Thursday, January 31, 2013

Sistem Gagal Melindungi Wanita dan Anak-Anak!

[Al Islam 642] Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menetapkan tanggal 13 Januari sebagai Hari Nasional Darurat Kejahatan Seksual Anak. Hal ini dikarenakan Indonesia makin tidak ramah bagi wanita dan anak-anak. Kasus-kasus pencabulan terhadap anak-anak perempuan satu demi satu bermunculan. Di Pulo Gebang, Jaktim, seorang siswi SD berinisial RI dicabuli oleh ayah kandungnya sendiri dan akhirnya meninggal setelah terinfeksi penyakit gonorhae tertular dari si pelaku. Di Bogor, bocah perempuan usia lima tahun jadi korban kebejatan kakek lima puluh tahun tetangganya. Di Nganjuk, Jatim, seorang pria residivis berturut-turut mencabuli 6 orang bocah SD. Sementara di Tegal Jateng, pada 16 Januari seorang siswi SMP diperkosa ramai-ramai oleh tujuh teman lelakinya.
Makin Masif
Jumlah kejahatan seksual pada wanita dan anak-anak di tanah air setiap tahun meningkat. Komnas Perempuan mencatat dalam waktu 13 tahun terakhir kasus kekerasan seksual berjumlah 93.960 kasus dari total 400.939 kasus kekerasan yang dilaporkan. Artinya, setiap hari ada 20 perempuan menjadi korban kekerasan seksual (majalahdetik, 28 Januari – 3 Januari 203). Jumlah kasus beberapa tahun terakhir dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tahun
Jumlah kasus
2007
642
2008
764
2009
705
2010
926
2011
1.075
2012
1.591

Di tahun 2013 ini, Indonesia Police Watch (IPW) mencatat selama 25 hari pertama Januari ada 25 kasus perkosaan dan dua pencabulan yang dilaporkan ke kepolisian (Republika, 29/1). Angka itu diduga kuat hanya puncak gunung es. Jumlah yang sebenarnya bisa jauh lebih besar.
Kejahatan seksual yang ada selain meningkat jumlahnya juga makin masif dan brutal. Menurut Ketua presidium IPW Neta S Pane, dari kasus 2013, jumlah korban ada 29 orang, sementara pelakunya 45 orang. Itu menandakan tindak kejahatan seksual sudah bersifat makin masif dan makin brutal. Selain itu, kasus perkosaan juga makin parah. Sebagian besar korban masih belia. Dari 29 korban itu, 23 orang masih berusia dibawah 16 tahun, 6 orang berusia 17-30 tahun. Pelakunya, dari 45 pelaku, 32 orang berusia 14-39 tahun, 12 orang berusia 40-70 tahun dan 1 orang diatas 70 tahun. Sementara lokasinya, sebagian besar (21 kasus) terjadi di rumah korban dan 6 kasus di jalanan. (Republika, 29/1).
Kasus 2013 mengungkap, para pelaku kebanyakan adalah orang dekat korban atau setidaknya dikenal oleh korban. Dari 45 pelaku di 2013, delapan pelaku adalah tetangga korban, tujuh pelaku adalah keluarga atau kerabat korban, empat pelaku adalah teman korban. Barangkali yang paling mengerikan dan paling bejat dalam kasus ini pelakunya adalah ayah kandung korban (tiga pelaku) dan ayah tiri korban (dua pelaku).
Sistem yang Ada Gagal
Kejahatan seksual pada wanita dan anak disebabkan oleh banyak faktor. Rangsangan seksual di masyarakat ki`n hari makin bertambah. Materi-materi pornografi dan pornoaksi baik film, majalah, dan media porno lainnya begitu mudah diperoleh. Di internet, akses terhadap pornografi masih tetap mudah. Majalah-majalah erotis masih banyak beredar dan mudah diperoleh. Film-film porno juga begitu mudah beredar dari satu HP ke HP lainnya. Di sisi lain, banyak wanita yang mengumbar aurat dan sensualitas di tempat umum dengan pakaian seronok seperti rok mini, baju ketat, celana pendek, dsb. Kalaupun tidak memicu langsung, hal itu akan bisa memupuk nafsu seks, layaknya pupuk tanaman. Bila sensualitas dan erotisme diumbar begitu rupa melanda masyarakat, bagi orang yang punya iman apalagi imannya kuat, semua itu bisa dibendung. Tapi bagi orang yang imannya lemah, nyaris sirna atau bahkan tidak ada, ia akan mudah terjerumus dalam tindak kejahatan seksual. Celakanya sistem sekuler saat ini justru terus mengikis keimanan dan ketakwaan masyarakat secara sistematis.
Kondisi rumah tangga yang tidak harmonis makin memperburuk situasi. Sejumlah kasus kejahatan seksual pada anak diantaranya karena penolakan istri untuk melayani suaminya. Dengan alasan lelah bekerja seharian istri pun menghindar untuk melayani suaminya. Keadaan ini membuat sebagian suami yang lemah iman akhirnya melampiaskan dorongan seksualnya dengan cara-cara yang keji bahkan bisa dalam bentuk kejahatan seksual pada anak.
Isteri bekerja seringkali karena dipaksa oleh kemiskinan. Kemiskinan masih menghantui sekitar 29 juta warga negeri ini karena sistem sekuler kapitalisme gagal mendistribusikan kekayaan secara merata dan adil. Kekayaan justru dialirkan kepada kelompok kecil orang kaya.
Kekerasan seksual pada wanita dan anak-anak kian sulit dihentikan karena sanksi hukum yang ada marih ringan dan tidak memberi efek jera. Dalam sistem hukum yang ada selain ancaman hukumannya masih ringan, masih ditambah pilihan hukuman minimal dan maksimal. Jika hukum tidak memberi efek jera, padahal hukum seharusnya menjadi palang pintu terakhir memberantas kejahatan, maka bencana kejahatan termasuk kejahatan seksual akan terus melanda masyarakat.
Terakhir tapi yang amat menentukan adalah faktor kian pudarnya ketakwaan masyarakat kepada Allah SWT. Padahal ketakwaan adalah rem yang paling efektif bagi individu untuk tercegah dari perbuatan keji dan mungkar. Namun di alam sekuler demokrasi dan liberal seperti sekarang ketakwaan dianggap tidak penting bahkan agama disingkirkan dari kehidupan. Nafas ini menghiasi semua struktur sistem sekuler demokrasi saat ini. Karena itu terus meningkatnya kejahatan seksual pada wanita dan anak-anak ini adalah bukti gagalnya sistem sekuler melindungi wanta dan anak-anak. Jadi ini sebenarnya adalah masalah sistem.
Terapi Islam
Berbeda dengan demokrasi dan liberalisme yang meminggirkan ketakwaan, Islam justru menjadikan iman dan takwa sebagai pondasi kehidupan masyarakat. Takwa-lah yang membuat seorang muslim akan sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah meskipun berat, dan akan berusaha keras meninggalkan perbuatan keji dan mungkar meski syahwatnya bergejolak. Mereka yang jatuh dalam perbuatah keji seperti pemerkosaan dan perzinaan adalah orang-orang yang sudah menggadaikan iman dan takwanya. Nabi saw. bersabda:
« لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ … »
“Seseorang tidak akan berzina jika saat melakukannya dia mukmin …” (HR. Muttafaq ‘Alayh)

