari mereka adalah kaum Muslimin. Nah, itu berarti kan pembantaian terhadap kaum Muslimin juga. Padahal, Rasulullah SAW bersabda bahwa kaum Muslimin itu adalah ibarat satu tubuh. Jika ada bagian yang sakit, maka yang lain akan terasa sakit. Itu yang bikin aksi ini ada. Ini sebagai bentuk kepedulian kita sebagai seorang Muslim terhadap saudara kita di sana. Dan itu gak hanya di Mesir saudara-saudara. Tapi hampir di seluruh wilayah yang ada kaum Muslimin di sana. Cuma Indonesia aja yang adem ayem. Negeri Muslim terbesar yang berjuluk Old Brother malah sama sekali gak peduli dengan keadaan saudaranya di belahan bumi lain. Itu yang miris banget. Kita di sini disibukkan dengan berbagai hal yang gak penting dan fanatisme kebangsaan yang super dangkal. Kapitalisme-Sekuler dan sistem Demokrasi yang meniscayakan kebebasan akhirnya membuat jarak antara kaum Muslimin semakin besar. Jadi, gak heran kalo sekarang kaum Muslimin seperti buih di lautan. Banyak, tapi gak punya kekuatan. Ditindas dari segala lini kehidupan sampai akhirnya sekarat dan hampir gak mampu bangkit lagi.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah sampai kapanpun, orang-orang kafir (Amerika dan Sekutunya) gak akan pernah ridho dengan Islam dan kaum Muslimin (QS. Al Baqarah : 120) Sampai titik darah penghabisan mereka akan selalu berusaha untuk menjatuhkan kaum Muslimin sejatuh-jatuhnya. Tapi, sekeras-kerasnya usaha mereka, ketika Allah tidak ridho, apapun yang mereka upayakan gak akan ada hasilnya karena Allah akan memenangkan Islam dan kaum Muslimin. Dan inilah pengingat bagi kita, kaum Muslimin yang belum terjajah secara fisik. Kita butuh institusi pemersatu. Bukan Nasionalisme yang justru menyekat kita dengan dalih bangsa dan wilayah territorial. Kita butuh sebuah pemersatu yang akan menggemakan Islam dari ujung barat hingga ujung timur dunia. Kaum Muslimin butuh Khilafah. . Hanya Khilafah saja yang mampu memutus rantai keterpurukan kaum Muslimin saat ini. Hanya Khilafah yang mampu memersatukan kaum Muslimin di bawah satu kepemimpinan global yang akan memuliakan serta membesarkan nama Islam dan kaum Muslimin.

Berbicara tentang penegakkan Khilafah, itu gak sekedar euphoria. Karena penegakkan Khilafah adalah sebuah kewajiban. Saat ini kemungkaran yang paling tinggi adalah dicampakkannya Syariat Allah yang agung. Maka, mengembalikan penerapan Syariat Allah bukanlah perkara kecil. Dan hal itu membutuhkan sebuah kelompok yang memperjuangkannya (QS. Ali Imran : 104). Untuk itulah Hizbut Tahrir didirikan. Hizbut Tahrir adalah partai politik berideologi Islam. Hizbut Tahrir bertujuan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam yang pernah ada. Melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah. Hizbut Tahrir, dimanapun berada senantiasa menyerukan penegakkan syariat Islam dalam naungan Khilafah. Hizbut Tahrir juga mengajak kaum Muslimin dengan berbagai latar belakang untuk turut memperjuangkan Khilafah bersama-sama. Karena Khilafah adalah janji Allah (QS. An Nuur : 55). Khilafah juga merupakan bisyarah Rasulullah SAW. Insya Allah, pertolongan Allah sudah sangat dekat. Khilafah will return soon! So, never ending dakwah lii istinafil hayatil Islam. ALLAHU AKBAR!

Khairunnisa, August 27th 2013. 08.42 AM.

Ditri Ayu R.A.L.

Sunday, April 28, 2013

Introduction to Atha Abu Ar-Rasythah, Amir Hizbut Tahrir Saat Ini

Postingan ini tidak dimaksudkan karena asshobiyah atau apapun. Postingan ini untuk memperkenalkan seseorang yang bagi saya pribadi adalah sosok inspiratif. Selain itu, sebagai salah seorang yang belajar di Hizbut Tahrir, postingan ini saya tujukan untuk siapa saja yang ingin mengetahui siapa pemimpin Hizbut Tahrir.


Pada tanggal 11 Shafar 1424 H atau 13 April 2003 M, ketua Diwan Mazhalim Hizbut Tahrir mengumumkan pemilihan آlim al-Ushûl (Ahli Ushul Fikih) ‘Atha Abu ar-Rasytah-Abu Yasin sebagai amir Hizbut Tahrir. Melalui kepemimpinannya, beliau adalah seorang yang sangat diharapkan dapat membawa Hizbut Tahrir untuk meraih pertolongan Allah Swt. Hal itu karena beliau memiliki perhatian yang luar biasa terhadap dakwah. Beliau juga melakukan manajemen baik atas aktivitas dakwah dan pemanfaatan potensi para syabab dengan seoptimal mungkin.

