Beberapa
waktu yang lalu Indonesia ditimpa kegalauan yang luar biasa. Lho? Galau? Kok
bisa? Ya, bisa aja. Sekarang penyebaran virus galau semakin membabi buta
sampai-sampai menimpa pemerintah Indonesia sekaligus parpol-parpol yang ikut
andil dalam parlemen. Akhirnya, rakyat juga ikut tertular virusnya *tapi, maaf
saja. Saya bukan termasuk di dalamnya :p*
Ngomong-ngomong soal galau, kenapa sih kok
Indonesia bisa sampai galau? Saudara-saudara semua pasti tau kalo beberapa
waktu yang lalu pemerintah *lagi* mengeluarkan kebijakan “MENAIKKAN HARGA BBM”
untuk yang kesekian kalinya. Rencananya sih pas 1 April kemarin. Tapi, ternyata
pas sidang paripurna DPR semua pada galau akhirnya ditunda deh rencana naikkin
harga BBMnya. Sebelum itu, rakyat duluan yang kena virus galau. Demo
dimana-mana. Semua nolak kenaikan harga BBM. Sampai-sampai mahasiswa di ibukota
negara kita tercinta ini demo habis-habisan plus adegan action ala superhero di
film box office alias berantem sama aparat. Ya, rencana pemerintah menaikkan
harga BBM memang bikin reaksi banyak pihak beda-beda. Begitu juga dengan parpol
alias partai politik. Ada yang pro dan ada yang kontra. Sampai puyeng kepala
saya dengerin debat perwakilan fraksi parpol-parpol yang ternyata juga sama
galaunya dengan pemerintah. Sampai keluarlah statement hipokrit yang justru
bikin semua tambah kacau. Bertambahlah predikat Indonesia. Negara Galau. Kira-kira
begitulah.
Nah, sekarang ayo kita cari tau, kenapa
sih pemerintah sampai ngotot mau menaikkan harga BBM *lagi* meskipun sekarang
kenaikkannya ditunda untuk beberapa waktu ke depan? *tapi kenaikannya jadi 20%*
Usut punya usut, ternyata ada empat alasan
pemerintah ngotot pengen naikkin harga BBM untuk kesekian kalinya *dengan
kenaikan yang lumayan fantastis*
Pertama, kata pemerintah, sekarang harga
minyak dunia udah naik jadi 120 USD perbarel. Sedangkan asumsi dalam APBN Cuma
90 USD perbarel. Masih ada 30 USD yang kurang untuk subsidi BBM.
Kedua, dengan naiknya harga minyak dunia, semua
itu akan membebani APBN. Bisa-bisa APBN jebol karena dibuat subsidi BBM soalnya seperti alasan yang pertama tadi. APBN cuma menganggarkan 90 USD buat subsidi BBM dan masih kurang 30 USD lagi. Mending
uang subsidinya dipakai untuk yang lain seperti pendidikan, kesehatan, dsb.
Ketiga, kata pemerintah produksi minyak di
Indonesia sudah semakin berkurang sedangkan konsumsinya bertambah. Jadi, kalau
BBMnya disubsidi, rakyat akan boros.
Keempat, BBM yang disubsidi selama ini
tidak tepat sasaran alias masih ada orang kaya yang beli BBM bersubsidi. Jadi,
menurut pemerintah mending dicabut semua aja subsidinya biar adil.
Nah, itu dia empat alasan utama pemerintah
kita yang lagi galau jadi mutusin buat naikkin harga BBM beberapa waktu ke
depan. Tapi, kalo menurut saya kebijakan menaikkan harga BBM itu KEBIJAKAN
BASI. Lho, kok basi?
Iyalah, udah basi. Alasan-alasannya itu
lho yang basi. Treatment pasca naiknya BBM juga udah basi. Kalo dulu ada yang
namanya BLT, nanti juga bakalan ada semacam BLT cuma namanya aja yang diganti
jadi BLSM. Kalo rakyat bisa teriak, pasti semua bakalan ngomong, “KAMI BUTUH
SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI”. BLSM itu bukan solusi yang solutif untuk
merespon dampak kenaikan harga BBM. Nanti, pasca kenaikan harga BBM otomatis
semua biaya kehidupan akan naik dan itu berarti semakin bertambahlah beban
kehidupan. Semakin menyebar pula virus galau di Indonesia Raya ini. Kalo cuma
ngasih bantuan sementara mah, mending gak usah karena percuma aja. Bantuannya
cuma buat 9 bulan pasca naiknya harga BBM. Setelah itu? Silahkan cari sendiri.
