Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Saturday, August 30, 2014

Pengalaman adalah Guru Terbaik

Seperti judulnya, ungkapan itu pasti udah terkenal banget buat yang dulu pas sekolah pernah belajar Bahasa Indonesia. Pengalaman mengajarkan seseorang tentang banyak hal yang belum tentu bisa ia dapatkan dimana saja ia inginkan. Seperti halnya yang saya alami.
Bulan November tahun lalu saya resmi dipindahkan di sektor dan tim lain meski masih dalam satu majal dakwah. Saya tidak menyangka akan dipindahkan di tim propaganda. Namun, setelah merasakan pengalaman dakwah dengan sasaran yang berbeda di tim tersebut, saya akhirnya terbiasa dengan suasananya. Setelah ini, saya pasti akan merindukan suasana rapat penuh imajinasi dan berbagai uslub dari adik-adik super. Saya juga akan merindukan keliling UKM se-universitas. Dari BEM fakultas sampai himpunan mahasiswa. Tidak hanya di dalam kampus, tapi juga di luar kampus. But, nothing last forever. Saya tidak selamanya di tim itu. Dan sekarang saya kembali di majal yang seharusnya saya berada. Tapi, saya tidak berharap kondisinya sama seperti saat saya meninggalkan tim saya yang lama. Saya tentu berharap semua akan lebih setelah saya kembali. Dan dengan pengalaman saya sebelumnya, saya berharap bisa mengubah tim lama saya ini menjadi lebih baik.
Saya akan merindukan kalian. Mbak Dina yang sekarang dapat amanah baru. Terima kasih untuk pengalamannya yang tidak terlupakan. Terima kasih untuk segala ilmunya. Jazakillahu khairan katsir, Mbak Din ^^ Tidak lupa untuk Kholish, meskipun tidak lama tapi banyak sekali memberi inspirasi terutama saat saya menuliskan sesuatu. Semua pasti setelah ngontak berdua sama Kholish :D Untuk uri Partner yang selalu bisa mengimbangi dengan bahasa yang ringan seperti kapas. Jazakillah untuk setiap keceriaan. You’re really a moodbooster ^^ Untuk Yeni, partnerku setiap hari Senin, jazakillah untuk aksimu yang gak pernah berhenti dan gak bisa diam, untuk cerita-cerita dan semua senyum yang pernah kita bagi (haha apaan sih?) plus duo Ocha-Titin yang selalu muncul dengan ide super imajinatif yang bikin saya gak pernah berhenti ketawa. I’ll gonna miss y’all.
Yang namanya obat akan lebih banyak yang pahit. Meski terkadang bisa manis. Tapi, bagaimana pun rasanya, biar cepat sembuh terkadang obat yang pahit itu dibutuhkan. Ungkapan lainnya, no pain no gain. Yah, mungkin untuk saat ini obat semacam itulah yang saya butuhkan untuk membuat saya lebih baik daripada sebelumnya. Belajar mencintai apa yang memang sudah diberikan olehNya, bukankah itu lebih baik daripada menyempitkan hati dengan selalu mencari jalan untuk melarikan diri? Ganbare!

Shelter, August 30th 2014. 08:50 PM.


Backsound : FT Island-Try Again

Friday, August 29, 2014

Episode; Aku dan Perang Mu'tah

Gak terasa udah tanggal udah hari Selasa aja. Udah dua hari sejak HUT Kemerdekaan RI. Haha, kenapa malah tiba-tiba bahas 17-an ya? Yah, mungkin karena emang masih hot *dari oven?*
Baiklah, daripada berlama-lama, saya mau refreshing. Kemarin berasa jadi alien. Hikikomori 8 jam di kamar. Sadar-sadar udah maghrib aja. Duduk nyari Kanji plus artinya sukses bikin kepala nge-dance *apaan sih?* Taihen da naa… But the day has over. Now, I have time to write, yeheet :D

Oke, kali ini saya mau cerita tentang apa yang saya kaji di halqah saya kemarin ba’da subuh. Ya, Daulah Islam. Kitab yang isinya tentang perjalanan Rasulullah mulai dari menjadi Rasul, membentuk kutlah, berdakwah, menegakkan Daulah Islam sampe keruntuhan Daulah Islam yang sekarang saya dan generasi Muslim hari ini merasakannya. Kacau-balau, porak-poranda, hancur-lebur. Tapi, gak tau apa Cuma saya dan segelintir orang yang ngerasain atau mungkin yang lain ada yang ngerasa tapi cuek aja, wallahu ‘alam

Pembahasan kemarin tentang Perang Mu’tah. Salah satu perang yang luar biasa diantara sekian banyak perang yang dilakukan kaum Muslimin selama penyebaran Islam. FYI, Islam disebarkan dengan dakwah dan jihad. Bentuk jihad yang dimaksud di sini adalah perang. Tapi, itu gak sembarang perang. So, jangan samain kayak Israel nge-bom Palestine. That’s a huge different, dude. Sip, now let’s back to the topic. Tadi cuma trivia aja. Kalo mau bahas lebih lanjut, bisa ketemu saya :D

Perang Mu’tah adalah perang pertama kaum Muslimin melawan penguasa luar negeri di luar Jazirah Arab. Sebelumnya, perang yang dilakukan kaum Muslimin melawan kabilah-kabilah di Jazirah Arab. Seperti namanya, perang ini terjadi di Mu’tah, wilayah Syam (sekarang Suriah). Waktu itu Syam di bawah kekuasaan Romawi. Perang ini terjadi di bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriyah. Satu lagi, ini adalah perang pertama yang tidak dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Menurut saya pribadi, perang Mu’tah itu semacam Rectoverso-nya perang Uhud. Tapi, semoga ada istilah yang lebih bagus lagi. Dan perang ini sukses bikin saya nangis pas tau kisahnya. Meskipun di perang Uhud saya juga sedih tapi lebih banyak keselnya karena efek perang Uhud cukup bikin Rasulullah kewalahan untuk mengembalikan wibawa Daulah Islam dan kaum Muslimin. Saya juga akhirnya ingat kalo Mush’ab bin Umair meninggal di perang Uhud. Dan saya ngerasa katrok banget karena baru tau tentang perang ini soalnya dulu Cuma dapet cerita tentang perang Badar sama perang Uhud doang.

Sabda Rasulullah SAW yang paling bikin merinding di perang ini adalah setelah beliau menunjuk Zain bin Haritsah yang sudah seperti anak beliau sebagai panglima perang.
“Jika Zaid gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib yang akan memimpin pasukan. Jika Ja’far gugur, maka Abdullah bin Rawahah yang akan memimpin pasukan”.

