Emang gak bisa dipungkiri kalo manusia itu selalu suka yang bagus-bagus
dan gak suka yang jelek-jelek. Mungkin, kita sangat gampang menyukai seseorang
atau siapapun itu dengan memandang kelebihannya terlebih dahulu. Terlepas dari
itu fisik atau non fisik. Tapi, ternyata sedikit banget yang bisa menerima
bahwa orang yang punya kelebihan yang membuat kagum itu ternyata punya
kekurangan yang mungkin sulit untuk ditolerir *bukan berarti gak bisa diubah
lho ya* dan akhirnya bikin image orang itu jatuh di depan kita. Gue beberapa
kali terjebak dengan hal seperti itu. Paling sering ketika mengagumi orang dari
luarnya aja dan pas tahu kalo ada sesuatu yang seolah tidak mungkin ada dalam
diri orang yang mengagumkan seperti itu akhirnya kita berhenti untuk melihat
dengan objektif dan hanya melihat secara subjektif sehingga yang dilihat hanya
yang jelek-jelek aja. Kita pun jadi orang yang gampang kecewa karena gak bisa
menerima.
Contoh kecil adalah ketika kita tinggal bersama dengan orang-orang yang
berlatar belakang berbeda jauh dengan kita. Hal yang bakalan bikin shock adalah
ketika kita udah tau orang-orang itu luar-dalam seperti apa. Mungkin dari
mereka ada yang punya kebiasaan jelek dan kita gak terima. Tapi kita gak
ngomong dan mungkin memuhasabahi dengan ma’ruf. Akhirnya yang terjadi adalah
zhann yang tersimpan dan lama kelamaan meledak berujung pada ketidakharmonisan
yang ada di dalam rumah. Mungkin gak beda jauh dengan ketika kita menikah. Memang
sih Cuma berdua aja, beda dengan kontrakan yang lebih dari dua. Tapi,
konteksnya sama. Kita menikah dengan orang yang jelas latar belakang
kehidupannya berbeda dan ketika kita tidak bisa meletakkan penerimaan terhadap
kekurangan di awal, maka yang terjadi adalah shock dan akhirnya selalu iri
dengan pasangan lain atau istilahnya rumput tetangga lebih hijau *naudzubillah
min dzalik* Emang sih dalam ta’aruf mungkin sudah dijelaskan tetapi pasti ada
hal-hal tak terduga yang ditemukan di hari kemudian *sok berpengalaman*
Emang gak mudah menerima kekurangan apalagi kalo terbiasa hanya melihat
kelebihan. Tapi satu hal yang harus kita yakini yang namanya manusia diciptakan
lemah dan terbatas oleh Allah. Itu artinya, sehebat apapun manusia pasti ada
celahnya. Atau bisa kita katakan ada limitnya. Dan tidak ada manusia yang mampu
melewati batas kelemahan itu. Sehingga yang namanya manusia punya weakness.
Jadi, yang harus pertama diletakkan adalah karena manusia punya kelemahan maka
kita harus bisa menerima karena kita sendiri pun punya kelemahan sehingga gak
adil dong kalo kita berharap orang lain menerima kita apa adanya *dengan
kelemahan* tapi kita gak bisa menerima kelemahan orang lain.
Pengemban dakwah juga manusia. Mereka pasti punya kekurangan. Mungkin
orang yang belum paham akan men-generalisir tapi kita sebagai sesama pengemban
dakwah seharusnya bisa menerima kekurangan itu. Rasa kecewa itu mungkin akan
ada. Tetapi, jika cinta kepada Allah dan RasulNya berada di posisi teratas,
insya Allah kita tidak akan kecewa sampai harus melarikan diri dan seolah
membuat sejuta misteri kepada teman-teman seperjuangan kita. Satu lagi, segala
sesuatu jika dikomunikasikan pasti akan muncul saling pengertian meski tidak
semudah membalikkan telapak tangan.
Sebenarnya tinggal di kontrakan dan berinteraksi dengan banyak orang itu
akan membuat kita belajar menjadi orang yang pengertian. Dan suatu saat ketika
kita menikah, kita tidak akan shock lagi melihat kenyataan kalo “suami” atau
“istri” kita tidak sekeren penampakkan luarnya.
Khairunnisa, May 13th 2013. 08.02 PM.
No comments:
Post a Comment