Tuesday, December 31, 2013

Malam Minggu Ditri

Setelah sekian lama gak posting,alhamdulillah bisa posting lagi di blog tercintah :D Hmm kali ini seperti judulnya, saya akan membahas tentang malam minggu. But, why so sudden? Tumben-tumbennya ya saya bahas masalah beginian? Saya aja gak ngerti hehe. Gak ding, pembahasan ini bukan tanpa maksud. Gak mungkinlah saya nulis sesuatu yang useless.
Ya, mungkin kesannya tiba-tiba. Iyalah, seorang Ditri tiba-tiba bikin postingan sendu nan melankolis begini? Kayaknya besok mau kiamat ya? Haha, gak juga. Postingan ini saya buat karena beberapa hal. Yang pertama, semalam saya home alone ditinggal mudik sama semua teman kontrakan. Jadilah saya hanya sendiri di kontrakan bertemankan speedy :D Tapi, alhamdulillah seorang bule cantik dari Vietnam bersedia menemani saya tadi malam jadinya gak sepi-sepi banget *apalagi diputerin lagu bahasa Vietnam, Oh My!* Kedua, karena ternyata malam Minggu itu masih jadi sesuatu yang gimanaa gitu di kalangan orang-orang dengan status jomblo. Termasuk para pengemban dakwah ideologis. Saya jadi mikir, apa segitunya ya malam Minggu? Perasaan selama saya jadi jomblo, dari lahir sampai sekarang, malam Minggu ya sama aja dengan malam-malam yang lain. Meskipun penyebutannya agak gimanaa gitu. Cuma kadang kalo lagi kesepian *kayak tadi malam* saya ngirim SMS iseng aja ke beberapa teman yang saya tahu banget kegombalannya tingkat berapa.

Realita malam Minggu emang ternyata masih menjadi malam yang spesial. Saya gak kebayang aja ntar yang jomblo-jomblo itu kalo udah pada nikah juga akhirnya malmingan sama kekasih halalnya. Ya, gapapa sih. Saya gak iri kok. Cumaa, kalo itu pengemban dakwah rasanya agak gimanaa gitu. Okelah, dulu nih jaman saya masih SD *jaman kapan ya?* emang malam Minggu itu adalah malam paling membahagiakan. Kenapa? Karena besoknya sekolah libur. Yeah, jadi bisa tidur larut malem, mantengin tipi sampe bosen trus besoknya nonton kartun dan supersentai :D Tapi, seiring dengan berjalannya waktu ya akhirnya sama aja malam Minggu atau bukan. 
Last but not least, malam Minggu sebenarnya sama kok dengan malam-malam yang lain. Banyak hal yang bisa dilakukan meskipun jomblo. Jadi, gak usah deh lebay-lebay sampe apdet status segala karena kesepian. Life still goes on, so just let it flow~ 
Lagian nih ya, hari Minggu itu kan harinya kaum pagan dan hari ibadah agama Nasrani. Kalo kaum Muslimin mah tiap hari sama aja, kecuali hari Jumat. Kalo itu emang spesial karena banyak barokah di sana. Alhamdulillah, malam Minggu kemarin saya tidak sendirian. Ditemani bule cantik dari Vietnam, che Lyn. Kam en, chi *haha
So, say no to galau pas malming. Pengemban dakwah gak pantes mah. Apalagi pengemban dakwah ideologis. Musuh kita di depan mata, so don't let your guard down :)

Wrote at December 29th 2013. Edited at December 31th.


Saturday, December 28, 2013

Distance

I look the sky
And see you in the distance
Your face seems so bright
As if nothing happens

You've gone
And it makes our distance become longer
But it's a relief
Because you're going to His side

Eventhough it seems so soon
Asking why so sudden
Just make everything useless
I should accept it sincerely

Now, you're not here anymore
But your memories stand still
Even the time goes by
Those memories will be forever

I'm crying
See you leaving
Hope we'll meet
In His Most Beautiful Place

I learn a lot from you
That this world
is just a journey
that taking us back to Him

Hope I can be strong like you
who fight till the end
Till He takes you back
on His side


Teruntuk ukhti Yunila Yura. Eventhough we never met before, let me say goodbye. Hope you reach the most beautiful place by His side.

