Saturday, November 30, 2013

COLOURS; Together in Harmony

Akan sangat sulit mengumpulkan perasaan yang berserakan jika dilakukan sendirian. Tapi, ketika mengingat bahwa diri ini tak sendiri, beribu syukur dan terima kasih untukNya yang menitipkan kalian padaku. For you, colours in my life.
Menjadi sahabat dan dianggap sahabat merupakan sebuah hal yang sangat berarti. Meski kita terpisah beribu mil bahkan terpisah pulau dan zona waktu, meski ada di Negara yang sama. Namun, jarak nyaris tak ada diantara kita.
Mungkin terkadang, kita berselisih untuk beberapa hal. Tak jarang rasa sungkan menghampiri karena kehidupan yang berbeda. Namun, selalu ada rasa rindu yang melenyapkan semua itu. Rasa bahagia ketika kalian mengirimkan pesan karena kalian juga memiliki rasa rindu yang sama. Dan kita berbagi itu semua.

AOI
I used to like this colour so much. Seperti itu pula aku menyukaimu. Seorang gadis yang selalu bersemangat dan begitu supel. Meski terkadang tidak percaya diri untuk hal-hal tertentu. Ini hari dimana aku menangis karena kau akan pergi dalam keadaan tidak sehat. Dan untuk beberapa saat aku kesal karena aku tidak tahu. Banyak hal yang aku tidak tahu. Tapi, aku siapa? Aku jauh. Dan aku tidak bisa membantu apapun. Menyakitkan memang, Ai. Saat ini hanya doa yang bisa kupanjatkan untuk mengiringi kepergianmu. Baik-baik di sana. Semoga cepat sembuh ya.

MIDORI
Meski kita jarang berkomunikasi, kau selalu membuatku merindukanmu dengan gombalan super lebay itu. Aku senang saat kau SMS dan mengatakan bahwa kau merindukanku meski sebenarnya bukan hanya aku, haha. Makasih ya Mimi Chan. Kuharap kau selalu jadi Midori yang bersemangat membasmi kejahatan *eh membasmi kemungkaran. Tapi, ingat. Baqo juga harus dikontrol. Semangat bu PeJe. Urus anak-anakmu baik-baik. Good luck.

CHAIRO
Kau memang manis seperti cokelat. Kehangatan, perhatian dan kepekaan yang selalu kau tunjukkan pada teman-temanmu. Kau yang selalu gigih menghubungi mereka. Meski tak semua membalas. Termasuk aku kadang-kadang. Namun, itu sisi yang menarik darimu. Kau selalu ingin memberi tanpa meminta balasan. Tidak heran kenapa Allah memberi amanah itu di pundakmu. Lebih dulu beberapa langkah dariku yang selama ini menginginkannya. Aku tidak marah, karena kau memang layak mendapatkannya. Teruslah bersabar, Cha. Kau sudah punya modal besar yang tidak semua orang memilikinya. Seperti cokelat panas yang menghangatkan kala musim hujan tiba.

Dear my best friends, this just a simple note from me, Oren. Too much to tell about what I feel. Jazakumullah khairan katsir untuk semuanya. Semoga persahabatan dan persaudaraan ini senantiasa berada dalam jalan ketaatan. Dan kemudian kita bisa bertemu lagi di JannahNya kelak, aamiin.


With love. November 30th 2013.


Thursday, November 28, 2013

Negara Bukan-Bukan

Sebuah percakapan mengiringi berakhirnya aksi kami sore ini. Sebuah percakapan yang kami lakukan setelah diskusi yang kami coba lakukan ke tengah-tengah aktivis kampus. Di bawah rintik hujan kami mulai bercengkrama.
“Mbak, emang ya ideologi itu yang akhirnya jadi penentu warna suatu Negara. Coba deh lihat Indonesia sekarang. Warnanya gak jelas. Bayangin aja, nyikapin penyadapan aja kayak gitu. Seolah ada diantara A dan B. Warnanya abu-abu. Gak mau dibilang Negara Islam tapi dibilang Negara Sekuler juga gak terima. Negara ini jadinya Negara bukan-bukan,” katanya memulai percakapan.
“Haha, iya Dek. Parah banget dah Indonesia. Sampai sekarang gak bisa ngambil sikap. Ideologi itu emang seperti akar yang menentukan apa yang ada di atasnya. Kalo akarnya aja gak jelas gimana atasnya?”, timpalku.
“Aku dari dulu selalu bertanya, dari zaman aku kecil. Kenapa ya, orang Indonesia itu cenderung plin plan? Sukanya basa-basi dan ngeles. Sekarang aku ngerti kenapa orang-orang Indonesia rata-rata begitu. Beda banget sama orang luar negeri yang kalo bilang A ya A, meskipun salah. Tapi, mereka jelas punya warna. Orang-orang Kapitalis sama Sosialis contohnya. Makanya dari dulu mereka itu dilihat karena mereka punya warna. Beda banget sama kita”, katanya kemudian.
“Iya, Lis. Bener juga katamu. Emang didikan negaranya beda sih. Kita gak dididik dengan ideologi yang jelas makanya jadi kayak gini hasilnya. Karena gak punya basic ideologi akhirnya Indonesia jadi Negara bukan-bukan. Untung aja ya kita mengkaji Islam, jadinya bisa nentuin sikap. Gak plin-plan,” balasku.
“Iya Mbak. Aku juga setelah ngaji baru ngerti jawabannya”.
Yah, begitulah sedikit percakapanku dengan adik se-timku di dakwah kampus. Ironis memang. Ketika berbicara tataran Negara ternyata meski sudah hampir 70 tahun merdeka tapi negeri ini belum menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Pantes aja modelnya masih alay dan ababil seperti anak ABG. Galau terus kalo mau nentuin sikap. Kegalauan Negara ini jelas tercermin dari pemerintahnya dalam menyikapi masalah. Contohnya masalah penyadapan AS dan Australia. Padahal ini bukan semata karena masalah pribadi. Ini harga diri bangsa sebagai Negara yang berdaulat tapi malah ngambil sikap like a loser. Hadeh, udah gak ada taringnya mah kita di hadapan Negara-negara Kapitalis yang super arogan itu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat itu tidak hanya kumpulan individu. Tetapi di dalamnya ada sebuah pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Se-heterogen apapun individunya, kalo pemikiran, perasaan dan aturannya sama, maka mereka akan menjadi masyarakat. Selama 3 hal itu belum berubah, keadaan masyarakatnya akan tetap sama. Persis kayak Indonesia. Saya gak hanya menyalahkan individu tetapi sistem (aturan) yang diterapkan di Negara ini yang akhirnya membuat individu masyarakatnya berantakan.
Negara ini butuh kejelasan warna. Kejelasan standar soal ketatanegaraannya. Ya, Indonesia harus milih mau model Negara seperti apa. Negara berlandaskan aqidah Islam (Khilafah) atau Negara Kapitalis-Sekuler. Atau mau tetap jadi Negara Bukan-Bukan?


