Showing posts with label Media Ummat. Show all posts
Showing posts with label Media Ummat. Show all posts

Thursday, November 15, 2012

Jerat Dunia Hiburan pada Kaum Ibu

Dunia hiburan memang menggelitik semua orang tanpa pandang usia. Inilah fenomena yang terjadi pada tatanan kehidupan yang semakin liberal di negeri ini. Konser musik NOAH pada 2 Nopember lalu di Ancol benar-benar menyihir kawula muda. Mereka  tak hanya remaja, bahkan ibu-ibu muda pun turut memadati area konser tersebut. Bergaya trendi, ibu-ibu ini ngotot menyaksikan aksi terbaru sang bintang pujaan yang sudah lama absen karena tindakan asusilanya itu. Mereka pun bahkan rela meninggalkan anak-anak mereka yang masih kecil hanya demi memuaskan hasrat menghibur diri.

Inilah kekonyolan yang berulang terjadi di negeri seribu krisis ini. Krisis yang menghinggapi generasi (anak-anak) dengan semakin banyaknya peristiwa kekerasan yang dilakukan anak, penggunaan obat terlarang, pergaulan bebas, dan lain sebagainya ternyata belum juga membuat jera kaum ibu untuk turut memikirkan upaya penyelesaiannya. Padahal, telah jelas bahwa permasalahan generasi ini memerlukan tanggung jawab lebih dari para ibu (orang tua).  Mereka  mestinya lebih memperhatikan putra-putrinya dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks ini. Namun, mengapa ibu-ibu ini justru terjerat pada dunia hiburan. Fenomena apa lagi ini? Lalu, bagaimana mereka dapat bertanggung jawab dalam membina generasi?

Kapitalisme-Liberalisme Jahat!

Prinsip jahat kapitalisme berikut tentu tidak asing lagi; “Raih keuntungan dengan cara apapun”. Di antara cara meraup keuntungan yang paling mudah adalah melalui dunia hiburan.  Maka pemunculan grup musik atau bintang baru hingga penyelenggaraan panggung-panggung musik pun semakin menjamur. Apalagi, di tengah himpitan ekonomi dan menumpuknya persoalan kehidupan, semua orang menginginkan kesenangan sesaat untuk melepaskan (melupakan) penatnya kehidupan.  Karenanya, dunia hiburan menjadi laris manis. Baik di kota maupun kampung, sama saja, antusiasme masyarakat begitu tinggi.
Masyarakat pun berdalih, apa yang mereka lakukan adalah hak dan kebebasan individu yang seharusnya dijamin. Menghibur diri adalah hak yang tidak bisa dilarang, bahkan dianggap sebagai kebutuhan yang layak diperoleh di tengah himpitan masalah yang bisa mengantarkan depresi itu. Inilah kebebasan (liberalisme) yang telah dilahirkan oleh dedengkot kapitalisme yang amat jahat itu.
Anehnya, demi melampiaskan penat dan mengejar kesenangan sesaat sebagian besar orang – termasuk kaum ibu- rela meninggalkan idealisme yang sudah mereka maklumi bersama.  Misalnya, mereka rela merogoh kocek untuk membeli tiket yang tidak murah padahal mereka tahu adanya kebutuhan lain yang lebih penting. Atau, mereka rela meninggalkan anak-anak mereka sembari mendapat cibiran dari anak-anak, bahwa sang ibu lari dengan egoismenya.  Anak-anak itu pun akan berpikiran serupa untuk melakukan hal yang sama bila suatu saat mereka memiliki kesempatan. Inilah di antara bentuk kebebasan berperilaku yang dilahirkan kapitalisme.
Jadi, benarlah bahwa kapitalisme adalah induknya kejahatan. Dan dunia hiburan adalah salah satu sarana yang paling mudah bagi eksistensi ideologi ini.  Maka siapa pun yang terjerat pada dunia ini mereka pada hakikatnya telah jatuh pada kubangan masalah yang teramat dalam.  Dan bisa dipastikan, perbagai persoalan lanjutan akan muncul di belakangnya akibat perilaku keliru tersebut. Inilah kejahatan kapitalisme yang tidak banyak disadari kebanyakan orang, termasuk ibu-ibu penggila musik itu.

Ibu Terjerat, Anak Nista

Sungguh amat disayangkan, jika mereka yang terjerat adalah kaum ibu.  Mengapa? Karena mereka adalah pihak yang oleh Allah SWT diamanati untuk menjadi pengasuh, pendidik dan pemelihara generasi. Dalam pandangan Islam, sosok ibu diposisikan  sebagai figur sentral pendidikan dengan menjadikannya sebagai madrasah pertama (madrâsat al-ûlâ) bagi anak-anaknya.  Ibu memiliki peran yang sangat besar dalam memperhatikan dan mempersiapkan strategi pengasuhan dan pendidikan yang baik untuk anak-anak menuju terwujudnya generasi masa depan yang berkualitas.
Begitu pentingnya peran ibu yang diberikan Islam, hingga Allah SWT memberikan balasan yang begitu besar bagi ibu.  Rasulullah Saw bersabda yang artinya :
“Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anaknya akan menjadi penghalang baginya dari siksa neraka”” (HR. Bukhari-Muslim dan Turmudzi)
“Barangsiapa mempunyai dua anak perempuan dan diasuh dengan baik maka mereka akan menyebabkannya masuk surga”. (HR. Bukhari)
Juga, tatkala Asma’ ra bertanya kepada Rasulullah SAW; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah mengutamakan laki-laki dari wanita, maka kami mengimanimu dan mengikutimu.  Dan kami para wanita serba terbatas dan kurang (dalam amaliyah).  Tugas kami hanyalah menjaga rumah dan melayani laki-laki.  Kami mengandung anak-anak mereka, sedangkan kaum laki-laki memiliki keutamaan dengan berjamaah, menyaksikan mayat dan berjihad.  Apabila mereka keluar untuk berjihad, kami menjaga mereka dan memelihara anak mereka.  Apakah kami dapat menyamai mereka dalam pahala, wahai Rasulullah ?”.  Lalu Rasul SAW bersabda  : “Pernahkah kalian mendengar dari wanita pertanyaan yang lebih baik dari pertanyaan ini? Kalau semua itu kalian lakukan dengan sebaik-baiknya, niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang didapatkan suami-suami kalian”.
Sungguh, jika kaum ibu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya tentu tidak akan menyia-nyiakan peran mulia ini.  Namun, apa yang telah menggerogoti jiwa para ibu muda tersebut sehingga rela menukarkan balasan agung dari Allah SWT dengan sedikit kesenangan duniawi dalam dunia hiburan?  Masih kurangkah janji Allah SWT untuk menggairahkan kaum ibu agar berani menghadapi tantangan kapitalisme dan liberalisme.
Masih kurangkah pula bukti bahwa generasi yang seharusnya mereka jaga kini berada pada ancaman yang sangat serius.  Depresi yang kian mengancam anak-anak dengan indikasinya berupa tindakan kontra produktif adalah bukti bahwa anak-anak memerlukan pertahanan yang lebih baik dari apa yang mereka dapatkan selama ini.  Dan, siapa lagi yang dapat diharapkan melainkan sosok ibu yang pernah melahirkannya dan yang memiliki kasih sayang teramat dalam kepada anak-anaknya.  Ibulah yang paling dapat melembutkan hati  anak-anak tatkala mereka berkeras hati untuk menentang aturan Allah SWT.  Ibu pula yang paling mengetahui metode terbaik untuk mengarahkan putra putri dengan segala kekhususan yang dimilikinya. Mungkinkah anak-anak lebih berharap dari orang lain?  Tentu tidak, karena ibulah yang paling diharapkan anak-anaknya menjadi benteng pertahanan dirinya.
Demikianlah, baik janji Allah SWT maupun kebutuhan akan peran ibu adalah dua perkara yang selayaknya menjadi perhatian seluruh ibu.  Selayaknya hal tersebut juga membuka kesadaran agar pada para ibu hanya memilih amalan yang akan menyelamatkan diri dan generasinya di surga kelak.  Seharusnya mereka tidak disibukkan oleh kesenangan duniawi, semacam kebiasaan menonton konser musik atau lainnya.  Sungguh, hanya kemudharatan yang bakal diperoleh dari aktivitas sia-sia tersebut.
Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya :
 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (TQS. Al Hasyr [59]:18)
Rasulullah Saw juga memperingatkan agar kita selalu berbuat baik kepada anak-anak sesuai sabdanya :
“Bertakwalah kepada Allah dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kita tentu meyakini bahwa pelaksanaan syariat Allah SWT pasti akan membawa kebaikan bagi manusia.  Sebaliknya, berpalingnya manusia dari ketentuan Allah SWT hanya akan menuai azab dan keburukan bagi manusia.  Dengan kata lain, terjeratnya ibu pada aktivitas yang dilarang syariah, hanya akan menistakan anak-anak.  Mereka bukan hanya kehilangan kasih sayang dan tanggung jawab, bahkan mereka juga mendapatkan teladan yang buruk dari sang ibu.  Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi kita untuk segera mengembalikan kaum ibu pada peran dan kedudukannya yang sangat strategis tersebut.  Bagaimana caranya?

