Wednesday, April 11, 2012

SISTEM KUFUR LAYAK DIKUBUR

Pagi yang cerah tapi udaranya dingin. Dengan nafas tersengal-sengal nyaris putus *lebay* saya melewati jalan ke kampus yang sudah hampir 2 tahun ini saya lalui setiap hari. Pemandangannya tidak berubah. Tetap saja seperti tahun-tahun lalu. Cuma ganti orang saja :D
Saya jadi paling ribet kalo harus kuliah jam 7 pagi. Bukan karena saya tidak biasa bangun pagi tapi saya gak suka buru-buru. Pertanyaannya, kenapa saya milih kuliah pagi? Sepertinya tidak usah dijawab saja. Tidak penting dan memang bukan itu yang akan jadi pembahasan saya. Seperti biasa, kalo kuliah pagi saya pasti berangkatnya ngebut *baca: lari* dan pasti akan berakhir seperti di atas, ngos-ngosan sampai sesak nafas pula. Yah, hitung-hitung olahraga.
Ngomong-ngomong soal pemandangan lingkungan sekitar kampus saya, masih ada satu fenomena yang tidak berubah. Mungkin orang-orang yang lewat berubah-ubah, tapi yang gak berubah adalah berderetnya *sebenarnya saya agak risih menyebut istilah ini. Tapi ya sudahlah biar yang baca jadi tersinggung. Saya kan gak ngajak ribut J* pengemis di dekat gerbang masuk yang sering saya lewati, gerbang dekat Fakultas Peternakan. Para pengemis itu rata-rata usianya sudah lanjut. Antara iba dan kere, saya pun ngasih seadanya. Gerbang itu emang gak pernah sepi tapi banyakan yang gak ngasih. Semua pada sibuk sama BB-nya. Eh gak ding, Galaxy-nya. Yah, begitulah fakta mahasiswa abad 21. Nah, pertanyaannya kemanakah anak-anak para pengemis tadi? Bukannya anak wajib berbakti sama orang tua ya? Kok orang tuanya disuruh ngemis? Tapi, sampai sekarang saya juga gak tau jawabannya. Sambil ngeliatin langit biru, saya sadar saya udah telat *gubrakz*
Itu cuma salah satu fenomena yang saya perhatikan sehari-hari. Masih ada lagi sih. Kalo di sekitar kontrakan saya banyak banget pengamen yang lewat setiap saat. Miris juga sih ngeliatnya. Tapi, mau gimana lagi? Saya bisa apa? Kalopun ngasih duit gak bisa banyak-banyak soalnya saya juga masih ngemis dari ortu. Itu di sekitar tempat tinggal saya. Nah, kalo di dalam kampus saya sendiri, beda lagi. Kampus saya isinya orang-orang kaya semua. Saya sampai heran ngeliat teman saya yang semua aksesorisnya bermerek tapi SPPnya dibawah satu juta. Saya yang super duper kere begini harus kena beban luar biasa mahal. Padahal saya gak punya BB, gak punya Galaxy, mobil apalagi. Saya jadi gak habis pikir, kata pihak rektorat kampus, ini beasiswa proporsional. Tapi proporsional versi siapa?
Saya selalu mikir, dunia udah gila kali ya? Di satu sisi ada orang yang luar biasa miskin. Di sisi lain ada orang yang luar biasa kaya. Kok bisa ya ada ketimpangan sosial yang jauh begitu? Yang kaya bisa semakin kaya yang miskin juga begitu. Sementara golongan menengah meskipun gak miskin tapi gak akan pernah juga bisa jadi kaya. Dan ujung-ujungnya semua orang pengen ngejar yang namanya kekayaan materi, katanya sih biar bahagia. Tapi, buktinya gak semua orang yang kaya bahagia. Sekarang semua orang dikit-dikit galau. Uang banyak galau. Gak ada uang juga galau. Trus, mau gimana? Mau mati aja? Tapi, masuk neraka ditanggung pelaku ya.
Setelah saya melakukan analisa dan diskusi dengan berbagai narasumber, saya akhirnya bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa fenomena gila saat ini tuh udah sistemik. Jadi, kalo ada orang yang bilang udah nasib, itu gak ada hubungannya karena sistem itu ada yang menerapkan. Nah, sekarang negara kita ini yang menerapkan sistem gila itu. Pertanyaannya, sistem apakah itu?
Usut punya usut, sistem itu namanya sistem Kapitalisme. Nah, dari kata Kapital aja udah ketahuan kalo sistem itu tuh cuma mikirin tentang duit, duit dan duit. Makanya wajar kalo orang-orang sekarang ngejar duit sampai ngos-ngosan. Kenapa kok gitu? Bukannya cita-cita itu gak harus duit? Iya sih. Singkatnya gini aja deh, sekarang semua orang tuh berlomba-lomba mengejar dunia. Entah itu pengen kaya sekaya-kayanya, pengen populer, pengen disanjung, dsb. Pokoknya dunia banget deh. Kok bisa gitu? Ternyata, sistem Kapitalis ini gak berdiri sendiri. Dia punya soulmate, namanya Sekularisme. Apa itu Sekularisme? Gorengan model baru? Ya bukanlah. Sekularisme itu paham yang menyingkirkan Tuhan sebagai pencipta sekaligus pengatur dari lini kehidupan. Jadi, Tuhan itu cuma ada di tempat ibadah. Di luar itu, manusia bebas ngatur hidupnya sendiri. Suka-suka dia mau jungkir-balik, guling-guling gak masalah.
Masalahnya sekarang, apakah kita sebagai seorang Muslim juga harus mengikuti arus Sekularisme ini? Padahal, kita yakin kalo kita diciptakan oleh Allah dan nanti akan kembali sama Allah mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Trus, kalo kita nyingkirin Allah dari kehidupan dunia kita, trus apa bentuk pertanggungjawaban kita nantinya coba? Apa Islam mengajarkan untuk memisahkan agama dengan kehidupan?
Allah swt ngasih peringatan dalam KitabNya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (TQS. An Nisaa [4] : 65).
Dari situ harusnya kita bisa ngambil kesimpulan bahwa Allah punya aturan buat manusia karena manusia itu ciptaanNya. Analoginya, kalo kita beli handphone pasti handphone itu ada buku panduannya kan? Kalo handphonenya SAMSUNG masa pake buku panduan NOKIA sih? Kan gak pas. Kayak sekarang. Kita sadar 100% kita ciptaan Allah, tapi aturan atau sistem yang diterapakan atas kita justru mengingkari keberadaan Allah dalam kehidupan publik. Makanya, jangan heran kalo dimana-mana terjadi banyak masalah.
Lagi-lagi Allah sudah bisa mengetahui, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS. Ar Ruum [30] : 41)
Trus, apa solusinya dan apa yang harus kita lakukan?
Nih, solusi dari Allah, Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (TQS. Al A’raaf [7] :96)
Maksudnya? Sudah saatnya sistem kufur masuk kubur dan kembali ke aturan Allah yang sempurna dan paripurna, yakni Syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islam. Insya Allah, keberkahan dari Allah akan datang untuk jagad raya ini. So, let’s struggle together for the sake of rising Syariah and Khilafah.

No comments:

Post a Comment