“Cara tercepat untuk mendapatkan pengetahuan
adalah dengan belajar”
(Syaikh Taqiyuddin An Nabhani)
Quote ini saya
temukan di kamar seorang Mbak ketika menginap di kontrakannya. Waktu itu saya
belum tau kalo ternyata quote ini ada di dalam kitab Mafahim Hizbut Tahrir yang
ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani. Akhirnya, quote ini saya tulis ulang
dan saya tempel di dinding kamar kost saya waktu saya masih maba dulu hehe :D
Quote itulah yang
akhirnya memotivasi saya belajar bahasa Jepang yang merupakan jurusan saya di
bangku kuliah. Karena pada awalnya saya sama sekali tidak tahu bahasa Jepang.
Cuma tau dikit-dikit. Tapi kalo soal nulisnya, saya sama sekali gak bisa. Butuh
waktu yang lumayan lama sampai saya benar-benar bisa bahasa Jepang. Akhirnya,
saya pun menyukainya.
Ngomongin soal
cinta (lagi) nih. Haha, intermezzo. Tapi, semoga tidak menghilangkan ibrah. Karena
cinta itu seluas langit dan samudera, mamen :D Oke deh, balik ke laptop eh
pembahasan. Kalo orang Jawa bilang, cinta itu datang karena terbiasa. Kalo saya
bilang, cinta itu bisa dipelajari. Karena belajar makanya terbiasa dan akhirnya
cinta deh hehe *maksa
Kalo ngomongin
soal belajar mencintai, mungkin masih banyak yang mikir sebatas kepada pasangan
alias rumah tangga kelak. Tapi, ada hal yang mungkin kita lupakan.
Ingat gak waktu
pertama kali kita mengkaji Islam? Mulai penasaran, habis itu nyari tau,
berdiskusi dan mulai belajar mencintai segala sesuatu yang berbau Islam.
Termasuk ketika mencintai jilbab yang kita pake disaat jilbab belum trend dan
semua orang menertawakan kita dengan jilbab kita. Kita pun juga akhirnya harus
belajar mencintai dakwah, halqoh, musyrifah, teman sekontrakan, teman
seperjuangan dan semua hal yang dulunya asing bagi kita sebelum kita mengenal
Islam.
Semua itu adalah
proses. Proses belajar untuk mencintai. Dimulai dengan mengenal kemudian
berusaha untuk menerima meski terkadang harus merasakan sakit karena ada yang
tidak sesuai dengan harapan. Tapi, kita tetap berusaha untuk membuktikan cinta
yang sudah kita pelajari.
Mungkin, terkadang
kita merasa lelah, malas, frustasi atau bahkan ingin menyerah dan putus asa
saat dakwah ini tak kunjung membuahkan hasil. Setiap hari ke kampus untuk
kuliah. Setelah kuliah atau sebelumnya interaksi ideologi Islam dulu ke
teman-teman kampus. Kadang ditolak, diajak ngobrol gak respon, sms gak dibalas,
chat gak digubris, telepon gak diangkat dan berbagai macam kisah sedih nan
menyayat hati. Namun, karena sudah terbiasa kita tetap cinta bahkan sekalipun
itu menyakitkan. Karena rasa sakit itu dikalahkan oleh cinta. Dan kesemuanya
itu kita pelajari.
Jika kita bisa
belajar mencintai makhluk yang jauh dari sempurna, kenapa tidak untuk belajar
mencintai Allah Yang Maha Sempurna, mencintai RasulNya yang mulia dan mencintai
jalan yang ditapaki oleh RasulNya (dakwah)? Masihkah kurang pelajaran dari para
shahabat ketika mereka mengenal Islam dan belajar mencintai Islam dengan
segenap jiwa mereka?
Begitulah cinta,
begitulah dakwah, Kawan. Di sinilah kita belajar. Belajar mencintai dengan
segenap hati dan pikiran kita. Untuk Allah, untuk RasulNya, untuk Islam dan
kaum Muslimin.
Jangan berhenti
belajar. Jangan malas belajar. Karena tak satupun di dunia ini yang diperoleh
tanpa belajar termasuk mencintai. Selamat belajar!
Wallahu a’lam bi ash shawaab
Khairunnisa, February 19th 2014. 04:59
PM. Kangen nulis.
No comments:
Post a Comment