271213.

Thursday, December 19, 2013

My Guardian Prince

Hari ini. Aku bersyukur padaNya yang telah mengirimmu ke kehidupaku, ke kehidupan kami. Satu per satu pertanyaan terjawab mengapa kau ada. 
Dulu, aku selalu menganggapmu sebagai musibah. Bencana. Punya adik laki-laki itu menyebalkan. Karena semua anak laki-laki pasti begitu. Nakal, menyebalkan, suka mengganggu, bikin nangis, dll. 
Masih terbayang jelas bayangan kita di masa kecil. Betapa kau sangat nakal dan suka mengganggu. Semakin aku berteriak, kau akan semakin bersemangat menggangguku. Jika kau sakit, aku yang sering kena marah Mama. Bapak juga sangat menyayangimu. Kakek juga begitu. Kenapa? Karena kau laki-laki satu-satunya. Dulu aku berpikir enaknya punya kakak laki-laki daripada adik laki-laki. Mending punya adik perempuan. 
Kadang aku membenci kelakuanmu. Kau selalu dapat pembelaan. Kadang aku juga iri, kau selalu mendapatkan semua pertama kali. Kepercayaan, barang-barang. Dan parahnya kau dulu sangat pelit. Dipinjam bentar aja gak boleh. Mana cueknya minta ampun. Kalo sama yang lain aja baik, tapi sama kakaknya haduuh harus ngemis dulu baru dapat. 
Ya, that’s you. Prince Kerupuk. Tapi, saat aku jauh, aku merasa kehilangan. Karena seiring dengan berjalannya waktu, kau tidak lagi menjadi anak kecil yang nakal dan suka mengganggu. Kau tumbuh menjadi seorang anak yang beranjak dewasa. Dan disitulah rasa syukurku perlahan membesar.
Ketika Islam menyentuh hidupku, aku benar-benar merasa tertolong dengan keberadaanmu. Ketika harus pergi ke tempat yang jauh entah untuk halqoh atau dakwah dan yang lain, kau selalu ada untuk mengantarku meski awalnya harus ngomel dulu. Aku senang saat kita berpapasan dengan salah seorang sahabatmu ketika kau akan mengantarku sebelum pergi ke sekolah.
"Im, ayo!," katanya.
"Iya, gue nyusul. Gue mau nganterin Kakak gue dulu", balasmu.
Mungkin itulah yang membuat teman-temanmu sering menyebutku sebagai kakak durhaka karena aku hampir tidak pernah memperhatikanmu. Padahal, mungkin saja kau sangat memperhatikanku meski kau tidak pernah menampakkannya. 
Ya, sampai nanti ketika aku bertemu dengan pasangan hidupku, kaulah yang akan menjadi pangeran penjagaku. Karena aku tidak bisa selalu berharap pada Bapak seperti dulu saat masih SD atau SMP. 
Aku takkan pernah lupa saat kau mengirimkan pesan.
"Lebaran pulang gak?"
"Kenapa, kangen aku ya?"
"Gak, pengen ngumpul aja"
Kau tau, rasanya seperti jalan diatas jembatan pelangi. Aku senang sekali. Setelah sekian lama akhirnya kau mengirimkan pesan. Mungkin karena jarak yang jauh. 
Kau banyak berubah. Semoga kau berubah menjadi lebih baik lagi, adikku. Karena kaulah harapanku di masa depan. Menjadi pemimpin bagi kami, kakak-kakak dan ibumu. Meski sekarang semua sudah tak sama lagi. Teruslah menjadi pangeran penjaga bagi kami. 
Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu, tidak hanya di hari ini tetapi hari-hari selanjutnya. Semoga kau kelak mendapatkan hidayah untuk menjadi pejuang agamaNya bersama-sama lagi seperti dulu. Aku, Kau dan Kakak. 
Wish u all the best, bro. Love you in Allah <3
*Special for my younger brother, Ibrahim Fantri Teddy Kurniawan.

