Tulisan ini saya buat untuk menyemangati tim
saya pada khususnya dan untuk seluruh pengemban dakwah yang
memperjuangkan tegaknya Islam di bawah naungan Khilafah pada umumnya.
Pasti kita sudah tidak asing lagi dengan
hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra.
Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Islam muncul pertama kali dalam keadaan
terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka
berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut”.
Menurut Ad Darimi, Ibnu Majah, Ibnu Abu
Syaibah, al Bazzar, Abu Ya’la dan Ahmad, al Ghuroba atau orang-orang
yang terasing adalah orang-orang yang terpisah dari kabilahnya. Atau
singkatnya orang yang berbeda dengan kebanyakan orang. Merekalah
orang-orang yang istimewa itu.
Nah, ciri-ciri al Ghuroba ada lima yang paling bisa diidentifikasi ada beberapa, yakni:
1. Senantiasa melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak.
Diriwayatkan oleh Umar bin Auf bin Zaid bin Milhah al Mazani ra. Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda :
“Sesungguhnya agama (ini) akan terhimpun
dan berkumpul menuju Hijaz layaknya terhimpun dan terkumpulnya ular
menuju liangnya, dan sungguh (demi Allah) agama (ini) akan ditahan
(untuk pergi) dari Hijaz sebagaimana (ditahannya) panji (yang merupakan
tempat kembali dimana kaum Muslim kembali padanya) dari puncak gunung.
Sesungguhnya agama ini muncul pertama kali dalam keadaan asing dan akan
kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing.
Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunnahku yang telah dirusak oleh
manusia setelahku”. (HR. Abu Issa berkata, “Hadist ini Hasan)
Al Ghuroba dalam hadist di atas bukanlah para
shahabat karena mereka datang setelah ada manusia yang merusak metode
kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah saw. sedangkan para shahabat tidak
merusak metode kehidupan Rasulullah saw dan metode tersebut belum rusak
di zaman Rasulullah saw.
2. Jumlahnya sedikit.
Beberapa waktu yang lalu ketika saya
mengikuti sebuah training, disana disampaikan bahwa orang-orang istimewa
itu jumlahnya pasti sedikit. Ibarat pemain sepak bola yang bermain di
lapangan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan supporternya. Begitu
pula dengan al Ghuroba.
Sekarang ini lebih gampang mengajak orang
nonton konser musik daripada ke majelis ilmu. Pas konser Super Junior
dan SM Town kemarin, antriannya sampai penuh dan para fans *yang
rata-rata adalah perempuan* sampai rela tidur di tempat penjualan tiket.
Pemandangan yang sangat kontras dengan kajian mingguan di kampus saya.
Suatu hal yang luar biasa jika pesertanya di atas 10.
Ahmad ath Thabrani dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah saw. lalu beliau bersabda:
“Akan datang suatu kaum pada hari kiamat
kelak. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari. Abu Bakar berkata,
“Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Bukan,
dan khusus untuk kalian ada kebaikan yang banyak. Mereka adalah
orang-orang fakir dan orang-orang yang berhijrah dan berkumpul dari
seluruh pelosok bumi”. Kemudian beliau bersabda, “Kebahagiaan bagi
orang-orang yang terasing, kebahagiaan bagi orang-orang yang terasing”.
Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang terasing itu?” Beliau
SAW. bersabda, “Mereka adalah orang-orang shalih diantara kebanyakan
manusia yang buruk. Dimana orang yang menentang mereka lebih banyak
daripada yang menaatinya.” (Al Haitsami berkata hadits ini dalam al
Kabir mempunyai banyak sanad. Para perawinya shahih)
3. Mereka adalah Kaum yang Beraneka Ragam
Al hakim meriwayatkan dalam al Mustadrak, ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya meski tidak dikeluarkan oleh al Bukhari dan Muslim.” Dari Ibnu Umar ra., ia berkata; Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah
mempunyai hamba-hamba yang buka para nabi dan syuhada. Para Nabi dan
syuhada pun ber-ghibthah pada mereka di hari kiamat karena kedekatan
mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Kemudian seorang
Arab Badui (yang ada di tempat Rasulullah berbicara) duduk berlutut,
seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskanlah sifat mereka dan
uraikanlah keadaan mereka kepada kami!” Rasulullah saw. bersabda,
“Mereka adalah sekelompok manusia beraneka ragam, yang terasing dari
kabilahnya. Mereka berteman di jalan Allah, saling mencintai karena
Allah. Allah akan membuat mimbar-mimbar dari cahaya bagi mereka di hari
kiamat. Orang-orang merasa takut tapi mereka tidak takut. Mereka adalah
kekasih Allah yang tidak memiliki rasa takut (pada selain Allah) dan
mereka tidak bersedih”.
