Pagi yang cerah tapi udaranya dingin.
Dengan nafas tersengal-sengal nyaris putus *lebay* saya melewati jalan ke
kampus yang sudah hampir 2 tahun ini saya lalui setiap hari. Pemandangannya
tidak berubah. Tetap saja seperti tahun-tahun lalu. Cuma ganti orang saja :D
Saya jadi paling ribet kalo harus kuliah
jam 7 pagi. Bukan karena saya tidak biasa bangun pagi tapi saya gak suka
buru-buru. Pertanyaannya, kenapa saya milih kuliah pagi? Sepertinya tidak usah
dijawab saja. Tidak penting dan memang bukan itu yang akan jadi pembahasan
saya. Seperti biasa, kalo kuliah pagi saya pasti berangkatnya ngebut *baca:
lari* dan pasti akan berakhir seperti di atas, ngos-ngosan sampai sesak nafas
pula. Yah, hitung-hitung olahraga.
Ngomong-ngomong soal pemandangan
lingkungan sekitar kampus saya, masih ada satu fenomena yang tidak berubah.
Mungkin orang-orang yang lewat berubah-ubah, tapi yang gak berubah adalah
berderetnya *sebenarnya saya agak risih menyebut istilah ini. Tapi ya sudahlah
biar yang baca jadi tersinggung. Saya kan gak ngajak ribut J*
pengemis di dekat gerbang masuk yang sering saya lewati, gerbang dekat Fakultas
Peternakan. Para pengemis itu rata-rata usianya sudah lanjut. Antara iba dan
kere, saya pun ngasih seadanya. Gerbang itu emang gak pernah sepi tapi banyakan
yang gak ngasih. Semua pada sibuk sama BB-nya. Eh gak ding, Galaxy-nya. Yah,
begitulah fakta mahasiswa abad 21. Nah, pertanyaannya kemanakah anak-anak para
pengemis tadi? Bukannya anak wajib berbakti sama orang tua ya? Kok orang tuanya
disuruh ngemis? Tapi, sampai sekarang saya juga gak tau jawabannya. Sambil
ngeliatin langit biru, saya sadar saya udah telat *gubrakz*
Itu cuma salah satu fenomena yang saya
perhatikan sehari-hari. Masih ada lagi sih. Kalo di sekitar kontrakan saya
banyak banget pengamen yang lewat setiap saat. Miris juga sih ngeliatnya. Tapi,
mau gimana lagi? Saya bisa apa? Kalopun ngasih duit gak bisa banyak-banyak
soalnya saya juga masih ngemis dari ortu. Itu di sekitar tempat tinggal saya.
Nah, kalo di dalam kampus saya sendiri, beda lagi. Kampus saya isinya
orang-orang kaya semua. Saya sampai heran ngeliat teman saya yang semua
aksesorisnya bermerek tapi SPPnya dibawah satu juta. Saya yang super duper kere
begini harus kena beban luar biasa mahal. Padahal saya gak punya BB, gak punya
Galaxy, mobil apalagi. Saya jadi gak habis pikir, kata pihak rektorat kampus,
ini beasiswa proporsional. Tapi proporsional versi siapa?
Saya selalu mikir, dunia udah gila kali
ya? Di satu sisi ada orang yang luar biasa miskin. Di sisi lain ada orang yang
luar biasa kaya. Kok bisa ya ada ketimpangan sosial yang jauh begitu? Yang kaya
bisa semakin kaya yang miskin juga begitu. Sementara golongan menengah meskipun
gak miskin tapi gak akan pernah juga bisa jadi kaya. Dan ujung-ujungnya semua
orang pengen ngejar yang namanya kekayaan materi, katanya sih biar bahagia.
Tapi, buktinya gak semua orang yang kaya bahagia. Sekarang semua orang dikit-dikit
galau. Uang banyak galau. Gak ada uang juga galau. Trus, mau gimana? Mau mati
aja? Tapi, masuk neraka ditanggung pelaku ya.
Setelah saya melakukan analisa dan diskusi
dengan berbagai narasumber, saya akhirnya bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa
fenomena gila saat ini tuh udah sistemik. Jadi, kalo ada orang yang bilang udah
nasib, itu gak ada hubungannya karena sistem itu ada yang menerapkan. Nah,
sekarang negara kita ini yang menerapkan sistem gila itu. Pertanyaannya, sistem
apakah itu?
Usut punya usut, sistem itu namanya sistem
Kapitalisme. Nah, dari kata Kapital aja udah ketahuan kalo sistem itu tuh cuma
mikirin tentang duit, duit dan duit. Makanya wajar kalo orang-orang sekarang
ngejar duit sampai ngos-ngosan. Kenapa kok gitu? Bukannya cita-cita itu gak
harus duit? Iya sih. Singkatnya gini aja deh, sekarang semua orang tuh
berlomba-lomba mengejar dunia. Entah itu pengen kaya sekaya-kayanya, pengen
populer, pengen disanjung, dsb. Pokoknya dunia banget deh. Kok bisa gitu?
Ternyata, sistem Kapitalis ini gak berdiri sendiri. Dia punya soulmate, namanya
Sekularisme. Apa itu Sekularisme? Gorengan model baru? Ya bukanlah. Sekularisme
itu paham yang menyingkirkan Tuhan sebagai pencipta sekaligus pengatur dari
lini kehidupan. Jadi, Tuhan itu cuma ada di tempat ibadah. Di luar itu, manusia
bebas ngatur hidupnya sendiri. Suka-suka dia mau jungkir-balik, guling-guling
gak masalah.
Masalahnya sekarang, apakah kita sebagai
seorang Muslim juga harus mengikuti arus Sekularisme ini? Padahal, kita yakin
kalo kita diciptakan oleh Allah dan nanti akan kembali sama Allah
mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Trus, kalo kita nyingkirin Allah dari
kehidupan dunia kita, trus apa bentuk pertanggungjawaban kita nantinya coba?
Apa Islam mengajarkan untuk memisahkan agama dengan kehidupan?
Allah swt ngasih peringatan dalam
KitabNya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga
mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka
perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”
(TQS. An Nisaa [4] : 65).
Dari situ harusnya kita bisa ngambil
kesimpulan bahwa Allah punya aturan buat manusia karena manusia itu ciptaanNya.
Analoginya, kalo kita beli handphone pasti handphone itu ada buku panduannya
kan? Kalo handphonenya SAMSUNG masa pake buku panduan NOKIA sih?
Kan gak pas. Kayak sekarang. Kita sadar 100% kita ciptaan Allah, tapi aturan
atau sistem yang diterapakan atas kita justru mengingkari keberadaan Allah
dalam kehidupan publik. Makanya, jangan heran kalo dimana-mana terjadi banyak
masalah.
Lagi-lagi Allah sudah
bisa mengetahui, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar)” (TQS. Ar Ruum [30] : 41)
Trus, apa solusinya dan
apa yang harus kita lakukan?
Nih, solusi dari Allah,
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami
siksa mereka disebabkan perbuatannya” (TQS.
Al A’raaf [7] :96)
Maksudnya? Sudah saatnya
sistem kufur masuk kubur dan kembali ke aturan Allah yang sempurna dan
paripurna, yakni Syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islam. Insya Allah,
keberkahan dari Allah akan datang untuk jagad raya ini. So, let’s struggle together
for the sake of rising Syariah and Khilafah.
No comments:
Post a Comment