Wednesday, August 29, 2012

Renungan Akhir Ramadhan: Kokohkan Iman, Tegakkan Syariah dan Khilafah

Semoga belum terlambat untuk share tentang ini :)

 

[Al Islam 619] Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberi kita kesempatan menikmati keberkahan bulan Ramadhan dan menyampaikan kita ke sepuluh hari terakhirnya. Semoga Allah SWT izinkan kita menyempurnakan Ramadhan ini dengan shaum dan segenap amalan ibadah dan ketaatan di dalamnya serta meraih derajat takwa. Hingga tiba saatnya nanti gema takbîr, tahlîl, dan tahmîd kita kumandangkan sebagai wujud kesadaran kita bahwa kita adalah kecil dan hanya Dia yang Maha Agung, sebagai bukti ketundukan kita kepada-Nya bahwa tidak ada ilâh yang wajib disembah kecuali Dia, dan sebagai pernyataan syukur kita bahwa segenap kenikmatan yang kita rasakan hanyalah berasal dari-Nya.

Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (TQS. al-Baqarah [2]: 183).
Ayat tersebut menegaskan bahwa yang diseru untuk melaksanakan shaum adalah orang-orang beriman. Artinya, iman merupakan landasan dalam pelaksanaan shaum tersebut. Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda:
«مَنْ صاَمَ رَمَضاَنَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
“Barangsiapa shaum bulan Ramadhan dengan iman dan semata mengharap ridha Allah maka ia diampuni dosanya yang telah lewat” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sabda Nabi ini menegaskan bahwa keimanan harus dijadikan landasan dalam menjalankan shaum Ramadhan. Jadi Ramadhan sejatinya adalah momentum untuk mengokohkan keimanan kita semua. Sehingga, seusai Ramadhan, kita sebagai umat Islam akan memiliki keimanan yang tangguh, dan merasakan betapa manisnya keimanan tersebut.
Sayang, sebagian kalangan umat terbaik (khairu ummah) ini belum merasakan kokoh dan manisnya iman. Buktinya, masih ada di antara umat Islam yang menolak penerapan syariat Islam sebagai pengatur kehidupan. Masih ada kaum Muslimin yang menjadikan hukum dan tata nilai buatan manusia seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, sekulerisme, dan kapitalisme sebagai landasan dan sistem kehidupan. Padahal, bukankah keimanan kita menyatakan bahwa hanya Allah SWT sajalah yang berhak menentukan hukum? Allah SWT berfirman:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. al-Maidah [5]: 50).
Sungguh mengherankan bila masih ada di antara umat Islam ini yang masih mencari-cari dalih untuk menolak hukum al-Quran. Di manakah letak pengakuan mereka bahwa mereka beriman kepada al-Quran? Mengapa mereka rela menerapkan syariat Islam dalam shalat, shaum, haji, zakat, dan nikah; namun belum rela menerapkan Islam dalam masalah hudud, jinayat, perekonomian, pemerintahan, dsb? Padahal, Allah SWT berfirman:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan kufur terhadap sebagian. Maka tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu di antara kalian kecuali kenestapaan pada kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka akan dikembalikan ke dalam siksa yang amat pedih. Dan Allah tidak lalai terhadap apa yang kalian lakukan” (TQS. al-Baqarah [2]: 85).
Saat ini pemerintah Amerika Serikat berencana membangun kedutaan besarnya di Jakarta menjadi 10 lantai, dengan luas 3,6 hektar. Gedung sebesar itu akan dijadikan sebagai markas intelijen dan militer sebagaimana di Irak dan Pakistan. Gedung itu akan dijadikan fasilitas Marine Security Guard Quarters (MSGQ) yakni markas garda keamanan laut. Namun, pemerintah justru mengizinkan. Dan kebanyakan kaum Muslimin diam. Bukankah ini merupakan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum Muslimin? Seharusnya orang-orang beriman tidak boleh melakukan hal itu, sebagaimana firman-Nya:
]وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً[
"Dan Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum mukminin" (TQS. an-Nisa: 141).
Menteri Kesehatan membuat program kondomisasi, termasuk di kalangan remaja. Tindakan ini merupakan legalisasi pelacuran dan seks bebas di kalangan remaja. Orang-orang beriman tentu akan menolak kondomisasi ini, sebab mereka mengimani firman Allah SWT yang mengharamkan zina:
]وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً[
"Dan janganlah kalian mendekati zina sesungguhnya zina itu berbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan" (TQS. al-Isra` [17]:32).