Malang, December 19th 2013

Thursday, December 12, 2013

Freedom is (Never) Free

Polwan pengen berjilbab. Akhir-akhir ini berita tersebut santer, khususnya di dunia maya. Sebenarnya saya sendiri sudah tahu dari beberapa waktu sebelumnya. Tapi ternyata ini bukan peristiwa biasa. Entah mungkin saat ini perasaan kaum Muslimin semakin kuat ke arah Islam ataukah memang karena hijab lagi trend *eh
Mengenai penggunaan kerudung bagi polwan sudah disampaikan oleh Kapolri bahwa itu hak asasi, jadi jika ingin menggunakan ya silahkan. Tetapi, tidak seperti Kapolri, Wakapolri justru mengatakan bahwa jika polwan ingin berkerudung ke Aceh aja sana, pindah tugas. Hmm, seolah-olah yang diwajibkan berkerudung hanya muslimah Aceh saja. Atau lebih picik lagi hanya muslimah timur tengah. Hadeh, tepok jidat deh sama orang-orang model begini. Batas teritorial menentukan hukum syara’ yang dipake. Besok-besok bisa jadi haji gak wajib karena kita jauh dari Arab Saudi. Hellow, Allah itu Pencipta dan Pengatur bukan justru diatur hukumnya seenak jidat elu pade. 
Namanya Muslimah, auratnya itu sudah jelas. Coba aja lihat pas sholat, semua tertutup kecuali wajah dan telapak tangan, seperti nash dari Rasulullah SAW.
"Sesungguhnya seorang gadis jika sudah haidh tidak layak terlihat darinya kecuali wajah dan tangannya sampai pergelangan tangannya" (HR. Abu Dawud)
Kemudian Allah SWT sudah berfirman dalam surat An Nuur ayat 31
"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya"
Tidak hanya itu. Ketika seorang muslimah ke luar rumah, mereka wajib berjilbab. 
Allah SWT berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 59
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka"
Hendak di sini bukan dalam bahasa Indonesia yang artinya anjuran. Tetapi sebuah kewajiban sama halnya dengan sholat. So, dosa kalo seorang muslimah keluar rumah tanpa jilbab dan kerudung. 
Nah, lucunya, terkait polwan yang pengen banget berkerudung *baru kerudung lho ya. Jilbabnya belum* orang-orang yang mengusung HAM dan gender kok gak ada yang koar-koar sekeras biasanya ya? Biasanya kan kalo ada diskriminasi perempuan atau ada hak-hak yang terabaikan mereka langsung koar-koar. KDRT koar-koar, poligami koar-koar, warisan koar-koar lagi, dsb. Nah, pas mau taat sama Allah kok malah bungkam? 
Lalu, mana kebebasan yang mereka usung? Benarkah Democrazy bener-bener melindungi kebebasan? Lantas, kebebasan seperti apa sih yang mereka maksud? Pada kenyataannya, freedom is (never) free.
Ketika Islam mengatur, bukan berarti Islam mengekang kebebasan. Islam justru mengarahkan agar kebebasan yang diinginkan tidak malah belok sampai kebablasan seperti sekarang ini.
Beware. Because freedom is (never) free.

Wallahu ‘alam bi ash shawwab

Healing Day. December 12th 2013.

Kita (Masih) Sekuler?

