Monday, January 27, 2014

Terhapusnya Barokah Sang Waktu

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raaf [7] : 96)

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." (QS. Thahaa [20] : 124-126)
===========================================================================
Pas baca ayat di atas, saya shock. Ya, itu bukan sekedar ayat ngancem. Tapi, itu peringatan. Peringatan keras. Dari siapa? Bukan dari Presiden, tapi dari Yang Punya Nyawanya Presiden. Dari Allah SWT. Itu Cuma beberapa ayat dari banyak ayat sebagai peringatan dari Allah kepada makhluk “sok” bernama manusia.
Pas lagi nulis postingan ini, di sekitar saya masih heboh berita banjir yang melanda Jakarta, Kalimantan Selatan, Semarang sampai ke Sulawesi Utara. Ya, tepat setahun yang lalu banjir juga melanda Jakarta. Waktu itu sampai Bundaran HI kelelep. Beneran kelelep. Padahal, malamnya baru dipake buat pesta kembang api. Ckckckck -___-“ Setahun kemudian, banjir kembali berulang. Lucunya, para penguasa negeri ini kebanyakan bungkam. Tapi ada juga yang akhirnya berceloteh yang justru menampakkan kebodohannya. Lupa kali ya sama janjinya dulu sebelum jadi penguasa.
Hujan seringkali disebut sebagai berkah. Tapi, kalo ternyata berkah justru jadi bencana? Nah lho… Pertanyaannya sekarang, kalo udah terlanjur jadi bencana, gimana mengatasinya?
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat baca postingan seorang Profesor dari LIPI. Kebetulan beliau gak hanya mumpuni di bidang ilmu pengetahuan tetapi juga agama. Dan analisa beliau, subhanallah. Tapi, saya gak mungkin menjelaskan di sini. Selain karena panjang, saya juga sudah lupa. Takutnya salah nulis ntar kan dimintai pertanggungjawaban. Kan gak lucu kalo saya masuk neraka Cuma gara-gara salah nulis tentang solusi menghadapi banjir.
Intinya, banjir yang terjadi hari ini gak hanya soal teknis lagi, tapi udah sistemik bahkan sampai tataran ideologis. Wuih, serem amat. Emang serem. Gimana gak serem kalo banjir udah jadi agenda tahunan kayak agenda konser atau proker organisasi. Ya karena emang sistem yang diterapkan masih sama. Dan harus diingat, yang namanya sistem itu saling terkait seperti roda. Ada dua suprasistem dalam sebuah Negara. Kalo sistem ini rusak, bisa dipastikan seluruh sub sistem di bawahnya juga bakalan rusak. Dan udah terbukti, dua suprasistem hari ini, yakni sistem ekonomi Kapitalis dan sistem politik Demokrasi jadi Biang Kerok seluruh masalah yang terjadi. Biang Kerok? Iya, Biang Kerok. Saya gak menuduh tapi itu fakta. Fakta yang menyebabkan duit infrastruktur yang dipungut dari hasil keringat dan darah rakyat sedikit demi sedikit dicomot oleh mereka yang haus uang. Mereka menghisap darah rakyat lewat kampanye menjijikkan dan Pemilu. Kebijakan yang mereka buat hanya menguntungkan  korporasi. Begitu banyak orang pintar di negeri ini yang mereka buang ke luar negeri. Kayaknya negeri ini bukan negeri mereka. Mereka dengan santainya menjual negeri ini sejengkal demi sejengkal ke korporasi asing. Menjadikan rakyatnya kacung di negerinya sendiri. Kenapa? Karena mereka punya banyak uang untuk kabur sama keluarganya ke luar negeri. Sedangkan rakyat? Kalo udah gak punya tanah, mati aja. Gitu kali pikirannya.
Jadi, ayat yang saya kutip di atas sangat benar. Allah gak mungkin salah. Karena Allah Maha Benar. Dan hanya aturan yang bersumber dari Allah saja yang benar. Allah juga Maha Adil. Jangan harap bisa mendapatkan keadilan dari aturan yang dibuat oleh akal manusia. Keadilan itu hanya ada di sisi Allah. Kalo pengen keadilan, ya pake aturan Allah, bukan yang lain.
Well, masalah banjir dan bencana lainnya gak sekedar bencana. Tapi teguran dari Allah karena kita udah semakin jauh dari Allah. Bukan karena kita jarang sholat, jarang ngaji, shodaqoh atau yang lain. Tapi, karena kita enggan pake aturan Allah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum [30] : 41)

Saatnya Revolusi Islam!

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Khairunnisa, January 27th 2014.08:34 AM. Tiba-tiba dingin.

Sunday, January 26, 2014

Mengembalikan Aktivis pada Fitrahnya

Ngomongin mahasiswa itu emang gak ada matinya. Kenapa? Karena mahasiswa itu punya segudang potensi. Usia muda, idealisme yang menggebu, tenaga yang kuat dan sejuta mimpi yang ingin diwujudkan. Karena itulah mahasiswa sering mendapat julukan, Agent of Change, Agent of Social Control dan Iron Stock *bukan stok setrikaan lho ya* Setidaknya slogan-slogan itulah yang sering saya dapatkan saat menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiswa. Dan yang paling sering dijadikan contoh adalah bagaimana mahasiswa bisa meruntuhkan sebuah rezim yang sudah berkuasa selama puluhan tahun. Ya, siapa yang tidak tahu peristiwa beralihnya zaman orde baru ke zaman reformasi. Semua sepakat, peralihan rezim politik itu karena mahasiswa. Tapi… ternyata sekarang mahasiswa sedang mengalami zaman kegelapan. Gak hanya mahasiswa biasa, tapi juga aktivis yang notabenenya adalah orang-orang yang peduli terhadap persoalan di sekitarnya.
Mahasiswa abad 21 emang udah jauh lebih canggih daripada mahasiswa zaman Orde Baru dulu. Sekarang gadget udah ngetren dimana-mana. Akses informasi gak perlu repot-repot. Udah gak jaman SMS-an. Sekarang jamannya BBM, WA, LINE, WE CHAT, KAKAO TALK, de es be. Tapi, bukan itu yang pengen saya bahas. Meskipun ada hubungannya. Kalo ngeliat pola kehidupan mahasiswa sekarang, gak sedikit yang miris.
Tadi saya baca sebuah postingan yang menurut saya sangat jujur. Kenapa? Karena emang kenyataan yang saya lihat dan beberapa orang pun bisa melihat dan merasakannya. Saat ini mahasiswa sudah kehilangan hampir semua taringnya. Mahasiswa seolah disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang lebih banyak menunjang hanya dari sisi akademik saja. Ketika pun menjadi aktivis, semata untuk meng-upgrade posisi akademiknya. IPK 3,5 ke atas dan lulus sebelum 4 tahun adalah sebuah kebanggaan. Seolah masalah akan selesai dengan IPK tinggi. Kenapa? Karena setelah itu, ia akan direkrut sebuah perusahaan, terlebih kalo perusahaan asing. Tanpa sadar, ia tidak hanya menjual dirinya tetapi juga menjual masa depan bangsanya kepada orang asing yang hanya mementingkan perut mereka. Terlepas dari seberapa berprestasinya seorang mahasiswa di ajang-ajang lomba, seperti Pimnas, dsb. Tidak lebih untuk kebanggan pribadi. Tidak peduli lagi permasalahan masyarakat yang ada yang seharusnya mereka selesaikan dengan keilmuan mereka. Tidak hanya itu, mahasiswa digiring untuk menjadi suksesor ekonomi Negara. Padahal, mereka punya potensi yang lebih dari sekedar mesin pencetak uang bagi Negara.
Lalu, bagaimana dengan para aktivis? Kenyataannya tetap aja 11-12 sama mahasiswa biasa. Padahal, dulu aktivis mahasiswa adalah mereka yang kritis dan peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa ini. Mereka pula yang aktif tidak hanya kuliah tetapi juga mencari solusi permasalahan yang ada. Namun, saat ini aktivis pun tetap disibukkan dengan permasalahan akademik yang tidak ada habisnya. Seolah mahasiswa emang tersistem untuk dibungkam sejuta bahasa dengan persoalan akademik. Bayangin aja, sekretariat lembaga bukan lagi jadi tempat diskusi tapi jadi tempat ngerjain laporan berjamaah. Belum lagi kegiatan yang diadakan oleh lembaga hampir semua adalah kegiatan olahraga dan hiburan. Tidak heran, karena mahasiswa sudah lelah dengan tugas kuliah yang menumpuk. Boro-boro mikir masalah masyarakat dan bangsa, mikirin tugas sama laporan aja gak selesai-selesai. Belum lagi pergaulan yang semakin menjadi-jadi. Kalo gak ada tugas ya hangout, pacaran, hura-hura, clubbing, dsb. Kalo gak gitu, jadi orang super introvert yang gaulnya sama ipad, iphone, dan smartphone yang lain. BBM-an, LINE, WA, dsb. Atau kalo gak gitu jadi fans artis dan penyanyi luar negeri macam JB, Suju, SNSD, Big Bang, dsb.