Sebaliknya siapa saja yang masih berpegang pada ketakwaannya akan dapat menghindari perbuatan maksiat seperti apapun meski peluang untuk melakukannya terbuka lebar. Orang-orang seperti ini akan mendapatkan posisi yang mulia di sisi Allah kelak di akhirat. Nabi saw. bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّه… وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْشِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ
Tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungannya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …seseorang yang diajak berzina oleh perempuan yang cantik dan kaya tapi dia menolak dan mengatakan; ‘sesungguhnya aku takut kepada Allah’ (HR. Muslim).
Masyarakat juga akan dibentuk dan dijaga dengan syariat Islam agar menjaga ketakwaan secara komunal dan menyeluruh. Penguasa yakni khalifah tidak akan segan-segan memberikan sanksi bagi pelaku, pembuat dan pengedar pornografi meski dengan dalih seni sekalipun.
Kaum muslimah dengan penuh kesadaran akan mengenakan kerudung dan jilbab manakala keluar dari rumah mereka karena tahu itu adalah perintah Allah SWT. yang akan membawa mereka ke dalam kebaikan. Mereka juga akan menjaga kehormatan dan kesucian diri, tidak mengumbar sensualitas dan erotisme, menjauhkan masyarakat dari rangsangan seksual.
Istri yang bertakwa juga akan mengutamakan aktifitas mereka di rumah tangga seperti melayani suami dengan sebaik-baiknya. Termasuk tidak akan menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan biologis. Mereka tahu hal itu adalah kewajiban sedangkan menolaknya akan mendatangkan laknat dari Allah SWT.
Secara ekonomi, penerapan Sitem Ekonomi Islam akan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok (papan,pangan dan sandang) serta kebutuhan dasr (pendidikan, kesehatan dan keamanan) bagi seluruh rakyat. Setiap orang juga akan dijamin kesempatannya untuk bisa berkarya dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan terisiernya. Dengan Sistem Ekonomi Islam, kekayaan akan terdistribusi secara merata dan adil, sehingga kesejahteraan akan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat.
Jika dengan semua itu masih ada orang melakukan kejahatan seksual,maka palng pntu terakhir untuk melindungi masyrakat adalah menerapkan sanksi pidana sesuai hukum Allah dalam hal itu. Dalam Islam, pelaku perkosaan akan diganjar hukuman layaknya pezina. Bila belum menikah maka akan dikenakan seratus kali jilid (QS an-Nur [24]: 2). Sedangkan bila telah menikah maka akan dirajam hingga mati. Imam an-Nasa’i meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi saw. menjilid seorang pria yang berzina kemudian Beliau mendapat kabar bahwa pria itu telah menikah (muhshan) maka Nabi saw. memerintahkan untuk merajamnya hingga mati. Pelaksanaan hukuman itu harus dilakukan dihadapan khalayak (QS an-Nur [24]: 2). Tentu saja korban tidak termasuk yang mendapat sanksi karena statusnya sebagai korban yang teraniaya. Hukuman yang keras ini akan melindungi kaum wanita serta memberikan rasa keadilan bagi korban.
Wahai kaum Muslimin!
Sistem sekuler kapitalisme demokrasi telah nyata gagal melindungi wanita dan anak-anak dan menjaga martabat mereka. Karena itu tidak layak terus dipertahankan dan dibela, sebaiknya harus segera ditinggalkan dan dicampakkan. Hanya syariah Islam dalam bingkai al-Khilafah yang bisa menjamin perlindungan terhadap wanita, anak-anak dan semua orang, sekaligus menjaga martabat dan kemuliaan mereka. Karenanya harus segera kita ambil dan terapkan. Selain demi kebaikan kita dan semua manusia, hal itu sekaligus merupakan tuntutan keimanan kita. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []


Memetik Hikmah Dari Musibah

[Al-Islam edisi 641, 25 Januari 2013 – 13 Rabiul Awal 1434]
Musibah banjir terparah di negeri ini adalah banjir di ibukota Jakarta. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), musibah banjir di Jakarta telah menelan korban meninggal 15 orang. Jumlah orang yang mengungsi mencapai hampir 50 ribu orang dan kerugian materi mencapai triliunan (lihat, kompas.com, 21/1).
Untuk itu semua pihak, yang terkena musibah dan yang tidak, hendaknya merenungkan tuntunan Islam dalam menyikapi musibah, sehingga musibah bisa disikapi dengan benar dan dipetik hikmahnya demi kebaikan dan perbaikan ke depan.
Iman dan Ridho terhadap Qadha’ Allah
Kita wajib beriman bahwa musibah apa pun termasuk musibah banjir sudah ditetapkan Allah SWT. Kita pun wajib menerima ketentuan Allah ini dengan lapang dada (ridha). Allah SWT berfirman:
]مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [
Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (TQS al-Hadid [57] : 22)
Sikap lapang dada dan ridha akan mendatangkan kekuatan ruhiyah yang besar dalam menghadapi musibah itu. Juga bisa memberikan suasana psikologis yang akan meringankan dampak musibah itu dan sangat membantu dalam upaya penyelesaiannya.
Bersabar, Banyak Berdoa dan Berdzikir
Sebagai qadha’, musibah itu tak terhindarkan sehingga bagaimanapun juga harus dihadapi. Untuk itu, sikap sabar itu harus dipupuk sebab Allah memang akan menguji hamba-Nya dengan musibah; dan bagi orang yang sabar menghadapinya Allah berikan kabar gembira.
]… وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ[
Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn”.Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS al-Baqarah [2] : 155-157)
Rasul saw mengajarkan agar kita banyak istirja’ (mengembalikan segalanya kepada Allah) dan berdoa. Rasul saw bersabda:
«مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا»
Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu ia mengatakan, “Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn –sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali-, ya Allah berilah pahala kepadaku dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya”, kecuali Allah memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik untuknya (HR Muslim, Ahmad dan Ibn Majah)
Dalam kondisi itu hendaknya juga banyak berdzikir. Dzikir akan dapat menenteramkan hati orang yang sedang gelisah atau stress. Dzikir ibarat air es yang dapat mendinginkan tenggorokan di tengah terik cuaca panas. Allah berfirman (artinya): “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (TQS ar-Ra’du [13] : 28).
Mengetahui Hikmah di Balik Musibah
Di balik musibah sebenarnya terkandung hikmah yang luar biasa. Sabda Rasul saw di atas menyatakan, jika musibah datang dihadapi dengan istirja’, doa dan sabar, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, di dunia dan atau di akhirat.
Bukan hanya itu, Allah juga menjanjikan ampunan. Rasul saw bersabda:
«مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً»
Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah tinggikan dia satu derajat atau Allah hapuskan darinya satu kesalahan. (HR Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad)
Bahkan di antara musibah itu ada yang Allah sediakan pahala syahid. Rasul saw bersabda:
«الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
Orang-orang yang syahid itu ada lima golongan: orang yang (mati karena) wabah -tha’un-, penyakit perut (disentri, kolera, dsb), tenggelam, tertimpa tembok/bangunan, dan syahid di jalan Allah. (HR Bukhari dan Muslim)
Muslim yang memahami hikmah atau rahasia di balik musibah itu, dilandasi dengan iman, disertai sikap ridha terhadap qadha’ dan sabar menghadapinya, maka ia akan memiliki ketangguhan mental yang luar biasa. Dengan semua itu, niscaya setelah musibah berlalu, semuanya berubah menjadi kebaikan.
Bertaubat dan Ikhtiar Melakukan Perbaikan
Musibah yang menimpa manusia tiada lain adalah akibat dosa mereka. Allah SWT berfirman:
]وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ[
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar. (TQS asy-Syura [42] : 30)
Musibah yang menimpa juga bisa merupakan konsekuensi dari kemaksiatan dalam bentuk fasad atau kerusakan yang diperbuat oleh manusia di muka bumi (Lihat, QS ar-Rum [30]: 41).
Karena itu, yang pertama harus dilakukan adalah muhasabah, merenungkan kemaksiatan atau kerusakan apa yang sudah diperbuat lalu bertaubat dengan taubatan nashuha. Yaitu menyesalinya dan mohon ampunan; berhenti tidak lagi melakukannya; dan bertekad kuat tidak akan mengulanginya lagi di masa datang serta diiringi dengan melakukan perbaikan baik terkait dengan sesama atau terhadap kerusakan yang ditimbulkan. Begitu pun dalam musibah banjir belakangan ini.
Banjir terjadi ketika neraca air permukaan positif. Neraca air ditentukan empat faktor: curah hujan, air limpahan dari wilayah sekitar, air yang diserap tanah dan air yang dapat dibuang atau dilimpahkan keluar. Dari semua itu, hanya curah hujan yang tidak bisa dipengaruhi dan diintervensi oleh manusia.
Jumlah air yang terserap tanah tergantung jenis tanah dan vegetasi (tumbuhan) di atasnya. Limpahan air dari wilayah sekitar sangat dipengaruhi oleh jumlah air yang terserap tanah di wilayah sekitar itu. Makin banyak vegetasi, makin tinggi daya serapnya. Makin luas wilayah resapan dan terbuka hijau, akan makin besar jumlah air yang tertampung dan terserap tanah. Menggunduli hutan, mengeringkan rawa dan situ atau mengubah fungsinya secara drastis, dan makin luas permukaan tanah yang ditutup beton dan aspal, berarti merencanakan bencana. Itulah yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya.
Dalam kurun waktu lima tahun, 56 situ di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi telah menghilang. Yang tersisa mengalami pendangkalan dan kerusakan parah karena diabaikan. Luas total situ di Jabodatabek berkurang drastis dari 2.337,10 hektare untuk total 240 situ, sekarang menjadi hanya 1.462,78 hektare untuk 184 situ.
Laju pembangunan yang tak terkendali menyebabkan hilangnya daerah dan fungsi resapan air di Jakarta dan kawasan sekitarnya terutama Puncak. Di Jakarta daerah resapan tak sampai 10%, sangat jauh dari angka minimal 30% yang disyaratkan, semuanya tergusur oleh pembangunan. Sedangkan di Puncak, kehilangan fungsi resapan itu hingga 50 persen jika dibandingkan kondisi 15 tahun lalu. (lihat, tempo.co.id, 18/1)
Sedangkan limpahan air masuk dan keluar, maka itu dapat dikelola dengan bendungan, tanggul, kanal, dan pompa air. Sayangnya menurut BNPB, kemampuan Kali Ciliwung hilir, Angke, Pesanggrahan, Krukut dan sungai lainnya hanya mampu mengalirkan kurang dari 30% air yang ada. Hal itu karena pendangkalan, penyempitan terdesak oleh pemukiman di bantaran sungai dan karena tertutup sampah.
Masalah Banjir: Tak Hanya Teknis tapi Sistemis dan Ideologis
Banjir yang selalu terjadi, berulang, dan makin parah, bukti bahwa itu bukan masalah teknis belaka, tetapi persoalan sistemik. Juga bukan sekadar masalah sistem teknis, di mana banjjir itu bisa diselesaikan dengan bendungan baru, pompa baru, kanal baru, dll.
Lebih dari itu, banjir merupakan masalah sistemis ideologis. Sebab masalahnya juga menyangkut tata ruang yang tidak dipatuhi, kemiskinan yang mendorong orang menempati bantaran sungai, keserakahan yang membuat daerah hulu digunduli, daerah resapan ‘ditanami’ gedung dan mall demi pendapatan daerah dan memuaskan nafsu kapitalis, sistem anggaran yang tidak adaptable untuk atasi bencana, pejabat dan petugas yang tidak kompeten dan abai mengadakan dan mengawasi infrastruktur, penguasa dan politisi yang lalai mengurusi dan menjamin kemaslahatan rakyat, dsb. Semuanya itu saling terkait dan berhulu pada ide mendasar bahwa semua itu diserahkan kepada mekanisme pasar dan proses demokratis. Dengan kata lain masalah banjir itu adalah masalah sistem dan ideologi yaitu sekulerisme kapitalisme demokrasi.
Dengan demikian, kemaksiyatan yang menyebabkan musibah banjir itu bukan hanya kemaksiyatan individual tetapi juga kemaksiyatan kolektif pada tingkat masyarakat; juga tak sekadar kemaksiyatan teknis tetapi juga kemaksiyatan sistemis idelogis. Karena itu, taubat dalam masalah banjir, tentu tidak cukup pada tingkat individu, tetapi juga harus taubat secara kolektif pada tingkat masyarakat. Ikhtiar yang harus dilakukan juga tidak bisa hanya sebatas teknis, melainkan juga pada tataran sistemis ideologis. Taubat dan ikhtiar itu harus disempurnakan dengan meninggalkan sistem ideologi kapitalisme demokrasi dan menggantinya dengan sistem ideologi Islam, dan itu hanya bisa diimplementasikan dalam bingkai Khilafah. Inilah bentuk taubatan nashuha dan ikhtiar sempurna yang harus dilakukan sekaligus upaya tuntas mengatasi masalah banjir. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []


Friday, January 25, 2013

11 Nasehat Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Kepada Pengemban Dakwah

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang âlim allâmah (berilmu dan sangat luas keilmuannya). seorang mujtahid mutlak abad ini. Beliau adalah pendiri Hizbut Tahrir. Nama lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim bin Mushthafa bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Nasab beliau bernisbat kepada kabilah Bani Nabhan, salah satu kabilah Arab Baduwi di Palestina yang mendiami kampung Ijzim, distrik Shafad, termasuk wilayah kota Hayfa di Utara Palestina.

Beliau memberikan 11 nasehat Kepada Pengemban Dakwah agar selalu istiqomah dan istimror di jalan dakwah ini :

1. Ketahuilah, kaum muslim tidak pernah mundur dari posisinya sebagai pemimpin dunia selama berpegang teguh kepada agamanya.

2. Patut diperhatikan dengan seksama bahwa usaha mengemban qiyadah fikriyah Islam adalah dalam rangka membangkitkan kaum muslim.

3. Dalam mengembangkan dakwah Islam hendaknya kita berpegang kepada satu prinsip, yaitu menyebarluaskannya sebagai qiyadah fikriyah bagi seluruh dunia.

4. Mengemban dakwah saat ini hendaknya dikembangkan dengan metode yang sama dengan masa sebelumnya, yakni dengan menjadikan metode dakwah rasul sebagai suri teladan.

5. Mengemban dakwah membutuhkan sikap terus terang dan keberanian, kekuatan dan pemikiran.

6. Mengemban dakwah Islam harus meletakkan kedaulatan secara mutlak hanya untuk mabda’ Islam.

7. Mengemban dakwah Islam hendaknya dilakukan secara serius. Seorang pengemban dakwah tidak akan mengambil jalan kompromi.

8. Mengemban dakwah mengharuskan setiap langkah memiliki tujuan dan mengharuskan pengemban dakwah senantiasa memperhatikan tujuan itu.

9. Pengemban dakwah hendaknya mengemban dakwah Islam dengan menyajikan peraturan-peraturan yang dapat memecahkan problematika manusia.

