Wednesday, April 18, 2012

PERHIASAN ITU BERNAMA PEREMPUAN

Bulan April. Katanya sih ini bulannya Perempuan. Soalnya, tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, semua pasti tau seorang perempuan yang bernama Kartini. Pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Bahasa orang Feminis, “Emansipasi”. Tapi, apa bener dengan emansipasi yang diusung Kartini membuat perempuan Indonesia berada dalam kebangkitan? Dan apakah saat ini semua perempuan yang ada di jagad raya ini sudah merasakan perasaan yang sama, yakni terlindungi dan terjaga hak-haknya? Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? Silahkan terus membaca ^_^

Hari Sabtu kemarin saya mengikuti sebuah seminar Muslimah di salah satu universitas di kota tempat saya tinggal sekarang. Karena seminar Muslimah tentu saja ngebahas tentang perempuan. Saya jadi ingat tulisan di buku yang pernah saya baca. Kurang lebihnya begini kalau saya tulis dengan bahasa saya.
Perempuan. Ada banyak definisi untuk mengungkapkannya. Ada yang memuja, memanjakan, meninggikan dan melihat setiap inchi darinya adalah perhiasan dunia. Tapi, ada juga yang mencela, yang buta dan pikirannya sudah rusak. Melecehkan, merendahkan dan terus-menerus merendahkan hingga ia jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya.

Perempuan, sebuah misteri kehidupan. Pada seorang perempuan, laki-laki bisa menangis, rapuh, angkuh, tenang, tertenangkan dan bisa saja menjadikan perempuan tempat berpulang.
Ya, itu Cuma sedikit dari banyaknya daya tarik seorang makhluk ciptaan bernama perempuan. Sebagai perempuan saya tentu harus berbangga. Seharusnya gak hanya saya, tapi juga semua perempuan. Dan yang paling istimewa lagi adalah para saudari-saudari saya, sesama Muslimah.

Nah, balik lagi ke seminar yang saya ikuti kemarin. Di acara itu digambarkan bahwa wanita itu memang memiliki daya tarik tersendiri yang bisa saja memajukan sebuah peradaban atau malah sebaliknya menghancurkan sebuah peradaban. Kita lihat, fenomena perempuan abad 21.

Ternyata oh ternyata, perempuan abad 21 sedang dalam kegalauan. Beban ekonomi yang terus-menerus menghimpit akhirnya memaksa kaum perempuan untuk bekerja di luar rumah. Ada yang jadi wanita karir sampai jadi TKW. Rata-rata itu yang menjadi alasan kenapa perempuan abad 21 berbondong-bondong mencari pekerjaan. Alasan EKONOMI. Sekali lagi EKONOMI. Akhirnya, permasalahan ini merembet dengan rusaknya keluarga dan rusaknya generasi. Lho, kok bisa?

Ya, bisa aja dong. Sejagad raya juga tau kalo seorang ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Lha kalo ibunya kerja lantas siapa yang akhirnya mengurus anak-anaknya? Baby sitter, tv, internet? Tapi, emang itu kenyataannya. Anak-anak akhirnya dididik dengan tayangan-tayangan tv dan pemandangan-pemandangan internet. Wajar kalo generasi sekarang jadi generasi mesum. Kenakalan remaja juga semakin hari semakin meningkat. Belum lagi narkoba, seks bebas. Wah, pokoknya komplit deh. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran kecil antara suami-istri sampai berjung KDRT dan perceraian serta tidak ketinggalan perselingkuhan merebak. Dan bisa dipastikan apa yang akan terjadi pemirsa? Ya, benar. Bencana kuadrat.

