Sunday, June 30, 2013

Muhasabah

Allah-lah pemilik segala kesempurnaan. Kita boleh merasa bangga dengan upaya maksimal yang telah kita lakukan, tapi jangan pernah lupa bahwa kita adalah manusia, tempatnya salah dan lupa. Maka, bisa saja apa yang kita lakukan mendapat masukan entah kritik atau saran dari orang lain. 

Jika mendapat seperti itu bukanlah baqo’ yang kita kedepankan. Apalagi kepada sesama saudara yang ingin ber-amar makruf. Justru harusnya kita merasa senang karena masih ada saudara yang peduli pada kita. 

So, jangan bikin perjuangan ini rusak dengan sisipan benci apalagi dendam *naudzubillah*


290613

Curhat


Terkadang, ketika seseorang sedang bercerita (biasanya curhat), ia hanya ingin didengarkan. Mungkin lebih karena ia ingin melabuhkan sebagian beban yang ia anggap berat. Namun, terkadang kita tidak cukup pandai membaca keinginannya sehingga yang kita lakukan justru memberikan seribu kata yang tidak ingin dia dengar. 
Kesimpulannya, curhatnya sama Allah aja. Karena kalo curhatnya sama manusia, apalagi pengemban dakwah, pasti bakalan dikasih solusi A-Z. Karena prinsipnya amar makruf nahi munkar. Kalo sama Allah, pasti di dengarkan. Gak hanya Allah, malaikatNya juga akan mendengarkan.
#Trytounderstand
280613

Wednesday, June 26, 2013

Goodbye

Kita masih harus banyak belajar. Belajar bagaimana menundukkan baqo’ kita hm tidak hanya itu tetapi seluruh gharizah kita di bawah hukum syara’. Semua untuk menjadi yang terbaik di sisiNya.Tentu perjuangan ini akan memalukan jika kita bisa idealis dengan lisan kita tetapi tidak dengan tingkah laku kita. Mungkin menyakitkan karena ini melibatkan rasa. Tapi, percayalah takkan ada badai yang terus-terusan. Pasti akan ada mentari yang membiaskan pelangi setelahnya. Jangan pernah menyerah karena perjuangan ini adalah perjuangan yang berat. Biarlah cerita ini berakhir dengan menyakitkan karena setelah itu pasti akan ada awal baru yang lebih indah. Berupayalah untuk menjadi yang terbaik dalam dakwah. Menjadi yang terbaik di sisiNya. Bukan demi apa atau siapa. Hanya semata karena Allah SWT. 

Try to Move On
 260613

Ganti Rezim Ganti Sistem

Drama kenaikan BBM udah kayak Cinta Fitri aja. Seasonnya super banyak. Ini gak tau udah season ke berapa. Pemainnya emang ada beberapa yang ganti dan masih ada pemain lama juga. Tapi kok semuanya malah jadi antagonis ya? Super heronya kemana nih?

Tapi, wajar aja sih. Dalam sistem Demokrasi Kapitalis gak ada Super Hero. Semua Super Heronya berubah jadi penjahat. Ngebunuh rakyat pelan-pelan dengan dalih pengen nyelamatin APBN biar rakyat juga ikutan selamat. Tapi rutenya tetap aja sama.
Pertama, rencana kenaikan diumumkan. Kedua, muncul penolakan dimana-mana. Katanya suara rakyat suara Tuhan. Tapi, rakyat koar-koar gak di dengerin. Ketiga, meski rakyat udah kehabisan suara koar-koar, akhirnya BBM dipaksa untuk dinaikkan. Selanjutnya, dibuatlah bantuan-bantuan seperti BLT, BLSM, dan sejenisnya. Tapi, ujung-ujungnya selalu ada aja masalah yang bikin ricuh. Belum apa-apa udah ada kesalahan pendataan, belum lagi kalo dananya dipangkas karena ternyata di tengah jalan ada tikus yang nyomot dikit-dikit.

Buat yang mata sama hatinya masih normal, pasti bisa ngeliat dan ngerasa kalo ini bukan hanya permasalahan individu. Ada yang salah dengan sistem yang kita pakai sekarang. Sistem yang akhirnya menjerumuskan individu-individu ke dalam kubangan lumpur. Gak ada yang nyalahin pemerintah. Tapi pemerintah sendiri yang sebenarnya membongkar aibnya di depan rakyatnya. Kita lihat aja, sampai kapan rakyat tahan dengan kegerahan sistem ini.