*Makasiiih ya dek Kholisatut Tahliyah. You are my inspiration today ^_^



Bersiap rehat. November 28th 2013.


Harmoni Warna-Warni Dakwah Kampus (2)

Entah kenapa dari kemarin saya kebayang masa lalu melulu. Haha, tiba-tiba jadi puitis dan lebay. Tapi, gapapa. Saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya rasakan. Adalah sebuah kesyukuran yang tak terkira berada dalam sebuah jamaah dakwah. Ada yang memperhatikan, menyayangi dan semua itu bukan karena manfaat tetapi karena aqidah dan tsaqofah yang dikaji.
Gak terasa udah tahun ke-4 saya berada di dakwah kampus. Setiap majal (tempat) dakwah selalu punya ciri khasnya tersendiri. Pas masih SMA beda banget dengan suasana kampus. Apalagi dengan kondisi sistem yang menjerat sehingga tak jarang menurunkan militansi, bikin dada kembang-kempis nahan nafas saking nyeseknya. Berjumpa dengan 1001 pemikiran dan berdiskusi dengan banyak orang. Siapa yang sudah terbiasa dengan dakwah yang ritme-nya slow kayak lagu ballad, siap-siap aja kelabakan ketika masuk dalam dakwah kampus. Begitulah, semua warna-warni yang saya rasakan selama 4 tahun di sini.
Di sini kami rata-rata anak perantauan semua. Hal yang paling heboh adalah pasca Idul Fitri. Karena setelah Idul Fitri seluruh rubin (rumah binaan) mendadak jadi toko kelontong. Semua barang-barang tersedia, khususnya sembako. Minyak, beras, telur, mie, bawang, dsb. Saya selalu tersenyum kalo balik ke kota rantauan pas lihat teman-teman pada balik sambil nenteng kardus banyak isinya sembako. Apalagi pengemban dakwah, pulangnya jarang. Sekali pulang, sangunya langsung sekardus sembako. Mungkin ortunya pada shock ngeliat anaknya kurang gizi semua :D
Suasana berbagi, peduli, meski kadang ada prasangka dan menimbulkan clash. Namun, karena bersama semua jadi lebih indah. Ikatan tak kasat mata ini membuat kami selalu merasa cukup dalam segala keadaan. Belajar satu sama lain untuk senantiasa mencintai saudara seperti mencintai diri sendiri. Tersenyum dalam sakit, tetap tegar meskipun beribu ujian melanda. Bersama dakwah dalam jamaah tanpa sadar kita saling menguatkan. Dalam doa yang diam-diam disisipkan, selalu ada nama mereka. Teman-teman seperjuangan.
Dan sebuah keniscayaan dari pertemuan adalah datangnya hari perpisahan. Yah, namanya juga perantauan, pasti suatu saat akan balik ke kampung halaman. Dan saya pun merasakan. Selama di sini sudah banyak Mbak-mbak sebelumnya yang pindah. Ada yang ikut suami, ada yang memang pindah karena harus balik ke kampung halaman. Sedih emang. Tapi, kenangan itu gak akan terhapus bersama doa yang terus dipanjatkan. Karena sejauh apapun jarak, doa pasti akan sampai.
Ya Rabb, ikatlah hati kami dalam kecintaan dan ketaatan kepadaMu. Kokohkan pijakan kaki kami di jalan ini, teguhkan hati kami dalam memegang mabda ini dan kuatkan pundak kami untuk memikul amanah dakwah. Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami dalam DienMu. Dan satukanlah kami di JannahMu kelak bersama para Nabi, Syuhada dan orang-orang shalih.
Minna, hontou ni arigatou.

*Spesial for che Lyn <3

Dalam dinginnya pagi. November 28th 2013.


Wednesday, November 27, 2013

Jembatan dan Bangunan itu Buat Siapa??

Siang setengah mendung. Saya menuju ke perpustakaan, salah satu tempat favorit saya di kampus. Bukan karena bukunya, tapi karena di sana ada PC dimana saya bisa menulis dengan tenang :D Lupakan. Saat melewati gedung rektorat, saya melihat sebuah sebuah banner terpasang di depan pintu masuk gedung tersebut. Isinya adalah ucapan selamat datang bagi para kontingen kompetisi jembatan dan kompetisi bangunan se-universitas di seluruh Indonesia. Tahun ini kampus saya menjadi tuan rumah dan saya baru tahu ternyata kampus saya berturut-turut menjadi juara umum Kompetisi Jembatan Nasional tersebut. Ini bisa dibilang hal yang membanggakan. Pastinya, karena bikin jembatan itu sulit lho meskipun Cuma replikanya saja. Tapi, ada hal yang mengganjal dalam benak saya.