4. Mereka Saling Mencintai dengan “Ruh” Allah
Yang dimaksud dengan “Ruh Allah” adalah syariat Nabi Muhammad saw. Maksudnya, perkara yang menjadi pengikat diantara mereka adalah ideologi (mabda’) Islam, bukan yang lainnya. Mereka tidak diikat oleh ikatan yang lain, baik ikatan nasab, ikatan kekerabatan, ikatan kemaslahatan, atau kemanfaatan duniawi.
Abu Dawud mengeluarka hadits
dengan para rawi yang terpercaya, dari Umar bin al Khathab ra., ia
berkata; Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya Allah
mempunyai hamba-hamba yang buka para nabi dan syuhada. Para Nabi dan
syuhada pun ber-ghibthah pada mereka di hari kiamat karena kedekatan
mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Para Sahabat
berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami siapa mereka
itu?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling
mencintai dengan “ruh” Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan
rahim dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama-sama. Demi
Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. mereka
tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia
bersedih”. Kemudian Rasululah membacakan firman Allah, “Ingatlah
sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunya rasa takut (pada
selain Allah) dan tidak bersedih”.
5. Mereka Memperoleh Kedudukan Mulia Tanpa Menjadi Syuhada
Hal ini dikarenakan dalam hadits dikatakan para syuhada tergiur oleh mereka. Tapi, ini tidak berarti mereka lebih utama dari para Nabi dan syuhada. Melainkan kedudukan itu hanyalah semata-mata menunjukkan keistimewaan mereka. Keistimewaan itu tidak menjadikan mereka lebih utama dari para Nabi dan syuhada.
Ath-Thabrani meriwayatkan
dalam al Kabir dengan sanad yang baik dan perawinya terpercaya menurut
al Haitsami. Dari Abu Malik al Asy’ary, ia berkata; Suatu ketika aku ada
di dekat Nabi saw, kemudian turunlah firman Allah :
“Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika
diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu”. (TQS. Al Maidah [5]: 101)
Abu Malik berkata, maka kami bertanya kepada Rasulullah ketika beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah
memiliki hamba-hamba yang bukan para nabi dan syuhada. Tapi para nabi
dan syuhada tergiur oleh mereka karena dekatnya kedudukan mereka dari
Allah di hari kiamat”.
Abu Malik berkata, diantara
orang-orang yang ada pada saat itu ada seorang Arab pedalaman, kemudian
ia duduk berlutut dan menahan dengan kedua tangannya, seraya berkata,
“Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang mereka, siapa
mereka itu?” Abu Malik berkata; aku melihat wajah Rasulullah menengok ke
sana kemari (mencari orang yang bertanya). Kemudian beliau bersabda:
“Mereka adalah
hamba-hamba Allah dari negeri yang berbeda-beda dan dari berbagai suku
bangsa yang berasal dari berbagai rahim; tapi mereka tidak mempunyai
hubungan rahim (senasab) yang menjadi penyebab mereka saling
menyambungkannya (silaturahim) karena Allah. Mereka tidak memiliki harta
untuk saling memberi. Mereka saling mencintai dengan (ikatan) “ruh”
Allah. Allah menjadikan wajah mereka menjadi cahaya. mereka memiliki
mimbar-mimbar di hadapan ar Rahmán. Manusia terkaget-kaget tapi mereka
tidak. Ketika manusia merasa takut, mereka tidak.
Itulah beberapa ciri-ciri al
Ghuroba menurut hadist Rasulullah saw. Mereka istimewa karena kedudukan
mereka di sisi Allah. Mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai
mereka. Seperti firmanNya:
“Balasan mereka di sisi
Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan
merekapun ridha kepadanya…” (TQS. Al Bayyinah [98]: 7)
Wallahu ‘alam bi ash shawaab
Malang, 15 November 2012
Menjelang Ashar
*Sumber : Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah
No comments:
Post a Comment