Showing posts with label Pemuda. Show all posts
Showing posts with label Pemuda. Show all posts

Saturday, August 30, 2014

Pengalaman adalah Guru Terbaik

Seperti judulnya, ungkapan itu pasti udah terkenal banget buat yang dulu pas sekolah pernah belajar Bahasa Indonesia. Pengalaman mengajarkan seseorang tentang banyak hal yang belum tentu bisa ia dapatkan dimana saja ia inginkan. Seperti halnya yang saya alami.
Bulan November tahun lalu saya resmi dipindahkan di sektor dan tim lain meski masih dalam satu majal dakwah. Saya tidak menyangka akan dipindahkan di tim propaganda. Namun, setelah merasakan pengalaman dakwah dengan sasaran yang berbeda di tim tersebut, saya akhirnya terbiasa dengan suasananya. Setelah ini, saya pasti akan merindukan suasana rapat penuh imajinasi dan berbagai uslub dari adik-adik super. Saya juga akan merindukan keliling UKM se-universitas. Dari BEM fakultas sampai himpunan mahasiswa. Tidak hanya di dalam kampus, tapi juga di luar kampus. But, nothing last forever. Saya tidak selamanya di tim itu. Dan sekarang saya kembali di majal yang seharusnya saya berada. Tapi, saya tidak berharap kondisinya sama seperti saat saya meninggalkan tim saya yang lama. Saya tentu berharap semua akan lebih setelah saya kembali. Dan dengan pengalaman saya sebelumnya, saya berharap bisa mengubah tim lama saya ini menjadi lebih baik.
Saya akan merindukan kalian. Mbak Dina yang sekarang dapat amanah baru. Terima kasih untuk pengalamannya yang tidak terlupakan. Terima kasih untuk segala ilmunya. Jazakillahu khairan katsir, Mbak Din ^^ Tidak lupa untuk Kholish, meskipun tidak lama tapi banyak sekali memberi inspirasi terutama saat saya menuliskan sesuatu. Semua pasti setelah ngontak berdua sama Kholish :D Untuk uri Partner yang selalu bisa mengimbangi dengan bahasa yang ringan seperti kapas. Jazakillah untuk setiap keceriaan. You’re really a moodbooster ^^ Untuk Yeni, partnerku setiap hari Senin, jazakillah untuk aksimu yang gak pernah berhenti dan gak bisa diam, untuk cerita-cerita dan semua senyum yang pernah kita bagi (haha apaan sih?) plus duo Ocha-Titin yang selalu muncul dengan ide super imajinatif yang bikin saya gak pernah berhenti ketawa. I’ll gonna miss y’all.
Yang namanya obat akan lebih banyak yang pahit. Meski terkadang bisa manis. Tapi, bagaimana pun rasanya, biar cepat sembuh terkadang obat yang pahit itu dibutuhkan. Ungkapan lainnya, no pain no gain. Yah, mungkin untuk saat ini obat semacam itulah yang saya butuhkan untuk membuat saya lebih baik daripada sebelumnya. Belajar mencintai apa yang memang sudah diberikan olehNya, bukankah itu lebih baik daripada menyempitkan hati dengan selalu mencari jalan untuk melarikan diri? Ganbare!

Shelter, August 30th 2014. 08:50 PM.


Backsound : FT Island-Try Again

Friday, August 29, 2014

Episode; Aku dan Perang Mu'tah

Gak terasa udah tanggal udah hari Selasa aja. Udah dua hari sejak HUT Kemerdekaan RI. Haha, kenapa malah tiba-tiba bahas 17-an ya? Yah, mungkin karena emang masih hot *dari oven?*
Baiklah, daripada berlama-lama, saya mau refreshing. Kemarin berasa jadi alien. Hikikomori 8 jam di kamar. Sadar-sadar udah maghrib aja. Duduk nyari Kanji plus artinya sukses bikin kepala nge-dance *apaan sih?* Taihen da naa… But the day has over. Now, I have time to write, yeheet :D

Oke, kali ini saya mau cerita tentang apa yang saya kaji di halqah saya kemarin ba’da subuh. Ya, Daulah Islam. Kitab yang isinya tentang perjalanan Rasulullah mulai dari menjadi Rasul, membentuk kutlah, berdakwah, menegakkan Daulah Islam sampe keruntuhan Daulah Islam yang sekarang saya dan generasi Muslim hari ini merasakannya. Kacau-balau, porak-poranda, hancur-lebur. Tapi, gak tau apa Cuma saya dan segelintir orang yang ngerasain atau mungkin yang lain ada yang ngerasa tapi cuek aja, wallahu ‘alam

Pembahasan kemarin tentang Perang Mu’tah. Salah satu perang yang luar biasa diantara sekian banyak perang yang dilakukan kaum Muslimin selama penyebaran Islam. FYI, Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Bentuk jihad yang dimaksud di sini adalah perang. Tapi, itu gak sembarang perang. So, jangan samain kayak Israel nge-bom Palestine. That’s a huge different, dude. Sip, now let’s back to the topic. Tadi cuma trivia aja. Kalo mau bahas lebih lanjut, bisa ketemu saya :D

Perang Mu’tah adalah perang pertama kaum Muslimin melawan penguasa luar negeri di luar Jazirah Arab. Sebelumnya, perang yang dilakukan kaum Muslimin melawan kabilah-kabilah di Jazirah Arab. Seperti namanya, perang ini terjadi di Mu’tah, wilayah Syam (sekarang Suriah). Waktu itu Syam di bawah kekuasaan Romawi. Perang ini terjadi di bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriyah. Satu lagi, ini adalah perang pertama yang tidak dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Menurut saya pribadi, perang Mu’tah itu semacam Rectoverso-nya perang Uhud. Tapi, semoga ada istilah yang lebih bagus lagi. Dan perang ini sukses bikin saya nangis pas tau kisahnya. Meskipun di perang Uhud saya juga sedih tapi lebih banyak keselnya karena efek perang Uhud cukup bikin Rasulullah kewalahan untuk mengembalikan wibawa Daulah Islam dan kaum Muslimin. Saya juga akhirnya ingat kalo Mush’ab bin Umair meninggal di perang Uhud. Dan saya ngerasa katrok banget karena baru tau tentang perang ini soalnya dulu Cuma dapet cerita tentang perang Badar sama perang Uhud doang.

Sabda Rasulullah SAW yang paling bikin merinding di perang ini adalah setelah beliau menunjuk Zain bin Haritsah yang sudah seperti anak beliau sebagai panglima perang.
“Jika Zaid gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib yang akan memimpin pasukan. Jika Ja’far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang akan memimpin pasukan”.

Ya Allah, itu udah kayak tanda aja kalo 3 panglima dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin itu bakalan gugur sebagai syuhada. Air mata saya langsung jatuh gitu aja meskipun udah susah payah saya tahan. Dan yang bikin saya tambah terkejut adalah turut sertanya Khalid bin Walid di perang ini. Bukan lagi sebagai musuh tetapi sebagai salah satu dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin. Keren kan? :D

Perang ini emang gak mudah karena kaum Muslimin harus melawan 200.000 total pasukan Romawi plus Heraklius. Kaum Muslimin awalnya mau ngirim surat ke Rasulullah tapi kemudian Abdullah bin Rawahah bilang, “Wahai kalian, sesungguhnya kita tidak memerangi mereka karena jumlah, tidak pula karena kekuatan, pun karena banyaknya. Tapi, kita memerangi mereka tidak lain karena agama ini yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka, berangkatlah. Sungguh di sana akan kalian temukan, satu dari dua kebaikan, kemenangan atau syahid”. 

Akhirnya, kaum Muslimin berangkat. Tapi, karena pasukan yang sangat besar, tentu ini saat-saat yang sulit. Para panglima gugur sebagai syuhada. Terakhir, Panji diserahkan kepada Khalid bin Walid. Dengan strateginya, Khalid berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan memerintahkan membuat kamuflase debu seolah-olah pasukan kaum Muslimin bertambah jumlahnya. Hasil dari perang ini pun seri. 

Dari perang Mu’tah terlihat bagaimana loyalitas kaum Muslimin kepada Islam dan bagaimana loyalitas mereka kepada pemimpinnya. Terlihat pula keberanian para pasukan beserta yang melewati batas khayalan. Begitu pun para panglimanya, meski sudah dikabarkan syahid bahkan sebelum memulai peperangan, mereka tidak mundur selangkah pun. Bagi mereka, Surga adalah segalanya. Ridho Allah adalah cita-cita di atas cita-cita. 

Begitulah aktivitas sebuah Negara dengan tujuan yang jelas. Begitulah Islam mengajarkan kita. Meski sekarang opini tentang Khilafah terus diusahakan untuk redup oleh orang-orang kafir, tapi Allah tidak pernah tidur dan Allah tidak buta. Allah akan menjaga Islam lewat orang-orang yang Dia pilih yang lewat tangan mereka Islam akan kembali tegak. Is that you? Oh, no. That’s us! 

Last but not least, semoga kita termasuk di dalamnya. Generasi penjaga Islam terpercaya yang dicintai oleh Allah dan lewat tangan-tangan kita Allah memberikan pertolonganNya. Mari memantaskan diri and have a great day! 