Ya Allah, itu udah kayak tanda aja kalo 3 panglima dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin itu bakalan gugur sebagai syuhada. Air mata saya langsung jatuh gitu aja meskipun udah susah payah saya tahan. Dan yang bikin saya tambah terkejut adalah turut sertanya Khalid bin Walid di perang ini. Bukan lagi sebagai musuh tetapi sebagai salah satu dari 3000 pahlawan terbaik kaum Muslimin. Keren kan? :D

Perang ini emang gak mudah karena kaum Muslimin harus melawan 200.000 total pasukan Romawi plus Heraklius. Kaum Muslimin awalnya mau ngirim surat ke Rasulullah tapi kemudian Abdullah bin Rawahah bilang, “Wahai kalian, sesungguhnya kita tidak memerangi mereka karena jumlah, tidak pula karena kekuatan, pun karena banyaknya. Tapi, kita memerangi mereka tidak lain karena agama ini yang dengannya Allah memuliakan kita. Maka, berangkatlah. Sungguh di sana akan kalian temukan, satu dari dua kebaikan, kemenangan atau syahid”. 

Akhirnya, kaum Muslimin berangkat. Tapi, karena pasukan yang sangat besar, tentu ini saat-saat yang sulit. Para panglima gugur sebagai syuhada. Terakhir, Panji diserahkan kepada Khalid bin Walid. Dengan strateginya, Khalid berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan memerintahkan membuat kamuflase debu seolah-olah pasukan kaum Muslimin bertambah jumlahnya. Hasil dari perang ini pun seri. 

Dari perang Mu’tah terlihat bagaimana loyalitas kaum Muslimin kepada Islam dan bagaimana loyalitas mereka kepada pemimpinnya. Terlihat pula keberanian para pasukan beserta yang melewati batas khayalan. Begitu pun para panglimanya, meski sudah dikabarkan syahid bahkan sebelum memulai peperangan, mereka tidak mundur selangkah pun. Bagi mereka, Surga adalah segalanya. Ridho Allah adalah cita-cita di atas cita-cita. 

Begitulah aktivitas sebuah Negara dengan tujuan yang jelas. Begitulah Islam mengajarkan kita. Meski sekarang opini tentang Khilafah terus diusahakan untuk redup oleh orang-orang kafir, tapi Allah tidak pernah tidur dan Allah tidak buta. Allah akan menjaga Islam lewat orang-orang yang Dia pilih yang lewat tangan mereka Islam akan kembali tegak. Is that you? Oh, no. That’s us! 

Last but not least, semoga kita termasuk di dalamnya. Generasi penjaga Islam terpercaya yang dicintai oleh Allah dan lewat tangan-tangan kita Allah memberikan pertolonganNya. Mari memantaskan diri and have a great day! 

Shelter, August 19th 2014. 09:26 AM. Try to love myself the way I am.

Monday, August 04, 2014

Percakapan; Passion

Saya       : Mbak, aku punya cita-cita dari dulu.
Mbak N   : Apa dek?
Saya       : Mau jadi Event Organizer untuk pernikahan Islami
Mbak N   : Wah, bagus tuh dek. Ntar kan sekalian memperkenalkan gimana itu pernikahan Islami.
Saya       : Iya, Mbak. Trus kan kalo Khilafah tegak jadi lebih gampang untuk sosialisasinya.
Mbak N   : Tapi, udah siap belum dek?
Saya       : Apa Mbak?
Mbak N   : Ya, modal dek. Kan itu butuh modal yang bisa dibilang gede. Gak cuma itu, anty (kamu) juga butuh partner.
Saya       : Iya sih, Mbak. Haha, aku mau nabung kalo gitu. Trus, partner? Maksudnya Mbak? Rekan kerja gitu? Nanti aku ajak si Maryam aja, Mbak.
Mbak N   : Ya elah dek, maksud Mbak itu anty harus punya suami. Gimana caranya mau sosialisasi pernikahan islami anty aja belum nikah?
Saya       : (ketawa) *skakmatdahgue* 
Percakapan ini adalah kisah nyata. Jika ada yang tersinggung, mohon maaf :)
*Ya udah deh, kalo gitu sekarang saya mau belajar jadi perancang pakaian muslimah yakni jilbab. Kan ada si Balgis. Gis, mau ya jadi modelku? Model Hijab A***A udah banyak. Mumpung aku lagi semangat nih :D*
Dua hal di atas hanyalah beberapa dari sekian banyak passion saya. Meskipun di luar saya terlihat boyish tapi sebenarnya saya masih normal kok. Saya perempuan tulen. Serius ^^ *cuma agak sedikit abnormal :p*

04082014. Masih dengan instrument kesayangan

Percakapan; Tak Cukup Sebuah Syukur

And when the time gets hard,
there’s no way to turn,
as He promises He will always be there
to bless us with His Love and His mercy

