Thursday, November 15, 2012

CINTA ATAU TAKUT?

Saya teringat kisah sewaktu masih SMP dulu. Waktu itu ada diskusi di kelas. Saya lupa itu mata pelajaran apa. Seingat saya bukan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Salah seorang teman saya melontarkan pertanyaan kepada kelompok penyaji, “Anda beribadah kepada Tuhan karena cinta atau karena takut?”

Waktu itu kelompok saya memang bukan kelompok penyaji, namun pertanyaannya menggelitik kepala saya. Memaksa otak saya bekerja mencari jawabannya. Seperti detektif, saya memutar otak bagaimana menjawab pertanyaannya. Ditambah lagi dia bukan seorang Muslim maka saya berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat untuk dijadikan kalimat. Ya, pada waktu itu saya menjawab. Namun, bukan dengan jawaban yang pas. Menurut saya penyebabnya karena saya waktu itu belum memiliki pemahaman yang utuh sehingga jawaban saya terkesan mengambang. Saya sendiri pun waktu itu meragukan jawaban saya.

Dan seiring dengan berjalannya waktu, Allah pun memberikan jawabannya. Setelah belajar dan berusaha memahami, saya akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Karena saya adalah seorang Muslim, maka sudah seharusnya saya menyimpulkan dengan kacamata Islam.

Dalam Islam, rasa cinta kepada Allah dan rasa takut adalah dua hal yang saling bersinergi. Rasa cinta lahir dari keimanan dan buahnya adalah ketaatan. Ketaatan itu diwujudkan dalam bentuk ibadah. Saat rasa cinta itu memancar karena keimanan, maka rasa takut akan mengiringinya secara otomatis.
Allah berfirman:

“… Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (TQS. Al Baqarah [2]: 165)

Dalam ayat lain Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,…” (TQS. Al Anfal [8]: 2)

Dari Anas ra., sesungguhnya Nabi saw. bersabda:

“Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya; orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah; dan orang yang tidak suka kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke Neraka”. (Mutafaq ‘Alaih)

Ketika seseorang telah beriman kepada Allah dan RasulNya, maka bukti cintanya adalah ketaatan yang diwujudkan dengan ibadah. Ibadah di sini bukan dalam hal spiritual semata. Tapi juga dalam segala hal yang mencakup urusan kehidupannya. Maka, ia akan selalu berusaha untuk mengikat dirinya agar sesuai dengan aturan Allah (syari’at). Dan saat melakukan kewajibannya itu, muncullah rasa takut dalam dirinya. Karena ia yakin bahwa ia selalu diawasi oleh Rabbnya. Ia sadar bahwa kewajiban untuk bertakwa itu ada karena dorongan keimanan. Dan takwa itu akan berkorelasi dengan rasa takut.

Allah swt berfirman:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu” (TQS. An Nisa [4]: 1)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku”. (TQS. Al Maidáh [5]: 44)

Seorang Muslim yang memahami eksistensinya sebagai makhluk Allah swt pasti akan menyertakan rasa takut dalam kehidupannya. Ia akan merasa takut untuk bermaksiat meskipun sedang sendirian karena ia takut pada ancaman Allah di hari kemudian, ia takut dilemparkan ke dalam Neraka sehingga rasa takutnya itu mendorong untuk selalu mengerjakan amal shalih. Ia pun sadar bahwa waktunya terbatas dan ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk menghadap Rabbnya karena ia sadar bahwa Allah bisa memanggilnya sewaktu-waktu tanpa ada seorang manusia pun yang tahu.  Maka, rasa cintanya itu bersinergi dengan rasa takut yang lahir dari keimanan. Selain itu, ada satu lagi perasaan yang juga akan muncul bersama rasa cinta dan rasa takut tadi, yakni perasaan berharap kepada Allah.

Karena cinta, seorang Muslim akan senantiasa tunduk dan taat kepada Allah. Ia juga selalu merasa takut dan berhati-hati dalam mengerjakan sebuah perbuatan. Dalam hal ibadah kepada Allah pun ia bersungguh-sungguh untuk mengerjakannya karena takut ibadahnya tidak diterima dan disaat yang sama ia juga berharap kepada Allah agar Allah menerima ibadahnya.

Luar biasanya Islam yang tidak hanya menjelaskan bagaimana menggunakan akal untuk beriman tetapi juga bagaimana mengarahkan hati agar merasakan hal yang berkorelasi dengan keimanan itu. Merasakan tiga hal sekaligus dalam satu waktu karena adanya keimanan yang diperoleh melalui proses berfikir. Ya, karena kepribadian itu dibangun oleh pola pikir dan pola jiwa. Dan hanya Islam yang memiliki konsep khas tentang kepribadian itu. Tertarik? Yuk, mengubah kepribadian menjadi kepribadian Islam dengan mengkaji Islam ^_^

Wallahu ‘alam bi ash shawwáb.

Malang, 15 November 2012
Hujan baru saja berhenti

*Sumber : Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyyah

No comments:

Post a Comment