Saturday, July 14, 2012

Saigo no LOVE

Cinta, satu kata jutaan makna. Sepertinya ngomongin soal cinta gak bakal ada habisnya. Power apa sih yang dimiliki si cinta ini sampai-sampai dia selalu aja mengisi hari-hari setiap orang dengan warna-warni? Sekarang, apa sih hal yang gak ada sangkut-pautnya dengan cinta? Lagu, novel, sinetron, film, drama, anime, bahkan contoh kalimat tata bahasa yang saya pelajari juga pasti ada hubungannya dengan cinta. Hal kecil bisa jadi besar karena cinta. Hal yang sederhana bisa jadi rumit juga karena cinta. Sepertinya cinta itu multi-tafsir kalo dibalikin ke diri manusia masing-masing. Semua orang bisa jadi pujangga, bahkan untuk orang paling garing se-jagad raya.
Cinta, kadang beda tipis dengan obsesi, ambisi, dan segala hal yang menghiasinya. Bahkan benci pun sekatnya tipis banget dengan cinta. Orang bisa sangat bahagia dan flowering *berbunga-bunga* atau bahkan bisa sangat hancur karena cinta. Bahkan karena cinta yang haram bisa jadi halal lho *naudzubillah* Yah, itu sih kalo dibalikin ke pribadi (baca: perasaan) masing-masing, cinta akan jadi hal yang sangat multi-tafsir.
Saigo no LOVE. Ini bukan judul drama yang saya rampok trus saya jadiin judul tulisan. Kalo ada drama kayak gini, maaf-maaf aja, saya gak tahu. Yang pasti judul ini murni buatan saya saking udah gak kepikiran judul yang lain. Saigo no LOVE atau CINTA Terakhir. Kesannya kayak sendu banget ya judulnya? Tapi, saya gak bakalan ngebahas kisah romantis kok. Nanti aja kalo saya udah punya ide gila buat ngelanjutin jadi cerita *gak penting*
Cinta. Semua pasti pernah merasakan *bagi yang sudah baligh* Sampai ada tuh istilah First Love atau Love at the first sight *jiaaaahhh* Bahkan ada yang bilang, First Love Never Die *teori dari mana tuh?*

Manusia, balik lagi sama perasaannya. Hari ini cinta itu ada pada satu orang. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, dia bisa pindah ke orang yang lain. Buktinya? Orang yang ngakunya cinta dan mengekspresikan lewat pacaran bisa kan sampai gonta-ganti pacar berkali-kali *emang baju??* Perasaan manusia itu seperti langit di musim gugur. Senantiasa berubah tergantung waktu. Maka, Cinta pertama belum tentu akan jadi yang terakhir. Belum tentu. Cinta itu akan berpindah kemana dia mau. Makanya, dia butuh diatur. Dengan apa? Pastinya bukan dengan sekehendak hati dong. Kenapa? Karena cinta itu salah satu bentuk potensi yang sudah ada dalam diri manusia sejak ia diciptakan. Cuma salah satu. Berarti masih ada lagi dong? Ya, masih. Tapi, gak akan disinggung di sini. Cinta merupakan salah satu bentuk dorongan atau insting atau naluri manusia. Maka dari itu pemenuhannya harus diatur oleh sebuah aturan baku dari Yang Maha Tahu pastinya bukan dari Yang Maha Sok’ Tahu.
Tapi, kalo udah nyinggung masalah perasaan atau hati, semua pasti pada lupa. Termasuk lupa sama aturan yang seharusnya ditaati. Miris banget ngeliat orang-orang mengekspresikan cinta mereka dengan jalan yang salah. Pacaran, gonta-ganti. Nikah, cerai-rujuk atau malah nikah-cerai, trus nikah lagi. Apa cinta segampang itu berpindah? Mungkin saja, apalagi kalo dia bebas dan gak diatur. Lagian, jaman sekarang mana ada sih aturan baku untuk cinta? Gak ada. Semua dikembalikan sama perasaan masing-masing orang. Trus, kalo udah kayak gitu, berarti gak ada dong yang namanya Saigo no LOVE?
Daripada semakin lama semakin ngawur, lebih baik kita sudahi saja kekacauan ini *???* 
Masalah cinta kalo dibahas emang gak bakal ada habisnya. Kenapa? Karena semua dibalikin ke perasaan. Gak salah sih. Itu wajar, karena manusia punya yang namanya potensi kehidupan, salah satunya naluri. Dan salah satu naluri itu adalah naluri berkasih-sayang. Jadi, wajar kalo manusia merasakan yang namanya perasaan cinta dan kasih sayang. Namun, SANGAT PENTING untuk diingat bahwa yang menciptakan naluri itu adalah Allah. Allah tidak asal menciptakan tetapi Allah juga mengatur naluri itu. Jadi, kalo yakin ciptaan Allah berarti harus MAU diatur dengan aturan Allah termasuk dalam hal naluri. Tapi, kenyataannya sekarang aturan Allah tidak digunakan dalam kehidupan. Sekarang manusia menggunakan aturannya sendiri. Ngerasa SOK PALING TAHU masalah dirinya. Padahal, siapa sih dia? 
Nah, makanya jangan heran kalo sekarang itu CINTA seperti gak ada harganya. Bisa dilempar kesana kemari dan bahkan bisa dijual murah. Dengan sistem sekarang orang sangat gampang untuk jatuh cinta, tapi cintanya bukan sama Allah dan Rasulullah, tapi sama materi. Cintanya gak punya landasan sama sekali. RAPUH. Sekali lagi CINTANYA RAPUH. Ada yang gak sepakat? Silahkan komplain. Tapi sama Allah ya :)   
Padahal Allah sudah memberikan aturan terkait hal ini. Kecintaan tertinggi hanyalah kepadaNya dan RasulNya, baru kemudian kepada yang lain. Dan mencintai yang lain pun harus ada landasannya. Apa itu, ya tentu saja landasan cinta kepada Allah. Kalo cinta kepada Allah ditaruh di belakang, saya jamin 1000%, hidup gak bakalan tenang. Lihat aja sekarang, ketika cinta hanya dibalut dengan perasaan sebagai seorang manusia tanpa landasan, kata kebahagiaan itu hanya seperti fatamorgana. Maka, landasilah cinta itu dengan KEIMANAN dengan sebenar-benarnya IMAN kepada Allah dan kecintaan kepadaNya serta kepada RasulNya. Ingatlah, bahwa kita semua berasal dari Allah dan sudah menjadi hak Allah kalo sewaktu-waktu DIA berniat mengambil apa yang seharusnya menjadi milikNya termasuk diri kita, keluarga kita, sahabat kita dan apapun yang kita cintai.
Saigo no LOVE. Pada akhirnya, DIA yang akan menjadi cinta terakhir. Manusia seringkali lupa. Setiap saat mereka meminta banyak hal padaNya. Namun, ketika DIA mengajari mereka untuk bersabar, mereka marah dan menyalahkanNya. DIA selalu ada, di saat mereka butuh sandaran bahkan DIA selalu menawarkan diri untuk menjadi sandaran. Namun, hampir-hampir tak ada yang mencintaiNya setulus hati. Karena mereka sudah lebih dulu memiliki cinta pertama, kedua, ketiga, dst. Tapi, manusia harus tahu, kemanapun mereka pergi dan sejauh apapun mereka melangkah, mereka tetap akan kembali ke sisiNya. Karena DIA akan menjadi CINTA TERAKHIR.
Wallahu 'alam bi ash shawaab.

