Ini bukan lagunya Ungu ya. Saya gak ada
niat konser di tulisan ini. Lagian suara saya juga gak bagus. Jadi, jangan
tertipu dengan judulnya J
Ngomong-ngomong soal waktu, saya jadi
inget hafalan al Qur’an saya jaman SD dulu.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat
menasehati supaya menetapi kesabaran” (TQS. Al Ashr [103] : 1-3)
Ayat ini simple. Dan ngafalinnya juga gak
sesusah ngafalin Huruf Kanji Jepang yang beribu-ribu itu yang bikin saya pusing
sendiri saking gak bisa dihafalin. Tapi, sekarang banyak sekali yang justru
menyepelekan. Apa karena ayat ini mudah? Cuma 3 ayat, lantas isi dan
kandungannya terlupakan begitu saja?
Kalo ngeliat orang-orang yang lalu-lalang
dalam kehidupan saya, kebanyakan dari mereka ngejalanin hidupnya dengan
pas-pasan. Bukan dari segi harta, tapi dari aktivitas. Jaman saya kecil, saya
suka berimajinasi. Habis TK, SD, SMP, SMA, kuliah trus kerja, nikah, punya
anak, tua, punya cucu, trus meninggal. Wah, kayaknya enak banget ya hidup itu?
Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, ibadahnya kapan kalo gitu? Masa kita hidup
cuma ngejar itu doang? Dan akhirnya semakin lama bukti yang datang semakin
banyak. Saat ini, kebanyakan kaum Muslimin menyepelekan ibadah dalam artian
taqarrub mereka kepada Allah. Seringkali mereka terjebak dalam rutinitas dunia.
Akhirnya, sholat aja buru-buru. Gimana dengan ibadah yang lain? Seperti ayat di
atas, harusnya kalo beriman pasti korelasinya adalah amal shaleh. Amal sholeh
ya dalam segala hal. Gak hanya ibadah madhah aja, tapi semuanya. Kalo amalannya
yang hukumnya mubah-mubah aja gimana bisa jadi amal sholeh? Padahal, udah sadar
100% kalo bakal kembali menghadap Allah dan akan mempertanggung jawabkan
semuanya di hadapanNya. Ataukah udah pada lupa kalo bakal dihisab? Naudzubillah
min dzalik.
Sadar gak sih kalo apa yang kita kejar
selama ini cuma sesuatu yang akan kita tinggalkan nantinya? Dunia ini fana,
kawan. Ngapain bela-belain ngorbanin semua yang kita miliki cuma buat ngejar
dunia yang hanya sebentar ini, dunia yang pasti akan kita tinggalkan? Kuliah,
belajar sampai sakit karena lupa makan kalo ujung-ujungnya cuma ngejar ijazah dan
bisa kerja di tempat yang bagus dengan posisi yang menguntungkan dan gaji yang
besar trus bisa beli rumah dan ngumpulin harta sebanyak-banyaknya, semua itu
juga bakalan kita tinggalkan. Ngapain juga masih lebih suka nonton film, drama,
sinetron, dengerin lagu-lagu cinta yang isinya itu-itu aja yang bikin jadi
tambah galau, ngeliatin foto seleb cantik dan ganteng yang gak kenal sama para
fans? Pernah gak sih terbersit dalam pikiran kita, gimana kalo 1 detik lagi
kita dipanggil Allah? Apa yang sudah kita persembahkan untukNya? Dengan apa
kita akan menjawab pertanyaan malaikatNya? Sudahkah kita mempersiapkan
pertemuan kita dengannya?
Mungkin sekarang kita bisa bangga dengan
usia kita yang masih muda. 18, 19 atau 20 tahun. Tapi, jangan lupa, Rasulullah
saw sudah mengingatkan kita dalam sabdanya, “Manusia dikelilingi 99 penyebab
kematian dan yang terakhir adalah hari tua”.
Jadi, jangan bangga dengan usia yang masih
muda. Karena usia muda itu ancaman menuju kematiannya lebih besar. Dan pasti
udah sering lihat fenomena orang yang meninggal di usia muda. Karena waktu itu
sangat berharga, jangan sia-siakan. Saya gak bisa memungkiri, saat ini emang
ada sebuah kondisi yang sudah tersistem yang mengkondisikan banyak orang,
termasuk kita kaum Muslimin untuk berlari demi mengejar dunia. Ya, sistem Kapitalis-Sekuler
yang memisahkan agama dengan kehidupan dunia sehingga wajar aja kalo banyak
yang gak nyadar dengan apa yang mereka lakukan.
Tapi ingat, kita punya standar sendiri.
Gak semua yang kita lakukan akan diterima begitu saja sebagai sebuah amal
sholeh. Kenapa? Karena surga itu mahal. Saking mahalnya kita juga perlu sampai
berkorban nyawa untuk mendapatkannya. Amal sholeh itu punya syarat. Jadi, dalam
Islam gak semua perbuatan baik bakalan dapat pahala karena gak semua perbuatan
baik itu diterima di sisi Allah sebagai amal sholeh. Syarat yang pertama adalah
ikhlas. Ini yang susah karena definisi ikhlas itu hampir gak ada. Tapi, intinya
ikhlas itu adalah melakukan semuanya karena ingin menggapai ridho Allah semata,
bukan karena orang tua, teman, artis idola, pacar apalagi. KARENA ALLAH SEMATA,
TITIK. Itu syarat yang pertama. Yang kedua, caranya benar. Gimana tuh amal yang
disebut dengan benar? Ya, Cuma 1 aja, yakni sesuai dengan syariat Allah. Kalo
salah satu syarat di atas gak terpenuhi, amalnya sia-sia aja, seperti debu yang
beterbangan. Jadi, dua syarat di atas mutlak adanya.
Dan perlu diingat bahwa sesuai dengan
syariat Allah itu standarnya cuma ada 5, yakni wajib, sunnah (mandub), makruh,
mubah dan haram. Gak ada standar keenam. Jadi, mulai sekarang silahkan
diperhatikan, amalan atau aktivitas kita termasuk yang mana aja sih? Kalo masih
banyak mubahnya silahkan introspeksi. Kalo gak tau gimana ngasih standar? Nah,
maka dari itu, menuntut ilmu itu penting. Kita gak bakal tau cara beriman dan
beramal sholeh kalo kita gak punya ilmunya. Dan masih ada sederet lagi
keuntungan orang berilmu.
Allah swt berfirman, “Hai orang-orang
beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa
yang kamu kerjakan” (TQS. Al Mujadalah [58] :11)
Jangan cuma menuntut ilmu di perkuliahan
saja, ayo belajar Islam. Jangan tunda lagi. Waktu itu terus berlari. So, jangan
ragu untuk mengkaji Islam. Gak ada alasan lagi untuk gak belajar Islam.
Rasulullah bersabda, “BERSEGERALAH kalian untuk beramal sebelum datangnya
tujuh hal. apakah yang kalian nantikan kecuali: kemiskinan yang dapat
melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat
mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi
segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia adalah sejelek-jeleknya
yang ditunggu, atau menunggu datangnya
kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan”(HR.
Turmudzi)
So, tunggu apalagi? Saatnya kembali ke
Islam. Kalo bukan sekarang, kapan lagi?
No comments:
Post a Comment