Wednesday, April 11, 2012

DEMI WAKTU

Ini bukan lagunya Ungu ya. Saya gak ada niat konser di tulisan ini. Lagian suara saya juga gak bagus. Jadi, jangan tertipu dengan judulnya J
Ngomong-ngomong soal waktu, saya jadi inget hafalan al Qur’an saya jaman SD dulu.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (TQS. Al Ashr [103] : 1-3)
Ayat ini simple. Dan ngafalinnya juga gak sesusah ngafalin Huruf Kanji Jepang yang beribu-ribu itu yang bikin saya pusing sendiri saking gak bisa dihafalin. Tapi, sekarang banyak sekali yang justru menyepelekan. Apa karena ayat ini mudah? Cuma 3 ayat, lantas isi dan kandungannya terlupakan begitu saja?
Kalo ngeliat orang-orang yang lalu-lalang dalam kehidupan saya, kebanyakan dari mereka ngejalanin hidupnya dengan pas-pasan. Bukan dari segi harta, tapi dari aktivitas. Jaman saya kecil, saya suka berimajinasi. Habis TK, SD, SMP, SMA, kuliah trus kerja, nikah, punya anak, tua, punya cucu, trus meninggal. Wah, kayaknya enak banget ya hidup itu? Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, ibadahnya kapan kalo gitu? Masa kita hidup cuma ngejar itu doang? Dan akhirnya semakin lama bukti yang datang semakin banyak. Saat ini, kebanyakan kaum Muslimin menyepelekan ibadah dalam artian taqarrub mereka kepada Allah. Seringkali mereka terjebak dalam rutinitas dunia. Akhirnya, sholat aja buru-buru. Gimana dengan ibadah yang lain? Seperti ayat di atas, harusnya kalo beriman pasti korelasinya adalah amal shaleh. Amal sholeh ya dalam segala hal. Gak hanya ibadah madhah aja, tapi semuanya. Kalo amalannya yang hukumnya mubah-mubah aja gimana bisa jadi amal sholeh? Padahal, udah sadar 100% kalo bakal kembali menghadap Allah dan akan mempertanggung jawabkan semuanya di hadapanNya. Ataukah udah pada lupa kalo bakal dihisab? Naudzubillah min dzalik.
Sadar gak sih kalo apa yang kita kejar selama ini cuma sesuatu yang akan kita tinggalkan nantinya? Dunia ini fana, kawan. Ngapain bela-belain ngorbanin semua yang kita miliki cuma buat ngejar dunia yang hanya sebentar ini, dunia yang pasti akan kita tinggalkan? Kuliah, belajar sampai sakit karena lupa makan kalo ujung-ujungnya cuma ngejar ijazah dan bisa kerja di tempat yang bagus dengan posisi yang menguntungkan dan gaji yang besar trus bisa beli rumah dan ngumpulin harta sebanyak-banyaknya, semua itu juga bakalan kita tinggalkan. Ngapain juga masih lebih suka nonton film, drama, sinetron, dengerin lagu-lagu cinta yang isinya itu-itu aja yang bikin jadi tambah galau, ngeliatin foto seleb cantik dan ganteng yang gak kenal sama para fans? Pernah gak sih terbersit dalam pikiran kita, gimana kalo 1 detik lagi kita dipanggil Allah? Apa yang sudah kita persembahkan untukNya? Dengan apa kita akan menjawab pertanyaan malaikatNya? Sudahkah kita mempersiapkan pertemuan kita dengannya?
Mungkin sekarang kita bisa bangga dengan usia kita yang masih muda. 18, 19 atau 20 tahun. Tapi, jangan lupa, Rasulullah saw sudah mengingatkan kita dalam sabdanya, “Manusia dikelilingi 99 penyebab kematian dan yang terakhir adalah hari tua”.
Jadi, jangan bangga dengan usia yang masih muda. Karena usia muda itu ancaman menuju kematiannya lebih besar. Dan pasti udah sering lihat fenomena orang yang meninggal di usia muda. Karena waktu itu sangat berharga, jangan sia-siakan. Saya gak bisa memungkiri, saat ini emang ada sebuah kondisi yang sudah tersistem yang mengkondisikan banyak orang, termasuk kita kaum Muslimin untuk berlari demi mengejar dunia. Ya, sistem Kapitalis-Sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan dunia sehingga wajar aja kalo banyak yang gak nyadar dengan apa yang mereka lakukan.
Tapi ingat, kita punya standar sendiri. Gak semua yang kita lakukan akan diterima begitu saja sebagai sebuah amal sholeh. Kenapa? Karena surga itu mahal. Saking mahalnya kita juga perlu sampai berkorban nyawa untuk mendapatkannya. Amal sholeh itu punya syarat. Jadi, dalam Islam gak semua perbuatan baik bakalan dapat pahala karena gak semua perbuatan baik itu diterima di sisi Allah sebagai amal sholeh. Syarat yang pertama adalah ikhlas. Ini yang susah karena definisi ikhlas itu hampir gak ada. Tapi, intinya ikhlas itu adalah melakukan semuanya karena ingin menggapai ridho Allah semata, bukan karena orang tua, teman, artis idola, pacar apalagi. KARENA ALLAH SEMATA, TITIK. Itu syarat yang pertama. Yang kedua, caranya benar. Gimana tuh amal yang disebut dengan benar? Ya, Cuma 1 aja, yakni sesuai dengan syariat Allah. Kalo salah satu syarat di atas gak terpenuhi, amalnya sia-sia aja, seperti debu yang beterbangan. Jadi, dua syarat di atas mutlak adanya.
Dan perlu diingat bahwa sesuai dengan syariat Allah itu standarnya cuma ada 5, yakni wajib, sunnah (mandub), makruh, mubah dan haram. Gak ada standar keenam. Jadi, mulai sekarang silahkan diperhatikan, amalan atau aktivitas kita termasuk yang mana aja sih? Kalo masih banyak mubahnya silahkan introspeksi. Kalo gak tau gimana ngasih standar? Nah, maka dari itu, menuntut ilmu itu penting. Kita gak bakal tau cara beriman dan beramal sholeh kalo kita gak punya ilmunya. Dan masih ada sederet lagi keuntungan orang berilmu.
Allah swt berfirman, “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (TQS. Al Mujadalah [58] :11)
Jangan cuma menuntut ilmu di perkuliahan saja, ayo belajar Islam. Jangan tunda lagi. Waktu itu terus berlari. So, jangan ragu untuk mengkaji Islam. Gak ada alasan lagi untuk gak belajar Islam. Rasulullah bersabda, “BERSEGERALAH kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal. apakah yang kalian nantikan kecuali: kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal padahal ia adalah sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau  menunggu datangnya kiamat adalah sesuatu yang sangat berat dan sangat menakutkan(HR. Turmudzi)
So, tunggu apalagi? Saatnya kembali ke Islam. Kalo bukan sekarang, kapan lagi?

