Sebuah
percakapan mengiringi berakhirnya aksi kami sore ini. Sebuah percakapan yang
kami lakukan setelah diskusi yang kami coba lakukan ke tengah-tengah aktivis
kampus. Di bawah rintik hujan kami mulai bercengkrama.
“Mbak,
emang ya ideologi itu yang akhirnya jadi penentu warna suatu Negara. Coba deh
lihat Indonesia sekarang. Warnanya gak jelas. Bayangin aja, nyikapin penyadapan
aja kayak gitu. Seolah ada diantara A dan B. Warnanya abu-abu. Gak mau dibilang
Negara Islam tapi dibilang Negara Sekuler juga gak terima. Negara ini jadinya Negara
bukan-bukan,” katanya memulai percakapan.
“Haha,
iya Dek. Parah banget dah Indonesia. Sampai sekarang gak bisa ngambil sikap. Ideologi
itu emang seperti akar yang menentukan apa yang ada di atasnya. Kalo akarnya
aja gak jelas gimana atasnya?”, timpalku.
“Aku
dari dulu selalu bertanya, dari zaman aku kecil. Kenapa ya, orang Indonesia itu
cenderung plin plan? Sukanya basa-basi dan ngeles. Sekarang aku ngerti kenapa
orang-orang Indonesia rata-rata begitu. Beda banget sama orang luar negeri yang
kalo bilang A ya A, meskipun salah. Tapi, mereka jelas punya warna. Orang-orang
Kapitalis sama Sosialis contohnya. Makanya dari dulu mereka itu dilihat karena
mereka punya warna. Beda banget sama kita”, katanya kemudian.
“Iya,
Lis. Bener juga katamu. Emang didikan negaranya beda sih. Kita gak dididik
dengan ideologi yang jelas makanya jadi kayak gini hasilnya. Karena gak punya
basic ideologi akhirnya Indonesia jadi Negara bukan-bukan. Untung aja ya kita
mengkaji Islam, jadinya bisa nentuin sikap. Gak plin-plan,” balasku.
“Iya
Mbak. Aku juga setelah ngaji baru ngerti jawabannya”.
Yah,
begitulah sedikit percakapanku dengan adik se-timku di dakwah kampus. Ironis memang.
Ketika berbicara tataran Negara ternyata meski sudah hampir 70 tahun merdeka
tapi negeri ini belum menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Pantes aja
modelnya masih alay dan ababil seperti anak ABG. Galau terus kalo mau nentuin
sikap. Kegalauan Negara ini jelas tercermin dari pemerintahnya dalam menyikapi
masalah. Contohnya masalah penyadapan AS dan Australia. Padahal ini bukan
semata karena masalah pribadi. Ini harga diri bangsa sebagai Negara yang
berdaulat tapi malah ngambil sikap like a loser. Hadeh, udah gak ada taringnya
mah kita di hadapan Negara-negara Kapitalis yang super arogan itu.
Tidak
bisa dipungkiri bahwa masyarakat itu tidak hanya kumpulan individu. Tetapi di
dalamnya ada sebuah pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Se-heterogen
apapun individunya, kalo pemikiran, perasaan dan aturannya sama, maka mereka
akan menjadi masyarakat. Selama 3 hal itu belum berubah, keadaan masyarakatnya
akan tetap sama. Persis kayak Indonesia. Saya gak hanya menyalahkan individu
tetapi sistem (aturan) yang diterapkan di Negara ini yang akhirnya membuat
individu masyarakatnya berantakan.
Negara
ini butuh kejelasan warna. Kejelasan standar soal ketatanegaraannya. Ya,
Indonesia harus milih mau model Negara seperti apa. Negara berlandaskan aqidah
Islam (Khilafah) atau Negara Kapitalis-Sekuler. Atau mau tetap jadi Negara
Bukan-Bukan?
*Makasiiih
ya dek Kholisatut Tahliyah. You are my inspiration today ^_^
Bersiap rehat. November 28th
2013.
No comments:
Post a Comment