Thursday, December 13, 2012

Idealisme yang Tergadaikan

Hmm, sebentar lagi bakalan ada Pemira alias Pemilu Raya di kampus. Ajang tahunan untuk memilih Presiden EM (Eksekutif Mahasiswa) dan wakilnya serta DPM untuk jejeran universitas. Sementara untuk tingkat fakultas ada yang namanya Pemilwa alias Pemilu Mahasiswa. Yah, intinya sama, untuk milih Presiden BEM Fakultas dan wakilnya serta DPM fakultas. Oleh karena itu, dibentuklah panitia Pemira dan Pemilwa. Maka, jangan heran kalo minggu-minggu ini di kampus saya banyak sekali baliho yang menampilkan foto calon Presiden EM Universitas beserta visi-misi dan slogannya. Persis kayak Pemilu buat milih Presiden dan Wakil Presiden. Ada tim sukses juga lho. Dan gak ketinggalan kampanye pastinya. Bahasa kerennya Pesta Demokrasi.
Nah, ada yang menarik nih kalo kita mau nyorot kampanye yang diadain para calon-calon penghuni kursi panas lembaga tinggi universitas. Dalam slogan-slogan di baliho yang gede itu dituliskan visi-misi dan idealisme yang tampaknya sangat menarik dan menyentuh hati *maksud loe???* Yah, emang seperti itu. Gak jauh-jauhlah dari yang namanya menyalurkan aspirasi rakyat kampus, menjalin kerjasama dengan pihak eksekutif di fakultas dan sejenisnya. Dan itu juga yang pastinya bakalan disampaikan dalam debat terbuka. Tapi, faktanya dalam kampanye hanya ada proses gathering massa dengan iming-iming yang menurut saya tidak sesuai dengan posisi seorang intelektual. Hanya sekedar temu akrab, konser musik plus hiburan lainnya dan sekedar menyampaikan visi-misi di depan khalayak dengan harapan akan dipilih saat Pemira nanti. Just it. Jarang sekali ada yang menyampaikan visi-misinya dengan tujuan memahamkan kepada para pendukungnya serta menyamakan visi-misi tersebut agar menjadi sebuah persepsi yang sama di tengah-tengah para pendukungnya. Akhirnya, pendukung hanya sekedar datang meramaikan kampanye tanpa memahami sedikitpun visi-misi calon pemimpin mereka. Mereka hanya datang karena ada sesuatu yang membawa kemanfaatan bagi mereka. Dan mirisnya itu dimanfaatkan oleh para calon pemimpin yang seharusnya menjadi harapan bagi rakyat kampus. Sehingga tak jarang, muncul suara sumbang yang terkait Pemira. “Ah, paling juga ujung-ujungnya sama. Gak bakalan ada perbaikan signifikan dan gak bakalan ada korelasinya dengan kemashlahatan mahasiswa”. Saya sangat mengerti jika ada yang berpendapat seperti itu karena memang faktanya seperti itu. Visi-misi tersebut hanya ada saat kampanye. Setelah itu, goodbye. Intelektual yang seharusnya memiliki idealisme yang tinggi justru tergadaikan dengan kepentingan atas nama Demokrasi. Bahkan, seruan dari Sang Pencipta sekaligus Pengatur Alam Semesta pun tergadaikan. Sebegitu agungkah Demokrasi yang membebaskan segala sesuatu sehingga kaum intelektual juga ikutan silau dengan pesonanya?
Jika bertanya kepada para aktivis kampus yang mencetuskan perubahan di luar sana tentang bagaimana bobroknya Indonesia Raya ini, khususnya dari sisi birokrat, maka semua sepakat bahwa pemerintahan kita hancur luar biasa. Saking hancurnya mereka sampai tidak bisa lagi untuk membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Semua hanya demi kepentingan diri mereka sendiri dan partai tempat mereka bernaung. Namun, para aktivis hanya menyalahkan orangnya. Mereka sama sekali tidak menyoroti sistem yang dipakai oleh orang-orang terhormat di pemerintahan sana yang menyebabkan kepala mereka ikut tercemplung dalam kubangan kesesatan akibat sistem yang mempengaruhi mereka di dalam sana.