Pernah merasa jadi orang paling tidak beruntung? Saya pernah. 
Tidak hanya itu, saya pernah menyalahkan kenyataan, saya pernah menyalahkan seluruh dunia dan yang paling parah saya pernah menyalahkan keberadaan saya di dunia ini. 
Seperti sinetron? Memang. Tapi, itu nyata. 
Cukup lama saya beranggapan seperti itu hingga saat saya tersadar, saya akhirnya menyalahkan diri saya sendiri. Parah? Iya, sangat. 
Dan waktu mengajarkan banyak hal. Termasuk bagaimana saya menemukan cinta. Tidak terhitung berapa kali saya berusaha mendapatkan cinta dari orang lain hingga saya terlalu lelah untuk berusaha. 
Menjadi yang terbaik, menjadi no.1 agar terlihat oleh orang lain, berusaha menjadi teman yang baik, peduli, menyayangi. Menjadi anak yang patuh dan menurut. Namun, semua nihil. Semakin saya berusaha mencarinya, semua itu semakin menjauh dari saya. Dan hingga sekarang ikhlas dan sabar itu masih saya pelajari. 
Saya egois dan teramat posesif. Di satu sisi saya terlalu memikirkan perasaan orang lain, namun saya juga berhati-hati dan lebih sering melarikan diri untuk menyelamatkan perasaan saya. Dan pernah sekali saya tidak melihat orang terjahat di alam semesta selain diri saya. Tidak ada lagi yang lebih jahat daripada saya. Itu menurut saya. 
Allah SWT. Entah detik ke berapa saya baru menyadari keberadaanNya. Dan saat itu saya benar-benar merasa sangat jahat. Dialah satu-satunya. Satu-satunya yang mengawasi saya, melihat ke arah saya, mengasihi saya dan mengajari saya arti kehidupan serta bagaimana menjadi seorang manusia. 
Allah SWT. Saya baru tersadar bahwa yang membuat saya bisa survive hingga detik ini adalah Rahmat dan KasihNya. Bahkan saat saya tidak punya harapan sama sekali. Allah mengirimkan orang-orang baik untuk membantu saya bangkit dari keterpurukan. Tidak hanya itu, Allah mengizinkan saya untuk membenturkan sifat-sifat negatif saya dengan menghadirkan orang-orang lainnya untuk mengajari saya bagaimana mengontrol emosi dan ikhlas terhadap sesuatu. Setiap kali saya terbentur, Allah tidak meninggalkan saya. Tidak pernah sekalipun. Berapapun cinta yang saya beri, balasan bagi saya selalu lebih besar. 
Ya, Allah. Dialah Allah. Tuhan Semesta Alam. Jika masih banyak orang yang ingkar terhadapNya, namun cinta dan kasih untuk makhlukNya selalu lebih besar. Dialah pemilik nama Ar Rahmaan dan Ar  Rahiim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. 
Hadiah terbesar dalam hidup saya diantara sekian banyak hal buruk yang saya dapatkan adalah menjadi bagian dari perjuangan dakwah melanjutkan kehidupan Islam dan berada di dalam jamaah yang hingga detik ini berjuang untuk tujuan itu. 
Dakwah ini mengajarkan saya menjadi seorang manusia yang berarti. Dakwah ini membawa saya dalam pertemuan dengan orang-orang luar biasa yang seringkali membuat saya iri dan merasa payah karena yang ujiannya lebih berat dari saya masih banyak. Dakwah ini juga yang membuat saya tidak pernah merasa sendirian dan kesepian meskipun saya berada jauh dari mereka. Dakwah ini yang membuat saya selalu merasa berada di rumah dengan keluarga.
Ya Allah, sekarang Hamba tau dimana titik terlemah Hamba. Dan tak cukup sebuah syukur atas seluruh pelajaran yang Engkau beri. Disaat seluruh dunia melihatku sebelah mata, Engkau percaya bahwa aku bukan orang biasa. Disaat dunia meninggalkanku, Engkau tetap di sana mengawasiku, melihatku tumbuh, memberikan cinta yang kubutuhkan, mengarahkan jalanku, menguatkan pijakanku, meneguhkan hatiku, dengan segala kerapuhan jiwa ini Engkau tak pernah lelah. Engkau selalu ada.
Hingga detik ini, Hamba masih belajar. Belajar untuk menaklukkan hawa nafsu Hamba. Belajar untuk menjadi yang terbaik di sisiMu. 
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Engkau, Ya Allah. 

Shelter, August 4th 2014. 08:49 AM. Start A New Episode

Tuesday, June 03, 2014

Together Everyone Achieve More

http://www.dragonbridgecapital.com/
November 2013, saya dinyatakan pindah tim. Awalnya saya berada di tim fakultas dan akhinya saya dipindahkan ke tim fungsional. Tim Kontak Aktivis. Tim yang tugasnya mendakwahkan Islam di kalangan para aktivis kampus. Mungkin, sekilas tim ini terlihat elit karena anggotanya pun sedikit. Tetapi, ternyata perjuangan mereka juga berat. Dan saya akhirnya menyadari, butuh waktu 3 tahun sampai akhirnya saya pantas diamanahi berada di tim ini.

Saya pun belajar bagaimana interaksi dengan aktivis. Jarang kami bisa berdiskusi karena kesibukan mereka yang padat. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah ada satu atau dua orang, meskipun jarang juga yang sepakat dengan ide yang kami bawa. Tapi, tak apa. Setidaknya kami diberi waktu menyampaikan ide kami. Awalnya di tim ada empat orang termasuk saya. Ada mbak Dina, Kholish dan Salma. Beberapa waktu kemudian ada Che Lyn. Setelah itu, Salma pindah karena sakit, Kholish juga pindah tim karena punya amanah baru dan Che Lyn harus pulang ke Vietnam. Kemudian masuklah personil baru. Anak-anak kecil yang luar biasa. Ada Yeni, Ummu, Khonsa dan Titin. Petualangan baru saya pun dimulai bersama empat anak ini.

Setiap kali rapat, selalu saja ada hal-hal baru yang dicetuskan. Rasa lelah karena harus keliling kampus ke UKM setiap hari terhapus ketika rapat dengan ide-ide kreatif bahkan terkesan absurd. Ummu selalu bisa jadi moodbooster untuk semuanya. Mbak Dina yang selalu menjelaskan apa adanya tapi tidak menggurui, Khonsa dan Titin yang selalu kompak ngikutin imajinasi Ummu. Dan Yeni dengan gayanya sendiri. Saya? Jadi cheerleader hehe, gak ya. Saya juga ikut meramaikan.

Ya, meskipun begitu tentu PR kami masih banyak. Begitupun PR dakwah ini. Menyadarkan umat bahwa sistem Demokrasi hari ini adalah penyebab kerusakan yang terjadi di seluruh dunia. Sistem Demokrasi yang telah memuluskan jalan bagi sistem ekonomi liberal untuk terus menjajah negeri-negeri dengan sumber daya alam yang banyak. Sistem Demokrasilah yang membuat sebuah negeri menjadi negara Korporasi termasuk Indonesia. Maka, sudah saatnya sistem busuk dan rusak ini diganti dengan sistem yang lebih manusiawi yakni sistem yang berasal dari Penciptanya manusia, Allah SWT. Karena semesta ini milik Allah. Saya, Anda, kita semua juga milik Allah. Maka, tak ada alasan bagi kita untuk menolak aturan dari Allah.

Wallahu 'alam bi ash shawaab

Shelter, June 3rd 2014. 09:37 AM. Nungguin Partner in Crime

Sunday, May 18, 2014

Berjalan Bersama Luka

 equinoxeles.blogspot.com
“Kau tidak akan bisa menjadi seorang Kage jika kau belum bisa menanggung beban seorang Kage”. (Gaara kepada Naruto)


”Selama dunia Ninja masih dengan sistem seperti ini, selama itu pula dunia Ninja akan selalu diliputi oleh kebencian”. (Yondaime Hokage kepada Naruto)


Setiap orang pasti memiliki masa lalu kelam. Memiliki luka yang mereka tanggung dan sakit hati yang mereka bawa dalam hidupnya. Setiap luka dan kesendirian selalu meminta tempat untuk berteduh. Dan setiap orang mencari tempat untuk menyembuhkan luka dan rasa sakit dari hatinya.