Wujudkan Ibu Shalihah

Mewujudkan ibu sholihah berarti mengembalikan peran dan kedudukan ibu sesuai Syariah.  Di tengah ancaman yang merong-rong ibu dan generasi yang harus dipeliharanya,  diperlukan langkah yang cerdas dan strategis, diantaranya :
  1. Menguatkan akidah (keyakinan) Islamnya bahwa kehidupan ini amat sebentar, sedangkan seluruh amalnya akan dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.  Allah-lah yang menguasai dunia ini dengan segala tipuan yang ada di dalamnya.  Sedangkan ibu hanyalah manusia yang seharusnya hanya berharap ridho dan surga-Nya saja, bukan kesenangan duniawi. Inilah landasan utama kehidupannya.
  2. Mengikatkan diri pada Syariat Islam.  Ketakutan yang teramat dalam akan murka Allah SWT bila mengingkari aturan-Nya mengharuskan ibu hanya memilih aktivitas yang mendukung pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan Alllah SWT.  Ibu tidak akan mudah tergoda oleh aktivitas sia-sia, semisal menonton konser musik, jalan-jalan, berbelanja, ngerumpi, membelanjakan harta secara kikir maupun boros, atau bahkan menjadi promotor bagi anak-anaknya untuk terjun dalam “dunia kesia-siaan” (menjadi artis, model, bintang film dan semisalnya).  Semua itu dijalani semata-mata karena aturan Allah SWT.
  3. Memperbanyak belajar Islam.  Hanya dengan menggali tsaqofah Islam, ibu akan memiliki pemahaman yang benar tentang pelaksanaan tugas utamanya.  Ibu pun akan mengetahui metode yang baik dalam mendidik anak-anaknya.
  4. Berkumpul dalam barisan ibu-ibu shalihah.  Arus liberalisasi memang amat kencang.  Maka satu-satunya cara agar ibu mampu bertahan menghadapi semua itu adalah dengan berkumpul bersama kaum ibu yang memiliki visi dan misi yang sama dalam menyelamatkan generasi.  Cara ini tentu akan sangat efektif, di samping agar lebih kuat bertahan, juga karena ancaman yang dihadapi adalah sebuah tatanan hidup bersifat sistemik dan telah mengakar kuat dalam masyarakat.  Hal itu tidak bisa dilakukan oleh aktivitas individu semata.  Harus ada gerakan bersama dalam melawan tantangan.  Terlebih, jika perjuangan tersebut mengharuskan berdirinya sebuah kekuatan global (khilafah Islam), tentunya mengharuskan peran serta seluruh kaum muslim, termasuk para ibu.
Demikianlah sebagian poin penting aktivitas yang akan menyelamatkan ibu dari jerat dunia hiburan yang semakin menggurita.  Bila ibu selamat, tinggallah mereka mengerahkan segenap potensinya untuk melahirkan dan memelihara generasi pejuang (pembangun) peradaban Islam.  Selanjutnya, janji Allah SWT pun layak diberikan kepada pahlawan generasi ini sesuai firman-Nya :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (TQS. an-Nahl [16] : 97).
Semoga kita semua dapat meraihnya.  Aamiin, ya Rabb-al ‘Alamiin. [] Noor Afeefa

Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan

Surabaya.  Hasil penelitian Anne Francoise Guttinger DeA terhadap Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menepis anggapan Barat dan kaum feminis yang selama ini menyatakan bahwa jilbab simbol penindasan sehingga bila ingin dikatakan modern harus menanggalkan jilbab.
“Justru dengan jilbab, kalian (Muslimah HTI, red) menunjukkan modernitas. Bisa mengekspresikan ide. Paling berani keluar dan menyuarakan ide. Inilah modernitas,” ujar Sosiolog asal Prancis tersebut saat mengungkapkan hasil penelitiannya dalam acara Open House Muslimah HTI, Ahad (14/10) di Gedung Dakwah HTI Jawa Timur.
Anne yakin desertasinya yang berjudul New Voice of Women in Indonesia bisa memberikan wacana yang berbeda tentang Muslimah di negara-negara Barat khususnya Prancis yang hanya menganggap jilbab sebagai simbol penindasan dari pria yang mengatasnamakan agama. Sehingga perempuan harus memilih antara agama atau gender.
Namun, Muslimah HTI menunjukkan perempuan Islam tidak perlu memilih salah satu antara keduanya. Karena mereka mampu menangkap Islam sebagai agama yang mendudukan gender secara proporsional. Walhasil, Muslimah menutup aurat mampu berbicara politik, mengkritik pemerintah, mencerdaskan masyarakat dan berjuang untuk syariah tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.
Mengamati Tiga Tahun
Penelitian berawal dari ketertarikan Anne pada sebuah artikel di media massa tiga tahun silam yang memberitakan sekelompok wanita Indonesia yang berkerudung putih dan jilbab hitam terkait UU Pornografi. “Berpakaian hitam putih, membawa bendera dan menentang pornografi,” kenang Anne menceritakan awal mengenal Muslimah HTI.
Sejak saat itu, bukan saja tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, tetapi ia malah menjadikan  Muslimah HTI sebagai objek penelitian untuk meraih gelar doktoral (PhD) di Ehess University, Prancis.
Ketertarikannya dengan Muslimah HTI ternyata mengantarkan Anne pada gambaran lain tentang Muslimah yang selama ini lebih banyak diberikan para feminis bahwa Muslimah berjilbab merupakan bentuk penindasan, berbicara politik ataupun syariah hanyalah milik kaum pria.
“Karena saya dari Barat, saya hanya dengar suara feminis. Tapi disini (Indonesia), saya temukan bukan hanya satu suara. Tapi banyak wacana tentang Islam yang bisa bersaing dengan (suara) feminis. Ini sesuatu yang baru,”  ungkapnya di hadapan puluhan peserta  open house.
Sebelum 3 tahun lalu, Anne memang sempat meneliti singkat tentang Muslimah NU dan Asiyah Muhammadiyah. Tapi, Muslimah HTI rupanya dipandang Anne lebih unik dengan aktifitas, pemikiran dan cara berpakaiannya.
Dari situ, Anne mulai banyak mengenal Muslimah HTI. Anne mengaku Muslimah HTI sebuah gerakan yang unik dan menjadi fenomena baru. Anne bahkan sempat menganggap bahwa Muslimah HTI adalah gerakan feminis.
“Apakah ini modernitas, apakah ini gerakan feminis? Apakah Muslimah HTI gerakan sosial atau partai politik?” pertanyaan yang berputar di benak Anne di awal-awal penelitian.
Kemudian secara intensif Anne mengamati kegiatan Muslimah HTI terutama di Surabaya dan Jakarta.  Dalam berbagai acara, Anne melihat diskusi dan debat yang diusung Muslimah HTI tidak bersifat patriarki, sifat yang selama ini dihembuskan feminis untuk menggambarkan kondisi kaum perempuan yang dikuasai pria. “Ketika dipaksa di dalam rumah, itu masuk konsep patriarki. Sehingga Muslimah HTI bukan patriarki dengan segala macam aktifitasnya,” tegasnya.
Karena dari pengamatannya selama lebih dari dua tahun, perempuan  khususnya Muslimah berbicara tentang syariah tapi juga sekaligus menjadi ibu dan manajer rumah tangga. “Ada pembagian sektor publik dan privat dalam dunia Muslimah. Mereka bisa melakukan tugas rumah tapi juga beraktifitas di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya.
Muslimah HTI juga memilki profil yang berbeda dari perempuan pada umumnya. Tidak hanya pelajar dan dosen yang bisa menjadi anggotanya. Tapi semua kalangan. Kesadaran berpolitik para Muslimahnya sangat tinggi. “Menentang kapitalisme, liberalisme dan sekulerisme sangat aktif dilakukan,” bebernya.
Anne melihat Muslimah HTI sebagai basis identitas kolektif HTI, berperan penting bagi kemajuan sosial sebuah peradaban. Perempuan sebagai ibu dan pendidik generasi punya peran sangat penting dalam perjuangan menegakkan kembali khilafah. (Mediaumat.com, 17/10/2012)

Islam Mengatasi Prostitusi

Prostitusi merupakan aktivitas seks yang dilakukan di luar akad nikah yang sah. Meski demikian, di Indonesia, sudah jamak dikenal prostitusi legal di mana aktivitas tersebut dipantau pemerintah. Padahal, dari prostitusi inilah muncul berbagai masalah sosial masyarakat lainnya, seperti perceraian, aborsi, trafficking dan penyebaran penyakit seksual menular, termasuk yang paling berbahaya, HIV/AIDS.
Anehnya, pemerintah masih tutup mata dengan dampak berantai dari eksistensi pelacuran ini. Akibatnya, pelacuran makin menjadi, termasuk memakan korban dari kalangan anak-anak dan remaja.
Sistem Islam dapat menjadi solusi alternatif dalam mengatasi prostitusi melalui penyelesaian yang komprehensif. Setidaknya ada lima jalur penyelesaian yang dalam pelaksanaannya saling bersimultan. Yakni, jalur hukum, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik.
Kelima jalur ini harus ditempuh karena munculnya aktivitas prostitusi bukan hanya karena satu alasan tertentu, misalnya faktor ekonomi. Adapun lima jalur ini adalah:
Hukum
Negara harus tegas memberikan sanksi pidana kepada para pelaku prostitusi yang telah berbuat zina. Jangan hanya mucikari atau germonya yang dikenai sanksi, juga pelacur dan pemakai jasanya. Selama ini, pelacur selalu dibela sebagai korban. Sementara para lelaki hidung belang bebas melenggang. Mereka adalah subyek dalam lingkaran prostitusi yang harus dikenai sanksi tegas. Hukuman di dunia bagi orang yang berzina adalah dirajam (dilempari batu) jika ia pernah menikah, atau dicambuk seratus kali jika ia belum pernah menikah lalu diasingkan selama satu tahun. Jika di dunia ia tidak sempat mendapat hukuman tadi, maka di akhirat ia disiksa di neraka. Bagi wanita pezina, di neraka ia disiksa dalam keadaan tergantung pada payudaranya.
Ekonomi
Negara harus mewujudkan jaminan kebutuhan hidup setiap anggota masyarakat, termasuk penyediaan lapangan pekerjaan harus terpenuhi. Sehingga, alasan mencari nafkah tidak bisa lagi digunakan untuk melegalkan prostitusi.
Pendidikan
Negara wajib menjamin pendidikan untuk memberikan bekal kepandaian dan keahlian pada warganya. Hal ini terkait dengan poin kedua di atas, yakni agar setiap individu mampu bekerja dan berkarya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang baik dan halal.
Sosial
Pembinaan untuk membentuk keluarga yang harmonis merupakan penyelesaian jalur sosial yang juga harus menjadi perhatian pemerintah. Hal ini disebabkan keluarga merupakan salah satu pilar dalam masyarakat yang ikut menentukan kualitas suatu generasi.
Politik
Penyelesaian prostitusi membutuhkan diterapkannya kebijakan yang didasari syariat Islam. Harus dibuat undang-undang yang tegas mengatur keharaman bisnis apapun yang terkait pelacuran. Negara merupakan satu-satunya institusi yang mampu menerapkan syariat Islam ini dalam bentuk Khilafah Islamiyah.
Dengan solusi di atas, diharapkan tidak akan ada lagi perempuan, khususnya anak-anak dan  remaja yang terjerumus pelacuran dengan alasan apapun. Juga, tidak akan ada laki-laki yang tergoda untuk berzina bukan dengan pasangan sahnya, baik cuma-cuma maupun berbayar dengan pelacur.(kholda)
Sumber: mediaumat.com (25/9/2012)