Kalo seandainya ada kompetisi jembatan setiap tahun ditambah lagi kompetisi bangunan, harusnya Indonesia sudah lama jadi Negara maju kan ya? Tapi kok kenyataannya berbanding terbalik ya? Trus, jembatan dan bangunan itu buat siapa? Apa hanya jadi arsip Negara trus bisa dibeli konsepnya sama pihak lain dan dipatenkan trus yang membuat dapat royalty seumur hidup? Kapan Indonesia bisa maju?
Ah, sepertinya bayangan saya terlalu jauh. Tapi, kalo misal SDM yang tidak memadai sering menjadi dalih ketergantungan Negara kepada asing apa itu gak terlalu naïf? Ini kompetisi nasional, otomatis lulus ujian. Trus, kenapa gak bisa dimanfaatkan sama sekali? APBN kurang? SDA lho banyak. Trus, mau ngeles model apalagi? #tepokjidat gue sama yang kayak begini.
Gak bisa dipungkiri sebenarnya kalo kebobrokan negeri ini gak hanya sekedar siapa pemimpinnya. Karena di negeri ini gak hanya ada orang tetapi juga ada sistem yang diberlakukan atas kesepakatan orang-orang tersebut.

Hari ini kita bisa melihat betapa pragmatisnya kaum intelektual. Calon ilmuwan dan generasi masa depan. Hari ini mahasiswa mengikuti berbagai lomba semata membanggakan diri dan keluarganya. Nyaris tanpa dedikasi untuk bangsa dan negaranya. Boro-boro untuk agamanya, untuk bangsa dan Negara aja gak ada. Bahkan bangga ketika desainnya dipergunakan di luar negeri yang justru semakin membuat negaranya dipecundangi oleh Negara lain. Semua itu gak lepas dari sistem pendidikan berikut sistem yang mendukungnya yakni sistem politik dan ekonomi, dua suprasistem besar dalam sebuah Negara. Tidak bisa dipungkiri, sistem ekonomi Negara ini semakin Kapitalis dan semakin liberal. Ukuran kesejahteraan hanya diukur berdasarkan pertumbuhan ekonomi yang hitungannya pun sangat tidak imbang. Akhirnya semua pihak dituntut untuk menjadi aktor dalam menyukseskan pertumbuhan ekonomi demi tercapainya kesejahteraan. 

Lantas, kesejahteraan seperti apa yang dimaksud jika orang kaya pun masih bingung tentang penghasilannya bagaimana ia bisa bertahan hidup dan menyekolahkan anak cucunya? Gak logis.
Setali 3 uang dengan sistem politiknya. Kepentingan oriented jelas sekali ada di sana. Semua kebijakan mengharuskan agar seluruh warga Negara menjadi mesin pencetak uang bagi Negara tetapi justru yang menikmatinya adalah pihak lain di luar Negara. Menindas rakyat atas nama rakyat. Sungguh keterlaluan.
Bukannya saya tidak setuju dengan kompetisi jembatan, dsb. Silahkan diadakan tetapi harus didukung dengan sistem lain yang sekiranya bisa memajukan negeri ini. Bayangin aja, dari jaman saya SMP, Indonesia masih dalam tahap Negara berkembang. Kapan majunya? Kalo gak berkembang-berkembang itu namanya Negara stagnan.

Udah bukan saatnya lagi kita berdebat tentang siapa yang salah. Apakah individu atau sistemnya. Sudah jelas sebenarnya. Sekarang yang harus kita pertanyakan adalah bagaimana solusi tuntas agar masalah ini tidak sekedar tambal sulam seperti minum obat penenang? Ibarat pohon kalo akarnya sudah rusak, bukan Cuma batang sama daunnya yang dipangkas tapi ya diganti dengan pohon baru. So, kalo sistemnya udah salah berarti diganti sistemnya bukan hanya individu yang menjadi pelaksana sistem. Dan yang pasti sistem itu bukan dari kecerdasan akal manusia. Karena sepintar-pintarnya manusia dia tidak akan mampu mengetahu mana yang terbaik untuk dirinya.

Kalo ditanya jawabannya, pastilah sistem itu berasal dari Rabb Semesta Alam, Allah azza wa jalla. Ya. Islam. Hanya dengan Islam. So, yang harus dilakukan sekarang adalah kampanyekan Islam sebagai sistem kehidupan, tidak hanya agama spiritual tetapi juga sebuah aturan lengkap terkait individu dan Negara.
Back to Islam, Back to Syariah dan Khilafah.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.


Menjelang Dhuhur. November 27th 2013.