Allah SWT. Berfirman :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal beum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al Baqarah [2] : 214)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (Al Baqarah [2] : 155)

Rasulullah SAW. Bersabda :
“Para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih kemudain generasi setelahnya dan generasi setelahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila ia kuat dalam agamanya, maka ujian akan semakin ditambah. Apabila agamanya tidak kuat, maka ujian akan diringankan darinya. Tidak henti-hentinya ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memiliki kesalahan sedikit pun” (HR. Ahmad)

Dan benarlah hadist Rasulullah. Bahwa seseorang diuji berdasarkan kadar keimanannya. Dan yang tentu merasakan luka yang paling dalam dan sakit yang paling berat adalah para Nabi dan Rasul. Diantara mereka pun masih ada yang lebih berat lagi, yakni Ulul Azmi dimana salah satunya adalah Rasulullah SAW. sendiri. Dan benar pula bahwa manusia tidak akan berhenti diuji hingga ia berjalan tanpa kesalahan sedikit pun dan itu berarti tidak mungkin hidup manusia tidak diliputi dengan ujian. Namun, tentu terdapat perbedaaan antara orang-orang yang kuat imannya dengan yang tidak.

Orang yang kuat keimanannya kepada Allah, percaya bahwa ujian berupa luka dan rasa sakit merupakan bukti cinta Allah dan tempaan Allah untuk menjadikannya semakin kuat dan tangguh. Ia sadar bahwa ujian akan membuatnya menjadi orang yang lebih baik sehingga ia berusaha mencintai setiap ujian yang datang padanya meski itu berupa luka dan rasa sakit. Berbeda dengan orang yang tidak kuat keimanannya kepada Allah. Ia akan membenci ujian dan berusaha menyalahkan apapun yang bisa ia salahkan. Berlari dan terus berlari dari kenyataan hingga ia tidak menemukan jalan keluar selain jebakan kebencian yang tidak ada habisnya.

Hal tersebut wajar karena saat ini jebakan kebencian itu berada dalam sebuah jebakan yang lebih besar lagi, yakni sistem Demokrasi-Kapitalisme. Jebakan kebencian ini muncul dari segala penjuru tanpa peduli siapa yang terjebak di dalamnya. Dan akhirnya tak ada yang berpikir untuk keluar dari jebakan ini. Karena cinta dan benci adalah dua hal yang tidak jauh berbeda. Dua-duanya dapat bermuara pada luka dan menimbulkan rasa sakit. Semakin seseorang mencintai, kemungkinan dia terluka akan semakin besar. Hingga akhirnya dia tidak bisa memilih kecuali membenci. Namun, rasa sakit karena mencintai tidak sama dengan rasa sakit karena membenci.

Di luar sana, ada orang-orang yang berusaha menghancurkan kutukan kebencian ini dengan menghancurkan sistem Demokrasi-Kapitalisme dan menegakkan sebuah sistem baru yang akan memberikan cinta kepada semua orang, yaitu Khilafah. Mereka berdakwah tanpa henti. Dan berjalan bersama luka karena sistem dan luka yang harus mereka rasakan sebagai seorang pengemban dakwah. Itulah luka karena cinta. Namun balasannya tentu tak terkira. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Allah SWT berfirman :
“Allah tidak akan membebankan sesuatu melainkan dengan kesanggupan hambaNya…” (Al Baqarah [2] : 286)

“…Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”. Mereka itulah orang yang mendapat keberkahan sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al-Baqarah [2] : 155-157)

Besi kuat karena tempaan. Manusia kuat karena ujian. Tak seorang hebat pun yang tidak lahir dari luka dan rasa sakit. Maka seseorang yang beriman tentu tak takut dengan luka. Karena luka adalah penghapus dosa. Dan sisi Allah mereka akan mendapatkan tempat terbaik, yakni Surga. Karena Allah tidak akan ingkar janji.

“Aku percaya, suatu saat akan ada masa dimana semua orang bisa saling memahami satu sama lain” (Jiraiya Sensei)


Shelter, May 18th 2014. 10:25 AM. Membayangkan langit di luar sana.
Backsound : Utsusemi an instrument by Takanashi Yasuharu