MY UNLUCKY DAY

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat salah paham terhadap sebuah kejadian yang menimpa saya. Tulisan ini hanyalah renungan. Mungkin saja, di dunia ini ada orang lain yang pernah merasakan dan menganggap hal tersebut sama dengan anggapan saya dan sama dengan apa yang saya rasakan.
Sore itu saya bermaksud ke kampus untuk sebuah keperluan. Mencari tempat dengan sinyal terkuat dan posisi yang strategis. Tapi, tidak seperti biasa, hari itu sangat aneh menurut saya. Dan saya pun akhirnya membuat sebuah kesimpulan bahwa saya sedang tidak beruntung pada hari itu. Dimulai dengan ketika saya sedang menikmati aktivitas ngenet saya di tempat favorit saya, tentunya. Tiba-tiba, salah seorang Satpam datang menghampiri saya.
Mbak, jangan ngenet di sini. Kalo mo ngenet, di bawah aja. Di sini sering ada kehilangan soalnya,” kata bapak Satpam itu.
Dengan langkah berat, daripada muncul keributan saya menuruti perkataan Satpam itu. Saya melesat ke dalam lift dan akhirnya saya ngenet di depan gedung megah itu. Namun ternyata saya *lagi-lagi* kurang beruntung. Di saat-saat terakhir download-an saya, baterai laptop saya sekarat dan akhirnya laptop saya stand by. Ditambah lagi, di sekitar situ tidak ada sambungan untuk menge-charge. Dengan berat hati saya meninggalkan tempat itu.
Detik-detik menjelang azan maghrib. Saya berdiri dan tiba-tiba saya merasa ada yang aneh dengan kaki saya. Astaghfirullahaladziim, sepatu saya jebol satu. Saya mencoba berjalan pelan-pelan. Dan sepertinya sepatu saya sudah tidak kuat untuk menanggung gesekan dengan aspal. Dengan berat hati, saya pun melepas kedua sepatu itu. Rasa lucu dan sedih bercampur menjadi satu. Saya tidak sempat menangis. Lagipula, menangis di tempat seperti itu sangat memalukan. Apalagi ada dua orang yang juga sedang berjalan melewati jalan itu. Waktu itu saya sempat berbicara sendiri. Sepertinya kedua orang itu melihat kegaduhan yang saya buat sendiri saking hebohnya karena baru pertama kali saya mengalami kejadian seperti itu. Saya lalu menelpon salah seorang teman saya dan menceritakan kejadian yang saya alami. Pada waktu itu heboh sekali. Aah, jadi malu rasanya jika diingat-ingat lagi.
Kesalahan saya waktu itu adalah saya tidak bersabar sejak awal. Memang, saya tidak marah atau uring-uringan. Tapi, kehebohan yang saya buat sendiri menunjukkan bahwa saya tidak bersabar. Padahal, konsep sabar itu dimulai dari awal sampai akhir. Pahalanya akan berbeda antara orang yang bersabar terus-menerus dengan orang yang sabarnya setengah-setengah. Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa waktu itu saya tidak sabar dan mungkin saja keikhlasan saya berkurang.
Akhirnya, saya pulang dengan menenteng sepatu saya dan hanya memakai kaos kaki. Saya pun jadi bahan tertawaan orang-orang di jalan karena melihat penampilan saya, termasuk Satpam di gerbang yang saya lewati pada saat akan keluar kampus. Namun, saya dapat memetik pelajaran berharga dari hari itu. Kejadian itu bisa saja menimpa saya lagi apalagi kalau ternyata sebelumnya Allah menyatakan saya belum lulus ujian kesabaran.
Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya dan mungkin saja ada diantara kita yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Seorang Muslim tidak akan mengenal hari kesialan. Kejadian yang menimpa kita di luar kekuasaan kita merupakan ketetapan Allah, namun bukan berarti Allah otoriter pada kita, karena ada hal-hal yang bisa kita pilih dan kita usahakan sendiri. Terkait hal yang menimpa kita di luar kekuasaan kita, disitulah harus diletakkan kesabaran dan keyakinan penuh bahwa kita adalah seorang Hamba yang mau tidak mau harus mematuhi Sang Pencipta yakni Allah swt.
Wallahu 'alam bi ash shawaab.

