Thursday, December 13, 2012

Terinspirasi Dari SNSD (Bukan Seo Nyeo Shi Dae Atau Girls Generation); tapi Senang Ngaji Semangat Dakwah

Dakwah memang bukanlah jalan yang mudah. Bahkan sejak awal, sudah dijelaskan resikonya. Karena Rasulullah saw. pun seperti itu. Bahkan, beliau lebih parah keadaannya.
Merasakan dakwah kampus merupakan sebuah anugerah tersendiri. Kenapa? Karena kampus jauh berbeda dengan masyarakat. Dunia itu tidak bisa dibilang sempit, tapi juga tidak bisa dibilang luas. Isinya adalah orang-orang dengan tingkat pendidikan di atas rata-rata. Mungkin, banyak yang berpikir, tentu akan mudah mendakwahi mereka. Tapi, tunggu dulu. Dakwah yang seperti apa dulu. Yang namanya dakwah, tidak semudah mengedipkan mata. Apalagi dakwah untuk mengubah mafhum (pemahaman). Lebih sulit daripada memindahkan bumi ke galaksi sebelah *maaf, penulis sedang terserang virus lebaynis kronis*
Dakwah untuk mengubah pemahaman lewat aktivitas mengajak berfikir tidaklah semudah yang diucapkan. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Apalagi di fakultas saya, yang notabene-nya adalah corongnya Sepilis (Sekularisme-Pluralisme-Liberalisme). Penolakan tidak jarang terjadi. Teman-teman juga tidak tertarik dengan dakwah kami. Apalagi yang kami sampaikan selalu ada bau politiknya. Makin ilfeel-lah mereka. Teman-teman di fakultas saya, senangnya yang happy-happy aja. Kalo ngomongin soal trend, budaya pop, seperti anime, manga dan teman-temannya pasti nyambung. Apalagi kalo ngomongin film atau dorama. Belum lagi sekarang booming hallyu wave alias gelombang Korea. Wuihh, menjamur dah tuh yang namanya fandom. Segala jenis boyband dan girlband ada. Dan segala jenis dance cover merajalela. Gedung fakultas selain jadi tempat kuliah juga jadi tempat latihan dance cover. Belum lagi yang metik-metik gitar dan nyanyi-nyanyi gak jelas pas adzan maghrib berkumandang. Mirisnya, yang ngelakuin itu semua adalah Muslim. Hati saya menangis terbahak-bahak *eh, salah. Tersedu-sedu maksudnya* akibat ulah mereka. Apalagi jika saya tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat teman-teman muslimah yang sangat sulit diajak ke acara pengajian dan majelis ilmu lainnya. Mereka lebih senang jalan-jalan ke mall, ikut gathering fans KPOP, dance cover atau sekedar ngadem di kosan, baca komik *yang gak jarang komik porno atau homo atau lesbi*, nyetel musik kenceng-kenceng dan nyumbat telinga pake earphone atau headset sampai-sampai suara adzan gak kedengeran. Dan rata-rata mereka semua pakai kerudung.
Dulu, waktu masih jahiliyyah, saya selalu beranggapan kalau image cewek berkerudung itu adalah alim, kalem, anggun, dsb. Saya pun akhirnya susah sekali untuk bisa pakai kerudung apalagi jilbab *baju terusan/gamis* boro-boro pake jilbab, pake rok aja susahnya minta ampun. Butuh 1001 jurus untuk bisa bikin saya pake rok keluar rumah. Saya selalu menganggap diri saya maskulin sih, jadinya mikir 1001 kali untuk pake kerudung *Takut maskulinnya hilang karena harus berubah jadi anggun* Tapi, Alhamdulillah Allah sayang banget sama saya. Masih mau nunjukkin saya hidayah *terima kasih untuk kakak tercinta yang sabar menghadapi adiknya yang bandel ini. Sekarang saatnya membalas budi* Dan sekarang setelah resmi menjadi jilbaber dan kerudunger *ih, apaan sih?* saya akhirnya paham, bahwa waktu itu ekspektasi saya berlebihan. Sekarang mah semua sama aja. Yang kerudungan sama gak kerudungan sama-sama jongkok pemahamannya tentang Islam. Sama-sama doyan berbuat maksiat dan enggan untuk diseru ke jalan perubahan. Kerudung Cuma jadi trend aja. Gak lebih. Parahnya, rata-rata kerudungnya gak syar’i dan sekedar mencukupkan pada kerudung aja. Jilbabnya lupa entah kemana. Kadang yang bikin miris adalah mereka pake kerudung hanya pas di kampus, setelah itu say goodbye to their khimar. Naudzubillah.
Nah, back to laptop. Itu tadi sekilas tentang fakultas saya. Mungkin, di fakultas lain juga 11-12. Tapi, fakultas saya beda soalnya selalu aja apa-apa dikaitkan dengan budaya dan pluralitas Indonesia Raya. Jadi, di sana hampir tidak ada sekat agama. Identitas Muslim hampir tidak terlihat. Saya jadi bingung. Untung aja Muslimahnya masih ada yang mau pake kerudung, meskipun masih jauh dari apa yang Allah perintahkan.
Dua tahun berada di sana, membuat saya berpikir panjang. Apa ya yang bisa menarik perhatian mereka biar mau belajar Islam, mengamalkannya dan memperjuangkannya? Dan baru beberapa waktu yang lalu saya bisa memikirkannya berkat saran dari seseorang *thanks to her ^_^*
Ya, fakultas saya itu tidak bisa di treatment dengan cara biasa. Harus dengan cara abnormal. Dan saya harus jadi sedikit lebih “gila” untuk merumuskan treatment itu.
Sebelumnya, saya mendapatkan sebuah akronim lewat sebuah berita di salah satu website. SNSD. Sebenarnya itu adalah akronim dari sebuah girlband Korea, Seo Nyeo Shi Dae atau Girls Generation. Tapi, di sebuah acara, akronim tersebut akhirnya diubah 180 derajat menjadi Senang Ngaji, Semangat Dakwah. Benar-benar kreatif, pikir saya waktu itu. Dan akhirnya saya mendapat saran untuk bisa mencoba yang semacam itu.
Setelah semalaman suntuk mencari dan mengonsep acara *sampai kebawa mimpi* untuk memudahkan dakwah di fakultas, Alhamdulillah akhirnya ketemu satu konsep acara baru. Tapi, belum bisa terealisasi secepatnya. Masih butuh banyak penambahan dan persiapan agar uslub tersebut bisa efektif. Semoga, bisa berguna untuk semester depan dan suksesi acara besar tahun depan, aamiinn. Road to Muktamar Khilafah Jatim 2013. Bismillah, HMS 1453! ^_^

Jzk khairan katsir untuk Ustdzh Reni Y. ^_^
Khairunnisa, December 13th 2012. 12.25 AM.

No comments:

Post a Comment