Entah
kenapa dari kemarin saya kebayang masa lalu melulu. Haha, tiba-tiba jadi puitis
dan lebay. Tapi, gapapa. Saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya
rasakan. Adalah sebuah kesyukuran yang tak terkira berada dalam sebuah jamaah
dakwah. Ada yang memperhatikan, menyayangi dan semua itu bukan karena manfaat
tetapi karena aqidah dan tsaqofah yang dikaji.
Gak
terasa udah tahun ke-4 saya berada di dakwah kampus. Setiap majal (tempat)
dakwah selalu punya ciri khasnya tersendiri. Pas masih SMA beda banget dengan
suasana kampus. Apalagi dengan kondisi sistem yang menjerat sehingga tak jarang
menurunkan militansi, bikin dada kembang-kempis nahan nafas saking nyeseknya. Berjumpa
dengan 1001 pemikiran dan berdiskusi dengan banyak orang. Siapa yang sudah
terbiasa dengan dakwah yang ritme-nya slow kayak lagu ballad, siap-siap aja
kelabakan ketika masuk dalam dakwah kampus. Begitulah, semua warna-warni yang
saya rasakan selama 4 tahun di sini.
Di sini
kami rata-rata anak perantauan semua. Hal yang paling heboh adalah pasca Idul
Fitri. Karena setelah Idul Fitri seluruh rubin (rumah binaan) mendadak jadi toko
kelontong. Semua barang-barang tersedia, khususnya sembako. Minyak, beras, telur,
mie, bawang, dsb. Saya selalu tersenyum kalo balik ke kota rantauan pas lihat
teman-teman pada balik sambil nenteng kardus banyak isinya sembako. Apalagi pengemban
dakwah, pulangnya jarang. Sekali pulang, sangunya langsung sekardus sembako. Mungkin
ortunya pada shock ngeliat anaknya kurang gizi semua :D
Suasana
berbagi, peduli, meski kadang ada prasangka dan menimbulkan clash. Namun,
karena bersama semua jadi lebih indah. Ikatan tak kasat mata ini membuat kami
selalu merasa cukup dalam segala keadaan. Belajar satu sama lain untuk
senantiasa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri. Tersenyum dalam
sakit, tetap tegar meskipun beribu ujian melanda. Bersama dakwah dalam jamaah
tanpa sadar kita saling menguatkan. Dalam doa yang diam-diam disisipkan, selalu
ada nama mereka. Teman-teman seperjuangan.
Dan
sebuah keniscayaan dari pertemuan adalah datangnya hari perpisahan. Yah,
namanya juga perantauan, pasti suatu saat akan balik ke kampung halaman. Dan saya
pun merasakan. Selama di sini sudah banyak Mbak-mbak sebelumnya yang pindah. Ada
yang ikut suami, ada yang memang pindah karena harus balik ke kampung halaman. Sedih
emang. Tapi, kenangan itu gak akan terhapus bersama doa yang terus dipanjatkan.
Karena sejauh apapun jarak, doa pasti akan sampai.
Ya Rabb,
ikatlah hati kami dalam kecintaan dan ketaatan kepadaMu. Kokohkan pijakan kaki
kami di jalan ini, teguhkan hati kami dalam memegang mabda ini dan kuatkan
pundak kami untuk memikul amanah dakwah. Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan
hati, tetapkanlah hati kami dalam DienMu. Dan satukanlah kami di JannahMu kelak
bersama para Nabi, Syuhada dan orang-orang shalih.
Minna,
hontou ni arigatou.
*Spesial
for che Lyn <3
Dalam dinginnya pagi. November 28th
2013.
No comments:
Post a Comment