Hingga hari ini, kaum musyrik di Myanmar membantai kaum Muslimin Rohingya. Mereka diusir. Mereka terpaksa hidup dalam pengungsian dengan kondisi yang sangat mengerikan. Namun, para penguasa Muslim tak berbuat apa-apa. Padahal, orang-orang beriman seharusnya berupaya untuk membantu mereka, sebab mereka beriman pada firman Allah SWT:
]وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ [
"Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan" (TQS. al-Anfâl [8]: 72).
Demikianlah, kita harus terus mengokohkan keimanan kita. Dengan keimanan ini, kita akan amar merindukan ampunan dan surga Allah SWT dan takut akan azab-Nya yang pedihnya tiada tara.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keimanan harus dibarengi dengan keterikatan terhadap hukum syariah Islam. Banyak nash-nash yang mengaitkan iman dengan keterikatan terhadap hukum Islam, dan menghubungkan keimanan dengan amal salih. Di antaranya Allah SWT berfirman:
]فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا[
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya" (TQS. an-Nisâ [4]: 65).
Ayat ini menegaskan, keimanan harus menyatu dengan penerapan dan perjuangan menegakkan syariat Islam. Kekokohan iman sejatinya harus makin mendorong kita semua untuk terikat dengan syariat Islam dan terus memperjuangkannya. Dan, syariat Islam tidak akan sempurna dilaksanakan secara kaffah tanpa adanya Khilafah. Karena itu, keimanan kita semestinya makin mendorong kita untuk terus berjuang menegakkan syariah dan Khilafah.
Boleh jadi, ada orang yang menganggap bahwa khilafah itu utopis. Namun, bagi orang yang beriman tegaknya syariah dan Khilafah itu merupakan wujud keyakinan dan keimanan yang nyata. Khilafah akan mengokohkan agama ini. Khilafah akan menegakkan tauhid. Bagaimana mungkin Khilafah disebut khayalan, padahal Khilafah itu merupakan janji Allah SWT, Zat yang tidak pernah mengingkari janji.
]وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ[
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik" (TQS. an-Nûr [24]: 55).
Ayat ini menegaskan janji Allah SWT akan kembalinya khilafah. Imam Ibnu Katsir menegaskan makna ayat ini: “Ini merupakan janji dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW bahwa Dia akan menjadikan umatnya para khalifah di bumi” (Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, hal. 357).
Wahai Kaum Muslimin
Saatnya kita makin mengokohkan keimanan kita. Dengan keimanan, segala keragu-raguan tentang syariat Islam dan Khilafah, yang dilontarkan oleh setan, baik dari kalangan jin dan manusia, insya Allah tak akan mampu menggoyahkan keimanan kita. Dengan iman pula, kita akan terus berjuang menegakkan syariah dan Khilafah. Kita tidak akan takut kepada siapapun selain Allah SWT. Kita tidak takut kehilangan rezeki, karena kita yakin rezeki itu berasal dari Allah Zat Maha Kaya. Kita tidak akan takut terhadap ancaman siapapun, sebab tidak ada siksaan yang pedih selain siksa neraka di akhirat kelak. Keimanan yang kokoh pun akan menjadikan kita rindu akan surga yang penuh kenikmatan. Kita pun tidak akan terbuai dengan kesenangan dunia, sebab dunia ini hanyalah perhiasan yang menipu. Dengan keimanan, kita akan menjadi orang-orang yang optimis dalam perjuangan. Sebab, kemenangan berupa tegaknya syariah dan Khilafah itu merupakan janji Allah SWT, hanya tinggal masalah waktu saja. Tugas kita adalah memperjuangkannya. Untuk itu, marilah kita bersama-sama mengokohkan iman dan berjuang menegakkan syariah dan Khilafah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb.

Source
http://hizbut-tahrir.or.id/2012/08/08/renungan-akhir-ramadhan-kokohkan-iman-tegakkan-syariah-dan-khilafah/

Tuesday, August 28, 2012

Jadilah Orang Asing atau Hanya Sekedar Lewat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
 
Beberapa hari yang lalu, seorang teman kembali membagi tulisannya kepada saya. Semoga bermanfaat :)


“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat”. (HR Bukhari)
Kita sama-sama tahu. Orang yang safar (dalam perjalanan) memahami betul bahwa Mereka tidak merasa senang dengan keadaan safarnya, Mereka memahami bahwa mereka pergi hanya sementara, Mereka menyadari bahwa semua akan mereka tinggalkan, Mereka merindukan berkumpul kembali pada tempat asalnya.
Begitu juga manusia. Manusia yang mengerti apa tujuan hidupnya.  Mereka dalam berjalanan menuju kampung halaman (Jannah). dan dunia ini adalah safar mereka. Lantas walaupun dalam safarnya, mereka hidup enak, mereka tidak akan betah berlama-lama hidup dalam safarnya. 
Kehidupan dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi seorang kafir (HR. Muslim)