Lalu, bagaimana dengan kaum intelektual? Hmm, saya sebenarnya tidak tega harus mengatakan ini. Yah, 11-12 lah dengan yang diatas. Pendidikan pragmatis yang hanya berorientasi sama fulus, fulus dan fulus. Materi, materi dan materi. Pokoknya sekolah, kuliah, dapat IP bagus, kalo bisa 4,01 *mana ada, Neng?* biar cepet lulus, trus cumlaude, dapat kerja, gaji tinggi, nikah dengan pangeran tampan, punya anak selusin dan hidup bahagia selama-lamanya *Wah, mimpi mama saya banget. Ups, peace ma :p*
Miris emang. Tapi itulah kenyataan. Pendidikan bukan untuk mencerdaskan tapi untuk uang. Kalo pengen duit, kerja aja sono jangan kuliah. Wah, sepertinya ada pergeseran definisi pendidikan di Indonesia Raya ini deh. Semua jadi duit oriented. Apa-apa duit. Emang, zaman duit kayak gini kita gak bisa tanpa duit, tapi bukan berarti menjadikan duit sesembahan baru yang menjadikan kepala kita selalu berputar hanya untuk mengejarnya.

Perempuan abad 21. Mencari materi demi popularitas. Mereka menghabiskan waktunya untuk bersaing dengan pria dalam materi dan kedudukan tanpa mereka sadari semua itu justru menghinakan mereka. Pemerintah pun dengan pedenya mengeluarkan Undang-Undang tentang quota 30% bagi perempuan di pemerintahan. Namun, hasilnya? Bisa ditebak. Perempuan-perempuan malang tersebut hanya dijadikan TUMBAL. Ya, TUMBAL para pemimpin parpol tempatnya bernaung. Kebangetan..

Trus, sebenarnya akar masalahnya apa? Kayaknya masalah perempuan ini seperti lingkaran setan yang gak ada putus-putusnya. Emang bener. Kalo mo nyari akar masalah yang sebenarnya, kita runut dulu sejarah kenapa sih kok makhluk indah yang namanya perempuan itu akhirnya menuntut hak-haknya tapi justru karena itu mereka harus menjadikan diri mereka tumbal?

Para perempuan harus tau dulu nih bagaimana sejarah mencatat perlakuan bangsa-bangsa di dunia terhadap perempuan. Orang-orang Romawi memperlakukan perempuan seperti komoditas. Dilempar sana-sini, dijual sana-sini bahkan semena-mena terhadap perempuan. Seorang suami bisa melakukan apa saja terhadap istri dan anak perempuannya termasuk membunuh mereka ketika mereka diketahui bersalah. Orang Yunani juga sama, menganggap perempuan sebagai bencana sehingga mereka memperlakukan perempuan seperti sampah dan menganggap mereka sebagai beban. Bagaimana dengan Yahudi? Tidak jauh berbeda. Yahudi menganggap celakalah orang-orang yang memiliki anak perempuan. Di Arab pun begitu. Anak perempuan dikubur hidup-hidup. Kaum lelaki berkuasa penuh atas perempuan. Dan ada juga Eropa. Pada jaman kegelapan, orang-orang Eropa meragukan bahwa perempuan itu adalah jenis manusia.

Lama sekali perempuan dalam ketertindasan. Hingga akhirnya muncullah sebuah gerakan yang mengatasnamakan perempuan bernama Feminisme. Mereka berpandangan bahwa perempuan tidak produktif karena selalu didominasi oleh kaum laki-laki sehingga perempuan harus diberdayakan dan disetarakan agar mampu bersaing dengan kaum laki-laki. Mulailah ada pemikiran-pemikiran bahwa perempuan yang berharga dan bermartabat adalah perempuan yang kemudian bisa menghasilkan UANG sebanyak-banyaknya dengan begitu mereka tidak perlu tergantung pada laki-laki bahkan mereka bisa menginjakkan kaki mereka di atas para lelaki.

Seperti itulah yang terjadi saat ini. Seorang perempuan bernilai ketika ia bisa menghasilkan materi. Uang. Seorang perempuan akan mendapatkan sebuah posisi yang berharga ketika ia sukses dalam karirnya. Tapi, perempuan itu lupa bahwa mereka sebenarnya dieksploitasi. Kehormatan mereka dirampok. Demi sebuah kata bernama HARGA DIRI. Mereka rela mengorbankan semua yang mereka miliki. Mereka lupa akan jati diri mereka sebagai seorang perempuan. Mereka lupa bahwa seorang perempuan itu memiliki posisi penting dalam keluarga karena merekalah yang akan mencetak generasi-generasi masa depan yang akan mengusung peradaban. Tapi, sayang sejuta sayang, mereka lebih memilih untuk mengejar ambisi duniawi semata. Atas nama HARGA DIRI.