Kapitalisme Lahirkan Generasi Instan, Islam Lahirkan Generasi Pengubah Peradaban

Beberapa waktu yang lalu, ramai pemberitaan di media tentang ASS (15 tahun) seorang siswi SMP di Depok  yang diculik,  kemudian mengalami pelecehan seksual. ASS  diduga  menjadi korban penculik sindikat untuk keperluan seks komersial. Ia berhasil melepaskan diri setelah disekap selama seminggu. Nasib malang ASS  dimulai ketika ia berkenalan dengan seseorang di facebook yang mengaku sebagai  wartawan dan kemudian berjanji bisa mengorbitkannya menjadi model terkenal. Bak cerita sinetron, si gadis pun tergoda bujuk rayu. Tak lain karena ia ingin meraih cita dan harapan secara instan. Inilah yang mendorongnya tak berpikir panjang menerima tawaran orang yang sama sekali tak dikenal. Niat hati ingin menjadi  selebriti  terkenal, tapi apa daya justru menjadi korban kejahatan.
Kapitalisme Lahirkan Generasi Instan
ASS adalah salah satu potret kaum muda Indonesia yang hidup dalam sistem kapitalisme yang liberalis (mengajarkan kebebasan) dan sekuleris (memisahkan agama dari kehidupan). Hidup semaunya dan  sesukanya, tak mau diatur dengan aturan apapun, dan menjadikan agama hanya sebagai identitas di kartu pengenal entah Kartu pelajar, KTP atau SIM dan yang semisalnya. Impian mereka ingin meniru artis atau selebritis. Bisa foto model, artis sinetron, boyband atau girlband, komedian atau yang lainnya. Alasannya sederhana, gampang dapat uang dan mudah tenarnya. Mereka ingin raih semua impian tersebut dalam waktu singkat, secara  instan. Tak mau bersusah payah dan tak mau bersabar melakukan sebuah proses menuju impian.
Generasi muda kita terancam bahaya. Orientasi anak-anak kita akan bergeser untuk menjadi selebritas, bukannya menjadi ilmuwan, cendekiawan, ulama dan sebagainya, cita-cita yang lebih berkontribusi terhadap kemajuan umat. Belum lagi bahaya terhadap akhlak dan agama anak.  Budaya selebritas yang dekat dengan pergaulan bebas, eksploitasi fisik, dan kebebasan berkspresi, dikhawatirkan akan berimbas negatif terhadap perkembangan kepribadian anak.   Akhirnya, anak hanya  mengejar ketenaran dan materi dan kemudian  lalai dari tujuan hakiki kehidupannya, mencari ridha Allah, tergantikan tujuan duniawi, menjadi kaya dan  terkenal. Ini adalah gambaran generasi muda yang sangat jauh dari harapan umat, dan tentu sangat jauh dari gambaran   khoiru ummah (umat terbaik) yang disebut Allah di dalam firmanNya
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿١١٠﴾
Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi manusia, yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah, Dan sekiranya ahlul kitab beriman maka itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada menjadi orang-orang yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik “ (TQS Ali Imran 110)
Tak hanya itu, kapitalisme juga lahirkan generasi instan yang juga sangat berbahaya. Keinginan untuk meraih tujuan dengan terburu-buru,dan  mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat menjadi celah bagi berbagai kejahatan. Impian menjadi  selebriti, ingin  diraih dengan instan, akhirnya malah jadi korban penipuan bahkan ada yang tewas mengenaskan. Menurut catatan Komnas PA sepanjang Januari hingga Oktober 2012, setidaknya terjadi 21 kasus penculikan yang berawal dari perkenalan korban dengan pelaku melalui situs jejaring sosial. Satu orang di antaranya tewas saat ditemukan oleh pihak keluarga (kompas.com, 11/10/2012)
Kapitalisme juga mengajarkan agar kaum muda berkeinginan untuk meraih kesenangan hidup sesaat, ingin berpakaian dan berdandan mengikuti mode, punya black berry keluaran terbaru, berhura-hura  dan mengikuti gaya hidup hedonis lainnya. Semuanya menuntut untuk dipenuhi secara instan karena  keterbatasan ekonomi, keahlian maupun ketrampilan. Akhirnya  harus mengorbankan  harga diri, menjual tubuh, mengorbankan sekolah, masa depan dll.
Kapitalisme juga melahirkan generasi yang malas berusaha. Lihatlah persaingan tak sehat ketika Ujian Nasional digelar. Kunci Jawaban diperjualbelikan, nyontek sudah menjadi pemandangan umum di berbagai sekolah, bahkan gurupun terlibat dalam proses kecurangan seputar Ujian Nasional. Orang tuapun  berucap ‘alhamdulillah’ ketika mendengar cerita sang buah hati bahwa ia mendapatkan contekan dari gurunya. Semuanya seolah  berlomba untuk melahirkan generasi instan, yang  ingin meraih nilai tinggi dalam ujian tapi tak ingin bersusah payah belajar.  Apa yang akan terjadi dengan masa depan negeri ini jika generasi mudanya adalah generasi seperti ini?
Islam Lahirkan Generasi Pengubah Peradaban
Gambaran kaum muda  Indonesia di atas tentu  sangat jauh dari gambaran generasi muda ideal.  Berkaca dari sejarah, ada beberapa anak muda muslim di masa terdahulu  yang layak menjadi teladan bagi  kaum muda Indonesia karena prestasi mereka yang luar biasa bagi kemajuan umat dan bahkan sebagian dari mereka berkontribusi dalam  mengubah  peradaban dunia.
Usamah bin Zaid, telah ikut berperang sejak kecil, dan karena keahliannya, maka ia diangkat menjadi panglima perang pada usia enam belas tahun, di riwayat yang lain disebut di usia delapan belas tahun.  Muadz bin Jabal, salah seorang sahabat Rasul yang terpercaya, Rasulullah saw pernah memujinya: “Muadz bin Jabal adalah orang yang paling tahu tentang halal dan haram di kalangan umatku”. Beliau ketika dinobatkan menjadi hakim agung negara, usianya masih 18 tahun.
Pemuda-pemuda semacam Usamah dan Muadz, banyak kita temui juga pada masa setelah generasi shahabat.  Imam Syafi’i, di usianya yang menginjak 14 tahun telah dijadikan sebagai rujukan dalam memberikan fatwa agama.  Muhammad Al fatih, memimpin penaklukan Konstantinopel di usianya yang ke-24. Seorang ahli kedokteran sekaligus penemu ilmu kedokteran yang kita kenal sebagai Ibnu Sina,telah hafal Qur’an dan belajar ilmu kedokteran di usia 10 tahun. Dan di usia ke 17, Allah memberinya jalan yang tak pernah ia duga sebelumnya, ia berhasil menyembuhkan penyakit raja Bukhara padahal banyak tabib dan ahli tak berhasil menyembuhkannya.
Mereka masih sangat muda, namun prestasi mereka luar biasa.  Pemuda-pemuda semacam mereka lah yang menjadi gambaran generasi muslim ideal, dan layak untuk dicontoh  generasi muda sekarang. Mereka memiliki krakteristik sebagai berikut
1. Keimanan yang kuat
