Thursday, November 15, 2012

BERBAHAGIALAH ORANG-ORANG TERASING

Tulisan ini saya buat untuk menyemangati tim saya pada khususnya dan untuk seluruh pengemban dakwah yang memperjuangkan tegaknya Islam di bawah naungan Khilafah pada umumnya. 
Pasti kita sudah tidak asing lagi dengan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut”. 
Menurut Ad Darimi, Ibnu Majah, Ibnu Abu Syaibah, al Bazzar, Abu Ya’la dan Ahmad, al Ghuroba atau orang-orang yang terasing adalah orang-orang yang terpisah dari kabilahnya. Atau singkatnya orang yang berbeda dengan kebanyakan orang. Merekalah orang-orang yang istimewa itu.
Nah, ciri-ciri al Ghuroba ada lima yang paling bisa diidentifikasi ada beberapa, yakni:
1.      Senantiasa melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak.
Diriwayatkan oleh Umar bin Auf bin Zaid bin Milhah al Mazani ra. Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya agama (ini) akan terhimpun dan berkumpul menuju Hijaz layaknya terhimpun dan terkumpulnya ular menuju liangnya, dan sungguh (demi Allah) agama (ini) akan ditahan (untuk pergi) dari Hijaz sebagaimana (ditahannya) panji (yang merupakan tempat kembali dimana kaum Muslim kembali padanya) dari puncak gunung. Sesungguhnya agama ini muncul pertama kali dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing. Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang telah dirusak oleh manusia setelahku”. (HR. Abu Issa berkata, “Hadist ini Hasan) 
Al Ghuroba dalam hadist di atas bukanlah para shahabat karena mereka datang setelah ada manusia yang merusak metode kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah saw. sedangkan para shahabat tidak merusak metode kehidupan Rasulullah saw dan metode tersebut belum rusak di zaman Rasulullah saw.
2.      Jumlahnya sedikit.
Beberapa waktu yang lalu ketika saya mengikuti sebuah training, disana disampaikan bahwa orang-orang istimewa itu jumlahnya pasti sedikit. Ibarat pemain sepak bola yang bermain di lapangan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan supporternya. Begitu pula dengan al Ghuroba.  
Sekarang ini lebih gampang mengajak orang nonton konser musik daripada ke majelis ilmu. Pas konser Super Junior dan SM Town kemarin, antriannya sampai penuh dan para fans *yang rata-rata adalah perempuan* sampai rela tidur di tempat penjualan tiket. Pemandangan yang sangat kontras dengan kajian mingguan di kampus saya. Suatu hal yang luar biasa jika pesertanya di atas 10.

Ahmad ath Thabrani dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah saw. lalu beliau bersabda:
“Akan datang suatu kaum pada hari kiamat kelak. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abu Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bukan, dan khusus untuk kalian ada kebaikan yang banyak. Mereka adalah orang-orang fakir dan orang-orang yang berhijrah dan berkumpul dari seluruh pelosok bumi”. Kemudian beliau bersabda, “Kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing”. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang terasing itu?” Beliau SAW. bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih diantara kebanyakan manusia yang buruk. Dimana orang yang menentang mereka lebih banyak daripada yang menaatinya.” (Al Haitsami berkata hadits ini dalam al Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih)
3.      Mereka adalah Kaum yang Beraneka Ragam

Al hakim meriwayatkan dalam al Mustadrak, ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya meski tidak dikeluarkan oleh al Bukhari dan Muslim.” Dari Ibnu Umar ra., ia berkata; Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang buka para nabi dan syuhada. Para Nabi dan syuhada pun ber-ghibthah pada mereka di hari kiamat karena kedekatan mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Kemudian seorang Arab Badui (yang ada di tempat Rasulullah berbicara) duduk berlutut, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka dan uraikanlah keadaan mereka kepada kami!” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah sekelompok manusia beraneka ragam, yang terasing dari kabilahnya. Mereka berteman di jalan Allah, saling mencintai karena Allah. Allah akan membuat mimbar-mimbar dari cahaya bagi mereka di hari kiamat. Orang-orang merasa takut tapi mereka tidak takut. Mereka adalah kekasih Allah yang tidak memiliki rasa takut (pada selain Allah) dan mereka tidak bersedih”.
4.      Mereka Saling Mencintai dengan “Ruh” Allah