Shelter, August 19th 2014. 09:26 AM. Try to love myself the way I am.

Sunday, June 15, 2014

Tomodachi*

Waktu kecil saya pernah dikasihtau, kalo misalnya ngeliat jam yang angka jam sama menitnya sama, berarti ada orang yang lagi kangen sama kita. Waktu itu sih saya cuek aja. Karena saya jarang ngeliat jam yang angka jam sama menitnya bertepatan. Tapi, beberapa waktu belakangan ini saya sering sekali melihat angka jam dan menitnya sama. Entahlah, mungkin kebetulan. Saya juga gak mau terlalu percaya. Kalo pun ada yang kangen sama saya, saya juga gak tau siapa. Tapi, kemarin saya benar-benar dapat kejutan. Kejutan kecil yang tetap saja sukses membuat saya senyum sendiri dan berbunga-bunga *eaaaaaa
          Kejutan-kejutan kecil itu datang dari sahabat-sahabat saya sewaktu SMA. Sahabat seperjuangan dalam mengarungi dan belajar tentang arti hidup yang sebenarnya. Dan saya baru sadar bahwa sudah hampir 4 tahun kami berpisah. Dipisahkan oleh cita-cita yang masing-masing kami kejar. Namun, ada cita-cita yang lebih besar dari itu, yakni cita-cita meraih ridho Allah SWT dengan penerapan SyariahNya secara kaffah dalam naungan Khilafah.
          Kejutan pertama datang dari sahabat saya sejak SMP. Fitri yang sering saya sebut Bu Dokter karena memang dia calon dokter. Saya masih ingat pertama kali kami bertemu ketika akan berangkat untuk daftar ulang masuk SMP. Kebetulan kami satu kelompok MOS dan sekelas sampai kelas 3 SMP. Karena itulah kami selalu bersama meskipun sebenarnya dia sudah punya sahabat dekat sejak kelas 1 SD. Kenangan tak terlupakan adalah saat kami pertama kali naik eskalator di mall. Waktu itu saking bahagianya ketika toko buku terbesar di kota kami baru saja dibuka. Sejak saat itu kami rajin kesana meskipun hanya sekedar melihat-lihat. Tidak hanya itu, kami selalu menabung untuk membelikan hadiah bagi teman-teman yang lain. Dia juga sering sekali mengajak saya pergi dan mentraktir saya es krim. Dia juga adalah siswa terpintar saat itu, khususnya Matematika. Sayangnya dia tidak terlalu bisa menjelaskan sehingga sayalah yang menjadi juru bicaranya untuk menjelaskan ke teman-teman yang lain. Tapi, Alhamdulillah sekarang sudah berbeda. Karena sekarang dia adalah seorang pengemban dakwah. Seorang dokter umat yang pastinya harus cerewet.
Dan saat SMA pun kami juga sekelas di kelas XI dan XII. Di akhir kelas XII kami pernah bermimpi untuk berjalan bersama di atas koridor Fakultas Kedokteran namun ternyata Allah memberi dia kesempatan dan saya berjalan di koridor fakultas lain. Dan diantara sekian banyak orang hanya dia yang selalu menelfon saya bahkan berjam-jam. Meski hanya sekedar bercerita tentang apa yang dia pikirkan. Satu lagi, dulu dia sangat pintar menulis puisi. Seberapapun aku mencoba membuat yang sebagus puisinya, tetap saja tak bisa menyaingi puisi buatannya.
Kemarin dia tiba-tiba bilang bahwa dia sangat merindukan saya. Saya bahkan tidak bisa membayangkan kenapa tiba-tiba dia lebay seperti itu. Sepertinya dia belum tahu bahwa saya adalah orang yang paling tidak bisa mengungkapkan perasaan dengan cara yang diharapkan orang lain. Saya hanya tersenyum sendiri. Semoga saja kemarin dia sedang membayangkan saya sedang tersenyum padanya. Makasih ya, Bu Dokter. Makasih buat kata-katanya. Makasih karena sudah membuat diri ini merasa berarti untukmu. Jazakillah khair. Uhibbuki fillah, ukhty <3
Kejutan kedua datang dari sahabat saya yang lain. Seperti Fitri, dulu dia selalu bisa saya andalkan. Meskipun awalnya kami tidak terlalu akrab. Nunung, sahabat Fitri sejak kelas 1 SD hingga SMA. Bahkan sampai sekarang. Gadis pendiam tapi memendam sejuta bakat. Dia penuh percaya diri dan selalu melakukan yang terbaik. Dia akan selalu mempertahankan apa yang menurutnya benar. Makanya, dia bisa jadi debater yang keren. Jika bukan karena dia, saya tidak akan pernah ikut kompetensi debat. Selama lomba debat Bahasa Inggris pasti kami selalu jadi partner. Dan di tahun terakhir kami di SMA, kami akhirnya berhasil menjadi runner up lomba debat yang sudah kami ikuti sejak kelas XI dan selalu hanya bisa sampai semi final.
Setelah sekian lama lose contact, kemarin malam dia menelfon saya. Rasanya kembali bernostalgia ketika di SMA. Dan dia belum berubah. Tetap Nunung yang percaya diri, optimis dan keras kepala. Dia benar-benar tipe O. Hanya saja, sekarang dia sudah lebih cerewet dari yang dulu. Tapi, dia masih kritis seperti dulu. Makasih ya Nung. Makasih karena sudah telfon dan masih ingat sama aku. Aku harap suatu saat kamu bisa kembali dalam barisan perjuangan ini sebagai Nunung, sahabatku. Love you in Allah as always <3
Tidak lupa 3 akhwat super yang kupanggil Aoi, Chairo dan Midori. Sahabat sewaktu SMA yang juga masih akrab sampai hari ini. Mereka selalu membuat hariku tak pernah sepi dengan celotehan di whatsapp, BBM ataupun LINE. Ah, minna hontou ni aitakatta.
Chairo, makasih ya buat balasan suratnya. Speechless bacanya. Shock tau tiba-tiba nulis di note dan dicomment banyak orang itu memalukan. Berasa dapat surat dari penggemar *gayaaa Dan gak nyangka Chai bisa sebegitu puitisnya. Tulisan dari hati emang selalu menyentuh. Meskipun tidak akan mungkin menuliskan kalian hanya dalam lembaran-lembaran Microsoft Word. Terlalu banyak hal yang tidak bisa kutuliskan tentang kalian. Bahkan surat yang 2 lembar bolak-balik itu juga masih terlalu pendek untukku.
Sekarang saya mengerti. Lebih tepatnya baru ingat bahwa manusia memiliki kecenderungan yang disebut naluri. Hati ini memiliki begitu banyak ruang yang diisi oleh sesuatu bernama kenangan. Dan setiap ruangan memiliki hal yang berbeda dan tidak tergantikan.
Seperti halnya kalian. Kalian memiliki tempat istimewa di sini. Tempat yang tidak bisa tergantikan oleh sahabat-sahabatku yang saat ini bersama di tempat ini. Bukan berarti mereka tidak berarti bagiku. Hanya saja tempat kalian berbeda. Dan tempat itu tak bisa tergantikan. Meski rasa untuk kalian semua tetap sama. Semoga rasa ini ada karena Allah semata sehingga suatu saat kita bisa dikumpulkan kembali dalam naunganNya.
Seperti puisi yang berbunyi :
“Ketika seseorang datang dalam hidupmu maka itu adalah sesuatu yang besar. Karena ia membawa seluruh kehidupannya bersama dengannya”.
Ya, puisi itu tidak salah. Maka dalam hubungan apapun, menerima adalah niscaya. Karena setiap orang memiliki banyak ruang dalam hati mereka. Memiliki banyak sisi dalam hidup dan diri mereka.
Mungkin begitu juga denganmu. Hal yang baru saja kutemukan dari sahabat-sahabatku. Bukan karena aku tak berarti bagimu, hanya saja ada tempat yang takkan bisa kutempati di dalam hatimu. Tempat yang hanya bisa diisi oleh mereka yang kau sebut “teman”.

Tomodachi : Teman
Shelter, June 15th 2014. 09:36 PM.
pic from we heart it

Tuesday, June 03, 2014

Together Everyone Achieve More

http://www.dragonbridgecapital.com/
November 2013, saya dinyatakan pindah tim. Awalnya saya berada di tim fakultas dan akhinya saya dipindahkan ke tim fungsional. Tim Kontak Aktivis. Tim yang tugasnya mendakwahkan Islam di kalangan para aktivis kampus. Mungkin, sekilas tim ini terlihat elit karena anggotanya pun sedikit. Tetapi, ternyata perjuangan mereka juga berat. Dan saya akhirnya menyadari, butuh waktu 3 tahun sampai akhirnya saya pantas diamanahi berada di tim ini.