10.Ketahulah dan pahamilah: pengemban dakwah tidak akan mampu memikul tanggung jawab dan kewajiban-kewajibannya tanpa menanamkan pada dirinya cita-cita untuk mengarah kepada jalan kesempurnaan, selalu mengkaji dan mencari kebenaran.

11.Para pengemban dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu yang dibebankan Allah dipundak mereka. Hendaknya mereka melakukannya dengan gembira dan mengharapkan ridha Allah.

Semoga nasehat dan wasiat kedua Imam ini semakin membakar ghirah juang kita agar khilafah segera tegak dengan ijinNya. sebagaimana Imam Hasan Al-Banna berkata ”Mengembalikan eksistensi daulah Islam kepada umat Islam dengan membebaskan negaranya, menghidupkan keagungannya, mendekatkan peradabannya, menghimpun kalimatnya hingga semua itu mengantarkan kembalinya khilafah islamiyah yang telah hilang dan persatuan yang dicita-citakan. dan juga perkataan dari Syaikh Taqiyudin an nabhani bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. 1398 H/1977 M) dalam kitab-kitabnya, misalnya kitab Al-Khilafah (hal. 1), kitab Muqaddimah Ad-Dustur (bab Khilafah) hal. 128, dan kitab Asy-Syakshiyyah Al-Islamiyah, Juz II hal. 9 .


Untitled (Lagi)

Aku ingin jatuh cinta, lagi
PadaMu yang menghidupkan semesta
Dari kematiannya

Aku ingin jatuh cinta, lagi
Padanya yang Kau utus
Sebagai rahmat bagi semesta

Aku ingin jatuh cinta, lagi
Dengan panasnya api perjuangan
Dengan tajamnya kerikil dakwah
Dengan beratnya medan pertempuran

Ya Rabb, tanpaMu hati ini tiada makna
Hanya seperti kabut sebelum datang cahaya
Lalu Engkau hidupkan ia
Dengan cahaya mabda

Mabda itu
Hanya dengannya raga ini kan terus berlari
Hanya dengannya setiap jiwa yang mati
Kan terus hidup di sisiMu

Tak peduli sejauh apapun aku berlari
Tak mengapa seberapapun luka ini menyayat
Bahkan jikapun aku memiliki seribu nyawa
Dan harus merasa sakit setiap kali ia tercabut satu per satu

Asal bisa berada di sisiMu
Menjadi yang istimewa
Bagiku, itu lebih dari cukup

Khairunnisa, January 23rd 06.30 AM.

MANUAL GUIDE

Gak terasa udah di penghujung bulan Januari. Perasaan baru aja kemarin UAS dan mulai libur. Eh, sekarang udah mulai nyusun Kartu Rencana Studi (KRS) semester baru. Sebenarnya mulai hari Senin, tapi ternyata ditunda dan itu menyebabkan seisi fakultas mengeluh kecewa, soalnya udah pada mudik dan balik lagi -maksudnya biar cepat-cepat pulang lagi ke rumah- eh harus ditunda sampai hari Rabu. Akhirnya, semua pada menggerutu. Tiap detik mantengin SIAM (Sistem Informasi Akademik Mahasiswa) berharap ada keajaiban KRS-nya dibuka sama bagian pengajaran. Ternyata oh ternyata, sayang sejuta sayang, yang ada malah pengumuman, “KRS FIB ditunda sampai hari Rabu, 23 Januari 2013”. Makin galau binti nelangsa aja mahasiswa di fakultas saya.

Nah, kalo di atas itu menimpa mahasiswa secara umum. Tapi, ada lagi nih yang bikin tambah galau. Terutama buat maba (mahasiswa baru). Gimana gak galau? Sampai detik mereka mau nyusun KRS, ternyata buku Panduan Akademik yang isinya mata kuliah yang harus diambil belum ada. Dan ini sudah terjadi sejak tahun lalu. Tahun lalu sampai ada mahasiswi semester dua yang ngambil mata kuliah semester 4 hanya gara-gara gak tau mata kuliah buat semester 2 apa aja. Mereka jadi asing sendiri di tengah senior-senior yang wajahnya udah kadaluarsa *ups*

Hal serupa juga terjadi dengan angkatan tahun ini. Mereka bingung sama mata kuliah yang harus diambil apa aja. Bisa jadi susunannya berbeda dengan yang tahun lalu apalagi yang dua tahun lalu. Parahnya, buku pedomannya belum ada sampai sekarang. Dan dosen pembimbing akademik pun hanya mengarahkan untuk langsung nyusun sendiri KRSnya. Lalu, apa yang akan terjadi dengan maba-maba itu? Bisa dipastikan, mereka akan kebingungan dan galau dengan mata kuliah mereka semester ini.

Oke, kalo masalah buku Pedoman Akademik tadi kita bawa ke lingkup yang lebih besar, contohnya kehidupan maka kita akan menemukan bahwa dalam hidup kita butuh yang namanya pedoman hidup atau bahasa kerennya manual guide. Nah, kalo kita yang Muslim nih pasti udah sering dengar statement yang mengatakan bahwa Islam adalah jalan hidup. Dan Allah swt mengutus Rasulullah saw. dengan membawa Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Kalo seorang Muslim ditanya tentang ini mereka pasti jawab sepatu, sepakat bin setuju. Sampai situ, deal.
Tapi, fakta di lapangan sangat berbeda dengan statement yang ada di atas. Hari ini, kaum Muslimin di seluruh dunia pada galau. Kaum Muslimin udah kayak orang tersesat, bingung harus kemana membawa arah hidupnya *ceilee puitis amat* Padahal, katanya Islam adalah jalan hidup, Al Qur’an adalah pedoman hidup, tapi kok masih galau? Wah, berarti ada yang gak beres dengan kaum Muslimin saat ini. Gak di Indonesia, gak di luar negeri sama aja. Krisis multidimensi menimpa kaum Muslimin dan mengakibatkan penderitaan luar biasa pada mereka. Kemiskinan, degradasi moral, korupsi, dsb. Kenapa kok bisa kayak gitu? Mau Tau Aja atau Mau Tau Banget? *istilah apapula itu?*

Oke, let’s cekidot.

Saat ini kaum Muslimin masih menjadikan Islam sebagai akidah. Oke, itu bener karena mereka masih percaya pada keesaan Allah dan kerasulan Muhammad saw meskipun ada juga tuh yang nyerempet kesana-kemari tapi bukan mereka yang akan dibahas. Okelah kaum Muslimin juga masih membaca al Qur’an sampai ada lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) segala. Tapi, pada faktanya, dalam menjalani kehidupannya kaum Muslimin tidak menjadikan apa yang dibawa oleh Rasulullah yakni Islam yang ajarannya terpancar dalam al Qur’an sebagai pedoman hidup mereka. Udah tau ada buku pedoman, tapi gak dipake. Wajar kan kalo jadi galau akhirnya? Apa karena mereka tidak tahu? Mereka tahu, tapi parahnya saat ini kaum Muslimin gak pake buku pedoman yang dihadiahkan Allah kepada mereka, yakni Al Qur’an. Kaum Muslimin malah ridho pake buku pedoman dari orang asing, yakni Barat dan antek-anteknya. Analoginya sederhana, mau mengoperasikan laptop tapi pake buku pedoman mesin cuci. Apa nyambung kalo kayak gitu? Pastinya gak. Allah sudah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk.

