Hmm, sebentar lagi bakalan ada Pemira alias Pemilu Raya di kampus.
Ajang tahunan untuk memilih Presiden EM (Eksekutif Mahasiswa) dan wakilnya
serta DPM untuk jejeran universitas. Sementara untuk tingkat fakultas ada yang
namanya Pemilwa alias Pemilu Mahasiswa. Yah, intinya sama, untuk milih Presiden
BEM Fakultas dan wakilnya serta DPM fakultas. Oleh karena itu, dibentuklah
panitia Pemira dan Pemilwa. Maka, jangan heran kalo minggu-minggu ini di kampus
saya banyak sekali baliho yang menampilkan foto calon Presiden EM Universitas
beserta visi-misi dan slogannya. Persis kayak Pemilu buat milih Presiden dan
Wakil Presiden. Ada tim sukses juga lho. Dan gak ketinggalan kampanye pastinya.
Bahasa kerennya Pesta Demokrasi.
Nah, ada yang menarik nih kalo kita mau nyorot kampanye yang
diadain para calon-calon penghuni kursi panas lembaga tinggi universitas. Dalam
slogan-slogan di baliho yang gede itu dituliskan visi-misi dan idealisme yang
tampaknya sangat menarik dan menyentuh hati *maksud loe???* Yah, emang seperti
itu. Gak jauh-jauhlah dari yang namanya menyalurkan aspirasi rakyat kampus, menjalin
kerjasama dengan pihak eksekutif di fakultas dan sejenisnya. Dan itu juga yang
pastinya bakalan disampaikan dalam debat terbuka. Tapi, faktanya dalam kampanye
hanya ada proses gathering massa dengan iming-iming yang menurut saya
tidak sesuai dengan posisi seorang intelektual. Hanya sekedar temu akrab,
konser musik plus hiburan lainnya dan sekedar menyampaikan visi-misi di depan
khalayak dengan harapan akan dipilih saat Pemira nanti. Just it. Jarang
sekali ada yang menyampaikan visi-misinya dengan tujuan memahamkan kepada para
pendukungnya serta menyamakan visi-misi tersebut agar menjadi sebuah persepsi
yang sama di tengah-tengah para pendukungnya. Akhirnya, pendukung hanya sekedar
datang meramaikan kampanye tanpa memahami sedikitpun visi-misi calon pemimpin
mereka. Mereka hanya datang karena ada sesuatu yang membawa kemanfaatan bagi
mereka. Dan mirisnya itu dimanfaatkan oleh para calon pemimpin yang seharusnya
menjadi harapan bagi rakyat kampus. Sehingga tak jarang, muncul suara sumbang
yang terkait Pemira. “Ah, paling juga ujung-ujungnya sama. Gak bakalan ada
perbaikan signifikan dan gak bakalan ada korelasinya dengan
kemashlahatan mahasiswa”. Saya sangat mengerti jika ada yang berpendapat seperti
itu karena memang faktanya seperti itu. Visi-misi tersebut hanya ada saat
kampanye. Setelah itu, goodbye. Intelektual yang seharusnya memiliki
idealisme yang tinggi justru tergadaikan dengan kepentingan atas nama
Demokrasi. Bahkan, seruan dari Sang Pencipta sekaligus Pengatur Alam Semesta
pun tergadaikan. Sebegitu agungkah Demokrasi yang membebaskan segala sesuatu
sehingga kaum intelektual juga ikutan silau dengan pesonanya?
Jika bertanya kepada para aktivis kampus yang mencetuskan
perubahan di luar sana tentang bagaimana bobroknya Indonesia Raya ini,
khususnya dari sisi birokrat, maka semua sepakat bahwa pemerintahan kita hancur
luar biasa. Saking hancurnya mereka sampai tidak bisa lagi untuk membuat
kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Semua hanya demi kepentingan diri mereka
sendiri dan partai tempat mereka bernaung. Namun, para aktivis hanya
menyalahkan orangnya. Mereka sama sekali tidak menyoroti sistem yang dipakai
oleh orang-orang terhormat di pemerintahan sana yang menyebabkan kepala mereka
ikut tercemplung dalam kubangan kesesatan akibat sistem yang mempengaruhi
mereka di dalam sana.