Saturday, June 23, 2012

Hidup untuk Makan (Wagahai wa Neko de Aru Geje Version)

Natsume Sooseki. Nama ini masih terngiang-ngiang gara-gara kemarin muncul di soal UAS *gak nyangka bisa muncul. Kirain Mori Ogai* Soal UASnya lumayan, diminta nyeritain biografi singkatnya dan karya-karyanya yang terkenal. Anak Sastra Jepang pasti tahu orang ini. Ya, dia punya satu karya yang terkenal, judulnya Wagahai wa Neko de Aru atau I'm A Cat. Ceritanya tentang kucing. Jadi, si kucing nyeritain tentang hidupnya, seolah-olah dia bicara, tapi sebenarnya cuma perasaannya aja *mana ada kucing bisa bicara? Kecuali Doraemon, kucingnya si Maryam. Hhe, peace Yam ^_^*

Nah, ngomong-ngomong soal si Neko *baca: kucing*, saya jadi keingat fenomena yang biasa saya temui di kehidupan saya.

Kalo jam kuliah udah selesai. Paling cepat jam 08.40. Biasanya teman-teman langsung berkicau *burung kali*
"Eh, makan yuk. Lapar nih". Atau paling sering, "Eh, makan dimana? Ke Kafetaria? Atau ke UKM? Ke kantin asrama juga boleh".
Yah, itulah kata-kata yang sering sekali saya dengar dari teman-teman saya. Kuliah siang juga gitu. Sore apalagi. Saya jadi berpikir, sebenarnya mereka mau ngampus atau mau makan sih? Kok yang diomongin makan melulu ya? Si Neko aja gak melulu mikirin makanan. Dia punya cerita yang lain.

Tadi fenomena di kampus. Mari kita keluar ke tempat yang sedikit lebih luas.

Sekarang, sepertinya semua orang berusaha untuk tetap bisa survive. Indikatornya? Lagi-lagi, MAKAN.

"Kenapa kok ngamen?"
"Kalo gak gitu, anak-istri saya makan apa?"
atau
"Kenapa kok ngemis?"
"Mau bagaimana lagi, kalo gak ngemis saya gak bisa makan"
atau mungkin
"Kenapa kok kuliah?"
"Biar bisa kerja"
"Kerja buat apa?"
"Yang pasti buat menyambung hidup"

Ya, lagi-lagi soal makan kan?

Sebegitu sempitnya-kah dunia hingga urusan no.1 dalam benak mayoritas manusia adalah MAKAN?
Setiap ada sesuatu yang membelit, semua pasti disangkut-pautkan dengan urusan perut. Akhirnya, maksud awal adalah makan untuk hidup, malah kebalik jadi Hidup untuk MAKAN. Mau kaya, mau miskin pasti mikirin makan. Neko kalah saing tuh. Gak ada yang nanya, kenapa kok orang-orang banyak yang gak bisa makan? Mana peran negara? Jarang banget ada yang bertanya tentang itu. Apa jangan-jangan si Neko lebih pinter ya?
Padahal, sekarang emang situasinya lagi sulit. Semua itu karena SISTEM. Ya, sistem rusak yang namanya KAPITALISME-SEKULARISME yang bikin orang-orang akhirnya hanya berpikir untuk MAKAN, MAKAN, dan MAKAN. Sistem yang akhirnya membuat negara kita jadi cuek dengan kesulitan rakyatnya.Tapi, gak ada yang mikir untuk ngerubah. Bisa jadi karena gak tau gimana caranya atau karena udah terlalu putus asa.

