Bulan
April. Katanya sih ini bulannya Perempuan. Soalnya, tanggal 21 April
diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, semua pasti tau seorang perempuan
yang bernama Kartini. Pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Bahasa
orang Feminis, “Emansipasi”. Tapi, apa bener dengan emansipasi yang
diusung Kartini membuat perempuan Indonesia berada dalam kebangkitan?
Dan apakah saat ini semua perempuan yang ada di jagad raya ini sudah
merasakan perasaan yang sama, yakni terlindungi dan terjaga hak-haknya?
Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? Silahkan terus membaca ^_^
Hari Sabtu kemarin saya mengikuti sebuah seminar
Muslimah di salah satu universitas di kota tempat saya tinggal sekarang.
Karena seminar Muslimah tentu saja ngebahas tentang perempuan. Saya
jadi ingat tulisan di buku yang pernah saya baca. Kurang lebihnya begini
kalau saya tulis dengan bahasa saya.
Perempuan. Ada banyak definisi untuk
mengungkapkannya. Ada yang memuja, memanjakan, meninggikan dan melihat
setiap inchi darinya adalah perhiasan dunia. Tapi, ada juga yang
mencela, yang buta dan pikirannya sudah rusak. Melecehkan, merendahkan
dan terus-menerus merendahkan hingga ia jatuh ke tempat yang
serendah-rendahnya.
Perempuan, sebuah misteri kehidupan. Pada seorang
perempuan, laki-laki bisa menangis, rapuh, angkuh, tenang, tertenangkan
dan bisa saja menjadikan perempuan tempat berpulang.
Ya, itu Cuma sedikit dari banyaknya daya tarik
seorang makhluk ciptaan bernama perempuan. Sebagai perempuan saya tentu
harus berbangga. Seharusnya gak hanya saya, tapi juga semua perempuan.
Dan yang paling istimewa lagi adalah para saudari-saudari saya, sesama
Muslimah.
Nah, balik lagi ke seminar yang saya ikuti kemarin.
Di acara itu digambarkan bahwa wanita itu memang memiliki daya tarik
tersendiri yang bisa saja memajukan sebuah peradaban atau malah
sebaliknya menghancurkan sebuah peradaban. Kita lihat, fenomena
perempuan abad 21.
Ternyata oh ternyata, perempuan abad 21 sedang
dalam kegalauan. Beban ekonomi yang terus-menerus menghimpit akhirnya
memaksa kaum perempuan untuk bekerja di luar rumah. Ada yang jadi wanita
karir sampai jadi TKW. Rata-rata itu yang menjadi alasan kenapa
perempuan abad 21 berbondong-bondong mencari pekerjaan. Alasan EKONOMI.
Sekali lagi EKONOMI. Akhirnya, permasalahan ini merembet dengan rusaknya
keluarga dan rusaknya generasi. Lho, kok bisa?
Ya, bisa aja dong. Sejagad raya juga tau kalo
seorang ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Lha kalo
ibunya kerja lantas siapa yang akhirnya mengurus anak-anaknya? Baby
sitter, tv, internet? Tapi, emang itu kenyataannya. Anak-anak akhirnya
dididik dengan tayangan-tayangan tv dan pemandangan-pemandangan
internet. Wajar kalo generasi sekarang jadi generasi mesum. Kenakalan
remaja juga semakin hari semakin meningkat. Belum lagi narkoba, seks
bebas. Wah, pokoknya komplit deh. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran
kecil antara suami-istri sampai berjung KDRT dan perceraian serta tidak
ketinggalan perselingkuhan merebak. Dan bisa dipastikan apa yang akan
terjadi pemirsa? Ya, benar. Bencana kuadrat.