Demokrasi, masih seperti idola yang diagung-agungkan sekalipun
sudah tua. Sistem yang sampai sekarang belum mampu berkontribusi apapun dalam
perubahan di negeri ini. Tidak hanya di negeri ini, bahkan di seluruh dunia. Ketimpangan
terjadi dimana-mana akibat sistem cacat ini. Sistem inilah yang menindas rakyat
atas nama rakyat padahal slogan yang diagung-agungkan dalam sistem ini adalah
dari, oleh dan untuk rakyat. Parahnya, aktivis kampus pun masih memuja sistem
ini seperti gadis-gadis remaja memuja Super Junior. Mereka masih bangga
menggunakan sistem ini. Mereka selalu berharap mampu mewujudkan revolusi dengan
sistem cacat ini meski harus berkali-kali patah hati karena sampai saat ini
Demokrasi belum mampu sedikitpun mewujudkan sebuah perubahan signifikan
bahkan lebih banyak menimbulkan masalah baru. Masih ada juga yang dengan pedenya
mengatakan, Demokrasi harga mati. Kita tidak akan bisa hidup tanpa Demokrasi
*trus, Tuhan loe kemanain?* Sampai-sampai ada teman saya yang mengatakan,
“Orang-orang yang masih percaya sama Demokrasi itu seperti cewek bego yang jadi
korban playboy. Udah di dua-in sampai di lima-in, masih aja percaya dan ngarep
bahkan ngemis-ngemis cinta. Padahal, dia udah tau yang namanya playboy gak
bakal bisa tahan hanya dengan satu cewek”.
Saat seruan untuk kembali kepada sistem buatan Rabb Pencipta Alam
dikumandangkan, banyak diantara mereka yang berpendapat, “Seharusnya kalian
berterima kasih sama Demokrasi, karena Demokrasi kalian bisa ngomong dengan
bebas tentang ide-ide kalian itu”. Untung saja Allah tidak langsung mengatakan,
“Untung saja Saya ngasih kalian ruh, kalau tidak kalian pasti tidak akan
menghirup setitik oksigen pun di dunia ini dan akhirnya bisa menjadi pemuja
setia Demokrasi”.
Demokrasi adalah biang kerok kebobrokan saat ini. Ia tersandra
oleh rakusnya sistem Kapitalisme-Sekularisme yang menilai sesuatu dari materi
saja dan menafikkan keberadaan Tuhan dalam kehidupan. Ironisnya, kaum Muslimin
pun masih memuja Demokrasi. Padahal, dengan mendukung Demokrasi, mereka sama
saja membenarkan sistem Kapitalisme yang sudah terbukti menjerumuskan mereka
dalam kemaksiatan tertinggi kepada Allah dan pengingkaran terbesar kepada
wasiat Rasulullah SAW. Mereka pun turut membenarkan bahwa Allah itu hanya
terbatas pada tembok-tembok Masjid dan bulan Ramadhan saja.
Padahal, Allah SWT. Berfirman :
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidaah [5]: 50)
Ada satu hal yang terlupakan sejak lama bahwasanya kaum Muslimin
memiliki konsep sendiri terkait pemerintahan. Rasulullah dan para Shahabat pun
sudah mencontohkannya. Adalah Khilafah Islamiyyah, sistem yang langsung turun
dari Pencipta manusia. Sistem pemerintahan yang hanya menjadikan hukum syara’
sebagai satu-satunya hukum yang legal. Sistem pemerintahan yang menjadikan
Allah sebagai pemegang kedaulatan satu-satunya dan meletakkan kekuasaan di
tangan umat dengan satu pemimpin yakni Khalifah yang akan melegislasi hukum
Allah secara sempurna.
Oleh sebab itu, mulai sekarang catatlah dalam benak Anda bahwa
Demokrasi bukan berasal dari Islam. Sistem Pemerintahan dalam Islam hanyalah
Khilafah Islamiyyah. Karena hanya Khilafah yang mampu menerapkan syariat Allah
secara sempurna dan paripurna. Demokrasi sudah basi. Ia telah lama mati. Saatnya
kembali pada aturan Allah Yang Maha Sempurna untuk hidup yang lebih baik.
Rasulullah SAW bersabda:
“Kenabian akan terjadi di tengah-tengah
kalian dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut
jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti
manhaj kenabian dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan
mencabut jika menghendaki untuk mencabut. Kemudian akan kekuasaan yang
menggigit (zhalim) dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah
akan mencabut jika Allah berkehendak mencabut. Kemudian akan kekuasaan diktator
dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika
berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan Khilafah yang mengikuti manhaj
kenabian. Kemudian beliau diam”. (H.R. Ahmad)
18 Days
Toward Habits. 2 Days Toward D.L.
~Nahdah R.
Asshafaa~
Khairunnisa,
December 8th 2012. 10.46PM
No comments:
Post a Comment