Tulisan ini bukan untuk menyindir pihak tertentu. Ini lebih sebagai muhasabah bagi saya dan juga renungan bagi kita semua. Anggap saja ini bentuk cinta saya kepada semua saudara se-aqidah yang telah mengikrarkan diri menjadi pembela agama Allah dengan berdakwah, bukan sembarang dakwah. Dakwah dengan metode khas dan tujuan yang mulia, yakni mengembalikan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah.
Sekuler. Sebuah kata yang sudah tidak asing lagi di kalangan pengemban dakwah ideologis. Kenapa? Karena kata inilah yang menjadi dasar berdirinya ideologi Kapitalisme yang saat ini sedang duduk di singgasana kekuasaan dunia dengan Amerika Serikat sebagai pengembannya. Sekuler adalah memisahkan agama dengan kehidupan. Sekulerisme menihilkan peran agama dalam mengatur kehidupan bernegara dan ini yang sering sekali digaungkan di tengah-tengah umat, ditampakkan kebobrokan dan kecacatannya kemudian dikomparasikan dengan ideologi Islam. 
Namun, terkadang pemikiran ini masih menjangkiti pengemban dakwah ideologis yang justru membenci sekulerisme. Yah, memang tidak bisa dinafikkan sejak Khilafah runtuh, kita dididik dengan pola pendidikan sekuler. Maka, wajar memang jika masih ada sisa-sisa sekulerisme yang (mungkin) seringkali tidak kita sadari masih ada dalam benak kita. Makanya, kata musyrifah saya, kalo halqoh itu yang sungguh-sungguh. Karena sejatinya halqoh itu adalah nyawa. Halqoh yang memberi sumbangsih mabda dan karena mabda itulah kita bergerak (dakwah). Halqoh yang akan membersihkan benak kita dari pemikiran-pemikiran kufur yang kemudian diganti dengan pemikiran Islam.
Ketika halqoh atau rapat tim atau mungkin juga pada liqo’ dan training kita semangat. Namun, saat dihadapkan pada kenyataan dimana pemikiran Islam harus berbenturan dengan kenyataan, tidak sedikit yang kemudian loyo bahkan terkesan mati suri. DiSMS gak dibalas, ditelpon gak diangkat,diajak kontak sibuk dan 1001 jenis alasan lainnya. Saya juga tidak ingin serta merta menyalahkan karena memang pada kenyataannya kita terikat dengan kepentingan individu kita masing-masing, tetapi itu juga bukan legitimasi bahwa kita boleh untuk individualis. Memisahkan antara urusan individu dengan urusan dakwah. Bukankah sama saja itu sekuler? 
Berkoar-koar tentang bobroknya sekuler tetapi masih sering menganggap bahwa urusan dakwah dengan urusan individu adalah dua hal yang berbeda. Memahami bahwa dakwah sebagai poros tetapi masih sering terbawa perasaan dalam berdakwah. Ketika dakwah selalu berakhir dengan penolakan dan kegagalan akhirnya gak semangat lagi dakwahnya. Lebih semangat nyari kerjaan sambilan dan melakukan hobi yang lain yang sebenarnya bisa menunjang dakwah tapi tidak digunakan juga untuk dakwah. Merencanakan pernikahan full barokah tapi kadang dakwah juga lost. Akhirnya nyari aman. Dakwah via dunia maya tapi masih terjebak juga dengan celoteh yang tidak penting. 
Saya kembali teringat pesan salah seorang musyrifah saya yang lain. Beliau mengatakan bahwa pemikiran itu shahih jika sudah dibuktikan dengan ujian. Ketika ditimpa ujian apakah kita bertahan dengan mafhum itu ataukah justru banting setir dan menyerah dengan keadaan. Maka ikhlas dan sabar turut menyertainya *huhu, saya benar-benar tertabok*
Kemudian di kesempatan lain, seorang musyrifah saya yang lain lagi menyampaikan, sekeras apapun ujiannya, sesulit apapun kehidupan ini menghimpit, jangan pernah tinggalkan dakwah.
Last but not least, semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua dan menjadi lecutan untuk berfastabiqul khairaat menjadi yang terbaik dalam dakwah. Karena dakwah bukan sekedar jalan yang menjadikan kita terkenal di hadapan manusia atau mendapatkan harta, tahta dan wanita. Lebih dari itu. Dakwah adalah jalan hidup Nabi dan para shahabat. Dakwah pula yang menghantarkan para mujahid ke surga dan inilah yang kita kejar meski kita belum bisa menyamai amalan mereka. Kita ingin menjadi yang terbaik di sisiNya bukan karena apa atau siapa. Dakwah ini pula yang akan menghantarkan pada kembalinya kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah *in sya Allah*
Saya teringat *lagi* kutipan sebuah lagu
"Dari atas satu tanah tempat kita berpijak, teruslah bergerak, berhentilah mengeluh"

Wallahu ‘alam bi ash shawwaab

Healing day. December 12th 2013.