Keimanan yang kuat menjadi fondasi dasar yang harus ada dalam setiap muslim. Generasi yang memiliki keimanan yang kokoh hanya menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah. Generasi yang menjadikan kecintaannya kepada Sang Maha Pencipta  dan Rasul-Nya di atas kecintaan-kecintaannya yang lain.  Pada diri mereka tertanam keyakinan yang kuat, bahwa hidup adalah ladang amal untuk mencari ridha Allah.  Maka mereka berusaha dan berbuat sebaik-baiknya untuk mengisi hidupnya dengan spirit perjuangan meninggikan kalimat Allah, menegakkan agama-Nya, dan menyebarkan cahaya Islam ke seluruh dunia.
2. Berkepribadian Islam
Sosok generasi yang berkepribadian  Islam adalah generasi yang memiliki keyakinan kuat terhadap Islam (berakidah islam), lalu akidah Islam tersebut dijadikan sebagai pijakan dan standar satu-satunya dalam mengarahkan cara berpikirnya dan pola bersikapnya. Semua aktivitas dan problem dalam kehidupan, diatur dan diselesaikan berdasarkan aturan  Islam (Syari’at Islam).
Bagi generasi yang berkepribadian Islam, kenyataan yang ada di masyarakat bukanlah parameter mereka untuk berbuat, tetapi  Islam-lah yang harus dipegang kuat. Mereka yakin bahwa hanya aturan Islam yang terbaik dan layak diterapkan.   Ini akan mendorongnya untuk secara  terus menerus menggerakkan perubahan di masyarakat menuju kehidupan yang Islami. Mereka  akan berusaha semaksimal mungkin menjadi teladan dan motor perjuangan Islam yang nyata di tengah masyarakat.
3. Berjiwa pemimpin dan peduli umat.
Penerapan Syari’at Islam tidak hanya dikhususkan untuk umat Islam saja, tetapi merupakan rahmat bagi seluruh manusia dan mensejahterakan kehidupan dunia. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (TQS. Al Anbiyaa’ : 107).  Karakter Islam yang demikian inilah yang mendorong umatnya untuk menyebarkan dan memperjuangkan Islam untuk tegak di muka bumi, karena Islam tidak sekedar memperbaiki individu, tapi juga masyarakat, negara dan dunia seluruhnya. Hal ini yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemimpinan dalam diri umat atau generasi Islam.
Generasi ini tidak hanya mementingkan kesenangan hidup di dunia dengan mengejar materi, bermain-main dan berhura-hura (gaya hidup materialistik hedonistik). Generasi ini serius dan sungguh-sungguh dalam memperjuangkan tegaknya Islam hingga menyinari seluruh alam. Generasi yang memberikan keteladanan dan memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan umat secara keseluruhan.
Generasi terbaik ini juga memiliki kepedulian yang besar terhadap kondisi umat.  Ia tidak rela dengan kondisi keterpurukan dan kelemahan umat.  Maka ia mengerahkan seluruh potensinya untuk memperjuangkan kebangkitan umat.  Ia menjadi motor perjuangan dan agen perubahan di tengah umat.
4. Menguasai tsaqofah Islam dan ilmu pengetahuan
“Katakanlah (hai Muhammad), apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Qs. az-Zumar [39]: 9).
Generasi muslim yang mumpuni akan senantiasa  menyesuaikan setiap amalnya sesuai dengan ketetapan Allah. Maka ia berusaha untuk menguasai ilmu-ilmu yang ia butuhkan untuk mampu memahami hukum Allah atasnya.  Tak putus-putusnya ia mempelajari tsaqofah Islam, sehingga akhirnya ia mampu menguasainya.
Hal ini diimbangi dengan semangat menambah ilmu pengetahuan. Ia memahami bahwa seorang muslim tidak hanya hidup untuk akheratnya saja.  Ia memiliki motivasi kuat untuk menguasai teknologi yang akan membawa maslahat dan mengantarkan pada kemajuan umat.  Ia tidak rela Islam berada di bawah kendali umat lain dalam teknologi, karena keyakinannya bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang diciptakan  Allah seperti dalam Al Qur’an Surat Ali Imran 110.
MENJADI GENERASI  PENGUBAH PERADABAN, BUKAN GENERASI  INSTAN
Apa yang dicapai Imam Syafii, al Fatih, Ibnu sina dan tokoh-tokoh muslim lainnya di usia muda adalah buah dari kerja keras dan kekuatan ruhiyah yang mereka miliki, bukan dengan jalan pintas atau berbagai cara instan yang menghalalkan segala cara.  Mereka terkenal, bukan karena ingin terkenal tapi karena keinginan untuk memberikan persembahan terbaik kepada umat dan agama, dan ingin meraih kemuliaan hidup dunia dan akhirat. Mereka berhasil setelah bertahun-tahun sebelumnya, mereka mencanangkan tekad dan menempa diri untuk melakukannya dan juga peran dari orang-orang terdekat mereka seperti orang tua, guru dll.
Salah satu pepatah Arab “man jadda wajada” yang artinya “barang siapa bersungguh-sungguh maka akan berhasil” sangatlah tepat  untuk menggambarkan upaya mereka.
Tengoklah bagaimana kisah hidup Imam Syafi’i. Karya-karyanya yang luar biasa,telah menjadikannya sebagai ulama besar yang akan selalu dikenang hingga akhir jaman. Itu semua tak diraih dengan mudah dan instan. Beliau lampaui masa kecilnya hanya dengan seorang ibu yang sangat miskin.  Kemiskinan yang dialaminya tidak  membuat  Imam Syafi’i menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis ilmu Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi.
Saat berusia 9 tahun, beliau telah menghafal seluruh ayat Al Quran dengan lancar bahkan beliau sempat 16 kali khatam Al Quran dalam perjalanannya dari Mekkah menuju Madinah. Setahun kemudian, kitab Al Muwatha’ karangan imam malik yang berisikan 1.720 hadis pilihan juga dihafalnya di luar kepala, Imam Syafi’i juga menekuni bahasa dan sastra Arab di dusun badui bani Hundail selama beberapa tahun, kemudian beliau kembali ke Mekkah dan belajar fiqh dari seorang ulama besar yang juga mufti kota Mekkah pada saat itu yaitu Imam Muslim bin Khalid Azzanni. Kecerdasannya inilah yang membuat dirinya dalam usia yang sangat muda (15 tahun) telah duduk di kursi mufti kota Mekkah, namun demikian Imam Syafi’i belum merasa puas menuntut ilmu karena semakin dalam beliau menekuni suatu ilmu, semakin banyak yang belum beliau mengerti, sehingga tidak mengherankan bila guru Imam Syafi’i begitu banyak jumlahnya sama dengan banyaknya para muridnya.
Muhammad Al Fatih. Yang biasa disebut Al Fatih,Sang Penakluk benteng Konstantinopel,  telah belajar keras sejak kecil. Ia dididik sejak kecil oleh ulama-ulama besar pada jamannya yang telah membentuk mental penakluk pada dirinya. Maka tidak mengherankan ketika berumur 23 tahun, al-Fatih telah menguasai 7 bahasa dan dia telah memimpin ibu kota Khilafah Islam di Adrianopel (Edirne) sejak berumur 21 tahun (ada yang memberikan keterangan dia telah matang dalam politik sejak 12 tahun). Sebagian besar hidup al-Fatih berada diatas kuda, dan beliau tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dan tahajjudnya untuk menjaga kedekatannya dengan Allah dan memohon pertolongan dan idzinnya atas keinginannya yang telah terpancang kuat dari awal yaitu Menaklukkan Konstantinopel.