Ternyata oh ternyata, ada lho sistem yang unik dan bisa menjadi solusi atas permasalahan saat ini. Sistem itu adalah KHILAFAH. Kenapa kok Khilafah? Karena Khilafah-lah yang menerapkan aturan dari Allah azza wa jalla, Tuhan Pencipta Alam. Sekarang, kondisi jadi tambah parah karena manusia berpaling dari aturan Pencipta mereka.

Nah, buat yang ngaku Muslim, gak ada alasan untuk menolak sistem ini. Karena Rasulullah saw sudah pernah mencontohkannya. Dan ingatlah, Khilafah adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw.

Allah swt berfirman :
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik" (QS. An Nuur : 55)

Nabi saw bersabda, “Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam”.
[HR. Imam Ahmad]


Jadi, jangan mau kalah sama si Neko. Kita hidup BUKAN hanya buat makan aja. Kita hidup untuk BERJUANG menegakkan Khilafah. Karena Khilafah bukan cuma untuk kaum Muslimin tetapi juga untuk seluruh umat manusia, tanpa terkecuali. Allah azza wa jalla itu satu-satunya Tuhan kan? Jadi, kenapa aturannya harus bikin sendiri dan berbeda-beda?


The End's Heart

Beberapa waktu yang lalu, saya mengkaji sebuah kitab yang judulnya "Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyyah Islamiyyah". Di kitab itu ada bab tentang sabar. Saya masih ingat potongan hadis Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, "Sabar itu letaknya di awal, bukan di akhir". Waktu itu ceritanya ada seorang wanita yang menangis di pusara orang yang dikasihinya dengan tangisan tersedu-sedu dan terkesan tidak rela akan kepergiannya.
Mungkin, diantara kita juga ada yang pernah ditinggal oleh orang yang dikasihinya, termasuk juga saya. Tapi, mau bagaimana lagi, segala yang berawal pasti akan berakhir kecuali Allah azza wa jalla. Begitu juga dengan kebersamaan kami. Sudah setahun ini saya tinggal bersama teman-teman seperjuangan di kontrakan Fastabiqul Khairaat. Sudah banyak hal yang kami lewati. Suka-duka, semuanya. Namun, beberapa saat lagi kami akan berpisah. Lagu ini akhirnya jadi Official Anthem di FK. Mbak To, I'll gonna miss u *dikit-dikit nyanyi* So Soon.

Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around (x2)
But I'm so grateful for every moment I spent with you
'Cause I know life won't last forever

Chorus:
You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on 'cause I know it's been too long
I've got to stop the tears, keep my faith and be strong
I'll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I'm so thankful for every memory I shared with you
'Cause I know this life is not forever

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on 'cause I know it's been too long
I've got to stop the tears, keep my faith and be strong
I'll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn't help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we'll return, ooh


You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on 'cause I know it's been too long
I've got to stop the tears, keep my faith and be strong
I'll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon

http://lirik.kapanlagi.com/artis/maher_zain/so_soon


PS : Percayalah, selama mabda' itu masih ada di benak kita, kita tidak akan pernah berpisah. Uhibbukum fillah, FK-ers 2011-2012.

Forgive Me

Waktu masih jahiliyyah, saya suka sekali dengan musik. Terutama lagu Jepang dan Korea. Kayaknya waktu itu saya update banget soal yang begituan. Tapi, setelah tahu hukumnya dan saya akhirnya muhasabah, perlahan tapi pasti lagu-lagu itu saya hilangkan dari tubuh Kiyan, si laptop tercinta.Ya, mendengarkan musik hukumnya mubah, tapi menurut saya yang namanya mubah itu bisa melenakan dan akhirnya menjerumuskan pada ke-HARAM-an. So, you should avoid it ^_^

Beberapa waktu yang lalu, salah satu sahabat seperjuangan saya meminjamkan CD yang isinya album baru seorang penyanyi religius. Waktu melihat judul albumnya, saya sedikit tertohok. Forgive Me. Ya, itu adalah kata-kata yang ingin selalu saya ucapkan untukNya, karena saya seringkali tidak sadar sudah melakukan banyak kesalahan dan membuatNya marah. Pas dengar lagunya, emang pas banget. Saya sampai bikin puisi karena dengar lagu ini.

Ini liriknya. Cocok untuk muhasabah.

I'm about to lose the battle and cross the line
I'm about to make another mistake
And even though I try to stay away
everything around me keeps dragging me in
I can't help thinking to myself what if my time would end today, today, today
Can I guarantee that I will get another chance before it's too late, too late, too late

Forgive me
My heart is so full of regret
Forgive me
Now is the right time for me to repent, repent, repent

Am I out of my mind?
What did I do?
Oh, I feel so bad
And everytime I try to start all over again
my shame comes back to haunt me
I'm trying hard to walk away but temptation is surrounding me, surrounding me
I wish that I could find the strength to change my life before it's too late, too late, too late

Forgive me
My heart is so full of regret
Forgive me
Now is the right time for me to repent, repent, repent

I know, Oh Allah, you're the most forgiving
And that you've promised to always be there
when I call upon you
So now I'm standing here ashamed of
all the mistakes I've committed
Please don't turn me away and hear my prayer
when I ask you to