Saya pun belajar bagaimana interaksi dengan aktivis. Jarang kami bisa berdiskusi karena kesibukan mereka yang padat. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah ada satu atau dua orang, meskipun jarang juga yang sepakat dengan ide yang kami bawa. Tapi, tak apa. Setidaknya kami diberi waktu menyampaikan ide kami. Awalnya di tim ada empat orang termasuk saya. Ada mbak Dina, Kholish dan Salma. Beberapa waktu kemudian ada Che Lyn. Setelah itu, Salma pindah karena sakit, Kholish juga pindah tim karena punya amanah baru dan Che Lyn harus pulang ke Vietnam. Kemudian masuklah personil baru. Anak-anak kecil yang luar biasa. Ada Yeni, Ummu, Khonsa dan Titin. Petualangan baru saya pun dimulai bersama empat anak ini.

Setiap kali rapat, selalu saja ada hal-hal baru yang dicetuskan. Rasa lelah karena harus keliling kampus ke UKM setiap hari terhapus ketika rapat dengan ide-ide kreatif bahkan terkesan absurd. Ummu selalu bisa jadi moodbooster untuk semuanya. Mbak Dina yang selalu menjelaskan apa adanya tapi tidak menggurui, Khonsa dan Titin yang selalu kompak ngikutin imajinasi Ummu. Dan Yeni dengan gayanya sendiri. Saya? Jadi cheerleader hehe, gak ya. Saya juga ikut meramaikan.

Ya, meskipun begitu tentu PR kami masih banyak. Begitupun PR dakwah ini. Menyadarkan umat bahwa sistem Demokrasi hari ini adalah penyebab kerusakan yang terjadi di seluruh dunia. Sistem Demokrasi yang telah memuluskan jalan bagi sistem ekonomi liberal untuk terus menjajah negeri-negeri dengan sumber daya alam yang banyak. Sistem Demokrasilah yang membuat sebuah negeri menjadi negara Korporasi termasuk Indonesia. Maka, sudah saatnya sistem busuk dan rusak ini diganti dengan sistem yang lebih manusiawi yakni sistem yang berasal dari Penciptanya manusia, Allah SWT. Karena semesta ini milik Allah. Saya, Anda, kita semua juga milik Allah. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk menolak aturan dari Allah.

Wallahu 'alam bi ash shawaab

Shelter, June 3rd 2014. 09:37 AM. Nungguin Partner in Crime

Tuesday, May 20, 2014

My First Team

santabanta.com
Saya masih ingat ketika saya pertama kali berada di tim ini. Tim pertama saya sebelum tim saya yang sekarang. Tim Fakultas Ilmu Budaya. Orang-orangnya adalah kami yang kuliah di fakultas tersebut. Pada waktu itu hanya saya yang sastra Jepang. Selebihnya Sastra Inggris. Awalnya, tim dakwah ini hanya ada empat orang. Saya, Maryam, Sila, dan Nana. Setahun kemudian, komposisinya berganti. Tanpa Maryam, Nana dan Sila. Kemudian masuknya dua anggota baru di tim ini. Nurmah dan Nurus. Selama beberapa waktu kami melaksanakan misi bertiga. Hampir setahun se-tim bertiga, kami ketambahan personil baru, yakni Ami dan Fita. Dl penanggung jawab tim adalah Nurmah dan kemudian dialihkan ke saya. Selama beberapa waktu kami menjalankan misi berlima. Lalu, Masyith dan Amel masuk ke tim kami. Saat itu, tinggal Nurus dan Nurmah yang jurusan Sastra Inggris. Saya, Ami dan Masyithoh jurusan Sastra Jepang. Sedangkan Fita dan Amel jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jepang. Alhamdulillah peluang kami membuka lahan dakwah di jurusan lain semakin besar seiring dengan bertambahnya jumlah personil tim. 

Meskipun, tim ini memang seperti pelangi. Penuh warna. Tidak semua cerah. Ada yang suram, gelap dan misterius juga *saya kali ya :D* Tapi, inilah ikatan yang kami bentuk di tim. Tidak mudah memang menyatukan berbagai macam jenis karakter untuk selalu berada dalam jalan yang sama. Namun, karena mimpi kita sama yakni kembalinya kehidupan Islam dibawah naungan Khilafah, itulah yang membuat kami rela mengorbankan apapun termasuk perasaan kami. Dan alhamdulillah tahun berikutnya bertambah lagi personil di tim ini. Ada Putri, Arin dan Dewi. 

Tidak terasa 2 setengah tahun saya bersama tim ini. Sudah banyak juga suka duka yang kami lewati. Perlahan diri ini mampu melewati sedikit batas yang dulu dibuat sendiri. Berusaha untuk akrab dengan teman-teman, memahami perasaan masing-masing. Dan ketika mengingat senyuman teman-teman, rasanya ingin menangis. Kangen masa-masa bareng di tim. Membuat berbagai uslub agar dakwah di fakultas tidak beku dan mati, berusaha membantu kesulitan yang lain. Ketika dakwah ditolak, di-PHP kontakan, ada yang akhirnya keluar, dsb. Itulah suka dukanya. Dan semua baru terasa ketika ternyata saya harus pindah ke tim yang baru dan sektor yang baru pula. Apalagi dengan kondisi saya yang sudah jarang kuliah karena emang gak ada kuliah hehehe. Jadi makin jarang ketemu teman-teman. 

Tapi, itulah dakwah. Semoga teman-teman semakin baik dengan komposisi tim yang baru. Jangan bosan. Karena dakwah itu harus sabar. Semoga bisa ngumpul lagi ya. Karena waktu itu gak sempat perpisahan dulu ^^

Minna, antatachi to deatta, hontou ni yokatta. Iro iro na koto wo oshiete kureta, hontou ni arigatou. Itsumo ganbatte ne! Ishhoni yaru nara, zettai ni katsu! Makeruna, minna!

Shelter, May 20th 2014. 10:14. Antatachi no egao wo omoidashite iru.

May J.Beautiful Day

Sunday, May 18, 2014

Berjalan Bersama Luka

 equinoxeles.blogspot.com
“Kau tidak akan bisa menjadi seorang Kage jika kau belum bisa menanggung beban seorang Kage”. (Gaara kepada Naruto)


”Selama dunia Ninja masih dengan sistem seperti ini, selama itu pula dunia Ninja akan selalu diliputi oleh kebencian”. (Yondaime Hokage kepada Naruto)


Setiap orang pasti memiliki masa lalu kelam. Memiliki luka yang mereka tanggung dan sakit hati yang mereka bawa dalam hidupnya. Setiap luka dan kesendirian selalu meminta tempat untuk berteduh. Dan setiap orang mencari tempat untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit dari hatinya.

Allah SWT. Berfirman :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal beum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al Baqarah [2] : 214)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (Al Baqarah [2] : 155)

Rasulullah SAW. Bersabda :
“Para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih kemudain generasi setelahnya dan generasi setelahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-hentinya ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun” (HR. Ahmad)

Dan benarlah hadist Rasulullah. Bahwa seseorang diuji berdasarkan kadar keimanannya. Dan yang tentu merasakan luka yang paling dalam dan sakit yang paling berat adalah para Nabi dan Rasul. Diantara mereka pun masih ada yang lebih berat lagi, yakni Ulul Azmi dimana salah satunya adalah Rasulullah SAW. sendiri. Dan benar pula bahwa manusia tidak akan berhenti diuji hingga ia berjalan tanpa kesalahan sedikit pun dan itu berarti tidak mungkin hidup manusia tidak diliputi dengan ujian. Namun, tentu terdapat perbedaaan antara orang-orang yang kuat imannya dengan yang tidak.

Orang yang kuat keimanannya kepada Allah, percaya bahwa ujian berupa luka dan rasa sakit merupakan bukti cinta Allah dan tempaan Allah untuk menjadikannya semakin kuat dan tangguh. Ia sadar bahwa ujian akan membuatnya menjadi orang yang lebih baik sehingga ia berusaha mencintai setiap ujian yang datang padanya meski itu berupa luka dan rasa sakit. Berbeda dengan orang yang tidak kuat keimanannya kepada Allah. Ia akan membenci ujian dan berusaha menyalahkan apapun yang bisa ia salahkan. Berlari dan terus berlari dari kenyataan hingga ia tidak menemukan jalan keluar selain jebakan kebencian yang tidak ada habisnya.

Hal tersebut wajar karena saat ini jebakan kebencian itu berada dalam sebuah jebakan yang lebih besar lagi, yakni sistem Demokrasi-Kapitalisme. Jebakan kebencian ini muncul dari segala penjuru tanpa peduli siapa yang terjebak di dalamnya. Dan akhirnya tak ada yang berpikir untuk keluar dari jebakan ini. Karena cinta dan benci adalah dua hal yang tidak jauh berbeda. Dua-duanya dapat bermuara pada luka dan menimbulkan rasa sakit. Semakin seseorang mencintai, kemungkinan dia terluka akan semakin besar. Hingga akhirnya dia tidak bisa memilih kecuali membenci. Namun, rasa sakit karena mencintai tidak sama dengan rasa sakit karena membenci.