Mari kita analogikan : 
Seseorang dari kampung, lantas kemudian hidup di kota besar untuk mencari penghasilan. Dalam usahanya itu ia akan menetap sementara di suatu kota. sehingga ia memutuskan untuk menyewa kost. tiap bulan Ia menerima gaji yang lumayan besar. hingga berbulan-bulan. bertahun-tahun.  namun kemudian kita lihat kehidupannya. Hidupnya tetap juga tak berubah. begitupun keadaan kostnya. Hingga suatu saat, Orang tersebut berhenti dari pekerjaannya. Lantas Ia kembali ke kampung halamannya. Tebak, apakah keluarganya merasa kecewa. karena dia tak mampu merubah hidupnya walaupun bertahun-tahun hidup di kota besar?

Mari kita lihat keadaannya…
Walaupun bertahun-tahun hidup dikota. dengan gajji yang lumayan besar. Lantas tidak mengubah hidup orang tersebut. Apa kata orang itu?
“Mas, kenapa udah bertahun-tahun hidup di kota tapi kok hidupmu ga maju-maju mas?”
“Karena saya kirim gaji saya untuk bekal ketika saya kelak kembali ke kampung halaman saya”
“Kenapa ga buat rumah aja mas di Kota, kan enak”
“Begini, di kota itu saya hanya perantauan alias orang yang dalam safar. Saya yakin kelak, saya akan kembali ke kampung halaman, jadi saya mempersiapkan segala sesuatunya, agar kelak saya akan menikmati jerih payah saya selama bertahun-tahun. Karena saya Yakin, dan saya memahami bahwa saya pergi hanya sementara, saya menyadari bahwa semua akan saya tinggalkan, saya rindu akan berkumpul kembali pada tempat asalnya. 
Dan benar saja, jika di kota, Kost yang dia tinggali sangatlah kumuh. Lantas bertahun-tahun itu pula ia hidup disana. membuat ia tak senang dalam safarnya. hingga saat Ia pulang ke kampung halamannya. Ternyata Ia sudah membangun rumah yang mewah. yang didalamnya terdapat perabot-perabot yang harganya terbilang mahal. Dari sini kita dapat petik hikmah, bahwa..
Kita adalah Orang yang sedang dalam perjalanan. kita tahu betul bahwa hidup dalam perjalanan itu pasti susah. karena perjalanan adalah tempat mencari bekal. sehingga kita memahami betul bahwa kita tidak akan merasa senang dengan keadaan safar kita walaupun hidup kita dalam perjalanan itu enak. kita pasti tetap akan merindukan kampung halaman, Kita pergi hanya sementara, dan semua akan kita tinggalkan, karena kita merindukan berkumpul kembali pada tempat asalnya.
Manusia yang mengerti tujuan hidupnya. mengetahui jika dunia ini adalah Safarnya. dan Akhirat adalah kempung halamannya. Lantas orang yang sukses dalam perantauannya adalah orang yang mencari bekal sebanyak-banyaknya agar kelak saat kembali ke kampung halamannya, dia bisa menikmati jerih payahnya.  
Lantas muncul pertanyaan.. “Apakah kita sudah memiliki bekal yang banyak untuk kita nikmati di kampung halaman kita (Jannah)?”
Renungi dan Resapi, kita hidup tidaklah lama.. Jika Perjalanan hidup kita di dunia hanyalah kurang lebih 70 tahun. lantas Maksimal di Alam kubur 7000 tahun, di padang masyar. lebih kurang 50.000 tahun. menanti apa kita akan menerima hasil dari kanan atau belakang.. lantas kita akan kembali ke kampung halaman Akhirat.. Sudahkah kita mempersiapkan itu. Ataukah kita lupa? Renungilah..Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.
Surakarta, 7 Syawal 1433

source :
http://drprawedha.tumblr.com/post/30129407584/jadilah-orang-asing-atau-hanya-sekedar-lewat

