Showing posts with label World Towards Khilafah. Show all posts
Showing posts with label World Towards Khilafah. Show all posts

Tuesday, June 03, 2014

Together Everyone Achieve More

http://www.dragonbridgecapital.com/
November 2013, saya dinyatakan pindah tim. Awalnya saya berada di tim fakultas dan akhinya saya dipindahkan ke tim fungsional. Tim Kontak Aktivis. Tim yang tugasnya mendakwahkan Islam di kalangan para aktivis kampus. Mungkin, sekilas tim ini terlihat elit karena anggotanya pun sedikit. Tetapi, ternyata perjuangan mereka juga berat. Dan saya akhirnya menyadari, butuh waktu 3 tahun sampai akhirnya saya pantas diamanahi berada di tim ini.

Saya pun belajar bagaimana interaksi dengan aktivis. Jarang kami bisa berdiskusi karena kesibukan mereka yang padat. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah ada satu atau dua orang, meskipun jarang juga yang sepakat dengan ide yang kami bawa. Tapi, tak apa. Setidaknya kami diberi waktu menyampaikan ide kami. Awalnya di tim ada empat orang termasuk saya. Ada mbak Dina, Kholish dan Salma. Beberapa waktu kemudian ada Che Lyn. Setelah itu, Salma pindah karena sakit, Kholish juga pindah tim karena punya amanah baru dan Che Lyn harus pulang ke Vietnam. Kemudian masuklah personil baru. Anak-anak kecil yang luar biasa. Ada Yeni, Ummu, Khonsa dan Titin. Petualangan baru saya pun dimulai bersama empat anak ini.

Setiap kali rapat, selalu saja ada hal-hal baru yang dicetuskan. Rasa lelah karena harus keliling kampus ke UKM setiap hari terhapus ketika rapat dengan ide-ide kreatif bahkan terkesan absurd. Ummu selalu bisa jadi moodbooster untuk semuanya. Mbak Dina yang selalu menjelaskan apa adanya tapi tidak menggurui, Khonsa dan Titin yang selalu kompak ngikutin imajinasi Ummu. Dan Yeni dengan gayanya sendiri. Saya? Jadi cheerleader hehe, gak ya. Saya juga ikut meramaikan.

Ya, meskipun begitu tentu PR kami masih banyak. Begitupun PR dakwah ini. Menyadarkan umat bahwa sistem Demokrasi hari ini adalah penyebab kerusakan yang terjadi di seluruh dunia. Sistem Demokrasi yang telah memuluskan jalan bagi sistem ekonomi liberal untuk terus menjajah negeri-negeri dengan sumber daya alam yang banyak. Sistem Demokrasilah yang membuat sebuah negeri menjadi negara Korporasi termasuk Indonesia. Maka, sudah saatnya sistem busuk dan rusak ini diganti dengan sistem yang lebih manusiawi yakni sistem yang berasal dari Penciptanya manusia, Allah SWT. Karena semesta ini milik Allah. Saya, Anda, kita semua juga milik Allah. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk menolak aturan dari Allah.

Wallahu 'alam bi ash shawaab

Shelter, June 3rd 2014. 09:37 AM. Nungguin Partner in Crime

Sunday, May 18, 2014

Berjalan Bersama Luka

 equinoxeles.blogspot.com
“Kau tidak akan bisa menjadi seorang Kage jika kau belum bisa menanggung beban seorang Kage”. (Gaara kepada Naruto)


”Selama dunia Ninja masih dengan sistem seperti ini, selama itu pula dunia Ninja akan selalu diliputi oleh kebencian”. (Yondaime Hokage kepada Naruto)


Setiap orang pasti memiliki masa lalu kelam. Memiliki luka yang mereka tanggung dan sakit hati yang mereka bawa dalam hidupnya. Setiap luka dan kesendirian selalu meminta tempat untuk berteduh. Dan setiap orang mencari tempat untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit dari hatinya.

Allah SWT. Berfirman :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal beum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al Baqarah [2] : 214)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (Al Baqarah [2] : 155)

Rasulullah SAW. Bersabda :
“Para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih kemudain generasi setelahnya dan generasi setelahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-hentinya ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun” (HR. Ahmad)

Dan benarlah hadist Rasulullah. Bahwa seseorang diuji berdasarkan kadar keimanannya. Dan yang tentu merasakan luka yang paling dalam dan sakit yang paling berat adalah para Nabi dan Rasul. Diantara mereka pun masih ada yang lebih berat lagi, yakni Ulul Azmi dimana salah satunya adalah Rasulullah SAW. sendiri. Dan benar pula bahwa manusia tidak akan berhenti diuji hingga ia berjalan tanpa kesalahan sedikit pun dan itu berarti tidak mungkin hidup manusia tidak diliputi dengan ujian. Namun, tentu terdapat perbedaaan antara orang-orang yang kuat imannya dengan yang tidak.

Orang yang kuat keimanannya kepada Allah, percaya bahwa ujian berupa luka dan rasa sakit merupakan bukti cinta Allah dan tempaan Allah untuk menjadikannya semakin kuat dan tangguh. Ia sadar bahwa ujian akan membuatnya menjadi orang yang lebih baik sehingga ia berusaha mencintai setiap ujian yang datang padanya meski itu berupa luka dan rasa sakit. Berbeda dengan orang yang tidak kuat keimanannya kepada Allah. Ia akan membenci ujian dan berusaha menyalahkan apapun yang bisa ia salahkan. Berlari dan terus berlari dari kenyataan hingga ia tidak menemukan jalan keluar selain jebakan kebencian yang tidak ada habisnya.

Hal tersebut wajar karena saat ini jebakan kebencian itu berada dalam sebuah jebakan yang lebih besar lagi, yakni sistem Demokrasi-Kapitalisme. Jebakan kebencian ini muncul dari segala penjuru tanpa peduli siapa yang terjebak di dalamnya. Dan akhirnya tak ada yang berpikir untuk keluar dari jebakan ini. Karena cinta dan benci adalah dua hal yang tidak jauh berbeda. Dua-duanya dapat bermuara pada luka dan menimbulkan rasa sakit. Semakin seseorang mencintai, kemungkinan dia terluka akan semakin besar. Hingga akhirnya dia tidak bisa memilih kecuali membenci. Namun, rasa sakit karena mencintai tidak sama dengan rasa sakit karena membenci.

Di luar sana, ada orang-orang yang berusaha menghancurkan kutukan kebencian ini dengan menghancurkan sistem Demokrasi-Kapitalisme dan menegakkan sebuah sistem baru yang akan memberikan cinta kepada semua orang, yaitu Khilafah. Mereka berdakwah tanpa henti. Dan berjalan bersama luka karena sistem dan luka yang harus mereka rasakan sebagai seorang pengemban dakwah. Itulah luka karena cinta. Namun balasannya tentu tak terkira. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Allah SWT berfirman :
“Allah tidak akan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya…” (Al Baqarah [2] : 286)

“…Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”. Mereka itulah orang yang mendapat keberkahan sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Baqarah [2] : 155-157)

Besi kuat karena tempaan. Manusia kuat karena ujian. Tak seorang hebat pun yang tidak lahir dari luka dan rasa sakit. Maka seseorang yang beriman tentu tak takut dengan luka. Karena luka adalah penghapus dosa. Dan sisi Allah mereka akan mendapatkan tempat terbaik, yakni Surga. Karena Allah tidak akan ingkar janji.