Emang pemerintah mau mikirin?
Banyak alasan yang sudah dikeluarkan buat
nolak kenaikan harga BBM dan emang seharusnya gak dinaikkan. Indonesia
penghasil minyak bumi, ngapain harus beli mahal-mahal. 105 perusahaan asing aja
bisa hidup makmur dengan mengeksplorasi seluruh sumber minyak sampai ngejual di
SPBU-SPBU. Masa kita yang tinggal di sini sejak kita lahir bahkan nenek moyang
kita juga lahir di sini harus bayar mahal-mahal buat beli BBM hanya dengan
alasan macam-macam kayak di atas tadi?
Tapi, lagi-lagi tapi, masalahnya bukan
cuma sekedar BBM naik atau gak. Bukan sekedar kebutuhan masyarakat terpenuhi
atau gak. Tapi, masalahnya adalah dasar kebijakannya itu. Apalagi kalo bukan
Undang-undang? Selama UU Migas no.20 tahun 2001 masih legal, selama itu pula
Indonesia bakalan galau karena desakan perusahaan-perusahaan asing yang udah
seperti lintah yang bakalan menghisap seluruh sumber daya alam Indonesia sampai
habis. Gak cuma Undang-undang tapi semua perjanjian-perjanjian dan sejenisnya
juga. Semua itu yang akan selalu menjerat pemerintah Indonesia untuk
mengeluarkan kebijakan-kebijakan basi. Bukannya ngasih solusi malah ngeluarin
kebijakan basi. Mau dibawa kemana negara kita? Masihkah kita akan terus diam
dalam kegalauan dan pusing sendiri?
Satu hal yang harus dicamkan, kebijakan
basi pemerintah tidak akan bisa memberi solusi apa-apa. Dengan sistem yang
kacau balau dan penuh kelicikan seperti itu, sudah bukan saatnya berharap
pemerintah akan berubah karena pemerintah dikendalikan oleh sistem. Sistem
seperti apa? Sistem yang hanya mementingkan uang, uang, dan uang. Sistem yang
menyingkirkan Sang Pencipta *yang seharusnya juga berhak mengatur* dari lini
kehidupan dengan anggapan bahwa manusia bebas mengatur hidupnya. Sistem ini
juga yang membuat pemerintah seolah-olah tersihir dan lupa dengan tujuannya
saat kampanye dulu. Sistem ini juga yang membuat parpol-parpol yang seharusnya
kritis menjadi rapuh seperti kerupuk karena tidak memiliki idealisme.
Trus, apa solusinya? Solusinya ya, ganti
aja sistemnya. Sistem sekarang ini ibarat akar pohon yang udah sekarat. Gak ada
gunanya disiram air sama dikasih pupuk. Udah gak bakalan bisa diharapkan lagi.
Udah saatnya ganti dengan sistem yang bisa diharapkan. Sistem apakah itu? Tentu
saja sistem yang bukan berasal dari manusia, tetapi dari yang Empunya manusia.
Ya, sistem yang berasal dari Allah azza wa jalla. Apalagi kalo bukan sistem
Islam? Hanya sistem Islam yang bisa ngasih solusi buat semua permasalahan
kehidupan. Syariat Islam mengatur semua tentang kehidupan termasuk tentang
bagaimana mengelola sumber daya alam seperti minyak bumi, dkk. Nah, masalahnya
syariat Islam hanya bisa tegak dengan institusi pelindung yang namanya
Khilafah. Maka dari itu, gak bisa menerapkan syariat Islam tanpa ada Khilafah.
Kalo gitu, tunggu apa lagi? Ayo, berjuang untuk menerapkan syariah dalam
bingkai Khilafah bukan hanya demi kebutuhan hidup seluruh rakyat Indonesia
tetapi juga karena kita adalah Muslim dan itu adalah dorongan keimanan kita
yang besar kepada Allah azza wa jalla dan wujud kecintaan kita kepada
Rasulullah Muhammad saw. Insya Allah, gak bakal ada lagi deh kata GALAU dalam
hidup kita. Because Khilafah is the only solution.
Wallahu 'alam bi ash shawwaab.
Wallahu 'alam bi ash shawwaab.
No comments:
Post a Comment