Wednesday, June 12, 2013

Try to Accept

Emang gak bisa dipungkiri kalo manusia itu selalu suka yang bagus-bagus dan gak suka yang jelek-jelek. Mungkin, kita sangat gampang menyukai seseorang atau siapapun itu dengan memandang kelebihannya terlebih dahulu. Terlepas dari itu fisik atau non fisik. Tapi, ternyata sedikit banget yang bisa menerima bahwa orang yang punya kelebihan yang membuat kagum itu ternyata punya kekurangan yang mungkin sulit untuk ditolerir *bukan berarti gak bisa diubah lho ya* dan akhirnya bikin image orang itu jatuh di depan kita. Gue beberapa kali terjebak dengan hal seperti itu. Paling sering ketika mengagumi orang dari luarnya aja dan pas tahu kalo ada sesuatu yang seolah tidak mungkin ada dalam diri orang yang mengagumkan seperti itu akhirnya kita berhenti untuk melihat dengan objektif dan hanya melihat secara subjektif sehingga yang dilihat hanya yang jelek-jelek aja. Kita pun jadi orang yang gampang kecewa karena gak bisa menerima.
Contoh kecil adalah ketika kita tinggal bersama dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda jauh dengan kita. Hal yang bakalan bikin shock adalah ketika kita udah tau orang-orang itu luar-dalam seperti apa. Mungkin dari mereka ada yang punya kebiasaan jelek dan kita gak terima. Tapi kita gak ngomong dan mungkin memuhasabahi dengan ma’ruf. Akhirnya yang terjadi adalah zhann yang tersimpan dan lama kelamaan meledak berujung pada ketidakharmonisan yang ada di dalam rumah. Mungkin gak beda jauh dengan ketika kita menikah. Memang sih Cuma berdua aja, beda dengan kontrakan yang lebih dari dua. Tapi, konteksnya sama. Kita menikah dengan orang yang jelas latar belakang kehidupannya berbeda dan ketika kita tidak bisa meletakkan penerimaan terhadap kekurangan di awal, maka yang terjadi adalah shock dan akhirnya selalu iri dengan pasangan lain atau istilahnya rumput tetangga lebih hijau *naudzubillah min dzalik* Emang sih dalam ta’aruf mungkin sudah dijelaskan tetapi pasti ada hal-hal tak terduga yang ditemukan di hari kemudian *sok berpengalaman*
Emang gak mudah menerima kekurangan apalagi kalo terbiasa hanya melihat kelebihan. Tapi satu hal yang harus kita yakini yang namanya manusia diciptakan lemah dan terbatas oleh Allah. Itu artinya, sehebat apapun manusia pasti ada celahnya. Atau bisa kita katakan ada limitnya. Dan tidak ada manusia yang mampu melewati batas kelemahan itu. Sehingga yang namanya manusia punya weakness. Jadi, yang harus pertama diletakkan adalah karena manusia punya kelemahan maka kita harus bisa menerima karena kita sendiri pun punya kelemahan sehingga gak adil dong kalo kita berharap orang lain menerima kita apa adanya *dengan kelemahan* tapi kita gak bisa menerima kelemahan orang lain.
Pengemban dakwah juga manusia. Mereka pasti punya kekurangan. Mungkin orang yang belum paham akan men-generalisir tapi kita sebagai sesama pengemban dakwah seharusnya bisa menerima kekurangan itu. Rasa kecewa itu mungkin akan ada. Tetapi, jika cinta kepada Allah dan RasulNya berada di posisi teratas, insya Allah kita tidak akan kecewa sampai harus melarikan diri dan seolah membuat sejuta misteri kepada teman-teman seperjuangan kita. Satu lagi, segala sesuatu jika dikomunikasikan pasti akan muncul saling pengertian meski tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sebenarnya tinggal di kontrakan dan berinteraksi dengan banyak orang itu akan membuat kita belajar menjadi orang yang pengertian. Dan suatu saat ketika kita menikah, kita tidak akan shock lagi melihat kenyataan kalo “suami” atau “istri” kita tidak sekeren penampakkan luarnya.

Khairunnisa, May 13th 2013. 08.02 PM.


No comments:

Post a Comment