Tentang Kiamat

Judulnya mungkin serem. Ngomongin kiamat pasti ngomongin soal akhir dunia, ancur, trus smua dibangkitkan, dikumpulin di Padang Masyhar trus dihisab dan akhirnya berakhir indah *eh gak mesti juga sih. Karena akhir kan ada dua. Happy ever after di Jannah atau menderita ever after di Neraka. Tapi, satu hal yang pasti, kiamat bakalan terjadi. Karena semua yang diciptakan pasti punya time limit. Itu mutlak. Begitu pun dengan dunia ini. So, jangan harap bisa happy ever after di dunia. Kagak bakal.
Ngomong-ngomong soal kiamat, kemarin saya nonton acara di salah satu stasiun tv *ya iyalah masa stasiun kereta* yang isinya membahas tentang dahsyatnya hari kiamat. Saya jadi teringat dua hari yang lalu ketika saya berdiskusi dengan seseorang yang merupakan pengurus sebuah lembaga riset di salah satu fakultas di kampus saya. Sebenarnya bukan dengan si Mbaknya sih, tapi temannya. Padahal, saya gak ngajakin temannya diskusi soalnya temannya itu laki-laki. Saya diskusinya Cuma sama perempuan. Awalnya saya agak bingung juga soalnya dia tiba-tiba nyela. Tapi, karena dia ngotot ya udah saya jelaskan seadanya.
Pembahasaannya panjang. Bermula dari penyadapan yang membuat negeri kita dipecundangi oleh negeri sebelah yang nota benenya mereka emang benci sama Islam. Akhirnya pas bagian akhir membahas solusi dan sampailah pada pembahasan tentang Khilafah. Kemudian dia bertanya tentang, mana yang penting, Negara Islam atau Negara yang berasaskan Islam? Ya saya jawab aja, kalo negaranya berasaskan Islam, berarti Negara Islam kan? Trus dia bilang lagi, lho beda Mbak. Kalo negaranya berasaskan Islam gak perlu nyebutin itu Negara Islam. Lha, saya yang bingung. Katanya Negara berasaskan Islam tapi disebut Negara Islam gak mau. Trus, mau disebut Negara apa? Saya sih bisa nangkap maksudnya. Maksudnya adalah gak perlu deh Negara Islam yang penting substansi Islam ada di sana. Mana bisa? Mau bilang kalo menerapkan nilai-nilai Islam dalam Negara Demokrasi itu bisa dengan mudah? Mana buktinya? Gimana bisa berasaskan Islam kalo negaranya aja gak beriman terhadap Islam? Ah, ngaco dah aktivis jaman sekarang. Saya terkaget-kaget karena dia Muslim. Tapi ketika ditanyakan tentang kesepakatannya dengan Khilafah (sistem pemerintahan Islam) malah ogah duluan dengan alas an plural bla bla bla. Oke, akhirnya saya jelaskan bagaimana Islam mengatur terkait kehidupan warga Negara. Bagaimana Islam memosisikan non Muslim dalam Daulah, dsb. Kemudian dia dan temannya, si Mbak yang saya ajak diskusi itu sepakat untuk tidak setuju *apaan* Sampai akhirnya saya jelaskan bahwa Khilafah yang saya maksud bukan hanya untuk Indonesia saja karena definisi Khilafah adalah satu kepemimpinan umum untuk seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia. So, gak Cuma Indonesia aja. Trus, spontan si cowok itu nyeletuk, lho, kalo gitu bentar lagi kiamat dong? Saya sebenarnya ingin tertawa. Trus, kalo kiamat emang kenapa? Saya ingin sekali bilang begitu. Tapi, saya bilang. Soal kiamat, wallahu ‘alam, Mas. Itu hanya Allah Yang Tahu. Rasulullah SAW pun gak tau kapan pastinya. Trus dia jawab, kan salah satu tandanya turunnya Imam Mahdi yang akan memimpin dunia dengan Khilafah. Saya jawab lagi, ya kalo emang itu tandanya bisa jadi, Mas. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Khilafah akan kembali tegak. Dan tidak menutup kemungkinan setelah itu kiamat. Kan Rasulullah emang Nabi akhir zaman. Lagian, sekarang udah banyak kok tanda-tanda kiamat, bla bla bla. Diskusi yang berakhir dengan “aneh” itu menyisakan pertanyaan di benak saya. Sebegitu seramnyakah hari kiamat? Hmm, itu pasti. Atau mungkin ada kemungkinan kedua. Orang-orang sudah terjangkit penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Seolah ketika dunia ini berakhir maka tidak ada lagi hal yang indah yang akan terjadi selanjutnya. Padahal, sebenarnya akhir itu adalah jalan menuju sebuah awal yang baru dan bisa jadi itu akan lebih indah. Maka, janji siapa yang akan lebih kita percayai daripada janji Sang Pemilik jagad raya, Allah SWT? Kenapa harus takut akan kiamat? Padahal, kita juga akan menemuinya. Kiamat kecil bagi kita adalah datangnya ajal yang tidak diketahui. Dan itu kiamat terdekat yang akan kita jumpai. Daripada kiamat yang lebih besar mending mati. Tapi, pertanyaan berikutnya, bekal apa yang udah disiapkan untuk hari kemudian?
Dikejar deadline. November 27th 2013.


Tuesday, November 26, 2013

(Just) A Feeling part 2


Terkadang, seorang pengemban dakwah ideologis dihadapkan pada situasi dimana ia harus melawan segara perasaan negatif dalam dirinya. Rasa takut akan ditolak sehingga ragu menyampaikan, rasa bingung untuk memulai menyampaikan sehingga ragu untuk memulai ataupun patah hati karena masalah lain. Atau mungkin terkadang, seorang pengemban dakwah merasa kurang siraman nafsiyah sehingga cenderung menyibukkan diri dengan amalan fardhiyah tetapi mengabaikan edukasi kepada umat.

Salah satu musyrifah saya pernah menyampaikan bahwa siraman nafsiyah seorang pengemban dakwah ideologis adalah ketika ia menyampaikan mabda yang ia emban kepada umat. Karena ketika ia menyampaikan Islam yang ia yakini secara tidak langsung ia pun mengingatkan dirinya sendiri sehingga ia pun selalu merasa dekat dengan Allah. Sehingga tak ada rasa malas, galau atau rasa-rasa yang lain dalam berdakwah. Yang ada hanyalah rasa bahagia sekalipun itu melelahkan, menyedihkan bahkan mungkin menyakitkan.

Maka benarlah kata syaikh Taqiyuddin An Nabhani Rahimahullah, jangan minta amanah yang ringan tetapi mintalah punggung yang kuat untuk memikul amanah yang berat.

Thanks for my ustadzah.
Terus bergerak. November 25th 2013.

(Just) A Feeling

Setiap orang pasti pernah merasakan kecewa. Bagaimanapun bentuknya. Karena memang itu naluriah. Manusiawi. Ngomong-ngomong soal kecewa, barusan saya mendapat kiriman postingan dari salah seorang sahabat ah teman. Entahlah aku masih tidak mengerti apa bedanya sahabat sama teman. Pokoknya itulah. Ini kutipan postingannya.

