Siang setengah mendung. Saya menuju ke perpustakaan, salah satu tempat favorit saya di kampus. Bukan karena bukunya, tapi karena di sana ada PC dimana saya bisa menulis dengan tenang :D Lupakan. Saat melewati gedung rektorat, saya melihat sebuah sebuah banner terpasang di depan pintu masuk gedung tersebut. Isinya adalah ucapan selamat datang bagi para kontingen kompetisi jembatan dan kompetisi bangunan se-universitas di seluruh Indonesia. Tahun ini kampus saya menjadi tuan rumah dan saya baru tahu ternyata kampus saya berturut-turut menjadi juara umum Kompetisi Jembatan Nasional tersebut. Ini bisa dibilang hal yang membanggakan. Pastinya, karena bikin jembatan itu sulit lho meskipun Cuma replikanya saja. Tapi, ada hal yang mengganjal dalam benak saya.
Kalo seandainya ada kompetisi jembatan setiap tahun ditambah lagi kompetisi bangunan, harusnya Indonesia sudah lama jadi Negara maju kan ya? Tapi kok kenyataannya berbanding terbalik ya? Trus, jembatan dan bangunan itu buat siapa? Apa hanya jadi arsip Negara trus bisa dibeli konsepnya sama pihak lain dan dipatenkan trus yang membuat dapat royalty seumur hidup? Kapan Indonesia bisa maju?
Ah, sepertinya bayangan saya terlalu jauh. Tapi, kalo misal SDM yang tidak memadai sering menjadi dalih ketergantungan Negara kepada asing apa itu gak terlalu naïf? Ini kompetisi nasional, otomatis lulus ujian. Trus, kenapa gak bisa dimanfaatkan sama sekali? APBN kurang? SDA lho banyak. Trus, mau ngeles model apalagi? #tepokjidat gue sama yang kayak begini.
Gak bisa dipungkiri sebenarnya kalo kebobrokan negeri ini gak hanya sekedar siapa pemimpinnya. Karena di negeri ini gak hanya ada orang tetapi juga ada sistem yang diberlakukan atas kesepakatan orang-orang tersebut.
Hari ini kita bisa melihat betapa pragmatisnya kaum intelektual. Calon ilmuwan dan generasi masa depan. Hari ini mahasiswa mengikuti berbagai lomba semata membanggakan diri dan keluarganya. Nyaris tanpa dedikasi untuk bangsa dan negaranya. Boro-boro untuk agamanya, untuk bangsa dan Negara aja gak ada. Bahkan bangga ketika desainnya dipergunakan di luar negeri yang justru semakin membuat negaranya dipecundangi oleh Negara lain. Semua itu gak lepas dari sistem pendidikan berikut sistem yang mendukungnya yakni sistem politik dan ekonomi, dua suprasistem besar dalam sebuah Negara. Tidak bisa dipungkiri, sistem ekonomi Negara ini semakin Kapitalis dan semakin liberal. Ukuran kesejahteraan hanya diukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi yang hitungannya pun sangat tidak imbang. Akhirnya semua pihak dituntut untuk menjadi aktor dalam menyukseskan pertumbuhan ekonomi demi tercapainya kesejahteraan.
Lantas, kesejahteraan seperti apa yang dimaksud jika orang kaya pun masih bingung tentang penghasilannya bagaimana ia bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak cucunya? Gak logis.
Setali 3 uang dengan sistem politiknya. Kepentingan oriented jelas sekali ada di sana. Semua kebijakan mengharuskan agar seluruh warga Negara menjadi mesin pencetak uang bagi Negara tetapi justru yang menikmatinya adalah pihak lain di luar Negara. Menindas rakyat atas nama rakyat. Sungguh keterlaluan.
Bukannya saya tidak setuju dengan kompetisi jembatan, dsb. Silahkan diadakan tetapi harus didukung dengan sistem lain yang sekiranya bisa memajukan negeri ini. Bayangin aja, dari jaman saya SMP, Indonesia masih dalam tahap Negara berkembang. Kapan majunya? Kalo gak berkembang-berkembang itu namanya Negara stagnan.
Udah bukan saatnya lagi kita berdebat tentang siapa yang salah. Apakah individu atau sistemnya. Sudah jelas sebenarnya. Sekarang yang harus kita pertanyakan adalah bagaimana solusi tuntas agar masalah ini tidak sekedar tambal sulam seperti minum obat penenang? Ibarat pohon kalo akarnya sudah rusak, bukan Cuma batang sama daunnya yang dipangkas tapi ya diganti dengan pohon baru. So, kalo sistemnya udah salah berarti diganti sistemnya bukan hanya individu yang menjadi pelaksana sistem. Dan yang pasti sistem itu bukan dari kecerdasan akal manusia. Karena sepintar-pintarnya manusia dia tidak akan mampu mengetahu mana yang terbaik untuk dirinya.
Kalo ditanya jawabannya, pastilah sistem itu berasal dari Rabb Semesta Alam, Allah azza wa jalla. Ya. Islam. Hanya dengan Islam. So, yang harus dilakukan sekarang adalah kampanyekan Islam sebagai sistem kehidupan, tidak hanya agama spiritual tetapi juga sebuah aturan lengkap terkait individu dan Negara.
Back to Islam, Back to Syariah dan Khilafah.
Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.
Menjelang Dhuhur. November 27th 2013.
No comments:
Post a Comment