Alhamdulillah,
akhirnya minggu-minggu berat penuh ujian terlewati sudah. Rasanya satu rantai
terlepas dari tubuh ini *halaah lebay* tapi, ujian lain segera menanti. Haha,
tetap semangat sampai akhir *ceileee* Alhamdulillah juga akhirnya bisa
cuap-cuap lagi di blog tersayang. Setelah sekian lama :D
Kali
ini saya mau cerita tentang ikatan. Beberapa waktu ini hidup saya isinya
tentang ikatan. Mulai dari persahabatan sampai pernikahan *eh Ya, pokoknya
tentang ikatan dah intinya. Nah, untuk cerita kali ini saya mau membahas ikatan
yang lebih umum. Untuk ikatan khusus (masalah perasaan, dll) ntar saya bahas di
postingan tersendiri *Iuuuuuuhhhh, gayaaa*
Ngomong-ngomong
soal ikatan, tadi pagi pas ke kampus saya lewat di Fakultas Teknik. Di sana ada
tulisan “SATU IKATAN MABA TEKNIK KIMIA 2013”. Bisa dipastikan itu hasil Ospek
Jurusan. Yah, kalo kita lihat sih di dunia ini banyak banget ikatan. Yah, yang
di atas itu salah satunya adalah ikatan solidaritas. Dulu jaman masih sekolah
juga sering gitu. Ada dah tuh segala macam nama kelas, jaket kelas atau jaket
sekolahan buat jadi identitas. Kalo sekolah tanding dukung sekolah
masing-masing. Kalo kelas tanding, dukung kelas masing-masing. Nah, itu yang
bikin saya heran. Lha, trus ikatannya yang bener yang mana ya?
Jadi
inget pembahasan halqoh saya dulu. Di
kitab Nizham al Islam karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, beliau memaparkan
ikatan-ikatan yang ada di dunia ini. Setidaknya ada lima ikatan yang mengikat
manusia di dunia ini. Empat diantaranya adalah ikatan yang lemah dan satu
ikatan yang shahih (benar). Pertama,
ikatan Nasionalisme. Ikatan ini sering juga disebut ikatan kebangsaan. Inilah
yang terjadi pada kaum Muslimin hari ini. Berbangga-bangga dengan bangsa. Tapi,
lupa dengan agamanya. Ini termasuk ikatan yang lemah karena sifatnya hanya
sementara. Contoh nih kalo ada pertandingan olahraga. Pas Indonesia lawan
Malaysia, dukung Indonesia. Tapi kalo ada Liga lokal, ya dukung wilayah
masing-masing. Trus, kemana persatuan Indonesianya?
Kedua,
ikatan kesukuan. Ini juga termasuk ikatan yang lemah. Menganggap suku adalah
yang lebih baik. Di daerah saya sering sekali tawuran antarsuku dan berujung
balas dendam tanpa akhir. Dan yang membuat saya makin benci dengan ikatan ini,
karena tidak jarang merenggut nyawa. Teman adik saya salah satunya. Dua ikatan
inilah yang dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai asshobiyah. Ketika seseorang berbangga dengan kelompoknya tetapi
dengan kebanggaan yang buta (tanpa landasan kebenaran) maka bukan termasuk
golongan Rasulullah SAW.
Ketiga,
ikatan kemashlahatan. Nah, ini juga ikatan yang lemah. Dalam ikatan ini tidak
ada teman sejati dan musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi. Inilah
yang terjadi dalam dunia perpolitikan sekarang. Dimana kepentingan adalah
segalanya. Satu orang bisa pindah dari satu partai ke partai lain, menjelek-jelekkan
orang yang dulunya dielu-elukan sebagai sahabatnya. Iuh, jijay banget sama yang
kayak gini.
Keempat,
ikatan rohani. Ikatan ini adalah ikatan keagamaan tapi bukan ikatan yang benar.
Karena ini tidak terbatas kepada satu agama yang berlandaskan kebenaran tetapi
ikatan rohani untuk seluruh agama dan ini juga ikatan yang lemah.
Kelima,
ikatan ideologis. Ikatan ini adalah ikatan yang benar dan satu-satunya ikatan
yang benar. Kenapa ini ikatan yang benar? Karena ini adalah ikatan yang
bersumber dari sebuah ideologi yang benar. Ikatan inilah yang seharusnya
mengikat seluruh kaum muslimin.
Dan
perlu diingat bahwa Islam itu beda, mamen. Islam itu gak hanya sekedar agama
yang mengatur wilayah spiritual tetapi juga seluruh aspek kehidupan. Islam itu
ideologi. Apa sih ideologi itu? Jadi, ideologi itu adalah aqidah aqliyah yang
menghasilkan aturan kehidupan. Nah, Islam memenuhi standar definisi ini
sehingga Islam layak disebut sebagai ideologi. Dari sinilah muncul ukhuwah
Islamiyah. Dimana dikatan kaum Muslimin ibarat satu tubuh. Maka, setiap Muslim
adalah saudara darimana pun asalnya dan apapun latar belakangnya.
Last
but not least, udah saatnya kita buka mata, hati dan pikiran untuk tidak
tertipu dengan jebakan ikatan-ikatan temporal nan lemah macam empat ikatan
tadi. Udah saatnya kita kembali menjernihkan pikiran dan mengikatkan diri
dengan ikatan yang benar, yakni ikatan aqidah Islam (ideologis). Kalo ngerasa
belum banyak ilmu, yuk cari ilmunya. Kaji Islam dan pelajari. Kenali Islam
lebih dekat, kaji Islam lebih dalam, perjuangkan Islam ke seluruh alam.
Wallahu
‘alam bi ash shawwaab
Khairunnisa,
January 15th 2014. 09:51 AM. Bersama teman-teman.
No comments:
Post a Comment