Forgive me
My heart is so full of regret
Forgive me
Now is the right time for me to repent X3

Source :  http://www.elyrics.net/read/m/maher-zain-lyrics/forgive-me-lyrics.html]

Friday, June 22, 2012

Kongkalikong Pemodal - Politisi - Penguasa Kepentingan Rakyat Terlantar

[Al Islam 612] Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Kompas, hampir semua parpol mulai menyusun strategi untuk penggalangan dana. Hal itu terjadi karena pemilu 2014 yang membutuhkan dana sangat besar tinggal dua tahun lagi. Salah satu caranya adalah dengan mengutip iuran dari kader partai yang menjadi kepala daerah dan wakil rakyat. Bahkan, ketua partai politik bisa dijadikan mesin uang (kompas, 18/6).

Sistem Politik Demokrasi Biangnya
Biaya politik yang tinggi membuat partai politik membutuhkan dana yang besar terutama untuk kampanye dan merawat konstituen. Biaya Pemilu 2014 pun diperkirakan lebih mahal daripada Pemilu 2009, terlebih setelah sistem pemilu makin terbuka serta ideologi dan pragmatisme masyarakat makin cair.
Biaya politik tinggi itu menjadi ciri bawaan demokrasi kapitalisme. Pemilihan penguasa dan wakil rakyat melalui pemilu membutuhkan dana besar untuk membangun citra, mengenalkan calon, mendapatkan kendaraan partai, membujuk pemilih, menggerakkan mesin partai dan sebagainya. Bukan sistem politik demokrasi kalau tidak berbiaya tinggi. Dengan sifat seperti itu, sistem politik demokrasi menjadi sistem yang buruk dan berbahaya bagi kepentingan rakyat.
Untuk bisa masuk dalam sistem politik seperti itu hanya bisa dilakukan mereka yang memiliki modal uang. Modal terkenal dan ketokohan saja seringkali belum cukup. Apalagi ketika rakyat pun terformat menjadi pragmatis dan melihat kepentingan sesaat akibat didikan sistem politik pragmatis ini dan oleh sikap pragmatis politisi dan penguasa. Dalam kondisi seperti itu, politik uang menjadi hal lumrah.
Dalam kamus kapitalis, motivasi yang ada hanyalah motivasi materi dan mendapatkan keuntungan materi. Sistem politik yang melibatkan modal pun akhirnya dikelola seperti halnya industri menjadi sebuah industri politik. Biaya yang dikeluarkan dianggap sebagai modal yang ditanam dan harus kembali berikut keuntungan. Dalam sistem seperti itu, masuknya modal atau biaya tinggi membuat praktek politik transaksional menjadi biasa.
Jika politisi atau calon penguasa tidak punya modal sendiri, modal itu bisa dia dapatkan dari para cukong kapitalis yang siap memberikan modal. Lahirlah kolaborasi (baca persekongkolan) pemodal dengan politisi dan penguasa. Biaya yang diberikan cukong itu adalah modal yang dia tanam dan tentu saja harus kembali berikut untungnya. Politisi dan penguasalah yang harus merealisasikan itu atau setidaknya memberi “jalan“. Akhirnya disamping kepentingan sendiri, kepentingan cukong itu menjadi yang utama.
Disamping itu, biaya politik yang tinggi itu juga diduga menjadi salah satu penyebab maraknya korupsi. Pasalnya, biaya yang telah dikeluarkan harus kembali. Segala cara akan ditempuh untuk mengembalikan modal itu sekaligus mengumpulkan modal untuk proses berikutnya. Selain korupsi, menjadi makelar baik makelar jabatan atau anggaran pun jadi. Apalagi memang politisi khususnya wakil rakyat memiliki pengaruh terhadap penentuan jabatan dan anggaran melalui kekuasaan anggaran, legislasi dan kontrol terhadap eksekutif.
Pada akhirnya, terjadilah persekongkolan pemodal-politisi-penguasa/pejabat. Kepentingan mereka dan kelangsungan posisi, jabatan dan kekuasaan menjadi yang mereka utamakan. Akibatnya, kepentingan rakyat terabaikan. Kepentingan rakyat tidak lebih hanya dijadikan komoditi, barang jualan selama kampanye.
Solusi: Sistem Politik Islam
Mimpi tentang sistem politik bersih dan politisi yang bersih serta peduli pada kepentingan rakyat hanya akan bisa diwujudkan dengan sistem politik Islam. Dalam Sistem Politik Islam, semua masalah di atas yang menjad ciri bawaan sistem politik demokrasi kapitalisme akan bisa disingkirkan dan dipupus.
Sistem dan perilaku politik dan pribadi politisi sangat dipengaruhi oleh paradigma politik yang dianut. Paradigma politik kapitalis adalah fokus pada masalah kekuasaan, meraih dan mempertahankan kekuasaan. Sedangkan dalam Islam, politik (as-siyasah) itu adalah bagian dari syariah, akidah Islam harus menjadi landasannya. Paradigma politik Islam adalah pemeliharaan urusan umat baik di dalam maupun di luar negeri sesuai hukum-hukum Islam. Dengan paradigma politik Islam ini, yang menjadi fokus perhatian para politisi dan penguasa adalah pemeliharaan urusan dan kemaslahatan umat. Dari situ lahirlah perilaku politisi yang senantiasa memperhatikan urusan dan kepentingan umat. Kualitas seorang politisi dalam Islam diukur dari sejauh mana tingkat kepedulian dan pemeliharaannya atas urusan dan kepentingan umat.