MOST WANTED

Most wanted. Satu kata yang diinginkan banyak orang. Siapa yang gak mau coba jadi orang yang disukai banyak orang yang lainnya? Makanya, banyak orang yang akhirnya berlomba-lomba jadi most wanted. Nah, di dunia ini most wanted yang konotasinya positif dan yang paling banyak jumlahnya adalah apa yang disebut dengan “Selebriti” atau singkatnya “Seleb”. Emang ada most wanted yang konotasinya negatif? Oh, ada dong. Salah satu contohnya buronan internasional. Atau yang paling santer sekarang teroris yang sampai sekarang saya juga antara percaya dan gak percaya, ada gak sih orang yang dijadikan tersangka terorisme itu?
Tapi yang akan saya tulis di sini bukan most wanted versi kedua. Soalnya sekarang most wanted versi pertama emang lebih diburu daripada most wanted versi kedua. Buktinya? Banyak. Sekarang rata-rata orang punya idola masing-masing. Terlepas dari apakah dia fans biasa ataukah fans luar biasa alias fans fanatik. Apalagi sekarang virus KPOP lagi menyebar seperti jamur di musim hujan. Apalagi di fakultas saya yang notabene-nya belajar budaya asia timur. Gak cuma program studi saya aja yang kegirangan sama artis-artis Korea yang dari segi fisik sangat perfect itu tapi juga program studi tetangga bahkan fakultas lain yang gak ada hubungannya dengan kebudayaan asia timur. Yah, media memang sangat berperan terutama internet. Mulai dari Meteor Garden dengan F4-nya sampai Full House dengan Rain dan Song Hae Gyo. Dan sekarang muncullah fenomena boyband dan girlband. Kalo dulu ada 5566 dan TVXQ. Sekarang, muncullah nama-nama seperti Super Junior, Girls Generation, KARA, B2ST, dan sederet boy-girlband lainnya yang tidak terhitung jumlahnya. Semuanya itu punya tempat di hati fans mereka. Sampai-sampai fansnya bela-belain nonton konser, beli DVD asli. Pokoknya semua dilakuin biar bisa ketemu idolanya, minimal lebih dekat dengan idolanya. Sampai ada fans yang bikin semacam cerita yang istilahnya “Fans Fiction”. Mulai dari yang biasa sampai yang porno juga ada, naudzubillah min dzalik. Akhirnya, banyak remaja yang berbondong-bondong pengen jadi boyband atau girlband.
Itu kalo di sisi cewek-cewek. Sebenarnya simple aja sih kenapa mereka suka boyband. Yang pertama, cowok-cowok itu ganteng, tinggi, putih, rambut lurus, suara bagus. Ya, begitulah. Yang cowok-cowoknya juga sama. Kenapa suka girlband karena mereka cantik, tinggi, rambut lurus, kaki panjang, seksi, de ka ka. Standar sih alasannya. Ada lagi idola jenis lain. Atlet. Yang paling banyak atlet sepak bola. Kalo dulu jaman saya SD ada Batistuta, Del Piero, Totti, eh gak ketinggalan David Beckham. Sekarang bermunculan yang muda-muda dan fresh seperti Messi, Christiano Ronaldo, Kaka, Ozil, dkk. Ya, orang-orang yang saya sebutkan barusan emang contoh dari most wanted versi pertama. Mereka disukai banyak orang, punya duit banyak, populer. Kayaknya hidup mereka perfect banget. Gak ada beban. Pengen apa aja bisa saking kayanya.
Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mengidolakan mereka? Nah, ini yang bikin saya miris. Rata-rata teman-teman saya yang Muslim juga ikut-ikutan mengidolakan orang-orang seperti mereka. Bahkan mereka tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak Cuma buat beli poster, majalah yang ada idolanya di dalam situ, beli modem biar bisa selalu update. Pokoknya semuanya dilakukan. Senang dan sedihnya mereka karena idolanya. Tanpa sadar mereka udah menjadikan idola mereka itu cinta yang no.1. Waduh, gawat nih kalo kayak gini. Ada yang salah. Padahal seharusnya kecintaan seorang Muslim yang pertama dan paling tinggi harusnya diletakkan kepada Allah dan Rasulullah saw. Kalo sekarang mah beda. Kecintaan pertama itu kadang-kadang ada di idola atau pacar. Kalo gak punya pacar yang no.1 idola, tapi kalo punya pacar, ya pacarnya yang no.1, sampai-sampai Allah aja gak dianggap, naudzubillah. Tanpa sadar akhirnya mengerdilkan peran Allah dalam hidup. Sholat iya, baca al Qur’an iya. Tapi masih pacaran dan mengidolakan orang-orang yang geje seperti yang saya sebutkan tadi. Apa coba kalo bukan Sekuler namanya? Nganggap Allah hanya ada pas lagi sholat. Kalo gak sholat Allah entah dimana. Kebangetan luar biasa.
Masalah idola, banyak dari umat Islam yang melupakan satu hal. Bro and sis, kita punya idola sendiri. Dan idola kita jauuuuuuuuuhhh lebih sempurna daripada most wanted yang ada sekarang.
Allah swt berfirman :
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TQS. Al Ahzab [3] : 21)
Rasulullah saw itu orang yang luar biasa. Seorang pemimpin, guru, pengusaha, ayah, paman, dan kakek yang hebat. Kehebatannya bisa tercermin lewat sahabat-sahabatnya. Sebut saja Abu Bakar yang loyal, Umar bin Khattab yang tegas, Utsman bin Affan yang lembut, Ali bin Abi Thalib yang cerdas, Mushab bin Umair yang optimis, Zain bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan masih banyak lagi generasi-generasi emas hasil didikan beliau.
Rasulullah sangat mencintai umatnya lebih dari apapun. Secinta-cintanya Super Junior sama Elf atau TVXQ sama Cassiopeia, gak bakalan bisa dibandingin dengan cintanya Rasulullah saw sama kita, umat Islam. Saking cintanya, beliau ngorbanin waktu, tenaga, pikiran, dan usianya untuk berdakwah dan menerapkan risalah yang diembannya dalam bentuk negara. Itu supaya apa? Biar kita tuh hidup sejahtera, bahagia dan gak galau kayak sekarang. Sampai-sampai saat sakaratul maut yang luar biasa sakitnya, Rasulullah masih sempat nyebut kita. Subhanallah..
Bahkan beliau meninggalkan sebuah wasiat berharga dan tidak ada bandingannya. Kata beliau, “Kutinggalkan dua perkara, ketika kalian berpegang teguh padanya kalian tidak akan tersesat, yakni al Qur’an dan Sunnahku”. Masih kurang apalagi kecintaan beliau sama kita? Dan yang pasti di akhirat kelak hanya kepada beliau-lah kita meminta syafaat, bukan sama seleb-seleb dunia yang Sekuler tadi. Di dunia aja mereka gak hafal sama fansnya gimana di akhirat nanti? Mereka bakal sibuk juga sama dosa mereka. Rasulullah saw juga pernah bersabda, “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya” (HR.Mutafaq ‘Alaih). Hati-hati, jangan sampai kecintaan kepada manusia yang lainnya melebihi kecintaan kepada Allah dan RasulNya. Apalagi sama artis-artis yang bukan Muslim itu. Kalo mereka masuk neraka, jangan nyesel kalo diikutin masuk neraka juga. Naudzubillah min dzalik deh. Semoga kita nanti termasuk dari umatnya Rasulullah saw yang mendapatkan syafaatnya, aamiin.