“Aku percaya, suatu saat akan ada masa dimana semua orang bisa saling memahami satu sama lain” (Jiraiya Sensei)


Shelter, May 18th 2014. 10:25 AM. Membayangkan langit di luar sana.
Backsound : Utsusemi an instrument by Takanashi Yasuharu

Sunday, May 11, 2014

Al Qur'an, Tak Sekedar Bacaan

photo by tumblr
Beberapa hari yang lalu, di kampus saya diselenggarakan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) tingkat Universitas. Namanya MTQ pasti yang diperlombakan adalah bacaan Al-Qur’an, hafalan, dsb. Selain itu, masih ada kaligrafi, debat Al Qur’an dan karya tulis. Acara ini emang rutin tiap tahun dilaksanakan oleh pihak kampus. UAKI (Unit Aktivitas Kerohanian Islam) universitas juga berperan dalam acara ini. Sebelum maju sebagai perwakilan fakultas di tingkat universitas, tiap fakultas mengadakan seleksi MTQ di fakultas masing-masing. Dari perwakilan inilah yang kemudian berlaga di kompetisi MTQ universitas. Namun sayangnya acara ini tidak terlalu banyak yang antusias. Yah, dimana-mana orang yang nonton konser mesti lebih banyak. Sedih juga sih karena mayoritas di kampus adalah kaum Muslimin. Tapi, partisipasi mereka untuk Islam hampir gak ada.
        Ngomong-ngomong soal Al Qur’an, Alhamdulillah sekarang makin banyak yang tertarik untuk membacanya. Apalagi para artis. Dan sekarang kampanye ke arah Islam semakin meluas. Misal aja nih ada ODOJ dan sebagainya. Mungkin selain ODOJ masih ada lagi. Di satu sisi, saya senang dan mengapresiasi. Adanya MTQ yang rutin dilaksanakan pun sebenarnya menunjukkan harapan kaum Muslimin terhadap Islam masih ada. Tapi, Al Qur’an kan diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Namanya petunjuk berarti tidak hanya dibaca tapi juga diamalkan. Sayangnya, sekarang banyak aturan dari Al Qur’an yang belum dilaksanakan. Seperti contoh ekonomi. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Tapi, faktanya sistem ekonomi hari ini ditopang oleh riba. Misal lagi, pembunuh yang membunuh dengan sengaja harus di qishash. Tapi, faktanya tidak diterapkan. Padahal, hukumnya sama wajibnya dengan puasa pada bulan Ramadhan. Contoh lain, laki-laki dan perempuan yang berzina harus dirajam atau dicambuk. Faktanya, banyak sekali yang sudah berzina tapi bebas-bebas saja berjalan dalam kehidupan ini padahal zina adalah dosa besar. Sama halnya dengan riba. Contoh lain, mengurusi jenazah adalah fardhu kifayah tapi banyak sekali jenazah yang tidak diurusi akibat tidak dikenali kerabatnya siapa atau tidak ada yang mau bertanggung jawab karena harus bayar macam-macam. Padahal, fardhu kifayah itu jika tidak ada yang melaksanakan maka seluruh kaum Muslimin berdosa. Di dalam Al Qur’an sendiri jelas terdapat seluruh aturan di seluruh aspek kehidupan. Mulai dari hubungan dengan Allah, diri sendiri sampai kenegaraan. Namun, saat ini kaum Muslimin masih belum banyak yang sadar bahwa Al Qur’an adalah solusi atas seluruh permasalahan.
Di dalam Al Qur’an juga Allah berfirman bahwa membuat hukum hanyalah hak Allah, tapi hari ini hukum dibuat oleh manusia. Sistem yang memperbolehkan hal itu bernama Demokrasi. Dan kaum Muslimin (masih) mengamininya. Maka wajar jika hari ini kaum Muslimin hanya mengambil Al Qur’an seluruhnya untuk dibaca. Sementara hukumnya yang seharusnya dijalankan secara kaffah hanya diambil sebagian-sebagian saja. Al Qur’an begitu diagungkan namun hanya sebatas bacaan. Setelah dibaca, ia disimpan di lemari dan tidak direnungi serta dijadikan acuan ketika ada masalah. Untuk masalah negeri ini, para pemimpin negeri ini sekalipun Muslim, mereka hampir tidak pernah melirik Al Qur’an untuk dijadikan solusi. Sungguh ironis. Padahal, mereka meyakini Al Qur’an berasal dari Allah.
Namun, ada orang-orang yang tidak ingin Al Qur’an hanya sekedar menjadi bacaan. Mereka ingin menerapkannya. Tapi, ternyata hal tersebut tidak mudah. Karena orang-orang tersebut justru dilarang oleh mereka yang setiap harinya membaca Al Qur’an. Ya, orang-orang yang mengagungkan Al Qur’an dengan membacanya setiap hari justru menghalangi orang yang ingin menerapkan isi Al Qur’an dalam kehidupan. Apakah orang yang membaca Al Qur’an itu bukan Muslim? Tentu saja tidak. Mereka Muslim. Dan tidak sedikit yang memiliki ilmu tentang Islam. Namun, mereka membenci orang yang ingin menerapkan Al Qur’an.
Saya sendiri juga heran. Kenapa membaca Al Qur’an yang sunnah mengalahkan penerapan Al Qur’an yang sudah jelas-jelas wajib? MTQ selalu diselenggarakan. Tetapi, ketika isi Al Qur’an ingin diterapkan di seluruh penjuru dunia, mereka ramai-ramai melarang. Sebegitu menyeramkannyakah hukum yang berasal dari Tuhan Semesta Alam? Ataukah memang ada pemikiran lain yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi hipokrit?
Ya, Sekulerisme itu nyata kawan. Dan untuk membunuhnya, lawanlah dengan pemikiran yang menjadikan Allah tidak hanya Pencipta tetapi juga Pengatur. Tidak lain dan tidak bukan adalah Islam. Islam Kaffah. Bukan Islam moderat. Karena Islam tidak mengenal kata kompromi.
Allah SWT berfirman
“Hai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah ikut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Al Baqarah : 208)
So, tidak ada gunanya masih menerapkan Demokrasi yang hanya menjadikan Al Qur’an sebagai bahan bacaan tanpa penerapan. Saatnya mengganti dengan Khilafah, sistem pemerintahan yang diwariskan Rasulullah dan para Shahabat, yang menjadikan Al Qur’an dan as Sunnah sebagai pilarnya.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab
Shelter, May 10th 2014. H-20 menuju KIP.

