Sunday, April 08, 2012

KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI

Beberapa waktu yang lalu Indonesia ditimpa kegalauan yang luar biasa. Lho? Galau? Kok bisa? Ya, bisa aja. Sekarang penyebaran virus galau semakin membabi buta sampai-sampai menimpa pemerintah Indonesia sekaligus parpol-parpol yang ikut andil dalam parlemen. Akhirnya, rakyat juga ikut tertular virusnya *tapi, maaf saja. Saya bukan termasuk di dalamnya :p*
Ngomong-ngomong soal galau, kenapa sih kok Indonesia bisa sampai galau? Saudara-saudara semua pasti tau kalo beberapa waktu yang lalu pemerintah *lagi* mengeluarkan kebijakan “MENAIKKAN HARGA BBM” untuk yang kesekian kalinya. Rencananya sih pas 1 April kemarin. Tapi, ternyata pas sidang paripurna DPR semua pada galau akhirnya ditunda deh rencana naikkin harga BBMnya. Sebelum itu, rakyat duluan yang kena virus galau. Demo dimana-mana. Semua nolak kenaikan harga BBM. Sampai-sampai mahasiswa di ibukota negara kita tercinta ini demo habis-habisan plus adegan action ala superhero di film box office alias berantem sama aparat. Ya, rencana pemerintah menaikkan harga BBM memang bikin reaksi banyak pihak beda-beda. Begitu juga dengan parpol alias partai politik. Ada yang pro dan ada yang kontra. Sampai puyeng kepala saya dengerin debat perwakilan fraksi parpol-parpol yang ternyata juga sama galaunya dengan pemerintah. Sampai keluarlah statement hipokrit yang justru bikin semua tambah kacau. Bertambahlah predikat Indonesia. Negara Galau. Kira-kira begitulah.
Nah, sekarang ayo kita cari tau, kenapa sih pemerintah sampai ngotot mau menaikkan harga BBM *lagi* meskipun sekarang kenaikkannya ditunda untuk beberapa waktu ke depan? *tapi kenaikannya jadi 20%*
Usut punya usut, ternyata ada empat alasan pemerintah ngotot pengen naikkin harga BBM untuk kesekian kalinya *dengan kenaikan yang lumayan fantastis*
Pertama, kata pemerintah, sekarang harga minyak dunia udah naik jadi 120 USD perbarel. Sedangkan asumsi dalam APBN Cuma 90 USD perbarel. Masih ada 30 USD yang kurang untuk subsidi BBM.
Kedua, dengan naiknya harga minyak dunia, semua itu akan membebani APBN. Bisa-bisa APBN jebol karena dibuat subsidi BBM soalnya seperti alasan yang pertama tadi. APBN cuma menganggarkan 90 USD buat subsidi BBM dan masih kurang 30 USD lagi. Mending uang subsidinya dipakai untuk yang lain seperti pendidikan, kesehatan, dsb.
Ketiga, kata pemerintah produksi minyak di Indonesia sudah semakin berkurang sedangkan konsumsinya bertambah. Jadi, kalau BBMnya disubsidi, rakyat akan boros.
Keempat, BBM yang disubsidi selama ini tidak tepat sasaran alias masih ada orang kaya yang beli BBM bersubsidi. Jadi, menurut pemerintah mending dicabut semua aja subsidinya biar adil.
Nah, itu dia empat alasan utama pemerintah kita yang lagi galau jadi mutusin buat naikkin harga BBM beberapa waktu ke depan. Tapi, kalo menurut saya kebijakan menaikkan harga BBM itu KEBIJAKAN BASI. Lho, kok basi?
Iyalah, udah basi. Alasan-alasannya itu lho yang basi. Treatment pasca naiknya BBM juga udah basi. Kalo dulu ada yang namanya BLT, nanti juga bakalan ada semacam BLT cuma namanya aja yang diganti jadi BLSM. Kalo rakyat bisa teriak, pasti semua bakalan ngomong, “KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI”. BLSM itu bukan solusi yang solutif untuk merespon dampak kenaikan harga BBM. Nanti, pasca kenaikan harga BBM otomatis semua biaya kehidupan akan naik dan itu berarti semakin bertambahlah beban kehidupan. Semakin menyebar pula virus galau di Indonesia Raya ini. Kalo cuma ngasih bantuan sementara mah, mending gak usah karena percuma aja. Bantuannya cuma buat 9 bulan pasca naiknya harga BBM. Setelah itu? Silahkan cari sendiri. Emang pemerintah mau mikirin?