Di luar sana, ada orang-orang yang berusaha menghancurkan kutukan kebencian ini dengan menghancurkan sistem Demokrasi-Kapitalisme dan menegakkan sebuah sistem baru yang akan memberikan cinta kepada semua orang, yaitu Khilafah. Mereka berdakwah tanpa henti. Dan berjalan bersama luka karena sistem dan luka yang harus mereka rasakan sebagai seorang pengemban dakwah. Itulah luka karena cinta. Namun balasannya tentu tak terkira. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Allah SWT berfirman :
“Allah tidak akan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya…” (Al Baqarah [2] : 286)

“…Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”. Mereka itulah orang yang mendapat keberkahan sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Baqarah [2] : 155-157)

Besi kuat karena tempaan. Manusia kuat karena ujian. Tak seorang hebat pun yang tidak lahir dari luka dan rasa sakit. Maka seseorang yang beriman tentu tak takut dengan luka. Karena luka adalah penghapus dosa. Dan sisi Allah mereka akan mendapatkan tempat terbaik, yakni Surga. Karena Allah tidak akan ingkar janji.

“Aku percaya, suatu saat akan ada masa dimana semua orang bisa saling memahami satu sama lain” (Jiraiya Sensei)


Shelter, May 18th 2014. 10:25 AM. Membayangkan langit di luar sana.
Backsound : Utsusemi an instrument by Takanashi Yasuharu

Sunday, May 04, 2014

Potret Buram Pendidikan Indonesia

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Dulu, jaman SMA, tiap tanggal 2 Mei, pasti kelas saya jadi grup paduan suara untuk upacara tingkat Provinsi di kantor Gubernur. Kenapa? Karena sekolah saya yang paling dekat dengan kantor Gubernur haha :D Sayangnya, semua acara tersebut tidak lebih dari ceremonial belaka. Kenapa? Karena ternyata saat ini potret pendidikan di Indonesia belum menemukan titik cerahnya.
Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ternyata tujuan itu seperti pepatah jauh panggang dari api.
Seiring dengan berjalannya waktu saya banyak belajar dari kejadian yang terjadi di sekitar saya. Dulu, zaman saya SD-SMA, pendidikan masih terjangkau. Tapi, setelah saya masuk perguruan tinggi *padahal negeri* ternyata pendidikan tidak lagi menjadi kebutuhan primer tetapi tersier. Karena untuk sekolah itu perjuangannya luar biasa. Ngumpulin duit berjuta-juta. Mulai dari TK-kuliah. Miris sekali melihat banyak generasi muda yang harusnya duduk di bangku sekolah, tapi karena mereka tidak memiliki biaya maka berakhirlah semua impian mereka. Okelah ada beasiswa macam BOS atau Bidik Misi. Tapi, ternyata tidak semua orang *yang pantas menerima* bisa menikmatinya. Justru, orang yang sebenarnya mampu yang mendapatkan beasiswa untuk orang yang tidak mampu. Masya Allah. Ini namanya terlalu. Tapi, ini fakta. Pendidikan semakin lama semakin langka hingga muncul anekdot, “Orang miskin dilarang sekolah”. Dan ini pula yang menjadi salah satu lingkaran setan kemiskinan di negeri ini. Kenapa? Ketika ditanya, kenapa dia tidak bisa berobat? Dia miskin. Kenapa dia miskin? Tidak punya pekerjaan. Kenapa tidak punya pekerjaan? Tidak punya pendidikan. Kenapa tidak punya pendidikan? Karena dia miskin. Akan selalu seperti itu. Berputar di situ-situ saja. Seolah kemiskinan  adalah warisan dari orang tua. Semakin hari yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Memang di dunia ini takkan ada orang kaya saja, tapi kalo orang miskinnya itu beranak cucu, turun-temurun, itu namanya apa? Out of mind kan?
Belum lagi dari sisi output. Hari ini pendidikan mencetak generasi pragmatis bin materialistis. Karena memang masuknya saja mahal. Ini juga kali ya yang bikin orang korupsi. Kalo udah jadi wakil rakyat pada balik modal, karena pengorbanannya juga gak tanggung-tanggung. Sama kayak pendidikan hari ini. Dan yang paling parah akhirnya generasi ini gak ada lagi yang mikirin soal masa depan negerinya. Mereka sibuk ngejar mimpi-mimpi mereka sendiri. Bahkan mereka lebih bangga bekerja di perusahaan asing karena gajinya tinggi *padahal CEO-nya bisa puluhan kali lipat gajinya* dan imbasnya adalah generasi hari ini sangat susah diajak mikir permasalahan umat. Mereka bisanya kuliah, ngerjain laporan, tugas biar dapat IP perfect. Setelah itu kalo bosen, ikut ekskul yang having fun atau ikut dance cover, karaoke, dsb. Acara mahasiswa juga gak mencerminkan mahasiswa banget. Harusnya kalo mahasiswa itu penuh suasana panas forum-forum diskusi ilmiah, menelorkan ide untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Tapi, hari ini justru sebaliknya. Jika pun ada forum-forum seperti itu, semua tidak lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok tertentu tanpa sebuah tujuan jelas. Boro-boro mencerdaskan, yang ada malah menjerumuskan. Forum ideologis? Jangan ditanya. Jauh dari Allah? Biasa. Udah sampai tingkat parah generasi negeri yang katanya Zamrud Khatulistiwa ini.
Lalu, kenapa semua ini bisa terjadi? Ya, semua gak lepas dari atasnya. Apalagi kalo bukan kebijakan sistem yang diterapkan hari ini. Lewat kurikulum, pendidikan hari ini didesain super matre karena dalam sistem kapitalis, apa yang bisa dijual ya dijual termasuk jasa pendidikan. Saya juga sampai miris, ketika institusi pendidikan udah gak ada beda dengan convenient store macam Alfa Mart atau Indomaret. Padahal, pendidikan adalah ranah yang harusnya lebih mulia dari sekedar tempat berbelanja jasa pelayanan. Pendidikan adalah dunia dimana akan dicetak orang-orang yang membangun peradaban dunia. Pantas saja, kebijakan di negeri ini semua hasil dagang. Pendidikannya aja gitu. Wajar jika outputnya adalah orang-orang yang sangat oportunis. Asal ada manfaat materi, semua halal. Ya, sistem Demokrasi-Kapitalis yang diterapkan hari ini meniscayakan semua hal itu. Padahal, negeri ini dihuni hampir 60% oleh usia produktif termasuk anak-anak usia sekolah. Tidak hanya itu, negeri ini mayoritas Muslim, tapi justru kaum Muslimin di negeri ini bener-bener terpuruk. 11-12 sama kaum Muslimin di belahan dunia lainnya.
Sejak Khilafah –sistem pemerintahan Islam- runtuh pada tahun 1924 di Turki, keadaan kaum Muslimin sangat jauh dari kata “baik”. Lihat saja, penjajahan dihadapi dimana-mana, mulai dari fisik sampai penjajahan pemikiran lewat invasi politik dan budaya. Dan semua ini kerap datang melalui dunia pendidikan. Saya pun pernah menjadi korban. Apalagi saya juga berada di Fakultas Ilmu Budaya. Dan setiap hari saya melihat bagaimana kagumnya teman-teman saya terhadap budaya dari luar negeri. Tidak hanya fakultas saya, tapi juga semua fakultas mendambakan untuk bisa mengecap pendidikan di luar negeri. Tapi, setelah pulang mereka justru menjadi agen asing. Ya, beginilah kondisi kaum Muslimin tanpa Khilafah.
Sangat berbeda ketika Khilafah ada. Dalam Daulah Khilafah, pendidikan adalah salah satu dari 3 kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar yang juga harus dipenuhi selain kebutuhan pokok. Sehingga Negara wajib memenuhi kebutuhan dasar tersebut untuk seluruh warga Negara, baik Muslim maupun Non Muslim, baik miskin maupun kaya. Semua diperlakukan dengan cara yang sama. Pendidikan diberikan secara murah bahkan gratis kepada seluruh warga Negara. Sehingga tidak ada lagi orang yang berpikir bahwa pendidikan adalah alat untuk mencari uang. Tetapi sebaliknya, pendidikan adalah untuk mencerdaskan. Sehingga sejarah mencatat bahwa peradaban di bawah naungan Islam adalah peradaban yang agung dan mulia. Banyak ilmuwan dan para ahli yang lahir dari sistem pendidikan Islam di bawah naungan Khilafah, sehingga adalah sebuah kebodohan yang mengatakan bahwa Khilafah adalah utopia belaka. Justru Demokrasilah yang utopia. Demokrasilah Pemberi Harapan Palsu karena sejak diterapkan, Demokrasi tidak membawa perubahan apapun selain perubahan kepada kehancuran umat manusia.
Sudah saatnya berjuang bersama kelompok yang konsisten memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Rasyidah. Bukan untuk satu atau dua orang, pun untuk kelompok tertentu tapi untuk seluruh umat manusia. Saatnya ganti rezim, ganti sistem. Kick Democracy, struggle for Khilafah. Allahu Akbar!
Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Shelter, May 4th 2014. Teringat demo di depan rektorat hari Jumat.
Backsound : Trust in Allah by Saif Adam.

