Wednesday, April 18, 2012

RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) Bertentangan dengan Islam, Berbahaya dan Merusak

[Al Islam 602] Saat ini di DPR sedang kencang dibahas RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) yang diusulkan pemerintah. Sejak awal RUU KKG itu menuai protes, penentangan dan penolakan dari berbagai elemen termasuk ormas-ormas muslimah. RUU KKG itu dinilai bertentangan dengan Islam, berbahaya dan merusak bagi masyarakat.

Aspek Filosofis dan Ideologis
Ide KKG sebenarnya merupakan ide yang stereotype barat sebagai perlawanan atas penindasan perempuan di barat (Eropa). Penindasan itu dianggap akibat adanya perbedaan/pembedaan dan ketaksetaraan perempuan dan laki-laki. Untuk menghilangkan penindasan itu, laki-laki dan perempuan harus setara dan disamakan, dan tidak boleh ada diskriminasi. Dan begitulah baru dianggap adil. Ini sama persis dengan pemahaman keadilan ala marxist.
Dalam perspektif gender, penindasan atas perempuan dipengaruhi oleh sudut pandang patriarkhi dalam aturan dan hukum. Maka aturan dan hukum harus dibuat dengan sudut pandang perempuan agar terealisasi KKG. Keterlibatan perempuan menjadi keharusan sekaligus ukurannya. Jika partisipasi perempuan itu sama dengan laki-laki barulah dianggap benar-benar setara dan adil.
Dalam perspektif gender, penindasan atas perempuan juga dipengaruhi oleh pandangan budaya dan agama yang dianggap patriarkhis. Maka pengaturan relasi laki-laki dan perempuan dalam semua aspek harus dijauhkan dari ketentuan agama itu dan harus diserahkan kepada manusia dengan partisipasi perempuan yang setara dengan laki-laki. Disinilah, akidah sekulerisme dan sekulerisasi menjadi pra syarat mutlak terealisasinya KKG. Jadi secara filosofis dan ideologis, ide gender dan KKG itu tampak jelas bertentangan dengan Islam.
Menyontek dan Mengekor Barat
Indonesia telah meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) dan disahkan menjadi UU No. 7/1984. Inilah salah satu alasan yuridis di balik upaya legalisasi RUU KKG.
Sesi ke-39 Sidang Komite CEDAW PBB pada 23 Juli - 10 Agustus 2007, meminta pemerintah segera menuangkan konvensi itu dalam hukum nasional. Indonesia didorong untuk melakukan studi banding tentang kodifikasi dan penerapan tafsir progresif terhadap hukum Islam.
Maka disusunlah RUU KKG itu. Rujukannya adalah dokumen CEDAW, Beijing Platform For Action (BPFA) dan Millenium Developments Goals (MDGs), dsb. Paradigma, istilah, definisi dan kalimat-kalimatnya banyak menyontek dokumen-dokumen itu. RUU KKG ini hanyalah perpanjangan dari proyek barat dalam rangka imperialisme.
RUU KKG Menyerang Islam dan Berbahaya
Pasal 1, “Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi, mengontrol dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang kehidupan”. Sedangkan “Keadilan Gender adalah suatu keadaan dan perlakuan yang menggambarkan adanya persamaan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sebagai individu, anggota keluarga, masyarakat dan warga negara”.
Disitulah, RUU ini memandang Islam diskriminatif terhadap perempuan. Aturan syariah seperti terkait pakaian, larangan perempuan menjadi pemimpin negara/penguasa, tanggung jawab keibuan, relasi suami istri, perkawinan, perwalian, nusyuz, ketentuan waris dan lainnya dianggap diskriminasi dan tak adil atas perempuan. Islam dilekatkan bias patriarkhis, bahkan banyak ayat dan hadits dituduh bermuatan misogynist (membenci wanita). Spirit RUU ini pada hakikatnya menjadi gugatan terhadap Islam.
Pasal 3 huruf f menyatakan akan menghapus segala praktik yang didasarkan atas inferioritas atau superioritas salah satu jenis kelamin atau berdasarkan peranan stereotype bagi perempuan dan laki-laki. Artinya, peran khas laki-laki sebagai suami dan pemimpin bagi wanita dan peran khas perempuan sebagai isteri, ibu dan pengatur rumah tangga adalah pembakuan peran (tidak fleksibel) sehingga harus dihapus.
RUU ini melarang perbuatan yang memiliki unsur pembedaan, pembatasan, dan/atau pengucilan atas dasar jenis kelamin tertentu (Bab VIII, pasal 67). Siapa saja yang melaksanakan ketentuan syariah dalam masalah waris, aqiqah, kesaksian, melarang perempuan menjadi khatib jumat, wali nikah, imam shalat bagi makmum laki-laki, dan melarang nikah beda agama maupun sesama jenis, dsb, berarti telah melanggar Bab VIII, pasal 67 dan Bab III pasal 12 RUU KKG ini.
Pasal 8 huruf b menyatakan, setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan melalui peraturan yang tidak diskriminatif gender. Jelas ini menyasar peraturan bernuansa syariah. Komnas Perempuan pada September 2010 menganggap ada 189 perda diskriminatif. Di antaranya mengenai khalwat di Aceh, pemberantasan pelacuran di Jawa Barat, keharusan berpakaian Muslim dan Muslimah di Bulukumba, serta pelarangan keluar malam bagi perempuan di Tanggerang.
Pasal 9 ayat (1) menyatakan kesempatan yang sama dan perlakuan yang adil dalam pemenuhan hak kesehatan reproduksi, hak pendidikan, hak ekonomi dan ketenagakerjaan, keterwakilan perempuan, perkawinan dan hubungan keluarga.
Keadilan pada hak ekonomi meniadakan perlunya izin suami/keluarga bagi perempuan untuk bekerja apalagi di malam hari. Terpenuhinya hak reproduksi mencakup ketidakharusan izin suami soal sterilisasi dan aborsi. Perempuan/remaja perempuan harus dijamin mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi, termasuk kemudahan mendapatkan kontrasepsi untuk mengurangi tingkat aborsi tidak aman dan kehamilan. Pasal 4 ayat 2 mengharuskan terpenuhinya kuota 30% dalam hal keterwakilan perempuan di legislatif, eksekutif, yudikatif, dan berbagai lembaga pemerintahan non-kementerian, lembaga politik, dan lembaga non-pemerintah, lembaga masyarakat di tingkat daerah, nasional, regional dan internasional.
Pasal 20 mencantumkan sanksi administratif atau pemberian disinsentif bagi pihak yang mencederai komitmen PUG. Bahkan pasal 21 ayat (2) menentukan bila terjadi tindak pidana yang dilatarbelakangi diskriminasi gender, pidananya dapat ditambah sepertiga dari ancaman maksimum pidana yang diancamkan dalam KUHP dan UU lainnya. Lebih parah lagi, pasal 70 RUU ini memberikan ancaman pidana penjara bagi setiap orang yang sengaja melanggar pasal 67. Dengan pasal ini, penjara nantinya akan dipenuhi oleh kaum Muslimin yang melaksanakan ketentuan syariah yang dianggap tidak sejalan dengan ide gender dan KKG yang diusung RUU ini.
RUU Merusak
RUU ini nantinya akan bisa merusak kaharmonisan keluarga bahkan bisa menghancurkan bangunan masyarakat. Perempuan didorong lebih banyak berkiprah di ruang publik dan berkarir yang akan menambah beban bagi perempuan sendiri. College Eropa Neuropsychopharmacology tahun 2011 dalam studinya menemukan bahwa depresi perempuan di Eropa naik dua kali lipat selama 40 tahun terakhir karena ‘beban luar biasa’ akibat kesulitan menyeimbangkan peran mengurus rumah, merawat anak dan karir.
Dibalik ide KKG mengintai kerakusan nafsu bisnis. Bernard Lewis dalam bukunya, The Middle East mengungkapkan, “Faktor utama dalam emansipasi perempuan adalah ekonomi …. kebutuhan tenaga kerja perempuan.” Nicholas Rockefeller -seorang penasihat RAND- menyatakan tujuan kesetaraan gender adalah untuk mengumpulkan pajak dari publik 50% lebih untuk mendukung kepentingan bisnis.
Ide KKG mendorong perempuan bebas mengekspresikan diri termasuk dalam pemenuhan seksual. Keharmonisan keluarga terancam. Bangunan masyarakat juga bisa runtuh. Tercatat, saat ini di Inggris hanya 40% anak yang lahir dari pernikahan. Ide RUU ini juga berpotensi melahirkan ancaman masyarakat tua akibat pertumbuhan penduduk minus seperti yang terjadi di Eropa. Akankah kita harus menunggu deretan kejadian seperti itu di Indonesia untuk menolak ide gender dan KKG sekaligus menolak RUU ini yang mengusungnya?
Pandangan Islam
Islam datang mensolusi problem manusia secara umum dengan hukum yang sama berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Kadang solusi hukum itu datang untuk problem yang lahir dari sebagian jenis manusia, baik perempuan atau laki-laki. Dalam konteks ini, Islam membawa hukum yang berbeda-beda sesuai dengan tabiat fitrah perempuan dan laki-laki, dan sesuai dengan posisi masing-masing di dalam jamaah serta peran, fungsi dan status di masyarakat. Perbedaan tersebut diciptakan bukan untuk mendiskriminasikan perempuan tetapi demi harmonisasi peran masing-masing.
Semua aturan yang diberlakukan Allah SWT itu adalah solusi kehidupan sekaligus menjamin keadilan bagi seluruh manusia. Maka Allah melarang untuk iri atas perbedaan itu.
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِن فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٣٢﴾
Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian dari yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS an-Nisa’ [4]: 32)
Hikmah pembedaan hukum yang berkaitan pada perempuan sejatinya adalah perlindungan terhadap kehormatan dan kesucian perempuan. Penerapan syariah Islam memberikan jaminan harmonisasi keluarga, keutuhan bangunan masyarakat dan kelestarian generasi yang tangguh, bebas dari krisis keyakinan dan moralitas. Semua itu hanya bisa diujudkan dengan penerapan syariah di bawah sistem Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