Monday, April 09, 2012

First Day of Mid

UTS oh UTS. Gak terasa semester genap udah lewat setengah perjalanan. Perasaan baru kemarin deh ngurusin KRS yang jadwalnya tabrak sana-sini sampai bikin kepala pusing. Eh, sekarang udah UTS. Beberapa waktu lagi gak akan terasa udah UAS. Ckckck, waktu emang cepat banget berlalu *dan saya baru sadar kalo saya udah semakin tua :DDD*
Ngomong-ngomong soal UTS nih ya, kayaknya apa yang saya lakukan beberapa waktu sebelumnya tidak jauh berbeda dengan yang teman-teman saya lakukan. Yup! Apalagi kalo bukan belajar? Suatu aktivitas yang wajib dilakukan pra UTS bagaimana pun metodenya. Ada yang jauh-jauh hari udah belajar, ada juga yang pake SKS alias Sistem Ngebut Sehari-Semalam dan mungkin saja ada yang lebih kilat lagi, Sistem Ngebut Sejam. Ckckck, parah banget kalo udah kayak gitu. Selain UTS, ada 1 lagi kegiatan besar di kampus saya. Pendaftaran beasiswa. Tapi, minggu ini gak sepadat minggu lalu. Mungkin karena pada pusing mikirin UTS. Paling juga 2 atau 3 hari lagi, rektorat bakalan penuh dengan antrian orang-orang seperti ngantri tiket konser boyband. Padat, panjang dan ngantrinya gak tanggung-tanggung, dari pagi sampai magrib. Sampai-sampai bapak petugasnya ada yang jamak sholat Ashar sama Maghrib *masya Allah*
Itu cuma sebagian kecil dari banyaknya aktivitas dunia yang seringkali membuat kita lalai dari kewajiban kita yang sebenarnya. Terkadang untuk hal-hal yang berbau dunia, kita setengah hidup mengejarnya. Kuliah dan belajar sepanjang waktu demi mendapatkan IP sempurna, bekerja mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, mengejar cinta dengan alasan yang selalu bisa diukur. Tapi, kita seringkali lupa bahwa tidak ada satupun yang abadi di dunia ini. TIDAK ADA. Kita pasti akan meninggalkan dunia ini entah kapan waktunya. Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk menghadapi hari itu? Hari yang tidak pasti kapan datangnya tapi pasti akan datang dan akan selalu mengintai kita dimanapun kita berada. Sudahkah kita benar-benar mempersiapkan pertemuan kita dengan Allah azza wa jalla? Sering sekali Allah mengingatkan kita tentang hal itu, tentang kematian. Allah pun berkali-kali mengingatkan tentang kepalsuan dunia ini. Masihkah kita kemudian mengejarnya sampai kita sendiri mati karenanya? Ayo, pren, bangun. Sadar. Dunia ini cuma seperti mimpi aja. Saat kita tersadar nanti tempat kita cuma 2, surga atau neraka.
Mungkin tulisan ini sederhana. Yah, saya cuma sekedar mengingatkan aja. Manusia kan tempatnya lupa dan salah makanya itu ada saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Tulisan ini gak cuma buat mereka yang masih galau nentuin tujuan hidupnya yang sebenarnya. Tulisan ini juga buat kita-kita yang udah paham mau ngapain kita di dunia ini. Soalnya, terkadang kita juga kadang-kadang masih misah-misahin aktivitas kita. Padahal kita semua tahu bahwa aktivitas amar ma'ruf nahi munkar adalah amalan tertinggi yang bisa menjadikan kita istimewa di sisiNya. Maka dari itu, mari kita senantiasa muhasabah diri kita. Apakah urusan pribadi kita masih lebih kita pentingkan daripada urusan umat ini? Kalo kitanya aja masih condong kepada dunia, gimana kita bisa merangkul saudara-saudara kita untuk kembali ke Islam Kaffah? Yuk, sama-sama berkomitmen berubah untuk lebih baik setiap saat. Jangan biarkan waktu kita terlewati tanpa amal sholeh.

