Cinta. Ya, kata ini seringkali
menjadi kambing hitam atas kemaksiatan anak manusia yang alpa. Tapi, begonya
udah tau sering salah masih aja sombong. Pas nulis postingan ini saya masih
shock dengan berita “murtad”-nya
Asmirandah karena ternyata udah nikah sama Jonas Rivanno, lawan mainnya di
beberapa sinetron. Saya pikir itu cuma gosip. Sumpah, miris dan menggelikan. Hanya
karena cinta. Apalah arti cinta jika nafsu yang merajai jiwa. Namun, apalah
daya di negeri 1001 kebebasan ini? Jika sebuah keyakinan sangat mudah ditukar
dengan nafsu dunia. Alhamdulillah banyak yang mualaf, tapi ternyata gak sedikit
juga yang murtad, naudzubillah. Di negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Namun,
dengan dalih kebebasan ternyata sangat mudah merubah haluan. Menukar surga
dengan gampangnya.
Saya
juga teringat dulu saya punya senior di SMP yang belakangan saya tau kalo
keluarganya adalah keluarga pendeta. Dan salah satu cara mereka mengkafirkan
seorang Muslim adalah dengan memacarinya, menghamilinya lalu hanya mau
bertanggung jawab ketika si perempuan pindah agama. Sadis kan? Ya, sadis emang.
Dan itu banyak dilakukan sampai sekarang. Apalagi yang punya modal tampang sama
modal duit.
Lalu,
kenapa semua bisa jadi kayak gini? Gak ada asap kalo gak ada api. Setidaknya ada
dua hal yang akhirnya menjadi akar masalah. Pertama, Islam hanya dipandang
sebagai agama. Sama dengan agama yang lain. Orang-orang pun ber-Islam semata
karena keturunan. Artis dan uang tetap saja jadi sesembahan. Padahal, artis
adalah sosok yang justru lebih banyak menggiring ke jalan menuju neraka. Saya seringkali
miris sekaligus sedih, bagaimana nanti saya melihat banyak kaum Muslimin yang
masuk neraka hanya karena mengikuti artis yang mereka puja? Meski artis
beragama Islam, mereka tetaplah model iklan kebebasan yang paling menonjol. Sungguh
murah bayaran mereka untuk menggiring manusia ke neraka. Padahal itu memakan
lebih dari usia mereka. Naudzubillah.
Kedua, adanya
sebuah pemahaman yang menggerogoti kaum Muslimin dan umat manusia serta
lemahnya peran Negara dalam melindungi aqidah rakyatnya. Bayangkan saja, jika
sebuah keyakinan bisa ditukar dengan sekardus mie, se-rak telur, sebuah selimut
dan bahkan cinta. Sungguh naif. Ya, tapi ini kenyataan. Ini kenyataan, mamen. Dan
itu menyakitkan. Salah satu dari kebebasan yang diagung-agungkan ideologi sesat
bernama Kapitalisme adalah kebebasan berkeyakinan. Maka dari sinilah muncul
pemikiran sesat lainnya, yakni pluralisme atau pemikiran bahwa semua agama
adalah sama. Hebat ya, mereka bisa memukul rata semua keyakinan? Emang sama
Tuhan yang dibuat dan bisa dihancurkan kapan saja sama Tuhan yang merajai
langit dan bumi? Tuhan yang sebenarnya? Bedon dipiara. Kambing dipiara, buat
kurban.
Yang paling miris
adalah Negara yang tidak mampu mempertahankan aqidah rakyatnya. Mereka gak
peduli lagi ada yang dosa karena uang banyak udah membutakan mata dan hati
mereka. Dan mirisnya masih banyak rakyat yang tertipu dengan sistem politik
yang dipakai oleh negaranya hari ini. Demokrasi. Masih begitu diagung-agungkan.
Sebuah hipokrit saat agama justru dilarang untuk ikut campur dalam urusan Negara.
Hellow, hari gini masih trauma sama teori teokrasi Eropa? Ke laut aja sana!
Haha, kenapa saya
tiba-tiba serius ya? Okelah, daripada berlama-lama. Saya bakalan ngasih tau
jalan keluarnya.
Buat semua yang
masih berpikiran kalo Islam hanya sekedar agama. Buka mata dan hati kalian dan
bersiaplah menerima kebenaran. Pertama, Islam adalah ideologi. More than just
religion. But it’s Deen. Islam itu sistem. Maka Islam punya aturan, termasuk
bagaimana menjaga aqidah.
Kedua, aturan
menjaga aqidah dijalankan oleh Negara. Negara di dalam Islam namanya Khilafah. Siapa
saja boleh jadi warga Negara Khilafah. Gak peduli dia dari mana, Muslim atau
bukan, kaya atau miskin, jelek atau gak, dsb. Tapi, Khilafah akan menjaga
rakyatnya agar memegang Islam erat-erat dan menghukum yang nyata-nyata murtad. Hukumnya
gak tanggung-tanggung. Hukuman mati. Kenapa sadis amat? Iya, sadis kalo
diterapkan hari ini dimana semua orang berkiblat sama kebebasan. Tapi, daripada
dihukum mati, udah matinya hina, masuk neraka pula. Mending berpegang teguh
sama Islam sampai akhir hayat. Gampang kan?
Ketiga, ketiadaan
Khilafah yang membuat kita gak berdaya hari ini. Maka sebuah kewajiban untuk
mengembalikannya. Buat siapa? Buat seluruh umat manusia. Karena seluruh
kejadian memilukan hari ini disebabkan oleh jauhnya manusia terutama kaum
muslimin dari aturan Rabbnya. Di malam hari mereka bertahajud, di siang hari
mereka melakukan riba. Mereka membaca Al Qur’an, satu hari satu juz. Tapi mereka
ridho diterapkan hukum yang menginjak aturan Tuhan mereka.
Kurang apalagi? Mau
nunggu sampai kiamat dulu? Saran saya sih, sebaiknya jangan. Udah bukan saatnya
duduk bertopang dagu dan berdiam diri kemudian mencari legitimasi bahwa ini
adalah bentuk kesabaran dan taat kepada pemimpin. Karena cinta itu bukan hanya
sebatas rasa yang dengannya maksiat pun halal.
Wallahu ‘alam bi ash shawaab
Khairunnisa,
February 2nd 2014. 06:51 AM. Recovery.
No comments:
Post a Comment