P.E.R.E.M.P.U.A.N.

Adalah dia
Seorang perempuan
Hadirnya menjadi simbol
Perhiasan dunia

Dalam senyumnya
Hadir kehangatan
Dalam tangisnya
Hadir rasa iba

Adalah dia
Seorang perempuan
Hadirnya menjadi simbol
Kelembutan

Dari rahimnya
Lahir generasi-generasi penentu masa depan
Dengan tangannya
Ia mampu mengukir peradaban

Adalah dia
Seorang perempuan
Kehadirannya menjadi simbol
Runtuh dan berjayanya sebuah negara

April 18th 2012. 07.49 AM

PERHIASAN ITU BERNAMA PEREMPUAN

Bulan April. Katanya sih ini bulannya Perempuan. Soalnya, tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Ya, semua pasti tau seorang perempuan yang bernama Kartini. Pelopor kebangkitan perempuan Indonesia. Bahasa orang Feminis, “Emansipasi”. Tapi, apa bener dengan emansipasi yang diusung Kartini membuat perempuan Indonesia berada dalam kebangkitan? Dan apakah saat ini semua perempuan yang ada di jagad raya ini sudah merasakan perasaan yang sama, yakni terlindungi dan terjaga hak-haknya? Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? Silahkan terus membaca ^_^

Hari Sabtu kemarin saya mengikuti sebuah seminar Muslimah di salah satu universitas di kota tempat saya tinggal sekarang. Karena seminar Muslimah tentu saja ngebahas tentang perempuan. Saya jadi ingat tulisan di buku yang pernah saya baca. Kurang lebihnya begini kalau saya tulis dengan bahasa saya.
Perempuan. Ada banyak definisi untuk mengungkapkannya. Ada yang memuja, memanjakan, meninggikan dan melihat setiap inchi darinya adalah perhiasan dunia. Tapi, ada juga yang mencela, yang buta dan pikirannya sudah rusak. Melecehkan, merendahkan dan terus-menerus merendahkan hingga ia jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya.

Perempuan, sebuah misteri kehidupan. Pada seorang perempuan, laki-laki bisa menangis, rapuh, angkuh, tenang, tertenangkan dan bisa saja menjadikan perempuan tempat berpulang.
Ya, itu Cuma sedikit dari banyaknya daya tarik seorang makhluk ciptaan bernama perempuan. Sebagai perempuan saya tentu harus berbangga. Seharusnya gak hanya saya, tapi juga semua perempuan. Dan yang paling istimewa lagi adalah para saudari-saudari saya, sesama Muslimah.

Nah, balik lagi ke seminar yang saya ikuti kemarin. Di acara itu digambarkan bahwa wanita itu memang memiliki daya tarik tersendiri yang bisa saja memajukan sebuah peradaban atau malah sebaliknya menghancurkan sebuah peradaban. Kita lihat, fenomena perempuan abad 21.

Ternyata oh ternyata, perempuan abad 21 sedang dalam kegalauan. Beban ekonomi yang terus-menerus menghimpit akhirnya memaksa kaum perempuan untuk bekerja di luar rumah. Ada yang jadi wanita karir sampai jadi TKW. Rata-rata itu yang menjadi alasan kenapa perempuan abad 21 berbondong-bondong mencari pekerjaan. Alasan EKONOMI. Sekali lagi EKONOMI. Akhirnya, permasalahan ini merembet dengan rusaknya keluarga dan rusaknya generasi. Lho, kok bisa?

Ya, bisa aja dong. Sejagad raya juga tau kalo seorang ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Lha kalo ibunya kerja lantas siapa yang akhirnya mengurus anak-anaknya? Baby sitter, tv, internet? Tapi, emang itu kenyataannya. Anak-anak akhirnya dididik dengan tayangan-tayangan tv dan pemandangan-pemandangan internet. Wajar kalo generasi sekarang jadi generasi mesum. Kenakalan remaja juga semakin hari semakin meningkat. Belum lagi narkoba, seks bebas. Wah, pokoknya komplit deh. Belum lagi pertengkaran-pertengkaran kecil antara suami-istri sampai berjung KDRT dan perceraian serta tidak ketinggalan perselingkuhan merebak. Dan bisa dipastikan apa yang akan terjadi pemirsa? Ya, benar. Bencana kuadrat.

Lalu, bagaimana dengan kaum intelektual? Hmm, saya sebenarnya tidak tega harus mengatakan ini. Yah, 11-12 lah dengan yang diatas. Pendidikan pragmatis yang hanya berorientasi sama fulus, fulus dan fulus. Materi, materi dan materi. Pokoknya sekolah, kuliah, dapat IP bagus, kalo bisa 4,01 *mana ada, Neng?* biar cepet lulus, trus cumlaude, dapat kerja, gaji tinggi, nikah dengan pangeran tampan, punya anak selusin dan hidup bahagia selama-lamanya *Wah, mimpi mama saya banget. Ups, peace ma :p*
Miris emang. Tapi itulah kenyataan. Pendidikan bukan untuk mencerdaskan tapi untuk uang. Kalo pengen duit, kerja aja sono jangan kuliah. Wah, sepertinya ada pergeseran definisi pendidikan di Indonesia Raya ini deh. Semua jadi duit oriented. Apa-apa duit. Emang, zaman duit kayak gini kita gak bisa tanpa duit, tapi bukan berarti menjadikan duit sesembahan baru yang menjadikan kepala kita selalu berputar hanya untuk mengejarnya.

Perempuan abad 21. Mencari materi demi popularitas. Mereka menghabiskan waktunya untuk bersaing dengan pria dalam materi dan kedudukan tanpa mereka sadari semua itu justru menghinakan mereka. Pemerintah pun dengan pedenya mengeluarkan Undang-Undang tentang quota 30% bagi perempuan di pemerintahan. Namun, hasilnya? Bisa ditebak. Perempuan-perempuan malang tersebut hanya dijadikan TUMBAL. Ya, TUMBAL para pemimpin parpol tempatnya bernaung. Kebangetan..

Trus, sebenarnya akar masalahnya apa? Kayaknya masalah perempuan ini seperti lingkaran setan yang gak ada putus-putusnya. Emang bener. Kalo mo nyari akar masalah yang sebenarnya, kita runut dulu sejarah kenapa sih kok makhluk indah yang namanya perempuan itu akhirnya menuntut hak-haknya tapi justru karena itu mereka harus menjadikan diri mereka tumbal?