Yang dimaksud dengan “Ruh Allah” adalah syariat Nabi Muhammad saw. Maksudnya, perkara yang menjadi pengikat diantara mereka adalah ideologi (mabda’) Islam, bukan yang lainnya. Mereka tidak diikat oleh ikatan yang lain, baik ikatan nasab, ikatan kekerabatan, ikatan kemaslahatan, atau kemanfaatan duniawi.
Abu Dawud mengeluarka hadits dengan para rawi yang terpercaya, dari Umar bin al Khathab ra., ia berkata; Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang buka para nabi dan syuhada. Para Nabi dan syuhada pun ber-ghibthah pada mereka di hari kiamat karena kedekatan mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami siapa mereka itu?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan “ruh” Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan rahim dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama-sama. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. mereka tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia bersedih”. Kemudian Rasululah membacakan firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunya rasa takut (pada selain Allah) dan tidak bersedih”. 

5.      Mereka Memperoleh Kedudukan Mulia Tanpa Menjadi Syuhada

Hal ini dikarenakan dalam hadits dikatakan para syuhada tergiur oleh mereka. Tapi, ini tidak berarti mereka lebih utama dari para Nabi dan syuhada. Melainkan kedudukan itu hanyalah semata-mata menunjukkan keistimewaan mereka. Keistimewaan itu tidak menjadikan mereka lebih utama dari para Nabi dan syuhada.
Ath-Thabrani meriwayatkan dalam al Kabir dengan sanad yang baik dan perawinya terpercaya menurut al Haitsami. Dari Abu Malik al Asy’ary, ia berkata; Suatu ketika aku ada di dekat Nabi saw, kemudian turunlah firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu”. (TQS. Al Maidah [5]: 101)
Abu Malik berkata, maka kami bertanya kepada Rasulullah ketika beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bukan para nabi dan syuhada. Tapi para nabi dan syuhada tergiur oleh mereka karena dekatnya kedudukan mereka dari Allah di hari kiamat”.
Abu Malik berkata, diantara orang-orang yang ada pada saat itu ada seorang Arab pedalaman, kemudian ia duduk berlutut dan menahan dengan kedua tangannya, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang mereka, siapa mereka itu?” Abu Malik berkata; aku melihat wajah Rasulullah menengok ke sana kemari (mencari orang yang bertanya). Kemudian beliau bersabda:
“Mereka adalah hamba-hamba Allah dari negeri yang berbeda-beda dan dari berbagai suku bangsa yang berasal dari berbagai rahim; tapi mereka tidak mempunyai hubungan rahim (senasab) yang menjadi penyebab mereka saling menyambungkannya (silaturahim) karena Allah. Mereka tidak memiliki harta untuk saling memberi. Mereka saling mencintai dengan (ikatan) “ruh” Allah. Allah menjadikan wajah mereka menjadi cahaya. mereka memiliki mimbar-mimbar di hadapan ar Rahmán. Manusia terkaget-kaget tapi mereka tidak. Ketika manusia merasa takut, mereka tidak.

Itulah beberapa ciri-ciri al Ghuroba menurut hadist Rasulullah saw. Mereka istimewa karena kedudukan mereka di sisi Allah. Mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Seperti firmanNya:

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya…” (TQS. Al Bayyinah [98]: 7)
Wallahu ‘alam bi ash shawaab

Malang, 15 November 2012
Menjelang Ashar

*Sumber : Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah

No comments:

Post a Comment