Sebagai seorang manusia, sometimes perasaan kecewa, sedih, marah itupun sempat mampir ke dalam diri.Kekecewaan yang lahir karena terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan yang benar2 terjadi. Atau ketika kita berharap terlalu tinggi kepada orang lain untuk menjadi seperti yang kita inginkan namun ternyata justru jauh panggang dari api.Kesedihan yang muncul akibat rasa kecewa, yang ketika itu terjadi sekali, dua kali, tiga kali, hingga beberapa kali pada akhirnya mengundang rasa amarah untuk muncul.Hembusan nafas panjang akhirnya yang dilakukan bagi mereka yang tak sanggup untuk melampiaskan amarahnya atau ditambah dengan istighfar bagi mereka yang lebih memilih untuk diam dan menghindari konflik. “Mengalah, mungkin itu jauh lebih baik.” Begitu mungkin pikirnya.

Namun, tak sedikit pula yang akhirnya karena kecewa, sedih, dan marah ini justru menjadikannya lebih skeptis terhadap permasalahannya tersebut, terhadap kata2 yang berkaitan dengannya, atau bahkan sampai kepada generalisasi semua orang yang akhirnya menyebabkan putus asa yang mendalam dalam dirinya.

Sometimes, sebagai manusia kitapun pernah merasakan itu semua, yang membedakan di antara kita mungkin tentang bagaimana kta menyikapinya, seberapa lama rasa itu kita biarkan hinggap dalam diri, dan bagaimana kita menghalau jikalau sewaktu-waktu ia kembali mengetuk pintu hati kita atau bahkan masuk tanpa izin.

Mungkin, buat teman-teman ada yang pernah mrasakan demikian, bisa berbagi cara dan solusi, ? 
Tapi buat saya pribadi, ada satu hal yang senantiasa coba saya ingat.

—Bahwasanya Allah tidak menghakimi kita atas apa yang orang lain lakukan kepada kita, Tapi Allah menghakimi kita atas apa yang kita lakukan terhadap orang lain

Mari menebar manfaat, mari menebar kebaikan. 
Mari mencari teman. 
Mari merajut persahabatan. 
Mengupayakan semaksimal yang bisa kita upayakan. 
Semoga menjadi pemberat di hari akhirat. 

Allah knows best.— 
Allahu a’lam 


Terima kasih Maryam. Setidaknya itu bisa sedikit menghibur. Mudah-mudahan gak pusing lagi haha :D


Move On. November 26th 2013.


Tuesday, November 19, 2013

Untukmu di Bumi Anoa

Aku tidak tahu judul apa yang harus kububuhkan untuk membalas catatanmu. Haruskah aku mengatakan bahwa kau terlalu naif karena melihat sebuah kemiripan sebagai hal yang romantis? Hah, warawasenjaneyo (Jangan membuatku tertawa :p)

I'm used to be like you. Spending my night with all the thing that I have to finish soon. But I know, it doesn't good for health. Kau tahu, sejak beberapa waktu yang lalu aku berusaha untuk belajar "tidur telat, bangun cepat" dan hasilnya selalu sama. GAGAL. Sampai rasanya mau putus asa karena memang tidak biasa. Dan tidak survive untuk membiasakan :D

Kukira kau akan mengucapkannya dalam bahasa Korea. Kau tahu, itu membuatku shock. Tiba-tiba saja menjadi orang paling dirindukan. Padahal, dulunya aku adalah orang paling menyebalkan sejagad raya *eh

Kau terlalu berlebihan. Jangan overestimate. Teman-temanmu ini juga manusia biasa yang takkan luput dari dosa. So, don't expect too much, especially from me. Or you have to be ready to broken heart :p
Watashi mo ningen da.I'm just a human being. Demo, itsumo soba ni iru kara, zenbu daijoubu. Evef if I can't be perfect, as long as you all are with me, it's fine *eaaaa
Satu lagi, gue bukan lilin. I'm firefly :D Kalo lilin dia menerangi tapi membakar dirinya sendiri. Kalo kunang-kunang, dia menerangi dengan cahayanya yang berkelap kelip tetapi tidak membahayakan dirinya. Dan kau harus tau, kunang-kunang jika bersinar sendiri tidak cantik tetapi jika beramai-ramai, subhanallah indah sekali. Itulah kami semua, orang-orang yang kau anggap sahabatmu :)

Sepertinya kau belum tau. JLPT di Jepang levelnya terbalik. Level paling mudah level 5 dan paling sulit level 1. Desember aku akan ujian level 3. Dan sekarang aku belajar level 2. Taihen da. Demo, arigatou :)

Hellow, aku tidak sepecundang itu. Lebih tepatnya karena aku memang tidak berani. Aku di mutasi bukan karena aku menyerah pada mereka. Itu karena memang aku harus mengerjakan tugas yang lain. Dan itu tidak kalah beratnya. Sempat shock juga sih, karena gak percaya. Demo, ima daijoubu :)

Mungkin aku belum pernah mengatakan ini padamu. Tapi kurasa kau akan mengerti sendiri ketika kau membina darisah nantinya :) Jadi, aku takkan memberitahukan padamu sekarang.

Kau termasuk yang seperti itu. Tetapi, aku jarang menemukannya. Aku tidak bisa mengatakan seperti yang kukatakan padamu kepada yang lainnya. Kau orang pertama yang "kusemprot" dengan ocehanku.

Berhasil apanya? Kau berhasil membuatku bingung. Awas kau :D

Teruslah melangkah. Jangan berhenti. Selesaikan apa yang sudah kau mulai. Kau bisa melakukan lebih dari apa yang kau pikirkan. Meski saat ini kita berjauhan, doa kita akan sampai kepadaNya :)

PS. Maaf tidak diterima :p
But thanks cause you make my fingers back to dance again *sudah 3 hari gak nulis. Rasanya kaku mau nulis apa. You came in the right time :D Jazakillah khair, Aoi chan


At my favorite place. November 19th 2013.