Allah SWT berfirman :
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thahaa [20] : 124)

Saatnya #GantiRezimGantiSistem

Tuesday, June 25, 2013

Langit Yang Berbeda

Dunia bisa saja menyempit
Namun, langit tetaplah luas tak terbatas
Biru membentang di atas samudera yang tenang
Laksana kanvas yang siap dilukis warna-warni

Hari kita mungkin sama
Namun, langit yang menaungi kita takkan selalu sama
Kau dengan biru langitmu
Aku dengan biru langitku

Hingga suatu saat
Waktu mempertemukan kita
Di langit yang sama
Meski itupun masih menjadi misteri
Jika tak bertemu di langit yang sama
Setidaknya kita memiliki harapan yang sama
Melihat mentari terbit dari ufuk timur
Untuk merangkai hari baru tanpa kerusakan

Meski langit kita berbeda
Perjuangan kita tetaplah sama
Membawa kembali kemuliaan yang hilang
Bersama asa yang luas membentang

Berlarilah bersama langitmu hari ini
Biru yang akan terus menyemangatimu
Bergeraklah bersama langitmu hari ini
Mendung yang coba menguatkanmu

Berharaplah bersama langitmu hari ini
Jingga yang selalu menyalakan api harapanmu
Bersujudlah di bawah langitmu hari ini
Bersama doa yang kau panjatkan hanya kepadaNya

Hingga Dia memenuhi janjiNya
Hingga bisyaroh itu terbukti
Meski di langit yang berbeda
Tetaplah berjuang tanpa henti

Suatu pagi dalam hening. Untuk semua kawan yang mengorbankan apapun yang mereka miliki demi tegaknya Khilafah.