Thursday, December 05, 2013

Arigatou, Megu Chan ^^

Sampai aku selesai menulis tulisan ini, judulnya masih belum ada. Kenapa? Karena aku bingung, hehe. Ya, sudahlah nanti saja kalau sudah mau diposting baru kutulis judulnya.
Untuk seseorang yang ngambek karena namanya tidak kucantumkan dalam tulisanku beberapa waktu yang lalu. Maaf ya, bukan karena aku sengaja dan tidak menganggapmu penting tetapi, kategorinya lain.
Aku bukan orang yang supel. Tetapi, alhamdulillah Allah memberiku banyak teman yang menyayangiku. Meski kehidupanku tidak sesempurna bayangan kebanyakan orang. Yah, begitulah hidup. Karena Allah Maha Adil, terkadang ada hal yang kita punya dan tidak dimiliki orang lain begitu pun sebaliknya.
Aku dikaruniai banyak adik. Adik kandungku sebenarnya cuma satu. Tetapi, aku punya banyak adik unofficial. Salah satunya, kamu. Aku masih ingat saat kau SMS dan mengabarkan akan mengunjungiku setelah lombamu selesai di Surabaya. Dan benar saja, kau melakukannya. Aku tidak membayangkan betapa capeknya kau dan rekan setimmu seharian dan kalian akhirnya datang ke tempatku berada. Malam itu aku sangat senang. Meskipun kita tidak banyak bercerita karena aku tahu kau pasti sangat capek. Tetapi, kau sudah punya pengalaman bukan? Jadi, tidak akan nyasar kalo ke sini untuk kedua kalinya :D
Malam itu kau juga memberitahuku nama barumu, Nafizah Hikari. Dan aku bilang, nama Hikari itu sudah terlalu mainstream. Lalu aku menambahkan nama baru, yaitu Megumi yang artinya anugerah. Daripada Chidori yang gak ada artinya, hehe. Jadilah namamu Nafizah Megumi. Aku menyebutnya Megu saja untuk menyingkatnya. Semoga kau tidak lupa dengan nama pemberianku. 
Saking terlalu banyak kenangan, aku lupa kapan tepatnya kita berkenalan. Aku hanya ingat waktu itu kau ikut Rohis sewaktu SMA. Dan alhamdulillah sekarang kau lebih militan dari yang bisa kubayangkan.
Semangat terus, Dek. Jangan pernah berhenti berjuang. Masa depan kampus ada di tangan kalian *padahal bentar lagi lulus :D* Kalian masih punya banyak kesempatan untuk beramal. Terima kasih karena telah mengizinkan Kakakmu yang lumayan bandel ini untuk belajar dari kalian yang lebih muda. Terima kasih juga karena sudah jadi fansku padahal sebenarnya aku biasa saja *haha geernya gue*
Senang rasanya melihat kalian tumbuh menjadi akhwat yang membanggakan. Doaku beserta kalian, adik-adikku. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan.

Widyaloka. December 5th 2013.

*Special For Nafeeza Megumi Gianizzari. Makasih buat hadiahnya. Harusnya dikasih langsung. Gak mau tau pokoknya dikirimin *eh :P

Wednesday, December 04, 2013

KTM-ku

Pukul 15.45 saya bergegas hendak sholat Ashar. Tiba-tiba ada dua orang teman, yang satu teman seangkatan, yang satu adik tingkat. Ketika saya berlalu di depan mereka, teman seangkatan saya langsung mencegat.