Allah swt berfirman:
Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (TQS. Al Baqarah [2] : 2)

Tetapi saat ini kaum Muslimin justru bangga dengan hukum buatan manusia. Kaum Muslimin masih cinta buta dengan Demokrasi yang jelas-jelas menjadikan kedaulatan ada di tangan manusia. Manusia bebas membuat aturan kehidupan sendiri. Padahal, sebenarnya buku panduannya sudah ada. Jadi, wajar, sekaffah-kaffahnya Demokrasi diterapkan tetap aja cacat di sana-sini adalah sebuah keniscayaan. Mau dibenerin kayak apa juga gak bakalan bisa menyejahterakan. Karena Demokrasi hanyalah tameng dari sistem yang sebenarnya yakni Kapitalisme-Sekularisme yang mengukur segala sesuatu dengan materi dan kemanfaatan semata.

Padahal, Allah swt sudah memperingatkan dalam firmanNya :
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidah [5] : 50)
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS. Ar Ruum [30] : 41)
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (TQS. Thahaa [20] : 124)

Dan Allah juga sudah menjanjikan kepada kita jika kita menjadikan aturanNya sebagai pedoman hidup kita.
“Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya Kami bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka malah mendustakan maka Kami pun menyiksa mereka disebabkan apa yang dulunya mereka upayakan.” (Al-A’raf: 96)

Tapi sob, masalahnya pedoman itu (Al Qur’an) gak bisa diterapkan tanpa sebuah institusi besar bernama negara karena Al Qur’an itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Trus, ada gak negaranya? Ada dong. Namanya Daulah Khilafah Islamiyyah. Hanya Khilafah yang pasti akan menerapkan hukum Allah secara sempurna. Sayangnya, sekarang Khilafah sedang tidak ada di tengah-tengah kaum Muslimin sehingga kegalauan mereka bertambah. Tapi, tenang aja karena Allah dan RasulNya sudah menjanjikan Khilafah bakalan tegak lagi.

Allah swt berfirman :
“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (TQS. An Nuur [24] : 55)

Rasulullah saw bersabda :
“Kenabian akan terjadi di tengah-tengah kalian dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika menghendaki untuk mencabut. Kemudian akan kekuasaan yang menggigit (zhalim) dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika Allah berkehendak mencabut. Kemudian akan kekuasaan diktator dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau diam”. (H.R. Ahmad)

Nah, sob daripada loe pade galau mikirin hidup yang udah semakin edan ini, mending balik deh ke Islam. Kaji Islam lebih dalam, sampaikan dan perjuangkan hingga ia diterapkan dalam sendi-sendi kehidupan. Yosh! Semangat 1453! [Enlighter1453]


Khairunnisa, January 22th 2013. 20.57

Tuesday, January 22, 2013

Meneladani Rasul saw Tidak Setengah-Setengah

[Al Islam 640] Suasana peringatan maulid Nabi saw tahun ini kembali menyapa kita. Tentu sangat layak kita merenungkan kembali keteladanan Nabi saw yang paripurna baik sebagai pribadi, pemimpin keluarga maupun pemimpin negara. Juga penting kita renungkan sudah sejauh mana kita meneladani Rasul saw dan benarkah kita sudah memuliakan Beliau atau sebaliknya, tanpa kita sadari atau karena terselewengkan, yang terjadi justru pengkerdilan terhadap teladan Rasul saw, bukannya memuliakan dan mengagungkan (takrîman wa ta’zhîman) Beliau saw.
Meneladani Tidak Setengah-Setengah
Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya kepada kita semua:
]لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا[
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (TQS al-Ahzab [33]: 21)

Ayat ini memerintahkan kita semua untuk meneladani Rasul saw. Yakni meneladani seluruh teladan yang ada pada diri Rasul saw dalam semua aspek. Kita tidak boleh membatasi peneladanan kita hanya pada aspek-aspek pribadi Beliau saw saja. Kita tidak boleh meneladani Nabi saw itu terbatas pada aspek-aspek tertentu, misalkan aspek akhlak, aspek pribadi, dll, seraya mengabaikan teladan yang beliau berikan dalam aspek-aspek lainnya, khususnya aspek syariah atau hukum dan sistem. Sebab jika pembatasan itu dilakukan, maka yang demikian itu adalah bentuk pengkerdilan terhadap teladan Rasulullah saw., dan bukan memuliakan dan mengagungkan (takrîman wa ta’zhîman) Beliau saw.
Kita tidak boleh terjebak, baik disadari atau tidak, pada peneladanan Rasul saw menurut cara pandang sekulerisme. Sekulerisme memisahkan agama dari negara, kehidupan, urusan publik dan pengaturan urusan masyarakat. Sekulerisme membatasi agama hanya berperan dalam aspek ibadah ritual, moral dan individual dan keluarga (nikah, talak, rujuk dan warisan).
Kita tidak boleh terjebak meneladani Nabi saw dengan kerangka sekulerisme itu. Karena itu, kita tidak boleh hanya meneladani Nabi saw pada aspek-aspek personal, moral dan ibadah mahdhah, dan sejenisnya, sembari mengabaikan teladan beliau dalam menerapkan hukum-hukum syariah, menyelesaikan berbagai perkara dan perselisihan yang terjadi di masyarakat dengan hukum Islam dan menegakkan kekuasaan dan sistem yang menerapkan syariah itu.
Allah SWT memerintahkan agar kita mengambil apa saja Nabi saw bawa dan meninggalkan apa saja yang beliau larang. Allah SWT berfirman:
] … وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (TQS al-Hasyr [59]: 7)

Maknanya adalah apapun yang beliau perintahkan maka lakukanlah dan apapun yang beliau larang maka jauhilah. Sesungguhnya tidak lain beliau memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan (Imam Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhîm).
Kata (apa saja) dalam ayat ini merupakan lafazh umum, jadi mencakup apa saja yang beliau perintahkan dan apa saja yang beliau larang. Jadi ayat ini memerintahkan kita untuk mengambil semua perintah dan larangan yang beliau bawa dan menjadikannya sebagai pedoman. Perintah-perintah dan larangan-larangan yang beliau bawa itu tidak lain adalah syariah islamiyah dalam segala aspeknya, bukan hanya aspek pribadi, akhlak, ibadah, saja, akan tetapi juga mencakup syariah Islam tentang pemeritahan, politik dalam dan luar negeri, pendidikan, sanksi dan pidana, perekonomian, sosial dan aspek-aspek pengaturan berbagai urusan dan penyelesaian berbagai perkara dan perselisihan di masyarakat. Karena itu, ayat ini sesungguhnya memerintahkan kita untuk mengambil syariah islamiyah secara keseluruhan, menjadikannya sebagai pedoman dan menerapkannya dalam kehidupan kita.
Peringatan maulid Nabi saw sendiri bukanlah memperingati kelahiran Muhammad saw sebagai manusia. Sebab sebagai manusia, beliau sama saja dengan semua manusia lainnya. Peringatan kelahiran beliau dilakukan tentu karena posisi beliau yang sangat istimewa yakni sebagai rasul pembawa risalah/syariah Allah SWT. Allah menegaskan:
] قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ [
Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu…” (TQS Fushshilat [41]: 6).

Nabi Muhammad saw diutus sebagai rasul untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman termasuk kita semua. Allah menegaskan bahwa rasul diutus tidak lain adalah untuk ditaati. Allah SWT berfirman:
] وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ …[
Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah… (TQS an-Nisa’ [4]: 64)

Jadi menaati rasul itu telah diwajibkan (difardhukan) atas orang-orang yang kepada mereka rasul diutus. Rasul saw diutus kepada kita semua, maka ayat ini mewajibkan kita semua untuk menaati Rasul saw. Menaati Rasul saw tiada lain adalah dengan menaati risalah beliau saw, menaati syariah islamiyah yang beliau bawa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakannya.