Banyak alasan yang sudah dikeluarkan buat nolak kenaikan harga BBM dan emang seharusnya gak dinaikkan. Indonesia penghasil minyak bumi, ngapain harus beli mahal-mahal. 105 perusahaan asing aja bisa hidup makmur dengan mengeksplorasi seluruh sumber minyak sampai ngejual di SPBU-SPBU. Masa kita yang tinggal di sini sejak kita lahir bahkan nenek moyang kita juga lahir di sini harus bayar mahal-mahal buat beli BBM hanya dengan alasan macam-macam kayak di atas tadi?
Tapi, lagi-lagi tapi, masalahnya bukan cuma sekedar BBM naik atau gak. Bukan sekedar kebutuhan masyarakat terpenuhi atau gak. Tapi, masalahnya adalah dasar kebijakannya itu. Apalagi kalo bukan Undang-undang? Selama UU Migas no.20 tahun 2001 masih legal, selama itu pula Indonesia bakalan galau karena desakan perusahaan-perusahaan asing yang udah seperti lintah yang bakalan menghisap seluruh sumber daya alam Indonesia sampai habis. Gak cuma Undang-undang tapi semua perjanjian-perjanjian dan sejenisnya juga. Semua itu yang akan selalu menjerat pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan basi. Bukannya ngasih solusi malah ngeluarin kebijakan basi. Mau dibawa kemana negara kita? Masihkah kita akan terus diam dalam kegalauan dan pusing sendiri?
Satu hal yang harus dicamkan, kebijakan basi pemerintah tidak akan bisa memberi solusi apa-apa. Dengan sistem yang kacau balau dan penuh kelicikan seperti itu, sudah bukan saatnya berharap pemerintah akan berubah karena pemerintah dikendalikan oleh sistem. Sistem seperti apa? Sistem yang hanya mementingkan uang, uang, dan uang. Sistem yang menyingkirkan Sang Pencipta *yang seharusnya juga berhak mengatur* dari lini kehidupan dengan anggapan bahwa manusia bebas mengatur hidupnya. Sistem ini juga yang membuat pemerintah seolah-olah tersihir dan lupa dengan tujuannya saat kampanye dulu. Sistem ini juga yang membuat parpol-parpol yang seharusnya kritis menjadi rapuh seperti kerupuk karena tidak memiliki idealisme.
Trus, apa solusinya? Solusinya ya, ganti aja sistemnya. Sistem sekarang ini ibarat akar pohon yang udah sekarat. Gak ada gunanya disiram air sama dikasih pupuk. Udah gak bakalan bisa diharapkan lagi. Udah saatnya ganti dengan sistem yang bisa diharapkan. Sistem apakah itu? Tentu saja sistem yang bukan berasal dari manusia, tetapi dari yang Empunya manusia. Ya, sistem yang berasal dari Allah azza wa jalla. Apalagi kalo bukan sistem Islam? Hanya sistem Islam yang bisa ngasih solusi buat semua permasalahan kehidupan. Syariat Islam mengatur semua tentang kehidupan termasuk tentang bagaimana mengelola sumber daya alam seperti minyak bumi, dkk. Nah, masalahnya syariat Islam hanya bisa tegak dengan institusi pelindung yang namanya Khilafah. Maka dari itu, gak bisa menerapkan syariat Islam tanpa ada Khilafah. Kalo gitu, tunggu apa lagi? Ayo, berjuang untuk menerapkan syariah dalam bingkai Khilafah bukan hanya demi kebutuhan hidup seluruh rakyat Indonesia tetapi juga karena kita adalah Muslim dan itu adalah dorongan keimanan kita yang besar kepada Allah azza wa jalla dan wujud kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad saw. Insya Allah, gak bakal ada lagi deh kata GALAU dalam hidup kita. Because Khilafah is the only solution. 
Wallahu 'alam bi ash shawwaab.

No comments:

Post a Comment