Akhirnya
libur semester kembali menyapa, yeah! Liburan emang paling ditunggu-tunggu. Gak
hanya sama anak sekolah, tapi mahasiswi tingkat akhir kayak saya pun nunggu
momen ini. Kenapa? Karena kampus saya adalah salah satu kampus dengan kurikulum
terpadat se-Indonesia Raya. Bayangin aja, satu semester hitungannya hanya 4
bulan. Padahal kan dimana-mana satu semester itu 6 bulan. Ini mah namanya
caturwulan -__- Tapi, begitulah kenyataannya pemirsah. Akibat sistem yang
menjerat akhirnya semua kena getahnya.
Balik
lagi ke momen liburan. Anak perantauan pasti suka banget sama liburan. Soalnya
liburan adalah momen pulang ke rumah *kecuali saya yang jarang pulang udah
kayak Bang Thoyyib. But, no problem, gak ada yang nanyain saya juga kenapa gak
pulang kecuali 3 sahabat saya yang cerewet selalu nanya kapan pulang :D* Back
to home, perbaikan gizi dan bertemu keluarga :D Tapi yang namanya pengemban
dakwah tentu pulang ke rumah bukan sekedar pulang tapi ada hal lain yang harus
dilakukan. Apalagi kalo bukan dakwah? :D
Saat
menulis postingan ini saya masih berusaha membenahi kepala dan badan saya yang
(sepertinya) agak sedikit error sehabis pulang dari acara Mabit (Malam Bina
Iman dan Takwa) hari Ahad kemarin. Tangan saya juga keringetan terus, sampai
keyboardnya basah dan harus bolak-balik dilap pake tisu.
 |
| TK tempat Mabit |
Kali
ini kampus saya ngadain Mabit (lagi) setelah bulan Juli tahun lalu juga ngadain
Mabit. Sebagai refreshing dan buat ngisi amunisi sebelum pulang ke rumah
masing-masing untuk dakwah di keluarga saat liburan semester. Kalo Mabit tahun
lalu saya jadi peserta, Mabit kali ini saya (akhirnya) berkesempatan jadi
panitia. Dan Subhanallah saya langsung ditaruh di bagian paling keren. Yap, sie
acara. Seumur hidup saya selalu bilang kalo saya gak kreatif. Sama sekali. Tapi
disitulah tangan Allah bekerja dan saya (lagi) membuktikan betapa Allah sangat
mencintai saya. Karena saya selalu ditaruh di bagian yang memerlukan
kreativitas. Ya, selalu begitu. Seolah Allah ingin saya membenturkan diri saya
dan membuat saya mengubah frame saya tentang diri saya bahwa saya sebenarnya
bisa kreatif jika saya berusaha lebih keras lagi untuk mewujudkannya. Dan
Alhamdulillah saya berhasil.
Ketika
rapat sie. Acara, Mbak Lola selaku kordinator acara nanya, siapa yang mau jadi
MC? Masa sih harus ditunjuk? Udah gede semua lho. Pokoknya jangan Dewi lagi
(Dewi adalah MC di Mabit tahun lalu). Saya langsung bilang, ya udah Mbak. Aku
aja yang jadi MC. Oke, akhirnya diputuskan saya yang jadi MC. Yah, bisa
dibilang ini adalah pertama kalinya saya nge-MC. Pernah sih jadi MC tapi gak
sering. Seringnya dipasang jadi pemateri tapi menurut saya MC lebih menantang
karena MC pasti harus bisa menguasai acara dan menghidupkan suasana acara lebih
dari pemateri.
Akhirnya
saya pun menyiapkan apa yang perlu saya siapkan sebagai MC. Dan kena lagi harus
ngonsep. Awalnya ngonsep bahan buat Muhasabah. Itu cepet. Dengerin lagu sedih,
bayangin yang sedih-sedih, gak nyampe 2 jam jadi (udah sering soalnya hehe). Yang
susah itu pas diminta ngonsep brainstorming. Bukan Cuma kata-kata, tapi sesuatu
yang bikin peserta nantinya bisa include dan mereka bener-bener bisa konsen
dengan keseluruhan acara. Dan lagi-lagi saya nyaris stuck. Di saat-saat seperti ini emang bener-bener kerasa kalo Allah
ngajarin saya.
 |
| Bukit Panderman, horor pas hujan angin |
Setelah
dipersiapkan semuanya hari H pun tiba. Saya bener-bener ngerasain betapa
susahnya jadi panitia. Dulu pas jadi peserta tinggal tau beres. Apalagi
tempatnya luas. Kali ini tempatnya sederhana. Sangat sederhana. Belum lagi ada
beberapa kendala di awal. Saya hanya bisa berdoa dan menguatkan keyakinan bahwa
Allah pasti menolong. Alhamdulillah satu per satu kendala berhasil dilewati.