Semua aktivitas politik itu bukan hanya berdimensi duniawi tetapi yang lebih melekat lagi adalah dimensi ukhrawi, yaitu pertanggungjawaban di hadapan Allah atas sejauh mana ri’ayah (pemeliharaan) terhadap urusan rakyat (pihak yang diurus). Nabi saw bersabda:
« كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »
Tiap kalian adalah pemimpin dan tiap kalian dimintai pertanggungjawaban atas pemeliharaan urusan rakyatnya (orang yang diurusnya) (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi)
Dalam melaksanakan aktivitas politik mengoreksi penguasa, umat boleh saja mewakilkan kepada orang yang mereka pilih menjadi wakil mereka. Hanya saja wakil rakyat dalam Islam itu adalah wakil dalam melakukan koreksi (muhasabah) dan menyampaikan pendapat. Dalam Sistem Politik Islam, pemilihan wakil umat itu adalah memilih orangnya, bukan partainya. Sebab disitu berlaku akad wakalah dan yang bisa menjadi wakil adalah orang, bukan lembaga. Wakil umat dalam Islam itu tidak memiliki kekuasaan legislatif, sebab dalam Islam kedaulatan adalah milik syara’, bukan milik rakyat (manusia). Wakil rakyat itu juga tidak menentukan anggaran dan pengangkatan pejabat. Sebab dua masalah itu dalam Islam adalah hak prerogatif Khalifah (kepala negara). Semua ketentuan itu meminimalkan peluang wakil umat itu untuk berperan menjadi makelar jabatan, anggaran dan proyek.
Dalam masalah suksesi penguasa daerah (wali/gubernur dan ‘amil -setingkat bupati/wali kota) dalam sistem Islam sangat berbeda dengan di dalam sistem demokrasi kapitalisme. Dalam Islam, wali atau ‘amil tidak dipilih langsung oleh rakyat, tetapi ditunjuk dan diangkat oleh Khalifah (kepala negara). Hanya saja, kelangsungan jabatan wali dan ‘amil itu diantaranya bergantung pada penerimaan dan kerelaan rakyat di wilayah/provinsi atau ‘umalah/kabupaten tempatnya menjabat. Jika rakyat di situ, secara langsung atau melalui wakil mereka, menyatakan tidak menerima atau tidak rela dengan kepemimpinan wali atau gubernur itu maka Khalifah harus mencopot wali atau ‘amil itu dan menggantinya dengan orang lain. Hal itu seperti yang terjadi pada al-‘Ala’ bin al-Hadramiy yang diangkat oleh Rasul saw menjadi ‘amil di Bahrain. Ketika penduduk Bahrain (‘Abdu Qays) menampakkan ketidakrelaan mereka atas kepemimpinannya, Rasul saw pun mencopotnya dan mengangkat Aban bin Sa’id sebagai gantinya.
Dengan begitu, suksesi penguasa daerah itu sangat murah biaya. Akan tetapi hasilnya, penguasa daerah itu akan penuh perhatian pada pemeliharaan urusan dan kemaslahatan rakyat. Sebab jika ia tidak baik dalam melakukan ri’ayah, rakyat atau wakil mereka bisa menyatakan ketidakrelaan terhadapnya dan Khalifah pun harus memberhentikan dan menggantinya dengan pejabat lain yang diridhai oleh rakyat.
Disamping semua itu, dalam sistem politik Islam korupsi, manipulasi, dan perolehan harta ilegal lainnya oleh politisi, penguasa dan pejabat akan bisa diminimalkan bahkan hampir hilang. Sejak awal Islam telah memberikan definisi dan batasan harta ghulul secara jelas. Rasul saw bersabda:
« مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ »
Siapa saja yang kami angkat untuk tugas tertentu dan telah kami tentukan gajinya maka apa yang dia ambil di luar itu adalah ghulul (HR Abu Dawud, Ibn Khuzaimah, al-Hakim)
Begitu pula hadiah dan komisi kepada penguasa atau pejabat juga merupakan harta ghulul yang haram.
Penguasa, pejabat, dan bisa juga pegawai, dicatat kekayaannya dan diperbarui secara berkala. Jika ditemukan indikasi perolehan atau jumlah harta yang tidak wajar, maka seperti yang dilakukan oleh Umar bin al-Khaththab dan disetujui oleh para sahabat, penguasa atau [ejabat itu harus membuktikan perolehan hartanya. Jika meragukan atau ia tidak bisa membuktikan harta itu diperoleh secara legal, maka harta itu akan disita dan dimasukkan ke kas Baitul Mal. Jika terbukti korupsi atau berbuat curang, maka tindakan pidana tu termasuk ta'zir dimana jensi dan kadar sanksinya diserahkan kepada ijtihad Qadhi. Sanksinya selain disita hartanya, juga bisa ditambah dengan diekspos, dijilid, dipenjara, bahkan bisa sampai hukuman mati, tentu bergantung pada seberapa serius dan bahayanya bagi umat.
Dengan begitu kalau ada penguasa, pejabat, politisi atau pegawai yang korup dan curang dengan cepat dan mudah bisa ditindak. Dengan semua itu, aparatur negara dalam Sistem Politik Islam akan selalu akuntable dan bersih. Sesuatu yang hanya bisa direalisasikan melalui penerapan syariah Islam dalam bingkai sistem politik Islam, yaitu Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Wahai Kaum Muslimin
Penguasa dan politisi yang bersih dan peduli pada kemaslahatan rakyat tidak bisa terwujud dalam sistem politik demokrasi kapitalisme. Hal itu hanya bisa diralisasi di bawah Sistem Politik Islam, Khilafah, yang menerapkan syariah Islam secara totalitas. Kapan lagi kita perjuangkan dan wujudkan kalau tidak sekarang? Wallâh a'am bi ash-shawâb. []