Akar Masalah
Gak ada asap kalo gak ada api. Fenomena mahasiswa kayak sekarang emang gak ujuk-ujuk ada. Semua gak terlepas dari sistem yang diterapkan hari ini. Ada dua suprasistem besar dalam sebuah Negara, yakni sistem ekonomi dan sistem politik. Sistem ekonomi hari ini yang super Kapitalis, meniscayakan sedikitnya peran Negara dalam mengurusi urusan rakyatnya. Lihat aja kerjaan Negara tiap hari malah menjual aset Negara ke asing dengan berbagai macam alasan. Dan lucunya alasan bego itu di-aminkan oleh orang-orang yang ngakunya intelektual. Masya Allah… Akhirnya apa? Rakyat juga ikut dijual. Generasi muda akhirnya secara sepihak dijadikan mesin pencetak uang dengan menjadikan mereka tenaga kerja murah dan babu di negeri sendiri dengan tunduk di bawah kaki orang asing. Naif banget kan?
Saya gak pernah iri sama mereka yang IPKnya tinggi. Tapi senggaknya mikirlah. Masa kepintaran yang luar biasa tapi gak digunakan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Minimal kita gak jadi kacung di negeri sendiri. Ironis banget gak sih?
Balik lagi nih. Karena sistem ekonomi yang seperti itu, akhirnya pembiayaan pendidikan pun dibebankan kepada perguruan tinggi. Setelah sebelumnya ada persetujuan dengan GATT dan WTO untuk meliberalkan sektor jasa diantaranya pendidikan dan kesehatan. Jadilah sekarang pendidikan tinggi sangat mahal harganya. Ya, seperti menggapai bintang di langit. Ini juga yang akhirnya membuat mahasiswa semakin matre, pragmatis dan individualis. Mereka gak sempat mikir apa-apa saking mereka udah dijerat dengan biaya pendidikan yang super mahal. Dan ini setiap tahun pasti naik dengan segala macam alasan. Belum kalo ternyata uang banyak itu dikorupsi. Akhirnya makin apatislah mahasiswa.
Belum lagi sistem politik Democrazy yang bebas. Gak hanya bebas tapi juga mahal. Gimana korupsi gak tumbuh subur kayak panu di badan orang yang gak mandi seminggu? Biaya kampanye super mahal, belum lagi segala keperluan untuk Pemilu. Kebijakannya pun selalu pro kepada asing daripada Negara sendiri. Makanya gak usah heran kalo tiap palu diketok mesti ada aset yang Negara yang kejual. Atau harga bisa dipastikan melonjak naik. Dan lucunya seolah semua itu gak sengaja. Emang ngetok palu sambil mimpi gitu? Gak mungkin banget. Bukti kezhaliman itu udah nyata. Tapi kenapa masih banyak yang pura-pura buta dengan semua itu? Apa udah gak punya hati kali ya? Saya juga gak tau.


Islam Solusinya
Haha, kayaknya bakalan banyak yang bertanya-tanya. Ekstrim banget solusi saya. Kok ujuk-ujuk Islam? Jawaban saya simple. Karena Islam itu sempurna, kawan. Sempurnanya dimana? Hmm, kalo belum tau, saya kasih tau.
Islam adalah sebuah ideologi. Islam bukan sekedar agama yang mengatur ibadah spiritual, tetapi juga mengatur kehidupan sosial termasuk kehidupan bernegara. Islam memiliki suprasistem, yakni ekonomi dan politik. Maka bisa dipastikan Islam juga ngatur soal pendidikan, dll. Dan kalo ada yang tanya, berarti Negara Islam ada? Saya jawab, ada. Negara di dalam Islam namanya Khilafah. Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang diwariskan oleh Rasulullah SAW sebagai utusan terakhir yang Allah utus untuk seluruh umat manusia. Dan siapa aja yang ngaku Muslim pasti sering denger kalo Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Yup, itu bener. Karena Islam mengatur seluruh aspek kehidupan.
Di dalam Islam, pendidikan adalah tanggung jawab Negara. Karena pendidikan adalah salah satu kebutuhan dasar warga Negara. Kalo dalam konsep Negara Kapitalis, kebutuhan itu Cuma sandang, pangan dan papan, dalam Islam kebutuhan dasar itu selain sandang-pangan-papan, ada juga pendidikan, kesehatan dan keamanan. Makanya pendidikan jadi tanggungan Negara. Trus, pembiayaannya gimana? Maka dari itu, Islam punya sistem ekonomi yang akan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok warganya. Dan Negara (Khilafah) wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang wajib bekerja (laki-laki yang sudah baligh). Jadi, gak ada cerita seorang kepala keluarga gak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Gak ada cerita seorang istri juga harus banting tulang membantu suaminya sampai jadi TKW dan harus disiksa. Gak ada cerita anak-anak harus putus sekolah karena gak punya uang buat bayar. Dan gak ada cerita aktivis hanya sibuk dengan akademik dan dirinya sendiri.
Selain itu, sistem politik Islam juga yang akan melahirkan kebijakan yang pro rakyat dan kepentingan rakyat. Politik Islam juga yang akan mengeluarkan kebijakan pendidikan yang dijamin mampu dienyam oleh seluruh warga Negara. Muslim maupun Non Muslim, kaya maupun miskin dengan jaminan yang sama. Gak ada cerita yang bodoh dan miskin gak bisa kuliah.
Mau bukti? Lihat aja, ilmuwan-ilmuwan yang mencetuskan berbagai macam teori dalam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah seorang Muslim. Mulai dari Ibnu Sina, Abbas Ibn Firnas, Al Khawarizmi, Al Jabar, dll. Mereka semua hasil bentukan Khilafah. Bukan Negara Demokrasi-Kapitalis seperti sekarang.

Menerapkan Islam adalah Panggilan Keimanan
Saat ini Islam sedang dicampakkan dari kehidupan sosial. Sejak 3 Maret 1924, berakhirlah kepemimpinan Islam di dunia. Saat itu Khilafah Utsmaniyah diruntuhkan oleh seorang agen Inggris la’natullah alaih. Maka sudah seharusnya kaum Muslimin bersatu untuk mengembalikannya. Bagaimana caranya? Contohlah apa yang dilakukan Rasulullah dulu sebelum Islam tegak di Madinah. Rasulullah SAW berdakwah dan membentuk sebuah kelompok ideologis kemudian menegakkan Daulah Islam di Madinah. Maka kita pun selayaknya mencontoh beliau. Bukan demi kekuasaan, jabatan dan harta. Tetapi semata karena panggilan keimanan. Dan saat ini ada sebuah kelompok politik yang sedang berupaya keras mengembalikan institusi Islam (Khilafah) dan melanjutkan kehidupan Islam di bawah naungannya. Kelompok tersebut bernama Hizbut Tahrir atau Partai Pembebasan. Dan saat ini Hizbut Tahrir telah beraktivitas di seluruh dunia untuk melanjutkan kehidupan Islam, karena hanya dengan kembalinya kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, kehidupan ini akan terselamatkan. Tidak hanya mahasiswa yang kembali kepada fitrahnya, tetapi juga alam ini.

*Untuk tahu lebih jelas tentang Hizbut Tahrir khususnya Indonesia, klik www.hizbut-tahrir.or.id

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Khairunnisa, January 21st 2014. 09:12 PM.