Sunday, April 08, 2012

Buat Siapa Saja yang Ingin Dicintai Allah swt

Sesungguhnya Allah Swt. berfirman, “Barangsiapa menghinakan wali (kekasih)-Ku, ia telah terang-terangan memusuhi-Ku. Wahai Anak Adam, engkau tidak akan mendapatkan apa saja yang ada pada-Ku kecuali dengan melaksanakan perkara yang telah Aku fardhukan kepadamu. Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya. Maka (jika Aku telah mencintainya) Aku akan menjadi hatinya yang ia berpikir dengannya; Aku akan menjadi lisannya yang ia berbicara dengannya; dan Aku akan menjadi matanya yang ia melihat dengannya. Jika ia berdoa kepada-Ku, maka pasti Aku akan mengabulkannya. Jika ia meminta kepada-Ku, maka pasti Aku akan
memberinya. Jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, maka pasti Aku akan menolongnya. Ibadah hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah memberikan nasihat.” 

- (Dikeluarkan oleh ath-Thabrâni dalam kitab al-Kabir)

Kunci-kunci Surga

Setiap Muslim, siapapun dia, tentu berharap masuk surga. Bahkan surga adalah puncak harapan setiap Muslim. Baik Muslim yang taat ataupun yang suka maksiat, yang adil ataupun yang fasik, yang lurus ataupun yang menyimpang, yang tunduk pada syariah ataupun yang menentang, yang pasrah kepada Allah SWT ataupun yang membantah, yang memperjuangkan syariah ataupun yang menghalangi tegaknya syariah; semuanya pasti ingin masuk surga; tak ada yang tidak menginginkan surga. Begitulah yang tampak di permukaan.