"Dit, Dit, pinjem KTMnya dong. Ini nih dia mau nyalon jadi DPM", katanya padaku sambil memandang ke arah adik tingkat itu.
"Iya Mbak, pinjem ya?", timpal adik tingkat saya kemudian.
Antara bingung, mau sholat Ashar atau menjelaskan saya cuma bisa bilang.
"Hah? KTM? Emmm, ntar ya mau sholat dulu", kata saya sambil ngibrit masuk ke gedung rektorat.

Suasana kampus saya memang lagi rame-ramenya kampanye untuk Pemira (Pemilu Raya, untuk memilih BEM Universitas dan DPM Universitas) serta Pemilwa untuk tataran fakultas. Nah, adik tingkat saya tadi sepertinya mau nyalon untuk DPM Fakultas.

Saya sih mau aja KTM saya dipinjam, tapi saya ingin kejelasan visi Si Calon. Ingin mengubah kampus tetapi memakai sistem yang sama, bukankah sama saja nyemplung ke dalam lubang yang sama? Parahnya ini bukan tidak sengaja tetapi sengaja. Okelah kalo mereka yang labelnya Nasionalis, dll. Tapi ternyata teman-teman yang backgroundnya pergerakan mahasiswa Islam pun ikut-ikutan tren memperbaiki kondisi lewat jalur sistem yang sebenarnya justru banyak membuat mereka terjebak dalam pragmatisme dan kompromi.

Sudah saatnya mainstream pergerakan mahasiswa berbelok arah. Banting setir kalo bahasa saya. Sistem Demokrasi inilah yang mengekang idealisme kita, para agen perubahan. Dan satu-satunya visi yang harus kita wujudkan adalah visi yang dapat mewujudkan perubahan hakiki, yakni perubahan yang berstandar pada kebenaran mutlak yakni dari Allah azza wa jalla.

Hmm, pada akhirnya ini jadi PR besar kita semua, khususnya teman-teman yang bergerak di dakwah kampus, especially gue yang bergerak ke teman-teman aktivis.
Saatnya kembali kepada Syariah di bawah naungan Khilafah.


Menjelang Maghrib diiringi rinai hujan. December 4th 2013.

Tuesday, December 03, 2013

Puisi Untuk Para Pejuang

Jalan ini begitu panjang, melelahkan dan berliku. Terkadang, kita butuh pohon untuk sekedar bersandar dan berteduh. Berhenti sejenak untuk mengatur langkah dan menarik nafas dalam-dalam untuk kembali berlari.
Puisi ini menjadi pengingat kala diri ini mulai letih dalam perjuangan dakwah menegakkan Khilafah

Jadilah akar yang gigih mencari air
menembus tanah yg keras
demi sebatang pohon

ketika pohon tumbuh berdaun rimbun
berdaun indah menampilkan keelokannya kepada dunia dan mendapatkan pujian

Lihatlah…
akar tetap berada di dalam kesunyian tersembunyi di balik tanah
itulah makna dari sebuah ketulusan dan keikhlasan
manusia yg memiliki perpaduan tulus, ikhlas, sabar dan tegar bagai akar
merekalah orang-orang yg mampu merubah zaman
merubah dunia, merubah warna zaman yg akan tetap hidup dan menghidupkan

Ingatlah saudara-saudaraku
jalan perjuangan selalu dirintis oleh orang-orang yang berilmu
dikerjakan oleh orang-orang yang ikhlas dan dimenangkan oleh orang-orang yang berani.

Pejuang sejati adalah mereka yang terus bertahan dan tetap bertahan dalam perjuangan ini
mereka akan selalu belajar dan belajar dari setiap masalah yang dihadapi
dari setiap momen yang dialami, hingga suatu hari..
ia mendapati dirinya telah berubah menjadi lebih sabar, lebih ikhlas dan lebih berani

Oleh karena itu, marilah kita singsingkan lengan baju,
kuatkan iman bulatkan tekad
bergeraklah terus tuk berjuang bersama
bagi tegaknya kembali izzul islam wal muslimin,
tegaknya kembali syariah dan khilafah..”