Meneladani Rasul saw: Tinggalkan Demokrasi
Allah SWT berfirman:
]فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS an-Nisa’ [4]: 65)

Makna “Falâ tidak seperti yang mereka klaim bahwa mereka beriman kepadamu tetapi berhukum kepada thaghut dan berpaling darimu ketika diseru kepadamu. “Demi Rabbmu” ya Muhammad “mereka tidak beriman” yakni tidak membenarkan Aku, engkau dan apa yang Aku turunkan kepadamu “sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam semua perkara yang mereka perselisihkan” (Imam ath-Thabari, Tafsîr ath-Thabarî).
Jadi ayat ini menegaskan bahwa seseorang tidak beriman sampai menjadikan Rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara. Itu artinya pengakuan keimanan seseorang harus dibuktikan kebenarannya dengan menjadikan Rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara yang terjadi. Menjadikan Rasul saw sebagai hakim dalam semua perkara pada saat ini tidak lain adalah dengan menjadikan hukum-hukum yang beliau bawa, yaitu syariah islamiyah, sebagai hukum untuk memutuskan dan mengatur semua perkara yang terjadi di tengah masyarakat.
Dengan demikian ayat ini memerintahkan kita untuk menjadikan kedaulatan di tangan syara’ saja. Itu artinya kedaulatan tidak boleh dijadikan sebagai milik selain syara’. Kedaulatan tidak boleh diberikan kepada manusia, rakyat atau pun wakil rakyat. Menjadikan kedaulatan di tangan rakyat adalah substansi demokrasi. Tidak ada demorkasi tanpa kedaulatan di tangan rakyat. Dan ini jelas-jelas bertentangan dengan perintah ayat di atas. Karena itu, jika kita mengaku beriman, maka kita harus membuktikan kebenaran pengakuan keimanan kita itu dengan jalan meninggalkan dan mencampakkan demokrasi. Selama demokrasi dengan kedaulatan rakyatnya masih terus diambil, maka sesuai ayat di atas, selama itu pula keimanan seseorang itu terus diragukan. Tentu saja kita tidak ingin syahadat kita dan keimanan kita diragukan oleh Allah SWT dan Rasul saw kelak di akhirat.
Selain itu, realita berbagai problem dan masalah yang terus mendera kita, tidak lain sebab pangkalnya adalah sistem demokrasi itu sendiri. Para penguasa dan politisi yang korup, tidak amanah, bersekongkol dengan para cukong pemilik modal dengan mengabaikan kepentingan dan kemaslahatan rakyat, sebab utamanya adalah sistem politik demokrasi dengan biaya tingginya. Kebingungan dan lemahnya pemberantasan korupsi, hukuman koruptor yang begitu ringan tidak memberi efek jera seperti vonis untuk Angie dan koruptor lainnya, juga disebabkan karena hukum yang dibuat manusia melalui kedaulatan rakyat.

Wahai Kaum Muslimin
Tentu kita semua memiliki kecintaan yang tinggi kepada Rasul saw. Tentu kita semua ingin mengikuti dan meneladani Rasul saw sebagai bukti kecintaan kita itu. Selama ini pun kita telah berusaha keras untuk meneladani Rasul saw dalam aspek ibadah, akhlak, aspek pribadi juga dalam masalah keluarga dan sebagai muamalah yang kita lakukan. Maka saatnya segera kita sempurnakan peneladanan kita itu dengan meneladani Rasul saw khususnya dalam aspek politik dalam dan luar negeri, pemerintahan, pidana dan sanksi, sosial, perekonomian, pendidikan dan berbagai urusan publik lainnya. Hal itu adalah dengan jalan segera menerapkan syariah islamiyah untuk mengatur semua urusan di masyarakat. Tentu saja hal itu hanya bisa kita realisasikan dalam bingkai sistem Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Itulah bukti hakiki kecintaan, penghormatan dan pengagungan kita kepada Rasul saw, sekaligus merupakan bukti kebenaran keimanan kita.
] فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ[
maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (TQS an-Nur [24]:63)


http://hizbut-tahrir.or.id/2013/01/16/meneladani-rasul-saw-tidak-setengah-setengah/
 