Al Fatih sangat sadar,  untuk menaklukkan Konstantiopel dia membutuhkan perencanaan yang baik dan orang-orang yang bisa diandalkan. Maka diapun membentuk dan mengumpulkan pasukan elit yang dinamakan Janissaries, yang dilatih dengan ilmu agama, fisik, taktik dan segala yang dibutuhkan oleh tentara, Dan pendidikan ini dilaksanakan sejak dini, dan khusus dipersiapkan untuk penaklukan Konstantinopel. 40.00 orang yang loyal kepada Allah dan rasul-Nya pun berkumpul dalam penugasan ini. Selain itu dia juga mengamankan selat Bosphorus yang menjadi nadi utama perdagangan dan transportasi bagi konstantinopel dengan membangun benteng dengan 7 menara citadel yang selesai dalam waktu kurang dari 4 bulan.
Tetapi Konstantinopel bukanlah kota yang mudah ditaklukkan, kota ini menahan serangan dari berbagai penjuru dunia dan berhasil menetralkan semua ancaman yang datang kepadanya karena memiliki sistem pertahanan yang sangat maju pada zamannya, yaitu tembok yang luar biasa tebal dan tinggi, tingginya sekitar 30 m dan tebal 9 m, tidak ada satupun teknologi yang dapat menghancurkan dan menembus tembok ini pada masa lalu. Dan untuk inilah al-Fatih menugaskan khusus pembuatan senjata yang dapat mengatasi tembok ini.
Setelah mempersiapkan meriam raksasa yang dapat melontarkan peluru seberat 700 kg, al-Fatih lalu mempersiapkan 250.000 total pasukannya yang terbagi menjadi 3, yaitu pasukan laut dengan 400 kapal perang menyerang melalui laut marmara, kapal-kapal kecil untuk menembus selat tanduk, dan sisanya melalui jalan darat menyerang dari sebelah barat Konstantinopel
Keseluruhan pasukan al-Fatih dapat direpotkan oleh pasukan konstantinopel yang bertahan di bentengnya, belum lagi serangan bantuan dari negeri kristen lewat laut menambah beratnya pertempuran yang harus dihadapi oleh al-Fatih, sampai tanggal 21 April 1453 tidak sedikitpun tanda-tanda kemenangan akan dicapai pasukan al-Fatih, lalu akhirnya mereka mencoba suatu cara yang tidak terbayangkan kecuali orang yang beriman. Dalam waktu semalam 70 kapal pindah dari selat Bosphorus menuju selat Tanduk dengan menggunakan tenaga manusia. Yilmaz Oztuna di dalam bukunya Osmanli Tarihi menceritakan salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium mengatakan:
“kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Alexander yang Agung,” 70 Kapal al-Fatih dipindahkan dari Selat Bosphorus ke Selat Tanduk melalui Pegunungan Galata dalam waktu 1 malam
Subhanallah, upaya yang dilakukan Al Fatih dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki, ditambah dengan kedekatannya yang luar biasa kepada Allah, telah memastikan pertolongan Nya kepada Al Fatih.
Sejarah dipelajari bukan hanya untuk dikenang tapi agar kita bisa belajar dari sejarah. Banyak orang yang belajar sejarah tapi tak banyak orang yang belajar dari sejarah. Dengan mempelajari sejarah, bagaimana tokoh-tokoh besar tak lahir secara instan, seharusnya memacu para pemuda saat ini untuk bisa menjadi pemuda idaman, pengubah jaman dan peradaban dengan mengerahkan segenap kemampuan.
Islam Mengajarkan Cara Meraih Tujuan
Boleh saja bermimpi, tapi berusahalah dan  tentukan langkah riil untuk meraih impian. Nasihat ini sangat tepat untuk orang-orang yang ingin meraih keberhasilan, dan menggapai mimpi-mimpinya. Dan ini pula yang diajarkan oleh Islam. Dalam perspektif syariat Islam, melakukan upaya untuk meraih suatu tujuan atau yang kemudian disebut dengan  istilah as-sababiyah merupakan kewajiban yang ditetapkan oleh Allah SWT.
Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw  yang hendak meninggalkan untanya. Ia kemudian berkata, “Aku akan membiarkan untaku, lalu akan bertawakal kepada Allah.” Akan tetapi, Nabi Muhammad Saw bersabda kepadanya, “i’qilha wa tawakkal” yang artinya “Ikatlah (untamu) dan bertawakallah (kepada Allah).” (HR Ibnu Hibban).  Di dalam hadist ini ada dua tuntutan yaitu mengikat unta dan bertawakal. Hukum tawakal adalah wajib sebagaimana firman Allah “ Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah/ sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya (TQS Ali Imran 159).  Hukum mengikat unta  (melakukan upaya/usaha untuk meraih tujuan) juga wajib karena kata i’qilha (ikatlah untamu)    adalah shighat amr (bentuk perintah) yang mengandung tuntutan yang pasti (thalab jazm) untuk mengerjakan sesuatu. Ini karena adanya wawu ‘athaf yang mengandung makna muthlaq al-jam’i (penyatuan mutlak), yaitu menyatunya ma’thuf dan ma’thuf alayh  dalam satu hukum. Sehingga dipahami dari hadist ini bahwa mengikat unta yaitu berusaha dan bertawakal, ke duanya hukumnya wajib.
Tak hanya mewajibkan adanya upaya untuk meraih tujuan, Islam juga mengajarkan bahwa upaya tersebut harus dilakukan dengan penuh kesungguhan, melewati berbagai tahapan yang pasti akan penuh dengan rintangan dan hambatan, juga  membutuhkan kesabaran dan keteguhan. Jika kita mengkaji secara cermat kehidupan Rasulullah Saw, kita akan dapati bahwa beliau selalu melakukan as sababiyah. Beliau tidak pernah menargetkan kemenangan di medan peperangan tanpa adanya persiapan militer, tidak menuntut perubahan masyarakat tanpa melakukan interaksi dengan mayarakat melalui pergulatan pemikiran, tidak menaklukkan kota Mekah tanpa mempersiapkan pasukan atau tanpa aktivitas jihad. Beliau selalu berupaya dengan penuh kesungguhan untuk meraih tujuan. Bahkan untuk tujuan yang bersifat mubah sekalipun, beliau selalu melakukan as sababiyah. Begitu juga yang dilakukan oleh para shahabat, tabi’in, tabi’at-tabi’in dan generasi setelah mereka.
Dengan konsep seperti ini, dengan  selalu melakukan as sababiyah ( melakukan sebab untuk mendatangkan akibat) yaitu  melakukan upaya untuk meraih suatu tujuan dengan penuh kesungguhan dan keteguhan dan kemudian diiringi dengan tawakkal yaitu memasrahkan hasil/keberhasilan dari setiap upaya kepada Allah, maka Islam telah berhasil melahirkan generasi cemerlang, generasi ideal, PENGUBAH PERADABAN dan layak menjadi teladan sepanjang jaman. Inginkah kita semua meraihnya?
Tentu….tapi tak bisa secara instan.  Perlu upaya dan kesungguhan juga keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Dan yang terpenting, generasi tersebut tak bisa lahir selama system yang diterapkan adalah system kapitalisme kufur yang rusak dan bathil seperti saat ini. Hanya dengan menerapkan syariat  islam secara kaaffah dalam naungan system islam yaitu daulah Khilafah Islamiyah, insya Allah kita akan bisa mewujudkannya. Karenanya, adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua yang ingin mengubah negeri ini menjadi negeri yang jauh lebih baik,  untuk mempersiapkan generasi mudanya agar menjadi generasi baru, yang memiliki semangat, kesungguhan dan keteguhan untuk  mengubah peradaban dan berjuang untuk tegaknya  Islam secara sempurna.[]

