Aku
memanggilnya Mbak To. Namanya unik dan untuk mempersingkat, ya kupanggil saja
Mbak To. Sebenarnya ia sering dipanggil Toto Chan, seperti nama gadis kecil di
buku yang terkenal itu. Tapi, ia tidak mau dipanggil Toto karena katanya seperti
merek closet *ups* Ya sudah, daripada aku kena semprot, kupanggil saja Mbak To.
Beliau adalah dokter yang baru saja lulus dan harus mengabdi di sebuah tempat
terpencil. Sebelumnya, kami sama-sama di dakwah kampus. Pernah satu halqoh juga
*sayang aku ketinggalan jauh, hiks :’( tp gpp, ntar kukejar dirimu mbak :D*
Banyak
yang hal sudah terlewati bersama beliau. Dan aku selalu saja jadi korbannya.
Namaku sering diganti macam-macam dan karena beliau pula nama panggilanku jadi
banyak. Kadang pusing juga dikit-dikit namanya ganti, tapi gak apa-apalah,
resiko jadi orang populer *narsis.com* Di tulisanku sebelumnya aku ingin
menyampaikan sepatah kata selamat tinggal untuk beliau, makanya judulnya “Let
Me Say Goodbye”. Sepi juga sih gak ada mbak yang satu itu. Soalnya kalo ngobrol
sama beliau pasti gak ada habisnya. Thanks for all, mbak ^_^
Kemarin
pas maghrib, pas lagi lapar-laparnya dan lagi kesel-keselnya, tiba-tiba hp
berdering. Ada SMS. Ah, siapa sih
maghrib-maghrib begini SMS?,” pikirku *astaghfirullah, soalnya habis
bayangin SMS gak penting* ternyata di layar tulisan nama Mbak To. Ah, mbak To. Tumben SMS. Lalu, kubaca
SMS dari beliau. Daaan, seperti biasa, namaku diganti lagi.
“Mitro-Sum, gimana
kabarnya?”
Seperti
keselek barbel dipanggil kayak gitu. Nama udah bagus begini -_-“ Kujawab
seadanya.
“Eh, Mbak To.
Alhamdulillah lagi banyak ujian nih :D Mbak gimana kabarnya?”
Kemudian
beliau membalas lagi.
“Ujian apaan, Tro?
Alhamdulillah mbak baik”
Singkat
cerita, obrolan dilanjutkan via SMS. Setelah sholat maghrib pastinya. Ternyata,
Mbak To sharing tentang pengalamannya
dakwah di masyarakat. Soalnya sebelumnya di dakwah sekolah sama dakwah kampus.
Udah gitu, yang sekarang di hadapi adalah masyarakat pedesaan *silahkan
bayangkan sendiri* Beliau nyeritain tentang liqo’ sektor di tempatnya. Jaraknya
17km dari pusat kota. Tapi subhanallah, ibu-ibu paruh baya tersebut rela datang
jauh-jauh hanya untuk liqo yang menghabiskan waktu 1,5 jam. Perjalanan lebih
dari sejam, penuh bahaya karena jalanan yang terjal untuk liqo’ yang waktunya
hampir sama dengan waktu perjalanan. Jangan bayangin akhwat yang masih single. Ini ibu-ibu. Ada yang naik motor
sambil bawa dua anak, belum jalanan licin dan hampir ada yang jatuh. Tapi, itu
tidak menyurutkan langkah mereka. Kebayang kita yang masih single, kadang kalo datang liqo’ udah mepet-mepet bahkan telat
karena alasan yang sebenarnya tidak perlu dijadikan sebagai alasan karena gak
masuk kriteria. Ada juga ibu-ibu yang datang dengan pakaian dan tas lusuh
karena ternyata beliau baru pulang dari ladang. Subhanallah, mataku yang
semalam udah tinggal 5 watt tetap aja bisa berkaca-kaca, bukan karena ngantuk
tapi karena terharu. Mereka rela berkorban jauh-jauh datang meski liqo’nya cuma
sebentar. Luar biasa kekuatan iman, semua yang gak mungkin bisa jadi mungkin
karenaNya. Denger pengorbanan yang segitunya, saya jadi mikir.
