Monday, December 02, 2013

My Healing Journey

Nouryoku Shiken N3 menjadi ajang healing journey bagi saya. Alhamdulillah momentnya pas banget. Bukan bermaksud melarikan diri dari kenyataan. Karena manusia akan senantiasa diuji untuk membuktikan seberapa besar kadar keimanan mereka. Itu sudah sunnatullah. Bedanya, kalo orang Muslim ada pahala yang menanti. Sedangkan orang Non Muslim tidak. Tapi, beda lagi kalo ternyata setelah ujian itu dia masuk Islam.
Pergi sebentar untuk menyusun bekal saat kembali pulang adalah keinginan saya. Haha, untungnya ada Nouryoku Shiken. Jadinya bisa sekalian melepas penat. Dan ada beberapa hal yang sangat berkesan dari healing journey saya kemarin.
Pertama, ketika ujian akan dimulai. Saya tidak tahu, padahal ini yang ketiga kalinya saya ikut ujian tetapi ketika ujian akan dilangsungkan saya jadi gugup. Entah darimana perasaan itu. Selesai ujian barulah saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Saya kemudian membayangkan, untuk ujian mengetes kemampuan saja begini ketatnya, bagaimana nanti ketika seluruh manusia akan diadili untuk setiap amalnya di satu pengadilan yang sama? Pasti akan lebih ketat lagi. Saya teringat akan hafalan saya beberapa waktu yang lalu.
“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. (TQS. An Naba [78] : 38-39)
Hari penghisaban itu pasti akan terjadi. Seluruh manusia dari masa Nabi Adam as. Sampai manusia terakhir dari umat Rasulullah SAW. Akan dikumpulkan di hari yang sama. Maka sebenarnya apa yang kita tempuh saat ini adalah jalan menuju ke hari itu. Pertanyaannya, apa bekal yang sudah kita kumpulkan untuk menghadapi hari tersebut? Sungguh sangat tidak bijak ketika menghadapi ujian dengan putus asa. Karena sejatinya ujian untuk menguatkan dan mengembalikan kedekatan dengan Allah azza wa jalla. Galau itu manusiawi, tetapi bukan berarti menjadi legitimasi untuk menyerah pada hidup yang hanya sementara ini. Insya Allah dengan keyakinan akan hadir pertolongan dariNya, Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?(TQS. Al Ankabut [29] : 2)
Kedua, di sela-sela perjalanan saya, saya tidak sendiri. Ada sahabat-sahabat saya yang meskipun mereka jauh, mereka sangat peduli dan menyayangi saya. Rasa syukur yang tak terkira karena Allah menitipkan mereka untuk menyemangati saya. Meski saat ini semua yang ada di hadapan saya seolah menjadi hambatan bagi saya untuk berlari ke depan. Minna, hontou ni arigatou.
Dan saya teringat kata salah seorang teman saya. Bijaksana itu bukan tentang usia. Tetapi tentang bagaimana mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Begitu juga dengan apa yang saya alami. Saya masih terlalu lemah dan rapuh. Maka dengan ujian ini Allah ingin menjadikan saya lebih kuat dan mandiri. Dan yang lebih penting lagi, Allah ingin saya kembali mendekatiNya. Mungkin selama ini saya sering melupakanNya. Ujian ini adalah bentuk kasih sayangNya.
Ya Rabb, tiada kata yang lebih indah dari syukur yang tak terkira atas segala nikmat yang Engkau karuniakan, sekalipun saat kau memberi ujian, masih sering Engkau menyelipkan nikmat di sana. Maka benarlah firmanMu
“Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah kesulitan ada kemudahan” (TQS. Al Insyirah : 5-6)


With the rain. December 2nd 2013. 

No comments:

Post a Comment