 240613

Cerita Bu Dokter

Aku memanggilnya Mbak To. Namanya unik dan untuk mempersingkat, ya kupanggil saja Mbak To. Sebenarnya ia sering dipanggil Toto Chan, seperti nama gadis kecil di buku yang terkenal itu. Tapi, ia tidak mau dipanggil Toto karena katanya seperti merek closet *ups* Ya sudah, daripada aku kena semprot, kupanggil saja Mbak To. Beliau adalah dokter yang baru saja lulus dan harus mengabdi di sebuah tempat terpencil. Sebelumnya, kami sama-sama di dakwah kampus. Pernah satu halqoh juga *sayang aku ketinggalan jauh, hiks :’( tp gpp, ntar kukejar dirimu mbak :D*
Banyak yang hal sudah terlewati bersama beliau. Dan aku selalu saja jadi korbannya. Namaku sering diganti macam-macam dan karena beliau pula nama panggilanku jadi banyak. Kadang pusing juga dikit-dikit namanya ganti, tapi gak apa-apalah, resiko jadi orang populer *narsis.com* Di tulisanku sebelumnya aku ingin menyampaikan sepatah kata selamat tinggal untuk beliau, makanya judulnya “Let Me Say Goodbye”. Sepi juga sih gak ada mbak yang satu itu. Soalnya kalo ngobrol sama beliau pasti gak ada habisnya. Thanks for all, mbak ^_^
Kemarin pas maghrib, pas lagi lapar-laparnya dan lagi kesel-keselnya, tiba-tiba hp berdering. Ada SMS. Ah, siapa sih maghrib-maghrib begini SMS?,” pikirku *astaghfirullah, soalnya habis bayangin SMS gak penting* ternyata di layar tulisan nama Mbak To. Ah, mbak To. Tumben SMS. Lalu, kubaca SMS dari beliau. Daaan, seperti biasa, namaku diganti lagi.
“Mitro-Sum, gimana kabarnya?”
Seperti keselek barbel dipanggil kayak gitu. Nama udah bagus begini -_-“ Kujawab seadanya.
“Eh, Mbak To. Alhamdulillah lagi banyak ujian nih :D Mbak gimana kabarnya?”
Kemudian beliau membalas lagi.
“Ujian apaan, Tro? Alhamdulillah mbak baik”
Singkat cerita, obrolan dilanjutkan via SMS. Setelah sholat maghrib pastinya. Ternyata, Mbak To sharing tentang pengalamannya dakwah di masyarakat. Soalnya sebelumnya di dakwah sekolah sama dakwah kampus. Udah gitu, yang sekarang di hadapi adalah masyarakat pedesaan *silahkan bayangkan sendiri* Beliau nyeritain tentang liqo’ sektor di tempatnya. Jaraknya 17km dari pusat kota. Tapi subhanallah, ibu-ibu paruh baya tersebut rela datang jauh-jauh hanya untuk liqo yang menghabiskan waktu 1,5 jam. Perjalanan lebih dari sejam, penuh bahaya karena jalanan yang terjal untuk liqo’ yang waktunya hampir sama dengan waktu perjalanan. Jangan bayangin akhwat yang masih single. Ini ibu-ibu. Ada yang naik motor sambil bawa dua anak, belum jalanan licin dan hampir ada yang jatuh. Tapi, itu tidak menyurutkan langkah mereka. Kebayang kita yang masih single, kadang kalo datang liqo’ udah mepet-mepet bahkan telat karena alasan yang sebenarnya tidak perlu dijadikan sebagai alasan karena gak masuk kriteria. Ada juga ibu-ibu yang datang dengan pakaian dan tas lusuh karena ternyata beliau baru pulang dari ladang. Subhanallah, mataku yang semalam udah tinggal 5 watt tetap aja bisa berkaca-kaca, bukan karena ngantuk tapi karena terharu. Mereka rela berkorban jauh-jauh datang meski liqo’nya cuma sebentar. Luar biasa kekuatan iman, semua yang gak mungkin bisa jadi mungkin karenaNya. Denger pengorbanan yang segitunya, saya jadi mikir.
Ya Allah, harusnya aku bersyukur, sekarang aku masih di dakwah kampus. Kalo sekarang aku di masyarakat dengan kondisi yang seperti itu, aku gak bakalan sanggup. Tapi, Allah memang tidak membebani seorangpun hambaNya melainkan dengan kesanggupannya. Alhamdulillah, masih ada waktu untuk mempersiapkan bekal ketika berdakwah di masyarakat nantinya”.
Dan yang membuat miris karena saya jadi ingat Mama saya adalah cerita tentang seorang ibu yang wajahnya muram saat liqo’. Setelah digali perihal muramnya ibu tersebut, ternyata diketahui kalo penyebab muramnya adalah karena putrinya. Putri beliau yang nyantri di dusun sebelah justru membenci dakwah yang dilakukan ibunya. Menuduh ibunya sesat karena berjuang demi diterapkannya Syariah dalam naungan Khilafah Islamiyah. Bahkan putrinya memfitnah dakwah yang dilakukan ibunya sampai membawa selebaran yang menjelek-jelekkan dakwah ibunya sebagai hadiah dari pesantren tempat putrinya itu menimba ilmu Islam. Masya Allah, jerit hatiku. Teringat bagaimana Mama juga segitunya dengan dakwahku. Sejak pertama kali dakwah hingga saat ini. Mama yang selalu mengira dakwah menegakkan Syariah dan Khilafah hanyalah alat politik kelompok tertentu yang mengejar kekuasaan. Entah berapa lama aku merasa jadi orang paling merana dan menglebay sepanjang waktu, ternyata masih ada yang lebih miris lagi. Seorang anak yang justru membenci aktivitas mulia ibunya yang menginginkan kembalinya penerapan hukum Allah dalam naungan Khilafah.
Aku teringat ayat yang seringkali disampaikan ketika halqoh.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkanmereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al Ankabut : 2-3)
Sebenarnya yang paling jleb itu yang di surat al Baqarah. Tapi, ayat ini emang 11-12 sama ayat itu. Mungkin Allah bermaksud menegaskan bahwa jalan kebenaran itu pasti gak pernah sepi dari ujian.
Dakwah itu pasti butuh pengorbanan. Dakwah tanpa pengorbanan bisa dipastikan rasanya hambar. Siapapun tau yang namanya rasa hambar itu pasti gak enak. Jadi, kalo ngerasa belum banyak berkorban dalam dakwah, segeralah berkorban. Karena dakwah selalu menuntut pengorbanan. Semuanya, bahkan nyawa sekalipun. Adanya ujian dalam dakwah juga membuktikan seberapa besar kita mampu mengorbankan kehidupan dunia ini demi dakwah. Resiko merugi dalam bisnis, dijauhi dan dibenci keluarga, kerabat dan sahabat, nilai yang tidak selalu sempurna, waktu tidur dan bersantai berkurang drastis, bahkan sakit dan patah hati setiap detik merupakan bukti pengorbanan yang pasti bisa dilakukan meski nyatanya sulit dan berat.
Jika dakwah belum memiliki tantangan berarti, maka silahkan muhasabah diri. Adakah diri ini masih ragu untuk mengorbankan kehidupan dunia demi dakwah? Ataukah diri ini takut berkorban demi surga?
Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

*Special thanks to Mbak To Y.

