Thursday, December 12, 2013

Kita (Masih) Sekuler?

Tulisan ini bukan untuk menyindir pihak tertentu. Ini lebih sebagai muhasabah bagi saya dan juga renungan bagi kita semua. Anggap saja ini bentuk cinta saya kepada semua saudara se-aqidah yang telah mengikrarkan diri menjadi pembela agama Allah dengan berdakwah, bukan sembarang dakwah. Dakwah dengan metode khas dan tujuan yang mulia, yakni mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.
Sekuler. Sebuah kata yang sudah tidak asing lagi di kalangan pengemban dakwah ideologis. Kenapa? Karena kata inilah yang menjadi dasar berdirinya ideologi Kapitalisme yang saat ini sedang duduk di singgasana kekuasaan dunia dengan Amerika Serikat sebagai pengembannya. Sekuler adalah memisahkan agama dengan kehidupan. Sekulerisme menihilkan peran agama dalam mengatur kehidupan bernegara dan ini yang sering sekali digaungkan di tengah-tengah umat, ditampakkan kebobrokan dan kecacatannya kemudian dikomparasikan dengan ideologi Islam. 
Namun, terkadang pemikiran ini masih menjangkiti pengemban dakwah ideologis yang justru membenci sekulerisme. Yah, memang tidak bisa dinafikkan sejak Khilafah runtuh, kita dididik dengan pola pendidikan sekuler. Maka, wajar memang jika masih ada sisa-sisa sekulerisme yang (mungkin) seringkali tidak kita sadari masih ada dalam benak kita. Makanya, kata musyrifah saya, kalo halqoh itu yang sungguh-sungguh. Karena sejatinya halqoh itu adalah nyawa. Halqoh yang memberi sumbangsih mabda dan karena mabda itulah kita bergerak (dakwah). Halqoh yang akan membersihkan benak kita dari pemikiran-pemikiran kufur yang kemudian diganti dengan pemikiran Islam.
Ketika halqoh atau rapat tim atau mungkin juga pada liqo’ dan training kita semangat. Namun, saat dihadapkan pada kenyataan dimana pemikiran Islam harus berbenturan dengan kenyataan, tidak sedikit yang kemudian loyo bahkan terkesan mati suri. DiSMS gak dibalas, ditelpon gak diangkat,diajak kontak sibuk dan 1001 jenis alasan lainnya. Saya juga tidak ingin serta merta menyalahkan karena memang pada kenyataannya kita terikat dengan kepentingan individu kita masing-masing, tetapi itu juga bukan legitimasi bahwa kita boleh untuk individualis. Memisahkan antara urusan individu dengan urusan dakwah. Bukankah sama saja itu sekuler? 
Berkoar-koar tentang bobroknya sekuler tetapi masih sering menganggap bahwa urusan dakwah dengan urusan individu adalah dua hal yang berbeda. Memahami bahwa dakwah sebagai poros tetapi masih sering terbawa perasaan dalam berdakwah. Ketika dakwah selalu berakhir dengan penolakan dan kegagalan akhirnya gak semangat lagi dakwahnya. Lebih semangat nyari kerjaan sambilan dan melakukan hobi yang lain yang sebenarnya bisa menunjang dakwah tapi tidak digunakan juga untuk dakwah. Merencanakan pernikahan full barokah tapi kadang dakwah juga lost. Akhirnya nyari aman. Dakwah via dunia maya tapi masih terjebak juga dengan celoteh yang tidak penting. 
Saya kembali teringat pesan salah seorang musyrifah saya yang lain. Beliau mengatakan bahwa pemikiran itu shahih jika sudah dibuktikan dengan ujian. Ketika ditimpa ujian apakah kita bertahan dengan mafhum itu ataukah justru banting setir dan menyerah dengan keadaan. Maka ikhlas dan sabar turut menyertainya *huhu, saya benar-benar tertabok*
Kemudian di kesempatan lain, seorang musyrifah saya yang lain lagi menyampaikan, sekeras apapun ujiannya, sesulit apapun kehidupan ini menghimpit, jangan pernah tinggalkan dakwah.
Last but not least, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua dan menjadi lecutan untuk berfastabiqul khairaat menjadi yang terbaik dalam dakwah. Karena dakwah bukan sekedar jalan yang menjadikan kita terkenal di hadapan manusia atau mendapatkan harta, tahta dan wanita. Lebih dari itu. Dakwah adalah jalan hidup Nabi dan para shahabat. Dakwah pula yang menghantarkan para mujahid ke surga dan inilah yang kita kejar meski kita belum bisa menyamai amalan mereka. Kita ingin menjadi yang terbaik di sisiNya bukan karena apa atau siapa. Dakwah ini pula yang akan menghantarkan pada kembalinya kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah *in sya Allah*
Saya teringat *lagi* kutipan sebuah lagu
"Dari atas satu tanah tempat kita berpijak, teruslah bergerak, berhentilah mengeluh"

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Healing day. December 12th 2013.

No comments:

Post a Comment