Waktu itu kelompok saya memang
bukan kelompok penyaji, namun pertanyaannya menggelitik kepala saya.
Memaksa otak saya bekerja mencari jawabannya. Seperti detektif, saya
memutar otak bagaimana menjawab pertanyaannya. Ditambah lagi dia bukan
seorang Muslim maka saya berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat
untuk dijadikan kalimat. Ya, pada waktu itu saya menjawab. Namun, bukan
dengan jawaban yang pas. Menurut saya penyebabnya karena saya waktu itu
belum memiliki pemahaman yang utuh sehingga jawaban saya terkesan
mengambang. Saya sendiri pun waktu itu meragukan jawaban saya.
Dan seiring dengan berjalannya
waktu, Allah pun memberikan jawabannya. Setelah belajar dan berusaha
memahami, saya akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Karena saya adalah
seorang Muslim, maka sudah seharusnya saya menyimpulkan dengan kacamata
Islam.
Dalam Islam, rasa cinta kepada
Allah dan rasa takut adalah dua hal yang saling bersinergi. Rasa cinta
lahir dari keimanan dan buahnya adalah ketaatan. Ketaatan itu diwujudkan
dalam bentuk ibadah. Saat rasa cinta itu memancar karena keimanan, maka
rasa takut akan mengiringinya secara otomatis.
Allah berfirman:
“… Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah” (TQS. Al Baqarah [2]: 165)
Dalam ayat lain Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka,…” (TQS. Al Anfal [8]: 2)
Dari Anas ra., sesungguhnya Nabi saw. bersabda:
“Ada tiga perkara, siapa
saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang
mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya; orang yang
mencintai seseorang hanya karena Allah; dan orang yang tidak suka
kembali kepada kekufuran sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke
Neraka”. (Mutafaq ‘Alaih)
Ketika seseorang telah beriman
kepada Allah dan RasulNya, maka bukti cintanya adalah ketaatan yang
diwujudkan dengan ibadah. Ibadah di sini bukan dalam hal spiritual
semata. Tapi juga dalam segala hal yang mencakup urusan kehidupannya.
Maka, ia akan selalu berusaha untuk mengikat dirinya agar sesuai dengan
aturan Allah (syari’at). Dan saat melakukan kewajibannya itu, muncullah
rasa takut dalam dirinya. Karena ia yakin bahwa ia selalu diawasi oleh
Rabbnya. Ia sadar bahwa kewajiban untuk bertakwa itu ada karena dorongan
keimanan. Dan takwa itu akan berkorelasi dengan rasa takut.
Allah swt berfirman:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu” (TQS. An Nisa [4]: 1)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku”. (TQS. Al Maidáh [5]: 44)
Seorang Muslim yang memahami
eksistensinya sebagai makhluk Allah swt pasti akan menyertakan rasa
takut dalam kehidupannya. Ia akan merasa takut untuk bermaksiat meskipun
sedang sendirian karena ia takut pada ancaman Allah di hari kemudian,
ia takut dilemparkan ke dalam Neraka sehingga rasa takutnya itu
mendorong untuk selalu mengerjakan amal shalih. Ia pun sadar bahwa
waktunya terbatas dan ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk
menghadap Rabbnya karena ia sadar bahwa Allah bisa memanggilnya
sewaktu-waktu tanpa ada seorang manusia pun yang tahu. Maka,
rasa cintanya itu bersinergi dengan rasa takut yang lahir dari
keimanan. Selain itu, ada satu lagi perasaan yang juga akan muncul
bersama rasa cinta dan rasa takut tadi, yakni perasaan berharap kepada
Allah.
Karena cinta, seorang Muslim
akan senantiasa tunduk dan taat kepada Allah. Ia juga selalu merasa
takut dan berhati-hati dalam mengerjakan sebuah perbuatan. Dalam hal
ibadah kepada Allah pun ia bersungguh-sungguh untuk mengerjakannya
karena takut ibadahnya tidak diterima dan disaat yang sama ia juga
berharap kepada Allah agar Allah menerima ibadahnya.
Luar biasanya Islam yang tidak hanya
menjelaskan bagaimana menggunakan akal untuk beriman tetapi juga
bagaimana mengarahkan hati agar merasakan hal yang berkorelasi dengan
keimanan itu. Merasakan tiga hal sekaligus dalam satu waktu karena
adanya keimanan yang diperoleh melalui proses berfikir. Ya, karena
kepribadian itu dibangun oleh pola pikir dan pola jiwa. Dan hanya Islam
yang memiliki konsep khas tentang kepribadian itu. Tertarik? Yuk,
mengubah kepribadian menjadi kepribadian Islam dengan mengkaji Islam ^_^
Wallahu ‘alam bi ash shawwáb.
Malang, 15 November 2012
Hujan baru saja berhenti
*Sumber : Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyyah
No comments:
Post a Comment