Allah azza wa jalla berfirman :
“ Wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang
keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan
laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang
dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu).
bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”. (TQS. An Nuur [24]: 26)
Ayat di atas seharusnya jadi
peringatan untukku dan untuk siapa saja yang menginginkan pendamping hidup.
Apalagi yang menginginkan pendamping hidup satu untuk selamanya. Sesuai
pengalaman, ayat di atas benar adanya. Karena memang Allah yang membuatnya, Dzat
Yang Maha Benar.
Kita akan mendapatkan pendamping hidup
yang tidak berbeda jauh dengan kita. Karakter, kebiasaan dan sebagainya. Bagi
siapa saja yang bermimpi mendapatkan seorang Pangeran, maka ia harus bisa
menjadi seorang Puteri. Dan siapa saja yang bermimpi untuk mendapatkan seorang
Raja, maka ia harus bisa menjadi Ratu. Karena cerita Cinderella hanyalah
dongeng belaka.
Sebagai seorang Muslim, kita patut
berhati-hati. Jodoh itu adalah takdir yang bisa diusahakan. Jika kita berusaha
melayakkan diri di hadapan Allah, maka Allah juga akan memberi yang layak di
hadapanNya. Dan sebaliknya, jika kita menyepelekan Allah, maka Allah juga akan
memberi yang serupa.
Bagi seorang pengemban dakwah
ideologis, jangan bermimpi mendapatkan pasangan yang sama ideologis jika tidak
berusaha untuk menjadi ideologis di hadapan Allah. Jika selalu berusaha untuk
terikat dengan hukum syara’ secara kaaffah, maka Allah pun akan memberikan yang
demikian. Jika selalu berusaha untuk menjaga diri, maka Allah juga akan
memberikan pasangan yang serupa.
Seseorang yang senantiasa melayakkan
diri di hadapan Allah dengan mengikatkan dirinya kepada hukum Allah secara
sempurna dan bersungguh menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi
laranganNya pasti akan bersama dengan orang yang serupa. Jadi, jodoh itu
sebenarnya bisa dipilih dan diusahakan. Jika sudah dipertemukan, maka itulah
qadha atau takdir dari Allah.
Pertanyaannya, jodoh seperti apa yang
kita inginkan? Dan sudahkah kita merefleksikan jodoh impian kita itu dalam diri
kita? Jika sudah, refleksi seperti apa yang sudah kita lakukan? Semua
jawabannya ada di diri kita masing-masing.
Belajar dari pengalaman orang-orang di
sekitar, maka seharusnya aku berhati-hati. Tidak hanya aku, tapi Anda dan kita
semua. Karena kegagalan dalam hidup itu disebabkan kesalahan dalam memilih.
Jadi, berhati-hatilah dalam memilih. Saya bukan bermaksud menyindir. Tetapi,
saat ini banyak sekali yang terserang kegalauan hanya karena mimpi-mimpi yang
menyakitkan seperti itu. Bahkan mereka yang sudah paham Islam terkadang bingung
dengan gambaran jodoh yang mereka inginkan. Sekali lagi, tujuan itu penting.
Jika jodoh yang kita tuju adalah sosok ideal, maka seharusnya kita pun seperti
itu. Meski tidak mungkin mencapai kesempurnaan, tetapi adanya usaha menunjukkan
kesungguhan kita untuk berjalan ke arah sana. Tujuan akan menentukan semuanya.
Jadi, silahkan bertanya lagi pada diri sendiri, sudahkah jodoh yang layak di
hadapan Allah itu menjadi tujuan atau sekedar keinginan? Jika itu memang
tujuan, maka layakkan diri. Jika tidak, maka singkirkan keinginan itu. Kejarlah
tujuan lain yang lebih pasti untuk diraih daripada hanya sekedar mimpi-mimpi
yang melahirkan kata-kata galau dan mengundang kembali masa lalu yang
berpeluang menjadi racun dengan bantuan syaithan.
Bagi yang belum menikah, jagalah diri
Anda karena sistem saat ini akan selalu berusaha untuk menjerumuskan Anda.
Jagalah diri Anda dengan berusaha untuk terikat dengan hukum Allah secara
sempurna. Jika Anda sudah layak di hadapan Allah, maka Allah pasti akan
memberikan yang serupa. Insya Allah.
Malang, November 24th 2012
No comments:
Post a Comment