Sunday, May 04, 2014

Potret Buram Pendidikan Indonesia

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Dulu, jaman SMA, tiap tanggal 2 Mei, pasti kelas saya jadi grup paduan suara untuk upacara tingkat Provinsi di kantor Gubernur. Kenapa? Karena sekolah saya yang paling dekat dengan kantor Gubernur haha :D Sayangnya, semua acara tersebut tidak lebih dari ceremonial belaka. Kenapa? Karena ternyata saat ini potret pendidikan di Indonesia belum menemukan titik cerahnya.
Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ternyata tujuan itu seperti pepatah jauh panggang dari api.
Seiring dengan berjalannya waktu saya banyak belajar dari kejadian yang terjadi di sekitar saya. Dulu, zaman saya SD-SMA, pendidikan masih terjangkau. Tapi, setelah saya masuk perguruan tinggi *padahal negeri* ternyata pendidikan tidak lagi menjadi kebutuhan primer tetapi tersier. Karena untuk sekolah itu perjuangannya luar biasa. Ngumpulin duit berjuta-juta. Mulai dari TK-kuliah. Miris sekali melihat banyak generasi muda yang harusnya duduk di bangku sekolah, tapi karena mereka tidak memiliki biaya maka berakhirlah semua impian mereka. Okelah ada beasiswa macam BOS atau Bidik Misi. Tapi, ternyata tidak semua orang *yang pantas menerima* bisa menikmatinya. Justru, orang yang sebenarnya mampu yang mendapatkan beasiswa untuk orang yang tidak mampu. Masya Allah. Ini namanya terlalu. Tapi, ini fakta. Pendidikan semakin lama semakin langka hingga muncul anekdot, “Orang miskin dilarang sekolah”. Dan ini pula yang menjadi salah satu lingkaran setan kemiskinan di negeri ini. Kenapa? Ketika ditanya, kenapa dia tidak bisa berobat? Dia miskin. Kenapa dia miskin? Tidak punya pekerjaan. Kenapa tidak punya pekerjaan? Tidak punya pendidikan. Kenapa tidak punya pendidikan? Karena dia miskin. Akan selalu seperti itu. Berputar di situ-situ saja. Seolah kemiskinan  adalah warisan dari orang tua. Semakin hari yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Memang di dunia ini takkan ada orang kaya saja, tapi kalo orang miskinnya itu beranak cucu, turun-temurun, itu namanya apa? Out of mind kan?
Belum lagi dari sisi output. Hari ini pendidikan mencetak generasi pragmatis bin materialistis. Karena memang masuknya saja mahal. Ini juga kali ya yang bikin orang korupsi. Kalo udah jadi wakil rakyat pada balik modal, karena pengorbanannya juga gak tanggung-tanggung. Sama kayak pendidikan hari ini. Dan yang paling parah akhirnya generasi ini gak ada lagi yang mikirin soal masa depan negerinya. Mereka sibuk ngejar mimpi-mimpi mereka sendiri. Bahkan mereka lebih bangga bekerja di perusahaan asing karena gajinya tinggi *padahal CEO-nya bisa puluhan kali lipat gajinya* dan imbasnya adalah generasi hari ini sangat susah diajak mikir permasalahan umat. Mereka bisanya kuliah, ngerjain laporan, tugas biar dapat IP perfect. Setelah itu kalo bosen, ikut ekskul yang having fun atau ikut dance cover, karaoke, dsb. Acara mahasiswa juga gak mencerminkan mahasiswa banget. Harusnya kalo mahasiswa itu penuh suasana panas forum-forum diskusi ilmiah, menelorkan ide untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Tapi, hari ini justru sebaliknya. Jika pun ada forum-forum seperti itu, semua tidak lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok tertentu tanpa sebuah tujuan jelas. Boro-boro mencerdaskan, yang ada malah menjerumuskan. Forum ideologis? Jangan ditanya. Jauh dari Allah? Biasa. Udah sampai tingkat parah generasi negeri yang katanya Zamrud Khatulistiwa ini.
Lalu, kenapa semua ini bisa terjadi? Ya, semua gak lepas dari atasnya. Apalagi kalo bukan kebijakan sistem yang diterapkan hari ini. Lewat kurikulum, pendidikan hari ini didesain super matre karena dalam sistem kapitalis, apa yang bisa dijual ya dijual termasuk jasa pendidikan. Saya juga sampai miris, ketika institusi pendidikan udah gak ada beda dengan convenient store macam Alfa Mart atau Indomaret. Padahal, pendidikan adalah ranah yang harusnya lebih mulia dari sekedar tempat berbelanja jasa pelayanan. Pendidikan adalah dunia dimana akan dicetak orang-orang yang membangun peradaban dunia. Pantas saja, kebijakan di negeri ini semua hasil dagang. Pendidikannya aja gitu. Wajar jika outputnya adalah orang-orang yang sangat oportunis. Asal ada manfaat materi, semua halal. Ya, sistem Demokrasi-Kapitalis yang diterapkan hari ini meniscayakan semua hal itu. Padahal, negeri ini dihuni hampir 60% oleh usia produktif termasuk anak-anak usia sekolah. Tidak hanya itu, negeri ini mayoritas Muslim, tapi justru kaum Muslimin di negeri ini bener-bener terpuruk. 11-12 sama kaum Muslimin di belahan dunia lainnya.
Sejak Khilafah –sistem pemerintahan Islam- runtuh pada tahun 1924 di Turki, keadaan kaum Muslimin sangat jauh dari kata “baik”. Lihat saja, penjajahan dihadapi dimana-mana, mulai dari fisik sampai penjajahan pemikiran lewat invasi politik dan budaya. Dan semua ini kerap datang melalui dunia pendidikan. Saya pun pernah menjadi korban. Apalagi saya juga berada di Fakultas Ilmu Budaya. Dan setiap hari saya melihat bagaimana kagumnya teman-teman saya terhadap budaya dari luar negeri. Tidak hanya fakultas saya, tapi juga semua fakultas mendambakan untuk bisa mengecap pendidikan di luar negeri. Tapi, setelah pulang mereka justru menjadi agen asing. Ya, beginilah kondisi kaum Muslimin tanpa Khilafah.
Sangat berbeda ketika Khilafah ada. Dalam Daulah Khilafah, pendidikan adalah salah satu dari 3 kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar yang juga harus dipenuhi selain kebutuhan pokok. Sehingga Negara wajib memenuhi kebutuhan dasar tersebut untuk seluruh warga Negara, baik Muslim maupun Non Muslim, baik miskin maupun kaya. Semua diperlakukan dengan cara yang sama. Pendidikan diberikan secara murah bahkan gratis kepada seluruh warga Negara. Sehingga tidak ada lagi orang yang berpikir bahwa pendidikan adalah alat untuk mencari uang. Tetapi sebaliknya, pendidikan adalah untuk mencerdaskan. Sehingga sejarah mencatat bahwa peradaban di bawah naungan Islam adalah peradaban yang agung dan mulia. Banyak ilmuwan dan para ahli yang lahir dari sistem pendidikan Islam di bawah naungan Khilafah, sehingga adalah sebuah kebodohan yang mengatakan bahwa Khilafah adalah utopia belaka. Justru Demokrasilah yang utopia. Demokrasilah Pemberi Harapan Palsu karena sejak diterapkan, Demokrasi tidak membawa perubahan apapun selain perubahan kepada kehancuran umat manusia.
Sudah saatnya berjuang bersama kelompok yang konsisten memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Rasyidah. Bukan untuk satu atau dua orang, pun untuk kelompok tertentu tapi untuk seluruh umat manusia. Saatnya ganti rezim, ganti sistem. Kick Democracy, struggle for Khilafah. Allahu Akbar!
Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Shelter, May 4th 2014. Teringat demo di depan rektorat hari Jumat.
Backsound : Trust in Allah by Saif Adam.

