Hingga saat ini di tengah-tengah umat banyak bermunculan kelompok-kelompok yang menyerukan perubahan dan mengklaim sedang berjuang mengembalikan kebangkitan umat. Namun, alih-alih mampu memimpin perubahan hakiki, kelompok-kelompok tersebut justru larut dalam aktivitas-aktivitas pragmatis dan parsial. Bahkan tak jarang aktivitas yang mereka lakukan menambah persoalan umat dan kian menjauhkan umat dari kebangkitan.
Kegagalan
kelompok-kelompok tersebut dalam membangkitkan umat sesungguhnya
merupakan hal yang wajar. Pasalnya, mereka tak memahami bahwa falsafah
kebangkitan hakiki ada pada ideologi. Rata-rata mereka tampil dengan
landasan yang lemah dan tidak sahih serta dengan platform yang tidak jelas. Misalnya kelompok-kelompok yang tegak atas asas jam’iyah
(keormasan) yang fokus pada aktivitas sosial atau kelompok kepartaian
yang tegak di atas asas politik semu yang hanya fokus pada soal rebutan
kekuasaan.
Ideologilah
yang seharusnya diemban dan diperjuangkan oleh kelompok penggagas
perubahan. Jika umat benar-benar mengingin-kan perubahan hakiki, maka
kehadiran kelompok ideologis di tengah-tengah mereka memang mutlak diperlukan.
Kelompok Ideologis, Seperti Apa?
Sebuah kelompok bisa dikatakan sebagai kelompok ideologis jika dibangun atas dasar ideologi tertentu, yang menggabungkan antara fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode menerapkan pemikiran) secara terpadu. Yang dimaksud fikrah adalah pemikiran mendasar tentang dunia dan bagaimana mengaturnya. Dengan demikian di dalam fikrah tercakup aspek keyakinan (akidah) dan berbagai aspek yang terkait dengan pengaturan kehidupan, termasuk solusi-solusi atas berbagai masalah yang dihadapi (problem solving). Adapun thariqah mencakup bagaimana metode memperjuangkan fikrah, menerapkannya, mempertahankan dan menyebarkan ideologi tersebut hingga eksis dan lestari.
Sebuah
kelompok ideologis akan tampil sebagai kelompok yang berpengaruh,
dinamis dan maju serta layak memimpin perubahan jika kelompok ini
memiliki kejelasan dan konsistensi atas ideologi yang ia emban, baik
dari sisi fikrah maupun thariqah-nya. Kelompok ini juga harus menjadikan ideologi dan pemikiran yang ia adopsi sebagai dasar ikatan bagi para pengembannya.
Jika
prasyarat tersebut dipenuhi, sebuah kelompok ideologis akan mampu
mengartikulasi perasaan dan pemikiran umat terkait persoalan kehidupan
mereka, sekaligus memberikan solusi yang sahih atasnya. Mereka
juga akan memahami falsafah perubahan hakiki yang membimbing
perjuangannya membangkitkan umat. Falsafah tersebut adalah adanya
pemahaman terhadap realitas masyarakat yang bobrok, pemahaman mengenai
bentuk kehidupan (konstruksi) masyarakat yang ideal yang seharusnya
diwujudkan, serta bagaimana road map/peta jalan perubahan yang harus ditempuh. Semua
ini harus masuk akal dan argumentatif sehingga umat percaya bahwa
perubahan yang digagas kelompok tersebut adalah niscaya, bukan khayalan
semata.
Hanya
saja, umat perlu dipahamkan, bahwa perubahan hakiki yang akan
mengantarkan umat pada kemuliaannya hanya mungkin diraih dengan ideologi
Islam. Sebab, Islamlah satu-satunya akidah sahih yang melahirkan
peraturan bagi seluruh urusan dan mampu memberikan pemecahan bagi
seluruh masalah kehidupan dengan pemecahan yang benar dan mendasar.
Islam pun memiliki metode yang tetap bagi pengimplementasian seluruh
aturannya dalam kehidupan, serta bagi penjagaan eksistensi ideologinya
dan penyebaran ideologi tersebut ke seluruh dunia.
Umat juga harus dipahamkan, bahwa tanpa adanya perubahan ideologis yang didasarkan pada Islam, maka sebagaimana
yang tampak hari ini, upaya perubahan hanya akan berjalan tanpa arah
bahkan berakhir sia-sia, karena keberadaan kelompoknya pun bisa jadi
hanya disandarkan pada figuritas, kepentingan sesaat, ikatan yang lemah
dan aktivitas murahan yang tak berpengaruh terhadap perubahan
masyarakat.