Namun, apa yang dinyatakan oleh baginda Rasulullah SAW ternyata berbeda dengan realitas atau klaim di atas. Pasalnya, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Setiap orang dari umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya heran, “Siapa yang enggan masuk surga, wahai Rasulullah?” Kata beliau, “Mereka yang menaati aku akan masuk surga, sedangkan yang menentang aku berarti mereka enggan masuk surga.” (HR al-Bukhari, Ahmad dan an-Nasa’i).
Karena itu, bagi seorang Muslim yang menaati Rasulullah SAW, surga tentu sedang menanti dirinya untuk dimasuki. Hanya saja, surga memiliki sejumlah pintu, dan pintu-pintu surga (bab al-jannah) memiliki kuncinya masing-masing (miftah al-jannah). Lalu apa kunci-kunci surga itu?
Ada banyak kunci surga sebagaimana yang dinyatakan langsung oleh baginda Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya. Tiga di antaranya adalah: ucapan La Ilaha illaLlah (kalimat at-tahlil); menegakkan shalat; mencintai orang miskin (hubb al-masakin).
Pertama: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah La ilaha illLlah (Kunci surga adalah Tiada Tuhan kecuali Allah).” (HR al-Bukhari). Di sini tentu yang dimaksud bukanlah sekadar mengucapkan kalimat tahlil di atas, tetapi memaknainya dengan cara merefleksikannya dalam kehidupan. Konsekuensi dari kalimat tahlil adalah: tunduk dan patuh hanya kepada Allah serta tidak membuat aturan sendiri selain aturan yang telah Allah tetapkan. Saat seorang Muslim enggan tunduk dan patuh kepada Allah SWT dengan cara tunduk dan patuh pada seluruh syariah-Nya, pada hakikatnya ia mengingkari kalimat tahlil di atas. Apalagi saat seorang Muslim malah membuat aturan sendiri yang berbeda bahkan bertentangan dengan aturan Allah SWT, yakni aturan yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Pada saat demikian, dia bukan saja mengingkari kalimat tahlil di atas, tetapi bahkan telah menyejajarkan dirinya dengan-malah menempatkan dirinya di atas-Allah  SWT (Lihat: QS at-Taubah [9]: 31). Padahal Allah SWT telah menegaskan (yang artinya): Sesungguhnya hak membuat hukum itu (yakni menentukan halal-haram, pen.) adalah milik Allah semata (TQS al-An’am [6]: 57).
Kedua: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah ash-shalat (Kunci surga adalah shalat).” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Baihaqi). Menegakkan shalat adalah ibadah pokok dan utama sekaligus wujud penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Tanpa menegakkan shalat, klaim seorang Muslim dalam kalimat La ilaha illalLah tentu layak dipertanyakan. Yang pasti, tanpa shalat, seorang Muslim berarti telah kehilangan salah satu kunci surga.
Ketiga: Rasulullah SAW bersabda, “Miftah al-jannah hub al-masakin (Kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin).” (Ats-Tsa’labi, Tafsir ats-Tsa’labi, IV/184).
Refleksi kalimat tahlil dalam kehidupan dan aktivitas shalat adalah cerminan dari hubungan manusia dengan Allah SWT (habl[un] minalLah). Adapun mencintai orang-orang miskin merupakan cerminan dari hubungan manusia dengan manusia lain (habl[un] min an-nas).
Sebagian ulama menambahkan, bahwa di antara kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu. Imam al-Qurthubi, misalnya, mengutip Sahal, menyatakan “Miftah al-jannah tark al-hawa’ (Kunci surga adalah meninggalkan hawa nafsu).” (Al-Qurthubi, IX/208). Hawa nafsu adalah segala ucapan atau tindakan yang bertentangan dengan wahyu. Artinya, hawa nafsu adalah lawan dari wahyu. Ini sesuai dengan firman Allah SWT (yang artinya): Tidaklah yang diucapkan Rasul itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapan Rasul itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepada dirinya (TQS an-Najm [53]: 3-4).
Jika ditelaah, meninggalkan hawa nafsu-tentu seraya mengikuti wahyu-hanyalah konsekuensi belaka dari kalimat tahlil di atas.
Itulah di antara kunci-kunci surga yang diisyaratkan oleh baginda Rasulullah SAW.
Sebaliknya, baginda Rasullah SAW pun menginformasikan kepada kita sejumlah penghalang yang bisa menghalangi kita masuk surga. Beliau, misalnya, bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam kalbunya terdapat sedikit saja sikap sombong (HR Muslim).”
Beliau juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi (HR al-Bukhari).”
Beliau pun bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang gemar mengadu-domba (HR Muslim).”
Masih ada hadits-hadits senada. Pada akhirnya, semoga kita bisa mendapatkan kunci-kunci surga di atas, dan sebaliknya kita bisa menyingkirkan segala faktor penghalang yang bisa menghalangi kita masuk ke dalam surga-Nya. Amin.


http://hizbut-tahrir.or.id/2011/11/09/kunci-kunci-surga/

Sabar, Sabar

Sabar melawan hawa nafsu lebih sulit daripada sabar menghadapi pertempuran dan lebih besar pahalanya. Pemberani yang maju ke medan pertempuran, ia sedang mengunyah nikmatnya kemenangan dengan gerahamnya. Sehingga apabila telah ada pertempuran sengit, maka jiwanya bersemangat dan bergelora. Sementara orang mukmin yang berperang melawan hawa nafsu, ia sedang menelan pahitnya larangan (meninggalkan perkara-perkara haram). Sehingga apabila ia bersih kukuh pada kesabaran, maka jiwanya berpaling dan menangis. Pemberani yang berperang melawan musuh-musuhnya-maka itu dilakukan bisa saja-karena riya’ (hipokrit), sum’ah (gila hormat), fanatisme dan berharap ridha Allah. Namun, orang mukmin itu tidak berperang melawan hawa nafsunya, kecuali karena ketaatan dan semata-mata berharap ridha Allah.
Mushtafa as-Siba’i, dalam kitabnya “Hakadza Allamatni al-Hayah, Begitulah Kehidupan Mengajariku”.


Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 07/12/2011.

KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI

Beberapa waktu yang lalu Indonesia ditimpa kegalauan yang luar biasa. Lho? Galau? Kok bisa? Ya, bisa aja. Sekarang penyebaran virus galau semakin membabi buta sampai-sampai menimpa pemerintah Indonesia sekaligus parpol-parpol yang ikut andil dalam parlemen. Akhirnya, rakyat juga ikut tertular virusnya *tapi, maaf saja. Saya bukan termasuk di dalamnya :p*
Ngomong-ngomong soal galau, kenapa sih kok Indonesia bisa sampai galau? Saudara-saudara semua pasti tau kalo beberapa waktu yang lalu pemerintah *lagi* mengeluarkan kebijakan “MENAIKKAN HARGA BBM” untuk yang kesekian kalinya. Rencananya sih pas 1 April kemarin. Tapi, ternyata pas sidang paripurna DPR semua pada galau akhirnya ditunda deh rencana naikkin harga BBMnya. Sebelum itu, rakyat duluan yang kena virus galau. Demo dimana-mana. Semua nolak kenaikan harga BBM. Sampai-sampai mahasiswa di ibukota negara kita tercinta ini demo habis-habisan plus adegan action ala superhero di film box office alias berantem sama aparat. Ya, rencana pemerintah menaikkan harga BBM memang bikin reaksi banyak pihak beda-beda. Begitu juga dengan parpol alias partai politik. Ada yang pro dan ada yang kontra. Sampai puyeng kepala saya dengerin debat perwakilan fraksi parpol-parpol yang ternyata juga sama galaunya dengan pemerintah. Sampai keluarlah statement hipokrit yang justru bikin semua tambah kacau. Bertambahlah predikat Indonesia. Negara Galau. Kira-kira begitulah.
Nah, sekarang ayo kita cari tau, kenapa sih pemerintah sampai ngotot mau menaikkan harga BBM *lagi* meskipun sekarang kenaikkannya ditunda untuk beberapa waktu ke depan? *tapi kenaikannya jadi 20%*
Usut punya usut, ternyata ada empat alasan pemerintah ngotot pengen naikkin harga BBM untuk kesekian kalinya *dengan kenaikan yang lumayan fantastis*
Pertama, kata pemerintah, sekarang harga minyak dunia udah naik jadi 120 USD perbarel. Sedangkan asumsi dalam APBN Cuma 90 USD perbarel. Masih ada 30 USD yang kurang untuk subsidi BBM.
Kedua, dengan naiknya harga minyak dunia, semua itu akan membebani APBN. Bisa-bisa APBN jebol karena dibuat subsidi BBM soalnya seperti alasan yang pertama tadi. APBN cuma menganggarkan 90 USD buat subsidi BBM dan masih kurang 30 USD lagi. Mending uang subsidinya dipakai untuk yang lain seperti pendidikan, kesehatan, dsb.
Ketiga, kata pemerintah produksi minyak di Indonesia sudah semakin berkurang sedangkan konsumsinya bertambah. Jadi, kalau BBMnya disubsidi, rakyat akan boros.
Keempat, BBM yang disubsidi selama ini tidak tepat sasaran alias masih ada orang kaya yang beli BBM bersubsidi. Jadi, menurut pemerintah mending dicabut semua aja subsidinya biar adil.
Nah, itu dia empat alasan utama pemerintah kita yang lagi galau jadi mutusin buat naikkin harga BBM beberapa waktu ke depan. Tapi, kalo menurut saya kebijakan menaikkan harga BBM itu KEBIJAKAN BASI. Lho, kok basi?
Iyalah, udah basi. Alasan-alasannya itu lho yang basi. Treatment pasca naiknya BBM juga udah basi. Kalo dulu ada yang namanya BLT, nanti juga bakalan ada semacam BLT cuma namanya aja yang diganti jadi BLSM. Kalo rakyat bisa teriak, pasti semua bakalan ngomong, “KAMI BUTUH SOLUSI, BUKAN KEBIJAKAN BASI”. BLSM itu bukan solusi yang solutif untuk merespon dampak kenaikan harga BBM. Nanti, pasca kenaikan harga BBM otomatis semua biaya kehidupan akan naik dan itu berarti semakin bertambahlah beban kehidupan. Semakin menyebar pula virus galau di Indonesia Raya ini. Kalo cuma ngasih bantuan sementara mah, mending gak usah karena percuma aja. Bantuannya cuma buat 9 bulan pasca naiknya harga BBM. Setelah itu? Silahkan cari sendiri. Emang pemerintah mau mikirin?