Partisipasi Perempuan, Seperti Apa?

Motif sesungguhnya, mengapa perempuan dimotivasi agar lebih maksimal berpartisipasi dalam proses ekonomi, yakni menyelamatkan krisis Barat.
Saat ini didengungkan wacana ‘abad partisipasi penuh perempuan’ (full partisipation age). Seperti pernah dilontarkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton tentang vitalnya peran perempuan saat ini bagi kemajuan dunia. Lantas seperti apa sih partisipasi penuh yang diinginkan?
Kepedulian Semu
Di Barat, partisipasi perempuan bisa dibilang sudah full. Hampir tidak ada batasan apapun di sana. Perempuan bebas mengekspresikan diri. Semua sektor sudah dirambah perempuan. Mulai profesi hina seperti wanita panggilan hingga pejabat nomor satu sekelas presiden, bisa dijabat perempuan. Kurang apalagi? Sudah kebablasan malah. Lalu mengapa masih didengungkan abad partisipasi penuh perempuan?
Tak lain, propaganda ini menyasar perempuan di negeri-negeri Muslim. Khususnya negara-negara di dunia ketiga yang masih dianggap malu-malu membebaskan kaum hawa dari belenggu nilai-nilai suci agama Islam. Bahkan, masih ditemukan negara yang sangat rigid (ketat, red) dalam memperlakukan perempuan. Semisal perempuan sama sekali tidak boleh keluar rumah, tidak boleh sekolah, menyetir kendaraan sendiri, dll.
Tentu saja, harapan akan partisipasi penuh perempuan ala sekuler-kapitalis ini, tidak murni atas dasar kasih sayang dan kepeduliannya pada kaum perempuan.  Barat sama sekali tidak tulus memuliakan perempuan serta mengangkat harkat mereka ke derajat semestinya. Sebaliknya, justru ingin mengeluarkan perempuan dari harkat dan martabatnya demi sebuah ambisi tertentu yang berujung pada rusaknya tata nilai kehidupan islami.
Berkaca pada kondisi di Barat, sudah lama kiprah perempuan yang melanggar fitrahnya, justru hanya menghasilkan malapetaka sosial. Seperti tingginya pelecehan dan kekerasan seksual, seks bebas, perceraian, single parent, anak bermasalah, dll. Kondisi inipun sudah mulai menular di negeri-negeri Muslim, meski partisipasi perempuan di ranah publik bisa dibilang belum full. Masalahnya, perempuan yang berkontribusi untuk rumah tangga tidak dianggap berdaya alias dinilai tidak berpartisipasi.
Nah, apa jadinya jika semua Muslimah mengambil peran di ranah publik atas dasar paradigma full partisipation age? Padahal, belum full saja partisipasi perempuan, sudah sedemikian rusak dampaknya. Tak terbayang, bagaimana jika para perempuan benar-benar terlibat penuh dalam segala hal.
Motif Ekonomi
Perhatian pada perempuan untuk meningkatkan perannya saat ini, sarat dengan kepentingan ideologi kapitalis. Ada motif ekonomis, di mana para perempuan diharapkan menjadi penyelamat perekonomian dunia yang saat ini tengah kolaps.
Terutama di Barat, krisis multidimensi hampir tak terperikan. Nah, dunia Islam diharapkan mampu menjadi penyelamatnya. Termasuk Muslimah yang jumlahnya mayoritas di dunia ini, diharapkan memiliki kontribusi besar dalam menyelamatkan keadaan tersebut.
Lantas peran seperti apa yang diharapkan kapitalsime global itu? Pertama, Muslimah didorong sebagai penghasil uang. Perempuan diberdayakan secara fisik, baik dengan bekerja di sektor-sektor industri, jasa, bahkan hiburan. Selain itu, digelontorkan pula modal khusus perempuan agar memiliki usaha rumahan sehingga menjadi perempuan mandiri secara finansial. Dengan kiprah mereka di bidang ekonomi ini, perempuan turut menggelindingkan roda perekonomian.
Kedua, perempuan didorong berperan dalam mengaruskan konsumtifisme. Berkat kemandirian finansial di mana perempuan mampu menghasilkan uang sendiri, maka perempuan tetap memiliki daya beli. Ia pun mampu memenuhi hasrat konsumtifnya. Tingginya tingkat konsumtifisme akan mendorong proses produksi sehingga mampu memutar roda perekonomian. Perempuan pun makin enjoy dan bahagia karena bisa memenuhi kebutuhan konsumtifnya sendiri tanpa harus bergantung pada laki-laki.
Siapa yang diuntungkan? Barat. Bukankah para perempuan (Indonesia) begitu silau dengan produk-produk asing? Pasar bebas meniscayakan banjirnya produk-produk asing dan menggilas produk dalam negeri, bahkan yang dihasilkan kaum perempuan yang capek-capek diberdayakan pemerintah melalui model pemberdayaan ekonomi keluarga itu sendiri.
Itulah motif sesungguhnya, mengapa perempuan dimotivasi agar lebih maksimal berpartisipasi dalam proses ekonomi, yakni menyelamatkan krisis Barat. Mereka didorong menghasilkan uang dan membelanjakan uang itu untuk memanjakan diri, hal yang sangat fitrah disukai kaum perempuan itu sendiri.
Lihat saja bagaimana perilaku para perempuan eksekutif yang berkecukupan materi. Senin sampai Jumat berjibaku dengan waktu, memeras energi habis-habisan. Tiba akhir pekan, mal dan tempat hiburan jadi jujukan untuk menghamburkan uang. Fenomena ini kian melanda para perempuan, tak terkecuali Muslimah.
Peran Membangkitkan 
Berbeda dengan Barat, Islam menempatkan perempuan pada posisi bermartabat. Peran kaum Muslimah ini sudah digariskan dengan jelas. Bahwa perempuan memiliki peran utama di rumah, sebagai ummun wa rabbatul bayt dan pendidik anak. Karena itu, Islam memberi perhatian lebih pada peran vital perempuan dalam pembentukan keluarga dan pelahir generasi ini.
Misalnya, Islam tidak membebankan masalah finansial pada perempuan, sehingga ia fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak.  Namun, ia berdiri men-support suami guna menguatkan perannya dalam berbagai kiprah. Perannya ini akan menjaga bangunan institusi keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat dan negara.
Tentu saja, Muslimah diwajibkan cerdas dengan terus menuntut ilmu dan mengkaji tsaqofah sebagai bekalnya. Darimana mendapatkan ilmu ini? Jika tak mampu diperoleh di rumah, dibolehkan keluar rumah seperti ke majelis ilmu atau pendidikan formal. Siapa yang mengajarkan? Bisa sesama Muslimah. Karena itu, peran strategis Muslimah di ranah publik juga sebagai daiyah yang berkontribusi dalam mencerdaskan kaumnya.
Peran ini bukan remeh temeh. Ini adalah peran politik dan strategis perempuan dalam pandangan Islam yang memiliki kontribusi sangat besar dalam pembentukan keluarga yang tangguh, generasi terbaik dan masyarakat madani.
Karena itu, semestinya pengarusutamaan peran Muslimah saat ini adalah berupa pencerdasan politik pada perempuan. Ini agar mereka memahami hakikat diri dan berkiprah sesuai fitrahnya. Jangan sampai Muslimah tenggelam dalam arus pemberdayaan ala Barat yang akan menggerus dan selanjutnya menghilangkan identitasnya sebagai Muslimah sejati. (mediaumat.com, 31/10/2012)

