Pukul 15.45 saya bergegas hendak sholat Ashar. Tiba-tiba ada dua
orang teman, yang satu teman seangkatan, yang satu adik tingkat. Ketika
saya berlalu di depan mereka, teman seangkatan saya langsung mencegat.
"Dit, Dit, pinjem KTMnya dong. Ini nih dia mau nyalon jadi DPM", katanya padaku sambil memandang ke arah adik tingkat itu.
"Iya Mbak, pinjem ya?", timpal adik tingkat saya kemudian.
Antara bingung, mau sholat Ashar atau menjelaskan saya cuma bisa bilang.
"Hah? KTM? Emmm, ntar ya mau sholat dulu", kata saya sambil ngibrit masuk ke gedung rektorat.
Suasana
kampus saya memang lagi rame-ramenya kampanye untuk Pemira (Pemilu
Raya, untuk memilih BEM Universitas dan DPM Universitas) serta Pemilwa
untuk tataran fakultas. Nah, adik tingkat saya tadi sepertinya mau
nyalon untuk DPM Fakultas.
Saya sih mau aja KTM saya dipinjam,
tapi saya ingin kejelasan visi Si Calon. Ingin mengubah kampus tetapi
memakai sistem yang sama, bukankah sama saja nyemplung ke dalam lubang
yang sama? Parahnya ini bukan tidak sengaja tetapi sengaja. Okelah kalo
mereka yang labelnya Nasionalis, dll. Tapi ternyata teman-teman yang
backgroundnya pergerakan mahasiswa Islam pun ikut-ikutan tren
memperbaiki kondisi lewat jalur sistem yang sebenarnya justru banyak
membuat mereka terjebak dalam pragmatisme dan kompromi.
Sudah
saatnya mainstream pergerakan mahasiswa berbelok arah. Banting setir
kalo bahasa saya. Sistem Demokrasi inilah yang mengekang idealisme kita,
para agen perubahan. Dan satu-satunya visi yang harus kita wujudkan
adalah visi yang dapat mewujudkan perubahan hakiki, yakni perubahan yang
berstandar pada kebenaran mutlak yakni dari Allah azza wa jalla.
Hmm,
pada akhirnya ini jadi PR besar kita semua, khususnya teman-teman yang
bergerak di dakwah kampus, especially gue yang bergerak ke teman-teman
aktivis.
Saatnya kembali kepada Syariah di bawah naungan Khilafah.
Menjelang Maghrib diiringi rinai hujan. December 4th 2013.
No comments:
Post a Comment