Para perempuan harus tau dulu nih bagaimana sejarah mencatat perlakuan bangsa-bangsa di dunia terhadap perempuan. Orang-orang Romawi memperlakukan perempuan seperti komoditas. Dilempar sana-sini, dijual sana-sini bahkan semena-mena terhadap perempuan. Seorang suami bisa melakukan apa saja terhadap istri dan anak perempuannya termasuk membunuh mereka ketika mereka diketahui bersalah. Orang Yunani juga sama, menganggap perempuan sebagai bencana sehingga mereka memperlakukan perempuan seperti sampah dan menganggap mereka sebagai beban. Bagaimana dengan Yahudi? Tidak jauh berbeda. Yahudi menganggap celakalah orang-orang yang memiliki anak perempuan. Di Arab pun begitu. Anak perempuan dikubur hidup-hidup. Kaum lelaki berkuasa penuh atas perempuan. Dan ada juga Eropa. Pada jaman kegelapan, orang-orang Eropa meragukan bahwa perempuan itu adalah jenis manusia.

Lama sekali perempuan dalam ketertindasan. Hingga akhirnya muncullah sebuah gerakan yang mengatasnamakan perempuan bernama Feminisme. Mereka berpandangan bahwa perempuan tidak produktif karena selalu didominasi oleh kaum laki-laki sehingga perempuan harus diberdayakan dan disetarakan agar mampu bersaing dengan kaum laki-laki. Mulailah ada pemikiran-pemikiran bahwa perempuan yang berharga dan bermartabat adalah perempuan yang kemudian bisa menghasilkan UANG sebanyak-banyaknya dengan begitu mereka tidak perlu tergantung pada laki-laki bahkan mereka bisa menginjakkan kaki mereka di atas para lelaki.

Seperti itulah yang terjadi saat ini. Seorang perempuan bernilai ketika ia bisa menghasilkan materi. Uang. Seorang perempuan akan mendapatkan sebuah posisi yang berharga ketika ia sukses dalam karirnya. Tapi, perempuan itu lupa bahwa mereka sebenarnya dieksploitasi. Kehormatan mereka dirampok. Demi sebuah kata bernama HARGA DIRI. Mereka rela mengorbankan semua yang mereka miliki. Mereka lupa akan jati diri mereka sebagai seorang perempuan. Mereka lupa bahwa seorang perempuan itu memiliki posisi penting dalam keluarga karena merekalah yang akan mencetak generasi-generasi masa depan yang akan mengusung peradaban. Tapi, sayang sejuta sayang, mereka lebih memilih untuk mengejar ambisi duniawi semata. Atas nama HARGA DIRI.

Dan negara sepertinya tidak begitu peduli dengan nasib perempuan di negeri ini. Padahal, negara seharusnya bisa menjaga dan melindungi hak-hak warganya termasuk juga perempuan. Tapi, susahnya hidup di zaman Kapitalis ya kayak gini. Negara mah gak mau tau. Yang penting mereka dan keluarganya senang plus tetap kaya raya.

Padahal, kedudukan seorang wanita itu sangat mulia. Bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Allah. Maka mengapa Islam kemudian memuliakan wanita dengan memposisikannya dengan posisi terpuji. Sebagai seorang ummun wa robbatul bait, yakni ibu yang mengurus rumah tangga. Untuk orang yang isi kepalanya hanya duit tentu hal itu dianggap sepele. Karena menjadi seorang ummun wa robbatul bait bukanlah sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang. Tapi, justru dengan itulah akan lahir generasi terbaik di masa depan. Dan satu hal yang terlupakan, bahwa seorang perempuan selain sebagai ibu juga adalah anggota masyarakat yang harus berkontribusi membangun perubahan di masyarakat dengan perubahan yang hakiki tentunya.
Rasulullah bersabda, “Dunia itu adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah” (HR. Muslim)

Dengan itulah Islam memuliakan seorang wanita. Menjadikannya perhiasan dunia dan akhirat karena ia sholihah bukan karena cantiknya, hartanya atau kedudukannya. Trus, wanita sholihah itu seperti apa?
Jawabannya gampang. Wanita sholihah itu adalah wanita yang mencintai Allah dan Rasulullah saw di atas segala-galanya. Wanita yang menjadikan Islam sebagai pijakan hidupnya dan berusaha sekuat tenaga berjalan di dunia ini agar sesuai dengan tuntunan Islam. Ia menjaga diri dan kehormatannya dengan menutup aurat seperti firman Allah :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya…” (An Nuur [24] : 31)

“Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya [baju kurung yang longgar dan terulur hingga kebawah] ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Ahzab [33] : 59)

Wanita sholihah itu juga senantiasa menjaga interaksinya. Menjauhi khalwat (berdua-duaan dengan yang bukan muhrim), ikhtilat (bercampur-baur) apalagi pacaran. Mereka sadar bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Allah dan mereka harus terikat dengan hukum-hukum Allah. Dan mereka menyadari betul bahwa Islam adalah solusi atas seluruh permasalahan kehidupan.

Yang harus dicamkan adalah bahwasanya Islam memandang permasalahan perempuan saat ini bukan hanya permasalahan dari sisi internal saja tetapi merupakan sebuah permasalahan manusia yang satu. Keberadaan perempuan pun sangat menentukan masa depan sebuah bangsa karena di tangan perempuanlah akan lahir generasi-generasi penerus masa depan. Maka dalam penyelesaiannya pun haruslah mengembalikan kepada solusi yang menyeluruh dan komprehensif bukan parsial saja. Maka, seharusnya perempuan dikembalikan pada posisinya semula, yakni sebagai umm wa robbatul bait bukan mesin penghasil uang seperti sekarang. Sayangnya, posisi itu tidak akan bisa dikembalikan dengan sistem sekarang. Maka, mengganti sistem dengan sistem baru yang sempurna yakni sistem Islam adalah solusi yang solutif.
Saatnya mengembalikan kemuliaan perempuan dengan menerapkan Islam secara sempurna dalam kehidupan dengan bingkai Khilafah Islamiyyah. Karena hanya dengan begitu, perempuan akan kembali mendapatkan kemuliaannya.
April 18th 2012. 07.39 AM

Sunday, April 15, 2012

Masih berani bilang I Don't Care?

Barangsiapa yang bangun di pagi hari dan paginya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya, maka Allah akan menanamkan empat penyakit, yakni kebingungan dan kesedihan yang tidak putus-putusnya; kesibukan yang tidak pernah ada habisnya; kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi; khayalan dan cita-cita yang tidak akan pernah sampai
HR. Thabrani

Renunganku

Ya Allah, ketika kami sakit kami tersadar
Namun, saat kami sehat
Kami menghindar

Ya Allah, ketika kami tua kami menyesal
Namun, saat kami muda
Kami begitu bebal

Ya Allah, saat ditimpa kemiskinan kami menyapaMu
Namun, ketika kami kaya
Kami terlupa akan nikmat dariMu

Ya Allah, saat kami dalam kesempitan kami merana
Namun, saat lapang
Kami terlena

Ya Allah, apakah harus Engkau matikan kami dulu
Lalu kami akan bertaubat
Sedang saat Engkau beri kami hidup
Kami justru bermaksiat?

April, 15th 2012. 08.54 AM

Untuk Para Pejuang

Sesungguhnya kita hanya ditolong karena kemaksiatan musuh-musuh kita kepada Allah. Jika kita juga sama dalam melakukan maksiat maka adalah mereka lebih utama daripada kita dalam kekuatan. Jika kita tidak mengalahkan mereka dengan ketaatan kita, mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.
Khalifah Umar bin Khattab kepada Saad bin Abi Waqqash saat futuhat Persia

My Inspiration

Ada dua tetesan yang sangat disukai Allah, yakni tetesan air mata yang menangis karena takut kepada Allah dan tetesan darah karena berjuang di jalan Allah


SMS Inspiratif

Bukanlah kesulitan yang membuat kita takut tapi ketakutan yang membuat kita sulit. Jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba, maka jangan katakan pada Allah, “Aku punya masalah”. Tapi katakan pada masalah, “Aku punya Allah Yang Maha Segalanya”.


Quotes

Jika engkau sudah merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, niscaya engkau dapat merasakan bagaimana pahitnya jauh dari Allah.
Imam Nawawi - Nashaaihul ‘Ibaad dari Abu Bakar asy Syibli

Untitled 4

Kadang kita diabaikan
Tak jarang pula ditertawakan
Bahkan tak pelak dicemooh

Kau, aku, dia
Kita yang berjuang di jalan ini
Pasti pernah mengalami

Bukankah dulu, ia
Sang pilihan penguasa semesta
Juga diperlakukan sama
Bahkan mungkin jauh lebih terhina?

