Nouryoku
Shiken N3 menjadi ajang healing journey bagi saya. Alhamdulillah momentnya pas
banget. Bukan bermaksud melarikan diri dari kenyataan. Karena manusia akan
senantiasa diuji untuk membuktikan seberapa besar kadar keimanan mereka. Itu
sudah sunnatullah. Bedanya, kalo orang Muslim ada pahala yang menanti. Sedangkan
orang Non Muslim tidak. Tapi, beda lagi kalo ternyata setelah ujian itu dia
masuk Islam.
Pergi
sebentar untuk menyusun bekal saat kembali pulang adalah keinginan saya. Haha,
untungnya ada Nouryoku Shiken. Jadinya bisa sekalian melepas penat. Dan ada beberapa
hal yang sangat berkesan dari healing journey saya kemarin.
Pertama,
ketika ujian akan dimulai. Saya tidak tahu, padahal ini yang ketiga kalinya
saya ikut ujian tetapi ketika ujian akan dilangsungkan saya jadi gugup. Entah darimana
perasaan itu. Selesai ujian barulah saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Saya
kemudian membayangkan, untuk ujian mengetes kemampuan saja begini ketatnya,
bagaimana nanti ketika seluruh manusia akan diadili untuk setiap amalnya di
satu pengadilan yang sama? Pasti akan lebih ketat lagi. Saya teringat akan
hafalan saya beberapa waktu yang lalu.
“Pada
hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak
berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang
Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”. Itulah hari yang pasti
terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali
kepada Tuhannya. (TQS. An
Naba [78] : 38-39)
Hari penghisaban itu pasti akan terjadi. Seluruh manusia
dari masa Nabi Adam as. Sampai manusia terakhir dari umat Rasulullah SAW. Akan dikumpulkan
di hari yang sama. Maka sebenarnya apa yang kita tempuh saat ini adalah jalan
menuju ke hari itu. Pertanyaannya, apa bekal yang sudah kita kumpulkan untuk
menghadapi hari tersebut? Sungguh sangat tidak bijak ketika menghadapi ujian
dengan putus asa. Karena sejatinya ujian untuk menguatkan dan mengembalikan
kedekatan dengan Allah azza wa jalla. Galau itu manusiawi, tetapi bukan berarti
menjadi legitimasi untuk menyerah pada hidup yang hanya sementara ini. Insya Allah
dengan keyakinan akan hadir pertolongan dariNya, Dzat Yang Maha Kuasa atas
segala sesuatu.
“Apakah manusia itu
mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang
mereka tidak diuji lagi?” (TQS. Al
Ankabut [29] : 2)
Kedua, di sela-sela perjalanan saya, saya tidak
sendiri. Ada sahabat-sahabat saya yang meskipun mereka jauh, mereka sangat
peduli dan menyayangi saya. Rasa syukur yang tak terkira karena Allah
menitipkan mereka untuk menyemangati saya. Meski saat ini semua yang ada di
hadapan saya seolah menjadi hambatan bagi saya untuk berlari ke depan. Minna,
hontou ni arigatou.
Dan saya teringat kata salah seorang teman saya. Bijaksana
itu bukan tentang usia. Tetapi tentang bagaimana mengambil pelajaran dari
setiap peristiwa yang terjadi. Begitu juga dengan apa yang saya alami. Saya masih
terlalu lemah dan rapuh. Maka dengan ujian ini Allah ingin menjadikan saya
lebih kuat dan mandiri. Dan yang lebih penting lagi, Allah ingin saya kembali
mendekatiNya. Mungkin selama ini saya sering melupakanNya. Ujian ini adalah
bentuk kasih sayangNya.
Ya Rabb, tiada kata yang lebih indah dari syukur
yang tak terkira atas segala nikmat yang Engkau karuniakan, sekalipun saat kau
memberi ujian, masih sering Engkau menyelipkan nikmat di sana. Maka benarlah
firmanMu
“Sesungguhnya
setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah kesulitan ada kemudahan” (TQS. Al Insyirah : 5-6)
With the
rain. December 2nd 2013.
No comments:
Post a Comment