Hizbut Tahrir Sebagai Kelompok Ideologis
Hizbut
Tahrir sudah eksis di dunia Islam selama enam dekade. Sejak awal, Hizb
didirikan dengan karakternya sebagai kelompok ideologis. Hizb menjadikan
ideologi Islam sebagai satu-satunya landasan, tolok ukur sekaligus
nyawa bagi perjuangannya. Hizb meyakini, bahwa problem utama umat Islam
hingga kehilangan jatidirinya sebagai khayru ummah adalah
penerapan sekularisme, atau ketiadaan penerapan aturan Islam dalam
seluruh aspek kehidupan akibatnya hilangnya institusi politik penerap
syariah dan pemersatu umat, yakni Daulah Khilafah.
Hizb juga meyakini, bahwa satu-satunya cara mengembalikan kemuliaan umat adalah kembali pada Islam dengan mewujudkan Khilafah yang akan menerapkan aturan Islam secara kaffah. Itulah mengapa, aktivitas dakwah Hizb kental bernuansa politis dan bersifat revolusioner (inqilabiyah); mengarah pada perubahan total masyarakat, yakni perubahan sistem, bukan berkutat
pada seruan-seruan perubahan parsial dan pragmatis atau sekadar fokus
pada pergantian rezim sebagaimana kelompok-kelompok lain. Karena itu,
gagasan “Islam sebagai solusi” atau gagasan “penegakkan syariah dan
Khilafah” seolah menjadi ikon bagi dakwah Hizb dimana pun berada.
Sebagai sebuah kelompok ideologis, Hizb telah menetapkan berbagai fikrah mutabannah (pemikiran yang diadopsi) yang merupakan master plan bagi
perubahan masyarakat yang Hizb gagas, yakni berupa pemikiran-pemikiran
terkait syariah dan konstruksi Khilafah dalam bentuk yang sangat clear, detil dan argumentatif yang hanya berlandaskan Islam saja. Master plan
tersebut antara lain berupa rancang bangun yang bersifat praktis dan
konstruktif terkait berbagai aspek pengaturan masyarakat seperti sistem
pemerintahan Islam, struktur negara Khilafah, sistem ekonomi Islam,
sistem pergaulan Islam, sistem politik ekonomi Islam, sistem keuangan
negara Khilafah, sistem sanksi dan pembuktian dalam Islam, sistem
pendidikan Islam, politik luar negeri, dsb. Bahkan Hizb telah
mempersiapkan Dustur (UUD) yang siap diaplikasikan jika Khilafah yang diperjuangkan tegak dengan izin Allah. Seluruh pemikiran yang menjadi master plan ini bisa juga dikatakan sebagai “software” yang disiapkan Hizb bagi tegaknya masyarakat Islam.
Adapun terkait metode perjuangan, Hizb sudah menetapkan jalan perubahan (road map)
yang jelas dan lurus yang hanya merujuk pada metode Rasulullah saw.
yang berkarakter politis, yang memfokuskan dakwahnya untuk meraih
kepemimpinan melalui jalur umat (thariqah ummah/qaidah sya’biyah) dan dukungan ahlun-nushrah (pemilik
kekuasaan real di tengah-tengah umat, seperti militer, dll) tanpa
kekera-san. Caranya adalah dengan fokus pada upaya
internalisasi/peleburan ideologi melalui dakwah pemikiran (fikriyah) di tengah-tengah umat.
Ideologi
Islam menjadi satu-satunya pengikat bagi para kader dakwah Hizb yang
keseluruhannya Muslim, yang telah dengan ikhlas bergabung semata-mata
karena dorongan ruhiah dan sikap qana’ah akan argumentasi atas ide-ide yang ia emban. Dengan dukungan sistem pembinaan yang mapan dan tanzhim (manajemen) dakwah yang kuat, para syabab dan syabah Hizb mampu tampil sebagai kader-kader dakwah yang berkarakter unggul (ber-syakhshiyah islamiyah) yang siap menjadi harisan aminan lil Islam (para penjaga yang terpercaya bagi Islam), solid, menjadi qudwah dalam kebaikan. Dengan begitu mereka siap memimpin umat, dimana pun dan seberapa pun pengorbanan yang harus diberikan.
Hizb: Pelopor Perubahan Hakiki
Hizb
secara total terjun ke tengah-tengah umat melewati tahapan-tahapan
dakwahnya. Hizb terus konsisten berjalan menentang arus untuk membangun
kesadaran akan kewajiban dan urgensi perubahan hakiki dan kepemimpinan
Islam di tengah umat. Hizb juga terus melakukan aktivitas yang mengarah
pada pembentukan kepemimpinan umat dan penerapan syariah. Semua itu
dilakukan melalui aktivitas tatsqif murakazah dan jama’i (pembinaan intensif dan umum), shira’ al-fikr (menyerang pemikiran-pemikiran kufur), kasyf al-khuthath (menyingkap makar musuh dan topeng para penguasa komprador) dan al-kifah as-siyasi (melakukan
perjuangan politik untuk melawan penjajahan baik dalam ekonomi,
politik, militer maupun budaya, mengungkap strategi-strateginya,
membongkar persekong-kolannya untuk membebaskan umat dari genggamannya).