Sunday, March 16, 2014

Saatnya Mahasiswi Bersuara

            Gak terasa sudah seminggu sejak diselenggarakannya Panggung Politik Mahasiswi di kota saya. Acara ini mengusung tema, Indonesia Lebih Baik; Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah. Dan untuk pertama kalinya saya yang terbiasa di belakang layar akhirnya nampang juga, haha. Tapi, saya gak bakal bahas itu kok.

Mahasiswa dan Pemilu
Tahun ini merupakan tahun politik bagi Indonesia. Kenapa? Karena tahun ini akan diselenggarakan Pemilu untuk memiliki calon legislatif (DPR, DPD) serta calon presiden dan wakilnya. Ajang yang sering disebut-sebut sebagai Pesta Demokrasi Akbar ini emang diselenggarakan 5 tahun sekali. Tapi, sepertinya animo masyarakat terkait Pemilu turun drastis dengan meningkatnya angka golput sejak Pilkada beberapa waktu silam. Namun, perlu diingat bahwa Negara ini memiliki jumlah pemuda yang sangat besar. Dan sebagian diantaranya adalah mahasiswa. Mahasiswa dengan latar belakang intelektualitas yang dimiliki mempunyai posisi strategis dalam Pemilu. Suara mereka termasuk dalam suara yang diperhitungkan. Jadi, gak heran kalo para caleg dan bahkan capres juga rame-rame ngegaet mahasiswa di parpolnya untuk menyukseskan langkah mereka di Pemilu mendatang.
Sayangnya mahasiswa hari ini tidak cukup cerdas untuk melihat permasalahan yang ada. Karena sebagian belum mampu menentukan sikap atas perpolitikan yang terjadi. Padahal, sebenarnya mereka memiliki peran strategis untuk mengawal perpolitikan bangsa. Sayangnya, pragmatisme yang ditanamkan melalui sistem pendidikan membuat para mahasiswa hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak sedikit yang apatis terhadap politik. Mereka lebih banyak memilih untuk tidak peduli. Jika pun tau mereka akan pura-pura tidak tahu. Entah untuk menyelamatkan diri atau karena memang terlalu lelah dengan beban perkuliahan. Bagi yang hanya bisa membebek, mereka akhirnya dijadikan mesin pencetak suara. Dan bagi mereka yang terjebak dalam hipnotis Demokrasi, akan memberikan sejuta harapan mereka kepada salah satu caleg atau capres partai dengan harapan bahwa suatu saat harapan itu akan terwujud. Sedang sisanya ada yang golput karena tidak percaya dan sudah sangat apatis terhadap perpolitikan bangsa ini.

Demokrasi, Bukan Hanya Sekedar Memilih Pemimpin
Masih banyak pemuda yang menganggap bahwa Demokrasi adalah proses pemilihan pemimpin. Sehingga para pemuda, khususnya mahasiswa masih ada yang menggembar-gemborkan kampanye Anti Golput dan sebagainya. Padahal, sejak SD kita sudah diajarkan tentang definisi Demokrasi, yakni pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Artinya kedaulatan ada di tangan rakyat. Itu berarti pula bahwa rakyat yang berhak membuat hukum. Akhirnya dipilihlah wakil rakyat untuk menjadi pembuat hukum yang nantinya akan menduduki kursi DPR. Masa saya harus bilang kalo orang-orang hari ini gagal paham tentang definisi Demokrasi? Tapi, itu fakta. Dan lihatlah prestasi Demokrasi di negeri ini. Hampir seluruh sumber daya alam menjadi milik asing. Kita tidak lebih dari budak di negeri sendiri. Kekayaan yang harusnya kita nikmati hanya kita peroleh dengan menjadi buruh di perusahaan yang mengelola kekayaan tersebut. Para mahasiswa digiring untuk menjual ilmu mereka ke perusahaan-perusahaan swasta, khususnya asing. Pemuda tidak lebih dari mesin produksi. Mesin pencetak uang. Di sisi lain, liberalisme terus menguat. Pergaulan bebas tumbuh subur, aborsi meningkat, prostitusi menjamur, narkoba tak pernah berkurang, tawuran pelajar tak pernah ada habisnya. Rusaknya generasi menambah suram masa depan bangsa ini. Di sisi lain, para elit politik tak pernah peduli. Alih-alih memberikan edukasi pada rakyat, mereka justru menyuap rakyat untuk memberikan suara dalam Pemilu. Tak sedikit pula partai Islam yang akhirnya terjebak pragmatisme politik. Berharap bisa menegakkan Islam melalui parlemen, namun mereka justru mencelupkan diri mereka dalam jebakan yang dibuat oleh Demokrasi. Maka jelaslah bahwa Demokrasi itu rusak dan merusak. Rusak konsepnya dan merusak siapa saja yang menjadi pendukungnya.
Islam Memuliakan Peran Politik Pemuda
Hal ini berbeda dengan Islam. Islam sungguh memuliakan peran politik pemuda. Pemuda yang merupakan generasi penerus peradaban memiliki peran strategis dalam Islam. Islam dengan Khilafah akan mampu mencetak generasi visioner, generasi yang ahli dalam berbagai bidang, pun aktif dalam upaya mengkritisi penguasa yang menyimpang dari Syariat Allah. Dan ini tidak akan mungkin terwujud dalam sistem Demokrasi. Melalui sistem pendidikan akan dicetak generasi-generasi brilian yang akan menjadi ilmuwan sekaligus negarawan yang berdiri tegak di atas kebenaran, yakni ideologi Islam. Karena politik di dalam Islam bukanlah ajang rebutan kekuasaan, tetapi pengaturan urusan rakyat oleh Negara.
Sejarah telah mencatat bagaimana Islam mampu mencetak generasi visioner sejak masa Rasulullah hingga kekhilafahan terakhir yakni Khilafah Utsmany. Sebut saja Mush’ab bin Umair, Saad bin Muadz, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usamah bin Zaid, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Khawarizmi, hingga Muhammad Al Fatih. Mereka semua adalah tokoh besar dan generasi yang dicetak dalam Daulah Khilafah. Sangat berbeda dengan sistem Demokrasi yang justru mencetak generasi alay bin lebay yang sukanya hura-hura, having fun dan suka segala cara yang instan.
Islam juga akan melindungi generasi dari distorsi moral dengan sistem pergaulan. Didukung dengan dua suprasistem, yakni ekonomi dan politik sehingga para pemuda mampu menjadi generasi cemerlang pewaris peradaban gemilang.

Kick Democrazy, Stuggle For Khilafah
69 tahun bangsa ini merdeka dengan penerapan sistem Demokrasi yang bermacam-macam, namun kesejahteraan justru menjadi utopia yang semakin membuat negeri ini gersang dari kepercayaan. Maka sudah cukup tipuan ini memperdayakan kita, para mahasiswa. Saatnya membuang Demokrasi ke tong sampah peradaban. Karena sistem ini tak lebih dari ilusi.
Dan sebagai seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sudah saatnya kita mengambil kembali apa yang seharusnya kita genggam erat-erat, yakni Syariat Allah. Maka berjuanglah untuk menegakkannya kembali di bawah naungan Khilafah bersama jamaah yang juga memiliki visi melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.
Jika kau tidak ingin terbawa arus, maka ciptakanlah arus baru. Melawanlah atau kau akan kalah. Saatnya ambil bagian dalam sejarah menuju abad Khilafah Rasyidah yang kedua.

Khairunnisa, March 16th 2014. Salam Perjuangan, Salam Revolusi.
Saudarimu,
Ditri Ayu R.A.L.



Panggung Politik Mahasiswi adalah acara yang diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Acara ini berlangsung di seluruh Indonesia selama bulan Maret.

Friday, March 14, 2014

Cinta Ditolak, Akun FB Di-Hack

Saya aja gak percaya, tapi ini beneran. Judul di atas asli. Meskipun kelihatannya lebay bin alay. Trus, gimana ceritanya?
Dulu, Cinta Ditolak Dukun Bertindak. Kalo di jaman sosmed kayak gini ya seperti judul di atas. Haha, saya juga gak habis pikir. Padahal cerita itu udah lama. Ternyata dendamnya masih belum padam. Ceritanya, beberapa waktu lalu teman FB saya sempat kena hack sama seseorang yang ternyata dulu adalah teman sekolahnya waktu SMA. Motifnya dendam masa lalu. Haha, udah kayak beritain Buser aja :D Jadi si cowok dendam karena cintanya ditolak sama temen FB saya itu. Ya jelas aja, orang mbaknya udah paham Islam. Lagipula emang dianya juga gak ngaca. Cowok baik-baik gak bakalan ada yang sudi ngajak cewek yang dia suka untuk nyicipin maksiyat. Atau mungkin dia gak punya cermin kali ya buat ngaca? Ckckck… Hari gini? :D
Kalo saya boleh komen nih ya, peristiwa kayak gitu gak ujuk-ujuk ada. Semua emang karena ada sebuah sistem yang membuat kondisi jadi kacau-balau seperti hari ini. Atas nama cinta semua jadi legal. Termasuk ngobrak-ngabrik akun orang. Dan emang sih sekarang ini jaman dimana kebebasan menjadi sesembahan. Dipayungi oleh sebuah sistem bernama Demokrasi makin menjadilah kelakuan orang-orang hari ini. Mirisnya, mereka adalah Muslim.
Gitu deh realitas sistem Demokrasi dengan 4 pilar kebebasannya, yakni kebebasan berkeyakinan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkepemilikan. Gak ada lagi tuh kata halal-haram. Yang penting bebasss. Dan di sinilah rusaknya Demokrasi. Karena keputusan itu berada di tangan manusia. Padahal, kenyataannya manusia itu lemah, terbatas, serba kurang dan membutuhkan yang lain. Tapi, dengan “sok tau”-nya manusia bikin aturan sendiri. Gak Cuma rusak, tapi juga merusak. Buktinya? Ya, kayak cowok tadi. Cinta ditolak bukannya introspeksi diri, eh malah nge-hack. Malu-maluin banget.
Ini Cuma sebagian kecil dari realitas rusak dan merusaknya sistem Demokrasi. Masih banyak lagi realitas lain yang bisa kita temukan di kehidupan kita masing-masing kalo kita mau untuk mencermati. So, Stop Demokrasi Rusak dan Merusak. Ganti dengan Khilafah. Allahu Akbar!
Khairunnisa, March 6th 2014. 01:27 PM.