Eksploitasi Kecantikan Muslimah

Kontes Muslimah hanya menguatkan opini bahwa menutup aurat itu harus cantik dan trendy.
Fenomena kontes kecantikan kini melanda dunia Muslimah. Ajang pencarian Muslimah tercantik dengan busana paling modis dan fashionable mulai dihelat beberapa kalangan. Seperti Hijab Hunt 2012 yang diselenggarakan sebuah portal berita ternama bekerja sama dengan beberapa kosmetik dan desainer.
Lalu World Muslimah Beauty 2012 yang akan dihelat 9-16 September mendatang di Jakarta. Pemilihan duta Muslimah tersebut digelar bersamaan dengan pertemuan para pengusaha bisnis syariah dunia bertajuk The 3rd Muslim World Biz 2012, yang akan dihadiri oleh delegasi negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) serta para pelaku bisnis syariah dunia, pada 12-16 September di Jakarta.
Nah, tujuan kontes-kontes itu satu: mencari Muslimah cantik untuk ikon fashion busana atau kosmetik Muslimah. Jadi, seperti tahun-tahun sebelumnya, pemenang ajang kontes seperti ini sontak akan menjadi model. Baik model foto maupun peragawati yang lenggak-lenggok memperagakan busana Muslimah karya para desainer kenamaan.
Wajahnya akan nampang di majalah-majalah Muslimah, katalog brand-brand busana Muslimah ternama, brosur produk kosmetik, bintang iklan produk Muslimah atau seliweran di panggung-panggung peragaan busana Muslimah.
Lantas apa bedanya dengan foto model dan peragawati pada umumnya? Cuma satu: tidak mengumbar kulit tubuh. Adapun dandanan make up sama saja, tetap mempertontonkan kecantikan alias tabaruj. Duh!
Haruskah Modis?
Belakangan ini semangat menutup aurat di kalangan Muslimah memang menggembirakan. Mereka bahkan membentuk komunitas-komunitas khusus untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam menutup aurat, mereka lebih suka menggunakan istilah hijab dan menyebut diri hijaber.
Menurut bahasa, hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi. Sedangkan menurut istilah syara’, al-hijab dimaksudkan sebagai suatu tabir yang menutupi badan wanita.
Entahlah, mengapa istilah hijaber lebih disukai. Yang jelas, motto para hijabers ini sangat terkenal, yakni tetap fashionable meski menutup aurat. Mengklaim berpenampilan syar’i tapi tetap modis. Sayangnya, sadar atau tidak, mereka telah terseret filosofi dunia fashion ala sekuler-kapitalis pada umumnya.
Seperti diketahui, fashion umumnya diciptakan untuk menonjolkan kecantikan wanita. Fashion harus selalu berubah dan up to date. Selalu memunculkan trend-trend terbaru. Nah, kondisi ini turut menyeret para hijabers sehingga mereka merasa harus selalu mengikuti trend busana Muslimah teranyar, wajib terlihat fresh dan fashionable dengan model-model busana yang paling up to date. Mereka merasa bangga bila mengenakan busana Muslimah merek ternama, karya desainer favorit atau bahkan mix and match dengan busana-busana branded keluaran Barat, yang penting gombrong atau panjang. Seperti memadukan dress tanpa lengan dengan blazer keluaran Zara. Atau memadukan tunik dengan celana pantalon branded dari butik Max & Spencer.
Padahal, sekali lagi sayang, busana-busana Muslimah up to date yang mereka klaim itu, sangat jauh dari nilai-nilai syara´. Bahkan, terkadang yang tampak justru penampilan yang lebih glamour dan lebih tabaruj dibanding wanita pada umumnya yang tidak menutup aurat.
Hal ini tentu memunculkan keprihatinan. Di satu sisi kita salut dengan semangat berhijab mereka, namun di sisi lain mencuatkan opini di kalangan Muslimah bahwa berbusana itu harus modis dan cantik. Padahal, bukan itu esensi busana takwa, melainkan sebagai identitas Muslimah dan penjagaan izzah (harga diri, red).
Eksploitasi Kecantikan
Keberadaan kontes-kontes kecantikan Muslimah semakin menguatkan opini bahwa Muslimah itu harus cantik dan trendy, tak kalah dengan wanita-wanita pengumbar aurat. Buktinya, kontes ini pun selalu mensyaratkan harus berusia muda (17-30 tahun), fotogenik, terlihat menarik saat difoto dalam beberapa angle, tertarik dan berminat dengan dunia fashion.
Memang, mereka tak harus mengumbar aurat. Namun, kecantikan tetap saja menjadi poin penilaian. Wajah harus sedap dipandang dan bodi tinggi langsing. Pokoknya urusan kecantikan, nggak kalah dengan peserta kontes ratu-ratu kecantikan umumnya.
Nah, setiap peserta pasti ingin memenangkan kontes yang diikutinya. Apalagi hadiahnya cukup menjanjikan. Selain uang tunai jutaan rupiah, juga kesempatan menjadi terkenal sebagai foto model Muslimah. Tentu saja, berbagai cara mereka lakukan untuk itu. Seperti memutihkan wajah agar tampak lebih camera face, rajin ke salon sekadar menicure dan pedicure, menjaga kelembaban bibir, diet agar tetap langsing sehingga serasi mengenakan busana Muslimah model apapun, dan perawatan lainnya.
Sementara itu, untuk menghasilkan foto yang eye catching alias enak dipandang, tentunya harus ditunjang make up dan busana terbaik.  Dipilihlah produk kosmetik termahal dan baju-baju branded yang harganya juga selangit. Kalau sudah begini, apa bedanya dengan peserta kontes-kontes ratu kecantikan pada umumnya? Sama-sama mengeksploitasi kecantikan perempuan.
Jaga Privacy
Para Muslimah seharusnya menyadari, potensi pada diri mereka bukanlah sekadar fisik. Jika Allah SWT menganugerahkan wajah cantik, fotogenik dan bodi aduhai, bukanlah untuk dieksploitasi.
Islam telah melarang wanita melakukan tabaruj (menampakkan perhiasannya).   Dengan kata lain, tabaruj adalah hukum lain yang berbeda dengan hukum menutup aurat dan hukum wanita mengenakan kerudung dan jilbab.
Walaupun seorang wanita telah menutup aurat dan berbusana syar’i, namun tidak menutup kemungkinan ia melakukan tabaruj. Allah SWT berfirman: “Perempuan-perempuan tua yang telah berhenti haid dan kehamilan yang tidak ingin menikah lagi, tidaklah dosa atas mereka menanggalkan pakaian mereka (jilbab, red) tanpa bermaksud menampakkan perhiasannya (tabaruj).”[al-Nuur: 60]
Mafhum muwafaqah ayat ini adalah, “jika wanita-wanita tua yang telah menapouse saja dilarang melakukan tabaruj, lebih-lebih lagi wanita-wanita yang belum tua dan masih punya keinginan nikah.”
Jelaslah, mempertontonkan kecantikan untuk konsumsi publik tidak diajarkan Islam.
Berbusana dan berdandan dengan maksud agar terlihat cantik, modis dan trendy bukanlah tujuan seorang Muslimah. Kalaupun Muslimah tampil serasi dalam berbusana, hendaklah semata-mata diniatkan dalam rangka ibadah. Jadi, jangan mudah tergoda bius-bius dunia fashion. (mediaumat.com, 20/9/2012)