Friday, May 02, 2014

Hajimeyou!

Ketika kebenaran dikembalikan kepada persepsi masing-masing orang, tentu caranya akan berbeda-beda dan bisa jadi satu dengan yang lain akan saling menghabisi atas nama kebenaran yang diusung kepala masing-masing. 

Uchiha Madara ngebet banget pengen nguasain dunia untuk perdamaian dengan rencana Tsuki no Me. Tapi, dia gak nyadar kalo cara yang dia lakukan untuk mencapai perdamaian (versi kepalanya Madara) itu justru menimbulkan kekacauan dengan adanya Perang Dunia Shinobi IV.

Begitu juga dengan hari ini. Orang-orang senantiasa berkonotasi dengan hal-hal yang menurut perasaan mereka adalah baik. Seperti kata perdamaian. Konotasinya baik. Tapi, untuk mencapai hal itu digunakan cara yang merusak. Dengan penerapan Demokrasi yang justru membuat orang lain tanpa sadar merampas hak orang lainnya untuk mendapatkan kebebasannya sendiri.

Sayangnya, hidup ini bukan fantasy macam Naruto. Tapi, dalam cerita kehidupan selalu ada orang-orang seperti Madara dan Naruto. Orang yang niatnya baik tapi caranya salah. Dan orang yang memperjuangkan apa yang diyakininya untuk masa depan yang lebih baik dengan jalan yang benar. 

Dan kebenaran itu tidak mungkin datang dari tempat dimana perbedaan selalu ada. Ya, kebenaran tidak datang dari sisi manusia. Keberadaan hanya datang dari sisi Yang Maha Benar. Allah SWT. Dan karena keyakinan kita akan kebenaran itulah maka kita memilih untuk memperjuangkannya.


Saatnya memilih kebenaran bukan mencari pembenaran.

Finally, setelah sekian lama akhirnya bisa nulis lagi. And see, tulisannya bener-bener random :D Demo, daijoubu. Selama bisa menebar hikmah dan ibrah, gak masalah ^_^
Shelter, April 30th 2014. Malam Mayday.

Backsound : Goodbye to Onaji Kurai Thank You

Sunday, March 16, 2014

Saatnya Mahasiswi Bersuara

            Gak terasa sudah seminggu sejak diselenggarakannya Panggung Politik Mahasiswi di kota saya. Acara ini mengusung tema, Indonesia Lebih Baik; Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah. Dan untuk pertama kalinya saya yang terbiasa di belakang layar akhirnya nampang juga, haha. Tapi, saya gak bakal bahas itu kok.

Mahasiswa dan Pemilu
Tahun ini merupakan tahun politik bagi Indonesia. Kenapa? Karena tahun ini akan diselenggarakan Pemilu untuk memiliki calon legislatif (DPR, DPD) serta calon presiden dan wakilnya. Ajang yang sering disebut-sebut sebagai Pesta Demokrasi Akbar ini emang diselenggarakan 5 tahun sekali. Tapi, sepertinya animo masyarakat terkait Pemilu turun drastis dengan meningkatnya angka golput sejak Pilkada beberapa waktu silam. Namun, perlu diingat bahwa Negara ini memiliki jumlah pemuda yang sangat besar. Dan sebagian diantaranya adalah mahasiswa. Mahasiswa dengan latar belakang intelektualitas yang dimiliki mempunyai posisi strategis dalam Pemilu. Suara mereka termasuk dalam suara yang diperhitungkan. Jadi, gak heran kalo para caleg dan bahkan capres juga rame-rame ngegaet mahasiswa di parpolnya untuk menyukseskan langkah mereka di Pemilu mendatang.
Sayangnya mahasiswa hari ini tidak cukup cerdas untuk melihat permasalahan yang ada. Karena sebagian belum mampu menentukan sikap atas perpolitikan yang terjadi. Padahal, sebenarnya mereka memiliki peran strategis untuk mengawal perpolitikan bangsa. Sayangnya, pragmatisme yang ditanamkan melalui sistem pendidikan membuat para mahasiswa hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak sedikit yang apatis terhadap politik. Mereka lebih banyak memilih untuk tidak peduli. Jika pun tau mereka akan pura-pura tidak tahu. Entah untuk menyelamatkan diri atau karena memang terlalu lelah dengan beban perkuliahan. Bagi yang hanya bisa membebek, mereka akhirnya dijadikan mesin pencetak suara. Dan bagi mereka yang terjebak dalam hipnotis Demokrasi, akan memberikan sejuta harapan mereka kepada salah satu caleg atau capres partai dengan harapan bahwa suatu saat harapan itu akan terwujud. Sedang sisanya ada yang golput karena tidak percaya dan sudah sangat apatis terhadap perpolitikan bangsa ini.

Demokrasi, Bukan Hanya Sekedar Memilih Pemimpin
Masih banyak pemuda yang menganggap bahwa Demokrasi adalah proses pemilihan pemimpin. Sehingga para pemuda, khususnya mahasiswa masih ada yang menggembar-gemborkan kampanye Anti Golput dan sebagainya. Padahal, sejak SD kita sudah diajarkan tentang definisi Demokrasi, yakni pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Artinya kedaulatan ada di tangan rakyat. Itu berarti pula bahwa rakyat yang berhak membuat hukum. Akhirnya dipilihlah wakil rakyat untuk menjadi pembuat hukum yang nantinya akan menduduki kursi DPR. Masa saya harus bilang kalo orang-orang hari ini gagal paham tentang definisi Demokrasi? Tapi, itu fakta. Dan lihatlah prestasi Demokrasi di negeri ini. Hampir seluruh sumber daya alam menjadi milik asing. Kita tidak lebih dari budak di negeri sendiri. Kekayaan yang harusnya kita nikmati hanya kita peroleh dengan menjadi buruh di perusahaan yang mengelola kekayaan tersebut. Para mahasiswa digiring untuk menjual ilmu mereka ke perusahaan-perusahaan swasta, khususnya asing. Pemuda tidak lebih dari mesin produksi. Mesin pencetak uang. Di sisi lain, liberalisme terus menguat. Pergaulan bebas tumbuh subur, aborsi meningkat, prostitusi menjamur, narkoba tak pernah berkurang, tawuran pelajar tak pernah ada habisnya. Rusaknya generasi menambah suram masa depan bangsa ini. Di sisi lain, para elit politik tak pernah peduli. Alih-alih memberikan edukasi pada rakyat, mereka justru menyuap rakyat untuk memberikan suara dalam Pemilu. Tak sedikit pula partai Islam yang akhirnya terjebak pragmatisme politik. Berharap bisa menegakkan Islam melalui parlemen, namun mereka justru mencelupkan diri mereka dalam jebakan yang dibuat oleh Demokrasi. Maka jelaslah bahwa Demokrasi itu rusak dan merusak. Rusak konsepnya dan merusak siapa saja yang menjadi pendukungnya.
Islam Memuliakan Peran Politik Pemuda
Hal ini berbeda dengan Islam. Islam sungguh memuliakan peran politik pemuda. Pemuda yang merupakan generasi penerus peradaban memiliki peran strategis dalam Islam. Islam dengan Khilafah akan mampu mencetak generasi visioner, generasi yang ahli dalam berbagai bidang, pun aktif dalam upaya mengkritisi penguasa yang menyimpang dari Syariat Allah. Dan ini tidak akan mungkin terwujud dalam sistem Demokrasi. Melalui sistem pendidikan akan dicetak generasi-generasi brilian yang akan menjadi ilmuwan sekaligus negarawan yang berdiri tegak di atas kebenaran, yakni ideologi Islam. Karena politik di dalam Islam bukanlah ajang rebutan kekuasaan, tetapi pengaturan urusan rakyat oleh Negara.
Sejarah telah mencatat bagaimana Islam mampu mencetak generasi visioner sejak masa Rasulullah hingga kekhilafahan terakhir yakni Khilafah Utsmany. Sebut saja Mush’ab bin Umair, Saad bin Muadz, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usamah bin Zaid, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Khawarizmi, hingga Muhammad Al Fatih. Mereka semua adalah tokoh besar dan generasi yang dicetak dalam Daulah Khilafah. Sangat berbeda dengan sistem Demokrasi yang justru mencetak generasi alay bin lebay yang sukanya hura-hura, having fun dan suka segala cara yang instan.
Islam juga akan melindungi generasi dari distorsi moral dengan sistem pergaulan. Didukung dengan dua suprasistem, yakni ekonomi dan politik sehingga para pemuda mampu menjadi generasi cemerlang pewaris peradaban gemilang.