@ismailyusanto


—satu dari sekian puisi penyemangat yg paling sy kagumi —-

Monday, December 02, 2013

My Healing Journey

Nouryoku Shiken N3 menjadi ajang healing journey bagi saya. Alhamdulillah momentnya pas banget. Bukan bermaksud melarikan diri dari kenyataan. Karena manusia akan senantiasa diuji untuk membuktikan seberapa besar kadar keimanan mereka. Itu sudah sunnatullah. Bedanya, kalo orang Muslim ada pahala yang menanti. Sedangkan orang Non Muslim tidak. Tapi, beda lagi kalo ternyata setelah ujian itu dia masuk Islam.
Pergi sebentar untuk menyusun bekal saat kembali pulang adalah keinginan saya. Haha, untungnya ada Nouryoku Shiken. Jadinya bisa sekalian melepas penat. Dan ada beberapa hal yang sangat berkesan dari healing journey saya kemarin.
Pertama, ketika ujian akan dimulai. Saya tidak tahu, padahal ini yang ketiga kalinya saya ikut ujian tetapi ketika ujian akan dilangsungkan saya jadi gugup. Entah darimana perasaan itu. Selesai ujian barulah saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Saya kemudian membayangkan, untuk ujian mengetes kemampuan saja begini ketatnya, bagaimana nanti ketika seluruh manusia akan diadili untuk setiap amalnya di satu pengadilan yang sama? Pasti akan lebih ketat lagi. Saya teringat akan hafalan saya beberapa waktu yang lalu.
“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar”. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. (TQS. An Naba [78] : 38-39)
Hari penghisaban itu pasti akan terjadi. Seluruh manusia dari masa Nabi Adam as. Sampai manusia terakhir dari umat Rasulullah SAW. Akan dikumpulkan di hari yang sama. Maka sebenarnya apa yang kita tempuh saat ini adalah jalan menuju ke hari itu. Pertanyaannya, apa bekal yang sudah kita kumpulkan untuk menghadapi hari tersebut? Sungguh sangat tidak bijak ketika menghadapi ujian dengan putus asa. Karena sejatinya ujian untuk menguatkan dan mengembalikan kedekatan dengan Allah azza wa jalla. Galau itu manusiawi, tetapi bukan berarti menjadi legitimasi untuk menyerah pada hidup yang hanya sementara ini. Insya Allah dengan keyakinan akan hadir pertolongan dariNya, Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?(TQS. Al Ankabut [29] : 2)
Kedua, di sela-sela perjalanan saya, saya tidak sendiri. Ada sahabat-sahabat saya yang meskipun mereka jauh, mereka sangat peduli dan menyayangi saya. Rasa syukur yang tak terkira karena Allah menitipkan mereka untuk menyemangati saya. Meski saat ini semua yang ada di hadapan saya seolah menjadi hambatan bagi saya untuk berlari ke depan. Minna, hontou ni arigatou.
Dan saya teringat kata salah seorang teman saya. Bijaksana itu bukan tentang usia. Tetapi tentang bagaimana mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Begitu juga dengan apa yang saya alami. Saya masih terlalu lemah dan rapuh. Maka dengan ujian ini Allah ingin menjadikan saya lebih kuat dan mandiri. Dan yang lebih penting lagi, Allah ingin saya kembali mendekatiNya. Mungkin selama ini saya sering melupakanNya. Ujian ini adalah bentuk kasih sayangNya.
Ya Rabb, tiada kata yang lebih indah dari syukur yang tak terkira atas segala nikmat yang Engkau karuniakan, sekalipun saat kau memberi ujian, masih sering Engkau menyelipkan nikmat di sana. Maka benarlah firmanMu
“Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah kesulitan ada kemudahan” (TQS. Al Insyirah : 5-6)


With the rain. December 2nd 2013.