Setelah beberapa waktu vakum nulis karena sibuk di tim propaganda jadi Pembantu Umum. Alhamdulillah bisa nulis lagi ^_^

Wednesday, February 26, 2014

Aku Cantik *Unofficial Title*

-Cantik adalah nama yang Ayah dan Bunda berikan sebagai rasa syukur karena bisa memiliki anak perempuan. Cantik itu adalah harapan semoga bukan hanya kecantikan yang ada di fisik saja, tetapi juga kecantikan dalam kepribadian-
-Cantik bukan karena semua orang bisa melihat keelokan tubuhmu. Cantik bukan dilihat dari tinggi yang semampai, kaki yang indah, tubuh yang langsing, kulit yang putih dan mulus atau wajah yang memesona. Cantik itu karena ketaatan. Ketaatan yang lahir dari keimanan-
***
Namaku Cantik. Sampai saat ini aku masih tidak mengerti mengapa Bunda memberiku nama itu. Setiap kali kutanya, jawabannya hanya, “Masa Kakak sama Adek yang dinamain kayak gitu? Kan gak lucu”. Menurutku, nama itu sangat tidak sesuai dengan diriku. Sampai saat ini pun aku masih beranggapan seperti itu.
Aku memandangi diriku di cermin. Mencari alasan untuk membenarkan pendapat Bunda. Aku lalu membayangkan teman-teman sekelasku di kampus. Mereka lebih pantas dengan nama itu, masih menurutku. Mungkin lebih tepatnya aku masih tidak percaya diri dengan nama yang kusandang itu. Aku juga membayangkan majalah Korea milik mereka yang hampir setiap edisi menampilkan girlband yang cantiknya terlalu sempurna untuk ukuran manusia. Sebut saja SNSD, After School, T-Ara, Fx, Miss A dan masih banyak lagi yang tidak bisa kusebutkan saking banyaknya. Dan sekarang yang sedang disukai oleh kaum adam termasuk adik bungsuku adalah JKT48. Fiewh, sepertinya negara ini sukses mengeksploitasi tubuh-tubuh cantik wanita.
Aku memutar badanku. Lalu bergumam.
“Cantik darimananya sih? Muka biasa aja. Tinggi cuma segini, langsing gak. Putih mulus juga gak segitunya. Biasa aja. Apanya yang cantik coba?”

***
Aku dikagetkan oleh suara pintu kamarku yang dibuka dengan cukup keras. Masih dengan keadaan mematung di depan cermin.
“Egyyyyyyy!!! Bisa gak sih ketuk pintu dulu?,” kataku kesal. Adikku yang satu ini sangat suka seenaknya sendiri. 
“Hehe, sorry Kak. Egy ulang lagi ya?,” dia lalu keluar dan menutup pintu lalu mengetuknya.
“Udah telat. Ada apa? Mau minta apa lagi?,” kataku padanya.
“Idiieeh, jutek banget sih Kakak ini. Udah bagus namanya Cantik, tapi jutek. Ntar susah jodoh lho. Contoh tuh Kak Farah. Udah cantik, baik, sholehah pula. Pantes aja Kak Ezy jatuh cinta. Lha, Kak Cantik juteknya minta ampun,” katanya dengan ekspresinya yang menurutku sangat menyebalkan. Kalau saja dia bukan adikku, sudah kutendang dia dari rumah.
“Berisik. Cepat, ngomong. Mau ngapain? Kakak lagi sibuk, kalau mau minta bantuin ngerjain PR, minta bantu sama Kak Elang aja,” balasku ketus.
Wajahnya langsung berubah.
“Ah, Kakak gak asik! Kak Elang lagi keluar. Kan Egy gak mungkin minta tolong sama Kak Ezy,” kata Egy.
“Manja banget sih kamu. Anak cowok itu gak boleh manja. Besok-besok PRnya dikerjain sendiri. Kalo udah bener-bener gak bisa baru minta tolong,” kataku lagi.
“Oke deh Kakak. Kalo gitu, Kakak jadi cantik kayak Princess,” kata Egy.
“Tapi gak mungkin bisa ngalahin JKT48 kan?,” sindirku.
“Hehe, tau aja,” Egy tersenyum malu.
“Huuu, dasar!,” aku lalu melemparnya dengan bantal.
“Oya, Kakak tadi ngapain ngelamun di depan cermin? Mau tanyain siapa cewek tercantik di jagad raya?,” Egy mulai lagi.
“Heh, mau dibantuin gak PRnya? Kalau mau dibantuin jangan berisik!,” ancamku padanya sambil menyembunyikan rasa malu karena ketahuan adikku yang satu itu.
***
Rumahku bisa dibilang cukup ramai. Semua saudaraku laki-laki. Kakakku yang pertama baru saja menikah. Dan Kakakku yang kedua berada dua tahun di atasku. Menurutku, dua Kakakku itu aneh. Kak Ezy, Kakakku yang pertama menikah dengan cara yang menurutku sangat tidak masuk akal. Orang-orang kebanyakan pasti punya pacar sebelum menikah. Tapi, Kak Ezy tidak melakukan itu. Katanya, “Ngapain pacaran kalo gak serius ke arah pernikahan?” Dan benar, sekali ketemu sama Kak Farah, istrinya, langsung dilamar dan menikah. Waktu itu Ayah dan Bunda sedikit shock dengan keputusan Kak Ezy.  Menurut mereka, Kak Ezy terlalu terburu-buru. Tapi, bukan Kak Ezy kalau tidak bisa bernegosiasi. Ditambah lagi ada Kak Elang. Aku dan Egy hanya bisa menjadi penonton terbaik saat ada debat terbuka di rumah. Dan akhirnya sekarang semua baik-baik saja. Kak Ezy berhasil membuktikan kalau dia tidak salah memilih pendamping hidup. Kak Farah begitu cantik, anggun dan penyayang. Kecantikannya bukan karena fisiknya. Aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat Kak Farah. Sepertinya karena pakaian yang dipakainya. Atau entahlah, aku juga tidak begitu mengerti. Dan Kak Elang, Kakakku yang satu lagi yang menurutku jauh lebih aneh. Aku masih ingat bagaimana nakalnya ia saat SMA. Dan semua berubah drastis di tahun keduanya di universitas. Sekarang, ia makin aneh menurutku. Apalagi aku juga kuliah di universitas yang sama dengan dia. Tapi, Bunda justru mendukung. Bunda malah ingin Egy juga bisa seperti Kak Elang. Yang paling seru, kalau Ayah ada di rumah. Pasti Ayah dan Kak Elang akan diskusi panjang tentang politik, mulai dari dalam negeri sampai luar negeri. Mulai dari korupsi Hambalang, sampai Arab Spring. Seperti acara Indonesian Lawyer Club. Jika Ayah masih mengatakan Demokrasi sistem terbaik, beda lagi dengan Kak Elang. Kak Elang justru mengatakan Islamlah sistem terbaik. Islam bukan sekedar agama tetapi juga seperangkat aturan kehidupan yang harus diterapkan dalam bentuk negara. Sayang sekali, Ayah jarang di rumah. Dan adikku, Egy masih duduk di bangku SMA. Dia akan selalu sukses membuatku menjadi monster karena kejahilannya.