Kick Democrazy, Stuggle For Khilafah
69 tahun bangsa ini merdeka dengan penerapan sistem Demokrasi yang bermacam-macam, namun kesejahteraan justru menjadi utopia yang semakin membuat negeri ini gersang dari kepercayaan. Maka sudah cukup tipuan ini memperdayakan kita, para mahasiswa. Saatnya membuang Demokrasi ke tong sampah peradaban. Karena sistem ini tak lebih dari ilusi.
Dan sebagai seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sudah saatnya kita mengambil kembali apa yang seharusnya kita genggam erat-erat, yakni Syariat Allah. Maka berjuanglah untuk menegakkannya kembali di bawah naungan Khilafah bersama jamaah yang juga memiliki visi melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.
Jika kau tidak ingin terbawa arus, maka ciptakanlah arus baru. Melawanlah atau kau akan kalah. Saatnya ambil bagian dalam sejarah menuju abad Khilafah Rasyidah yang kedua.

Khairunnisa, March 16th 2014. Salam Perjuangan, Salam Revolusi.
Saudarimu,
Ditri Ayu R.A.L.



Panggung Politik Mahasiswi adalah acara yang diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Acara ini berlangsung di seluruh Indonesia selama bulan Maret.

Friday, March 14, 2014

Cinta Ditolak, Akun FB Di-Hack

Saya aja gak percaya, tapi ini beneran. Judul di atas asli. Meskipun kelihatannya lebay bin alay. Trus, gimana ceritanya?
Dulu, Cinta Ditolak Dukun Bertindak. Kalo di jaman sosmed kayak gini ya seperti judul di atas. Haha, saya juga gak habis pikir. Padahal cerita itu udah lama. Ternyata dendamnya masih belum padam. Ceritanya, beberapa waktu lalu teman FB saya sempat kena hack sama seseorang yang ternyata dulu adalah teman sekolahnya waktu SMA. Motifnya dendam masa lalu. Haha, udah kayak beritain Buser aja :D Jadi si cowok dendam karena cintanya ditolak sama temen FB saya itu. Ya jelas aja, orang mbaknya udah paham Islam. Lagipula emang dianya juga gak ngaca. Cowok baik-baik gak bakalan ada yang sudi ngajak cewek yang dia suka untuk nyicipin maksiyat. Atau mungkin dia gak punya cermin kali ya buat ngaca? Ckckck… Hari gini? :D
Kalo saya boleh komen nih ya, peristiwa kayak gitu gak ujuk-ujuk ada. Semua emang karena ada sebuah sistem yang membuat kondisi jadi kacau-balau seperti hari ini. Atas nama cinta semua jadi legal. Termasuk ngobrak-ngabrik akun orang. Dan emang sih sekarang ini jaman dimana kebebasan menjadi sesembahan. Dipayungi oleh sebuah sistem bernama Demokrasi makin menjadilah kelakuan orang-orang hari ini. Mirisnya, mereka adalah Muslim.
Gitu deh realitas sistem Demokrasi dengan 4 pilar kebebasannya, yakni kebebasan berkeyakinan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkepemilikan. Gak ada lagi tuh kata halal-haram. Yang penting bebasss. Dan di sinilah rusaknya Demokrasi. Karena keputusan itu berada di tangan manusia. Padahal, kenyataannya manusia itu lemah, terbatas, serba kurang dan membutuhkan yang lain. Tapi, dengan “sok tau”-nya manusia bikin aturan sendiri. Gak Cuma rusak, tapi juga merusak. Buktinya? Ya, kayak cowok tadi. Cinta ditolak bukannya introspeksi diri, eh malah nge-hack. Malu-maluin banget.
Ini Cuma sebagian kecil dari realitas rusak dan merusaknya sistem Demokrasi. Masih banyak lagi realitas lain yang bisa kita temukan di kehidupan kita masing-masing kalo kita mau untuk mencermati. So, Stop Demokrasi Rusak dan Merusak. Ganti dengan Khilafah. Allahu Akbar!
Khairunnisa, March 6th 2014. 01:27 PM.

Setelah beberapa waktu vakum nulis karena sibuk di tim propaganda jadi Pembantu Umum. Alhamdulillah bisa nulis lagi ^_^

Thursday, February 20, 2014

Mencintai Itu Juga Dipelajari

“Cara tercepat untuk mendapatkan pengetahuan adalah dengan belajar”
(Syaikh Taqiyuddin An Nabhani)
            Quote ini saya temukan di kamar seorang Mbak ketika menginap di kontrakannya. Waktu itu saya belum tau kalo ternyata quote ini ada di dalam kitab Mafahim Hizbut Tahrir yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani. Akhirnya, quote ini saya tulis ulang dan saya tempel di dinding kamar kost saya waktu saya masih maba dulu hehe :D
            Quote itulah yang akhirnya memotivasi saya belajar bahasa Jepang yang merupakan jurusan saya di bangku kuliah. Karena pada awalnya saya sama sekali tidak tahu bahasa Jepang. Cuma tau dikit-dikit. Tapi kalo soal nulisnya, saya sama sekali gak bisa. Butuh waktu yang lumayan lama sampai saya benar-benar bisa bahasa Jepang. Akhirnya, saya pun menyukainya.
            Ngomongin soal cinta (lagi) nih. Haha, intermezzo. Tapi, semoga tidak menghilangkan ibrah. Karena cinta itu seluas langit dan samudera, mamen :D Oke deh, balik ke laptop eh pembahasan. Kalo orang Jawa bilang, cinta itu datang karena terbiasa. Kalo saya bilang, cinta itu bisa dipelajari. Karena belajar makanya terbiasa dan akhirnya cinta deh hehe *maksa
            Kalo ngomongin soal belajar mencintai, mungkin masih banyak yang mikir sebatas kepada pasangan alias rumah tangga kelak. Tapi, ada hal yang mungkin kita lupakan.
            Ingat gak waktu pertama kali kita mengkaji Islam? Mulai penasaran, habis itu nyari tau, berdiskusi dan mulai belajar mencintai segala sesuatu yang berbau Islam. Termasuk ketika mencintai jilbab yang kita pake disaat jilbab belum trend dan semua orang menertawakan kita dengan jilbab kita. Kita pun juga akhirnya harus belajar mencintai dakwah, halqoh, musyrifah, teman sekontrakan, teman seperjuangan dan semua hal yang dulunya asing bagi kita sebelum kita mengenal Islam.
            Semua itu adalah proses. Proses belajar untuk mencintai. Dimulai dengan mengenal kemudian berusaha untuk menerima meski terkadang harus merasakan sakit karena ada yang tidak sesuai dengan harapan. Tapi, kita tetap berusaha untuk membuktikan cinta yang sudah kita pelajari.
            Mungkin, terkadang kita merasa lelah, malas, frustasi atau bahkan ingin menyerah dan putus asa saat dakwah ini tak kunjung membuahkan hasil. Setiap hari ke kampus untuk kuliah. Setelah kuliah atau sebelumnya interaksi ideologi Islam dulu ke teman-teman kampus. Kadang ditolak, diajak ngobrol gak respon, sms gak dibalas, chat gak digubris, telepon gak diangkat dan berbagai macam kisah sedih nan menyayat hati. Namun, karena sudah terbiasa kita tetap cinta bahkan sekalipun itu menyakitkan. Karena rasa sakit itu dikalahkan oleh cinta. Dan kesemuanya itu kita pelajari.
            Jika kita bisa belajar mencintai makhluk yang jauh dari sempurna, kenapa tidak untuk belajar mencintai Allah Yang Maha Sempurna, mencintai RasulNya yang mulia dan mencintai jalan yang ditapaki oleh RasulNya (dakwah)? Masihkah kurang pelajaran dari para shahabat ketika mereka mengenal Islam dan belajar mencintai Islam dengan segenap jiwa mereka?  
            Begitulah cinta, begitulah dakwah, Kawan. Di sinilah kita belajar. Belajar mencintai dengan segenap hati dan pikiran kita. Untuk Allah, untuk RasulNya, untuk Islam dan kaum Muslimin.
            Jangan berhenti belajar. Jangan malas belajar. Karena tak satupun di dunia ini yang diperoleh tanpa belajar termasuk mencintai. Selamat belajar!

Wallahu a’lam bi ash shawaab

Khairunnisa, February 19th 2014. 04:59 PM. Kangen nulis.

Monday, February 17, 2014

Jumat Mubarak dan Hari Maksiat

Kemarin, Jumat 14 Februari 2014 bakal jadi unforgettable moment buat saya. Why? Apa karena kemarin adalah V-Day atau Hari Kasih Syahwat eh kasih sayang? Saya dikasih coklat dari cowok impian saya? Saya ketemu jodoh? Atau kecopetan? Haha, plis deh lebay banget. Tenang pemirsah, semua tebakan itu gak bener.
Jadi gini ceritanya *pasang tampang setajam Silet :D* Beberapa waktu kan heboh tuh menjelang V-Day. Saya sih kalem aja. Karena saya gak ngerasa hari kasih sayang itu Cuma ada 1 hari dalam setahun. Buat saya, berkasih sayang itu ya tiap hari. Padahal, baru aja saya mau ngajak partner in crime saya buat nyabot perayaan V-Day eh kemarin tepatnya di hari Jumat dan kebetulan juga tanggal 14 Februari yang dipercaya oleh banyak orang sebagai hari kasih sayang itu, Allah menunjukkan keperkasaanNya. Saya sampai merinding. Karena baru kali ini saya bener-bener ngerasa kalo bencana itu menghampiri saya. Meskipun bencana kemarin gak langsung terjadi di tempat saya.
Dini hari temen saya ribut-ribut pas nerima telpon dari bapaknya. Kata bapaknya Gunung Kelud meletus. Padahal, beberapa hari yang lalu masih status siaga. Eh, tau-tau udah waspada aja statusnya dan pada Kamis malam meletus. Dan letusannya gak main-main mamen, kedengeran sampe Jawa Tengah. Padahal, Gunung Kelud cuma membentang di 3 kabupaten di Jawa Timur. Tapi ledakannya sampai ke Solo dan Jogja. Belum lagi abunya yang sampe ke Jawa Barat. Nah, beberapa saat setelah teman saya nerima telpon, teman saya yang lain yang kebetulan lagi belajar di Pare, Kediri, SMS.
“Innalillahi wa inna ilahi roji’un, di Pare hujan kerikil”.
Saya langsung begidik. Wah, kalo hujan kerikil aja bisa, gak menutup kemungkinan hujan linggis juga bakalan kejadian *hehe, ini mah imajinasi saya aja* Yah, begitulah ketika Allah berkehendak. Gak akan ada satupun yang bisa menghalangi. Dan bagi saya, kemarin itu adalah hari peringatan khususnya kepada yang Muslim yang semakin hari semakin jauh dari Allah. Gak cuma sholat, tapi yang lebih besar daripada itu yakni hukum yang diterapkan oleh Negara.
Hari ini bisa kita lihat bagaimana latahnya kaum Muslimin di negeri ini membebek kepada orang-orang kafir. Demokrasi dipuja-puja, sistem ekonomi Ribawi bin Kapitalis Neo Liberal dipertahankan mati-matian, Tahun Baru Masehi dan V-Day dirayain besar-besaran, miras legal dan masih banyak lagi kelatahan yang lain yang diperbuat di negeri dengan jumlah kaum Muslimin terbesar di dunia ini.
Allah SWT berfirman :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Rum : 41)
Selain itu, sistem di negeri ini juga gak memadai untuk menangani segala macam bencana. Sumpah lamban banget. Padahal, apa sih yang kurang di negeri ini? Kurang duit kali ya? Gak ngerti deh pemerintah itu gimana modelnya.
Musibah iya. Tapi, bukan berarti gak ada antisipasi. Karena gak semua di dunia ini qadha atau sudah ditetapkan sama Allah. Tapi ada pula hal yang bisa diupayakan. Jika emang sudah berupaya dan tetap terjadi musibah ya berarti ada yang harus dimuhasabahi. Lha kalo sekarang? Kayaknya gak hanya muhasabah, tapi negeri ini juga harus berbenah. Bukan hanya sekedar ganti rezim (orang) tapi juga ganti sistem. Kalo kata musyrifah saya sih, Indonesia harus di-kelud (disapu alias bersih-bersih). Gak hanya dari bencana, tapi juga dari hukum kufur yang masih diterapkan di negeri ini. Biar gak ada lagi hari maksiyat yang diklaim sebagai hari yang wajib dirayain apalagi di hari yang mabruk seperti hari Jumat. Sudah saatnya Indonesia Berjaya dengan Khilafah Islamiyah. Sistem yang berasal dari Allah semata. Maha Suci Allah dan segala Puji hanya bagiNya.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Khairunnisa, February 15th 2014. 05:52 PM. Menjelang Maghrib.