Sunday, May 11, 2014

Al Qur'an, Tak Sekedar Bacaan

photo by tumblr
Beberapa hari yang lalu, di kampus saya diselenggarakan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) tingkat Universitas. Namanya MTQ pasti yang diperlombakan adalah bacaan Al-Qur’an, hafalan, dsb. Selain itu, masih ada kaligrafi, debat Al Qur’an dan karya tulis. Acara ini emang rutin tiap tahun dilaksanakan oleh pihak kampus. UAKI (Unit Aktivitas Kerohanian Islam) universitas juga berperan dalam acara ini. Sebelum maju sebagai perwakilan fakultas di tingkat universitas, tiap fakultas mengadakan seleksi MTQ di fakultas masing-masing. Dari perwakilan inilah yang kemudian berlaga di kompetisi MTQ universitas. Namun sayangnya acara ini tidak terlalu banyak yang antusias. Yah, dimana-mana orang yang nonton konser mesti lebih banyak. Sedih juga sih karena mayoritas di kampus adalah kaum Muslimin. Tapi, partisipasi mereka untuk Islam hampir gak ada.
        Ngomong-ngomong soal Al Qur’an, Alhamdulillah sekarang makin banyak yang tertarik untuk membacanya. Apalagi para artis. Dan sekarang kampanye ke arah Islam semakin meluas. Misal aja nih ada ODOJ dan sebagainya. Mungkin selain ODOJ masih ada lagi. Di satu sisi, saya senang dan mengapresiasi. Adanya MTQ yang rutin dilaksanakan pun sebenarnya menunjukkan harapan kaum Muslimin terhadap Islam masih ada. Tapi, Al Qur’an kan diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Namanya petunjuk berarti tidak hanya dibaca tapi juga diamalkan. Sayangnya, sekarang banyak aturan dari Al Qur’an yang belum dilaksanakan. Seperti contoh ekonomi. Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Tapi, faktanya sistem ekonomi hari ini ditopang oleh riba. Misal lagi, pembunuh yang membunuh dengan sengaja harus di qishash. Tapi, faktanya tidak diterapkan. Padahal, hukumnya sama wajibnya dengan puasa pada bulan Ramadhan. Contoh lain, laki-laki dan perempuan yang berzina harus dirajam atau dicambuk. Faktanya, banyak sekali yang sudah berzina tapi bebas-bebas saja berjalan dalam kehidupan ini padahal zina adalah dosa besar. Sama halnya dengan riba. Contoh lain, mengurusi jenazah adalah fardhu kifayah tapi banyak sekali jenazah yang tidak diurusi akibat tidak dikenali kerabatnya siapa atau tidak ada yang mau bertanggung jawab karena harus bayar macam-macam. Padahal, fardhu kifayah itu jika tidak ada yang melaksanakan maka seluruh kaum Muslimin berdosa. Di dalam Al Qur’an sendiri jelas terdapat seluruh aturan di seluruh aspek kehidupan. Mulai dari hubungan dengan Allah, diri sendiri sampai kenegaraan. Namun, saat ini kaum Muslimin masih belum banyak yang sadar bahwa Al Qur’an adalah solusi atas seluruh permasalahan.
Di dalam Al Qur’an juga Allah berfirman bahwa membuat hukum hanyalah hak Allah, tapi hari ini hukum dibuat oleh manusia. Sistem yang memperbolehkan hal itu bernama Demokrasi. Dan kaum Muslimin (masih) mengamininya. Maka wajar jika hari ini kaum Muslimin hanya mengambil Al Qur’an seluruhnya untuk dibaca. Sementara hukumnya yang seharusnya dijalankan secara kaffah hanya diambil sebagian-sebagian saja. Al Qur’an begitu diagungkan namun hanya sebatas bacaan. Setelah dibaca, ia disimpan di lemari dan tidak direnungi serta dijadikan acuan ketika ada masalah. Untuk masalah negeri ini, para pemimpin negeri ini sekalipun Muslim, mereka hampir tidak pernah melirik Al Qur’an untuk dijadikan solusi. Sungguh ironis. Padahal, mereka meyakini Al Qur’an berasal dari Allah.
Namun, ada orang-orang yang tidak ingin Al Qur’an hanya sekedar menjadi bacaan. Mereka ingin menerapkannya. Tapi, ternyata hal tersebut tidak mudah. Karena orang-orang tersebut justru dilarang oleh mereka yang setiap harinya membaca Al Qur’an. Ya, orang-orang yang mengagungkan Al Qur’an dengan membacanya setiap hari justru menghalangi orang yang ingin menerapkan isi Al Qur’an dalam kehidupan. Apakah orang yang membaca Al Qur’an itu bukan Muslim? Tentu saja tidak. Mereka Muslim. Dan tidak sedikit yang memiliki ilmu tentang Islam. Namun, mereka membenci orang yang ingin menerapkan Al Qur’an.
Saya sendiri juga heran. Kenapa membaca Al Qur’an yang sunnah mengalahkan penerapan Al Qur’an yang sudah jelas-jelas wajib? MTQ selalu diselenggarakan. Tetapi, ketika isi Al Qur’an ingin diterapkan di seluruh penjuru dunia, mereka ramai-ramai melarang. Sebegitu menyeramkannyakah hukum yang berasal dari Tuhan Semesta Alam? Ataukah memang ada pemikiran lain yang menyebabkan kaum Muslimin menjadi hipokrit?
Ya, Sekulerisme itu nyata kawan. Dan untuk membunuhnya, lawanlah dengan pemikiran yang menjadikan Allah tidak hanya Pencipta tetapi juga Pengatur. Tidak lain dan tidak bukan adalah Islam. Islam Kaffah. Bukan Islam moderat. Karena Islam tidak mengenal kata kompromi.
Allah SWT berfirman
“Hai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah ikut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Al Baqarah : 208)
So, tidak ada gunanya masih menerapkan Demokrasi yang hanya menjadikan Al Qur’an sebagai bahan bacaan tanpa penerapan. Saatnya mengganti dengan Khilafah, sistem pemerintahan yang diwariskan Rasulullah dan para Shahabat, yang menjadikan Al Qur’an dan as Sunnah sebagai pilarnya.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab
Shelter, May 10th 2014. H-20 menuju KIP.

Sunday, May 04, 2014

Potret Buram Pendidikan Indonesia

Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional. Dulu, jaman SMA, tiap tanggal 2 Mei, pasti kelas saya jadi grup paduan suara untuk upacara tingkat Provinsi di kantor Gubernur. Kenapa? Karena sekolah saya yang paling dekat dengan kantor Gubernur haha :D Sayangnya, semua acara tersebut tidak lebih dari ceremonial belaka. Kenapa? Karena ternyata saat ini potret pendidikan di Indonesia belum menemukan titik cerahnya.
Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tujuan Negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ternyata tujuan itu seperti pepatah jauh panggang dari api.
Seiring dengan berjalannya waktu saya banyak belajar dari kejadian yang terjadi di sekitar saya. Dulu, zaman saya SD-SMA, pendidikan masih terjangkau. Tapi, setelah saya masuk perguruan tinggi *padahal negeri* ternyata pendidikan tidak lagi menjadi kebutuhan primer tetapi tersier. Karena untuk sekolah itu perjuangannya luar biasa. Ngumpulin duit berjuta-juta. Mulai dari TK-kuliah. Miris sekali melihat banyak generasi muda yang harusnya duduk di bangku sekolah, tapi karena mereka tidak memiliki biaya maka berakhirlah semua impian mereka. Okelah ada beasiswa macam BOS atau Bidik Misi. Tapi, ternyata tidak semua orang *yang pantas menerima* bisa menikmatinya. Justru, orang yang sebenarnya mampu yang mendapatkan beasiswa untuk orang yang tidak mampu. Masya Allah. Ini namanya terlalu. Tapi, ini fakta. Pendidikan semakin lama semakin langka hingga muncul anekdot, “Orang miskin dilarang sekolah”. Dan ini pula yang menjadi salah satu lingkaran setan kemiskinan di negeri ini. Kenapa? Ketika ditanya, kenapa dia tidak bisa berobat? Dia miskin. Kenapa dia miskin? Tidak punya pekerjaan. Kenapa tidak punya pekerjaan? Tidak punya pendidikan. Kenapa tidak punya pendidikan? Karena dia miskin. Akan selalu seperti itu. Berputar di situ-situ saja. Seolah kemiskinan  adalah warisan dari orang tua. Semakin hari yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Memang di dunia ini takkan ada orang kaya saja, tapi kalo orang miskinnya itu beranak cucu, turun-temurun, itu namanya apa? Out of mind kan?
Belum lagi dari sisi output. Hari ini pendidikan mencetak generasi pragmatis bin materialistis. Karena memang masuknya saja mahal. Ini juga kali ya yang bikin orang korupsi. Kalo udah jadi wakil rakyat pada balik modal, karena pengorbanannya juga gak tanggung-tanggung. Sama kayak pendidikan hari ini. Dan yang paling parah akhirnya generasi ini gak ada lagi yang mikirin soal masa depan negerinya. Mereka sibuk ngejar mimpi-mimpi mereka sendiri. Bahkan mereka lebih bangga bekerja di perusahaan asing karena gajinya tinggi *padahal CEO-nya bisa puluhan kali lipat gajinya* dan imbasnya adalah generasi hari ini sangat susah diajak mikir permasalahan umat. Mereka bisanya kuliah, ngerjain laporan, tugas biar dapat IP perfect. Setelah itu kalo bosen, ikut ekskul yang having fun atau ikut dance cover, karaoke, dsb. Acara mahasiswa juga gak mencerminkan mahasiswa banget. Harusnya kalo mahasiswa itu penuh suasana panas forum-forum diskusi ilmiah, menelorkan ide untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Tapi, hari ini justru sebaliknya. Jika pun ada forum-forum seperti itu, semua tidak lepas dari kepentingan-kepentingan kelompok tertentu tanpa sebuah tujuan jelas. Boro-boro mencerdaskan, yang ada malah menjerumuskan. Forum ideologis? Jangan ditanya. Jauh dari Allah? Biasa. Udah sampai tingkat parah generasi negeri yang katanya Zamrud Khatulistiwa ini.
Lalu, kenapa semua ini bisa terjadi? Ya, semua gak lepas dari atasnya. Apalagi kalo bukan kebijakan sistem yang diterapkan hari ini. Lewat kurikulum, pendidikan hari ini didesain super matre karena dalam sistem kapitalis, apa yang bisa dijual ya dijual termasuk jasa pendidikan. Saya juga sampai miris, ketika institusi pendidikan udah gak ada beda dengan convenient store macam Alfa Mart atau Indomaret. Padahal, pendidikan adalah ranah yang harusnya lebih mulia dari sekedar tempat berbelanja jasa pelayanan. Pendidikan adalah dunia dimana akan dicetak orang-orang yang membangun peradaban dunia. Pantas saja, kebijakan di negeri ini semua hasil dagang. Pendidikannya aja gitu. Wajar jika outputnya adalah orang-orang yang sangat oportunis. Asal ada manfaat materi, semua halal. Ya, sistem Demokrasi-Kapitalis yang diterapkan hari ini meniscayakan semua hal itu. Padahal, negeri ini dihuni hampir 60% oleh usia produktif termasuk anak-anak usia sekolah. Tidak hanya itu, negeri ini mayoritas Muslim, tapi justru kaum Muslimin di negeri ini bener-bener terpuruk. 11-12 sama kaum Muslimin di belahan dunia lainnya.
Sejak Khilafah –sistem pemerintahan Islam- runtuh pada tahun 1924 di Turki, keadaan kaum Muslimin sangat jauh dari kata “baik”. Lihat saja, penjajahan dihadapi dimana-mana, mulai dari fisik sampai penjajahan pemikiran lewat invasi politik dan budaya. Dan semua ini kerap datang melalui dunia pendidikan. Saya pun pernah menjadi korban. Apalagi saya juga berada di Fakultas Ilmu Budaya. Dan setiap hari saya melihat bagaimana kagumnya teman-teman saya terhadap budaya dari luar negeri. Tidak hanya fakultas saya, tapi juga semua fakultas mendambakan untuk bisa mengecap pendidikan di luar negeri. Tapi, setelah pulang mereka justru menjadi agen asing. Ya, beginilah kondisi kaum Muslimin tanpa Khilafah.
Sangat berbeda ketika Khilafah ada. Dalam Daulah Khilafah, pendidikan adalah salah satu dari 3 kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar yang juga harus dipenuhi selain kebutuhan pokok. Sehingga Negara wajib memenuhi kebutuhan dasar tersebut untuk seluruh warga Negara, baik Muslim maupun Non Muslim, baik miskin maupun kaya. Semua diperlakukan dengan cara yang sama. Pendidikan diberikan secara murah bahkan gratis kepada seluruh warga Negara. Sehingga tidak ada lagi orang yang berpikir bahwa pendidikan adalah alat untuk mencari uang. Tetapi sebaliknya, pendidikan adalah untuk mencerdaskan. Sehingga sejarah mencatat bahwa peradaban di bawah naungan Islam adalah peradaban yang agung dan mulia. Banyak ilmuwan dan para ahli yang lahir dari sistem pendidikan Islam di bawah naungan Khilafah, sehingga adalah sebuah kebodohan yang mengatakan bahwa Khilafah adalah utopia belaka. Justru Demokrasilah yang utopia. Demokrasilah Pemberi Harapan Palsu karena sejak diterapkan, Demokrasi tidak membawa perubahan apapun selain perubahan kepada kehancuran umat manusia.
Sudah saatnya berjuang bersama kelompok yang konsisten memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Rasyidah. Bukan untuk satu atau dua orang, pun untuk kelompok tertentu tapi untuk seluruh umat manusia. Saatnya ganti rezim, ganti sistem. Kick Democracy, struggle for Khilafah. Allahu Akbar!
Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Shelter, May 4th 2014. Teringat demo di depan rektorat hari Jumat.
Backsound : Trust in Allah by Saif Adam.

Friday, May 02, 2014

Hajimeyou!

Ketika kebenaran dikembalikan kepada persepsi masing-masing orang, tentu caranya akan berbeda-beda dan bisa jadi satu dengan yang lain akan saling menghabisi atas nama kebenaran yang diusung kepala masing-masing. 

Uchiha Madara ngebet banget pengen nguasain dunia untuk perdamaian dengan rencana Tsuki no Me. Tapi, dia gak nyadar kalo cara yang dia lakukan untuk mencapai perdamaian (versi kepalanya Madara) itu justru menimbulkan kekacauan dengan adanya Perang Dunia Shinobi IV.

Begitu juga dengan hari ini. Orang-orang senantiasa berkonotasi dengan hal-hal yang menurut perasaan mereka adalah baik. Seperti kata perdamaian. Konotasinya baik. Tapi, untuk mencapai hal itu digunakan cara yang merusak. Dengan penerapan Demokrasi yang justru membuat orang lain tanpa sadar merampas hak orang lainnya untuk mendapatkan kebebasannya sendiri.