Renungan Isra’ Mi’raj Menjadi “ash-Shiddîq” Abad Ini

[Al Islam 611] Salah satu momen penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw., yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj. Menurut riwayat Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya (juz 1, hal. 213), peristiwa Isra’ Mi’raj berlangsung delapan belas bulan sebelum Rasulullah saw. dan kaum muslimin hijrah ke Madinah.

Allah SWT menggambarkan peristiwa ini dengan firman-Nya:
] سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ[
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (TQS. al-Isra' [17]: 1).
Ujian Keimanan
Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya (juz 1, hal 397) meriwayatkan beragam kemukjizatan yang dialami Rasulullah saw. Diantaranya adalah Buraq yang Beliau jadikan tunggangan selama perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, yakni hewan berwarna putih seperti bighal (peranakan kuda dan keledai) yang memiliki sayap yang langkah kakinya sejauh pandangan mata.
Allah SWT. juga mempertemukan Rasulullah saw. dengan para nabi dan Rasul dan Beliau mengimami mereka. Selain itu Beliau pun diperlihatkan beragam keadaan penghuni neraka dan azab yang mereka derita diantaranya azab kepada pelaku riba, para pezina, dan pemakan harta anak yatim.
Peristiwa Isra’ Mi’raj secara keseluruhan mengokohkan kembali pribadi Nabi saw. setelah menjalani hari-hari yang penuh penderitaan di tahun kesedihan setelah Khadijah ra isteri belau wafat dan paman Beliau Abu Thalib meninggal dunia. Sekaligus Isra’ Mi’raj itu juga menjadi isyarat kemenangan Islam.
Lalu apa makna Isra’ Mi’raj itu bagi kaum muslimin? Dengan indah Ibnu Ishaq menuliskan, “Sungguh pada peristiwa Isra’ yang beliau jalani dan apa yang beliau sebutkan, di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan salah satu bukti kekuasaan Allah. Di dalamnya juga terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal, petunjuk, rahmat pengokohan bagi orang yang beriman kepada kekuasaan Allah dan membenarkannya.” (Sirah Ibnu Hisyam, juz 1, hal. 396).
Rangkaian peristiwa Isra’ dan Mi’raj memang diluar jangkauan akal manusia sehingga sebagian orang yang lemah keimanannya berbalik murtad karenanya. Keadaan ini pun dimanfaatkan kaum musyrik Quraisy untuk menghasut kaum muslimin yang masih bertahan dengan keimanan mereka.
Namun ketika diprovokasi oleh kaum musyrikin soal Isra Miraj, Abu Bakar ra malah mempertanyakan sikap kaum musyrik Quraisy yang masih tetap mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw., “Demi Allah, jika itu yang Muhammad katakan, sesungguhnya ia berkata benar. Apa yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa telah datang kepadanya wahyu dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya. Inilah puncak keheranan kalian?”
Setelah itu Abu Bakar mendatangi Rasulullah saw. dan meminta Beliau menjelaskan ciri-ciri Baytul Maqdis. Setelah Nabi saw. menjelaskan dengan lengkap lalu Abu Bakar berkata, “Engkau berkata benar. Aku bersaksi engkau adalah utusan Allah!”. Rasulullah saw. menjawab, “Engkau Abu Bakar adalah ash-shiddîq (yang selalu membenarkan)!”
Sikap Abu Bakar ash-Shiddiq menunjukkan pribadi mukmin yang teguh imannya di tengah arus opini yang hendak merusak keyakinan umat Islam terhadap Rasulullah saw. dan ajaran Islam. Sikap seperti inilah yang selayaknya diteladani oleh kaum muslimin pada hari ini. Tidak goyah keimanannya saat kaum kuffar mencoba menghasut dan menyebarkan provokasi yang menyesatkan. Sedikitpun tidak ada keraguan.
Maka amat kontradiktif dengan kondisi hari ini dimana ajaran Islam justru diragukan oleh sebagian kaum muslimin. Malah bermunculan intelektual, politisi, atau bahkan orang yang disebut ulama yang justru menebarkan keraguan terhadap kebenaran ajaran Islam, bahkan mendiskreditkan agamanya sendiri. Bila dulu kaum musyrik Quraisy yang melakukan provokasi untuk meruntuhkan keimanan kaum muslimin, sekarang justru sebagian tokoh Islam sendiri yang melakukan hal itu.
Bukan sekedar mempropagandakan pemikiran yang destruktif terhadap ajaran Islam, tapi mereka juga mendiskreditkan Islam dan kelompok-kelompok yang ingin menegakkan syariat Islam terus dilakukan. Sebutan ‘radikal’, ‘garis keras’, ‘fundamentalis’, hingga ‘terorisme’, disematkan bagi kelompok-kelompok yang konsisten memperjuangkan Islam.