Tuesday, February 11, 2014

Nikah, Ehm...

Jam di laptop saya udah nunjukkin pukul 21:12 WIB. Gak tau kenapa saya pengen “menyampah” soal beginian. Anggap aja kepala saya lagi gak beres *eh Haha, lebay banget ya. Cuma share aja pengalaman yang saya dapat kemarin dari short course Sistem Pergaulan dalam Islam. Nah, buat yang belum tau, selamat deh. Udah tau, gratis pula dari saya :D
Yup, Islam itu perfect. Ngatur dari bangun tidur sampai tidur lagi. Termasuk soal pergaulan. Makanya itu juga di dalam Islam itu muncul deh larangan mendekati zina (pacaran), khalwat (berdua-duaan dengan orang yang bukan mahram), ikhtilat (bercampur-baur laki-laki dan perempuan tidak untuk sesuatu yang dibenarkan syara’), dsb. Dan karena itu juga di dalam Islam ada tuh yang namanya taaruf,khitbah dan nikah.
Saya juga gak tau sejak kapan pembahasan orang-orang di sekitar saya jadi berubah tentang nikah-nikah. Gak di dunia nyata, di dunia maya juga gak kalah rame. Bahkan lebih rame. Sampe akhirnya keliatan dah semua isi hati orang-orang. Saya ngerasa mendadak punya indera keenam haha :p Dan beberapa tahun lalu saya sempat jadi korban bully juga. Dan sepertinya saat itulah saya merasa kalo hidup saya sudah berubah *haha lebaynyaaa :D*
Oke nih balik ke celotehan saya soal nikah. Mungkin masih banyak yang berpandangan sama dengan saya sekarang soal nikah. Bayangannya adalah bahagia every time. Flowering every day. Mungkin karena dulunya suka drama Korea kali ya? *eh Kalo emang masih seperti itu bayangannya, itu tandanya masih belum siap 100% buat nikah. Makanya ini juga yang bikin saya gak begitu suka ngebahas nikah kalo yang dibahas hanya masalah yang “sweet” aja. Karena nikah itu gak seperti pacaran. Meskipun gak menutup kemungkinan yang udah nikah juga bisa menciptakan suasana seperti indahnya pacaran. Cuma, kalo buat saya, menikah itu adalah sebuah proses seumur hidup. Sama seperti dakwah. Butuh ilmu yang cukup sebagai bekal dan sebuah azzam (tekad) yang kuat untuk selalu belajar agar bisa menjejaki setiap langkah dan jalan yang akan dilalui nantinya. Nah, kalo ternyata mikirnya masih tentang “aku dan kamu”, apa bedanya sama pacarannya anak ABG? Apalagi kalo yang mikir gitu ternyata aktivis dakwah? Meskipun emang nikah itu perkara individu. Tapi, ketika menikah kewajiban dakwah dan dakwah jamaah tetap gak akan lepas dari pundak selagi Khilafah belum tegak. Jadi, kalo mo nikah ya mikir juga ntar kalo menghadapi masalah gimana, dakwahnya mau dibuat seperti apa, infaq di jalan dakwah bakal diatur seperti apa, mendidik anak bakal seperti apa, dsb.
Dari short course kemarin saya belajar banyak. Apalagi dari mereka yang udah berpengalaman. Entah yang sudah menikah atau yang sudah pernah menjadi perantara untuk menghubungkan dua orang yang akan menikah. Meskipun kemarin saya keliatan mesem-mesem sembari ngelamun, itu gak lebih karena ada yang dicengin di sebelah saya haha. Dan saya gak ngelamun sih. Mikir lebih tepatnya. Sambil berusaha mengaitkan dengan semua fakta yang sudah saya temui. Meskipun emang ilmu saya jelas belum mencukupi. Untuk beberapa waktu mungkin sempat terbersit keinginan untuk nikah, itupun gegara bully orang-orang. Tapi, setelah kemarin saya akhirnya jadi malu sendiri haha. Menikah itu gak gampang seperti ngebayangin Lee Yong Jae sama Han Ji Eun di Full House atau Lee Jae Ha sama Kim Hang Ah di King 2 Hearts. Menikah itu butuh persiapan yang matang dan sebuah perencanaan yang serius tentu saja. Gak hanya sekedar pengen karena kebelet ngeliat situasi sekitar udah berubah drastis. Dan yang paling penting adalah do’a semoga tidak salah pilih. Karena nikah itu bukan buat sehari dua hari, tapi buat seumur hidup. Nikah itu gak seindah Drama Korea, mblo. Dan karena nikah itu dibangun berdasarkan keridhoan, so, hatinya harus disiapin. Dan hati yang siap adalah hati yang benar-benar terpaut dengan Sang Pemilik Hati, Allah SWT.
Terlepas dari apa yang sudah terjadi di keluarga saya. Belajar menerima keadaan bahwa terkadang tidak semua pernikahan berlangsung seumur hidup, tapi Allah Maha Adil. Jodoh itu adalah bagian dari rizki sehingga Allah pasti akan memberi. So, gak perlu galau. Fokus aja dakwah, menyelesaikan permasalahan umat dengan Islam Kaffah. Ketika Khilafah tegak, pasti Khalifah gak bakal tinggal diam ngeliat jomblo-jomblo pada menggalau *haha
So, Khilafah adalah solusi atas segala permasalahan. Jadi, berdakwah menegakkan Khilafah justru mempermudah jalan menuju pernikahan barokah dan bahagia. Percaya deh :D
Dulu, kata teman-teman SMA, saya kalo bahas soal cinta bener-bener teoritis. Hehe, maklumlah, saya kan gak pernah nyicipin pacaran. Nikah juga belum. Jadi emang semua teori. Tapi, buat saya itu gak masalah. Belajar kan bisa dari pengalaman orang lain. Gak harus ngalamin sendiri. Meskipun sense-nya beda kalo dialami sendiri. Buat saya cukup dah :D
Kalo kata Musyrifah saya, kalo nikah itu harus bener-bener disiapkan ilmunya. Dan harus pilih-pilih. Kalo pun udah ketemu orangnya, kedekatan dengan Allah harus terus dijaga, jangan sampai perasaan memiliki semuanya merajai hati kita dan akhirnya ketika Allah mengambil kita malah kecewa.
Kata salah satu mbak yang suka mampir ke kontrakan bilang, because soulmate is made not found :D
Kalo kata saya sih, jodoh itu adalah orang tepat yang datang di waktu dan tempat yang tepat dengan cara yang benar (sesuai syariat) :D
Jadi, buat yang galau pengen nikah. Siapkan baik-baik semua yang perlu disiapkan. Lahir-batin. Karena gak lucu kan kalo mau berlayar gak punya bekal? Dan pastikan jalan menuju pernikahan itu menempuh jalan yang syar’i, bukan dengan pacaran, hubungan tanpa status, teman tapi mesra dan sejenisnya. Buang aja ikatan macam gitu ke laut. Dan jangan lupa do’a adalah senjata seorang Muslim yang gak akan pernah meleset. Selamat memantaskan diri, wahai Jomblo! Say No To Valentine Day and Say Yes to Islamic Revolution :D

Sekian dulu celotehan dari saya. Semoga bermanfaat. Wassalam.