El Liwa, June 12th 2013. 03.01 PM. Setelah azan berkumandang.

Refleksi Pelangi

Syair ini saya khususkan untuk teman-teman yang sekarang lagi overseas. Berhubung banyak yang tiba-tiba ngirim kata-kata romantis *pertanda kangen ma gue* jadi kepikiran bikin syair kayak gini. Tapi, tenang. Ini bukan puisi kok. Ini lirik rap, hhe.

Ini bukan puisi picisan
Gaya anak alay yang sedang kasmaran
Ini juga bukan sekedar syair nostalgia
Yang isinya Cuma mengenan masa lalu nan bahagia
Karena cerita kita bukan hanya tentang cinta
Cinta fiksi ala Cinderella
Bukan pula sekedar cita-cita duniawi
Yang bermuara pada kesenangan ragawi

Inilah refleksi pelangi
Meski ia hanya bias mentari
Namun selalu mampu mewarnai hari
Selamanya terlukis di lubuk hati

Refleksi pelangi
Adalah tentang perjalanan penuh warna-warni
Yang kita lalui dengan langkah yakin seteguh bumi
Dengan harapan yang selalu melangit tinggi

Refleksi pelangi
Adalah tentang kita yang punya mimpi
Meski bagi sebagian orang mimpi itu adalah ilusi
Tapi, keyakinan adalah kunci
Bersama janji suci dari langit
Dan bisyaroh dari Sang Pembawa Risalah Mulia

Kawan, jarak bisa saja memisahkan
Waktu pun terkadang sering jadi pembatas
Namun, ukhuwah kita tetaplah menjadi ikatan tak terbatas

Tiada kata indah selain rasa syukur  tak terkira
Atas seluruh waktu yang telah terukir
Dengan tinta peluh dan air mata

Semoga hanya Dia yang senantiasa mengokohkan ikatan ini
Membingkainya dalam indah
Dan memeliharanya hingga ke surga
Uhibbuki fillah, ukhti…

cc: Fitri *maaf ukh, suratnya belum bisa dikirim. Jadi, syairnya dulu berhubung gratis hhe*
Mala *tunggu suratku ya ukh*
Ifa *sukses buat sempronya. Semangat ^^*
Buat Pithy, Jannah, Pita, Dewi, Indah, Lusi, Devita dan yang gak kusebutin namanya karena lupa, love y’all in Allah as always. Semoga bisa ketemu di garis finish *surga Allah, aamin*

Darul Kayyis, 24 Juni 2013

Wednesday, June 12, 2013

(Don't) Let Me Say Goodbye

Setiap pertemuan pasti punya perpisahan. Begitupun dengan dakwah ini. Teman seperjuangan itu datang dan pergi. Tapi, dimanapun mereka berada, pastilah kita tetap bersaudara dan tetap sehati karena kita menginginkan hal yang sama. Kita punya pemikiran, perasaan dan ingin diatur oleh aturan yang sama, yakni aturan Islam. Allah pasti punya rencana yang lebih indah dengan perpisahan ini karena Allah tahu yang terbaik. Hanya Dia Yang Maha Tahu.
Suatu saat, saat kita bertemu lagi semoga kita bisa sama-sama menjadi orang-orang yang istimewa di sisiNya. Karena sejatinya apa yang ada di sisi kita bukan milik kita bahkan diri kita sendiri. Semua akan pergi meninggalkan kita kecuali amalan kita. Itu pasti.
Semoga bisa ketemu lagi. Jika bukan di dunia, di surgaNya nanti. Mb To, we’ll gonna miss you. It feels so sad but if this the best from Allah, I have no choice. Semoga di tempat yang baru mb To bisa jadi yang terbaik dalam dakwah dan semoga bisa bersama dengan orang yang juga berupaya untuk menjadi yang terbaik dalam dakwah seperti mb To. Sono hi wa otanoshimi ^^
*Untuk Mb To. Tulisan ini dibuat beberapa hari sebelum kepindahanmu. Love you in Allah as always. BTW, kenapa gue jadi lebay ya?*

Khairunnisa, May 14th 2013. 10.45 PM. 


