Seperti disambar geledek begitu
mendengar kabar beliau tadi pagi. Beliau telah dirawat selama 2 minggu namun
ternyata Allah berkehendak lain. Allah menyudahi penderitaan beliau dengan
memanggilnya kembali ke sisiNya. Ya, begitulah ajal. Tak ada yang mengetahui
kapan datangnya.
Hari
ini adalah kali kedua saya takziah. Meski ini bukan pertama kali saya ditinggal
pergi orang-orang yang saya kenal, tapi seumur hidup saya, saya baru menghadiri
takziah dua kali, yakni takziah tante saya dan takziah beliau hari ini. Berbekal
google map, saya dan 9 orang teman bersama menuju kediaman beliau pukul 10.30
WIB. Sempat salah belok juga tapi Alhamdulillah akhirnya kami sampai ke rumah
duka. Saat masuk saya merasakan kesedihan yang saya rasakan sekitar 8 tahun
silam saat saya bertakziah ke rumah tante saya.
Melihat
orang yang pernah ketemu saat masih hidup kini telah terbujur kaku, rasanya
tetap lain. Seperti Kakek yang juga lebih dulu meninggal di tahun 2001. Saya
baru datang 3 hari kemudian. Dan saat itu saya sadar bahwa saya tidak akan
pernah bertemu beliau lagi, mendengar cerita beliau, mendengar lafaz do’a
beliau dan melihat senyum beliau. Rasanya sama. Dari dulu sampai sekarang. Pun
saat tante meninggal di tahun 2006. Seperti mimpi. Tante yang selalu ceria dan
tersenyum, tante yang ngomongnya khas Batak dan tante yang sering ke rumah di
akhir pekan. Rasanya gak percaya beliau udah gak ada. Tante adalah sosok orang
kaya yang sama sekali tidak terpengaruh kekayaannya. Tante justru memilih om
yang sederhana dan bahagia hidup dalam kesederhanaan. Dan tante sangat jarang
protes. Dan tahun 2007, seorang guru yang juga saya kenal dengan baik meninggal
dunia setelah meninggalkan kesan terakhir yang begitu manis. Teman-teman selalu
iri karena beliau jarang ngomel-ngomel dan masang tampang killer ke saya. Saya
sampai dikatain anak beliau padahal beliau masih single. Saking beliau senang
karena saya suka bahasa Inggris. Di akhir pertemuan kami, beliau tampak berbeda
dari biasanya, sering senyum, gak ngomel-ngomel lagi, dan beliau mendengarkan
mimpi kami satu per satu saat menceritakan di depan kelas. Tahun 2012, salah seorang
tetangga saya juga meninggal dunia. Di awal tahun 2012, teman saya pun
meninggal dunia di usia yang masih muda. Di akhir 2013 lalu, seorang teman
seperjuangan pun dipanggil oleh Allah.
Namun,
begitulah ajal. Tidak dapat dimajukan pun diundur kedatangannya. Dia datang di
saat tak terduga. Sama dengan rizki dan jodoh. Seorang Mbak pernah bilang, jika
di dunia tak bertemu jodoh, yakinlah di akhirat akan bertemu dan tidak mungkin
itu di neraka.
Dan
dalam Islam, kematian bukanlah pemutus. Tetapi sebuah jembatan menuju kehidupan
selanjutnya. Berbeda dengan orang kafir yang menganggap kematian adalah akhir
dari segalanya. Makanya mereka selalu takut mati. Sedangkan bagi seorang
Muslim, kematian adalah jembatan yang akan mempertemukan ia dengan Rabbnya. Jembatan
menuju tempat yang lebih indah dan kekal.
Jalan
dakwah ini sangat panjang. Dan ia dilewati oleh segenap usia. Meski demikian,
akan selalu ada yang melanjutkannya. Bagi mereka yang sudah berjuang tanpa
henti, meski belum memanen jerih payahnya, semoga Allah membalas dengan
kebaikan yang sama dengan apa yang telah ditebar.
Selamat jalan, guru kami, seorang Muslimah Pejuang Syariah
dan Khilafah, Ustadzah Halimah. Semoga Allah membalas kebaikan Anda dan
menakdirkan Khusnul Khatimah. Aamiin…
Khairunnisa,
February 2nd 2014. 10:21 PM. Nyaris terlelap.
No comments:
Post a Comment