Banyak alasan yang sudah dikeluarkan buat nolak kenaikan harga BBM dan emang seharusnya gak dinaikkan. Indonesia penghasil minyak bumi, ngapain harus beli mahal-mahal. 105 perusahaan asing aja bisa hidup makmur dengan mengeksplorasi seluruh sumber minyak sampai ngejual di SPBU-SPBU. Masa kita yang tinggal di sini sejak kita lahir bahkan nenek moyang kita juga lahir di sini harus bayar mahal-mahal buat beli BBM hanya dengan alasan macam-macam kayak di atas tadi?
Tapi, lagi-lagi tapi, masalahnya bukan cuma sekedar BBM naik atau gak. Bukan sekedar kebutuhan masyarakat terpenuhi atau gak. Tapi, masalahnya adalah dasar kebijakannya itu. Apalagi kalo bukan Undang-undang? Selama UU Migas no.20 tahun 2001 masih legal, selama itu pula Indonesia bakalan galau karena desakan perusahaan-perusahaan asing yang udah seperti lintah yang bakalan menghisap seluruh sumber daya alam Indonesia sampai habis. Gak cuma Undang-undang tapi semua perjanjian-perjanjian dan sejenisnya juga. Semua itu yang akan selalu menjerat pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan basi. Bukannya ngasih solusi malah ngeluarin kebijakan basi. Mau dibawa kemana negara kita? Masihkah kita akan terus diam dalam kegalauan dan pusing sendiri?
Satu hal yang harus dicamkan, kebijakan basi pemerintah tidak akan bisa memberi solusi apa-apa. Dengan sistem yang kacau balau dan penuh kelicikan seperti itu, sudah bukan saatnya berharap pemerintah akan berubah karena pemerintah dikendalikan oleh sistem. Sistem seperti apa? Sistem yang hanya mementingkan uang, uang, dan uang. Sistem yang menyingkirkan Sang Pencipta *yang seharusnya juga berhak mengatur* dari lini kehidupan dengan anggapan bahwa manusia bebas mengatur hidupnya. Sistem ini juga yang membuat pemerintah seolah-olah tersihir dan lupa dengan tujuannya saat kampanye dulu. Sistem ini juga yang membuat parpol-parpol yang seharusnya kritis menjadi rapuh seperti kerupuk karena tidak memiliki idealisme.
Trus, apa solusinya? Solusinya ya, ganti aja sistemnya. Sistem sekarang ini ibarat akar pohon yang udah sekarat. Gak ada gunanya disiram air sama dikasih pupuk. Udah gak bakalan bisa diharapkan lagi. Udah saatnya ganti dengan sistem yang bisa diharapkan. Sistem apakah itu? Tentu saja sistem yang bukan berasal dari manusia, tetapi dari yang Empunya manusia. Ya, sistem yang berasal dari Allah azza wa jalla. Apalagi kalo bukan sistem Islam? Hanya sistem Islam yang bisa ngasih solusi buat semua permasalahan kehidupan. Syariat Islam mengatur semua tentang kehidupan termasuk tentang bagaimana mengelola sumber daya alam seperti minyak bumi, dkk. Nah, masalahnya syariat Islam hanya bisa tegak dengan institusi pelindung yang namanya Khilafah. Maka dari itu, gak bisa menerapkan syariat Islam tanpa ada Khilafah. Kalo gitu, tunggu apa lagi? Ayo, berjuang untuk menerapkan syariah dalam bingkai Khilafah bukan hanya demi kebutuhan hidup seluruh rakyat Indonesia tetapi juga karena kita adalah Muslim dan itu adalah dorongan keimanan kita yang besar kepada Allah azza wa jalla dan wujud kecintaan kita kepada Rasulullah Muhammad saw. Insya Allah, gak bakal ada lagi deh kata GALAU dalam hidup kita. Because Khilafah is the only solution. 
Wallahu 'alam bi ash shawwaab.