Lantas, mengapa masih saja
Ragu, takut dan cemas itu
Masih bersemayam di dada kita?

Bukankah ini jalan yang kita pilih?
Bukankah kita sudah berjanji padaNya?
Dan bukankah ini adalah mimpi kita
Tuk tegakkan risalah ini di muka dunia?
Mereka yang hebat
Takkan lahir dari jalan mulus tanpa duri
Mereka yang tangguh
Takkan ada tanpa goncangan dan kesulitan yang terus bergulir

Bukankah dulu, ia
Sang pilihan penguasa semesta
Juga diperlakukan sama
Bahkan mungkin jauh lebih terhina?

Lantas, mengapa masih saja
Ragu, takut dan cemas itu
Masih bersemayam di dada kita?

Bukankah ini jalan yang kita pilih?
Bukankah kita sudah berjanji padaNya?
Dan bukankah ini adalah mimpi kita
Tuk tegakkan risalah ini di muka dunia?
March 7th 2012. 04.45 PM

Untitled 5

Bagaimana rasanya mati
Tanpa sebuah persiapan pasti?
Bagaimana rasanya menjemput hari terakhir
Saat hari ini tiada arti?

Lalu apa?
Apa arti surga
Jika dunia adalah seluruh cinta
Padahal ia adalah janji yang pasti

Lalu,
Akankah hari ini akan seperti ini saja?
Berlalu bersama detak sang waktu
Tanpa arti

Jika esok adalah akhir
Tiada gunalah tangis
Tinggal sesal
Menyesak dada
March, 17th 2012. 12.01 PM

Wednesday, April 11, 2012

SISTEM KUFUR LAYAK DIKUBUR

Pagi yang cerah tapi udaranya dingin. Dengan nafas tersengal-sengal nyaris putus *lebay* saya melewati jalan ke kampus yang sudah hampir 2 tahun ini saya lalui setiap hari. Pemandangannya tidak berubah. Tetap saja seperti tahun-tahun lalu. Cuma ganti orang saja :D
Saya jadi paling ribet kalo harus kuliah jam 7 pagi. Bukan karena saya tidak biasa bangun pagi tapi saya gak suka buru-buru. Pertanyaannya, kenapa saya milih kuliah pagi? Sepertinya tidak usah dijawab saja. Tidak penting dan memang bukan itu yang akan jadi pembahasan saya. Seperti biasa, kalo kuliah pagi saya pasti berangkatnya ngebut *baca: lari* dan pasti akan berakhir seperti di atas, ngos-ngosan sampai sesak nafas pula. Yah, hitung-hitung olahraga.
Ngomong-ngomong soal pemandangan lingkungan sekitar kampus saya, masih ada satu fenomena yang tidak berubah. Mungkin orang-orang yang lewat berubah-ubah, tapi yang gak berubah adalah berderetnya *sebenarnya saya agak risih menyebut istilah ini. Tapi ya sudahlah biar yang baca jadi tersinggung. Saya kan gak ngajak ribut J* pengemis di dekat gerbang masuk yang sering saya lewati, gerbang dekat Fakultas Peternakan. Para pengemis itu rata-rata usianya sudah lanjut. Antara iba dan kere, saya pun ngasih seadanya. Gerbang itu emang gak pernah sepi tapi banyakan yang gak ngasih. Semua pada sibuk sama BB-nya. Eh gak ding, Galaxy-nya. Yah, begitulah fakta mahasiswa abad 21. Nah, pertanyaannya kemanakah anak-anak para pengemis tadi? Bukannya anak wajib berbakti sama orang tua ya? Kok orang tuanya disuruh ngemis? Tapi, sampai sekarang saya juga gak tau jawabannya. Sambil ngeliatin langit biru, saya sadar saya udah telat *gubrakz*
Itu cuma salah satu fenomena yang saya perhatikan sehari-hari. Masih ada lagi sih. Kalo di sekitar kontrakan saya banyak banget pengamen yang lewat setiap saat. Miris juga sih ngeliatnya. Tapi, mau gimana lagi? Saya bisa apa? Kalopun ngasih duit gak bisa banyak-banyak soalnya saya juga masih ngemis dari ortu. Itu di sekitar tempat tinggal saya. Nah, kalo di dalam kampus saya sendiri, beda lagi. Kampus saya isinya orang-orang kaya semua. Saya sampai heran ngeliat teman saya yang semua aksesorisnya bermerek tapi SPPnya dibawah satu juta. Saya yang super duper kere begini harus kena beban luar biasa mahal. Padahal saya gak punya BB, gak punya Galaxy, mobil apalagi. Saya jadi gak habis pikir, kata pihak rektorat kampus, ini beasiswa proporsional. Tapi proporsional versi siapa?
Saya selalu mikir, dunia udah gila kali ya? Di satu sisi ada orang yang luar biasa miskin. Di sisi lain ada orang yang luar biasa kaya. Kok bisa ya ada ketimpangan sosial yang jauh begitu? Yang kaya bisa semakin kaya yang miskin juga begitu. Sementara golongan menengah meskipun gak miskin tapi gak akan pernah juga bisa jadi kaya. Dan ujung-ujungnya semua orang pengen ngejar yang namanya kekayaan materi, katanya sih biar bahagia. Tapi, buktinya gak semua orang yang kaya bahagia. Sekarang semua orang dikit-dikit galau. Uang banyak galau. Gak ada uang juga galau. Trus, mau gimana? Mau mati aja? Tapi, masuk neraka ditanggung pelaku ya.
Setelah saya melakukan analisa dan diskusi dengan berbagai narasumber, saya akhirnya bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa fenomena gila saat ini tuh udah sistemik. Jadi, kalo ada orang yang bilang udah nasib, itu gak ada hubungannya karena sistem itu ada yang menerapkan. Nah, sekarang negara kita ini yang menerapkan sistem gila itu. Pertanyaannya, sistem apakah itu?
Usut punya usut, sistem itu namanya sistem Kapitalisme. Nah, dari kata Kapital aja udah ketahuan kalo sistem itu tuh cuma mikirin tentang duit, duit dan duit. Makanya wajar kalo orang-orang sekarang ngejar duit sampai ngos-ngosan. Kenapa kok gitu? Bukannya cita-cita itu gak harus duit? Iya sih. Singkatnya gini aja deh, sekarang semua orang tuh berlomba-lomba mengejar dunia. Entah itu pengen kaya sekaya-kayanya, pengen populer, pengen disanjung, dsb. Pokoknya dunia banget deh. Kok bisa gitu? Ternyata, sistem Kapitalis ini gak berdiri sendiri. Dia punya soulmate, namanya Sekularisme. Apa itu Sekularisme? Gorengan model baru? Ya bukanlah. Sekularisme itu paham yang menyingkirkan Tuhan sebagai pencipta sekaligus pengatur dari lini kehidupan. Jadi, Tuhan itu cuma ada di tempat ibadah. Di luar itu, manusia bebas ngatur hidupnya sendiri. Suka-suka dia mau jungkir-balik, guling-guling gak masalah.
Masalahnya sekarang, apakah kita sebagai seorang Muslim juga harus mengikuti arus Sekularisme ini? Padahal, kita yakin kalo kita diciptakan oleh Allah dan nanti akan kembali sama Allah mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Trus, kalo kita nyingkirin Allah dari kehidupan dunia kita, trus apa bentuk pertanggungjawaban kita nantinya coba? Apa Islam mengajarkan untuk memisahkan agama dengan kehidupan?
Allah swt ngasih peringatan dalam KitabNya, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (TQS. An Nisaa [4] : 65).
Dari situ harusnya kita bisa ngambil kesimpulan bahwa Allah punya aturan buat manusia karena manusia itu ciptaanNya. Analoginya, kalo kita beli handphone pasti handphone itu ada buku panduannya kan? Kalo handphonenya SAMSUNG masa pake buku panduan NOKIA sih? Kan gak pas. Kayak sekarang. Kita sadar 100% kita ciptaan Allah, tapi aturan atau sistem yang diterapakan atas kita justru mengingkari keberadaan Allah dalam kehidupan publik. Makanya, jangan heran kalo dimana-mana terjadi banyak masalah.
Lagi-lagi Allah sudah bisa mengetahui, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS. Ar Ruum [30] : 41)
Trus, apa solusinya dan apa yang harus kita lakukan?
Nih, solusi dari Allah, Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (TQS. Al A’raaf [7] :96)
Maksudnya? Sudah saatnya sistem kufur masuk kubur dan kembali ke aturan Allah yang sempurna dan paripurna, yakni Syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islam. Insya Allah, keberkahan dari Allah akan datang untuk jagad raya ini. So, let’s struggle together for the sake of rising Syariah and Khilafah.