Dan negara sepertinya tidak begitu peduli dengan nasib perempuan di negeri ini. Padahal, negara seharusnya bisa menjaga dan melindungi hak-hak warganya termasuk juga perempuan. Tapi, susahnya hidup di zaman Kapitalis ya kayak gini. Negara mah gak mau tau. Yang penting mereka dan keluarganya senang plus tetap kaya raya.

Padahal, kedudukan seorang wanita itu sangat mulia. Bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Allah. Maka mengapa Islam kemudian memuliakan wanita dengan memposisikannya dengan posisi terpuji. Sebagai seorang ummun wa robbatul bait, yakni ibu yang mengurus rumah tangga. Untuk orang yang isi kepalanya hanya duit tentu hal itu dianggap sepele. Karena menjadi seorang ummun wa robbatul bait bukanlah sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang. Tapi, justru dengan itulah akan lahir generasi terbaik di masa depan. Dan satu hal yang terlupakan, bahwa seorang perempuan selain sebagai ibu juga adalah anggota masyarakat yang harus berkontribusi membangun perubahan di masyarakat dengan perubahan yang hakiki tentunya.
Rasulullah bersabda, “Dunia itu adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah” (HR. Muslim)

Dengan itulah Islam memuliakan seorang wanita. Menjadikannya perhiasan dunia dan akhirat karena ia sholihah bukan karena cantiknya, hartanya atau kedudukannya. Trus, wanita sholihah itu seperti apa?
Jawabannya gampang. Wanita sholihah itu adalah wanita yang mencintai Allah dan Rasulullah saw di atas segala-galanya. Wanita yang menjadikan Islam sebagai pijakan hidupnya dan berusaha sekuat tenaga berjalan di dunia ini agar sesuai dengan tuntunan Islam. Ia menjaga diri dan kehormatannya dengan menutup aurat seperti firman Allah :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya…” (An Nuur [24] : 31)

“Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [baju kurung yang longgar dan terulur hingga kebawah] ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Ahzab [33] : 59)

Wanita sholihah itu juga senantiasa menjaga interaksinya. Menjauhi khalwat (berdua-duaan dengan yang bukan muhrim), ikhtilat (bercampur-baur) apalagi pacaran. Mereka sadar bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Allah dan mereka harus terikat dengan hukum-hukum Allah. Dan mereka menyadari betul bahwa Islam adalah solusi atas seluruh permasalahan kehidupan.

Yang harus dicamkan adalah bahwasanya Islam memandang permasalahan perempuan saat ini bukan hanya permasalahan dari sisi internal saja tetapi merupakan sebuah permasalahan manusia yang satu. Keberadaan perempuan pun sangat menentukan masa depan sebuah bangsa karena di tangan perempuanlah akan lahir generasi-generasi penerus masa depan. Maka dalam penyelesaiannya pun haruslah mengembalikan kepada solusi yang menyeluruh dan komprehensif bukan parsial saja. Maka, seharusnya perempuan dikembalikan pada posisinya semula, yakni sebagai umm wa robbatul bait bukan mesin penghasil uang seperti sekarang. Sayangnya, posisi itu tidak akan bisa dikembalikan dengan sistem sekarang. Maka, mengganti sistem dengan sistem baru yang sempurna yakni sistem Islam adalah solusi yang solutif.
Saatnya mengembalikan kemuliaan perempuan dengan menerapkan Islam secara sempurna dalam kehidupan dengan bingkai Khilafah Islamiyyah. Karena hanya dengan begitu, perempuan akan kembali mendapatkan kemuliaannya.
April 18th 2012. 07.39 AM

No comments:

Post a Comment