Suasana ramah-tamah dan hangat menyelimuti Liqo’ Mahaliy
hari ini. Setelah kemarin seharian disampaikan terkait konsep yang berkaitan
dengan pembinaan dalam jamaah, agenda liqo’ mahaliy sekaligus upgrading liburan
hari ini adalah acara ramah-tamah. Kemarin aku mendapatkan banyak pelajaran
berharga. Dan pelajaran hari ini pun tak kalah berharga dari pelajaran kemarin.
Setelah selesai menyantap rujak buah bersama teman-teman
sambil berfoto bersama, aku kemudian diajak bermain ke luar area masjid oleh
anak musyrifahku.
“Mbak Ditri, ayo main di luar!,” kata Irda sambil
menarik tanganku.
“Eh, mau main kemana mbak Ir?,” tanyaku penasaran dengan
sebelah tanganku meraih tempat air minum dan sebelah lagi ditarik oleh Irda. Mau
tidak mau, aku mengikuti ajakannya keluar. Irda lalu mencari sandalnya dan
mulai memamerkannya.
“Mbak Ditri, sandalku baru lho,” katanya senang sambil
memperlihatkan sandal berwarna pink. Dari dulu Irda sangat menyukai warna pink.
Dia menyukai susu strawberry dan es krim strawberry pun karena warnanya pink.
“Dasar, anak kecil,” begitu pikirku. Namun, karena aku
sangat menyukai anak kecil, aku selalu meladeni pembicaraan mereka.
Setelah mengambil sandal, kami pun keluar dari area
masjid.
“Mbak Ditri, lihat! Airnya jalan!,” Seru Irda sambil
asik melihat aliran air yang mengalir di selokan yang berukuran kira-kira
setengah meter.
“Iya, deras ya mbak Ir?,” kataku pada Irda.
“Iya,” jawabnya senang.
“Hmm, kalo gitu, ayo kita main perahu-perahu. Nanti kita
bikin perahu kertas trus kita hanyutin ke sini,” kataku pada Irda.
“Iya, ayo! Tapi pake kertas mbak Ditri aja ya,” kata
Irda kemudian.
“Iya. Kalo gitu, tunggu sebentar ya, mbak Ditri mau
ambil kertasnya dulu di dalam ya,” kataku pada Irda.
Aku pun masuk kembali ke dalam masjid dan mengambil
bukuku yang sudah tipis karena sudah penuh coretan serta mengambil bolpen untuk
menuliskan nama-nama yang akan kuhanyutkan bersama perahunya.
“Mbak Irda mau dibuatin perahu berapa?,” tanyaku.
“Banyak,” jawabnya.
“Banyak?”
“Iya. Nanti ada namanya mbak Irda, Ummi, Ayah, Dedek
Hana, Dedek Hafiya, Umminya Hafiya, sama mbak-mbak juga. Nanti mbak Ditri juga
ada namanya,” jawab Irda dengan gaya khas anak-anak yang ceria.
Aku mulai membuat perahu-perahu dari kertas dan satu per
satu kutulisi nama yang disebutkan Irda.
“Wah, perahunya jalannya jauh mbak Ditri,” kata Irda
senang.
“Iya, keren ya mbak Ir?,” Jawabku.
“Ayo, buatin lagi! Tuh, kertasnya masih banyak yang
kosong kan?,” kata Irda.
Dan perahu terakhir yang kubuat kuselipkan sebuah nama
yang ingin kuhanyutkan bersama perahu itu.
Setelah selesai membuatnya, aku melangkah ke pinggir
selokan dan mulai menghanyutkan perahu itu.
“Bismillahirrahmaanirrahiim,” kataku dan Irda bersamaan.
Kemudian perahu itu mulai berjalan mengikuti aliran air
selokan dan...
“Plung!,” sebuah suara benda tercebur di dalam selokan. Kupikir
batu. Tetapi sejak tadi tidak ada batu di sekitar situ.
“Mbak Ir, apa itu yang jatuh?,” tanyaku pada Irda.
Irda lalu menjawab dengan polosnya, “Handphone”.
Handphone? Aku lalu merogoh kantung jaketku. Masya Allah,
handphoneku tercebur. Tanpa berpikir aku langsung menceburkan kakiku ke dalam
selokan yang dalamnya sekitar 30cm itu. Aku meraba-raba dengan kakiku, tidak
ada tanda-tanda. Kupikir, handphone itu sudah terbawa arus. Tetapi, jika
terbawa arus, bukannya handphone itu lumayan berat? Tapi, tidak ada tanda-tanda
ia tersangkut diantara bebatuan di pinggir selokan. Dengan air yang keruh,
mustahil bisa melihat ke bawah.
Beberapa saat kemudian, teman-teman mulai ramai
berdatangan melihatku yang nyebur ke selokan.
“Ada apa Dit?,” tanya Ami.
“Hapeku jatuh, Mi,” jawabku.
Ami lalu ikut nyebur dan membantuku meraba-raba dibawah
air.
“Udah mi, gak usah. Kayaknya udah hanyut deh,” kataku
karena iba melihat Ami yang sudah basah seperti itu.
“Kayaknya masih ada, Dit. Gak mungkin hanyut. Coba dicari
dulu,” jawab Ami.
“Iya mbak, Hapenya kan berat. Mungkin nyangkut. Mbak udah
nyari ke sudut-sudut itu? Siapa tau aja nyangkut,” kata teman yang lain.
