Miris dan
menyedihkan. Mungkin itu yang kita rasakan saat melihat suguhan tentang
berbagai kerusakan yang menimpa generasi bangsa saat ini. Di berbagai media,
kerapkali ditampilkan tentang penyalahgunaan narkoba, tawuran, konser-konser
musik yang menghambur-hamburkan uang dan sering diiringi dengan kebrutalan,
miras, kehidupan campur-baur, eksploitasi, mengumbar aurat hingga seks bebas
yang hampir semua dilakukan oleh generasi muda. Bahkan, saat merayakan kelulusan
SMA pun, para pelajar meluapkannya dengan tindakan tak terpuji. Aksi
corat-coret baju seragam, bahkan ada sebagian siswi perserta konvoi ada yang
beraksi dengan menyobek rok dan baju seragamnya sambil memperlihatkan auratnya
dengan penuh kebanggaan.
Potret buram
generasi saat ini merupakan buah sistem Kapitalisme yang telah mendominasi
dunia secara global termasuk negeri-negeri Muslim. Kapitalisme mencengkram
seluruh lini kehidupan termasuk dalam sistem pendidikan. Pendidikan dalam
sistem Kapitalisme telah menjadikan Sekulerisme (memisahkan agama dengan
kehidupan) sebagai dasar bangunan sistem pendidikan. Dasar inilah yang akhirnya
memposisikan agama hanya sebatas perkara ritual dan moral semata yang cukup
diajarkan hanya 2 jam dalam seminggu. Jika di universitas, pelajaran pendidikan
agama hanya diajarkan 3 SKS dalam satu semester.
Sistem
pendidikan ini juga mengusung HAM (Hak Asasi Manusia), yaitu pemahaman
kebebasan penuh bagi manusia dalam memilih agama/keyakinan yang dianut atau
bahkan tidak memilih untuk berkeyakinan sama sekali, mengeluarkan pendapat
dengan standar benar-salah/baik-buruk dengan akal manusia, berperilaku secara
bebas mengumbar hawa nafsu atas nama kebebasan berekspresi dan kebebasan
memiliki segala sesuatu yang diinginkan termasuk menzhalimi yang lemah.
Semuanya ditanamkan pada level pendidikan. Kapitalisme juga telah memposisikan
pendidikan sebatas menghasilkan produk tenaga kerja dengan nama daya saing
untuk mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Lalu, apa bedanya kita dengan jungle fish? Bersaing hanya untuk
sekedar survive? Maka wajarlah, jika output pendidikan Kapitalis hanyalah
tenaga-tenaga kerja terdidik dan pintar secara akademik yang bisa digaji dengan
biaya rendah tanpa kepribadian unggul. Mereka seperti robot yang bisa diprogram
dan berjalan sesuai dengan keinginan majikannya. Merekalah yang kemudian akan
menjadi obat pemanjang umur bagi
industri-industri Kapitalis di sisi lain mereka membiarkan bangsa mereka tetap
terpuruk hingga hancur dan saat mereka sadar, semua sudah hilang. Mereka hanya
akan menjadi generasi terjajah. Tanpa kepribadian, mereka hanyalah orang-orang
yang mengagungkan kebebasan tanpa batas, individualis tanpa empati, hedonis
tanpa tanggungjawab dan hanya berorientasi kepada eksistensi diri dan keuntungan
materi. Just it.
Namun, jika
kita ingin sedikit menilik sejarah, di masa lalu kita akan menemukan nama-nama
luar biasa yang mencetuskan ilmu pengetahuan dari mengukir peradaban gemilang. Semua
pasti mengenal nama-nama seperti Ibnu Sina, Ibnu al Firnas, Al
Khawarizmi, Imam Syafi’i, dsb.
Mereka tidak hanya ahli di bidangnya tetapi mereka juga sangat taat kepada Rabb-nya. Ilmu pengetahuan dijadikan
sarana untuk semakin mendekatkan diri mereka kepada Allah swt. Sangat kontras
dengan potret generasi saat ini. Apalagi, Indonesia dengan jumlah Muslim
terbesar, namun generasinya malu mengakui identitas mereka sebagai seorang
Muslim. Sementara di belahan bumi lain, ribuan saudara-saudara mereka sesama Muslim
berteriak memanggil mereka, berteriak dengan lantang menentang tirani penguasa
di negeri mereka. Sementara itu, di Indonesia, generasi muda justru bangga
dengan membebek kepada negara-negara
kafir nan sekuler. Mereka menjadikan artis sebagai idola dan panutan. Mereka
melupakan bahwa sebaik-baik suri teladan hanya Muhammad saw. Mereka dihimpit
kegalauan dan hanya mengisikan kata-kata galau dalam akun jejaring sosial
mereka.
Sungguh sangat
mengenaskan generasi muda Muslim saat ini. Mereka kehilangan arah, mereka
kehilangan tujuan hidup mereka. Mereka lupa bahwa mereka adalah generasi
penerus bangsa, tonggak keberlangsungan sejarah peradaban. Sangat berbeda
dengan para cendekiawan dan intektual Islam yang pernah diceritakan dalam
sejarah.
Maka jika
Kapitalisme adalah sumber petaka, adakah jalan lain yang mampu membebaskan
generasi ini dari cengkramannya? Jawabannya, ada. Islam.
Islam
memandang bahwa menuntut ilmu adalah hak asasi. Rasulullah saw bersabda: “Menuntut
ilmu wajib bagi setiap Muslim.” Dalam hadis lain dikatakan, “Jadilah
kamu sebagai orang yang alim atau orang yang menuntut ilmu atau sebagai orang
yang mendengarkan (ilmu) atau yang cinta terhadap (ilmu), akan tetapi janganlah
kalian menjadi orang yang kelima (orang bodoh), nanti kalian akan binasa.”
Atas dasar itulah, maka tak heran jika pada zaman kekhilafahan muncul
universitas-universitas besar berkelas internasional seperti Al Azhar, dan Cordoba
dengan mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Islam dengan sistem Khilafah
tidak membuka satupun jalan bagi kebodohan untuk merasuki rakyat yang ada di
dalam naungannya.
Maka sebagai
seorang Muslim, tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan sistem ini karena
Khilafah berasal dari Allah swt dan telah menjadi kabar gembira dari
Rasulullah. Untuk itu, sudah saatnya intelektual menyatukan pikiran untuk mengganti
sistem saat ini yang telah terbukti melahirkan generasi yang jauh dari
kepribadian istimewa (Islam) dan sistem yang hanya membuat bangsa ini semakin
terpuruk. Sudah saatnya pula intelektual bangkit, bersatu dan bergerak dalam
rangka mengembalikan Khilafah, sistem yang terbukti mampu melahirkan generasi
cemerlang dan mengukir peradaban gemilang. Dan karena Khilafah adalah sebuah
janji yang telah diberikan oleh Allah swt dan kabar gembira dari Rasulullah
saw. Wahai kaum intelektual, apa yang kalian tunggu?
Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.
No comments:
Post a Comment