Tuesday, June 25, 2013

Cerita Bu Dokter

Aku memanggilnya Mbak To. Namanya unik dan untuk mempersingkat, ya kupanggil saja Mbak To. Sebenarnya ia sering dipanggil Toto Chan, seperti nama gadis kecil di buku yang terkenal itu. Tapi, ia tidak mau dipanggil Toto karena katanya seperti merek closet *ups* Ya sudah, daripada aku kena semprot, kupanggil saja Mbak To. Beliau adalah dokter yang baru saja lulus dan harus mengabdi di sebuah tempat terpencil. Sebelumnya, kami sama-sama di dakwah kampus. Pernah satu halqoh juga *sayang aku ketinggalan jauh, hiks :’( tp gpp, ntar kukejar dirimu mbak :D*
Banyak yang hal sudah terlewati bersama beliau. Dan aku selalu saja jadi korbannya. Namaku sering diganti macam-macam dan karena beliau pula nama panggilanku jadi banyak. Kadang pusing juga dikit-dikit namanya ganti, tapi gak apa-apalah, resiko jadi orang populer *narsis.com* Di tulisanku sebelumnya aku ingin menyampaikan sepatah kata selamat tinggal untuk beliau, makanya judulnya “Let Me Say Goodbye”. Sepi juga sih gak ada mbak yang satu itu. Soalnya kalo ngobrol sama beliau pasti gak ada habisnya. Thanks for all, mbak ^_^
Kemarin pas maghrib, pas lagi lapar-laparnya dan lagi kesel-keselnya, tiba-tiba hp berdering. Ada SMS. Ah, siapa sih maghrib-maghrib begini SMS?,” pikirku *astaghfirullah, soalnya habis bayangin SMS gak penting* ternyata di layar tulisan nama Mbak To. Ah, mbak To. Tumben SMS. Lalu, kubaca SMS dari beliau. Daaan, seperti biasa, namaku diganti lagi.
“Mitro-Sum, gimana kabarnya?”
Seperti keselek barbel dipanggil kayak gitu. Nama udah bagus begini -_-“ Kujawab seadanya.
“Eh, Mbak To. Alhamdulillah lagi banyak ujian nih :D Mbak gimana kabarnya?”
Kemudian beliau membalas lagi.
“Ujian apaan, Tro? Alhamdulillah mbak baik”
Singkat cerita, obrolan dilanjutkan via SMS. Setelah sholat maghrib pastinya. Ternyata, Mbak To sharing tentang pengalamannya dakwah di masyarakat. Soalnya sebelumnya di dakwah sekolah sama dakwah kampus. Udah gitu, yang sekarang di hadapi adalah masyarakat pedesaan *silahkan bayangkan sendiri* Beliau nyeritain tentang liqo’ sektor di tempatnya. Jaraknya 17km dari pusat kota. Tapi subhanallah, ibu-ibu paruh baya tersebut rela datang jauh-jauh hanya untuk liqo yang menghabiskan waktu 1,5 jam. Perjalanan lebih dari sejam, penuh bahaya karena jalanan yang terjal untuk liqo’ yang waktunya hampir sama dengan waktu perjalanan. Jangan bayangin akhwat yang masih single. Ini ibu-ibu. Ada yang naik motor sambil bawa dua anak, belum jalanan licin dan hampir ada yang jatuh. Tapi, itu tidak menyurutkan langkah mereka. Kebayang kita yang masih single, kadang kalo datang liqo’ udah mepet-mepet bahkan telat karena alasan yang sebenarnya tidak perlu dijadikan sebagai alasan karena gak masuk kriteria. Ada juga ibu-ibu yang datang dengan pakaian dan tas lusuh karena ternyata beliau baru pulang dari ladang. Subhanallah, mataku yang semalam udah tinggal 5 watt tetap aja bisa berkaca-kaca, bukan karena ngantuk tapi karena terharu. Mereka rela berkorban jauh-jauh datang meski liqo’nya cuma sebentar. Luar biasa kekuatan iman, semua yang gak mungkin bisa jadi mungkin karenaNya. Denger pengorbanan yang segitunya, saya jadi mikir.
Ya Allah, harusnya aku bersyukur, sekarang aku masih di dakwah kampus. Kalo sekarang aku di masyarakat dengan kondisi yang seperti itu, aku gak bakalan sanggup. Tapi, Allah memang tidak membebani seorangpun hambaNya melainkan dengan kesanggupannya. Alhamdulillah, masih ada waktu untuk mempersiapkan bekal ketika berdakwah di masyarakat nantinya”.
Dan yang membuat miris karena saya jadi ingat Mama saya adalah cerita tentang seorang ibu yang wajahnya muram saat liqo’. Setelah digali perihal muramnya ibu tersebut, ternyata diketahui kalo penyebab muramnya adalah karena putrinya. Putri beliau yang nyantri di dusun sebelah justru membenci dakwah yang dilakukan ibunya. Menuduh ibunya sesat karena berjuang demi diterapkannya Syariah dalam naungan Khilafah Islamiyah. Bahkan putrinya memfitnah dakwah yang dilakukan ibunya sampai membawa selebaran yang menjelek-jelekkan dakwah ibunya sebagai hadiah dari pesantren tempat putrinya itu menimba ilmu Islam. Masya Allah, jerit hatiku. Teringat bagaimana Mama juga segitunya dengan dakwahku. Sejak pertama kali dakwah hingga saat ini. Mama yang selalu mengira dakwah menegakkan Syariah dan Khilafah hanyalah alat politik kelompok tertentu yang mengejar kekuasaan. Entah berapa lama aku merasa jadi orang paling merana dan menglebay sepanjang waktu, ternyata masih ada yang lebih miris lagi. Seorang anak yang justru membenci aktivitas mulia ibunya yang menginginkan kembalinya penerapan hukum Allah dalam naungan Khilafah.
Aku teringat ayat yang seringkali disampaikan ketika halqoh.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkanmereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al Ankabut : 2-3)
Sebenarnya yang paling jleb itu yang di surat al Baqarah. Tapi, ayat ini emang 11-12 sama ayat itu. Mungkin Allah bermaksud menegaskan bahwa jalan kebenaran itu pasti gak pernah sepi dari ujian.
Dakwah itu pasti butuh pengorbanan. Dakwah tanpa pengorbanan bisa dipastikan rasanya hambar. Siapapun tau yang namanya rasa hambar itu pasti gak enak. Jadi, kalo ngerasa belum banyak berkorban dalam dakwah, segeralah berkorban. Karena dakwah selalu menuntut pengorbanan. Semuanya, bahkan nyawa sekalipun. Adanya ujian dalam dakwah juga membuktikan seberapa besar kita mampu mengorbankan kehidupan dunia ini demi dakwah. Resiko merugi dalam bisnis, dijauhi dan dibenci keluarga, kerabat dan sahabat, nilai yang tidak selalu sempurna, waktu tidur dan bersantai berkurang drastis, bahkan sakit dan patah hati setiap detik merupakan bukti pengorbanan yang pasti bisa dilakukan meski nyatanya sulit dan berat.
Jika dakwah belum memiliki tantangan berarti, maka silahkan muhasabah diri. Adakah diri ini masih ragu untuk mengorbankan kehidupan dunia demi dakwah? Ataukah diri ini takut berkorban demi surga?
Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

*Special thanks to Mbak To Y.

El Liwa, June 12th 2013. 03.01 PM. Setelah azan berkumandang.

No comments:

Post a Comment