The Unforgettable Dakwah Kampus (Edisi Dakwah Kampus Season 2)

Akhirnya libur semester kembali menyapa, yeah! Liburan emang paling ditunggu-tunggu. Gak hanya sama anak sekolah, tapi mahasiswi tingkat akhir kayak saya pun nunggu momen ini. Kenapa? Karena kampus saya adalah salah satu kampus dengan kurikulum terpadat se-Indonesia Raya. Bayangin aja, satu semester hitungannya hanya 4 bulan. Padahal kan dimana-mana satu semester itu 6 bulan. Ini mah namanya caturwulan -__- Tapi, begitulah kenyataannya pemirsah. Akibat sistem yang menjerat akhirnya semua kena getahnya.
Balik lagi ke momen liburan. Anak perantauan pasti suka banget sama liburan. Soalnya liburan adalah momen pulang ke rumah *kecuali saya yang jarang pulang udah kayak Bang Thoyyib. But, no problem, gak ada yang nanyain saya juga kenapa gak pulang kecuali 3 sahabat saya yang cerewet selalu nanya kapan pulang :D* Back to home, perbaikan gizi dan bertemu keluarga :D Tapi yang namanya pengemban dakwah tentu pulang ke rumah bukan sekedar pulang tapi ada hal lain yang harus dilakukan. Apalagi kalo bukan dakwah? :D
Saat menulis postingan ini saya masih berusaha membenahi kepala dan badan saya yang (sepertinya) agak sedikit error sehabis pulang dari acara Mabit (Malam Bina Iman dan Takwa) hari Ahad kemarin. Tangan saya juga keringetan terus, sampai keyboardnya basah dan harus bolak-balik dilap pake tisu. 
TK tempat Mabit
Kali ini kampus saya ngadain Mabit (lagi) setelah bulan Juli tahun lalu juga ngadain Mabit. Sebagai refreshing dan buat ngisi amunisi sebelum pulang ke rumah masing-masing untuk dakwah di keluarga saat liburan semester. Kalo Mabit tahun lalu saya jadi peserta, Mabit kali ini saya (akhirnya) berkesempatan jadi panitia. Dan Subhanallah saya langsung ditaruh di bagian paling keren. Yap, sie acara. Seumur hidup saya selalu bilang kalo saya gak kreatif. Sama sekali. Tapi disitulah tangan Allah bekerja dan saya (lagi) membuktikan betapa Allah sangat mencintai saya. Karena saya selalu ditaruh di bagian yang memerlukan kreativitas. Ya, selalu begitu. Seolah Allah ingin saya membenturkan diri saya dan membuat saya mengubah frame saya tentang diri saya bahwa saya sebenarnya bisa kreatif jika saya berusaha lebih keras lagi untuk mewujudkannya. Dan Alhamdulillah saya berhasil.
Ketika rapat sie. Acara, Mbak Lola selaku kordinator acara nanya, siapa yang mau jadi MC? Masa sih harus ditunjuk? Udah gede semua lho. Pokoknya jangan Dewi lagi (Dewi adalah MC di Mabit tahun lalu). Saya langsung bilang, ya udah Mbak. Aku aja yang jadi MC. Oke, akhirnya diputuskan saya yang jadi MC. Yah, bisa dibilang ini adalah pertama kalinya saya nge-MC. Pernah sih jadi MC tapi gak sering. Seringnya dipasang jadi pemateri tapi menurut saya MC lebih menantang karena MC pasti harus bisa menguasai acara dan menghidupkan suasana acara lebih dari pemateri.
Akhirnya saya pun menyiapkan apa yang perlu saya siapkan sebagai MC. Dan kena lagi harus ngonsep. Awalnya ngonsep bahan buat Muhasabah. Itu cepet. Dengerin lagu sedih, bayangin yang sedih-sedih, gak nyampe 2 jam jadi (udah sering soalnya hehe). Yang susah itu pas diminta ngonsep brainstorming. Bukan Cuma kata-kata, tapi sesuatu yang bikin peserta nantinya bisa include dan mereka bener-bener bisa konsen dengan keseluruhan acara. Dan lagi-lagi saya nyaris stuck. Di saat-saat seperti ini emang bener-bener kerasa kalo Allah ngajarin saya.
Bukit Panderman, horor pas hujan angin
Setelah dipersiapkan semuanya hari H pun tiba. Saya bener-bener ngerasain betapa susahnya jadi panitia. Dulu pas jadi peserta tinggal tau beres. Apalagi tempatnya luas. Kali ini tempatnya sederhana. Sangat sederhana. Belum lagi ada beberapa kendala di awal. Saya hanya bisa berdoa dan menguatkan keyakinan bahwa Allah pasti menolong. Alhamdulillah satu per satu kendala berhasil dilewati. Kecuali satu. Cuaca. Karena kami menyelenggarakan acara tepat di kaki gunung, hujan dan angin terus mengiringi acara kami bahkan sampai malam hari. Dan itu horror. Apalagi dengan kondisi tubuh saya yang tidak kuat menahan dingin, bener-bener seperti mimpi. Udah jaketnya Cuma satu, selimutnya tipis. Komplit sudah. Di awal saya harus bertahan karena gemeteran. Malamnya, gak berhenti bersin-bersin. Selain saya ada lagi panitia yang juga asthma, Mbak Dep (itu nama panggilan dari saya). Bahkan saking sederhananya tempat itu, panitia sampai harus tidur di luar dengan angin yang lumayan dahsyat. Subhanallah, namun karena kekuatan iman Alhamdulillah malam berhasil kami lewati. Para peserta pun tetap bisa di-handle meskipun ada yang gak bisa tidur karena tidurnya di lantai, banyak yang gelisah tidurnya, dsb. Tapi, seru. Karena semua dikerjakan bersama, dilewati bersama. Hari kedua adalah hari yang paling seru. Outbond. Disana seluruh peserta-yang notabenenya masih muda-muda- yang bikin saya juga berasa muda haha, akhirnya menunjukkan kemampuan mereka. Biasanya kalo di kampus, ketika harus interaksi, menyampaikan ide Islam ideologis, Syariah dan Khilafah mesti terkendala. Tetapi, dengan peralatan sederhana dari panitia Outbond, para peserta berhasil menunjukkan kemampuan mereka. Dan itu di luar bayangan saya. Alhamdulillah Mabitnya berjalan lancar sampai kami tiba dengan selamat di rubin masing-masing :D
Mabit kali ini adalah Mabit yang sangat berkesan bagi saya. Sangat beda dengan Mabit sebelumnya. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dan saya jadikan pegangan untuk menghadapi step selanjutnya. Yang paling tidak terlupakan adalah bahwasanya dakwah untuk mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah bukanlah sebuah pekerjaan ringan. Dan dakwah ini memang harusnya diemban oleh sebuah jamaah yang memiliki roadmap yang jelas. Memiliki fikrah yang jernih dan thariqah yang jelas. Memiliki individu yang super ikhlas serta berpegang teguh kepada fikrah dan thariqah yang sudah ditabanni sesuai dengan Hukum Syara’. Dengan upaya yang seperti ini ditambah dengan loyalitas kepada Allah dan RasulNya, yakni menempatkan seluruh keyakinan bahwa hanya Allah yang bisa menolong dan Allah telah berjanji akan memenangkan dakwah ini, in sya Allah tegaknya Khilafah tinggal menunggu waktu saja. Dengan upaya optimal dari seluruh bagian jamaah ini, dipastikan pertolongan Allah amat dekat. Dan kampus, dimana kita berpijak sekarang adalah ladang dakwah yang harus kita garap dan kita tumbuh-suburkan. Sebelum akhirnya kita keluar dari gerbang kampus dan memasuki gerbang masyarakat yang sesungguhnya.
Tidak lupa ada anak-anak kecil calon pejuang Khilafah di masa depan yang juga meramaikan edisi mabit kali ini. Irda, Faras, Hana, Hafiya, Harits, Hamam, Zaki, Fatih, Ammar, Fakhitah. Love y’all in Allah <3
Hafiya

Farras & Irda

Harits

Hana

Fatih

Jazakumullah khairan katsir untuk seluruh panitia (Musyrifah Agro, Human dan Sains). Untuk seluruh pemateri (Mbak Lola dan Mbak Afiqoh) dan seluruh peserta (Darisah Agro, Human, Sains). Semoga kebersamaan ini menjadi pemberat amal di sisiNya dan semoga setelah liburan kita semua bisa semakin gencar mendakwahkan Islam ideologis, Syariah dan Khilafah di tengah-tengah kampus.


Khairunnisa, January 21st 2014. 11:18 AM. Listening to Shiawase no Theory by FT Island.