Sunday, January 20, 2013

NYEBUR GOT TERNYATA BUKAN MIMPI

Suasana ramah-tamah dan hangat menyelimuti Liqo’ Mahaliy hari ini. Setelah kemarin seharian disampaikan terkait konsep yang berkaitan dengan pembinaan dalam jamaah, agenda liqo’ mahaliy sekaligus upgrading liburan hari ini adalah acara ramah-tamah. Kemarin aku mendapatkan banyak pelajaran berharga. Dan pelajaran hari ini pun tak kalah berharga dari pelajaran kemarin.
Setelah selesai menyantap rujak buah bersama teman-teman sambil berfoto bersama, aku kemudian diajak bermain ke luar area masjid oleh anak musyrifahku.
“Mbak Ditri, ayo main di luar!,” kata Irda sambil menarik tanganku.
“Eh, mau main kemana mbak Ir?,” tanyaku penasaran dengan sebelah tanganku meraih tempat air minum dan sebelah lagi ditarik oleh Irda. Mau tidak mau, aku mengikuti ajakannya keluar. Irda lalu mencari sandalnya dan mulai memamerkannya.
“Mbak Ditri, sandalku baru lho,” katanya senang sambil memperlihatkan sandal berwarna pink. Dari dulu Irda sangat menyukai warna pink. Dia menyukai susu strawberry dan es krim strawberry pun karena warnanya pink.
“Dasar, anak kecil,” begitu pikirku. Namun, karena aku sangat menyukai anak kecil, aku selalu meladeni pembicaraan mereka.
Setelah mengambil sandal, kami pun keluar dari area masjid.
“Mbak Ditri, lihat! Airnya jalan!,” Seru Irda sambil asik melihat aliran air yang mengalir di selokan yang berukuran kira-kira setengah meter.
“Iya, deras ya mbak Ir?,” kataku pada Irda.
“Iya,” jawabnya senang.
“Hmm, kalo gitu, ayo kita main perahu-perahu. Nanti kita bikin perahu kertas trus kita hanyutin ke sini,” kataku pada Irda.
“Iya, ayo! Tapi pake kertas mbak Ditri aja ya,” kata Irda kemudian.
“Iya. Kalo gitu, tunggu sebentar ya, mbak Ditri mau ambil kertasnya dulu di dalam ya,” kataku pada Irda.
Aku pun masuk kembali ke dalam masjid dan mengambil bukuku yang sudah tipis karena sudah penuh coretan serta mengambil bolpen untuk menuliskan nama-nama yang akan kuhanyutkan bersama perahunya.
“Mbak Irda mau dibuatin perahu berapa?,” tanyaku.
“Banyak,” jawabnya.
“Banyak?”
“Iya. Nanti ada namanya mbak Irda, Ummi, Ayah, Dedek Hana, Dedek Hafiya, Umminya Hafiya, sama mbak-mbak juga. Nanti mbak Ditri juga ada namanya,” jawab Irda dengan gaya khas anak-anak yang ceria.
Aku mulai membuat perahu-perahu dari kertas dan satu per satu kutulisi nama yang disebutkan Irda.
“Wah, perahunya jalannya jauh mbak Ditri,” kata Irda senang.
“Iya, keren ya mbak Ir?,” Jawabku.
“Ayo, buatin lagi! Tuh, kertasnya masih banyak yang kosong kan?,” kata Irda.
Dan perahu terakhir yang kubuat kuselipkan sebuah nama yang ingin kuhanyutkan bersama perahu itu.
Setelah selesai membuatnya, aku melangkah ke pinggir selokan dan mulai menghanyutkan perahu itu.
“Bismillahirrahmaanirrahiim,” kataku dan Irda bersamaan.
Kemudian perahu itu mulai berjalan mengikuti aliran air selokan dan...
“Plung!,” sebuah suara benda tercebur di dalam selokan. Kupikir batu. Tetapi sejak tadi tidak ada batu di sekitar situ.
“Mbak Ir, apa itu yang jatuh?,” tanyaku pada Irda.
Irda lalu menjawab dengan polosnya, “Handphone”.
Handphone? Aku lalu merogoh kantung jaketku. Masya Allah, handphoneku tercebur. Tanpa berpikir aku langsung menceburkan kakiku ke dalam selokan yang dalamnya sekitar 30cm itu. Aku meraba-raba dengan kakiku, tidak ada tanda-tanda. Kupikir, handphone itu sudah terbawa arus. Tetapi, jika terbawa arus, bukannya handphone itu lumayan berat? Tapi, tidak ada tanda-tanda ia tersangkut diantara bebatuan di pinggir selokan. Dengan air yang keruh, mustahil bisa melihat ke bawah.
Beberapa saat kemudian, teman-teman mulai ramai berdatangan melihatku yang nyebur ke selokan.
“Ada apa Dit?,” tanya Ami.
“Hapeku jatuh, Mi,” jawabku.
Ami lalu ikut nyebur dan membantuku meraba-raba dibawah air.
“Udah mi, gak usah. Kayaknya udah hanyut deh,” kataku karena iba melihat Ami yang sudah basah seperti itu.
“Kayaknya masih ada, Dit. Gak mungkin hanyut. Coba dicari dulu,” jawab Ami.
“Iya mbak, Hapenya kan berat. Mungkin nyangkut. Mbak udah nyari ke sudut-sudut itu? Siapa tau aja nyangkut,” kata teman yang lain.
Untuk beberapa saat aku dan Ami menyusuri selokan sampai beberapa meter ke depan. Tapi, hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan handphone-ku. Ami sampai pergi lebih jauh segala. Dari belakang kudengar suara che Lyn yang berkata, “Handphonenya belum ketemu ya? Gak ada lagi yang bantuin nih?”
Dan saat berbalik ke belakang, kulihat beliau juga sudah ikut nyebur. Rasanya aku ingin menangis. Dan beberapa saat setelah beliau nyebur, beberapa teman yang lain jg ikut nyebur. Ada Nurmah, Lilis, Rani, Kholis dan mbak Indah. Aku tadinya sudah pasrah. Jika memang qadha, apalagi yang bisa kuperbuat? Menjaganya adalah kewajiban, tetapi jika ia hilang karena kelalaian bisa saja memang udah waktunya alias qadhanya hilang. Tetapi, melihat mereka yang begitu bersemangat mencari, terutama Ami, aku jadi semangat lagi. Setidaknya berusaha dulu. Selain yang nyebur, teman-teman yang lain juga ikut melihat dari atas jembatan.
“Teman-teman, pada pake sandal gak?,” tanya che Lyn.
Semua menggeleng.
“Tapi, pake kaos kaki kan?,” tanyaku.
Semua mengiyakan.
“Hati-hati pecahan kaca ya,” kata che Lyn.
Sekitar setengah jam mencari hasilnya tetap nihil.
“Mi, udah. Ayo, berhenti aja. Kasian kalian udah pada basah kuyup gini,” kataku pada Ami yang masih terus mencari.
“Coba cari dulu. Kayaknya gak hanyut. Hapemu lumayan berat kan?”
“Iya sih, tapi aku gak yakin masih ada. Soalnya selokan ini dalam. Arusnya juga lumayan deras. Udahlah, emang udah waktunya juga hilang”.
Kami memutuskan untuk menghentikan pencarian. Namun, aku sedikit kepikiran. Karena semua nomor penting ada disitu. Belum lagi aku harus memberitahu keluargaku, terutama Mama. Tetapi, aku berusaha mengikhlaskan. Toh ini juga dari Allah. Kalo Allah minta kembali kan wajar. Aku sudah lupa untuk menangis. Satu-satunya hal yang membuatku sedih adalah melihat teman-temanku juga ikut nyebur ke selokan yang kotor itu. Dan aku sadar, aku tidak pernah sendirian. Beginilah saling mencintai karena Allah dan itu hanya kutemukan di sini. Di jamaah ini. Dalam hati aku mengucap syukur tiada tara kepada Allah karena sudah mempertemukanku dengan teman-teman yang ikhlas seperti mereka.
“Coba dicari lagi mbak, mungkin nyangkut,” kata salah seorang teman lagi ketika kami sudah di tepi jembatan.
Aku lalu memasukkan tanganku ke dalam air dan meraba-raba kedalaman selokan itu.
“Tapi selokannya lumayan dalam. Bisa aja tadi emang pas melayang langsung kebawa arus,” kataku sambil meraba-raba di bawah permukaan air dengan tanganku.
“Iya, arusnya juga lumayan deras, Dit,” timpal mbak Indah yang juga masih meraba-raba di bawah permukaan air.
Dan tiba-tiba mbak Indah mengangkat tangannya lalu berseru, “Ketemu!”
Semua langsung berucap, “Alhamdulillah”. Akhirnya, handphonenya ketemu juga meski dengan keadaan basah kuyup dan layarnya berkelap-kelip. Ya, sepertinya memang dia harus masuk UGD. Entah bagian apa yang rusak selama ia tercebur tadi. Namun, dibalik semua itu aku bersyukur sekali. Hari ini aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.
Mungkin, selama ini aku masih sering melupakan hal-hal yang kecil. Atau bisa dikatakan mengabaikannya. Atau aku juga masih kurang percaya kepada teman-temanku padahal mereka kusebut sebagai teman bahkan sahabat. Hari ini Allah mengajarkanku untuk percaya dan lebih berhati-hati serta lebih peka meski terhadap hal kecil dan sepele.
Ya, aku harus lebih percaya lagi kepada mereka yang kuanggap teman seperjuangan. Meski aku awalnya tidak mudah percaya kepada orang lain. Tetapi, mereka semua ada. Dan tidak membiarkanku kesulitan menghadapi sesuatu sendiri. Mereka pun sama sekali tidak merasa terbebani bahkan mereka juga ingin agar aku meminta tolong kepada mereka. Karena semua berawal dari sebuah kepercayaan. Semoga menjadi pelajaran untukku ke depannya.
Minna, hontou ni gomen. Demo, kokoro kara hontou ni arigatou., anatatachi to isshoni iro iro na koto wo yatte iru, Allah swt ni itsumo kansyashiteru.

Special Thanks for my Heroines today, Amirah Puspadewi, M. Lyna, Baiq Indah R.D., Lilis Frinda, Rani Ferdian, Kholisatut Tahliyah dan Nurmah, uhibbukunna fillah ukhti ^_^

Khairunnisa, January 20th 2013. 01.58 PM. 


Masihkah Kau salahkan Dakwah?