Friday, November 15, 2013

Amar Makruf Nahi Munkar (Edisi Menampar Diri Sendiri)

Allah SWT berfirman : 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk". (An Nahl :125)
Allah SWT berfirman :
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah". (Ali Imran : 110)
Ayat sebelumnya Allah juga berfirman :
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung". (Ali Imran : 104)
Masih banyak ayat lain yang menyebutkan tentang amar makruf nahi munkar. Di dalam Al Qur’an Allah sering mengulang hal tersebut. Dalam kehidupan sehari-sehari pastinya kita sering mendapati orang satu dan yang lain saling menasehati, saling memuhasabahi dan saling mengingatkan. Ini pun merupakan bagian dari amar makruf nahimunkar. Namun, terkadang tidak semua orang bisa langsung menerima. Mungkin amar makruf iya, tapi tidak dengan nahi munkar. Kenapa? Entahlah. Bisa jadi karena manusia memiliki naluri mempertahankan diri sehingga mereka cenderung bersikap defense ketika “di-nahi munkar-i” *bahasanya ribet banget
Tidak hanya pada umat. Terkadang di dalam diri pengemban dakwah pun masih ada sikap seperti ini. Manusia seringkali tidak menyukai jika kesalahannya ditampakkan apalagi di depan orang banyak. Tetapi seharusnya itu bukan menjadi legitimasi baginya untuk tidak dimuhasabahi. Begitu pun dengan pengemban dakwah. Karena pengemban dakwah juga manusia, bisa salah dan lupa. Jika semua orang berkewajiban beramar makruf, maka begitupun dengan nahi munkar. Pengemban dakwah sekalipun berhak mendapatkan muhasabah. Bukan untuk menjatuhkan tetapi untuk memperbaiki. Bukan untuk menyakiti tetapi untuk menasehati.
Tapi tetap perlu diperhatikan bahwa amar makruf tidak sekedar amar makruf, begitupun nahi munkar. Semuanya tetap berpegang kepada apa yang sudah digariskan oleh Allah ta’ala dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Tipe orang ketika amar makruf nahi munkar beda-beda emang. Masing-masing punya style- nya sendiri-sendiri. Ada orang yang frontal tapi ada juga orang yang muter-muter dulu *angkot kali 
Tujuannya sama tapi dengan penyampaian yang berbeda-beda. Namun, ketika amar makruf nahi munkar, perlu diperhatikan juga sasarannya. Karena tidak semua orang bisa langsung menerima jika disampaikan secara frontal dan tidak semua orang juga bisa mengerti kalo dibuat muter-muter dulu. Tapi, tetap. Perasaan semata tidak bisa dijadikan legitimasi untuk membenarkan sesuatu. Kita seorang Muslim maka kita terikat dengan syariat Allah.
Saya adalah tipe orang yang muter-muter dulu apalagi untuk urusan muhasabah. Saya pun ketika dimuhasabahi masih ada perasaan defense, kadang. Saya kemudian berusaha menanamkan dalam diri bahwa semua itu merupakan masukan dan tidak mungkin ada 
saudara yang tega menyakiti saudaranya. Kalo dimuhasabahi kan berarti masih ada yang peduli. Kalo masih ada yang peduli berarti masih ada yang sayang :)
Tapi, karena sudah jadi kebiasaan akhirnya kadang salah tempat. Makanya, saya salut dengan mereka yang frontal. To the point. Mereka tidak pernah berpikir panjang ketika melihat ada sesuatu yang memang harus diperbaiki. Cuma terkadang, frontalnya itu diikuti dengan sedikit 
percikan emosi. Mungkin saking bersemangatnya karena realita umat hari ini memang sangat bebal akibat sistem yang semakin kuat mencengkram.
Istimewanya pengemban dakwah adalah mereka harus bisa memosisikan segala sesuatu agar tetap proporsional. Jika harus frontal, mereka akan frontal. Jika memang butuh pendekatan 
tertentu lebih dulu pun akan mereka lakukan tapi tetap dengan sebuah penyampaian yang jujur dan berlandaskan pada kebenaran. Semua dilakukan karena kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Bukan sekedar semangat mengingatkan apalagi karena pengen eksis *naudzubillah
Maka dari itu, seorang pengemban dakwah akan senantiasa berproses menuju kesempurnaan meskipun kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. Dan untuk senantiasa menjaga 
kemurnian proses butuh yang namanya amar makruf nahi munkar agar selalu ingat mana jalan yang lurus mana jalan yang bengkok.
Maka bersyukurlah berada dalam jamaah dakwah. Karena kita akan senantiasa terjaga. Meski kadang harus ada sakit terlebih dahulu, namun setelah itu akan sembuh dan memberi kekuatan baru.
Jazakumullah khairan katsir untuk semua teman-teman yang masih mau menasehati, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Semoga kelak kita dikumpulkan kembali di JannahNya, aamiin…

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

On process. November 15th 2013.