Rekayasa Cinta

Postingan ini udah mau saya posting dari beberapa waktu lalu. Tapi, karena beberapa waktu ini saya sibuk, jadi belum sempat *halaaah, gayaa* :P
Beberapa waktu yang lalu, saya kembali mendengar lagu yang dulu jaman saya SD atau SMP sering diputer kakak saya. Judulnya Rekayasa Cinta. Liriknya kurang lebih kayak gini.
Kalau cinta Sudah direkayasa
Dengan gaya
Canggih luar biasa
Rindu buatan
Rindu sungguhan
Susah dibedakan
Kalau cinta
Sudah direkayasa
Banyak bocah disulapnya dewasa
Budi yang kaya
Adat budaya
Tak lagi terjaga
 =============================================
Bagian ini menurut saya menarik. Kenapa? Karena emang faktanya begitu. Cinta sudah ternoda oleh sebuah rekayasa *eaaa
Gimana gak? Lihat aja sekarang, anak SD aja udah ada yang pacaran. Udah ngerti masalah ginian. Dengan alasan cinta, semua legal. Suka sama suka akhirnya zina legal. Dan parahnya budaya ini dilakukan di negeri yang mayoritas Muslim. Kalo dulu saya berpikir bahwa seorang gadis berkerudung itu adalah cerminan wanita sholihah. Kalo saya gak ngaji Islam, mungkin sampai sekarang saya gak akan sudi pake kerudung apalagi jilbab. Kenapa? Saya terlalu sakit hati ngeliat muslimah hari ini. Malu-maluin. Yang berkerudung sama aja sama yang gak. Sama-sama tukang *maaf* maksiyat. Sekarang rela aja dipacarin sama siapa aja, asal punya pacar. Malu kalo gak punya pacar. Kalo saya sih, kalo harus nyari pacar saya bakalan milih-milih. Pastinya yang sholih. Tapi pertanyaannya, orang sholih mau gak nempuh jalan maksiyat kayak pacaran? It means that saya bisa gak dapetin pria sholih dengan jalan pacaran? Nonsense banget. Terlalu naif kalo kata saya. Makanya, waktu itu saya sempat agak kesal pas junior saya minta dikenalin sama teman-teman saya yang cowok. Hadeh, bener-bener dah generasi jaman sekarang.
Saya tidak bisa menyalahkan satu pihak sih. Kenapa? Karena emang ini sistemik. Gak hanya satu atau dua orang saja yang menjadi korban. Tetapi, hampir semua kecuali yang sadar. Pertama, jauhnya kaum Muslimin dari Islam membuat mereka silau dengan segala pemikiran asing yang datang dari barat dan timur. Akhirnya mereka mengambil seluruh pemikiran itu mentah-mentah. And see? Seorang Muslim gak ada bedanya dengan yang bukan Muslim. Mungkin penampilan dan sholatnya gak. Tapi pemikirannya? Sekuler, liberal, hedonis, permisif dan lain sebagainya. Seolah Islam dan dunia itu gak ada sangkut pautnya. Islam Cuma soal urusan akhirat. Jadi, kalo sholat, puasa, zakat, haji, baca Al Qur’an gak ada hubungannya sama pergaulan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dsb.
Buat yang masih nganggap kayak gitu, maaf ya. Asumsinya salah. Karena Islam itu Perfect, mamen. Islam bukan hanya agama ritual tetapi juga sebuah mabda’ (ideologi). So, Islam itu ngatur dari tidur sampai bangun lagi. Dari individu sampai Negara. Dari sholat sampai Khilafah. Itu Islam. Penasaran? Kenali Islam lebih dekat, kaji Islam lebih dalam, perjuangkan tuk kembalinya kehidupan Islam dalam naungan Khilafah, dan dakwahkan ke seluruh penjuru alam.
Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.
Khairunnisa, January 16th 2014. 06:04 PM. Saat azan maghrib berkumandang.

Wednesday, January 15, 2014

Satu Ikatan

Alhamdulillah, akhirnya minggu-minggu berat penuh ujian terlewati sudah. Rasanya satu rantai terlepas dari tubuh ini *halaah lebay* tapi, ujian lain segera menanti. Haha, tetap semangat sampai akhir *ceileee* Alhamdulillah juga akhirnya bisa cuap-cuap lagi di blog tersayang. Setelah sekian lama :D
Kali ini saya mau cerita tentang ikatan. Beberapa waktu ini hidup saya isinya tentang ikatan. Mulai dari persahabatan sampai pernikahan *eh Ya, pokoknya tentang ikatan dah intinya. Nah, untuk cerita kali ini saya mau membahas ikatan yang lebih umum. Untuk ikatan khusus (masalah perasaan, dll) ntar saya bahas di postingan tersendiri *Iuuuuuuhhhh, gayaaa*
Ngomong-ngomong soal ikatan, tadi pagi pas ke kampus saya lewat di Fakultas Teknik. Di sana ada tulisan “SATU IKATAN MABA TEKNIK KIMIA 2013”. Bisa dipastikan itu hasil Ospek Jurusan. Yah, kalo kita lihat sih di dunia ini banyak banget ikatan. Yah, yang di atas itu salah satunya adalah ikatan solidaritas. Dulu jaman masih sekolah juga sering gitu. Ada dah tuh segala macam nama kelas, jaket kelas atau jaket sekolahan buat jadi identitas. Kalo sekolah tanding dukung sekolah masing-masing. Kalo kelas tanding, dukung kelas masing-masing. Nah, itu yang bikin saya heran. Lha, trus ikatannya yang bener yang mana ya?
Jadi inget pembahasan halqoh saya dulu. Di kitab Nizham al Islam karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, beliau memaparkan ikatan-ikatan yang ada di dunia ini. Setidaknya ada lima ikatan yang mengikat manusia di dunia ini. Empat diantaranya adalah ikatan yang lemah dan satu ikatan yang shahih (benar). Pertama, ikatan Nasionalisme. Ikatan ini sering juga disebut ikatan kebangsaan. Inilah yang terjadi pada kaum Muslimin hari ini. Berbangga-bangga dengan bangsa. Tapi, lupa dengan agamanya. Ini termasuk ikatan yang lemah karena sifatnya hanya sementara. Contoh nih kalo ada pertandingan olahraga. Pas Indonesia lawan Malaysia, dukung Indonesia. Tapi kalo ada Liga lokal, ya dukung wilayah masing-masing. Trus, kemana persatuan Indonesianya?
Kedua, ikatan kesukuan. Ini juga termasuk ikatan yang lemah. Menganggap suku adalah yang lebih baik. Di daerah saya sering sekali tawuran antarsuku dan berujung balas dendam tanpa akhir. Dan yang membuat saya makin benci dengan ikatan ini, karena tidak jarang merenggut nyawa. Teman adik saya salah satunya. Dua ikatan inilah yang dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai asshobiyah. Ketika seseorang berbangga dengan kelompoknya tetapi dengan kebanggaan yang buta (tanpa landasan kebenaran) maka bukan termasuk golongan Rasulullah SAW.
Ketiga, ikatan kemashlahatan. Nah, ini juga ikatan yang lemah. Dalam ikatan ini tidak ada teman sejati dan musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi. Inilah yang terjadi dalam dunia perpolitikan sekarang. Dimana kepentingan adalah segalanya. Satu orang bisa pindah dari satu partai ke partai lain, menjelek-jelekkan orang yang dulunya dielu-elukan sebagai sahabatnya. Iuh, jijay banget sama yang kayak gini.
Keempat, ikatan rohani. Ikatan ini adalah ikatan keagamaan tapi bukan ikatan yang benar. Karena ini tidak terbatas kepada satu agama yang berlandaskan kebenaran tetapi ikatan rohani untuk seluruh agama dan ini juga ikatan yang lemah.
Kelima, ikatan ideologis. Ikatan ini adalah ikatan yang benar dan satu-satunya ikatan yang benar. Kenapa ini ikatan yang benar? Karena ini adalah ikatan yang bersumber dari sebuah ideologi yang benar. Ikatan inilah yang seharusnya mengikat seluruh kaum muslimin.
Dan perlu diingat bahwa Islam itu beda, mamen. Islam itu gak hanya sekedar agama yang mengatur wilayah spiritual tetapi juga seluruh aspek kehidupan. Islam itu ideologi. Apa sih ideologi itu? Jadi, ideologi itu adalah aqidah aqliyah yang menghasilkan aturan kehidupan. Nah, Islam memenuhi standar definisi ini sehingga Islam layak disebut sebagai ideologi. Dari sinilah muncul ukhuwah Islamiyah. Dimana dikatan kaum Muslimin ibarat satu tubuh. Maka, setiap Muslim adalah saudara darimana pun asalnya dan apapun latar belakangnya.
Last but not least, udah saatnya kita buka mata, hati dan pikiran untuk tidak tertipu dengan jebakan ikatan-ikatan temporal nan lemah macam empat ikatan tadi. Udah saatnya kita kembali menjernihkan pikiran dan mengikatkan diri dengan ikatan yang benar, yakni ikatan aqidah Islam (ideologis). Kalo ngerasa belum banyak ilmu, yuk cari ilmunya. Kaji Islam dan pelajari. Kenali Islam lebih dekat, kaji Islam lebih dalam, perjuangkan Islam ke seluruh alam.

