Dakwah
memang bukanlah jalan yang mudah. Bahkan sejak awal, sudah dijelaskan
resikonya. Karena Rasulullah saw. pun seperti itu. Bahkan, beliau lebih parah
keadaannya.
Merasakan
dakwah kampus merupakan sebuah anugerah tersendiri. Kenapa? Karena kampus jauh
berbeda dengan masyarakat. Dunia itu tidak bisa dibilang sempit, tapi juga
tidak bisa dibilang luas. Isinya adalah orang-orang dengan tingkat pendidikan
di atas rata-rata. Mungkin, banyak yang berpikir, tentu akan mudah mendakwahi
mereka. Tapi, tunggu dulu. Dakwah yang seperti apa dulu. Yang namanya dakwah,
tidak semudah mengedipkan mata. Apalagi dakwah untuk mengubah mafhum (pemahaman).
Lebih sulit daripada memindahkan bumi ke galaksi sebelah *maaf, penulis sedang
terserang virus lebaynis kronis*
Dakwah
untuk mengubah pemahaman lewat aktivitas mengajak berfikir tidaklah semudah
yang diucapkan. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Apalagi di fakultas saya,
yang notabene-nya adalah corongnya Sepilis (Sekularisme-Pluralisme-Liberalisme).
Penolakan tidak jarang terjadi. Teman-teman juga tidak tertarik dengan dakwah
kami. Apalagi yang kami sampaikan selalu ada bau politiknya. Makin ilfeel-lah
mereka. Teman-teman di fakultas saya, senangnya yang happy-happy aja. Kalo
ngomongin soal trend, budaya pop, seperti anime, manga dan teman-temannya pasti
nyambung. Apalagi kalo ngomongin film atau dorama. Belum lagi sekarang booming
hallyu wave alias gelombang Korea. Wuihh, menjamur dah tuh yang namanya
fandom. Segala jenis boyband dan girlband ada. Dan segala jenis dance cover
merajalela. Gedung fakultas selain jadi tempat kuliah juga jadi tempat latihan dance
cover. Belum lagi yang metik-metik gitar dan nyanyi-nyanyi gak jelas pas
adzan maghrib berkumandang. Mirisnya, yang ngelakuin itu semua adalah Muslim. Hati
saya menangis terbahak-bahak *eh, salah. Tersedu-sedu maksudnya* akibat ulah
mereka. Apalagi jika saya tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat teman-teman
muslimah yang sangat sulit diajak ke acara pengajian dan majelis ilmu lainnya.
Mereka lebih senang jalan-jalan ke mall, ikut gathering fans KPOP, dance
cover atau sekedar ngadem di kosan, baca komik *yang gak jarang
komik porno atau homo atau lesbi*, nyetel musik kenceng-kenceng dan nyumbat
telinga pake earphone atau headset sampai-sampai suara adzan gak
kedengeran. Dan rata-rata mereka semua pakai kerudung.
Dulu,
waktu masih jahiliyyah, saya selalu beranggapan kalau image cewek
berkerudung itu adalah alim, kalem, anggun, dsb. Saya pun akhirnya susah sekali
untuk bisa pakai kerudung apalagi jilbab *baju terusan/gamis* boro-boro pake
jilbab, pake rok aja susahnya minta ampun. Butuh 1001 jurus untuk bisa bikin
saya pake rok keluar rumah. Saya selalu menganggap diri saya maskulin sih,
jadinya mikir 1001 kali untuk pake kerudung *Takut maskulinnya hilang karena
harus berubah jadi anggun* Tapi, Alhamdulillah Allah sayang banget sama saya. Masih
mau nunjukkin saya hidayah *terima kasih untuk kakak tercinta yang sabar
menghadapi adiknya yang bandel ini. Sekarang saatnya membalas budi* Dan
sekarang setelah resmi menjadi jilbaber dan kerudunger *ih, apaan
sih?* saya akhirnya paham, bahwa waktu itu ekspektasi saya berlebihan. Sekarang
mah semua sama aja. Yang kerudungan sama gak kerudungan sama-sama
jongkok pemahamannya tentang Islam. Sama-sama doyan berbuat maksiat dan enggan
untuk diseru ke jalan perubahan. Kerudung Cuma jadi trend aja. Gak lebih. Parahnya,
rata-rata kerudungnya gak syar’i dan sekedar mencukupkan pada kerudung aja.
Jilbabnya lupa entah kemana. Kadang yang bikin miris adalah mereka pake
kerudung hanya pas di kampus, setelah itu say goodbye to their khimar. Naudzubillah.
Nah,
back to laptop. Itu tadi sekilas tentang fakultas saya. Mungkin, di fakultas
lain juga 11-12. Tapi, fakultas saya beda soalnya selalu aja apa-apa dikaitkan
dengan budaya dan pluralitas Indonesia Raya. Jadi, di sana hampir tidak ada
sekat agama. Identitas Muslim hampir tidak terlihat. Saya jadi bingung. Untung
aja Muslimahnya masih ada yang mau pake kerudung, meskipun masih jauh dari apa
yang Allah perintahkan.
Dua
tahun berada di sana, membuat saya berpikir panjang. Apa ya yang bisa menarik
perhatian mereka biar mau belajar Islam, mengamalkannya dan memperjuangkannya? Dan
baru beberapa waktu yang lalu saya bisa memikirkannya berkat saran dari
seseorang *thanks to her ^_^*
Ya,
fakultas saya itu tidak bisa di treatment dengan cara biasa. Harus
dengan cara abnormal. Dan saya harus jadi sedikit lebih “gila” untuk
merumuskan treatment itu.
Sebelumnya,
saya mendapatkan sebuah akronim lewat sebuah berita di salah satu website. SNSD.
Sebenarnya itu adalah akronim dari sebuah girlband Korea, Seo Nyeo Shi Dae atau
Girls Generation. Tapi, di sebuah acara, akronim tersebut akhirnya diubah 180
derajat menjadi Senang Ngaji, Semangat Dakwah. Benar-benar kreatif, pikir saya
waktu itu. Dan akhirnya saya mendapat saran untuk bisa mencoba yang semacam
itu.
Setelah
semalaman suntuk mencari dan mengonsep acara *sampai kebawa mimpi* untuk
memudahkan dakwah di fakultas, Alhamdulillah akhirnya ketemu satu konsep acara
baru. Tapi, belum bisa terealisasi secepatnya. Masih butuh banyak penambahan
dan persiapan agar uslub tersebut bisa efektif. Semoga, bisa berguna untuk
semester depan dan suksesi acara besar tahun depan, aamiinn. Road to Muktamar
Khilafah Jatim 2013. Bismillah, HMS 1453! ^_^
Jzk khairan katsir untuk Ustdzh
Reni Y. ^_^
Khairunnisa, December 13th
2012. 12.25 AM.
No comments:
Post a Comment