Sunday, June 10, 2012

JALAN BARU INTELEKTUAL: VISI PEMBEBAS GENERASI


Miris dan menyedihkan. Mungkin itu yang kita rasakan saat melihat suguhan tentang berbagai kerusakan yang menimpa generasi bangsa saat ini. Di berbagai media, kerapkali ditampilkan tentang penyalahgunaan narkoba, tawuran, konser-konser musik yang menghambur-hamburkan uang dan sering diiringi dengan kebrutalan, miras, kehidupan campur-baur, eksploitasi, mengumbar aurat hingga seks bebas yang hampir semua dilakukan oleh generasi muda. Bahkan, saat merayakan kelulusan SMA pun, para pelajar meluapkannya dengan tindakan tak terpuji. Aksi corat-coret baju seragam, bahkan ada sebagian siswi perserta konvoi ada yang beraksi dengan menyobek rok dan baju seragamnya sambil memperlihatkan auratnya dengan penuh kebanggaan.
Potret buram generasi saat ini merupakan buah sistem Kapitalisme yang telah mendominasi dunia secara global termasuk negeri-negeri Muslim. Kapitalisme mencengkram seluruh lini kehidupan termasuk dalam sistem pendidikan. Pendidikan dalam sistem Kapitalisme telah menjadikan Sekulerisme (memisahkan agama dengan kehidupan) sebagai dasar bangunan sistem pendidikan. Dasar inilah yang akhirnya memposisikan agama hanya sebatas perkara ritual dan moral semata yang cukup diajarkan hanya 2 jam dalam seminggu. Jika di universitas, pelajaran pendidikan agama hanya diajarkan 3 SKS dalam satu semester.
Sistem pendidikan ini juga mengusung HAM (Hak Asasi Manusia), yaitu pemahaman kebebasan penuh bagi manusia dalam memilih agama/keyakinan yang dianut atau bahkan tidak memilih untuk berkeyakinan sama sekali, mengeluarkan pendapat dengan standar benar-salah/baik-buruk dengan akal manusia, berperilaku secara bebas mengumbar hawa nafsu atas nama kebebasan berekspresi dan kebebasan memiliki segala sesuatu yang diinginkan termasuk menzhalimi yang lemah. Semuanya ditanamkan pada level pendidikan. Kapitalisme juga telah memposisikan pendidikan sebatas menghasilkan produk tenaga kerja dengan nama daya saing untuk mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Lalu, apa bedanya kita dengan jungle fish? Bersaing hanya untuk sekedar survive? Maka wajarlah, jika output pendidikan Kapitalis hanyalah tenaga-tenaga kerja terdidik dan pintar secara akademik yang bisa digaji dengan biaya rendah tanpa kepribadian unggul. Mereka seperti robot yang bisa diprogram dan berjalan sesuai dengan keinginan majikannya. Merekalah yang kemudian akan menjadi obat pemanjang umur bagi industri-industri Kapitalis di sisi lain mereka membiarkan bangsa mereka tetap terpuruk hingga hancur dan saat mereka sadar, semua sudah hilang. Mereka hanya akan menjadi generasi terjajah. Tanpa kepribadian, mereka hanyalah orang-orang yang mengagungkan kebebasan tanpa batas, individualis tanpa empati, hedonis tanpa tanggungjawab dan hanya berorientasi kepada eksistensi diri dan keuntungan materi. Just it.
Namun, jika kita ingin sedikit menilik sejarah, di masa lalu kita akan menemukan nama-nama luar biasa yang mencetuskan ilmu pengetahuan dari mengukir peradaban gemilang. Semua pasti mengenal nama-nama seperti Ibnu Sina, Ibnu al Firnas, Al


Khawarizmi, Imam Syafi’i, dsb. Mereka tidak hanya ahli di bidangnya tetapi mereka juga sangat taat kepada Rabb-nya. Ilmu pengetahuan dijadikan sarana untuk semakin mendekatkan diri mereka kepada Allah swt. Sangat kontras dengan potret generasi saat ini. Apalagi, Indonesia dengan jumlah Muslim terbesar, namun generasinya malu mengakui identitas mereka sebagai seorang Muslim. Sementara di belahan bumi lain, ribuan saudara-saudara mereka sesama Muslim berteriak memanggil mereka, berteriak dengan lantang menentang tirani penguasa di negeri mereka. Sementara itu, di Indonesia, generasi muda justru bangga dengan membebek kepada negara-negara kafir nan sekuler. Mereka menjadikan artis sebagai idola dan panutan. Mereka melupakan bahwa sebaik-baik suri teladan hanya Muhammad saw. Mereka dihimpit kegalauan dan hanya mengisikan kata-kata galau dalam akun jejaring sosial mereka.
Sungguh sangat mengenaskan generasi muda Muslim saat ini. Mereka kehilangan arah, mereka kehilangan tujuan hidup mereka. Mereka lupa bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa, tonggak keberlangsungan sejarah peradaban. Sangat berbeda dengan para cendekiawan dan intektual Islam yang pernah diceritakan dalam sejarah.
Maka jika Kapitalisme adalah sumber petaka, adakah jalan lain yang mampu membebaskan generasi ini dari cengkramannya? Jawabannya, ada. Islam.
Islam memandang bahwa menuntut ilmu adalah hak asasi. Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.” Dalam hadis lain dikatakan, “Jadilah kamu sebagai orang yang alim atau orang yang menuntut ilmu atau sebagai orang yang mendengarkan (ilmu) atau yang cinta terhadap (ilmu), akan tetapi janganlah kalian menjadi orang yang kelima (orang bodoh), nanti kalian akan binasa.” Atas dasar itulah, maka tak heran jika pada zaman kekhilafahan muncul universitas-universitas besar berkelas internasional seperti Al Azhar, dan Cordoba dengan mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Islam dengan sistem Khilafah tidak membuka satupun jalan bagi kebodohan untuk merasuki rakyat yang ada di dalam naungannya.
Maka sebagai seorang Muslim, tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan sistem ini karena Khilafah berasal dari Allah swt dan telah menjadi kabar gembira dari Rasulullah. Untuk itu, sudah saatnya intelektual menyatukan pikiran untuk mengganti sistem saat ini yang telah terbukti melahirkan generasi yang jauh dari kepribadian istimewa (Islam) dan sistem yang hanya membuat bangsa ini semakin terpuruk. Sudah saatnya pula intelektual bangkit, bersatu dan bergerak dalam rangka mengembalikan Khilafah, sistem yang terbukti mampu melahirkan generasi cemerlang dan mengukir peradaban gemilang. Dan karena Khilafah adalah sebuah janji yang telah diberikan oleh Allah swt dan kabar gembira dari Rasulullah saw. Wahai kaum intelektual, apa yang kalian tunggu?
Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.









No comments:

Post a Comment