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab


Khairunnisa, January 15th 2014. 09:51 AM. Bersama teman-teman. 

Sunday, January 12, 2014

Jamal Harwood: dari pemeluk kristen yang taat menjadi pejuang Khilafah

Saya termasuk pemeluk Kristen yang taat sebelum menemukan Islam. Ketika saya masih berusia belasan tahun saya begitu tertarik mendalami ajaran Kristen. Namun, saya memiliki beberapa pertanyaan serius mengenai hal-hal pokok agama Kristen seperti bagaimana peran banyak Nabi yang berbeda, siapa sebenarnya Isa. Saya pun mengalami kebingungan memahami trinitas, anak tuhan, dan lain-lain.
Itulah yang kemudian membuat saya mulai berpikir bahwa pada suatu saat, mungkin setelah menyelesaikan pendidikan, saya akan melakukan perjalanan dan mencari agama-agama lain di dunia. Saya berharap sepulangnya dari perjalanan itu saya akan memperoleh sesuatu yang lebih jelas dalam hal keimanan yang dapat menjawab semua pertanyaan saya itu dengan meyakinkan. Alhamdulillah, ketika usia saya sekitar 20 tahunan, saya bisa melakukan perjalanan dan melihat agama-agama lain dan hal ini menjadikan saya mulai mempelajari Islam dan akhirnya memeluknya.
Saya pindah ke Inggris beberapa saat sebelum saya memeluk Islam. Sebelumnya saya tinggal di Kanada. Kaum Muslim yang saya temui di London, khususnya di Masjid Regents Park adalah orang-orang yang paling memberi pengaruh pada saya dan sangat membantu untuk menyarankan buku-buku untuk dibaca dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Semuanya sangat bersahabat dan saya senantiasa masih dekat dengan mereka. Karena saya pernah tinggal di beberapa negara lain saat saya muda dan sering melakukan perjalanan, saya senantiasa senang jika bertemu dengan orang-orang dari negara-negara lain, dengan agama dan kebudayaan yang berbeda.
Akhirnya saya memutuskan memeluk Islam pada 1986. Keputusan saya justru didukung oleh orangtua saya. Ketika itu mereka tinggal di negara lain, jadi kami tidak selalu bisa berhubungan. Tapi saya ingat dengan sangat jelas bahwa ayah saya sebelumnya pernah bekerja dengan orang-orang Muslim dan mengatakan bahwa Islam menekankan pada keluarga jadi dia bilang “Lanjutkan saja “.
Memang tidak mudah mengawali hal yang baru. Banyak tantangan. Mempelajari kewajiban-kewajiban dasar Islam itu perlu waktu. Apalagi saya tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang Islam berarti ada banyak hal yang harus saya pelajari. Tapi tidak ada yang terlalu sulit. Dan saya mempunyai pengalaman yang tidak terlupakan sejak menjadi seorang Muslim yakni pergi haji tahun 1994 melihat Ka’bah untuk pertama kalinya.
Setelah memeluk Islam, saya berbicara kepada saudara laki-laki maupun perempuan saya (semuanya Kristen) mengenai Islam kapanpun saya bisa. Beberapa saudara perempuan saya adalah orang-orang yang memegang teguh agama Kristen tapi kami tetap berhubungan baik, tidak ada kebencian, dan mereka suka anggota keluarga yang lain (yakni istri dan anak-anak saya) jadi hal ini sangat positif. Majalah Time pernah menampilkan suatu tulisan mengenai saya dan ketika itu sebagian besar anggota keluarga saya agak terkejut ketika mereka tahu bahwa saya aktif secara politik di Hizbut Tahrir, bahkan sebagian dari mereka menunjukkan kekhawatirannya bahwa aktivitas politik saya itu bisa menyulitkan saya dengan adanya sentimen-sentimen anti Islam di banyak bagian dunia. Saya katakan pada mereka, “Senantiasa ada risiko atas segala sesuatu tapi lebih baik melakukan sesuatu dengan alasan yang baik daripada menunggu sesuatu terjadi pada Anda.”

Dakwah Bersama HT
Alhamdullillah, saya pertama kali bertemu beberapa anggota HT tahun 1988. Saya prihatin dengan banyaknya ketidakadilan dan kemunduran yang saya lihat di dunia Muslim. Betapa pentingnya gagasan ummah, tapi banyak yang memiliki sedikit pemahaman politik mengenai sebab-sebab kemunduran itu, disamping tidak memiliki solusi untuk mengatasi kemunduran itu. HT berbicara mengenai isu-isu itu dan memberikan solusi-solusi yang jelas.
Ketika saya mulai belajar di HT, saya memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai Usul Fiqh, Ijtihad, dan Syariah, yang kesemuanya adalah penting dalam mengembangkan pemahaman saya mengenai Islam dan lebih baik dari apa yang sebelumnya saya baca dan pelajari. Buku-buku yang telah dikeluarkan partai adalah mengenai Sistem Islam, Konsep-konsep Hizbut Tahrir dan Struktur Partai adalah di antara buku-buku yang sangat bagus bagi yang ingin mendapatkan pemahaman yang baik mengenai dasar-dasar Islam dan keadaan umat pada saat ini. (mediaumat.com)


Saturday, January 11, 2014

Rasulullah...