“Ya Allah, harusnya aku bersyukur, sekarang
aku masih di dakwah kampus. Kalo sekarang aku di masyarakat dengan kondisi yang
seperti itu, aku gak bakalan sanggup. Tapi, Allah memang tidak membebani
seorangpun hambaNya melainkan dengan kesanggupannya. Alhamdulillah, masih ada
waktu untuk mempersiapkan bekal ketika berdakwah di masyarakat nantinya”.
Dan
yang membuat miris karena saya jadi ingat Mama saya adalah cerita tentang
seorang ibu yang wajahnya muram saat liqo’. Setelah digali perihal muramnya ibu
tersebut, ternyata diketahui kalo penyebab muramnya adalah karena putrinya. Putri
beliau yang nyantri di dusun sebelah justru membenci dakwah yang dilakukan
ibunya. Menuduh ibunya sesat karena berjuang demi diterapkannya Syariah dalam
naungan Khilafah Islamiyah. Bahkan putrinya memfitnah dakwah yang dilakukan
ibunya sampai membawa selebaran yang menjelek-jelekkan dakwah ibunya sebagai
hadiah dari pesantren tempat putrinya itu menimba ilmu Islam. Masya Allah,
jerit hatiku. Teringat bagaimana Mama juga segitunya dengan dakwahku. Sejak
pertama kali dakwah hingga saat ini. Mama yang selalu mengira dakwah menegakkan
Syariah dan Khilafah hanyalah alat politik kelompok tertentu yang mengejar
kekuasaan. Entah berapa lama aku merasa jadi orang paling merana dan menglebay
sepanjang waktu, ternyata masih ada yang lebih miris lagi. Seorang anak yang
justru membenci aktivitas mulia ibunya yang menginginkan kembalinya penerapan
hukum Allah dalam naungan Khilafah.
Aku
teringat ayat yang seringkali disampaikan ketika halqoh.
"Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah
beriman", sedangkanmereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji
orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yg benar dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS.
Al Ankabut : 2-3)
Sebenarnya
yang paling jleb itu yang di surat al
Baqarah. Tapi, ayat ini emang 11-12 sama ayat itu. Mungkin Allah bermaksud
menegaskan bahwa jalan kebenaran itu pasti gak pernah sepi dari ujian.
Dakwah
itu pasti butuh pengorbanan. Dakwah tanpa pengorbanan bisa dipastikan rasanya
hambar. Siapapun tau yang namanya rasa hambar itu pasti gak enak. Jadi, kalo
ngerasa belum banyak berkorban dalam dakwah, segeralah berkorban. Karena dakwah
selalu menuntut pengorbanan. Semuanya, bahkan nyawa sekalipun. Adanya ujian
dalam dakwah juga membuktikan seberapa besar kita mampu mengorbankan kehidupan
dunia ini demi dakwah. Resiko merugi dalam bisnis, dijauhi dan dibenci
keluarga, kerabat dan sahabat, nilai yang tidak selalu sempurna, waktu tidur
dan bersantai berkurang drastis, bahkan sakit dan patah hati setiap detik
merupakan bukti pengorbanan yang pasti bisa dilakukan meski nyatanya sulit dan
berat.
Jika
dakwah belum memiliki tantangan berarti, maka silahkan muhasabah diri. Adakah
diri ini masih ragu untuk mengorbankan kehidupan dunia demi dakwah? Ataukah
diri ini takut berkorban demi surga?
Wallahu ‘alam bi ash
shawwaab.
*Special
thanks to Mbak To Y.
El Liwa, June 12th 2013. 03.01 PM.
Setelah azan berkumandang.
No comments:
Post a Comment