Ngomongin mahasiswa itu
emang gak ada matinya. Kenapa? Karena mahasiswa itu punya segudang potensi.
Usia muda, idealisme yang menggebu, tenaga yang kuat dan sejuta mimpi yang
ingin diwujudkan. Karena itulah mahasiswa sering mendapat julukan, Agent of
Change, Agent of Social Control dan Iron Stock *bukan stok setrikaan lho ya* Setidaknya
slogan-slogan itulah yang sering saya dapatkan saat menjalani hari-hari sebagai
seorang mahasiswa. Dan yang paling sering dijadikan contoh adalah bagaimana
mahasiswa bisa meruntuhkan sebuah rezim yang sudah berkuasa selama puluhan
tahun. Ya, siapa yang tidak tahu peristiwa beralihnya zaman orde baru ke zaman
reformasi. Semua sepakat, peralihan rezim politik itu karena mahasiswa. Tapi…
ternyata sekarang mahasiswa sedang mengalami zaman kegelapan. Gak hanya
mahasiswa biasa, tapi juga aktivis yang notabenenya adalah orang-orang yang
peduli terhadap persoalan di sekitarnya.
Mahasiswa abad 21 emang
udah jauh lebih canggih daripada mahasiswa zaman Orde Baru dulu. Sekarang gadget udah ngetren dimana-mana. Akses
informasi gak perlu repot-repot. Udah gak jaman SMS-an. Sekarang jamannya BBM,
WA, LINE, WE CHAT, KAKAO TALK, de es be. Tapi, bukan itu yang pengen saya
bahas. Meskipun ada hubungannya. Kalo ngeliat pola kehidupan mahasiswa
sekarang, gak sedikit yang miris.
Tadi saya baca sebuah
postingan yang menurut saya sangat jujur. Kenapa? Karena emang kenyataan yang
saya lihat dan beberapa orang pun bisa melihat dan merasakannya. Saat ini
mahasiswa sudah kehilangan hampir semua taringnya. Mahasiswa seolah disibukkan
dengan kegiatan-kegiatan yang lebih banyak menunjang hanya dari sisi akademik
saja. Ketika pun menjadi aktivis, semata untuk meng-upgrade posisi akademiknya. IPK 3,5 ke atas dan lulus sebelum 4
tahun adalah sebuah kebanggaan. Seolah masalah akan selesai dengan IPK tinggi. Kenapa?
Karena setelah itu, ia akan direkrut sebuah perusahaan, terlebih kalo
perusahaan asing. Tanpa sadar, ia tidak hanya menjual dirinya tetapi juga
menjual masa depan bangsanya kepada orang asing yang hanya mementingkan perut
mereka. Terlepas dari seberapa berprestasinya seorang mahasiswa di ajang-ajang
lomba, seperti Pimnas, dsb. Tidak lebih untuk kebanggan pribadi. Tidak peduli
lagi permasalahan masyarakat yang ada yang seharusnya mereka selesaikan dengan
keilmuan mereka. Tidak hanya itu, mahasiswa digiring untuk menjadi suksesor
ekonomi Negara. Padahal, mereka punya potensi yang lebih dari sekedar mesin
pencetak uang bagi Negara.
Lalu, bagaimana dengan
para aktivis? Kenyataannya tetap aja 11-12 sama mahasiswa biasa. Padahal, dulu
aktivis mahasiswa adalah mereka yang kritis dan peduli terhadap permasalahan
masyarakat dan bangsa ini. Mereka pula yang aktif tidak hanya kuliah tetapi
juga mencari solusi permasalahan yang ada. Namun, saat ini aktivis pun tetap
disibukkan dengan permasalahan akademik yang tidak ada habisnya. Seolah
mahasiswa emang tersistem untuk dibungkam sejuta bahasa dengan persoalan
akademik. Bayangin aja, sekretariat lembaga bukan lagi jadi tempat diskusi tapi
jadi tempat ngerjain laporan berjamaah. Belum lagi kegiatan yang diadakan oleh
lembaga hampir semua adalah kegiatan olahraga dan hiburan. Tidak heran, karena
mahasiswa sudah lelah dengan tugas kuliah yang menumpuk. Boro-boro mikir
masalah masyarakat dan bangsa, mikirin tugas sama laporan aja gak selesai-selesai.