     Ide nulis tentang ini nyangkut di kepala saya karena hari ini ada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di kompleks tempat saya tinggal. Tapi, karena saya gak mau nulis dengan judul apa, jadilah judulnya gak menarik. Hehe, kapan-kapan kalo saya udah nemu judul yang pas, judulnya bakalan saya ganti *halah, apaan sih?*
    Ya, ngomong-ngomong soal Rasulullah SAW., setiap tahun orang-orang, khususnya di Indonesia memperingati hari kelahiran beliau, setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Sampai dijadiin hari libur khusus juga. Di hari itu semua bersuka cita dan mengerahkan segala tenaga untuk mengingat beliau. Yup, mulai hari lahirnya sampai bagaimana beliau berhasil menyebarkan agama Islam sampai ke seluruh penjuru dunia. Tapi… Ada “tapi” di sini. Kenapa? Haha, saya juga bertanya-tanya pemirsah. Karena ternyata Maulid Nabi SAW hanya diperingati secara ceremonial atau memorial semata. Setelah itu hilang entah kemana. Dan ada beberapa hal yang dilupakan dari Rasulullah SAW. Saya juga baru ngerti setelah saya mengkaji Islam kaffah di sebuah partai politik internasional. Kalo gak, sampai detik ini saya hanya akan menganggap Rasulullah sebagai sosok individu seperti Nabi-nabi yang lain atau mungkin *naudzubillah* hanya seperti Sidharta Gautama.
   Buat saya pribadi, luasnya langit dan samudera gak akan mampu menggambarkan kepribadian agung seorang Rasul pilihan, Muhammad SAW. Bukan hanya karena saking nge-fansnya saya sama beliau. Tapi, emang kenyataannya Rasulullah itu outstanding. Di atas keren deh pokoknya. Wajar kalo sahabat-sahabat beliau juga luar biasa. Siapa dulu gurunya? Haha, gak lucu kalo kita yang paham Islam tapi gak bisa mengubah orang-orang di sekitar kita minimal kayak kita *nabok diri sendiri*
    Sayang sejuta sayang, peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW hanya sekedar nostalgia. Rasulullah hanya dilihat dari sisi individu beliau tanpa memperhatikan bagaimana interaksi beliau di masyarakat. Seluruh kaum Muslimin gak mungkin lupa kalo Rasulullah SAW datang dengan sebuah risalah yang sudah disempurnakan oleh Sang Pemilik Semesta. Ya, risalah itu adalah Islam. Risalah yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Risalah yang dikatakan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka dari sini jelas, Islam itu bukan hanya sekedar agama. Tapi lebih dari itu. Islam adalah way of life. Islam adalah mabda’ (ideologi). Ini yang mungkin sering terlupa. Islam dikerdilkan hanya sebatas ritual dan perkara individu semata. Padahal, Rasulullah dulu mengajarkan Islam dari A-Z. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan luar biasanya lagi, Islam punya konsep tentang Negara. Islam punya sistem pemerintahan yang mampu mengatur seluruh manusia yang bernaung di dalamnya. Islam punya Khilafah. Dan itu yang diwariskan oleh Rasulullah SAW. Itu yang menyebabkan jejak Islam terukir di seluruh penjuru dunia. Kalo gak percaya, baca atau nonton deh 99 Cahaya di Langit Eropa. Hehe, kalo ada yang punya bukunya, saya pinjem ya :p
    Saat ini kata Khilafah sudah gak asing di telinga kaum Muslimin. Alhamdulillah banyak yang sepakat dan mau berjuang mengembalikan Khilafah, tapi gak sedikit juga yang mengutopiskan kembalinya Khilafah sebagaimana dulu adanya. Padahal Rasulullah sudah bersabda bahwa “Kemudian akan kembali Khilafah atas manhaj kenabian” (HR. Ahmad). Ya, emang sih ini semua gak terlepas dari konspirasi orang-orang kafir menghilangkan memori tentang Khilafah dari benak kaum Muslimin dengan menyusupkan ide-ide beracun ke dalam benak mereka. Nasionalisme, yakni fanatisme kepada bangsa yang pertama kali dibisikkan ke telinga kaum Muslimin di akhir pemerintahan Khilafah Ustmaniyah. Dari situlah kaum Muslimin mulai terpecah menjadi Negari-negeri kecil yang sangat mudah diinterfensi. Setelah itu dimasukkanlah pemikiran Sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Kemudian diikat dengan sistem politik Demokrasi yang masih ada sampai sekarang dan dibumbui dengan ide Liberalisme. Akhirnya kaum Muslimin hampir tidak tersisa sisi keislaman dari diri mereka. Saat ini kaum Muslimin hampir tak ada bedanya dengan orang-orang Barat (kafir) dari pemikirannya, kecuali mereka sholat, puasa, berzakat dan haji serta menutup aurat. Tapi, ada juga kan kaum Muslimin yang masih belum melaksanakan rukun Islam dengan sempurna? Hingga akhirnya ketika dibawakan Khilafah sebagai solusi dari segala permasalahan hari ini, banyak yang kemudian menentang. Bahkan banyak yang justru membenci Khilafah karena Khilafah identik dengan kediktatoran ataupun karena Khilafah adalah Negara yang berdiri atas dasar agama dan banyak lagi alasannya.
    Ini yang bikin saya sedih. Padahal itu lho diajarkan oleh Rasulullah. Trus, dibawa kemana keislaman kalian, wahai kaum Muslimin? Berharap syafaat dari Rasulullah tetapi diseru untuk berhukum dengan hukum yang sudah diajarkan oleh Rasulullah, banyak sekali alasannya. Ditanya cinta kepada Rasulullah, jawabnya cinta, tetapi diseru untuk berjuang mengembalikan Khilafah, alasannya ada aja. Apa udah gak punya perasaan ya? Ketika Rasul dihina aja bungkam. Jujur saya sedih sekali. Makanya ini alasan saya tetap di sini. Di jalan ini. Meski saya tahu halangannya sangat banyak. Tapi inilah jalan yang dulu ditempuh oleh Rasulullah SAW. Harapan saya, ketika saya terus berjalan di jalan yang sama dengan beliau, suatu hari saya akan bertemu dengan beliau, aamiin.
    Ya Rasulullah, hari ini aku melihat masih banyak umatmu yang melupakanmu. Tapi, seperti yang sudah Engkau kabarkan bahwa akan ada orang-orang yang tetap menggenggam risalahmu laksana menggenggam bara api. Dan di akhirat kelak mereka akan berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Aku berharap menjadi salah satu dari mereka. Semoga.

Khairunnisa. January 11th 2014. 09:55 PM. Lagi acara Maulid di depan gang.

Thursday, January 09, 2014

Memaknai Kebersamaan

Di penghujung bulan Desember yang penuh romansa. Yang menandai akhir perjalanan anak manusia sekaligus pembuka gerbang hidup yang baru dalam lembaran catatan perjalanan mereka. Haha, ini kisah saya bersama keempat teman halqoh saya.
Hari itu rencananya kami akan mengkhatamkan kitab nafsiyah sebelum kami menapaki sebuah lembaran baru dalam dakwah. Namun, karena hari itu musyrifah kami terlambat datang, halqoh akhirnya dilanjutkan besoknya.
Sebelum itu, kami menyempatkan untuk bercengkrama sambil mengambil gambar sebagai kenang-kenangan. Pasalnya, dua dari empat teman halqoh saya akan kembali ke kampung halaman masing-masing. Yang satu kembali ke daerah yang sama dengan daerah asal saya, yang satu lagi kembali ke Negara asalnya, Vietnam.
Hujan mengiringi tawa kami sore itu. Dan mungkin dalam hati berpikir tentang perpisahan yang pasti terjadi. Ya, salah satu warna dakwah kampus adalah ketika sudah selesai masa studi di kampus. Mau kemana lagi? Jika tidak melanjutkan studi berarti kembali ke kampung halaman. Saat itulah semua terasa bermakna meskipun kebersamaan yang kami bangun sudah berada di penghujung pertemuan. Tapi, kenangan itu selalu manis untuk diingat.
Ya, ngomong-ngomong soal empat teman halqoh saya. Baiklah akan saya perkenalkan. Yang paling pertama pulang kampung namanya Mbak Endang. Beliau jurusan Farmasi Fakultas Kedokteran. Beliau dulu adalah kakak kelas saya meskipun kami tidak satu SMA, tetapi kami berada di organisasi yang sama, yakni organisasi yang membawahi Lembaga Kerohanian Islam untuk sekolah. Mungkin kalo sekarang setara dengan BKLDK atau FSLDK. Beliau adalah orang yang rame dan suka bercanda. Beliau juga suka yang berbau Asia Timur, kayak Jepang dan Korea. Ditambah lagi beliau suka menulis dan tulisannya gokil. Lumayan buat ngencerin dahak *eh buat refreshing.
Kedua, che Lyn. Beliau adalah mahasiswi internasional dari Vietnam. Beliau jurusan Teknologi Industri Pertanian. Che Lyn termasuk salah satu orang ajaib yang saya temui di kampus hehe. Beliau suka travelling dan wisata kuliner. Beliau juga rame, periang dan asik buat di-bully haha *peace che Lyn* Dan Che Lyn adalah tempat nebeng saya kalo berangkat halqoh atau berangkat kemana-mana hehe.
Ketiga, Mbak Esti. Beliau adalah dosen Teknik Elektro lulusan ITS. Beliau dewasa banget orangnya. Mungkin karena gaulnya sama dosen-dosen kali ya? Haha. Beda banget sama Che Lyn yang mahasiswa banget gayanya. Kalo mbak Esti tuh anggun dan berwibawa. Beliau juga baik banget. Kalo halqohnya mepet sama kuliah saya, pasti saya nebengnya sama beliau. Tapi sebenarnya mbak Esti juga rame lho, asik diajak bercanda haha :D
Keempat, Muthi. Muthi adalah adik kelas saya. Dua tingkat di bawah saya. Seangkatan sama adek saya. Dia satu fakultas sama Che Lyn tapi jurusannya beda. Kalo Muthi jurusan Teknologi Hasil Pangan. Karena Muthi juga saya kenal sama Fitri, teman virtual saya yang dulunya teman halqoh Muthi di Bogor. Muthi anaknya keren kalo saya bilang. Soalnya untuk anak baru dia termasuk yang militan. Semangat dakwahnya oke meskipun kadang di kampus juga rada adem soal bara dakwah, tapi dia termasuk yang membuka kunci membesarnya dakwah di Fakultas Teknologi Pertanian. Muda, bersemangat dan militan. Yah gak heran sih soalnya itu didikan dari keluarganya juga. Hehe dan karena ada Muthi saya gak jadi yang paling bontot lagi deh :D
Semoga kebersamaan yang singkat ini dapat dikenang sebagai pelajaran nantinya, yang bisa dibagi ke adik-adik binaan, teman-teman seperjuangan yang lain dan mungkin ke anak cucu nantinya.
Uhibbukum fillah ukhti :D

Khairunnisa, January 9th 2014. 10:29. Bersiap rehat.