Untuk beberapa saat aku dan Ami menyusuri selokan sampai
beberapa meter ke depan. Tapi, hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan
handphone-ku. Ami sampai pergi lebih jauh segala. Dari belakang kudengar suara
che Lyn yang berkata, “Handphonenya belum ketemu ya? Gak ada lagi yang bantuin
nih?”
Dan saat berbalik ke belakang, kulihat beliau juga sudah
ikut nyebur. Rasanya aku ingin menangis. Dan beberapa saat setelah beliau
nyebur, beberapa teman yang lain jg ikut nyebur. Ada Nurmah, Lilis, Rani,
Kholis dan mbak Indah. Aku tadinya sudah pasrah. Jika memang qadha, apalagi
yang bisa kuperbuat? Menjaganya adalah kewajiban, tetapi jika ia hilang karena
kelalaian bisa saja memang udah waktunya alias qadhanya hilang. Tetapi, melihat
mereka yang begitu bersemangat mencari, terutama Ami, aku jadi semangat lagi. Setidaknya
berusaha dulu. Selain yang nyebur, teman-teman yang lain juga ikut melihat dari
atas jembatan.
“Teman-teman, pada pake sandal gak?,” tanya che Lyn.
Semua menggeleng.
“Tapi, pake kaos kaki kan?,” tanyaku.
Semua mengiyakan.
“Hati-hati pecahan kaca ya,” kata che Lyn.
Sekitar setengah jam mencari hasilnya tetap nihil.
“Mi, udah. Ayo, berhenti aja. Kasian kalian udah pada
basah kuyup gini,” kataku pada Ami yang masih terus mencari.
“Coba cari dulu. Kayaknya gak hanyut. Hapemu lumayan
berat kan?”
“Iya sih, tapi aku gak yakin masih ada. Soalnya selokan
ini dalam. Arusnya juga lumayan deras. Udahlah, emang udah waktunya juga hilang”.
Kami memutuskan untuk menghentikan pencarian. Namun, aku
sedikit kepikiran. Karena semua nomor penting ada disitu. Belum lagi aku harus
memberitahu keluargaku, terutama Mama. Tetapi, aku berusaha mengikhlaskan. Toh ini juga dari Allah. Kalo Allah
minta kembali kan wajar. Aku sudah lupa untuk menangis. Satu-satunya hal yang
membuatku sedih adalah melihat teman-temanku juga ikut nyebur ke selokan yang
kotor itu. Dan aku sadar, aku tidak pernah sendirian. Beginilah saling
mencintai karena Allah dan itu hanya kutemukan di sini. Di jamaah ini. Dalam hati
aku mengucap syukur tiada tara kepada Allah karena sudah mempertemukanku dengan
teman-teman yang ikhlas seperti mereka.
“Coba dicari lagi mbak, mungkin nyangkut,” kata salah
seorang teman lagi ketika kami sudah di tepi jembatan.
Aku lalu memasukkan tanganku ke dalam air dan
meraba-raba kedalaman selokan itu.
“Tapi selokannya lumayan dalam. Bisa aja tadi emang pas
melayang langsung kebawa arus,” kataku sambil meraba-raba di bawah permukaan
air dengan tanganku.
“Iya, arusnya juga lumayan deras, Dit,” timpal mbak
Indah yang juga masih meraba-raba di bawah permukaan air.
Dan tiba-tiba mbak Indah mengangkat tangannya lalu
berseru, “Ketemu!”
Semua langsung berucap, “Alhamdulillah”. Akhirnya,
handphonenya ketemu juga meski dengan keadaan basah kuyup dan layarnya
berkelap-kelip. Ya, sepertinya memang dia harus masuk UGD. Entah bagian apa
yang rusak selama ia tercebur tadi. Namun, dibalik semua itu aku bersyukur
sekali. Hari ini aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.
Mungkin, selama ini aku masih sering melupakan hal-hal
yang kecil. Atau bisa dikatakan mengabaikannya. Atau aku juga masih kurang
percaya kepada teman-temanku padahal mereka kusebut sebagai teman bahkan
sahabat. Hari ini Allah mengajarkanku untuk percaya dan lebih berhati-hati
serta lebih peka meski terhadap hal kecil dan sepele.
Ya, aku harus lebih percaya lagi kepada mereka yang
kuanggap teman seperjuangan. Meski aku awalnya tidak mudah percaya kepada orang
lain. Tetapi, mereka semua ada. Dan tidak membiarkanku kesulitan menghadapi
sesuatu sendiri. Mereka pun sama sekali tidak merasa terbebani bahkan mereka
juga ingin agar aku meminta tolong kepada mereka. Karena semua berawal dari
sebuah kepercayaan. Semoga menjadi pelajaran untukku ke depannya.
Minna, hontou ni
gomen. Demo, kokoro kara hontou ni arigatou., anatatachi to isshoni iro iro na
koto wo yatte iru, Allah swt ni itsumo kansyashiteru.
Special Thanks for my Heroines today, Amirah Puspadewi,
M. Lyna, Baiq Indah R.D., Lilis Frinda, Rani Ferdian, Kholisatut Tahliyah dan
Nurmah, uhibbukunna fillah ukhti ^_^
Khairunnisa, January 20th 2013. 01.58 PM.
No comments:
Post a Comment