Belum lagi pergaulan yang semakin menjadi-jadi. Kalo gak ada tugas ya hangout,
pacaran, hura-hura, clubbing, dsb. Kalo gak gitu, jadi orang super introvert
yang gaulnya sama ipad, iphone, dan smartphone yang lain. BBM-an, LINE, WA,
dsb. Atau kalo gak gitu jadi fans artis dan penyanyi luar negeri macam JB,
Suju, SNSD, Big Bang, dsb.
Akar Masalah
Gak ada asap kalo gak
ada api. Fenomena mahasiswa kayak sekarang emang gak ujuk-ujuk ada. Semua gak
terlepas dari sistem yang diterapkan hari ini. Ada dua suprasistem besar dalam
sebuah Negara, yakni sistem ekonomi dan sistem politik. Sistem ekonomi hari ini
yang super Kapitalis, meniscayakan sedikitnya peran Negara dalam mengurusi
urusan rakyatnya. Lihat aja kerjaan Negara tiap hari malah menjual aset Negara
ke asing dengan berbagai macam alasan. Dan lucunya alasan bego itu di-aminkan
oleh orang-orang yang ngakunya intelektual. Masya Allah… Akhirnya apa? Rakyat
juga ikut dijual. Generasi muda akhirnya secara sepihak dijadikan mesin
pencetak uang dengan menjadikan mereka tenaga kerja murah dan babu di negeri
sendiri dengan tunduk di bawah kaki orang asing. Naif banget kan?
Saya gak pernah iri sama
mereka yang IPKnya tinggi. Tapi senggaknya mikirlah. Masa kepintaran yang luar
biasa tapi gak digunakan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Minimal kita
gak jadi kacung di negeri sendiri. Ironis banget gak sih?
Balik lagi nih. Karena
sistem ekonomi yang seperti itu, akhirnya pembiayaan pendidikan pun dibebankan
kepada perguruan tinggi. Setelah sebelumnya ada persetujuan dengan GATT dan WTO
untuk meliberalkan sektor jasa diantaranya pendidikan dan kesehatan. Jadilah
sekarang pendidikan tinggi sangat mahal harganya. Ya, seperti menggapai bintang
di langit. Ini juga yang akhirnya membuat mahasiswa semakin matre, pragmatis
dan individualis. Mereka gak sempat mikir apa-apa saking mereka udah dijerat
dengan biaya pendidikan yang super mahal. Dan ini setiap tahun pasti naik
dengan segala macam alasan. Belum kalo ternyata uang banyak itu dikorupsi.
Akhirnya makin apatislah mahasiswa.
Belum lagi sistem
politik Democrazy yang bebas. Gak hanya bebas tapi juga mahal. Gimana korupsi
gak tumbuh subur kayak panu di badan orang yang gak mandi seminggu? Biaya
kampanye super mahal, belum lagi segala keperluan untuk Pemilu. Kebijakannya
pun selalu pro kepada asing daripada Negara sendiri. Makanya gak usah heran
kalo tiap palu diketok mesti ada aset yang Negara yang kejual. Atau harga bisa
dipastikan melonjak naik. Dan lucunya seolah semua itu gak sengaja. Emang
ngetok palu sambil mimpi gitu? Gak mungkin banget. Bukti kezhaliman itu udah
nyata. Tapi kenapa masih banyak yang pura-pura buta dengan semua itu? Apa udah
gak punya hati kali ya? Saya juga gak tau.
Islam Solusinya
Haha, kayaknya bakalan
banyak yang bertanya-tanya. Ekstrim banget solusi saya. Kok ujuk-ujuk Islam?
Jawaban saya simple. Karena Islam itu sempurna, kawan. Sempurnanya dimana? Hmm,
kalo belum tau, saya kasih tau.