Tuesday, January 07, 2014

Kejutan Tahun Baru

Sumpah, ini bener-bener bikin saya shock. Pasalnya saya sampai speechless saking shocknya coba. Emang sih, tahun 2014 udah seminggu, tapi ternyata banyak kejutan dalam minggu ini. Mau tau apa kejutannya? Hmm, mau tau aja atau mau tau bangeeet? Hmm, kasihtau gak yaa? Halah, udah deh. Lama. Yuk, kita lihat apa kejutannya.

1.    Drama Penembakan (Terduga) Teroris
Ini adalah peristiwa yang sangat bikin shock sampai sedih dan miris. Kenapa? Pasalnya, malam tahun baru, orang-orang biasanya pesta. Mainan kembang api sampai pagi, tiup terompet sampai nafas habis, dsb. Waktu malam tahun baru saya seperti ada di Jalur Gaza. Kembang apinya rame banget. Apalagi ditambah dengan dangdutan. Hampir aja saya sama teman saya nyabot tuh acara taun baruan. Untung saya udah ngantuk *eh
Oke, malam tahun baru minggu lalu terjadi peristiwa penembakan terhadap beberapa orang (terduga) teroris. Jumlahnya saya lupa. Kalo tidak salah ingat dari 9 orang yang dikejar ada 5 yang (berhasil) ditembak mati. Jahatnya, mereka baru terduga. Belum jadi tersangka. Dan begonya yang jelas-jelas teroris gak pernah diberlakukan sampai main habisi kayak yang dilakukan Densus 88. Dan gaya mereka tuh sengak banget tau gak? Bener-bener udah kayak pahlawan gitu habis ngebunuh 5 orang yang belum tentu bersalah dengan dugaan teroris. Sumpah, itu bener-bener bikin gue pengen muntah. Apanya yang Anti Teror? Orang-orang haus darah itu justru nebar teror. Carmuk banget. Saking gak ada kerjaan, mereka akhirnya bikin drama sendiri. Di sela ledakan kembang api, mereka juga nembakin orang-orang yang baru diduga teroris.
Emang selama ini selalu aja Islam yang kena getah kalo udah ngomongin teroris. Sumpah nih pemerintah udah bener-bener kemakan sama gossip murahan AS terkait War On Terrorism. Hellow, akalnya dibawa kemana? Katanya Negara hukum, pake hukum positif, praduga tak bersalah, dsb. Tapi, untuk orang Islam yang celananya rada cingkrang, jenggotan, rajin sholat berjamaah di masjid dan sholat sunnah justru boleh langsung dihabisi tanpa peradilan.
Udah gitu, mereka nyebarin gossip murahan yang bikin mayat korban gak diterima oleh warga sekitar karena merasa bahwa orang-orang itu adalah aib. Kurang apalagi hah? Puas loe semua? Saya Cuma bisa berdoa semoga Allah membalas mereka semua dengan balasan yang setimpal untuk apa yang sudah mereka lakukan ke orang-orang gak bersalah itu.

2.    Mulai Diberlakukannya JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)
Kekesalan dan keheranan saya belum selesai karena drama Densus 88, ada lagi kebijakan ngawur super egois yang diberlakukan oleh pemerintah yang rezimnya udah hampir berakhir. Ya, JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional. Kalo sebelumnya ada Askes atau Asuransi Kesehatan dan Jamkesmas, mulai tahun ini diberlakukan JKN yang sistemnya hampir sama dengan Askes tapi lebih kurang ajar lagi. Jadi, setiap kepala yang terdaftar sebagai warga Negara Indonesia wajib membayar iuran sebagai jaminan agar mereka mendapatkan pelayanan kesehatan dan itu bukan pilihan tapi WAJIB. Wajib, Pemirsah. Tapi, meskipun udah kelihatan cantik pengaturannya, ujung-ujungnya kembali bikin rakyat sengsara. Karena ternyata setiap perusahaan juga wajib membayar iuran kesehatan untuk karyawannya. Itu berarti kan biaya produksi bertambah dan bisa jadi harga-harga juga melambung tinggi. Kalo harga sudah melambung tinggi, daya beli pasti turun dan orang miskin makin banyak. Kalo orang miskin makin banyak, kriminalitas meningkat, bunuh diri meningkat dan harga diri pasti diobral. Naudzubillah. Padahal udah di akhir pemerintahan masih aja bikin kebijakan super egois. Maunya apa sih? Belum cukup apa ngejual Negara ini? Sekarang rakyatnya juga dibunuh perlahan. Masihkah kita berharap sama orang-orang dengan sistem seperti ini di Pemilu 2014? Kalo saya sih, gak Cuma golput. Ganti sistem. Revolusi.

3.    Harga Elpiji (Kembali) Melejit
Ada drama lagi selain drama korupsi di awal tahun ini yang sempat bikin saya pengen ngakak saking begonya yang bikin skenario. Saya juga gak tau, apa karena beberapa waktu ini selalu hujan, tiba-tiba aja harga elpiji 12 kg langsung melejit. Dan lucunya Presiden negur lewat twitter. Hellow, Anda Presiden, Tuan. Anda Bosnya. Kenapa beraninya negur lewat Twitter? Dan saya kasihan sama Pertamina, kalo ada apa-apa selalu aja duluan dijadiin kambing jantan eh kambing hitam. Padahal, sebenarnya gas itu udah dikasih Cuma-Cuma ke asing. Pas gasnya tinggal dikit, Pertamina yang disalahin. Udah gitu negurnya alay banget. Lewat twitter, Bo. Sumpah, terlalu!
Tapi ada kabar baiknya, setelah ditegur via Twitter ada kemungkinan elpiji bakal turun. Cuma bencananya adalah harga barang udah terlanjur naik dan kalo mau diturunin ya bakalan susah meskipun nantinya elpiji positif turun. Belum lagi kalo elpijinya nanti dioplos saking mahalnya. Bisa-bisa kasus elpiji meledak makin meningkat. Tepok jidat saya lihat kejutan-kejutan ini. Kira-kira setelah ini apa ya?

Saking rakyat sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah, sampai harus bikin drama pencitraan coba. Kurang kerjaan banget. Hal ini tentu akan berbanding terbalik di dalam Islam. Kalo dalam Islam, tugas pemerintah adalah mengurusi urusan rakyatnya. Pemerintah gak mungkin memata-matai rakyatnya apalagi sampai memfitnah dan menghabisi rakyatnya. Pemerintah juga gak akan menelantarkan rakyatnya dan sibuk dengan urusan pribadinya. Di dalam Islam jelas, kebutuhan pokok rakyat dijamin. Tersedianya kebutuhan pokok juga dijamin. Kesehatan, keamanan, dan pendidikan dijamin oleh Negara. Negara akan memberikan fasilitas terbaik untuk hal-hal tersebut. Sandang, pangan dan papan pun tidak perlu khawatir. Negara juga akan menjaminnya. Itulah sempurnanya Islam saat diterapkan dalam sebuah Negara. Dan sebentar lagi Khilafah Islam akan tegak kembali. Khilafahlah yang akan melindungi harta, darah, dan jiwa kaum Muslimin dan seluruh warga negaranya.
Sistem rusak bakalan keliatan boroknya. Kapitalisme yang dilindungi oleh sistem Demokrasi, semakin hari semakin keliatan busuknya. Dan sebentar lagi rakyat bakalan gak tahan dengan bau busuknya dan berteriak lantang untuk mengganti sistemnya. Dan saat itulah Islam akan menggantinya. Karena Cuma Islam satu-satunya sistem yang mampu memberikan kesejahteraan yang real tanpa omong kosong dan segala angan-angan picik seperti dalam sistem Demokrasi. So, tunggu apalagi? Udah saatnya berjuang untuk diterapkannya Syariah Islam dalam naungan Khilafah.
Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

Multazim. January 7th 2014. 11.11 PM.

