Wednesday, April 11, 2012

DEMI WAKTU

Ini bukan lagunya Ungu ya. Saya gak ada niat konser di tulisan ini. Lagian suara saya juga gak bagus. Jadi, jangan tertipu dengan judulnya J
Ngomong-ngomong soal waktu, saya jadi inget hafalan al Qur’an saya jaman SD dulu.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (TQS. Al Ashr [103] : 1-3)
Ayat ini simple. Dan ngafalinnya juga gak sesusah ngafalin Huruf Kanji Jepang yang beribu-ribu itu yang bikin saya pusing sendiri saking gak bisa dihafalin. Tapi, sekarang banyak sekali yang justru menyepelekan. Apa karena ayat ini mudah? Cuma 3 ayat, lantas isi dan kandungannya terlupakan begitu saja?
Kalo ngeliat orang-orang yang lalu-lalang dalam kehidupan saya, kebanyakan dari mereka ngejalanin hidupnya dengan pas-pasan. Bukan dari segi harta, tapi dari aktivitas. Jaman saya kecil, saya suka berimajinasi. Habis TK, SD, SMP, SMA, kuliah trus kerja, nikah, punya anak, tua, punya cucu, trus meninggal. Wah, kayaknya enak banget ya hidup itu? Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, ibadahnya kapan kalo gitu? Masa kita hidup cuma ngejar itu doang? Dan akhirnya semakin lama bukti yang datang semakin banyak. Saat ini, kebanyakan kaum Muslimin menyepelekan ibadah dalam artian taqarrub mereka kepada Allah. Seringkali mereka terjebak dalam rutinitas dunia. Akhirnya, sholat aja buru-buru. Gimana dengan ibadah yang lain? Seperti ayat di atas, harusnya kalo beriman pasti korelasinya adalah amal shaleh. Amal sholeh ya dalam segala hal. Gak hanya ibadah madhah aja, tapi semuanya. Kalo amalannya yang hukumnya mubah-mubah aja gimana bisa jadi amal sholeh? Padahal, udah sadar 100% kalo bakal kembali menghadap Allah dan akan mempertanggung jawabkan semuanya di hadapanNya. Ataukah udah pada lupa kalo bakal dihisab? Naudzubillah min dzalik.
Sadar gak sih kalo apa yang kita kejar selama ini cuma sesuatu yang akan kita tinggalkan nantinya? Dunia ini fana, kawan. Ngapain bela-belain ngorbanin semua yang kita miliki cuma buat ngejar dunia yang hanya sebentar ini, dunia yang pasti akan kita tinggalkan? Kuliah, belajar sampai sakit karena lupa makan kalo ujung-ujungnya cuma ngejar ijazah dan bisa kerja di tempat yang bagus dengan posisi yang menguntungkan dan gaji yang besar trus bisa beli rumah dan ngumpulin harta sebanyak-banyaknya, semua itu juga bakalan kita tinggalkan. Ngapain juga masih lebih suka nonton film, drama, sinetron, dengerin lagu-lagu cinta yang isinya itu-itu aja yang bikin jadi tambah galau, ngeliatin foto seleb cantik dan ganteng yang gak kenal sama para fans? Pernah gak sih terbersit dalam pikiran kita, gimana kalo 1 detik lagi kita dipanggil Allah? Apa yang sudah kita persembahkan untukNya? Dengan apa kita akan menjawab pertanyaan malaikatNya? Sudahkah kita mempersiapkan pertemuan kita dengannya?
Mungkin sekarang kita bisa bangga dengan usia kita yang masih muda. 18, 19 atau 20 tahun. Tapi, jangan lupa, Rasulullah saw sudah mengingatkan kita dalam sabdanya, “Manusia dikelilingi 99 penyebab kematian dan yang terakhir adalah hari tua”.
Jadi, jangan bangga dengan usia yang masih muda. Karena usia muda itu ancaman menuju kematiannya lebih besar. Dan pasti udah sering lihat fenomena orang yang meninggal di usia muda. Karena waktu itu sangat berharga, jangan sia-siakan. Saya gak bisa memungkiri, saat ini emang ada sebuah kondisi yang sudah tersistem yang mengkondisikan banyak orang, termasuk kita kaum Muslimin untuk berlari demi mengejar dunia. Ya, sistem Kapitalis-Sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan dunia sehingga wajar aja kalo banyak yang gak nyadar dengan apa yang mereka lakukan.
Tapi ingat, kita punya standar sendiri. Gak semua yang kita lakukan akan diterima begitu saja sebagai sebuah amal sholeh. Kenapa? Karena surga itu mahal. Saking mahalnya kita juga perlu sampai berkorban nyawa untuk mendapatkannya. Amal sholeh itu punya syarat. Jadi, dalam Islam gak semua perbuatan baik bakalan dapat pahala karena gak semua perbuatan baik itu diterima di sisi Allah sebagai amal sholeh. Syarat yang pertama adalah ikhlas. Ini yang susah karena definisi ikhlas itu hampir gak ada. Tapi, intinya ikhlas itu adalah melakukan semuanya karena ingin menggapai ridho Allah semata, bukan karena orang tua, teman, artis idola, pacar apalagi. KARENA ALLAH SEMATA, TITIK. Itu syarat yang pertama. Yang kedua, caranya benar. Gimana tuh amal yang disebut dengan benar? Ya, Cuma 1 aja, yakni sesuai dengan syariat Allah. Kalo salah satu syarat di atas gak terpenuhi, amalnya sia-sia aja, seperti debu yang beterbangan. Jadi, dua syarat di atas mutlak adanya.
Dan perlu diingat bahwa sesuai dengan syariat Allah itu standarnya cuma ada 5, yakni wajib, sunnah (mandub), makruh, mubah dan haram. Gak ada standar keenam. Jadi, mulai sekarang silahkan diperhatikan, amalan atau aktivitas kita termasuk yang mana aja sih? Kalo masih banyak mubahnya silahkan introspeksi. Kalo gak tau gimana ngasih standar? Nah, maka dari itu, menuntut ilmu itu penting. Kita gak bakal tau cara beriman dan beramal sholeh kalo kita gak punya ilmunya. Dan masih ada sederet lagi keuntungan orang berilmu.
Allah swt berfirman, “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (TQS. Al Mujadalah [58] :11)
Jangan cuma menuntut ilmu di perkuliahan saja, ayo belajar Islam. Jangan tunda lagi. Waktu itu terus berlari. So, jangan ragu untuk mengkaji Islam. Gak ada alasan lagi untuk gak belajar Islam. Rasulullah bersabda, “BERSEGERALAH kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal. apakah yang kalian nantikan kecuali: kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia adalah sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau  menunggu datangnya kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan(HR. Turmudzi)
So, tunggu apalagi? Saatnya kembali ke Islam. Kalo bukan sekarang, kapan lagi?

No comments:

Post a Comment