Moment pergantian tahun begitu sangat dinantikan oleh setiap orang.
Tak jarang diantara mereka yang menyambutnya dengan berpesta ria, meniup
terompet didetik-detik terakhir pergantian tahun dan lain-lain. Seakan
moment tahun baru merupakan moment istimewa yang tak boleh terlewatkan.
Sebelum saya melanjutkan penjelasan kenapa perayaan tahun baru adalh
budaya kufur dan sampah. Kita simak sejarahnya terlebih dahulu.
Sejarah dan Cara Merayakan di Masa Lampau
Tahun baru adalah suatu perayaan yang menandakan berakhirnya masa satu
tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Kalender
Romawi kuno menggunakan tanggal 1 Maret sebagai Hari Tahun Baru.
Belakangan, orang Romawi Kuno menggunakan tanggal 1 Januari sebagai awal
tahun yang baru. Pada Abad Pertengahan, kebanyakan negara-negara Eropa
menggunakan tanggal 25 Maret, hari raya umat Kristen yang disebut Hari
Kenaikan Tuhan, sebagai awal tahun yang baru. Hingga tahun 1600,
kebanyakan negara-negara Barat telah menggunakan sistem penanggalan yang
telah direvisi, yang disebut kalender Gregorian.
Kebanyakan
orang di masa silam memulai tahun yang baru pada hari panen. Mereka
melakukan kebiasaan-kebiasaan untuk meninggalkan masa lalu dan
memurnikan dirinya untuk tahun yang baru. Orang Persia kuno
mempersembahkan hadiah telur untuk Tahun Baru, sebagai lambang dari
produktivitas.
Orang Romawi kuno saling memberikan hadiah
potongan dahan pohon suci. Belakangan, mereka saling memberikan kacang
atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua
permulaan. Bulan Januari mendapat nama dari dewa bermuka dua ini (satu
muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).
Orang-orang Romawi mempersembahkan hadiah kepada kaisar.
Para
kaisar lambat-laun mewajibkan hadiah-hadiah seperti itu. Para pendeta
Keltik memberikan potongan dahan mistletoe, yang dianggap suci, kepada
umat mereka. Orang-orang Keltik mengambil banyak kebiasaan tahun baru
orang-orang Romawi, yang menduduki kepulauan Inggris pada tahun 43
Masehi.
Pada tahun 457 Masehi gereja Kristen melarang kebiasaan
ini, bersama kebiasaan tahun baru lain yang dianggapnya merupakan
kebiasaan kafir. Pada tahun 1200-an pemimpin-pemimpin Inggris mengikuti
kebiasaan Romawi yang mewajibkan rakyat mereka memberikan hadiah tahun
baru. Para suami di Inggris memberi uang kepada para istri mereka untuk
membeli bros sederhana (pin). Kebiasaan ini hilang pada tahun 1800-an,
namun istilah pin money, yang berarti sedikit uang jajan, tetap
digunakan. Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang
merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak,
sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.
Sekalipun tahun baru juga merupakan hari suci Kristiani, tahun baru
sudah lama menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur
umum nasional untuk semua warga Amerika. Di Amerika Serikat, kebanyakan
perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember,
di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari
Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul.
Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api
diledakkan dan orang-orang menerikkan “Selamat Tahun Baru” dan
menyanyikan Auld Lang Syne.
Menurut Syariah
Benarkah
tahun baru harus kita sambut dengan sepesial? Semisal saling mengucapkan
ucapan selamat, lewat lisan atau tulisan yang kita tulis di kartu
ucapan tahun baru. Sedemikian istimewakah makna tahun baru bagi umat
manusia? Coba perhatikan pernyataan Al Imam Ibnu Tammiyah radhiaallahu
anhu. Adapun mengucapkan selamat terhadap syiar-syiar keagamaan
orang-orang kafir yang khusus bagi mereka, maka hukumnya haram menurut
kesepakatan para ulama, seperti mengucapkan selamat terhadap hari-hari
besar mereka dan puasa mereka, seperti mengucapkan semoga hari besar ini
diberkahi atau ucapan semisalnya dalam rangka hari besar tersebut.
Sedang Umar bin Khatab ra berkata, terkait dengan momentum tahun baru
Masehi atau hari-hari besar lain yang merupakan hari-hari besar
orang-orang Yahudi dan Nasrani. “Janganlah kalian mengunjungi kaum
Musyrikin di gereja-gereja ( rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar
mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka” (HR.
Al Baihaqi, no:18640)
“Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka” (HR.Ibid. no:18641)
Dari kedua hadist tersebut, jelaslah sudah kalau mengucapkan selamat
atau ikut serta dalam merayakan hari-hari besar kaum musyrikin (Tahun
baru, Natal,Valentine,dll) hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.
Karena moment tahun baru atau moment-moment lainnya merupakan
pencampuradukan antara Al Haq dan kebathilan. Yang lebih banyak nilai
mudharatnya, ketimbang sisi positifnya. Selain kufur, perayaan tahun
baru juga menghabiskan banyak uang dan perilaku hura-hura semisal sex,
ugal-ugalan dijalan dan hal ini lah yang menunjukkan akan budaya sampah.
Sebagai umat Islam tentunya kita harus konsisten terhadap
keyakinan/akidah yang kita anut, karena sesungguhnya merayakan momen
tahun baru itu bukanlah budaya Islam, jadi janganlah sekali-kali
terpengaruh dan mengadopsinya menjadi bagian dari budaya kaum muslimin.
“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan
kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul)
dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (TQS.
Al-Baqarah [2]:109)
Coba perhatikan ayat tersebut !
Sesungguhnya, moment tahun baru itu salah satu tipu muslihat orang-orang
musyirikin untuk menyesatkan kaum muslimin dari jalan kebenaran, jalan
yang penuh dengan cahaya rahmat dan karunia-Nya. Karena sejatinya, kaum
musyirikin itu mengetahui kalau agama Islam adalah agama yang rahmatan
lil’alamin, sehingga hati mereka menjadi dengki dan berusaha
mengembalikan keyakinan kaum muslimin pada kekafiran agar jauh dari
cahaya Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati
orang-orang kafir itu, niscaya mereka akan mengembalikanmu kebelakang (
Kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang merugi.” (TQS. Ali
Imron [3]: 149)
Berdasarkan penjelasan diatas, terlihat sudah
bahwa tahun baru adalah bagian dari perayaan orang kufur. Namun sayang,
umat islam saat bagaikan bebek yang sekedar mengikut. Justru seharusnya,
kita sebagai umat yang terbaik sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT di
dalam ayat suci menjadi culture leader yang menciptakan agar mereka
(orang kufur) mengikuti budaya kita (Islam). Tentunya, tak ada seorang
pun diantara kita yang ingin menjadi orang yang merugi dan amal
ibadahnya tertolak oleh Allah Swt. Kalau demikian, mari bersama-sama
bersiaga dalam menghalau datangnya budaya kaum musyirikin yang mereka
proklamirkan lewat liberalisme, modernitas dan premisivisme budaya.
Lebih baik pada tahun baru ini, kita jadikan sebagai momen untuk menuju
perubahan dan kemulian diri dan kemulian kaum muslimin.
(Syabab.com)
No comments:
Post a Comment