Meragukan Islam; Menderita!
Allah SWT telah berfirman:
] وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS. al-A'raf [7]: 96).
Allah SWT berjanji bahwa keberkahan dalam berbagai bentuknya akan diberikan kepada penduduk suatu negeri jika mereka beriman dan bertakwa yakni menerapkan syariah Islam secara total di tengah kehidupan mereka. Namun sebaliknya Allah SWT juga memperingatkan :
] وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا… [
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (TQS Thaha [20]: 124)
Imam Ibn Katsir dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm menjelaskan, “yakni menyalahi perintah-Ku dan apa yang telah Aku turunkan kepad rasul-Ku, berpaling darinya, berpura-pura lupa terhadapnya dan mengambil selainnya sebagai petunjuk “maka baginya penghidupan yang sempit” yakni di dunia”.
Sikap istiqamah atau konsisten para sahabat dan kaum muslimin dahulu terhadap ajaran Islam membuahkan kejayaan. Pada masa Khulafaur Rasyidin misalnya, keberkahan telah mereka rasakan dengan amat luar biasa diantaranya dalam bentuk kemakmuran hidup. Di dalam ­al-Bidayah wa an-Nihayah diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khaththab ra. yakni negara Khilafah mampu memberikan santunan tunai kepada setiap warga negara Khilafah Islamiyyah, bahkan termasuk untuk bayi yang baru lahir. Itu semua adalah keberkahan dan kemakmuran yang dijanjikan Allah SWT. bagi penduduk negeri yang beriman lagi bertakwa.
Sebaliknya, manakala kaum muslimin meragukan apalagi meninggalkan ajaran Islam maka kesengsaraan pun menghantam kehidupan mereka. Kondisi inilah yang patut direnungkan oleh umat Islam di negeri ini saat ini. Negeri ini memiliki kekayaan alam yang berlimpah, ironisnya angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Masih ada sekitar 30 juta orang miskin. Sementara angka pengangguran terbuka ada 7,7 juta (2011) dan setengah penganggur 13,52 juta (2011). Juga masih ada jutaan anak mengalami gizi buruk di tengah masyarakat. Hutang negeri ini pun sangat besar, per akhir April 2012 mencapai Rp 1.903,21 triliun. Bila dihitung, setiap warga Indonesia termasuk bayi yang baru lahir harus menanggung hutang sebesar Rp 7,9 juta rupiah. Masyarakat juga makin sulit mendapatkan rasa aman. Beragam kejahatan mengancam termasuk pembunuhan.
Negeri ini sungguh telah diberi berbagai karunia dan kenikmatan oleh Allah SWT. Namun karunia itu belum membuahkan kemakmuran dan kehidupan yang sejahtera dan baik bagi seluruh rakyatnya. Tiada lain hal itu karena ditinggalkannya petunjuk Allah SWt dan syariah-Nya dan sebaliknya justru akidah sekulerisme dan sistem demokrasi dan kapitalisme diambil sebagai petunjuk dan jalan hidup. Kondisi ini tentu harus segera disudahi, supaya negeri ini tidak ditimpa perumpamaan yang dinyatakan oleh Allah SWt dalam firmannya:
] وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ ءَامِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ (112) وَلَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ [
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (TQS. an-Nahl [16]: 112-113).
Wahai kaum muslimin!
Saat peristiwa Isra’ Mi’raj Abu Bakar digelari oleh Rasul saw sebagia ash-shiddîq dikarenakan pembenaran dan keyakinannya terhadap berita Isra’ Mi’rajnya Rasul saw. Saat ini sikap serupa sikpa Abu Bakar ra. itulah yang harus kita tunjukkan. Sesungguhnya Rasul saw telah memberitakan kepada kita dalam sabda Beliau:
« ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ »
Kemudian akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, kemudian beliau diam (HR Ahmad)
Menyikapi berita dan janji Rasul saw tersebut, sehingga kita akan menjadi “ash-shiddîq” abad ini, maka yang harus kita lakukan adalah membenarkan dan mempercayai berita dan janji Rasul saw itu serta gigih memperjuangkannya agar terwujud secara riil. Dengan itu pula keimanan dan ketakwaan penduduk negeri ini bisa diwujudkan sehingga semoa keberkahan akan diturunkan oleh Allah dari angit dan bumi. Kpaan lagi hal itu kita wujudkan jika tidak sekarang? Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []