Gak terasa udah tanggal udah hari Selasa aja. Udah dua hari
sejak HUT Kemerdekaan RI. Haha, kenapa malah tiba-tiba bahas 17-an ya? Yah,
mungkin karena emang masih hot *dari oven?*
Baiklah, daripada berlama-lama, saya mau refreshing. Kemarin
berasa jadi alien. Hikikomori 8 jam
di kamar. Sadar-sadar udah maghrib aja. Duduk nyari Kanji plus artinya sukses bikin kepala nge-dance *apaan sih?* Taihen da naa… But the day has over. Now, I have
time to write, yeheet :D
Oke, kali ini saya mau cerita tentang apa yang saya kaji di halqah saya kemarin ba’da subuh. Ya,
Daulah Islam. Kitab yang isinya tentang perjalanan Rasulullah mulai dari
menjadi Rasul, membentuk kutlah, berdakwah, menegakkan Daulah Islam sampe
keruntuhan Daulah Islam yang sekarang saya dan generasi Muslim hari ini
merasakannya. Kacau-balau, porak-poranda, hancur-lebur. Tapi, gak tau apa Cuma
saya dan segelintir orang yang ngerasain atau mungkin yang lain ada yang
ngerasa tapi cuek aja, wallahu ‘alam.
Pembahasan kemarin tentang Perang Mu’tah. Salah satu perang
yang luar biasa diantara sekian banyak perang yang dilakukan kaum Muslimin
selama penyebaran Islam. FYI, Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Bentuk
jihad yang dimaksud di sini adalah perang. Tapi, itu gak sembarang perang. So,
jangan samain kayak Israel nge-bom Palestine. That’s a huge different, dude. Sip,
now let’s back to the topic. Tadi cuma trivia aja. Kalo mau bahas lebih lanjut,
bisa ketemu saya :D
Perang Mu’tah adalah perang pertama kaum Muslimin melawan
penguasa luar negeri di luar Jazirah Arab. Sebelumnya, perang yang dilakukan
kaum Muslimin melawan kabilah-kabilah di Jazirah Arab. Seperti namanya, perang
ini terjadi di Mu’tah, wilayah Syam (sekarang Suriah). Waktu itu Syam di bawah
kekuasaan Romawi. Perang ini terjadi di bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriyah. Satu
lagi, ini adalah perang pertama yang tidak dipimpin langsung oleh Rasulullah
SAW.
Menurut saya pribadi, perang Mu’tah itu semacam
Rectoverso-nya perang Uhud. Tapi, semoga ada istilah yang lebih bagus lagi. Dan
perang ini sukses bikin saya nangis pas tau kisahnya. Meskipun di perang Uhud
saya juga sedih tapi lebih banyak keselnya karena efek perang Uhud cukup bikin
Rasulullah kewalahan untuk mengembalikan wibawa Daulah Islam dan kaum Muslimin.
Saya juga akhirnya ingat kalo Mush’ab bin Umair meninggal di perang Uhud. Dan
saya ngerasa katrok banget karena baru tau tentang perang ini soalnya dulu Cuma
dapet cerita tentang perang Badar sama perang Uhud doang.
Sabda Rasulullah SAW yang paling bikin merinding di perang
ini adalah setelah beliau menunjuk Zain bin Haritsah yang sudah seperti anak
beliau sebagai panglima perang.
“Jika Zaid gugur, maka
Ja’far bin Abi Thalib yang akan memimpin pasukan. Jika Ja’far gugur, maka
Abdullah bin Rawahah yang akan memimpin pasukan”.
Ya Allah, itu udah kayak tanda aja kalo 3 panglima dari 3000
pahlawan terbaik kaum Muslimin itu bakalan gugur sebagai syuhada. Air mata saya
langsung jatuh gitu aja meskipun udah susah payah saya tahan. Dan yang bikin
saya tambah terkejut adalah turut sertanya Khalid bin Walid di perang ini.
Bukan lagi sebagai musuh tetapi sebagai salah satu dari 3000 pahlawan terbaik
kaum Muslimin. Keren kan? :D
Perang ini emang gak mudah karena kaum Muslimin harus melawan
200.000 total pasukan Romawi plus Heraklius. Kaum Muslimin awalnya mau ngirim
surat ke Rasulullah tapi kemudian Abdullah bin Rawahah bilang, “Wahai kalian,
sesungguhnya kita tidak memerangi mereka karena jumlah, tidak pula karena
kekuatan, pun karena banyaknya. Tapi, kita memerangi mereka tidak lain karena
agama ini yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka, berangkatlah. Sungguh di
sana akan kalian temukan, satu dari dua kebaikan, kemenangan atau syahid”.
Akhirnya, kaum Muslimin berangkat. Tapi, karena pasukan yang
sangat besar, tentu ini saat-saat yang sulit. Para panglima gugur sebagai
syuhada. Terakhir, Panji diserahkan kepada Khalid bin Walid. Dengan
strateginya, Khalid berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan memerintahkan
membuat kamuflase debu seolah-olah pasukan kaum Muslimin bertambah jumlahnya. Hasil
dari perang ini pun seri.
Dari perang Mu’tah terlihat bagaimana loyalitas kaum Muslimin
kepada Islam dan bagaimana loyalitas mereka kepada pemimpinnya. Terlihat pula
keberanian para pasukan beserta yang melewati batas khayalan. Begitu pun para
panglimanya, meski sudah dikabarkan syahid bahkan sebelum memulai peperangan,
mereka tidak mundur selangkah pun. Bagi mereka, Surga adalah segalanya. Ridho
Allah adalah cita-cita di atas cita-cita.
Begitulah aktivitas sebuah Negara dengan tujuan yang jelas. Begitulah
Islam mengajarkan kita. Meski sekarang opini tentang Khilafah terus diusahakan
untuk redup oleh orang-orang kafir, tapi Allah tidak pernah tidur dan Allah
tidak buta. Allah akan menjaga Islam lewat orang-orang yang Dia pilih yang
lewat tangan mereka Islam akan kembali tegak. Is that you? Oh, no. That’s us!
Last but not least, semoga kita termasuk di dalamnya.
Generasi penjaga Islam terpercaya yang dicintai oleh Allah dan lewat
tangan-tangan kita Allah memberikan pertolonganNya. Mari memantaskan diri and
have a great day!
Shelter,
August 19th 2014. 09:26 AM. Try to love myself the way I am.
No comments:
Post a Comment