“Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman
dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit
dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa
mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raaf [7] : 96)
“Dan barangsiapa berpaling dari
peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan
menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya
Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku
dahulunya adalah seorang yang melihat? Allah berfirman: "Demikianlah,
telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula)
pada hari ini kamupun dilupakan." (QS. Thahaa [20] : 124-126)
===========================================================================
Pas
baca ayat di atas, saya shock. Ya,
itu bukan sekedar ayat ngancem. Tapi, itu peringatan. Peringatan keras. Dari
siapa? Bukan dari Presiden, tapi dari Yang Punya Nyawanya Presiden. Dari Allah
SWT. Itu Cuma beberapa ayat dari banyak ayat sebagai peringatan dari Allah
kepada makhluk “sok” bernama manusia.
Pas
lagi nulis postingan ini, di sekitar saya masih heboh berita banjir yang
melanda Jakarta, Kalimantan Selatan, Semarang sampai ke Sulawesi Utara. Ya,
tepat setahun yang lalu banjir juga melanda Jakarta. Waktu itu sampai Bundaran
HI kelelep. Beneran kelelep. Padahal, malamnya baru dipake buat pesta kembang
api. Ckckckck -___-“ Setahun kemudian, banjir kembali berulang. Lucunya, para
penguasa negeri ini kebanyakan bungkam. Tapi ada juga yang akhirnya berceloteh
yang justru menampakkan kebodohannya. Lupa kali ya sama janjinya dulu sebelum
jadi penguasa.
Hujan
seringkali disebut sebagai berkah. Tapi, kalo ternyata berkah justru jadi
bencana? Nah lho… Pertanyaannya sekarang, kalo udah terlanjur jadi bencana,
gimana mengatasinya?
Beberapa
waktu yang lalu, saya sempat baca postingan seorang Profesor dari LIPI. Kebetulan
beliau gak hanya mumpuni di bidang ilmu pengetahuan tetapi juga agama. Dan
analisa beliau, subhanallah. Tapi, saya gak mungkin menjelaskan di sini. Selain
karena panjang, saya juga sudah lupa. Takutnya salah nulis ntar kan dimintai
pertanggungjawaban. Kan gak lucu kalo saya masuk neraka Cuma gara-gara salah nulis
tentang solusi menghadapi banjir.
Intinya,
banjir yang terjadi hari ini gak hanya soal teknis lagi, tapi udah sistemik
bahkan sampai tataran ideologis. Wuih, serem amat. Emang serem. Gimana gak
serem kalo banjir udah jadi agenda tahunan kayak agenda konser atau proker
organisasi. Ya karena emang sistem yang diterapkan masih sama. Dan harus
diingat, yang namanya sistem itu saling terkait seperti roda. Ada dua
suprasistem dalam sebuah Negara. Kalo sistem ini rusak, bisa dipastikan seluruh
sub sistem di bawahnya juga bakalan rusak. Dan udah terbukti, dua suprasistem
hari ini, yakni sistem ekonomi Kapitalis dan sistem politik Demokrasi jadi
Biang Kerok seluruh masalah yang terjadi. Biang Kerok? Iya, Biang Kerok. Saya gak
menuduh tapi itu fakta. Fakta yang menyebabkan duit infrastruktur yang dipungut
dari hasil keringat dan darah rakyat sedikit demi sedikit dicomot oleh mereka
yang haus uang. Mereka menghisap darah rakyat lewat kampanye menjijikkan dan
Pemilu. Kebijakan yang mereka buat hanya menguntungkan korporasi. Begitu banyak orang pintar di
negeri ini yang mereka buang ke luar negeri. Kayaknya negeri ini bukan negeri
mereka. Mereka dengan santainya menjual negeri ini sejengkal demi sejengkal ke
korporasi asing. Menjadikan rakyatnya kacung di negerinya sendiri. Kenapa? Karena
mereka punya banyak uang untuk kabur sama keluarganya ke luar negeri. Sedangkan
rakyat? Kalo udah gak punya tanah, mati aja. Gitu kali pikirannya.
Jadi,
ayat yang saya kutip di atas sangat benar. Allah gak mungkin salah. Karena Allah
Maha Benar. Dan hanya aturan yang bersumber dari Allah saja yang benar. Allah juga
Maha Adil. Jangan harap bisa mendapatkan keadilan dari aturan yang dibuat oleh
akal manusia. Keadilan itu hanya ada di sisi Allah. Kalo pengen keadilan, ya
pake aturan Allah, bukan yang lain.
Well,
masalah banjir dan bencana lainnya gak sekedar bencana. Tapi teguran dari Allah
karena kita udah semakin jauh dari Allah. Bukan karena kita jarang sholat,
jarang ngaji, shodaqoh atau yang lain. Tapi, karena kita enggan pake aturan
Allah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Telah nampak kerusakan di darat
dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan
kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali
(ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum [30] : 41)
Saatnya Revolusi Islam!
Saatnya Revolusi Islam!
Wallahu
‘alam bi ash shawaab
Khairunnisa,
January 27th 2014.08:34 AM. Tiba-tiba dingin.