Riwayat Hidup
Beliau adalah ‘Atha bin Khalil bin Ahmad bin Abdul Qadir al-Khathib Abu ar-Rasytah. Menurut informasi yang paling kuat, beliau dilahirkan pada tahun 1362 H atau 1943 M. Beliau berasal dari keluarga dengan tingkat keberagamaan seperti masyarakat umum. Beliau dilahirkan di kampung kecil Ra’na, termasuk wilayah Provinsi al-Khalil di negeri Palestina.Ketika masih kecil, beliau menyaksikan dan merasakan bencana atas Palestina dan pencaplokan Yahudi atas Palestina pada tahun 1948 M, dengan dukungan Inggris dan pengkhinatan para penguasa Arab. Kemudian beliau dan keluarganya berpindah ke kamp para pengungsi di dekat al-Khalil.
Beliau menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di kamp pengungsian. Lalu beliau menyelesaikan pendidikan SMU dan memperoleh ijazah Tsanawiyah al-Ula (menurut jenjang di Yordania) dari Madrasah al-Husain bin Ali ats-Tsanawiyah di al-Khalil pada tahun 1959 M. Kemudian beliau memperoleh ijazah ats-Tsanawiyah al-Amah (menurut panduan sistem pendidikan Mesir) pada tahun 1960 di Madrasah al-Ibrahimiyah di al-Quds asy-Syarif. Setelah itu, beliau bergabung dengan Universitas Kairo Fakultas Teknik pada tahun pelajaran 1960-1961 M. Beliau memperoleh ijazah insinyur dalam bidang teknik sipil dari Universitas Kairo pada tahun 1966 M.Setelah lulus dari Kairo, beliau bekerja sebagai insinyur di beberapa negara Arab. Beliau memiliki karya dalam bidang teknik sipil, yaitu Al-Wasîth fî Hisâb al-Kamiyât wa Murâqabah al-Mabânî wa ath-Thuruq (Metode Penghitungan Kuantitatif dan Monitoring Bangunan dan Jalan). 
Beliau bergabung ke dalam Hizbut Tahrir semasa pendidikan menengah sekitar pertengahan tahun lima puluhan. Dalam perjuangan di jalan Allah, beliau pernah dipenjara beberapa kali di penjara-penjara para penguasa zalim. Beliau terus menjadi pengemban dakwah dalam barisan Hizbut Tahrir dalam seluruh tingkatan organisasi dan administrasi: sebagai dâris, anggota, musyrif, nâqib mahaliyah, anggota wilâyah, mu’tamad, juru bicara resmi, dan anggota maktab al-amir.Sejak 11 Shafar 1424 H atau 13 April 2003 M, atas izin Allah, beliau terpilih untuk memikul tampuk kepemimpinan Hizbut Tahrir. Beliau senantiasa memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan kepadanya untuk mengemban amanah besar tersebut.
Beberapa karyanya dalam bidang keislaman adalah sebagai berikut:
1. Tafsir surah al-Baqarah dengan judul, At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr: Sûrah al-Baqarah (Pokok-Pokok Tafsir Praktis–Surat al-Baqarah.
2. Kajian beliau dalam bidang Ushul Fikih, yaitu Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl (Cara Mudah untuk Menguasai Ushul Fikih).
3. Sejumlah boklet:
a. Al-Azmât al-Iqtishâdiyah: Wâqi‘uhâ wa Mu‘âlajâtuhâ min Wijhah Nazhari al-Islâm (Krisis Ekonomi: Realita dan Solusinya Menurut Pandangan Islam).b. Al-Ghazwah ash-Shalîbiyah al-Jadîdah fî al-Jazîrah wa al-Khalîj (Perang Salib Baru di Jazirah Arab dan Teluk).c. Siyâsah at-Tashnî’ wa Binâ’ ad-Dawlah Shinâ’iyan (Politik Industrialisasi dan Pembangunan Negara Industri).Hizbut Tahrir pada masanya hingga sekarang telah mengeluarkan sejumlah buku, antara lain:
1. Min Muqâwimât an-Nafsiyah al-Islâmiyah (Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah).2. Qadhâyâ Siyâsiyah Bilâd al-Muslimîn al-Muhtallah (Masalah-Masalah Politik–Negeri-Negeri Kaum Muslim yang Terjajah).3. Revisi dan perluasan atas buku Mafâhîm Siyâsiyah li Hizb at-Tahrîr (Konsepsi-Konsepsi Politik Hizbut Tahrir).4. Ajhizah ad-Dawlah al-Khilâfah fî al-Hukm wa al-Idârah (Struktur Negara Khilafah–Pemerintahan dan Administrasi)5. Revisi dan penyempurnaan atas Masyrû’ ad-Dustûr Dawlah al-Khilâfah (Rancangan Konstitusi Daulah al-Khilafah); dikeluarkan pada tahun 2006.Beliau senantiasa memohon kepada Allah Swt. pertolongan dan bantuan untuk melaksanakan amanah dakwah menurut arahan yang dicintai oleh-Nya dan Rasul-Nya saw. Beliau juga senantiasa memohon kepada Allah Swt. agar membukakan melalui kedua tangannya jalan berdirinya Daulah Khilafah Rasyidah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Memenuhi Doa.
