Setiap orang pasti pernah merasakan kecewa. Bagaimanapun bentuknya. Karena memang itu naluriah. Manusiawi. Ngomong-ngomong soal kecewa, barusan saya mendapat kiriman postingan dari salah seorang sahabat ah teman. Entahlah aku masih tidak mengerti apa bedanya sahabat sama teman. Pokoknya itulah. Ini kutipan postingannya.
Sebagai seorang manusia, sometimes perasaan kecewa, sedih, marah itupun sempat mampir ke dalam diri.Kekecewaan yang lahir karena terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan yang benar2 terjadi. Atau ketika kita berharap terlalu tinggi kepada orang lain untuk menjadi seperti yang kita inginkan namun ternyata justru jauh panggang dari api.Kesedihan yang muncul akibat rasa kecewa, yang ketika itu terjadi sekali, dua kali, tiga kali, hingga beberapa kali pada akhirnya mengundang rasa amarah untuk muncul.Hembusan nafas panjang akhirnya yang dilakukan bagi mereka yang tak sanggup untuk melampiaskan amarahnya atau ditambah dengan istighfar bagi mereka yang lebih memilih untuk diam dan menghindari konflik. “Mengalah, mungkin itu jauh lebih baik.” Begitu mungkin pikirnya.
Namun, tak sedikit pula yang akhirnya karena kecewa, sedih, dan marah ini justru menjadikannya lebih skeptis terhadap permasalahannya tersebut, terhadap kata2 yang berkaitan dengannya, atau bahkan sampai kepada generalisasi semua orang yang akhirnya menyebabkan putus asa yang mendalam dalam dirinya.
Sometimes, sebagai manusia kitapun pernah merasakan itu semua, yang membedakan di antara kita mungkin tentang bagaimana kta menyikapinya, seberapa lama rasa itu kita biarkan hinggap dalam diri, dan bagaimana kita menghalau jikalau sewaktu-waktu ia kembali mengetuk pintu hati kita atau bahkan masuk tanpa izin.
Mungkin, buat teman-teman ada yang pernah mrasakan demikian, bisa berbagi cara dan solusi, ?
Tapi buat saya pribadi, ada satu hal yang senantiasa coba saya ingat.
—Bahwasanya Allah tidak menghakimi kita atas apa yang orang lain lakukan kepada kita, Tapi Allah menghakimi kita atas apa yang kita lakukan terhadap orang lain
Mari menebar manfaat, mari menebar kebaikan.
Mari mencari teman.
Mari merajut persahabatan.
Mengupayakan semaksimal yang bisa kita upayakan.
Semoga menjadi pemberat di hari akhirat.
Allah knows best.—
Allahu a’lam
Terima kasih Maryam. Setidaknya itu bisa sedikit menghibur. Mudah-mudahan gak pusing lagi haha :D
Move On. November 26th 2013.
No comments:
Post a Comment