Islam adalah sebuah
ideologi. Islam bukan sekedar agama yang mengatur ibadah spiritual, tetapi juga
mengatur kehidupan sosial termasuk kehidupan bernegara. Islam memiliki
suprasistem, yakni ekonomi dan politik. Maka bisa dipastikan Islam juga ngatur
soal pendidikan, dll. Dan kalo ada yang tanya, berarti Negara Islam ada? Saya
jawab, ada. Negara di dalam Islam namanya Khilafah. Khilafah adalah sebuah
sistem pemerintahan yang diwariskan oleh Rasulullah SAW sebagai utusan terakhir
yang Allah utus untuk seluruh umat manusia. Dan siapa aja yang ngaku Muslim
pasti sering denger kalo Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Yup, itu bener. Karena
Islam mengatur seluruh aspek kehidupan.
Di dalam Islam,
pendidikan adalah tanggung jawab Negara. Karena pendidikan adalah salah satu
kebutuhan dasar warga Negara. Kalo dalam konsep Negara Kapitalis, kebutuhan itu
Cuma sandang, pangan dan papan, dalam Islam kebutuhan dasar itu selain
sandang-pangan-papan, ada juga pendidikan, kesehatan dan keamanan. Makanya
pendidikan jadi tanggungan Negara. Trus, pembiayaannya gimana? Maka dari itu,
Islam punya sistem ekonomi yang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok
warganya. Dan Negara (Khilafah) wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi
mereka yang wajib bekerja (laki-laki yang sudah baligh). Jadi, gak ada cerita
seorang kepala keluarga gak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Gak ada
cerita seorang istri juga harus banting tulang membantu suaminya sampai jadi
TKW dan harus disiksa. Gak ada cerita anak-anak harus putus sekolah karena gak
punya uang buat bayar. Dan gak ada cerita aktivis hanya sibuk dengan akademik
dan dirinya sendiri.
Selain itu, sistem
politik Islam juga yang akan melahirkan kebijakan yang pro rakyat dan
kepentingan rakyat. Politik Islam juga yang akan mengeluarkan kebijakan
pendidikan yang dijamin mampu dienyam oleh seluruh warga Negara. Muslim maupun
Non Muslim, kaya maupun miskin dengan jaminan yang sama. Gak ada cerita yang
bodoh dan miskin gak bisa kuliah.
Mau bukti? Lihat aja,
ilmuwan-ilmuwan yang mencetuskan berbagai macam teori dalam ilmu pengetahuan
dan teknologi adalah seorang Muslim. Mulai dari Ibnu Sina, Abbas Ibn Firnas, Al
Khawarizmi, Al Jabar, dll. Mereka semua hasil bentukan Khilafah. Bukan Negara
Demokrasi-Kapitalis seperti sekarang.
Menerapkan Islam adalah Panggilan Keimanan
Saat ini Islam sedang
dicampakkan dari kehidupan sosial. Sejak 3 Maret 1924, berakhirlah kepemimpinan
Islam di dunia. Saat itu Khilafah Utsmaniyah diruntuhkan oleh seorang agen
Inggris la’natullah alaih. Maka sudah seharusnya kaum Muslimin bersatu untuk
mengembalikannya. Bagaimana caranya? Contohlah apa yang dilakukan Rasulullah
dulu sebelum Islam tegak di Madinah. Rasulullah SAW berdakwah dan membentuk
sebuah kelompok ideologis kemudian menegakkan Daulah Islam di Madinah. Maka
kita pun selayaknya mencontoh beliau. Bukan demi kekuasaan, jabatan dan harta.
Tetapi semata karena panggilan keimanan. Dan saat ini ada sebuah kelompok
politik yang sedang berupaya keras mengembalikan institusi Islam (Khilafah) dan
melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungannya. Kelompok tersebut bernama
Hizbut Tahrir atau Partai Pembebasan. Dan saat ini Hizbut Tahrir telah
beraktivitas di seluruh dunia untuk melanjutkan kehidupan Islam, karena hanya
dengan kembalinya kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, kehidupan ini akan
terselamatkan. Tidak hanya mahasiswa yang kembali kepada fitrahnya, tetapi juga
alam ini.
*Untuk tahu lebih jelas tentang Hizbut Tahrir khususnya Indonesia,
klik www.hizbut-tahrir.or.id
Wallahu ‘alam bi ash
shawwaab
Khairunnisa, January 21st
2014. 09:12 PM.

No comments:
Post a Comment