Sayangnya, hidup ini bukan fantasy macam Naruto. Tapi, dalam cerita kehidupan selalu ada orang-orang seperti Madara dan Naruto. Orang yang niatnya baik tapi caranya salah. Dan orang yang memperjuangkan apa yang diyakininya untuk masa depan yang lebih baik dengan jalan yang benar. 

Dan kebenaran itu tidak mungkin datang dari tempat dimana perbedaan selalu ada. Ya, kebenaran tidak datang dari sisi manusia. Keberadaan hanya datang dari sisi Yang Maha Benar. Allah SWT. Dan karena keyakinan kita akan kebenaran itulah maka kita memilih untuk memperjuangkannya.


Saatnya memilih kebenaran bukan mencari pembenaran.

Finally, setelah sekian lama akhirnya bisa nulis lagi. And see, tulisannya bener-bener random :D Demo, daijoubu. Selama bisa menebar hikmah dan ibrah, gak masalah ^_^
Shelter, April 30th 2014. Malam Mayday.

Backsound : Goodbye to Onaji Kurai Thank You

Sunday, March 16, 2014

Saatnya Mahasiswi Bersuara

            Gak terasa sudah seminggu sejak diselenggarakannya Panggung Politik Mahasiswi di kota saya. Acara ini mengusung tema, Indonesia Lebih Baik; Tinggalkan Demokrasi, Tegakkan Khilafah. Dan untuk pertama kalinya saya yang terbiasa di belakang layar akhirnya nampang juga, haha. Tapi, saya gak bakal bahas itu kok.

Mahasiswa dan Pemilu
Tahun ini merupakan tahun politik bagi Indonesia. Kenapa? Karena tahun ini akan diselenggarakan Pemilu untuk memiliki calon legislatif (DPR, DPD) serta calon presiden dan wakilnya. Ajang yang sering disebut-sebut sebagai Pesta Demokrasi Akbar ini emang diselenggarakan 5 tahun sekali. Tapi, sepertinya animo masyarakat terkait Pemilu turun drastis dengan meningkatnya angka golput sejak Pilkada beberapa waktu silam. Namun, perlu diingat bahwa Negara ini memiliki jumlah pemuda yang sangat besar. Dan sebagian diantaranya adalah mahasiswa. Mahasiswa dengan latar belakang intelektualitas yang dimiliki mempunyai posisi strategis dalam Pemilu. Suara mereka termasuk dalam suara yang diperhitungkan. Jadi, gak heran kalo para caleg dan bahkan capres juga rame-rame ngegaet mahasiswa di parpolnya untuk menyukseskan langkah mereka di Pemilu mendatang.
Sayangnya mahasiswa hari ini tidak cukup cerdas untuk melihat permasalahan yang ada. Karena sebagian belum mampu menentukan sikap atas perpolitikan yang terjadi. Padahal, sebenarnya mereka memiliki peran strategis untuk mengawal perpolitikan bangsa. Sayangnya, pragmatisme yang ditanamkan melalui sistem pendidikan membuat para mahasiswa hanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tidak sedikit yang apatis terhadap politik. Mereka lebih banyak memilih untuk tidak peduli. Jika pun tau mereka akan pura-pura tidak tahu. Entah untuk menyelamatkan diri atau karena memang terlalu lelah dengan beban perkuliahan. Bagi yang hanya bisa membebek, mereka akhirnya dijadikan mesin pencetak suara. Dan bagi mereka yang terjebak dalam hipnotis Demokrasi, akan memberikan sejuta harapan mereka kepada salah satu caleg atau capres partai dengan harapan bahwa suatu saat harapan itu akan terwujud. Sedang sisanya ada yang golput karena tidak percaya dan sudah sangat apatis terhadap perpolitikan bangsa ini.

Demokrasi, Bukan Hanya Sekedar Memilih Pemimpin
Masih banyak pemuda yang menganggap bahwa Demokrasi adalah proses pemilihan pemimpin. Sehingga para pemuda, khususnya mahasiswa masih ada yang menggembar-gemborkan kampanye Anti Golput dan sebagainya. Padahal, sejak SD kita sudah diajarkan tentang definisi Demokrasi, yakni pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat. Artinya kedaulatan ada di tangan rakyat. Itu berarti pula bahwa rakyat yang berhak membuat hukum. Akhirnya dipilihlah wakil rakyat untuk menjadi pembuat hukum yang nantinya akan menduduki kursi DPR. Masa saya harus bilang kalo orang-orang hari ini gagal paham tentang definisi Demokrasi? Tapi, itu fakta. Dan lihatlah prestasi Demokrasi di negeri ini. Hampir seluruh sumber daya alam menjadi milik asing. Kita tidak lebih dari budak di negeri sendiri. Kekayaan yang harusnya kita nikmati hanya kita peroleh dengan menjadi buruh di perusahaan yang mengelola kekayaan tersebut. Para mahasiswa digiring untuk menjual ilmu mereka ke perusahaan-perusahaan swasta, khususnya asing. Pemuda tidak lebih dari mesin produksi. Mesin pencetak uang. Di sisi lain, liberalisme terus menguat. Pergaulan bebas tumbuh subur, aborsi meningkat, prostitusi menjamur, narkoba tak pernah berkurang, tawuran pelajar tak pernah ada habisnya. Rusaknya generasi menambah suram masa depan bangsa ini. Di sisi lain, para elit politik tak pernah peduli. Alih-alih memberikan edukasi pada rakyat, mereka justru menyuap rakyat untuk memberikan suara dalam Pemilu. Tak sedikit pula partai Islam yang akhirnya terjebak pragmatisme politik. Berharap bisa menegakkan Islam melalui parlemen, namun mereka justru mencelupkan diri mereka dalam jebakan yang dibuat oleh Demokrasi. Maka jelaslah bahwa Demokrasi itu rusak dan merusak. Rusak konsepnya dan merusak siapa saja yang menjadi pendukungnya.
Islam Memuliakan Peran Politik Pemuda
Hal ini berbeda dengan Islam. Islam sungguh memuliakan peran politik pemuda. Pemuda yang merupakan generasi penerus peradaban memiliki peran strategis dalam Islam. Islam dengan Khilafah akan mampu mencetak generasi visioner, generasi yang ahli dalam berbagai bidang, pun aktif dalam upaya mengkritisi penguasa yang menyimpang dari Syariat Allah. Dan ini tidak akan mungkin terwujud dalam sistem Demokrasi. Melalui sistem pendidikan akan dicetak generasi-generasi brilian yang akan menjadi ilmuwan sekaligus negarawan yang berdiri tegak di atas kebenaran, yakni ideologi Islam. Karena politik di dalam Islam bukanlah ajang rebutan kekuasaan, tetapi pengaturan urusan rakyat oleh Negara.
Sejarah telah mencatat bagaimana Islam mampu mencetak generasi visioner sejak masa Rasulullah hingga kekhilafahan terakhir yakni Khilafah Utsmany. Sebut saja Mush’ab bin Umair, Saad bin Muadz, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usamah bin Zaid, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Khawarizmi, hingga Muhammad Al Fatih. Mereka semua adalah tokoh besar dan generasi yang dicetak dalam Daulah Khilafah. Sangat berbeda dengan sistem Demokrasi yang justru mencetak generasi alay bin lebay yang sukanya hura-hura, having fun dan suka segala cara yang instan.
Islam juga akan melindungi generasi dari distorsi moral dengan sistem pergaulan. Didukung dengan dua suprasistem, yakni ekonomi dan politik sehingga para pemuda mampu menjadi generasi cemerlang pewaris peradaban gemilang.