***
Malam ini gerah sekali. Aku melihat tempat air minum di atas mejaku. Sudah habis. Dengan langkah malas, aku bangun  dari tempat tidur dan keluar kamar untuk mengambil air. Dari kamar mandi terdengar gemericik air. Dan aku sudah tahu, itu pasti Kak Elang. Kak Elang rajin sekali bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Aku sering dibangunkan olehnya, begitu pula dengan adikku.
“Tumben udah bangun. Biasanya susah banget dibangunin,” kata Kak Elang.
“Gerah banget, Kak. Jadinya pengen minum,” jawabku.
“Adek, kapan mau pake jilbab?,” tanya Kak Elang kemudian.
“Eh? Pake jilbab? Maksud Kakak? Adek kan udah pake kalo keluar rumah,” jawabku.
“Itu bukan jilbab, Dek. Itu kerudung. Jilbab itu bajunya, baju terusan atau gamis,” kata Kak Elang.
“Kayak yang dipake Kak Farah itu ya Kak?,” tanyaku.
“Iya. Coba aja buka terjemahan Al Qur’an. Ayat tentang jilbab sama kerudung itu beda lho dek. Kakak gak mau Adek berdosa,” kata Kak Elang.
“Iya, Kak. Adek usahakan. Tapi, gak janji ya bisa secepatnya,” balasku.
Ia terdiam sejenak.
“Egy belum dibangunin ya?,” tanyanya kemudian.
“Belum,” jawabku.
“Ya udah, cepat wudhu sana, biar Kakak yang bangunin dia,” kata Kak Elang. Ia lalu pergi ke kamar Egy.
Aku melihat punggungnya dari jauh. Dari dulu Kak Elang selalu berusaha melindungiku. Senakal-nakalnya dia, hampir tidak pernah dia bersikap kasar padaku. Hanya sekali ia memarahiku. Waktu itu, aku duduk di kelas XII SMA. Di sekolah ada pentas seni dan waktu itu aku pulang malam dan diantarkan oleh teman sekelasku yang laki-laki. Dia tidak pernah semarah itu padaku.
“Adek itu anak perempuan. Ini sudah jam berapa? Kenapa jam segini baru pulang? Dianter cowok lagi. Kakak sudah bilang, jangan ikut acara itu. Di sana itu semua maksiat. Kamu mau ikutan masuk neraka, hah? Kamu pikir pantas anak perempuan berkerudung, pulang malam diantar cowok meskipun hanya teman sekelas? Kakak gak mau lihat kamu ikut acara kayak gitu lagi apapun alasannya!,” Malam itu aku langsung mengunci pintu kamarku dan menangis semalaman.
Besoknya, sebuah kotak diletakkan di depan pintu kamarku. Di dalamnya ada kertas kecil.
Dek, Kakak minta maaf ya. Semalam Kakak bener-bener emosi. Kakak khawatir banget makanya Kakak marah. Ini sebagai permintaan maaf Kakak. Kak Elang
Di dalamnya ada gamis berwarna biru muda. Cantik sekali. Tapi, tidak langsung kupakai. Aku malah menghampirinya dan bertanya.
“Kak, ini maksudnya apa?,” tanyaku padanya.
“Itu buat Adek. Itu jilbab. Seorang Muslimah seharusnya menutup auratnya dengan jilbab dan kerudung. Pasti
Adek tambah cantik deh,” jawabnya sambil tersenyum.
“Adek gak butuh, Kak,” kataku.
“Simpan aja, Dek. Siapa tahu suatu saat bakal dipakai,” balasnya.
Akhirnya, gamis itu kusimpan. Sampai saat ini masih ada di lemariku. Dan aku tidak pernah berniat untuk menyentuhnya. Sekarang sikap Kak Elang semakin lembut dan berwibawa. Ia juga semakin sabar apalagi menghadapi tingkah Egy yang bandel. Kegiatannya di luar tidak pernah menjadi alasan untuk tidak memerhatikan kami di rumah. Bunda sangat mengandalkan Kak Elang. Ayah pun begitu. Apalagi sekarang Kak Ezy sudah tidak tinggal di rumah. Kak Ezy biasanya hanya mampir. Aku pun belum terlalu dekat dengan Kak Farah karena jarang bertemu. Meskipun Kak Farah cukup sering ke rumah, karena aku yang jarang ada di rumah, akhirnya kami jarang bertemu.
“Dek, ngapain masih di sini? Udah wudhu belum? Kok malah ngelamun?,” pertanyaan Kak Elang membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya Kak,” aku buru-buru ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu ikut sholat bersama Kak Elang, Egy dan Bunda.
***
Handphoneku bergetar. Ada SMS masuk. Nomornya tidak kukenal.
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Apa bener ini nomernya dek Cantik?
Lalu aku membalasnya.
Wa’alaikumsalam. Iya, saya Cantik. Maaf, ini dengan siapa?
Beberapa saat kemudian, ada balasan lagi.
Saya Vania, dek. Teman SMAnya Elang. Saya dapat nomor Cantik dari Elang. Kebetulan saya juga jurusan Komunikasi. Salam kenal :) 
Aku sedikit kaget.
“Hah? Temannya Kak Elang? Tumben ada yang SMS. Teman SMA pula. Bukannya sekarang Kak Elang udah tobat jadi playboy? Kok masih ada cewek yang pedekate? Lewat gue lagi,” batinku.
Kemudian kubalas.
Salam kenal juga, Kak :) 

