Sunday, January 20, 2013

Masihkah Kau salahkan Dakwah?

Terkadang, dakwah akademis kita harus berhadapan dengan dakwah yang lain.disatu sisi kita memiliki tanggungjawab akademis untuk membahagiakan orang tua. namun disisi lain, ada amanah yang khusus Allah berikan kepada kita berat memang. tak ada yang ringan. terlebih bila deretan IP kita selama ini termasuk PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma) rasa ingin meningkatkan angka itu begitu kuat hingga terkadang mungkin kita melalaikan amanah2 kita yang lain. ikhwati fillah, begitu sering saya mendengar bahwa ada seseorang yang dengan alasan akademis memutuskan untuk berhenti dari dakwah karena beralasan ip/ipk yang turun. maka, apakah benar keterlibatan kita di dakwah menurunkan nilai ip/ipk kita? hanya pengecutlah yang mundur dengan alasan akademis, kenapa? karena mereka yang mundur juga jarang mendapatkan nilai ip/ipk diatas 3,5. justru terlalu sering saya mendapatkan kabar bahwa mereka yang dengan keikhlasan tinggi malah ber ip/ipk sangat memuaskan. maka, masih adakah alasan kita untuk mundur dari dakwah? tidakkah kita belajar dari kecerdasan seorang Ibrahim???yakinlah, bahwa yang menolong agama Allah pun akan Allah tolong....

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS: Muhammad:7)

Teringat sebuah cerita, ada seorang aktvis dakwah. Beliau, aktif, sangat aktif sekali, cukup salut pada beliau. Tak heran, jika ia menjadi salah seorang lumayan penting dalam kampus. Keberadaannya pun menjadi “rebutan” bagi wajihah-wajihah dakwah. Namun ia kemudian bermasalah dalam semesternya kali ini. Dan alangkah terkejutnya ketika ia berkata, ia ingin “berkonsentrasi kuliahnya”. Sebuah istilah lain untuk berkata, “ana ingin mundur”. Ini memang bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya pun sudah pernah terjadi seperti ini.

“Ana hanya ingin membahagiakan orang tua akh!”

sadarkah antum wa antuna, “apakah HANYA dengan IP kita bisa membahagiakan orang tua kita? Alangkah minim sekali standart itu?” terkadang kita begitu terlalu sempit membatasi semua standar kita. Atau jawaban-jawaban klise lain.

“Ana kekampus ini untuk kuliah akh!”
“Lha iya sama, ana juga kuliah, bukan jualan donat, atau jadi cleaning service”.
Ah seandainya IP kita yang bagus, semakin mendekatkan kita ke Jannah-Nya…

seandainya saja…

Lagi-lagi kasus ini terulang lagi, dan lagi-lagi keterbatasan dan keterpurukan IP, seringkali membuat kita menyalahkan aktivitas dakwah kita. Kita pun seolah menuding pada aktivitas dakwah yang seabrek, pada ini, pada itu, dan kita pun meminta pengurangan amanah, bahkan yang terburuk, kita mundur dari sebuah amal dakwah. Masya Allah…

Sambil berkelit kita berkata, “Ah, bukankah saya masih tetap berdakwah, meski dalam bentuk yang berbeda?”, tanpa mau sedikitpun kita tersadar, kita telah membuat sebuah kekuatan menjadi lemah karena salah satu tiangnya pergi. Tanpa sadar bahwa kita membuat tiang-tiang lain, kemudian menerima beban atap yang kita tinggalkan, padahal dalam sebuah kenyataan IP mereka lebih buruk daripada kita…

Allahu Akbar!! Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan menghilangkan sikap egois-egois kita.

Dakwah itu syamil, jangan dikotak-kotakkan dengan akademis, organisasi dan lain sebagainya

Ya Allah, jadikanlah kami malu kepada rasulMu, kepada Umar, sang khalifah tanpa istana karena untuk ummat-lah miliknya semuanya.

Jadikanlah kami malu kepada Mushab, selebritis Mekkah yang meninggalkan gemerlap dunianya untuk bergabung menjadi pemuda dakwah, yang di akhir Uhud, syahid dengan baju yang sangat sedikit.

Jadikanlah kami malu kepada Sumayyah, bukan sekedar IP atau harta mereka berkorban, namun dengan jiwa dan darah mereka persembahkan.

Jadikanlah kami malu kepada Al Khansa, bukan sekedar IP atau harta ia korbankan, namun keseluruhan putra-putra terbaiknya yang ia persembahkan.

Sungguh segenap alasan, bisa kita lontarkan saat ini, sebagaimana Ka’ab bin Malik yang tak ikut tabuk-pun tentulah akan mampu untuk menjawab mahkamah Rasulullah. Sebagaimana yang dilakukan 80 orang sebelumnya. Namun ia tahu, bahwa Allah Maha Tahu segalanya. Bahwa kita bisa jadi akan berjuta alasan di dunia, dan orang-orang pun dengan ikhlas akan menerima. Namun kita pun terkadang lupa, Akankah kita bisa menjawab hal yang sama di akhirat? Ketika kita disodorkan, “bukankah sudah disampaikan dalam Al Maidah 54, bukankah sudah kami sampaikan dalam Ash Shaf, dalam ini dalam itu?”

Sungguh, melemah dalam perjalanan, adalah lebih baik daripada kalah dan berbalik arah

dan sungguh kekuatan dalam perjalanan, akan lebih disukai. Karena mukmin yang kuat, lebih disukai daripada mukmin yang lemah.

Ya Allah, jangan biarkan kami berkata, “ini Hidupku, ini pilihanku”

Padahal dalam setiap sholat kami, kami berkata, “inna sholaati wanusuki wa mahyaya, wamamaati lillahi robbil ‘alamin”

Ya Rabb, luaskanlah hati kami, luaskanlah cara pandang kami, agar ketika kami menunjuk menyalahkan dakwah, maka 4 jari ini tetap menunjuk kepada diri kami, berkata, “Bukankah kita sendiri yang malas?”

Ya Rabb, jangan jadikan “pilihan untuk mundur dari perjalanan”, ada dalam lembar kehidupan kami. Bukakanlah pikiran dan jiwa kami, jauhkanlah syaithan dari kelemahan jiwa dari amal-amal keputusan kami. Jadikan agar kami merubah cara belajar kami, bukan merubah amanah dakwah kami. Jadikanlah agar kami tetap berkarya meski dalam keterbatasan jiwa.

Ya Rabb, kokohkanlah kami di jalan-Mu, jalan para Nabi, jalan para Syuhada dan Da'i-da'i yang ikhlas di jalan-Mu. Ya Rabb, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu, hingga akhir hayat kami.
Aamiin…

Sumber : http://hebadaragema4.multiply.com/

No comments:

Post a Comment