Di antara aktivitas brilian dan sangat menarik perhatian pada masanya adalah, bahwa Hizb pada tanggal 28 Rajab 1426 H atau 2 September 2005 M menyampaikan seruan kepada kaum Muslim berkaitan dengan aktivitas untuk mengingatkan bencana besar berupa hancurnya Khilafah 84 tahun sebelum seruan tersebut dikumandangkan. Hizbut Tahrir telah mengumandangkan seruan itu kepada kaum Muslim setelah shalat Jumat pada hari itu dimulai dari Indonesia dengan berbagai kotanya di sebelah timur hingga Maroko di tepian lautan Atlantik di sebelah barat. Seruan itu telah memberikan pengaruh yang sangat baik. Demikian pula sejumlah aktivitas Hizb dalam menggemakan seruan kebenaran di berbagai konferensi, di berbagai medan aktivitasnya dan berbagai forum yang diselenggarakannya. Dalam tiga tahun masa kepemimpinannya, Hizb sekarang telah dipenuhi dengan kebaikan.
Kami memohon kepada Allah Swt. agar semakin memperluas dan menambah kebaikan itu, sebagaimana berita gembira pertolongan dan kemenangan telah mulai bergema atas seizin Allah Swt. kepada Hizb bersama amir Hizb saat ini. Hal itu semakin membentangkan harapan akan terealisasinya masa ini sebagai masa terealisasinya pertolongan dan kemenangan atas izin Allah Swt.
Di antara hal yang tampak menonjol dalam diri amir Hizb sekarang adalah kewaraannya dan kuatnya beliau berpegang pada syariah; juga keteguhan dan keilmuannya. Beliau telah mengambil manfaat besar dari berbagai posisi penanggung jawab berbeda yang pernah beliau emban dalam menejemen aktivitas Hizb, khususnya posisi sebagai juru bicara resmi, muktamad, dan anggota maktab amir terdahulu. Hal itu menjadikannya dapat memimpin Hizb. Beliau betul-betul mengetahui tugas, monitoring dan aktivitas yang dituntut setiap posisi penanggung jawab. Oleh karena itu, para syabab Hizb seakan dapat melihat amir mereka ada bersama mereka, memimpin mereka hingga dalam masalah rinci. Hal ini menjadikannya dapat memanfaatkan kemampuan para syabab dengan pemanfaatan paling optimal.
****
Demikianlah, dari Masjid al-Aqsha yang diberkahi, telah diumumkan bertolaknya aktivitas Hizbut Tahrir pada awal tahun 50-an abad yang lalu. Hizbut Tahrir telah menggariskan target utama, yakni mendirikan Khilafah Rasyidah. Al-’Alim al-‘’Allâmah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullâh terus memegang tampuk kepemimpinan Hizb hingga ketika beliau wafat setelah sekitar 25 tahun kepemimpinan beliau atas Hizb.
Setelah itu al-’Alim al-Kabîr Syaikh Abdul Qadim Zallum memegang kepemimpinan Hizb sejak tahun 1977 M. Aktivitas Hizb pada masanya menjadi besar karena bertambah banyaknya jumlah anggota Hizb. Tangan Hizb juga meluas mencapai banyak negara di dunia. Hizb berhasil mengorganisasi dan menghimpun ribuan syabab Muslim. Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullâh wafat dalam usia lebih dari 80 tahun setelah beliau memegang tampuk kepemimpinan Hizb sekitar 25 tahun.
Setelah beliau, sejak tahun 2003 M kepemimpinan Hizb dipegang oleh salah seorang ulama Hizb yang paling menonjol, seorang ahli ushul fikih, yaitu ‘Atha Abu ar-Rasytah, untuk membawa Hizb bertolak dengan kuat, beraktivitas untuk memetik buah dari tanaman yang telah ditanam, dipelihara dan dibesarkan pada masa dua orang syaikh sebelumnya. Alangkah baiknya apa yang ditambahkan beliau terhadap tanaman yang telah tumbuh dengan baik setelah kepemimpinan dua orang syaikh rahima-humâllâh.
Ungkapan paling indah yang bisa dikatakan tentang kepemimpinan ketiga amir Hizb adalah ungkapan yang sangat baik yang diungkapan oleh salah seorang syabab Hizb: Mereka adalah tiga orang amir. Di tangan mereka Allah Swt. telah dan akan menyempurnakan tiga perkara: tiga orang amir yang menyempurnakan tiga periode:
  • Periode pendirian dan pembentukan kelompok politik.
  • Periode aktivasi dan pengumuman.
  • Periode meraih kemenangan dan dengan izin Allah Swt. pertolongan dan kemenangan akan terealisasi.

Amin.

source : http://hizbut-tahrir.or.id/2013/04/08/atha-abu-ar-rasythah-amir-hizbut-tahrir-saat-ini/