Lalu, bagaimana dengan kaum intelektual? Hmm, saya
sebenarnya tidak tega harus mengatakan ini. Yah, 11-12 lah dengan yang
diatas. Pendidikan pragmatis yang hanya berorientasi sama fulus, fulus
dan fulus. Materi, materi dan materi. Pokoknya sekolah, kuliah, dapat IP
bagus, kalo bisa 4,01 *mana ada, Neng?* biar cepet lulus, trus
cumlaude, dapat kerja, gaji tinggi, nikah dengan pangeran tampan, punya
anak selusin dan hidup bahagia selama-lamanya *Wah, mimpi mama saya
banget. Ups, peace ma :p*
Miris emang. Tapi itulah kenyataan. Pendidikan
bukan untuk mencerdaskan tapi untuk uang. Kalo pengen duit, kerja aja
sono jangan kuliah. Wah, sepertinya ada pergeseran definisi pendidikan
di Indonesia Raya ini deh. Semua jadi duit oriented. Apa-apa duit.
Emang, zaman duit kayak gini kita gak bisa tanpa duit, tapi bukan
berarti menjadikan duit sesembahan baru yang menjadikan kepala kita
selalu berputar hanya untuk mengejarnya.
Perempuan abad 21. Mencari materi demi popularitas.
Mereka menghabiskan waktunya untuk bersaing dengan pria dalam materi
dan kedudukan tanpa mereka sadari semua itu justru menghinakan mereka.
Pemerintah pun dengan pedenya mengeluarkan Undang-Undang tentang quota
30% bagi perempuan di pemerintahan. Namun, hasilnya? Bisa ditebak.
Perempuan-perempuan malang tersebut hanya dijadikan TUMBAL. Ya, TUMBAL
para pemimpin parpol tempatnya bernaung. Kebangetan..
Trus, sebenarnya akar masalahnya apa? Kayaknya
masalah perempuan ini seperti lingkaran setan yang gak ada
putus-putusnya. Emang bener. Kalo mo nyari akar masalah yang sebenarnya,
kita runut dulu sejarah kenapa sih kok makhluk indah yang namanya
perempuan itu akhirnya menuntut hak-haknya tapi justru karena itu mereka
harus menjadikan diri mereka tumbal?
Para perempuan harus tau dulu nih bagaimana sejarah
mencatat perlakuan bangsa-bangsa di dunia terhadap perempuan.
Orang-orang Romawi memperlakukan perempuan seperti komoditas. Dilempar
sana-sini, dijual sana-sini bahkan semena-mena terhadap perempuan.
Seorang suami bisa melakukan apa saja terhadap istri dan anak
perempuannya termasuk membunuh mereka ketika mereka diketahui bersalah.
Orang Yunani juga sama, menganggap perempuan sebagai bencana sehingga
mereka memperlakukan perempuan seperti sampah dan menganggap mereka
sebagai beban. Bagaimana dengan Yahudi? Tidak jauh berbeda. Yahudi
menganggap celakalah orang-orang yang memiliki anak perempuan. Di Arab
pun begitu. Anak perempuan dikubur hidup-hidup. Kaum lelaki berkuasa
penuh atas perempuan. Dan ada juga Eropa. Pada jaman kegelapan,
orang-orang Eropa meragukan bahwa perempuan itu adalah jenis manusia.
Lama sekali perempuan dalam ketertindasan. Hingga
akhirnya muncullah sebuah gerakan yang mengatasnamakan perempuan bernama
Feminisme. Mereka berpandangan bahwa perempuan tidak produktif karena
selalu didominasi oleh kaum laki-laki sehingga perempuan harus
diberdayakan dan disetarakan agar mampu bersaing dengan kaum laki-laki.
Mulailah ada pemikiran-pemikiran bahwa perempuan yang berharga dan
bermartabat adalah perempuan yang kemudian bisa menghasilkan UANG
sebanyak-banyaknya dengan begitu mereka tidak perlu tergantung pada
laki-laki bahkan mereka bisa menginjakkan kaki mereka di atas para
lelaki.
Seperti itulah yang terjadi saat ini. Seorang
perempuan bernilai ketika ia bisa menghasilkan materi. Uang. Seorang
perempuan akan mendapatkan sebuah posisi yang berharga ketika ia sukses
dalam karirnya. Tapi, perempuan itu lupa bahwa mereka sebenarnya
dieksploitasi. Kehormatan mereka dirampok. Demi sebuah kata bernama
HARGA DIRI. Mereka rela mengorbankan semua yang mereka miliki. Mereka
lupa akan jati diri mereka sebagai seorang perempuan. Mereka lupa bahwa
seorang perempuan itu memiliki posisi penting dalam keluarga karena
merekalah yang akan mencetak generasi-generasi masa depan yang akan
mengusung peradaban. Tapi, sayang sejuta sayang, mereka lebih memilih
untuk mengejar ambisi duniawi semata. Atas nama HARGA DIRI.