Kecuali satu. Cuaca. Karena kami menyelenggarakan acara tepat di kaki gunung,
hujan dan angin terus mengiringi acara kami bahkan sampai malam hari. Dan itu
horror. Apalagi dengan kondisi tubuh saya yang tidak kuat menahan dingin, bener-bener
seperti mimpi. Udah jaketnya Cuma satu, selimutnya tipis. Komplit sudah. Di
awal saya harus bertahan karena gemeteran. Malamnya, gak berhenti
bersin-bersin. Selain saya ada lagi panitia yang juga asthma, Mbak Dep (itu
nama panggilan dari saya). Bahkan saking sederhananya tempat itu, panitia
sampai harus tidur di luar dengan angin yang lumayan dahsyat. Subhanallah,
namun karena kekuatan iman Alhamdulillah malam berhasil kami lewati. Para
peserta pun tetap bisa di-handle
meskipun ada yang gak bisa tidur karena tidurnya di lantai, banyak yang gelisah
tidurnya, dsb. Tapi, seru. Karena semua dikerjakan bersama, dilewati bersama. Hari
kedua adalah hari yang paling seru. Outbond. Disana seluruh peserta-yang
notabenenya masih muda-muda- yang bikin saya juga berasa muda haha, akhirnya
menunjukkan kemampuan mereka. Biasanya kalo di kampus, ketika harus interaksi,
menyampaikan ide Islam ideologis, Syariah dan Khilafah mesti terkendala.
Tetapi, dengan peralatan sederhana dari panitia Outbond, para peserta berhasil
menunjukkan kemampuan mereka. Dan itu di luar bayangan saya. Alhamdulillah
Mabitnya berjalan lancar sampai kami tiba dengan selamat di rubin masing-masing
:D
Mabit
kali ini adalah Mabit yang sangat berkesan bagi saya. Sangat beda dengan Mabit
sebelumnya. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dan saya jadikan
pegangan untuk menghadapi step selanjutnya. Yang paling tidak terlupakan adalah
bahwasanya dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah
bukanlah sebuah pekerjaan ringan. Dan dakwah ini memang harusnya diemban oleh
sebuah jamaah yang memiliki roadmap yang jelas. Memiliki fikrah yang jernih dan
thariqah yang jelas. Memiliki individu yang super ikhlas serta berpegang teguh
kepada fikrah dan thariqah yang sudah ditabanni sesuai dengan Hukum Syara’. Dengan
upaya yang seperti ini ditambah dengan loyalitas kepada Allah dan RasulNya,
yakni menempatkan seluruh keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa menolong dan
Allah telah berjanji akan memenangkan dakwah ini, in sya Allah tegaknya Khilafah tinggal menunggu waktu saja. Dengan
upaya optimal dari seluruh bagian jamaah ini, dipastikan pertolongan Allah amat
dekat. Dan kampus, dimana kita berpijak sekarang adalah ladang dakwah yang
harus kita garap dan kita tumbuh-suburkan. Sebelum akhirnya kita keluar dari
gerbang kampus dan memasuki gerbang masyarakat yang sesungguhnya.
Tidak
lupa ada anak-anak kecil calon pejuang Khilafah di masa depan yang juga
meramaikan edisi mabit kali ini. Irda, Faras, Hana, Hafiya, Harits, Hamam,
Zaki, Fatih, Ammar, Fakhitah. Love y’all in Allah <3
 |
| Hafiya |
 |
| Farras & Irda |
 |
| Harits |
 |
| Hana |
 |
| Fatih |
Jazakumullah khairan katsir untuk
seluruh panitia (Musyrifah Agro, Human dan Sains). Untuk seluruh pemateri (Mbak
Lola dan Mbak Afiqoh) dan seluruh peserta (Darisah Agro, Human, Sains). Semoga
kebersamaan ini menjadi pemberat amal di sisiNya dan semoga setelah liburan
kita semua bisa semakin gencar mendakwahkan Islam ideologis, Syariah dan Khilafah
di tengah-tengah kampus.
Khairunnisa,
January 21st 2014. 11:18 AM. Listening to Shiawase no Theory by FT
Island.
No comments:
Post a Comment