Hizb juga aktif melakukan tabanni mashalih al-ummah (mengadopsi berbagai kemaslahatan ummat) dengan selalu hadir di tengah-tengah umat sebagai problem solver bagi persoalan-persoalan mereka dengan pemecahan yang mendasar dengan menjadikan Islam sebagai acuan satu-satunya.
Adanya konsistensi terhadap ideologi yang sahih serta terhadap master plan dan road map
yang telah ditetapkan sekaligus dukungan dari kader-kader dakwah yang
mumpuni telah menjadi ‘ruh’ keberlangsungan dakwah Hizb di tengah-tengah
umat. Kini dakwah Hizb terus mendapat sambutan. Hizb terus
eksis, bahkan tumbuh dan berkembang di berbagai tempat hingga melewati
batas-batas politik dan sekat-sekat imajiner bernama negara-bangsa. Pada
akhirnya, Hizb dan umat siap membentuk koneksi ‘semangat dan kesadaran yang sama’ untuk
melakukan perubahan secara mendasar dan menyeluruh dengan ideologi
Islam dan menyatukan diri secara politik di bawah satu kepemimpinan
politik Islam, yakni Khilafah. Gagasan-gagasan ini bahkan nyaris menjadi mainstream perubahan
ideologis di tengah-tengah masyarakat yang senyatanya telah gagal
dimuliakan oleh sistem buatan manusia, yakni sosialisme dan
sekularisme-kapitalisme. Wajar jika Hizb dengan brand image-nya sebagai kelompok dakwah yang ideologis, politis, syar’i,
cerdas, non-kekerasan dan percaya diri akhirnya mampu tampil sebagai
satu-satunya kelompok ideologis yang bisa berhadapan langsung, face to face, dengan negara-negara kafir imperialis dan diperhitungkan sebagai musuh utama ideologi kufur yang sedang eksis.
Dengan demikian, sejalan dengan interaksi-nya di tengah-tengah masyarakat, pelan
namun pasti, Hizb telah berhasil merintis adanya prasyarat-prasyarat
utama yang harus dipenuhi untuk melahirkan perubahan revolusioner, yakni
berupa: (1) hadirnya visi perubahan yang kuat di tengah umat; (2)
adanya kelompok kuat yang melakukan kerja kolektif dalam menggagas,
mendesain dan memproses perubahan; (3) adanya kesadaran umum (wa’yu al-‘aam) tentang Islam ideologi yang sedikit demi sedikit akan berubah menjadi opini umum (ra’yu al-‘am) tentangnya, serta adanya kesadaran politik (wa’yu as-siyaasi) yang benar berdasarkan Islam; (4) adanya dukungan ahlul-quwwah atau ahlun-nushrah sebagai pemilik kekuasaan real dan representasi umat kepada Hizb sebagaimana realitas dakwah Rasul saw.
Khatimah
Meski hingga hari ini Hizb belum berhasil mewujudkan tujuannya, yakni tegaknya
Islam dalam naungan Khilafah, bisa dikatakan bahwa posisi Hizb sudah
berada di tahap kedua menuju tahap akhir perjuangannya. Di berbagai
tempat, Hizb sudah tampil sebagai kelompok yang diharapkan akan mampu
memimpin umat dengan karakternya yang khas sebagai kelompok ideologis
dan politis.
Munculnya
seruan-seruan syariah dan Khilafah di tengah-tengah umat dalam
perbincangan harian mereka, dalam muktamar-muktamar yang mereka
selenggarakan, dalam aksi-aksi demo mereka, bahkan dalam kancah revolusi
yang massif terjadi di sebagian wilayah mereka menunjukkan bahwa Hizb
telah hadir bersama mereka. Bahkan Hizb dengan penuh tanggung jawab
terus mengawal arah perubahan agar tetap fokus pada perubahan
sesungguhnya, tak terbelokkan oleh kepentingan sesaat dan tak terjebak
oleh upaya penyesatan yang dilakukan musuh-musuh Islam. Hizb juga terus
memastikan bahwa loyalitas umat dan kalangan ahlul-quwwah serta ahlun-nushrah
hanya siap diberikan untuk Islam dengan memberikan kesadaran umum di
tengah mereka tentang kelayakan Islam sebagai jalan hidup yang
menyelamatkan; tidak hanya di dunia, tetapi di akhirat.
Hizb meyakini bahwa pencapaian tujuan perjuangan dengan turunnya nashrulLah adalah hak prerogatif Allah SWT. Kewajiban Hizb hanyalah memaksimalkan seluruh upaya dengan menempuh seluruh kaidah sababiyah yang ia yakini berdasarkan ilmu dan keimanan yang akan dapat menghantarkan pada tahap akhir perjuangan.
WalLahu a’lam bi ash-shawwab.SOURCE : http://hizbut-tahrir.or.id/2012/06/06/peran-kelompok-ideologis-dalam-perubahan/
No comments:
Post a Comment