Dan negara sepertinya tidak begitu peduli dengan
nasib perempuan di negeri ini. Padahal, negara seharusnya bisa menjaga
dan melindungi hak-hak warganya termasuk juga perempuan. Tapi, susahnya
hidup di zaman Kapitalis ya kayak gini. Negara mah gak mau tau. Yang
penting mereka dan keluarganya senang plus tetap kaya raya.
Padahal, kedudukan seorang wanita itu sangat mulia.
Bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Allah. Maka mengapa Islam
kemudian memuliakan wanita dengan memposisikannya dengan posisi terpuji.
Sebagai seorang ummun wa robbatul bait, yakni ibu yang mengurus rumah
tangga. Untuk orang yang isi kepalanya hanya duit tentu hal itu dianggap
sepele. Karena menjadi seorang ummun wa robbatul bait bukanlah sebuah
pekerjaan yang menghasilkan uang. Tapi, justru dengan itulah akan lahir
generasi terbaik di masa depan. Dan satu hal yang terlupakan, bahwa
seorang perempuan selain sebagai ibu juga adalah anggota masyarakat yang
harus berkontribusi membangun perubahan di masyarakat dengan perubahan
yang hakiki tentunya.
Rasulullah bersabda, “Dunia itu adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah” (HR. Muslim)
Dengan itulah Islam memuliakan seorang wanita.
Menjadikannya perhiasan dunia dan akhirat karena ia sholihah bukan
karena cantiknya, hartanya atau kedudukannya. Trus, wanita sholihah itu
seperti apa?
Jawabannya gampang. Wanita sholihah itu adalah
wanita yang mencintai Allah dan Rasulullah saw di atas segala-galanya.
Wanita yang menjadikan Islam sebagai pijakan hidupnya dan berusaha
sekuat tenaga berjalan di dunia ini agar sesuai dengan tuntunan Islam.
Ia menjaga diri dan kehormatannya dengan menutup aurat seperti firman
Allah :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya…” (An Nuur [24] : 31)
“Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu,
anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka
mengulurkan jilbabnya [baju kurung yang longgar dan terulur hingga
kebawah] ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih
mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Ahzab [33] : 59)
Wanita sholihah itu juga senantiasa menjaga
interaksinya. Menjauhi khalwat (berdua-duaan dengan yang bukan muhrim),
ikhtilat (bercampur-baur) apalagi pacaran. Mereka sadar bahwa mereka
adalah makhluk ciptaan Allah dan mereka harus terikat dengan hukum-hukum
Allah. Dan mereka menyadari betul bahwa Islam adalah solusi atas
seluruh permasalahan kehidupan.
Yang harus dicamkan adalah bahwasanya Islam memandang permasalahan perempuan saat
ini bukan hanya permasalahan dari sisi internal saja tetapi merupakan
sebuah permasalahan manusia yang satu. Keberadaan perempuan pun sangat
menentukan masa depan sebuah bangsa karena di tangan perempuanlah akan
lahir generasi-generasi penerus masa depan. Maka dalam penyelesaiannya
pun haruslah mengembalikan kepada solusi yang menyeluruh dan
komprehensif bukan parsial saja. Maka, seharusnya perempuan dikembalikan
pada posisinya semula, yakni sebagai umm wa robbatul bait bukan mesin
penghasil uang seperti sekarang. Sayangnya, posisi itu tidak akan bisa
dikembalikan dengan sistem sekarang. Maka, mengganti sistem dengan
sistem baru yang sempurna yakni sistem Islam adalah solusi yang solutif.
Saatnya mengembalikan kemuliaan perempuan dengan
menerapkan Islam secara sempurna dalam kehidupan dengan bingkai Khilafah
Islamiyyah. Karena hanya dengan begitu, perempuan akan kembali
mendapatkan kemuliaannya.
April 18th 2012. 07.39 AM
No comments:
Post a Comment