Ditri A.R.A.L. Khairunnisa, February 10th 2014. 09:46 PM. Ngumpulin inspirasi.

Monday, February 10, 2014

Say NO

Saya jadi keinget pas survey tempat buat Mabit bulan lalu. Sebuah kota yang indah di atas gunung. Pas lewat di tempat-tempat yang memang banyak sekolah, selalu ada tulisan kampanye Anti Narkoba. Banyak slogan-slogan yang kemudian menghiasi poster-poster tersebut. Yah, yang anak muda banget-lah. Contohnya, “Keep Calm and Say No to Drugs” dan semacamnya. Kalo di kampus saya sih banyakan slogan-slogan say No untuk korupsi, nyontek dan sebagainya.
                Saya juga gak tau sejak kapan slogan yang pake kata “Say No” itu mulai bertebaran. Nah, yang paling santer beberapa waktu ini adalah Valentine Day. Yup, hari Valentine atau Hari Kasih Sayang ini udah jadi unofficial special day di Indonesia Raya. Kenapa? Karena pada faktanya negeri ini merayakan. Oya? Iya dong. Coklat marak, bunga laku keras, dan satu lagi bro. Kondom *yang ini saya gak bohong. Suer dah*
                Balik lagi nih soal “Say No”.  Kalo menurut saya sih, ini sebagai bentuk penolakan. Ya iya, soalnya emang orang-orang udah gerah dengan banyaknya kejahatan dan masalah yang ada. Kalo remaja sih emang Narkoba dan Free Sex. Tapi, kalo dilihat-lihat, menjamurnya free sex dan narkoba itu bukan sesuatu yang ujuk-ujuk ada. Dengan bim salabim tiba-tiba generasi muda udah gandrung dengan begituan. Kalo yang masih waras sih pasti gak mau.
                Saat ini kita emang gak bisa menutup mata dengan serangan yang sebenarnya gak kasat mata. Waduh, susah banget bahasanya. Maksud saya, saat ini di sekitar kita khususnya anak-anak muda tengah menjamur berbagai serangan pemikiran yang justru mencoba menghancurkan masa depan mereka. Tapi, karena ngikut trend, mereka justru nganggap kalo itu semua bagus dan bikin mereka tambah kece. Maklumlah, masa muda adalah masa yang paling berapi-api kalo kata Bang Haji. Masa muda adalah masa-masa mencari jati diri. Namun, pihak yang kemudian bertanggung jawab justru malah lepas tanggung jawab. Lingkungan dan terlebih Negara.
                Keluarga yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru gak ada. Orang tua sibuk kerja, di rumah yang ada Cuma tivi. Tayangannya? Jangan ditanya. Isinya hampir semua sampah. Belum lagi mewabahnya sosmed dan internet. Situs porno setiap saat bisa diakses. Dan prakteknya sama siapa lagi kalo bukan pacar? Kapan? Ya, pas Valentine Day. Buat apa? Nunjukkin cinta dong. Apalagi? Itu dilakukan gak Cuma yang udah tua kayak saya *eh maksudnya udah dewasa, tapi yang masih belasan juga udah berani kayak gitu. Rokok? Jangan ditanya. Sekarang, anak SD juga udah banyak yang ngerokok. Mabok? 11-12 deh.
                Makanya saya langsung miris. Bagaimana mungkin generasi muda bisa dilindungi dan menjadi harapan bangsa di masa depan kalo ternyata dan keluarga, lingkungan sekitar dan Negara gak bisa menjaga mereka? Saya bersyukur, di usia saya yang masih muda, saya bisa menemukan jawaban dari pertanyaan saya berkat orang-orang yang saya temui. Tapi, kalo dulu saya ketemunya sama orang-orang gak bener? Gak tau deh bakalan jadi apa hidup saya sekarang. Memang, hidup itu pilihan. Tetapi, bukan berarti kita berlepas tangan untuk bisa menunjukkan pilihan hidup yang benar untuk orang lain. Karena bisa jadi mereka belum tau jalan mana yang akan mereka pilih.
                Kalo kita mau nyari biang kerok emang gak cukup hanya menyalahkan orang per orang. Kenapa? Karena ternyata orang seperti saya sebutin di atas itu udah banyak banget. Maka sebenarnya ini udah sistemik masalahnya. Ada yang salah dengan pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dan faktanya emang begitu. Saat ini yang mengatur kehidupan adalah sistem Demokrasi-Kapitalis. Sistem yang matre dan menghalalkan segala cara hanya untuk kepuasan jasmani. Negara mana peduli sama generasinya? Mereka kan juga nyari duit di sini. So, berlakulah hukum rimba. Kalo loe lemah, siap-siap aja bakal ditendang dari arena survival. Dan inilah yang terjadi hari ini.
                Lalu, bagaimana solusinya? Kembalilah pada solusi yang memang sudah khusus dibuat untuk manusia. Dan yang buat adalah Pencipta manusia, Allah SWT. Sejatinya, Allah sudah membuat aturan untuk manusia. Sayangnya, manusia justru mengabaikannya dan sok hebat dengan membuat hukum sendiri. Akhirnya, ya mereka juga yang hancur.
                Di dalam Islam, Negara berkewajiban mengurusi urusan rakyatnya. Negara menjaga rakyatnya. Apalagi generasi yang akan menjadi penerus peradaban. Islam mengatur dari A-Z. Dari individu sampai Negara. Negara (Khilafah) gak akan sembarangan membebaskan rakyatnya untuk berbuat sesukanya. Gak kayak sekarang.
                Islam punya sistem ekonomi yang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok dan kebutuhan dasar manusia. Islam punya sistem politik yang akan menentukan kebijakan yang selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan manusia. Islam punya sistem pergaulan yang membatasi lingkup pergaulan pria dan wanita hanya pada pernikahan dan mengatur interaksi mereka dalam kehidupan sosial. Islam punya sistem sanksi untuk mereka yang melanggar, seperti potong tangan untuk pencuri, cambuk dan rajam untuk yang berzina, hukuman mati untuk yang murtad, dsb. Semua itu bukan karena Islam kejam dan haus darah. Tapi untuk terjaganya kelangsungan hidup umat manusia.
                Jelas beda dengan sekarang kan? Keluar-masuk penjara, tapi justru tambah bejat. Lalu, apa yang diharapkan dari hukum buatan manusia? So, kalo mau bilang “Say No”, bilang Say No to Valentine Day, Say No to Capitalism, Say No to Democrazy, dan isme-isme rusak lainnya. Dan Say YES to Islamic Revolution!

Wallahu ‘alam bi ash shawaab


Khairunnisa, February 10th 2014. 06:04 PM. Azan Maghrib sedang bersahut-sahutan