Ia lalu membalas lagi.
Kapan-kapan ketemuan di kampus yuk, Dek. Mungkin bisa ngobrol-ngobrol lebih jauh biar lebih akrab :)
Dengan ragu-ragu aku membalas.
Iya, insya Allah Kak, kalo Cantik lagi gak sibuk.
Orang yang bernama Vania itu kemudian membalas lagi.
Iya dek. Kapan aja Cantik bisa. Kakak ngikut aja :) 
Akhirnya, muncul lagi satu orang yang membuatku sedikit shock. Dia begitu ramah. Padahal, ketemu juga belum. Apa dia serius suka sama Kak Elang? Ah, orang ini benar-benar membuatku penasaran. Malamnya aku bertanya pada Kak Elang.
“Kak, kak Vania itu siapa? Mantan Kakak ya?,” tanyaku pada Kak Elang yang sedang membaca buku di ruang keluarga.
“Hah? Apa dek? Maaf, tadi Kakak lagi serius bacanya jadi gak denger,” tanya Kak Elang.
“Iih, Kakak nih. Tadi Adek nanya, kak Vania itu siapa? Mantan Kakak ya?,” aku mengulang pertanyaanku.
“Bukan, Dek. Kenapa Adek ngiranya gitu? Ah, Kakak kayaknya belum bilang ke Adek soal Vania,” kata Kak Elang.
“Emang ada apa dengan kak Vania? Jangan bilang Kakak mau nikah sama kakak itu,” kataku agak menuduh.
“Eh, denger dulu napa? Gini Dek, dulu sebelum Adek masuk universitas, Kakak pernah nyaranin Adek untuk ngaji kan? Nah, Vania itu teman SMA Kakak yang kebetulan anak Rohis di fakultas Adek. Waktu Adek keterima di jurusan komunikasi, Kakak ngasih nomor hp Adek ke Vania. Kebetulan jurusannya sama dengan Adek. Dan Kakak lupa bilang ke Adek. Baru dihubungi Vania ya?,” kata Kak Elang.
“Oooo, gitu. Iya, Kak. Tadi siang kak Vania SMS,” kataku.
“Udah janjian ketemuan?”
“Belum. Adek belum ngasih kepastian kapan. Tapi, Kakaknya bilang kapan aja Adek bisa hubungin beliau aja, gitu katanya”.
“Alhamdulillah deh kalo gitu”.
“Kak, kenapa sih Kakak ngebet banget biar Adek ngaji dan ikutan Rohis? Biar Adek kayak kak Farah ya? Anak-anaknya lho gitu semua. Lagian, Adek gak mau jadi yang aneh-aneh. Ntar kalo gabung di Rohis disuruh macam-macam, banyak larangannya pula,” kataku protes.
“Aneh-aneh maksudnya gimana, Dek?,” tanya Kak Elang.
“Ya, gitu Kak. Terlalu ekstrim. Dikit-dikit gak boleh. Kayaknya semuanya gak boleh. Lebay banget tau, Kak”.
“Adek mau tau kenapa Kakak pengen Adek ngaji dan ikutan Rohis?,” tanya Kak Elang.
“Kenapa?”
“Karena Kakak sayang sama Adek. Dan Kakak gak mau Adek perempuan Kakak satu-satunya masuk neraka karena gak taat sama Allah. Kakak gak ngelarang Adek ikutan Lembaga Pers. Kalo emang Adek senang jurnalistik gak apa-apa. Tapi, jangan lupa Dek, hidup kita gak cuma di dunia aja. Setelah dunia ini kita akan mati dan kita gak tau kapan kita mati. Singkatnya, kita bisa mati kapan saja. Setelah itu, kita akan dibangkitkan lagi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita di dunia kemudian kita bakalan menuju tempat abadi, yakni di akhirat. Tapi, ingat, akhirat itu ada dua, surga dan neraka. Tinggal milih mau masuk mana. Adek mau masuk surga kan?”
“Iya, pastilah Kak. Siapa orang yang gak mau masuk surga?”
“Tapi, surga itu bukan untuk sembarang orang, Dek. Surga itu hanya untuk orang-orang spesial. Orang-orang yang bener-bener mau masuk surga pasti bakalan milih jalan yang akan mengantarkan dia menuju surga, bukan sebaliknya. Dan hanya Islam saja yang akan mengantarkan kita menuju surga. Islam punya aturan. Nah, kalo kita gak tau Islam itu seperti apa, gimana caranya kita mau masuk surga? Makanya, harus belajar Islam dari A-Z. Karena Islam itu gak hanya sekedar sholat, puasa, zakat, haji. Islam itu ideologi, Dek. Islam itu jalan hidup. Aturan Islam gak hanya ibadah ritual aja, tapi juga sampai masalah politik dan bernegara,” jelas Kak Elang.
Aku hanya diam. Aku tidak bisa membalas argumen Kak Elang karena aku memang sudah tidak punya alasan lagi. Selama ini aku menghindar setiap kali Kak Elang menyuruhku untuk mengkaji Islam. Aku selalu saja punya banyak alasan untuk mengatakan bahwa aku tidak bisa. Aku lebih senang dengan kegiatan di lembaga pers fakultasku yang menurutku lebih bebas dan fun. Tidak ada aturan mengikat seperti Rohis. Tapi, benar juga kata Kak Elang. Hidup ini singkat. Manusia sama sekali tidak akan tahu kapan mereka akan kembali kepada Zat Yang Menciptakan mereka. Manusia bisa mati kapan saja. Beruntung jika matinya khusnul khatimah, tapi jika sebaliknya?
Aku lalu berpikir ulang. Mungkin saran Kak Elang tidak terlalu buruk. Setidaknya aku sudah mencoba. Daripada tidak sama sekali. Toh cuma ikutan pengajian. Dan itu pun gak setiap hari. Hitung-hitung mengumpulkan amal kebaikan untuk persiapan di akhirat kelak.
***
Sore itu seisi rumah tampak heran dengan penampilanku. Ya, memang aku berpenampilan tidak biasa. Biasanya aku memakai jeans. Hari ini aku memakai rok dan blues. Pemandangan yang luar biasa.
“Wah, anak Bunda cantik banget. Mau kemana?,” tanya Bunda.
“Kak Cantik mau ngedate ya?,” timpal Egy.
“Kencan? Sembarangan aja!,” hardikku.
“Trus, Adek mau kemana?,” tanya Kak Elang kemudian.
“Mau ke kampus, Kak. Ada kajian,” jawabku sambil tersenyum.
“Oh, gitu. Mau Kakak anter?,” tanya Kak Elang.
“Adek dijemput kok, Kak”
“Siapa yang jemput? Cewek kan?”
“Ya kali cowok, Kak. Orang kajiannya buat cewek-cewek doang kok. Adek dijemput kak Vania. Bentar lagi orangnya nyampe”
“Oh, ya udah. Hati-hati, Dek” kata Kak Elang. Hari itu sepertinya Kak Elang yang terlihat paling bahagia.
Aku lalu bergegas keluar. Di depan pagar sudah ada kak Vania yang menungguku. Ia naik motor matic dan ternyata pakaiannya seperti yang dikasih Kak Elang ke aku alias gamis.
“Dek Cantik ya?”, tanyanya ramah.
“Iya, Kak”, jawabku sambil tersenyum.
“Vania”, ia lalu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku pun membalas uluran tangannya.
Kami lalu berangkat menuju kampus. Ternyata di sana tidak hanya kami berdua tetapi ada beberapa peserta lain dan rata-rata semua pakai gamis. Aku merasa canggung sendiri. Kemudian beberapa orang datang menyambut dan menyalamiku.  Mereka semua teman-teman pengajian kak Vania.
“Namanya siapa, Dek?”, tanya salah seorang teman kak Vania.
“Cantik, Kak”, jawabku singkat.
“Wah, namanya bagus. Cocok banget sama tema kajian hari ini”, jawabnya.
“Emang temanya apa, Kak?”, tanyaku.
“Cantik; Antara Mitos dan Realita”, jawabnya. Aku pun langsung tersenyum.
Kajian hari ini benar-benar berbeda dengan kajian yang biasanya. Jika biasanya orang-orang hanya menggambarkan Islam sebagai agama spiritual, di kajian ini Islam benar-benar ditunjukkan dengan gambaran yang berbeda. Kak Elang benar, Islam bukan hanya sekedar agama tetapi juga jalan hidup. Makanya, Islam tidak hanya mengatur tentang ibadah ritual, tetapi juga bermasyarakat dan bernegara. Realita perempuan saat ini dimana mereka semua ingin tampil cantik sesuai trend bahkan muslimah sendiri pun seperti itu karena ternyata ada sebuah sistem lain yang kemudian meracuni pikiran mereka saat ini. Dan karena sistem itulah perempuan berlomba untuk cantik tetapi lupa akan kewajiban mereka sebagai wanita. Hingga akhirnya dibuatlah kontes-kontes kecantikan seperti Miss World ataupun Miss Universe padahal sejatinya kontes-kontes kecantikan itu hanyalah alat untuk menghinakan perempuan. Sungguh berbeda dengan Islam. Sayangnya, hari ini Islam tidak diterapkan dalam bentuk Negara sehingga para muslimah seringkali ternodai kehormatannya. Akhirnya, terjawab sudah keraguanku selama ini. Dan mulai minggu depan, aku akan mulai mengkaji Islam lebih intensif bersama kak Vania.
***
Aku mengetuk pintu kamar Kak Elang.
“Siapa?”, tanya Kak Elang.
“Cantik”
“Masuk”, kata Kak Elang dari dalam.
“Lagi sibuk, Kak?”
“Ada apa, Dek?”
“Gak, Kak. Adek Cuma mau bilang makasih ke Kakak”
“Makasih? Dalam rangka?”
“Karena Kakak udah sayang banget sama Adek. Dan makasih juga karena hari ini Adek akhirnya mengerti tentang makna nama Adek”
“Serius, Dek?”, Kak Elang tersenyum.
“Emang Adek ada tampang becanda? Ah, Kakak nih”
“Yah gitu aja ngambek. Iya, sama-sama, Dek”
“Adek gak akan protes lagi sama Bunda. Dan Adek juga gak akan ngeliatin artis-artis yang katanya cantik tapi Cuma fisik doang. Karena Allah gak pernah melihat fisik tapi melihat ketakwaan”
“Wah, udah pinter nih adeknya Kak Elang”
“Iya, dong. Kan Adek udah ngaji”
“Sip. Sekarang tantangannya adalah bagaimana menjaga keistiqomahan. Kakak tunggu perubahannya”
“Siap, Kak!,” kataku sambil meniru gaya orang hormat bendera.
***
“Kaaaakk!” teriakku dari tangga. Aku bergegas cepat-cepat menuruni tangga dengan kaos kaki yang masih kutenteng bersama tasku.
Hari ini ada Long March Tolak Miss World 2013. Kemarin kak Vania memberitahu acara ini padaku. Malamnya ingin kuberitahukan pada Kak Elang, tapi karena Kak Elang pulang larut malam, akhirnya aku tidak sempat memberitahunya.
“Kenapa, Dek?”
“Kakak mau ikut Long March Tolak Miss World kan?”
“Iya, kok tau dek?”
“Adek ikut”
“Gak dijemput Vania lagi?”
“Ehem, nyariin?”
“Gak gitu. Adek Jealous ya?”
“Idieh, siapaaa juga? Kemarin tuh diajakin bareng sama kak Vania tapi Adek bilang kalo Adek bareng Kakak aja. Tapi, Kakak sih. Semalam pulangnya lama banget. Adek tungguin sampe ketiduran, tau”
“Nungguin Kakak? Tumben”
“Iya, mau bilang biar bareng gitu ke acaranya”
“Kakak gak tau. Kenapa gak SMS atau telfon?”
“Emang Kakak bales? Kakak tuh susah kalo disuruh bales SMS”
Kak Elang tersenyum sambil mengelus kepalaku.
“Akhirnya jilbabnya dipake juga”
“Doain semoga istqomah. Insya Allah mau dipake terus”
“Sip. Barang-barangnya udah semua nih?”
“Iya, tinggal kaos kaki”
“Ya udah, Kakak tunggu di depan ya”
“Oke, Kak”
Akhirnya aku pun berangkat bersama Kak Elang. Aku berpikir andai saja Bunda dan kak Farah juga ikut. Tapi, lain kali akan ku ajak kak Farah dan Bunda. Agar semua bisa paham Islam dan menjadikan Islam sebagai solusi dalam kehidupan. Terima kasih ya Allah, telah Engkau bukakan hati ini untuk menjemput hidayahMu. Terima kasih untuk Ayah dan Bunda yang sudah memberiku nama yang indah. Terima kasih Kak Elang yang selalu sabar menghadapiku dan terima kasih Kak Vania yang mau mengajariku bagaimana menjadi seorang Muslimah kaffah.

-SELESAI-

Malang, 23 Oktober 2013. 17:03 WIB.

Ini adalah cerpen yang saya buat pas saya lagi mood bikin cerpen. Setelah sekian lama saya tidak nulis fiksi dan berkecimpung di dunia mengarang bebas*huehe* dan kebetulan waktu itu lagi heboh-hebohnya Penolakan terhadap ajang Miss World :D
Cerita ini asli fiksi. Special for Amirah Puspadewi yang udah pernah sy kasih draftnya dan Nurintan Sri Utami yang pernah saya janjiin baca cerpen buatan saya :D