Try to Accept

Emang gak bisa dipungkiri kalo manusia itu selalu suka yang bagus-bagus dan gak suka yang jelek-jelek. Mungkin, kita sangat gampang menyukai seseorang atau siapapun itu dengan memandang kelebihannya terlebih dahulu. Terlepas dari itu fisik atau non fisik. Tapi, ternyata sedikit banget yang bisa menerima bahwa orang yang punya kelebihan yang membuat kagum itu ternyata punya kekurangan yang mungkin sulit untuk ditolerir *bukan berarti gak bisa diubah lho ya* dan akhirnya bikin image orang itu jatuh di depan kita. Gue beberapa kali terjebak dengan hal seperti itu. Paling sering ketika mengagumi orang dari luarnya aja dan pas tahu kalo ada sesuatu yang seolah tidak mungkin ada dalam diri orang yang mengagumkan seperti itu akhirnya kita berhenti untuk melihat dengan objektif dan hanya melihat secara subjektif sehingga yang dilihat hanya yang jelek-jelek aja. Kita pun jadi orang yang gampang kecewa karena gak bisa menerima.
Contoh kecil adalah ketika kita tinggal bersama dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda jauh dengan kita. Hal yang bakalan bikin shock adalah ketika kita udah tau orang-orang itu luar-dalam seperti apa. Mungkin dari mereka ada yang punya kebiasaan jelek dan kita gak terima. Tapi kita gak ngomong dan mungkin memuhasabahi dengan ma’ruf. Akhirnya yang terjadi adalah zhann yang tersimpan dan lama kelamaan meledak berujung pada ketidakharmonisan yang ada di dalam rumah. Mungkin gak beda jauh dengan ketika kita menikah. Memang sih Cuma berdua aja, beda dengan kontrakan yang lebih dari dua. Tapi, konteksnya sama. Kita menikah dengan orang yang jelas latar belakang kehidupannya berbeda dan ketika kita tidak bisa meletakkan penerimaan terhadap kekurangan di awal, maka yang terjadi adalah shock dan akhirnya selalu iri dengan pasangan lain atau istilahnya rumput tetangga lebih hijau *naudzubillah min dzalik* Emang sih dalam ta’aruf mungkin sudah dijelaskan tetapi pasti ada hal-hal tak terduga yang ditemukan di hari kemudian *sok berpengalaman*
Emang gak mudah menerima kekurangan apalagi kalo terbiasa hanya melihat kelebihan. Tapi satu hal yang harus kita yakini yang namanya manusia diciptakan lemah dan terbatas oleh Allah. Itu artinya, sehebat apapun manusia pasti ada celahnya. Atau bisa kita katakan ada limitnya. Dan tidak ada manusia yang mampu melewati batas kelemahan itu. Sehingga yang namanya manusia punya weakness. Jadi, yang harus pertama diletakkan adalah karena manusia punya kelemahan maka kita harus bisa menerima karena kita sendiri pun punya kelemahan sehingga gak adil dong kalo kita berharap orang lain menerima kita apa adanya *dengan kelemahan* tapi kita gak bisa menerima kelemahan orang lain.
Pengemban dakwah juga manusia. Mereka pasti punya kekurangan. Mungkin orang yang belum paham akan men-generalisir tapi kita sebagai sesama pengemban dakwah seharusnya bisa menerima kekurangan itu. Rasa kecewa itu mungkin akan ada. Tetapi, jika cinta kepada Allah dan RasulNya berada di posisi teratas, insya Allah kita tidak akan kecewa sampai harus melarikan diri dan seolah membuat sejuta misteri kepada teman-teman seperjuangan kita. Satu lagi, segala sesuatu jika dikomunikasikan pasti akan muncul saling pengertian meski tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sebenarnya tinggal di kontrakan dan berinteraksi dengan banyak orang itu akan membuat kita belajar menjadi orang yang pengertian. Dan suatu saat ketika kita menikah, kita tidak akan shock lagi melihat kenyataan kalo “suami” atau “istri” kita tidak sekeren penampakkan luarnya.

Khairunnisa, May 13th 2013. 08.02 PM.