DEMI WAKTU

Ini bukan lagunya Ungu ya. Saya gak ada niat konser di tulisan ini. Lagian suara saya juga gak bagus. Jadi, jangan tertipu dengan judulnya J
Ngomong-ngomong soal waktu, saya jadi inget hafalan al Qur’an saya jaman SD dulu.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (TQS. Al Ashr [103] : 1-3)
Ayat ini simple. Dan ngafalinnya juga gak sesusah ngafalin Huruf Kanji Jepang yang beribu-ribu itu yang bikin saya pusing sendiri saking gak bisa dihafalin. Tapi, sekarang banyak sekali yang justru menyepelekan. Apa karena ayat ini mudah? Cuma 3 ayat, lantas isi dan kandungannya terlupakan begitu saja?
Kalo ngeliat orang-orang yang lalu-lalang dalam kehidupan saya, kebanyakan dari mereka ngejalanin hidupnya dengan pas-pasan. Bukan dari segi harta, tapi dari aktivitas. Jaman saya kecil, saya suka berimajinasi. Habis TK, SD, SMP, SMA, kuliah trus kerja, nikah, punya anak, tua, punya cucu, trus meninggal. Wah, kayaknya enak banget ya hidup itu? Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, ibadahnya kapan kalo gitu? Masa kita hidup cuma ngejar itu doang? Dan akhirnya semakin lama bukti yang datang semakin banyak. Saat ini, kebanyakan kaum Muslimin menyepelekan ibadah dalam artian taqarrub mereka kepada Allah. Seringkali mereka terjebak dalam rutinitas dunia. Akhirnya, sholat aja buru-buru. Gimana dengan ibadah yang lain? Seperti ayat di atas, harusnya kalo beriman pasti korelasinya adalah amal shaleh. Amal sholeh ya dalam segala hal. Gak hanya ibadah madhah aja, tapi semuanya. Kalo amalannya yang hukumnya mubah-mubah aja gimana bisa jadi amal sholeh? Padahal, udah sadar 100% kalo bakal kembali menghadap Allah dan akan mempertanggung jawabkan semuanya di hadapanNya. Ataukah udah pada lupa kalo bakal dihisab? Naudzubillah min dzalik.
Sadar gak sih kalo apa yang kita kejar selama ini cuma sesuatu yang akan kita tinggalkan nantinya? Dunia ini fana, kawan. Ngapain bela-belain ngorbanin semua yang kita miliki cuma buat ngejar dunia yang hanya sebentar ini, dunia yang pasti akan kita tinggalkan? Kuliah, belajar sampai sakit karena lupa makan kalo ujung-ujungnya cuma ngejar ijazah dan bisa kerja di tempat yang bagus dengan posisi yang menguntungkan dan gaji yang besar trus bisa beli rumah dan ngumpulin harta sebanyak-banyaknya, semua itu juga bakalan kita tinggalkan. Ngapain juga masih lebih suka nonton film, drama, sinetron, dengerin lagu-lagu cinta yang isinya itu-itu aja yang bikin jadi tambah galau, ngeliatin foto seleb cantik dan ganteng yang gak kenal sama para fans? Pernah gak sih terbersit dalam pikiran kita, gimana kalo 1 detik lagi kita dipanggil Allah? Apa yang sudah kita persembahkan untukNya? Dengan apa kita akan menjawab pertanyaan malaikatNya? Sudahkah kita mempersiapkan pertemuan kita dengannya?
Mungkin sekarang kita bisa bangga dengan usia kita yang masih muda. 18, 19 atau 20 tahun. Tapi, jangan lupa, Rasulullah saw sudah mengingatkan kita dalam sabdanya, “Manusia dikelilingi 99 penyebab kematian dan yang terakhir adalah hari tua”.
Jadi, jangan bangga dengan usia yang masih muda. Karena usia muda itu ancaman menuju kematiannya lebih besar. Dan pasti udah sering lihat fenomena orang yang meninggal di usia muda. Karena waktu itu sangat berharga, jangan sia-siakan. Saya gak bisa memungkiri, saat ini emang ada sebuah kondisi yang sudah tersistem yang mengkondisikan banyak orang, termasuk kita kaum Muslimin untuk berlari demi mengejar dunia. Ya, sistem Kapitalis-Sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan dunia sehingga wajar aja kalo banyak yang gak nyadar dengan apa yang mereka lakukan.
Tapi ingat, kita punya standar sendiri. Gak semua yang kita lakukan akan diterima begitu saja sebagai sebuah amal sholeh. Kenapa? Karena surga itu mahal. Saking mahalnya kita juga perlu sampai berkorban nyawa untuk mendapatkannya. Amal sholeh itu punya syarat. Jadi, dalam Islam gak semua perbuatan baik bakalan dapat pahala karena gak semua perbuatan baik itu diterima di sisi Allah sebagai amal sholeh. Syarat yang pertama adalah ikhlas. Ini yang susah karena definisi ikhlas itu hampir gak ada. Tapi, intinya ikhlas itu adalah melakukan semuanya karena ingin menggapai ridho Allah semata, bukan karena orang tua, teman, artis idola, pacar apalagi. KARENA ALLAH SEMATA, TITIK. Itu syarat yang pertama. Yang kedua, caranya benar. Gimana tuh amal yang disebut dengan benar? Ya, Cuma 1 aja, yakni sesuai dengan syariat Allah. Kalo salah satu syarat di atas gak terpenuhi, amalnya sia-sia aja, seperti debu yang beterbangan. Jadi, dua syarat di atas mutlak adanya.
Dan perlu diingat bahwa sesuai dengan syariat Allah itu standarnya cuma ada 5, yakni wajib, sunnah (mandub), makruh, mubah dan haram. Gak ada standar keenam. Jadi, mulai sekarang silahkan diperhatikan, amalan atau aktivitas kita termasuk yang mana aja sih? Kalo masih banyak mubahnya silahkan introspeksi. Kalo gak tau gimana ngasih standar? Nah, maka dari itu, menuntut ilmu itu penting. Kita gak bakal tau cara beriman dan beramal sholeh kalo kita gak punya ilmunya. Dan masih ada sederet lagi keuntungan orang berilmu.
Allah swt berfirman, “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (TQS. Al Mujadalah [58] :11)
Jangan cuma menuntut ilmu di perkuliahan saja, ayo belajar Islam. Jangan tunda lagi. Waktu itu terus berlari. So, jangan ragu untuk mengkaji Islam. Gak ada alasan lagi untuk gak belajar Islam. Rasulullah bersabda, “BERSEGERALAH kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal. apakah yang kalian nantikan kecuali: kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia adalah sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau  menunggu datangnya kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan(HR. Turmudzi)
So, tunggu apalagi? Saatnya kembali ke Islam. Kalo bukan sekarang, kapan lagi?