Demokrasi, masih seperti idola yang diagung-agungkan sekalipun sudah tua. Sistem yang sampai sekarang belum mampu berkontribusi apapun dalam perubahan di negeri ini. Tidak hanya di negeri ini, bahkan di seluruh dunia. Ketimpangan terjadi dimana-mana akibat sistem cacat ini. Sistem inilah yang menindas rakyat atas nama rakyat padahal slogan yang diagung-agungkan dalam sistem ini adalah dari, oleh dan untuk rakyat. Parahnya, aktivis kampus pun masih memuja sistem ini seperti gadis-gadis remaja memuja Super Junior. Mereka masih bangga menggunakan sistem ini. Mereka selalu berharap mampu mewujudkan revolusi dengan sistem cacat ini meski harus berkali-kali patah hati karena sampai saat ini Demokrasi belum mampu sedikitpun mewujudkan sebuah perubahan signifikan bahkan lebih banyak menimbulkan masalah baru. Masih ada juga yang dengan pedenya mengatakan, Demokrasi harga mati. Kita tidak akan bisa hidup tanpa Demokrasi *trus, Tuhan loe kemanain?* Sampai-sampai ada teman saya yang mengatakan, “Orang-orang yang masih percaya sama Demokrasi itu seperti cewek bego yang jadi korban playboy. Udah di dua-in sampai di lima-in, masih aja percaya dan ngarep bahkan ngemis-ngemis cinta. Padahal, dia udah tau yang namanya playboy gak bakal bisa tahan hanya dengan satu cewek”.
Saat seruan untuk kembali kepada sistem buatan Rabb Pencipta Alam dikumandangkan, banyak diantara mereka yang berpendapat, “Seharusnya kalian berterima kasih sama Demokrasi, karena Demokrasi kalian bisa ngomong dengan bebas tentang ide-ide kalian itu”. Untung saja Allah tidak langsung mengatakan, “Untung saja Saya ngasih kalian ruh, kalau tidak kalian pasti tidak akan menghirup setitik oksigen pun di dunia ini dan akhirnya bisa menjadi pemuja setia Demokrasi”.
Demokrasi adalah biang kerok kebobrokan saat ini. Ia tersandra oleh rakusnya sistem Kapitalisme-Sekularisme yang menilai sesuatu dari materi saja dan menafikkan keberadaan Tuhan dalam kehidupan. Ironisnya, kaum Muslimin pun masih memuja Demokrasi. Padahal, dengan mendukung Demokrasi, mereka sama saja membenarkan sistem Kapitalisme yang sudah terbukti menjerumuskan mereka dalam kemaksiatan tertinggi kepada Allah dan pengingkaran terbesar kepada wasiat Rasulullah SAW. Mereka pun turut membenarkan bahwa Allah itu hanya terbatas pada tembok-tembok Masjid dan bulan Ramadhan saja.
Padahal, Allah SWT. Berfirman :
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al Maidaah [5]: 50)
Ada satu hal yang terlupakan sejak lama bahwasanya kaum Muslimin memiliki konsep sendiri terkait pemerintahan. Rasulullah dan para Shahabat pun sudah mencontohkannya. Adalah Khilafah Islamiyyah, sistem yang langsung turun dari Pencipta manusia. Sistem pemerintahan yang hanya menjadikan hukum syara’ sebagai satu-satunya hukum yang legal. Sistem pemerintahan yang menjadikan Allah sebagai pemegang kedaulatan satu-satunya dan meletakkan kekuasaan di tangan umat dengan satu pemimpin yakni Khalifah yang akan melegislasi hukum Allah secara sempurna.
Oleh sebab itu, mulai sekarang catatlah dalam benak Anda bahwa Demokrasi bukan berasal dari Islam. Sistem Pemerintahan dalam Islam hanyalah Khilafah Islamiyyah. Karena hanya Khilafah yang mampu menerapkan syariat Allah secara sempurna dan paripurna. Demokrasi sudah basi. Ia telah lama mati. Saatnya kembali pada aturan Allah Yang Maha Sempurna untuk hidup yang lebih baik.
Rasulullah SAW bersabda:
“Kenabian akan terjadi di tengah-tengah kalian dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika menghendaki untuk mencabut. Kemudian akan kekuasaan yang menggigit (zhalim) dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika Allah berkehendak mencabut. Kemudian akan kekuasaan diktator dan berlangsung selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mencabut jika berkehendak untuk mencabut. Kemudian akan Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian beliau diam”. (H.R. Ahmad)

18 Days Toward Habits. 2 Days Toward D.L.
~Nahdah R. Asshafaa~
Khairunnisa, December 8th 2012. 10.46PM



No comments:

Post a Comment