Terkadang, dakwah akademis kita harus berhadapan dengan dakwah yang lain.disatu sisi kita memiliki tanggungjawab akademis untuk membahagiakan orang tua. namun disisi lain, ada amanah yang khusus Allah berikan kepada kita berat memang. tak ada yang ringan. terlebih bila deretan IP kita selama ini termasuk PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma) rasa ingin meningkatkan angka itu begitu kuat hingga terkadang mungkin kita melalaikan amanah2 kita yang lain. ikhwati fillah, begitu sering saya mendengar bahwa ada seseorang yang dengan alasan akademis memutuskan untuk berhenti dari dakwah karena beralasan ip/ipk yang turun. maka, apakah benar keterlibatan kita di dakwah menurunkan nilai ip/ipk kita? hanya pengecutlah yang mundur dengan alasan akademis, kenapa? karena mereka yang mundur juga jarang mendapatkan nilai ip/ipk diatas 3,5. justru terlalu sering saya mendapatkan kabar bahwa mereka yang dengan keikhlasan tinggi malah ber ip/ipk sangat memuaskan. maka, masih adakah alasan kita untuk mundur dari dakwah? tidakkah kita belajar dari kecerdasan seorang Ibrahim???yakinlah, bahwa yang menolong agama Allah pun akan Allah tolong....

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS: Muhammad:7)

Teringat sebuah cerita, ada seorang aktvis dakwah. Beliau, aktif, sangat aktif sekali, cukup salut pada beliau. Tak heran, jika ia menjadi salah seorang lumayan penting dalam kampus. Keberadaannya pun menjadi “rebutan” bagi wajihah-wajihah dakwah. Namun ia kemudian bermasalah dalam semesternya kali ini. Dan alangkah terkejutnya ketika ia berkata, ia ingin “berkonsentrasi kuliahnya”. Sebuah istilah lain untuk berkata, “ana ingin mundur”. Ini memang bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya pun sudah pernah terjadi seperti ini.

“Ana hanya ingin membahagiakan orang tua akh!”

sadarkah antum wa antuna, “apakah HANYA dengan IP kita bisa membahagiakan orang tua kita? Alangkah minim sekali standart itu?” terkadang kita begitu terlalu sempit membatasi semua standar kita. Atau jawaban-jawaban klise lain.

“Ana kekampus ini untuk kuliah akh!”
“Lha iya sama, ana juga kuliah, bukan jualan donat, atau jadi cleaning service”.
Ah seandainya IP kita yang bagus, semakin mendekatkan kita ke Jannah-Nya…

seandainya saja…

Lagi-lagi kasus ini terulang lagi, dan lagi-lagi keterbatasan dan keterpurukan IP, seringkali membuat kita menyalahkan aktivitas dakwah kita. Kita pun seolah menuding pada aktivitas dakwah yang seabrek, pada ini, pada itu, dan kita pun meminta pengurangan amanah, bahkan yang terburuk, kita mundur dari sebuah amal dakwah. Masya Allah…

Sambil berkelit kita berkata, “Ah, bukankah saya masih tetap berdakwah, meski dalam bentuk yang berbeda?”, tanpa mau sedikitpun kita tersadar, kita telah membuat sebuah kekuatan menjadi lemah karena salah satu tiangnya pergi. Tanpa sadar bahwa kita membuat tiang-tiang lain, kemudian menerima beban atap yang kita tinggalkan, padahal dalam sebuah kenyataan IP mereka lebih buruk daripada kita…

Allahu Akbar!! Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan menghilangkan sikap egois-egois kita.

Dakwah itu syamil, jangan dikotak-kotakkan dengan akademis, organisasi dan lain sebagainya

Ya Allah, jadikanlah kami malu kepada rasulMu, kepada Umar, sang khalifah tanpa istana karena untuk ummat-lah miliknya semuanya.

Jadikanlah kami malu kepada Mushab, selebritis Mekkah yang meninggalkan gemerlap dunianya untuk bergabung menjadi pemuda dakwah, yang di akhir Uhud, syahid dengan baju yang sangat sedikit.

Jadikanlah kami malu kepada Sumayyah, bukan sekedar IP atau harta mereka berkorban, namun dengan jiwa dan darah mereka persembahkan.

Jadikanlah kami malu kepada Al Khansa, bukan sekedar IP atau harta ia korbankan, namun keseluruhan putra-putra terbaiknya yang ia persembahkan.

Sungguh segenap alasan, bisa kita lontarkan saat ini, sebagaimana Ka’ab bin Malik yang tak ikut tabuk-pun tentulah akan mampu untuk menjawab mahkamah Rasulullah. Sebagaimana yang dilakukan 80 orang sebelumnya. Namun ia tahu, bahwa Allah Maha Tahu segalanya. Bahwa kita bisa jadi akan berjuta alasan di dunia, dan orang-orang pun dengan ikhlas akan menerima. Namun kita pun terkadang lupa, Akankah kita bisa menjawab hal yang sama di akhirat? Ketika kita disodorkan, “bukankah sudah disampaikan dalam Al Maidah 54, bukankah sudah kami sampaikan dalam Ash Shaf, dalam ini dalam itu?”

Sungguh, melemah dalam perjalanan, adalah lebih baik daripada kalah dan berbalik arah

dan sungguh kekuatan dalam perjalanan, akan lebih disukai. Karena mukmin yang kuat, lebih disukai daripada mukmin yang lemah.

Ya Allah, jangan biarkan kami berkata, “ini Hidupku, ini pilihanku”

Padahal dalam setiap sholat kami, kami berkata, “inna sholaati wanusuki wa mahyaya, wamamaati lillahi robbil ‘alamin”

Ya Rabb, luaskanlah hati kami, luaskanlah cara pandang kami, agar ketika kami menunjuk menyalahkan dakwah, maka 4 jari ini tetap menunjuk kepada diri kami, berkata, “Bukankah kita sendiri yang malas?”

Ya Rabb, jangan jadikan “pilihan untuk mundur dari perjalanan”, ada dalam lembar kehidupan kami. Bukakanlah pikiran dan jiwa kami, jauhkanlah syaithan dari kelemahan jiwa dari amal-amal keputusan kami. Jadikan agar kami merubah cara belajar kami, bukan merubah amanah dakwah kami. Jadikanlah agar kami tetap berkarya meski dalam keterbatasan jiwa.

Ya Rabb, kokohkanlah kami di jalan-Mu, jalan para Nabi, jalan para Syuhada dan Da'i-da'i yang ikhlas di jalan-Mu. Ya Rabb, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu, hingga akhir hayat kami.
Aamiin…

Sumber : http://hebadaragema4.multiply.com/

Friday, January 18, 2013

Kembang Api


Bias warna menerangi langit malam ini
Mewarnai angkasa malam membelah hening
Bintang tampak tak bersinar lagi
Kalah oleh kilauan cahaya warna-warni

Kembang api malam ini
31 Desember
Hanya berganti hari
Namun, dunia gegap gempita menyambutnya

Kembang api malam ini
Untuk 1 Januari
Tahun baru yang dinanti
Dengan sejuta harapan

Namun, kembang api malam ini
Hanya sekedar perayaan
Dihiasi sejuta maksiat karena nafsu
Satu malam yang menukar seumur hidup

Khairunnisa, January 1st 2013. 12.29 AM

Dunia Menuju Khilafah


Sepertinya dunia sudah lelah
Dengan tangan-tangan serakah
Tiada henti merampok, menghisap dan menjarah
Hingga habis sudah semua

Dunia sudah lama lelah
Menjadi tumbal
Segelintir pemilik modal
Hanya untuk memuaskan ketamakan mereka

Dunia sudah lama menanti
Sistem yang dapat mengganti
Dengan sebuah keadilan sejati

Semakin lama
Perlahan dan pasti
Dunia berjalan ke sebuah titik terang
Menuju sistem cemerlang

Dunia menuju Khilafah
Sistem yang mencerahkan
Memberantas keserakahan
Mencipta keberkahan

Khairunnisa, January 1st 2013. 12.28 AM