Bahagia Itu Sederhana

Hehe tumben ini nulis beginian. Tapi, sorry ya, saya gak lagi galau kok. Kalo saya galau bisa langsung jadi trending topic *eh
Pada postingan kali ini saya ingin menulis tentang kebahagiaan. Ya, terinspirasi dari hasil obrolan dengan seorang teman beberapa waktu lalu. Silahkan disimak :D

Setiap orang di dunia ini pasti pengen bahagia. Dulu, waktu saya baru jadi mahasiswa, di training khusus mahasiswa pas OSPEK, salah seorang trainer bertanya.
“Apa sih yang dicari manusia ini dalam hidup?”
Waktu itu semua mikir keras nyari jawabannya. Ya, gak ada yang bisa jawab. Sampai akhirnya sebuah kata muncul di layar. Happiness. Ya, kebahagiaan.
Apa sih definisi kebahagiaan buat loe semua? *eaaa
Banyak orang kalo ditanya bahagia itu yang kayak gimana, pasti jawabannya. Bahagia itu sederhana. Salah satunya adalah seseorang yang pengen bukunya diterbitkan oleh sebuah penerbit tertentu. Dia bakal bahagia banget kalo penerbit tersebut yang nerbitin. Kenapa? Usut punya usut ternyata dia suka sama logo penerbit itu. Haha, simple isn’t it? Bahagia itu sederhana, kawan.
Saat ini kita bisa melihat berbagai standar kebahagiaan. Bahagia itu kalo IPK 4,00, punya perusahaan sendiri, bisa membiayai diri sendiri, punya pacar/istri/suami yang cantik/cakep, punya anak yang lucu-lucu, dan masih banyak lagi. Ya, fitrah emang semua itu. Allah sudah menggariskan kok dalam al Qur’an. Bisa dicek sendiri di surat Ali Imran :D
Tapi, kalo menurut saya kebahagiaan bagi seorang Muslim itu sederhana kok. Kebahagiaan bagi seorang manusia adalah ketika dia tau tujuan hidupnya. Dan Alhamdulillah seorang Muslim itu udah dikasih tau buat apa dia hidup.
Allah berfirman dalam QS. Adz Zariyat ayat 56
“Dan tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”.
Simple kan? Ya, simple kedengarannya tapi pembuktiannya itu lho pemirsah :D
Tapi tenang, karena Allah gak nyuruh kita nyari jauh-jauh. Intinya adalah kebahagiaan yang sebenarnya bagi seorang Muslim adalah ketika Allah ridho pada dirinya. Lha trus, bagaimana seorang Hamba tahu bahwa Allah ridho terhadap aktivitasnya? Ya, tadi ketika si Hamba tadi beribadah kepada Allah. Pertanyaan selanjutnya, ibadah itu yang kayak gimana? Apa Cuma sebatas sholat, puasa, zakat, haji, dzikir, baca Qur’an? Oh, tentu tidak. Ibadah yang Allah maksud adalah menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. So, kunci kebahagiaan itu ya beriman kepada Allah dan menjalankan aturan Islam secara kaffah. Tidak hanya Hablu Minallah aja tapi Hablu Minnafsih dan Hablu Minannas juga.
Jadi, bahagia itu sederhana kan? So, jangan cari kebahagiaan lain di luar Islam seperti Kapitalisme-Sekulerisme, Sosialisme-Komunisme, Demokrasi dan sejenisnya. Karena mereka gak akan pernah membawa kebahagiaan dalam hidup loe, bro & sis.
Sekali lagi, saya mau bilang. Kebahagiaan itu sederhana. Bahagia itu ketika Allah ridho. So, bahagia itu hanya bisa ditemukan dalam Islam Kaffah (Diterapkannya Syariah dan ditegakkannya Khilafah).


Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.



Khairunnisa, January 7th 2013. Sebentar lagi (mau) hujan

Monday, January 06, 2014

Kegeeran

Mungkin, bagi sebagian banyak orang ini adalah hal memalukan *begitupun saya hehe* Dan ini aib mamen. Haha, tapi kalo menurut saya, ini bisa jadi pelajaran makanya saya posting. Judulnya luar biasa provokatif, apalagi yang nulis akhwat super aktif haha gak ding lebih tepatnya hyperaktif *kidding*
            Ini terjadi hari ini. Beberapa jam yang lalu saya tiba-tiba melihat kalimat yang sangat familiar yang direpost oleh seorang ustadz terkenal. Apalagi beliau sudah expert di bidang tulis-menulis hehe. Makanya saya langsung teriak, waw, tulisanku direpost ustadz itu! Saking senangnya saya langsung komen. Tidak salah lagi, itu tulisan saya beberapa bulan yang lalu. Tulisan yang juga saya posting di blog ini. Tapi anehnya emang gak ada cantuman sumbernya. Saya pikir, gapapalah yang penting banyak yang like :D Kan lumayan ide bisa tersampaikan kalo direpost sama orang terkenal hehe :D
            Trus, yang bikin saya kegeeran sampai nahan malu apa? Jadi, singkat cerita saya udah geer banget nih, kirain postingan saya dibaca sama beliau. Trus beliau repost gitu. Ternyata pas saya ngomong kalo itu tulisan saya, beliau malah balik nanya.
            “Emang ini tulisanmu? Gak copas kan? :D,” kata beliau.
            Tapi saya masih coba berhusnuzhann *saking bahagianya haha :D*
           “Itu tulisan saya tahun lalu, ustadz. Gaklah, kalo saya copas pasti saya cantumkan sumbernya,” jawab saya.
            “Tapi, saya gak tau kalo itu tulisanmu”.
            Jederrrr! Berasa kesamber geledek. Haha, ternyata emang saya yang kegeeran dan kepedean. Sepertinya tulisan saya itu direpost orang dan orang itu gak mencantumkan sumbernya. Jadi dikiranya saya ngaku-ngaku kali ya? Hahaa, gak disangka, anak sastra yang gak punya taste dan sense kayak saya bisa juga kena repost orang. Tapi, gimana kalo ternyata emang ada orang yang pernah menulis kalimat serupa? Haha, tapi kayaknya gak mungkin deh. Itu murni hasil isi kepala saya. Kalo pun ada yang mirip itu adalah sebuah kebetulan yang benar-benar tidak disengaja.
            Well, pelajaran buat saya adalah harus memastikan dulu. Udah terlanjur geer ternyata….
            Sekian dan terima kasih semoga bisa menjadi pelajaran buat semuanya.

Wallahu ‘alam bi ash shawaab

El Liwa, January 6th 2013. 02.25 PM.

Tanda Cinta KarenaNya

Beberapa waktu ini, karena saya jarang ke kampus *bukan karena malas lho ya* saya lebih sering muncul di dumay. Sampai akhirnya, baru saja salah seorang adik sesama aktivis dakwah tiba komen di salah satu sosmed.
“mbak dit, ayo segera kluar dr fb.. kok tahan sih online trs.. ckck..,” katanya di kolom komentar.
“bcanda kale mbk..  cm mau ngingetin aj spy yg di dunia nyata tdk terbengkalai,” tulisnya lagi setelah saya membalas dengan reaksi yang cukup lebay :D *efek shock* 
Alasannya sih sederhana, saya didaulat jadi best friend beberapa teman karena intensitas interaksi yang bisa dibilang sangat sering terjadi.
Awalnya saya agak shock, karena beberapa waktu lalu sudah ada yang bilang ke saya dan ternyata *alhamdulillah* orangnya bilang langsung. Walaupun agak seperti kesetrum tapi lega. Karena, itu berarti masih ada yang sayang sama saya hehe :D
Selain itu, ada lagi postingan saya beberapa hari yang lalu terkait nasib syabab di Bangladesh. Saya dari dulu sering terfikir, bagaimana jika itu di Indonesia? Apakah kita bisa menanggung ujian itu sebagaimana saudara-saudara di sana? Kemudian pas ada yang posting, saya repost. Tiba-tiba salah seorang teman di luar kota komen. Haha, saya cukup shock sebenarnya karena awalnya tidak ada niat berharap agar apa yang terjadi di Bangladesh juga terjadi di Indonesia. Tapi, satu hal. Saya senang dapat muhasabah karena itu berarti *lagi-lagi* masih ada yang menyayangi saya dan tentunya karena Allah azza wa jalla.
Beberapa hal dari sekian banyak kesyukuran saya berada dalam sebuah jamaah dakwah. Menyadari bahwa saya tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Dan merasakan cinta yang selalu tercurah dariNya melalui saudara-saudara yang selalu peduli dan saling mencintai karenaNya.

Jazakumullah khairan katsir for coming to my life. This is special for Nurintan Sri Utami dan Nila Syuraik. Uhibbukuma fillah ukhti :D

El Liwa, January 6th 2013. Minggu UAS. 02.03 PM