Kick Democrazy, Stuggle For Khilafah
69 tahun bangsa ini merdeka dengan penerapan sistem Demokrasi yang bermacam-macam, namun kesejahteraan justru menjadi utopia yang semakin membuat negeri ini gersang dari kepercayaan. Maka sudah cukup tipuan ini memperdayakan kita, para mahasiswa. Saatnya membuang Demokrasi ke tong sampah peradaban. Karena sistem ini tak lebih dari ilusi.
Dan sebagai seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan RasulNya, sudah saatnya kita mengambil kembali apa yang seharusnya kita genggam erat-erat, yakni Syariat Allah. Maka berjuanglah untuk menegakkannya kembali di bawah naungan Khilafah bersama jamaah yang juga memiliki visi melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.
Jika kau tidak ingin terbawa arus, maka ciptakanlah arus baru. Melawanlah atau kau akan kalah. Saatnya ambil bagian dalam sejarah menuju abad Khilafah Rasyidah yang kedua.

Khairunnisa, March 16th 2014. Salam Perjuangan, Salam Revolusi.
Saudarimu,
Ditri Ayu R.A.L.



Panggung Politik Mahasiswi adalah acara yang diselenggarakan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia. Acara ini berlangsung di seluruh Indonesia selama bulan Maret.

Saturday, March 15, 2014

Blind Spot


Semua atlet profesional tentu memiliki pelatih. Bahkan, petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding jelas Mohammad Ali-lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia akan menang melawan pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena ia butuh seseorang untuk melihat hal-hal yang..
"TIDAK DAPAT DIA LIHAT SENDIRI"

Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan "BLIND SPOT" atau "TITIK BUTA".
Kita hanya bisa melihat "BLIND SPOT" tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita, sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser.

↣ Kita butuh orang lain
↷ Yang menasihati,
↷ Yang mengingatkan,
↷ Bahkan yang menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru, Yang bahkan kita tidak pernah menyadari.

KERENDAHAN HATI kita
↷ Untuk menerima kritikan,
↷ Untuk menerima nasihat,
↷ Dan untuk menerima teguran itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia sempurna.
Biarkan orang lain menjadi "mata" kita di area 'Blind Spot' kita sehingga KITA BISA MELIHAT apa yang TIDAK BISA KITA LIHAT dengan pandangan diri kita sendiri. Semoga bermanfaat...

Copas dari Sosmed Teman

Friday, March 14, 2014

Cinta Ditolak, Akun FB Di-Hack

Saya aja gak percaya, tapi ini beneran. Judul di atas asli. Meskipun kelihatannya lebay bin alay. Trus, gimana ceritanya?
Dulu, Cinta Ditolak Dukun Bertindak. Kalo di jaman sosmed kayak gini ya seperti judul di atas. Haha, saya juga gak habis pikir. Padahal cerita itu udah lama. Ternyata dendamnya masih belum padam. Ceritanya, beberapa waktu lalu teman FB saya sempat kena hack sama seseorang yang ternyata dulu adalah teman sekolahnya waktu SMA. Motifnya dendam masa lalu. Haha, udah kayak beritain Buser aja :D Jadi si cowok dendam karena cintanya ditolak sama temen FB saya itu. Ya jelas aja, orang mbaknya udah paham Islam. Lagipula emang dianya juga gak ngaca. Cowok baik-baik gak bakalan ada yang sudi ngajak cewek yang dia suka untuk nyicipin maksiyat. Atau mungkin dia gak punya cermin kali ya buat ngaca? Ckckck… Hari gini? :D
Kalo saya boleh komen nih ya, peristiwa kayak gitu gak ujuk-ujuk ada. Semua emang karena ada sebuah sistem yang membuat kondisi jadi kacau-balau seperti hari ini. Atas nama cinta semua jadi legal. Termasuk ngobrak-ngabrik akun orang. Dan emang sih sekarang ini jaman dimana kebebasan menjadi sesembahan. Dipayungi oleh sebuah sistem bernama Demokrasi makin menjadilah kelakuan orang-orang hari ini. Mirisnya, mereka adalah Muslim.
Gitu deh realitas sistem Demokrasi dengan 4 pilar kebebasannya, yakni kebebasan berkeyakinan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan berkepemilikan. Gak ada lagi tuh kata halal-haram. Yang penting bebasss. Dan di sinilah rusaknya Demokrasi. Karena keputusan itu berada di tangan manusia. Padahal, kenyataannya manusia itu lemah, terbatas, serba kurang dan membutuhkan yang lain. Tapi, dengan “sok tau”-nya manusia bikin aturan sendiri. Gak Cuma rusak, tapi juga merusak. Buktinya? Ya, kayak cowok tadi. Cinta ditolak bukannya introspeksi diri, eh malah nge-hack. Malu-maluin banget.
Ini Cuma sebagian kecil dari realitas rusak dan merusaknya sistem Demokrasi. Masih banyak lagi realitas lain yang bisa kita temukan di kehidupan kita masing-masing kalo kita mau untuk mencermati. So, Stop Demokrasi Rusak dan Merusak. Ganti dengan Khilafah. Allahu Akbar!
Khairunnisa, March 6th 2014. 01:27 PM.

Setelah beberapa waktu vakum nulis karena sibuk di tim propaganda jadi Pembantu Umum. Alhamdulillah bisa nulis lagi ^_^