Thursday, November 28, 2013

Negara Bukan-Bukan

Sebuah percakapan mengiringi berakhirnya aksi kami sore ini. Sebuah percakapan yang kami lakukan setelah diskusi yang kami coba lakukan ke tengah-tengah aktivis kampus. Di bawah rintik hujan kami mulai bercengkrama.
“Mbak, emang ya ideologi itu yang akhirnya jadi penentu warna suatu Negara. Coba deh lihat Indonesia sekarang. Warnanya gak jelas. Bayangin aja, nyikapin penyadapan aja kayak gitu. Seolah ada diantara A dan B. Warnanya abu-abu. Gak mau dibilang Negara Islam tapi dibilang Negara Sekuler juga gak terima. Negara ini jadinya Negara bukan-bukan,” katanya memulai percakapan.
“Haha, iya Dek. Parah banget dah Indonesia. Sampai sekarang gak bisa ngambil sikap. Ideologi itu emang seperti akar yang menentukan apa yang ada di atasnya. Kalo akarnya aja gak jelas gimana atasnya?”, timpalku.
“Aku dari dulu selalu bertanya, dari zaman aku kecil. Kenapa ya, orang Indonesia itu cenderung plin plan? Sukanya basa-basi dan ngeles. Sekarang aku ngerti kenapa orang-orang Indonesia rata-rata begitu. Beda banget sama orang luar negeri yang kalo bilang A ya A, meskipun salah. Tapi, mereka jelas punya warna. Orang-orang Kapitalis sama Sosialis contohnya. Makanya dari dulu mereka itu dilihat karena mereka punya warna. Beda banget sama kita”, katanya kemudian.
“Iya, Lis. Bener juga katamu. Emang didikan negaranya beda sih. Kita gak dididik dengan ideologi yang jelas makanya jadi kayak gini hasilnya. Karena gak punya basic ideologi akhirnya Indonesia jadi Negara bukan-bukan. Untung aja ya kita mengkaji Islam, jadinya bisa nentuin sikap. Gak plin-plan,” balasku.
“Iya Mbak. Aku juga setelah ngaji baru ngerti jawabannya”.
Yah, begitulah sedikit percakapanku dengan adik se-timku di dakwah kampus. Ironis memang. Ketika berbicara tataran Negara ternyata meski sudah hampir 70 tahun merdeka tapi negeri ini belum menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Pantes aja modelnya masih alay dan ababil seperti anak ABG. Galau terus kalo mau nentuin sikap. Kegalauan Negara ini jelas tercermin dari pemerintahnya dalam menyikapi masalah. Contohnya masalah penyadapan AS dan Australia. Padahal ini bukan semata karena masalah pribadi. Ini harga diri bangsa sebagai Negara yang berdaulat tapi malah ngambil sikap like a loser. Hadeh, udah gak ada taringnya mah kita di hadapan Negara-negara Kapitalis yang super arogan itu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat itu tidak hanya kumpulan individu. Tetapi di dalamnya ada sebuah pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Se-heterogen apapun individunya, kalo pemikiran, perasaan dan aturannya sama, maka mereka akan menjadi masyarakat. Selama 3 hal itu belum berubah, keadaan masyarakatnya akan tetap sama. Persis kayak Indonesia. Saya gak hanya menyalahkan individu tetapi sistem (aturan) yang diterapkan di Negara ini yang akhirnya membuat individu masyarakatnya berantakan.
Negara ini butuh kejelasan warna. Kejelasan standar soal ketatanegaraannya. Ya, Indonesia harus milih mau model Negara seperti apa. Negara berlandaskan aqidah Islam (Khilafah) atau Negara Kapitalis-Sekuler. Atau mau tetap jadi Negara Bukan-Bukan?


*Makasiiih ya dek Kholisatut Tahliyah. You are my inspiration today ^_^



Bersiap rehat. November 28th 2013.


No comments:

Post a Comment