MOST WANTED

Most wanted. Satu kata yang diinginkan banyak orang. Siapa yang gak mau coba jadi orang yang disukai banyak orang yang lainnya? Makanya, banyak orang yang akhirnya berlomba-lomba jadi most wanted. Nah, di dunia ini most wanted yang konotasinya positif dan yang paling banyak jumlahnya adalah apa yang disebut dengan “Selebriti” atau singkatnya “Seleb”. Emang ada most wanted yang konotasinya negatif? Oh, ada dong. Salah satu contohnya buronan internasional. Atau yang paling santer sekarang teroris yang sampai sekarang saya juga antara percaya dan gak percaya, ada gak sih orang yang dijadikan tersangka terorisme itu?
Tapi yang akan saya tulis di sini bukan most wanted versi kedua. Soalnya sekarang most wanted versi pertama emang lebih diburu daripada most wanted versi kedua. Buktinya? Banyak. Sekarang rata-rata orang punya idola masing-masing. Terlepas dari apakah dia fans biasa ataukah fans luar biasa alias fans fanatik. Apalagi sekarang virus KPOP lagi menyebar seperti jamur di musim hujan. Apalagi di fakultas saya yang notabene-nya belajar budaya asia timur. Gak cuma program studi saya aja yang kegirangan sama artis-artis Korea yang dari segi fisik sangat perfect itu tapi juga program studi tetangga bahkan fakultas lain yang gak ada hubungannya dengan kebudayaan asia timur. Yah, media memang sangat berperan terutama internet. Mulai dari Meteor Garden dengan F4-nya sampai Full House dengan Rain dan Song Hae Gyo. Dan sekarang muncullah fenomena boyband dan girlband. Kalo dulu ada 5566 dan TVXQ. Sekarang, muncullah nama-nama seperti Super Junior, Girls Generation, KARA, B2ST, dan sederet boy-girlband lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Semuanya itu punya tempat di hati fans mereka. Sampai-sampai fansnya bela-belain nonton konser, beli DVD asli. Pokoknya semua dilakuin biar bisa ketemu idolanya, minimal lebih dekat dengan idolanya. Sampai ada fans yang bikin semacam cerita yang istilahnya “Fans Fiction”. Mulai dari yang biasa sampai yang porno juga ada, naudzubillah min dzalik. Akhirnya, banyak remaja yang berbondong-bondong pengen jadi boyband atau girlband.
Itu kalo di sisi cewek-cewek. Sebenarnya simple aja sih kenapa mereka suka boyband. Yang pertama, cowok-cowok itu ganteng, tinggi, putih, rambut lurus, suara bagus. Ya, begitulah. Yang cowok-cowoknya juga sama. Kenapa suka girlband karena mereka cantik, tinggi, rambut lurus, kaki panjang, seksi, de ka ka. Standar sih alasannya. Ada lagi idola jenis lain. Atlet. Yang paling banyak atlet sepak bola. Kalo dulu jaman saya SD ada Batistuta, Del Piero, Totti, eh gak ketinggalan David Beckham. Sekarang bermunculan yang muda-muda dan fresh seperti Messi, Christiano Ronaldo, Kaka, Ozil, dkk. Ya, orang-orang yang saya sebutkan barusan emang contoh dari most wanted versi pertama. Mereka disukai banyak orang, punya duit banyak, populer. Kayaknya hidup mereka perfect banget. Gak ada beban. Pengen apa aja bisa saking kayanya.
Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mengidolakan mereka? Nah, ini yang bikin saya miris. Rata-rata teman-teman saya yang Muslim juga ikut-ikutan mengidolakan orang-orang seperti mereka. Bahkan mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak Cuma buat beli poster, majalah yang ada idolanya di dalam situ, beli modem biar bisa selalu update. Pokoknya semuanya dilakukan. Senang dan sedihnya mereka karena idolanya. Tanpa sadar mereka udah menjadikan idola mereka itu cinta yang no.1. Waduh, gawat nih kalo kayak gini. Ada yang salah. Padahal seharusnya kecintaan seorang Muslim yang pertama dan paling tinggi harusnya diletakkan kepada Allah dan Rasulullah saw. Kalo sekarang mah beda. Kecintaan pertama itu kadang-kadang ada di idola atau pacar. Kalo gak punya pacar yang no.1 idola, tapi kalo punya pacar, ya pacarnya yang no.1, sampai-sampai Allah aja gak dianggap, naudzubillah. Tanpa sadar akhirnya mengerdilkan peran Allah dalam hidup. Sholat iya, baca al Qur’an iya. Tapi masih pacaran dan mengidolakan orang-orang yang geje seperti yang saya sebutkan tadi. Apa coba kalo bukan Sekuler namanya? Nganggap Allah hanya ada pas lagi sholat. Kalo gak sholat Allah entah dimana. Kebangetan luar biasa.
Masalah idola, banyak dari umat Islam yang melupakan satu hal. Bro and sis, kita punya idola sendiri. Dan idola kita jauuuuuuuuuhhh lebih sempurna daripada most wanted yang ada sekarang.
Allah swt berfirman :
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TQS. Al Ahzab [3] : 21)
Rasulullah saw itu orang yang luar biasa. Seorang pemimpin, guru, pengusaha, ayah, paman, dan kakek yang hebat. Kehebatannya bisa tercermin lewat sahabat-sahabatnya. Sebut saja Abu Bakar yang loyal, Umar bin Khattab yang tegas, Utsman bin Affan yang lembut, Ali bin Abi Thalib yang cerdas, Mushab bin Umair yang optimis, Zain bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan masih banyak lagi generasi-generasi emas hasil didikan beliau.
Rasulullah sangat mencintai umatnya lebih dari apapun. Secinta-cintanya Super Junior sama Elf atau TVXQ sama Cassiopeia, gak bakalan bisa dibandingin dengan cintanya Rasulullah saw sama kita, umat Islam. Saking cintanya, beliau ngorbanin waktu, tenaga, pikiran, dan usianya untuk berdakwah dan menerapkan risalah yang diembannya dalam bentuk negara. Itu supaya apa? Biar kita tuh hidup sejahtera, bahagia dan gak galau kayak sekarang. Sampai-sampai saat sakaratul maut yang luar biasa sakitnya, Rasulullah masih sempat nyebut kita. Subhanallah..
Bahkan beliau meninggalkan sebuah wasiat berharga dan tidak ada bandingannya. Kata beliau, “Kutinggalkan dua perkara, ketika kalian berpegang teguh padanya kalian tidak akan tersesat, yakni al Qur’an dan Sunnahku”. Masih kurang apalagi kecintaan beliau sama kita? Dan yang pasti di akhirat kelak hanya kepada beliau-lah kita meminta syafaat, bukan sama seleb-seleb dunia yang Sekuler tadi. Di dunia aja mereka gak hafal sama fansnya gimana di akhirat nanti? Mereka bakal sibuk juga sama dosa mereka. Rasulullah saw juga pernah bersabda, “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya” (HR.Mutafaq ‘Alaih). Hati-hati, jangan sampai kecintaan kepada manusia yang lainnya melebihi kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Apalagi sama artis-artis yang bukan Muslim itu. Kalo mereka masuk neraka, jangan nyesel kalo diikutin masuk neraka juga. Naudzubillah min dzalik deh. Semoga kita nanti termasuk dari umatnya Rasulullah saw yang mendapatkan syafaatnya, aamiin.

Monday, April 09, 2012

First Day of Mid

UTS oh UTS. Gak terasa semester genap udah lewat setengah perjalanan. Perasaan baru kemarin deh ngurusin KRS yang jadwalnya tabrak sana-sini sampai bikin kepala pusing. Eh, sekarang udah UTS. Beberapa waktu lagi gak akan terasa udah UAS. Ckckck, waktu emang cepat banget berlalu *dan saya baru sadar kalo saya udah semakin tua :DDD*
Ngomong-ngomong soal UTS nih ya, kayaknya apa yang saya lakukan beberapa waktu sebelumnya tidak jauh berbeda dengan yang teman-teman saya lakukan. Yup! Apalagi kalo bukan belajar? Suatu aktivitas yang wajib dilakukan pra UTS bagaimana pun metodenya. Ada yang jauh-jauh hari udah belajar, ada juga yang pake SKS alias Sistem Ngebut Sehari-Semalam dan mungkin saja ada yang lebih kilat lagi, Sistem Ngebut Sejam. Ckckck, parah banget kalo udah kayak gitu. Selain UTS, ada 1 lagi kegiatan besar di kampus saya. Pendaftaran beasiswa. Tapi, minggu ini gak sepadat minggu lalu. Mungkin karena pada pusing mikirin UTS. Paling juga 2 atau 3 hari lagi, rektorat bakalan penuh dengan antrian orang-orang seperti ngantri tiket konser boyband. Padat, panjang dan ngantrinya gak tanggung-tanggung, dari pagi sampai magrib. Sampai-sampai bapak petugasnya ada yang jamak sholat Ashar sama Maghrib *masya Allah*
Itu cuma sebagian kecil dari banyaknya aktivitas dunia yang seringkali membuat kita lalai dari kewajiban kita yang sebenarnya. Terkadang untuk hal-hal yang berbau dunia, kita setengah hidup mengejarnya. Kuliah dan belajar sepanjang waktu demi mendapatkan IP sempurna, bekerja mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, mengejar cinta dengan alasan yang selalu bisa diukur. Tapi, kita seringkali lupa bahwa tidak ada satupun yang abadi di dunia ini. TIDAK ADA. Kita pasti akan meninggalkan dunia ini entah kapan waktunya. Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk menghadapi hari itu? Hari yang tidak pasti kapan datangnya tapi pasti akan datang dan akan selalu mengintai kita dimanapun kita berada. Sudahkah kita benar-benar mempersiapkan pertemuan kita dengan Allah azza wa jalla? Sering sekali Allah mengingatkan kita tentang hal itu, tentang kematian. Allah pun berkali-kali mengingatkan tentang kepalsuan dunia ini. Masihkah kita kemudian mengejarnya sampai kita sendiri mati karenanya? Ayo, pren, bangun. Sadar. Dunia ini cuma seperti mimpi aja. Saat kita tersadar nanti tempat kita cuma 2, surga atau neraka.
Mungkin tulisan ini sederhana. Yah, saya cuma sekedar mengingatkan aja. Manusia kan tempatnya lupa dan salah makanya itu ada saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Tulisan ini gak cuma buat mereka yang masih galau nentuin tujuan hidupnya yang sebenarnya. Tulisan ini juga buat kita-kita yang udah paham mau ngapain kita di dunia ini. Soalnya, terkadang kita juga kadang-kadang masih misah-misahin aktivitas kita. Padahal kita semua tahu bahwa aktivitas amar ma'ruf nahi munkar adalah amalan tertinggi yang bisa menjadikan kita istimewa di sisiNya. Maka dari itu, mari kita senantiasa muhasabah diri kita. Apakah urusan pribadi kita masih lebih kita pentingkan daripada urusan umat ini? Kalo kitanya aja masih condong kepada dunia, gimana kita bisa merangkul saudara-saudara kita untuk kembali ke Islam Kaffah? Yuk, sama-sama berkomitmen berubah untuk lebih baik setiap saat. Jangan biarkan waktu kita terlewati tanpa amal sholeh.

