Thursday, November 28, 2013

Harmoni Warna-Warni Dakwah Kampus (2)

Entah kenapa dari kemarin saya kebayang masa lalu melulu. Haha, tiba-tiba jadi puitis dan lebay. Tapi, gapapa. Saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya rasakan. Adalah sebuah kesyukuran yang tak terkira berada dalam sebuah jamaah dakwah. Ada yang memperhatikan, menyayangi dan semua itu bukan karena manfaat tetapi karena aqidah dan tsaqofah yang dikaji.
Gak terasa udah tahun ke-4 saya berada di dakwah kampus. Setiap majal (tempat) dakwah selalu punya ciri khasnya tersendiri. Pas masih SMA beda banget dengan suasana kampus. Apalagi dengan kondisi sistem yang menjerat sehingga tak jarang menurunkan militansi, bikin dada kembang-kempis nahan nafas saking nyeseknya. Berjumpa dengan 1001 pemikiran dan berdiskusi dengan banyak orang. Siapa yang sudah terbiasa dengan dakwah yang ritme-nya slow kayak lagu ballad, siap-siap aja kelabakan ketika masuk dalam dakwah kampus. Begitulah, semua warna-warni yang saya rasakan selama 4 tahun di sini.
Di sini kami rata-rata anak perantauan semua. Hal yang paling heboh adalah pasca Idul Fitri. Karena setelah Idul Fitri seluruh rubin (rumah binaan) mendadak jadi toko kelontong. Semua barang-barang tersedia, khususnya sembako. Minyak, beras, telur, mie, bawang, dsb. Saya selalu tersenyum kalo balik ke kota rantauan pas lihat teman-teman pada balik sambil nenteng kardus banyak isinya sembako. Apalagi pengemban dakwah, pulangnya jarang. Sekali pulang, sangunya langsung sekardus sembako. Mungkin ortunya pada shock ngeliat anaknya kurang gizi semua :D
Suasana berbagi, peduli, meski kadang ada prasangka dan menimbulkan clash. Namun, karena bersama semua jadi lebih indah. Ikatan tak kasat mata ini membuat kami selalu merasa cukup dalam segala keadaan. Belajar satu sama lain untuk senantiasa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri. Tersenyum dalam sakit, tetap tegar meskipun beribu ujian melanda. Bersama dakwah dalam jamaah tanpa sadar kita saling menguatkan. Dalam doa yang diam-diam disisipkan, selalu ada nama mereka. Teman-teman seperjuangan.
Dan sebuah keniscayaan dari pertemuan adalah datangnya hari perpisahan. Yah, namanya juga perantauan, pasti suatu saat akan balik ke kampung halaman. Dan saya pun merasakan. Selama di sini sudah banyak Mbak-mbak sebelumnya yang pindah. Ada yang ikut suami, ada yang memang pindah karena harus balik ke kampung halaman. Sedih emang. Tapi, kenangan itu gak akan terhapus bersama doa yang terus dipanjatkan. Karena sejauh apapun jarak, doa pasti akan sampai.
Ya Rabb, ikatlah hati kami dalam kecintaan dan ketaatan kepadaMu. Kokohkan pijakan kaki kami di jalan ini, teguhkan hati kami dalam memegang mabda ini dan kuatkan pundak kami untuk memikul amanah dakwah. Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam DienMu. Dan satukanlah kami di JannahMu kelak bersama para Nabi, Syuhada dan orang-orang shalih.
Minna, hontou ni arigatou.

*Spesial for che Lyn <3

Dalam dinginnya pagi. November 28th 2013.


No comments:

Post a Comment