Thursday, November 14, 2013

Coretan 06.28

Kau harus tahu, bahwa aku mem-posting tulisan ini menunggu pukul 06.28 seperti saat kau menulisnya. Tapi, karena perbedaan waktu sejam di tempatmu pasti sudah pukul 07.28. Tapi, tak apa. Aku hanya ingin membalasnya.
Hatiku seperti milkshake saat membaca tulisanmu yang judulnya Coretan 05.28. A little shock. 
Mau ketawa, mau nangis, mau teriak, mau gigit kamu *haha, yang terakhir just kidding
Karena itu hatiku tergerak untuk menulis Coretan 06.28 ini. Tapi, awas saja. Kau harus membayarnya karena kau tidak segera menghubungiku ketika kau sebenarnya sangat ingin melakukannya.
Alhamdulillah jika kau menyukainya. Aku membuatnya sudah lama. Terinspirasi dari kalian 
semua tentu saja. Kalian seperti peran pembantu dalam kisahku. Jika kalian tidak ada, kisahku takkan berwarna. Hampa. Gelap. Sunyi. Senyap *halaaah, apa-apaan ini
When you have a faith to do it, just do it.
Sastra Jepangku? Haha, bulan depan aku akan ujian JLPT level 3. Tapi, kau harus tahu bahwa aku sekarang masuk ke kelas JLPT level 2. Bisa kau bayangkan, taihen-nya aku di kelas itu. Bersaing dengan anak-anak yang sudah lebih dulu lulus level 3. Demo, daijoubu. Atashi wa subarashii dakara :D *menghiburdiri.com
Anak-anakku? Hmm, sekarang aku berpisah dengan mereka. Entah sampai kapan. Aoi, 
minggu lalu aku di mutasi. Makanya, hubungi aku dong. Jangan lewat tulisan. Ntar yang lain pada tau. Satu lagi, aku bukan AJM. Aku hanya kordinator tim di fakultas untuk membina teman-teman yang lain agar saling bersinergi :) Oya, jangan terlalu muji deh. Aku bukan orang yang suka dipuji. Ntar aku jadi kayak balon 
udara terbang nyasar ke Amazon *eh
Ya, itu pertanyaan yang menggelayut dalam kepalaku. Tiba-tiba sekali. Biasanya kau langsung SMS. Kenapa? Kau malu mengakuinya? Aku memang orang yang paling dirindukan sejagad facebook *eh jadi kau tak perlu malu jika memang kau merindukanku. Lagipula, rindu karena Allah kan bukan aib. Toh kita tidak bermaksiat kan? :)
Hatiku seperti milkshake membaca kalimatmu. Aku tak sabar menunggu. Berkali-kali aku meyakinkan diriku untuk tidak terlalu terbawa perasaan dalam memutuskan. Kembali atau tinggal. Terima kasih karena kalian membuatku merasa sangat bersyukur terlahir di dunia ini. Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang besar ini *eaaa
Sudah kuduga. Hal yang paling membuatmu frustasi adalah tentang itu. Sepertinya 7 hari 7 malam tidak akan mampu meng-cover apa yang ingin kukatakan padamu tentang itu. Tapi, aku hanya ingin memberitahu sesuatu yang juga kudapat dari musyrifahku.Tidak ada sesuatu yang berhasil tanpa komitmen. Sebuah komitmen lahir dari keyakinan yang 100% dan dari sana pula lahir sebuah visi. Kalau kau masih terbebani dengan semua itu, aku yakin kau takkan pernah maju. Melangkah saja mungkin penuh rasa berat apalagi berlari. Ini tentang dirimu. Bukan musyrifahmu atau siapapun itu. Lantas, kenapa harus frustasi? Jika dengan dirimu saja kau frustasi bagaimana mungkin kau bisa menyelamatkan umat? Kita itu melakukan semua ini karena cinta. Bukan karena yang lain.
Ah, kalimat terakhir itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku juga merindukan kalian. Dalam tangis yang hanya bisa didengar oleh kesunyian saat tengah malam berjuang bersama rasa sakit. Maaf, karena aku tidak selalu bisa mengungkapkan perasaan seperti orang lain. Terlalu panjang untuk kujelaskan. Tapi, seperti inilah keadaannya.
Hei, Aoi. Tulisanmu ambigu tau. Awas ya kalo ada yang mikir macam-macam.


Ps : Perpisahan ada untuk menghargai pertemuan. Maka rindu hadir di sana. Jika rindu itu datang, sisipkanlah ia dalam doa-doamu. Percayalah, malaikat akan menyampaikannya kepada Allah.

Untuk Kunci Surga. November 14th 2013




Wednesday, November 13, 2013

Gara-Gara Dream Book

Ini tentang mata kuliah yang menurut saya paling Kapitalis yang pernah saya dapatkan. Kewirausahaan. Ya, dari namanya aja udah ketauan kalo itu mata kuliah yang akan mengajarkan bagaimana berwirausaha. Memang, kedengarannya bagus dan mata kuliahnya juga menarik *menurut gue ada saat dia akan begitu membosankan
Di awal kuliah, dosen ngasih tugas buat UTS untuk membuat Dream Book. Katanya, banyak cita-cita atau mimpi yang menjadi kenyataan dengan menuliskannya. Maka, tuliskan mimpimu. Ya, apalagi kalo bukan mimpi menaklukkan dunia. Karena saya tidak terlalu berambisi dengan kesenangan dunia *kecuali dengan Islam maka saya tidak terlalu bersemangat membuat Dream Book. Semua teman-teman mempersiapkan yang terbaik demi Dream Book agar nilai mereka bagus, tentu saja. Saya Cuma mikir, ah, coba mereka juga nyiapin pertemuan dengan Allah seperti mereka nyiapin Dream Book. Apa surga itu terlalu absurd untuk dijadikan tujuan jangka panjang? Sekulernyaaa -____-
Oke, balik lagi soal Dream Book. Ini tragedi memang. Karena kelalaian saya juga akhirnya pas UTS harus muter-muter Cuma buat nyari tempat jilid tuh buku. Sampai sekarang kalo lihat isinya jadi pengen ketawa. Gak nyangka bisa nulisin mimpi-mimpi yang segitu banyaknya bahkan masih ada yang kurang. Semoga aja bener *ya kalo diusahakan suatu saat bakalan terwujud.
Pelajarannya adalah jangan takut untuk bermimpi. Karena dari situ akan lahir komitmen untuk mewujudkannya. Tidak peduli seberapa lama harus menunggu agar menjadi kenyataan. Cuma butuh waktu untuk melihat mimpi itu jadi kenyataan. Dan butuh keyakinan untuk tetap bersabar membuatnya menjadi nyata.
Hari ini banyak sekali yang mengatakan Khilafah itu hanya mimpi di siang bolong. Utopis. Memperjuangkan Khilafah ekstra parlemen itu lama. Kapan berhasilnya? Dari dulu sampai sekarang gak ada hasilnya. Banyak suara sumbang yang akhirnya mengendurkan keyakinan para pejuang kebenaran. Dan mulailah mereka bertanya tentang mimpi dan cita-cita mereka. Mulailah mereka meragukan janji dari Sang Pemilik Jiwa setiap manusia.
Kawan, ingatlah. Kita tidak sendiri. Cita-cita kita bukan sekedar menaklukkan dunia ini kemudian hidup bahagia selamanya di sini. Dunia ini hanya sementara. Kita bukan orang-orang Sekuler di luar sana yang hanya percaya pada kekuatan mereka sendiri. Kita punya Allah. Maka jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya. Dan ingatlah bahwa janji Allah itu pasti dan bisyarah Rasulullah SAW itu bukti. So, jangan ragu. Khilafah akan tegak di hari yang telah Allah janjikan. Maka pantaskan diri untuk menjadi pejuangnya. Karena pertolongan itu hanya akan diberikan kepada mereka yang teguh menggenggam keyakinan mereka.
Wallahu ‘alam