Sunday, April 08, 2012

Buat Siapa Saja yang Ingin Dicintai Allah swt

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Barangsiapa menghinakan wali (kekasih)-Ku, ia telah terang-terangan memusuhi-Ku. Wahai Anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepada-Ku, maka pasti Aku akan
memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. Ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat.” 

- (Dikeluarkan oleh ath-Thabrâni dalam kitab al-Kabir)

Kunci-kunci Surga

Setiap Muslim, siapapun dia, tentu berharap masuk surga. Bahkan surga adalah puncak harapan setiap Muslim. Baik Muslim yang taat ataupun yang suka maksiat, yang adil ataupun yang fasik, yang lurus ataupun yang menyimpang, yang tunduk pada syariah ataupun yang menentang, yang pasrah kepada Allah SWT ataupun yang membantah, yang memperjuangkan syariah ataupun yang menghalangi tegaknya syariah; semuanya pasti ingin masuk surga; tak ada yang tidak menginginkan surga. Begitulah yang tampak di permukaan.

Namun, apa yang dinyatakan oleh baginda Rasulullah SAW ternyata berbeda dengan realitas atau klaim di atas. Pasalnya, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Setiap orang dari umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya heran, “Siapa yang enggan masuk surga, wahai Rasulullah?” Kata beliau, “Mereka yang menaati aku akan masuk surga, sedangkan yang menentang aku berarti mereka enggan masuk surga.” (HR al-Bukhari, Ahmad dan an-Nasa’i).
Karena itu, bagi seorang Muslim yang menaati Rasulullah SAW, surga tentu sedang menanti dirinya untuk dimasuki. Hanya saja, surga memiliki sejumlah pintu, dan pintu-pintu surga (bab al-jannah) memiliki kuncinya masing-masing (miftah al-jannah). Lalu apa kunci-kunci surga itu?
Ada banyak kunci surga sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh baginda Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya. Tiga di antaranya adalah: ucapan La Ilaha illaLlah (kalimat at-tahlil); menegakkan shalat; mencintai orang miskin (hubb al-masakin).
Pertama: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah La ilaha illLlah (Kunci surga adalah Tiada Tuhan kecuali Allah).” (HR al-Bukhari). Di sini tentu yang dimaksud bukanlah sekadar mengucapkan kalimat tahlil di atas, tetapi memaknainya dengan cara merefleksikannya dalam kehidupan. Konsekuensi dari kalimat tahlil adalah: tunduk dan patuh hanya kepada Allah serta tidak membuat aturan sendiri selain aturan yang telah Allah tetapkan. Saat seorang Muslim enggan tunduk dan patuh kepada Allah SWT dengan cara tunduk dan patuh pada seluruh syariah-Nya, pada hakikatnya ia mengingkari kalimat tahlil di atas. Apalagi saat seorang Muslim malah membuat aturan sendiri yang berbeda bahkan bertentangan dengan aturan Allah SWT, yakni aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Pada saat demikian, dia bukan saja mengingkari kalimat tahlil di atas, tetapi bahkan telah menyejajarkan dirinya dengan-malah menempatkan dirinya di atas-Allah  SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 31). Padahal Allah SWT telah menegaskan (yang artinya): Sesungguhnya hak membuat hukum itu (yakni menentukan halal-haram, pen.) adalah milik Allah semata (TQS al-An’am [6]: 57).
Kedua: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah ash-shalat (Kunci surga adalah shalat).” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Baihaqi). Menegakkan shalat adalah ibadah pokok dan utama sekaligus wujud penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Tanpa menegakkan shalat, klaim seorang Muslim dalam kalimat La ilaha illalLah tentu layak dipertanyakan. Yang pasti, tanpa shalat, seorang Muslim berarti telah kehilangan salah satu kunci surga.
Ketiga: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah hub al-masakin (Kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin).” (Ats-Tsa’labi, Tafsir ats-Tsa’labi, IV/184).
Refleksi kalimat tahlil dalam kehidupan dan aktivitas shalat adalah cerminan dari hubungan manusia dengan Allah SWT (habl[un] minalLah). Adapun mencintai orang-orang miskin merupakan cerminan dari hubungan manusia dengan manusia lain (habl[un] min an-nas).
Sebagian ulama menambahkan, bahwa di antara kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu. Imam al-Qurthubi, misalnya, mengutip Sahal, menyatakan “Miftah al-jannah tark al-hawa’ (Kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu).” (Al-Qurthubi, IX/208). Hawa nafsu adalah segala ucapan atau tindakan yang bertentangan dengan wahyu. Artinya, hawa nafsu adalah lawan dari wahyu. Ini sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya): Tidaklah yang diucapkan Rasul itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapan Rasul itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepada dirinya (TQS an-Najm [53]: 3-4).
Jika ditelaah, meninggalkan hawa nafsu-tentu seraya mengikuti wahyu-hanyalah konsekuensi belaka dari kalimat tahlil di atas.
Itulah di antara kunci-kunci surga yang diisyaratkan oleh baginda Rasulullah SAW.
Sebaliknya, baginda Rasullah SAW pun menginformasikan kepada kita sejumlah penghalang yang bisa menghalangi kita masuk surga. Beliau, misalnya, bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam kalbunya terdapat sedikit saja sikap sombong (HR Muslim).”
Beliau juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi (HR al-Bukhari).”
Beliau pun bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang gemar mengadu-domba (HR Muslim).”
Masih ada hadits-hadits senada. Pada akhirnya, semoga kita bisa mendapatkan kunci-kunci surga di atas, dan sebaliknya kita bisa menyingkirkan segala faktor penghalang yang bisa menghalangi kita masuk ke dalam surga-Nya. Amin.


http://hizbut-tahrir.or.id/2011/11/09/kunci-kunci-surga/

Sabar, Sabar

Sabar melawan hawa nafsu lebih sulit daripada sabar menghadapi pertempuran dan lebih besar pahalanya. Pemberani yang maju ke medan pertempuran, ia sedang mengunyah nikmatnya kemenangan dengan gerahamnya. Sehingga apabila telah ada pertempuran sengit, maka jiwanya bersemangat dan bergelora. Sementara orang mukmin yang berperang melawan hawa nafsu, ia sedang menelan pahitnya larangan (meninggalkan perkara-perkara haram). Sehingga apabila ia bersih kukuh pada kesabaran, maka jiwanya berpaling dan menangis. Pemberani yang berperang melawan musuh-musuhnya-maka itu dilakukan bisa saja-karena riya’ (hipokrit), sum’ah (gila hormat), fanatisme dan berharap ridha Allah. Namun, orang mukmin itu tidak berperang melawan hawa nafsunya, kecuali karena ketaatan dan semata-mata berharap ridha Allah.
Mushtafa as-Siba’i, dalam kitabnya “Hakadza Allamatni al-Hayah, Begitulah Kehidupan Mengajariku”.


Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 07/12/2011.

KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI

Beberapa waktu yang lalu Indonesia ditimpa kegalauan yang luar biasa. Lho? Galau? Kok bisa? Ya, bisa aja. Sekarang penyebaran virus galau semakin membabi buta sampai-sampai menimpa pemerintah Indonesia sekaligus parpol-parpol yang ikut andil dalam parlemen. Akhirnya, rakyat juga ikut tertular virusnya *tapi, maaf saja. Saya bukan termasuk di dalamnya :p*
Ngomong-ngomong soal galau, kenapa sih kok Indonesia bisa sampai galau? Saudara-saudara semua pasti tau kalo beberapa waktu yang lalu pemerintah *lagi* mengeluarkan kebijakan “MENAIKKAN HARGA BBM” untuk yang kesekian kalinya. Rencananya sih pas 1 April kemarin. Tapi, ternyata pas sidang paripurna DPR semua pada galau akhirnya ditunda deh rencana naikkin harga BBMnya. Sebelum itu, rakyat duluan yang kena virus galau. Demo dimana-mana. Semua nolak kenaikan harga BBM. Sampai-sampai mahasiswa di ibukota negara kita tercinta ini demo habis-habisan plus adegan action ala superhero di film box office alias berantem sama aparat. Ya, rencana pemerintah menaikkan harga BBM memang bikin reaksi banyak pihak beda-beda. Begitu juga dengan parpol alias partai politik. Ada yang pro dan ada yang kontra. Sampai puyeng kepala saya dengerin debat perwakilan fraksi parpol-parpol yang ternyata juga sama galaunya dengan pemerintah. Sampai keluarlah statement hipokrit yang justru bikin semua tambah kacau. Bertambahlah predikat Indonesia. Negara Galau. Kira-kira begitulah.
Nah, sekarang ayo kita cari tau, kenapa sih pemerintah sampai ngotot mau menaikkan harga BBM *lagi* meskipun sekarang kenaikkannya ditunda untuk beberapa waktu ke depan? *tapi kenaikannya jadi 20%*
Usut punya usut, ternyata ada empat alasan pemerintah ngotot pengen naikkin harga BBM untuk kesekian kalinya *dengan kenaikan yang lumayan fantastis*
Pertama, kata pemerintah, sekarang harga minyak dunia udah naik jadi 120 USD perbarel. Sedangkan asumsi dalam APBN Cuma 90 USD perbarel. Masih ada 30 USD yang kurang untuk subsidi BBM.
Kedua, dengan naiknya harga minyak dunia, semua itu akan membebani APBN. Bisa-bisa APBN jebol karena dibuat subsidi BBM soalnya seperti alasan yang pertama tadi. APBN cuma menganggarkan 90 USD buat subsidi BBM dan masih kurang 30 USD lagi. Mending uang subsidinya dipakai untuk yang lain seperti pendidikan, kesehatan, dsb.
Ketiga, kata pemerintah produksi minyak di Indonesia sudah semakin berkurang sedangkan konsumsinya bertambah. Jadi, kalau BBMnya disubsidi, rakyat akan boros.
Keempat, BBM yang disubsidi selama ini tidak tepat sasaran alias masih ada orang kaya yang beli BBM bersubsidi. Jadi, menurut pemerintah mending dicabut semua aja subsidinya biar adil.
Nah, itu dia empat alasan utama pemerintah kita yang lagi galau jadi mutusin buat naikkin harga BBM beberapa waktu ke depan. Tapi, kalo menurut saya kebijakan menaikkan harga BBM itu KEBIJAKAN BASI. Lho, kok basi?
Iyalah, udah basi. Alasan-alasannya itu lho yang basi. Treatment pasca naiknya BBM juga udah basi. Kalo dulu ada yang namanya BLT, nanti juga bakalan ada semacam BLT cuma namanya aja yang diganti jadi BLSM. Kalo rakyat bisa teriak, pasti semua bakalan ngomong, “KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI”. BLSM itu bukan solusi yang solutif untuk merespon dampak kenaikan harga BBM. Nanti, pasca kenaikan harga BBM otomatis semua biaya kehidupan akan naik dan itu berarti semakin bertambahlah beban kehidupan. Semakin menyebar pula virus galau di Indonesia Raya ini. Kalo cuma ngasih bantuan sementara mah, mending gak usah karena percuma aja. Bantuannya cuma buat 9 bulan pasca naiknya harga BBM. Setelah itu? Silahkan cari sendiri. Emang pemerintah mau mikirin?
Banyak alasan yang sudah dikeluarkan buat nolak kenaikan harga BBM dan emang seharusnya gak dinaikkan. Indonesia penghasil minyak bumi, ngapain harus beli mahal-mahal. 105 perusahaan asing aja bisa hidup makmur dengan mengeksplorasi seluruh sumber minyak sampai ngejual di SPBU-SPBU. Masa kita yang tinggal di sini sejak kita lahir bahkan nenek moyang kita juga lahir di sini harus bayar mahal-mahal buat beli BBM hanya dengan alasan macam-macam kayak di atas tadi?
Tapi, lagi-lagi tapi, masalahnya bukan cuma sekedar BBM naik atau gak. Bukan sekedar kebutuhan masyarakat terpenuhi atau gak. Tapi, masalahnya adalah dasar kebijakannya itu. Apalagi kalo bukan Undang-undang? Selama UU Migas no.20 tahun 2001 masih legal, selama itu pula Indonesia bakalan galau karena desakan perusahaan-perusahaan asing yang udah seperti lintah yang bakalan menghisap seluruh sumber daya alam Indonesia sampai habis. Gak cuma Undang-undang tapi semua perjanjian-perjanjian dan sejenisnya juga. Semua itu yang akan selalu menjerat pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan basi. Bukannya ngasih solusi malah ngeluarin kebijakan basi. Mau dibawa kemana negara kita? Masihkah kita akan terus diam dalam kegalauan dan pusing sendiri?
Satu hal yang harus dicamkan, kebijakan basi pemerintah tidak akan bisa memberi solusi apa-apa. Dengan sistem yang kacau balau dan penuh kelicikan seperti itu, sudah bukan saatnya berharap pemerintah akan berubah karena pemerintah dikendalikan oleh sistem. Sistem seperti apa? Sistem yang hanya mementingkan uang, uang, dan uang. Sistem yang menyingkirkan Sang Pencipta *yang seharusnya juga berhak mengatur* dari lini kehidupan dengan anggapan bahwa manusia bebas mengatur hidupnya. Sistem ini juga yang membuat pemerintah seolah-olah tersihir dan lupa dengan tujuannya saat kampanye dulu. Sistem ini juga yang membuat parpol-parpol yang seharusnya kritis menjadi rapuh seperti kerupuk karena tidak memiliki idealisme.
Trus, apa solusinya? Solusinya ya, ganti aja sistemnya. Sistem sekarang ini ibarat akar pohon yang udah sekarat. Gak ada gunanya disiram air sama dikasih pupuk. Udah gak bakalan bisa diharapkan lagi. Udah saatnya ganti dengan sistem yang bisa diharapkan. Sistem apakah itu? Tentu saja sistem yang bukan berasal dari manusia, tetapi dari yang Empunya manusia. Ya, sistem yang berasal dari Allah azza wa jalla. Apalagi kalo bukan sistem Islam? Hanya sistem Islam yang bisa ngasih solusi buat semua permasalahan kehidupan. Syariat Islam mengatur semua tentang kehidupan termasuk tentang bagaimana mengelola sumber daya alam seperti minyak bumi, dkk. Nah, masalahnya syariat Islam hanya bisa tegak dengan institusi pelindung yang namanya Khilafah. Maka dari itu, gak bisa menerapkan syariat Islam tanpa ada Khilafah. Kalo gitu, tunggu apa lagi? Ayo, berjuang untuk menerapkan syariah dalam bingkai Khilafah bukan hanya demi kebutuhan hidup seluruh rakyat Indonesia tetapi juga karena kita adalah Muslim dan itu adalah dorongan keimanan kita yang besar kepada Allah azza wa jalla dan wujud kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad saw. Insya Allah, gak bakal ada lagi deh kata GALAU dalam hidup kita. Because Khilafah is the only solution. 
Wallahu 'alam bi ash shawwaab.