Change my life. November 13th 2013.

Tuesday, November 12, 2013

Mama to Watashi no Tanjoubi

Akhir bulan lalu saat sedang berjalan ke kampus, di dekat gerbang ada beberapa muda-muda yang lagi rusuh. Kirain ada tawuran. Soalnya ada satu cowok diikat di plang dengan muka memelas seolah pengen bilang, "tega lu semua sama temen lu"
Dan saya baru sadar kalo cowok itu sebenarnya lagi jadi korban bully teman-temannya karena dia lagi ulang tahun. Seketika saya membatin, "Masya Allah, teman ulang tahun bukannya didoain moga usianya barokah, malah dikerjain. Ternyata sekarang masih jaman ngerjain orang yang lagi ulang tahun. Padahal, sedikit hari lagi entah kapan dia bakalan kembali ke Penciptanya". Ada-ada aja anak muda jaman sekarang *lagak sok tua

***

Saya kemudian mengingat kejadian dua bulan yang lalu. Saya sempat terkejut dengan kata-kata dari Mama. Kalimat yang tidak biasa bikin saya agak shock.
Minggu terakhir bulan September. Setelah sekian lama *halah
Handphone saya bergetar. Saya lupa settingnya waktu itu lagi dimana. Yang jelas saya lagi di kampus. Entah ngapain.

"Ta, maafin Mama ya. Mama lupa kalo Tata 2 minggu lalu ulang tahun. Mama sibuk ngurusin banyak hal jadi lupa kalo anak Mama ulang tahun. Maaf ya, Ta.."
Jederr. Berasa disambar petir di siang bolong. Dalam hati saya cuma bergumam. Ya ampun Mama, udah dibilangin gak usah pusing-pusing masalah ulang tahun. Toh saya juga bukan orang yang suka dikasih ucapan selamat apalagi sejuta surprised pem-bully-an ala orang yang lagi ulang tahun. Dan kata maaf itu terucap dari Mama, orang yang melahirkan dan membesarkan saya sampai umur segini. Pengen nangis tapi pengen ketawa juga. Masa cuma gara-gara lupa hari ulang tahun aja sampai minta maaf? Harusnya saya yang minta maaf, sering bandel dan kadang gak mau ngalah untuk urusan tertentu.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menulis tentang ulang tahun. Dan sebagai seorang Muslim, saya tidak merayakannya karena Rasulullah SAW pun tidak pernah merayakan. Ulang tahun hanya dirayakan oleh orang kafir saja dan kata Rasulullah, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut. Ya, itulah alasan terkuat saya kenapa saya tidak terlalu peduli dengan ucapan "Selamat Ulang Tahun" de es be..

Bagi saya, hari kelahiran adalah momen untuk muhasabah dan membuat resolusi baru. Yah, memperbaiki apa yang masih kurang. Sambil mengingat bahwa waktu sudah berlalu dan mungkin sudah banyak yang tersia. Tapi, sepertinya beda dengan Mama. Hari kelahiran saya tentu hari yang penting untuk Mama. Di hari itu beliau berjuang sekuat tenaga melahirkan saya ke dunia, apalagi waktu itu emang saya lumayan susah keluarnya. Udah gitu, pas lahir gak bernafas. Komplit sudah. Mama udah nyaris putus asa. Ditungguin 9 bulan, udah dikasih nama dengan nama cowok pula padahal yang lahir perempuan *manis *eh gula kali *lupakan Ternyata lahirnya gak bernafas. Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesempatan. Dan sampailah pada hari dimana saya menginjak usia yang tidak bisa dibilang anak-anak ataupun remaja lagi. Makanya, Mama ngerasa bersalah karena lupa sama hari lahir saya bukan karena apa-apa karena itu juga hari yang bersejarah buat beliau. Akhirnya, selaksa doa tercurah untuk saya di hari itu, saat hari lahir saya sudah lewat lebih dari dua minggu. Termasuk soal, ehm j***h *nasib dah yang jadi jomblo
Habis ini harus bilang ke Mama terkait ulang tahun. Mungkin beliau lupa karena saya sudah pernah menjelaskan sebelumnya.

Thanks so much for delivering me to this world. Sorry for everything I've made. Mungkin kadang Mama sering cerewet terkait dakwahku, pemahamanku dan sesuatu yang menurut Mama terlalu utopis. Aku hanya ingin menyelamatkan Mama dan keluarga kita dari api neraka karena jeratan sistem kufur ini. Tapi, aku percaya Mama selalu sayang sama aku dan gak pernah berubah sampai kapanpun. And so do I, Mom. Love you in Allah as always.

Mom, I'm grown up now
It's a brand new day
I'd like to put a smile
on your face everyday

Mom, I'm grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile
on your face everyday

You know you are the number 1 for me
Oh, Number 1 for me

Brand new day. November 12th 2013