Penghambat Revolusi

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.
“PENGAHAMBAT REVOLUSI” menjadi Hantu bagi mereka yang mengaku menyatu dengan madsa padahal kosong dalam pergerakan. senantiasa menghantui mereka untuk sekedar merasa tersinggung dan terpanggil agar bergerak. Jikalau TIDAK maka bertampang tebalah dan bermetamorfosalah menjadi HANTU YANG BISU.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (TQS. at-Taubah : 111)
Dalam busuknya kehidupan kapitalisme biadab yang tegak hari. tidak patut bagi kita yang memiliki mabda (Ideologi) Islam untuk berpangku tangan, mendiamkan diri untuk tenang membiarkan kapitalisme nayman disinggasana. Sungguh telah terjadi akad antara kita dengan sang khaliq, Allah ‘azza wa jalla, untuk menjual diri kepada-Nya.
Adalah sebuah kedustaan tatkala kita menyatakan “sah” untuk dibeli dengan surga Allah, namun bisu dalam mengemban risalah yang dibawa oleh kekasih-Nya. Membenturkan manisnya dunia yang menipu dengan tanggungjawab agung yang ada dipundak, atau merasa cukup dengan status aktifis pengkaji mabda. Camkan. []

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh.

Source :
http://drprawedha.tumblr.com/

IT’S NOT ABOUT FATE, IT’S NOT ABOUT DESTINY, BUT IT’S ABOUT CHOICE

Beberapa waktu yang lalu saya mencari lagu yang sudah lama sekali tidak saya dengar. Lagu yang membuat saya akhirnya kembali berpikir tentang eksistensi saya di dunia ini. Membuat saya berpikir untuk mencari alasan kenapa saya ada di dunia ini dan kenapa saya memilih jalan ini.
Iman tak dapat diwarisi
dari seorang ayah yang bertakwa
Ia tak dapat dijual-beli
Ia tiada di tepian pantai
(Raihan – Iman Mutiara)
Setelah saya pikir-pikir, potongan lirik di atas benar adanya. Keimanan atau aqidah itu bukanlah sesuatu yang diwarisi. Ia diperoleh melalui sebuah proses. Ia adalah jawaban dari pertanyaan inti yang akan menjawab segala pertanyaan yang ada di dunia ini. Ia adalah fondasi yang melandasi perbuatan dan ia pula yang menciptakan tingkah laku yang terpancar dalam sebuah kepribadian. Tentu yang saya bahas di sini adalah keimanan dalam Islam.
Dulu, ketika masih kecil saat ditanya, “Kenapa kamu beragama Islam?” Saya hanya bisa menjawab dengan  polosnya, “Karena orang tua saya Islam”. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya kembali berpikir, di samping melihat banyak fenomena yang terjadi di sekitar saya, bahwa keimanan bukanlah hal yang bisa diwarisi. Tidak ada seorangpun yang bisa menjamin itu. Mungkin, contoh yang bisa saya indera waktu itu adalah seorang guru agama yang notabene­­-nya pasti tahu tentang Islam, namun ternyata anaknya masih belum mengerti bagaimana pakaian yang benar dalam Islam. Dan di sisi lain saya melihat, anak seorang pegawai negeri sipil biasa yang pengetahuan Islamnya mungkin tidak sebagus orang yang lulusan ilmu agama ternyata justru lebih paham bagaimana pakaian dalam Islam, bahkan lebih dari itu. Ada lagi, seorang yang dulunya lahir dari keluarga non Islam, bisa memutuskan untuk memeluk Islam bahkan menjadi orang yang ikut menyebarkan Islam. Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa iman itu adalah sebuah pilihan. Pilihan yang diberikan Allah dalam hidup setiap manusia apapun latar belakangnya. Ia diperoleh melalui sebuah proses. Proses yang juga dipilih oleh manusia tanpa dipaksa. Keimanan bukanlah takdir. Karena setiap orang berhak masuk surga dan tidak ada jaminan bahwa seseorang yang sudah memeluk Islam tidak akan masuk neraka meski ada hadist yang menyatakan bahwa setiap Muslim pasti akan masuk surga, namun tidak menutup kemungkinan mereka masuk neraka dulu sebelum masuk surga.
Akhirnya saya memahami, tentunya setelah mengkaji lebih dalam bahwa keimanan diperoleh melalui proses berpikir yang didukung oleh bukti-bukti yang pasti kebenarannya, bukan sekedar doktrin atau ikut-ikutan semata karena keturunan, mencari ketenangan, keajaiban atau karena kebutuhan semata. Tetapi benar-benar menjadi sebuah keyakinan karena keimanan adalah landasan dalam kehidupan, terutama bagi seorang Muslim. Kebangkitannya ditentukan oleh seberapa kokoh keimanan atau aqidahnya.
Semua pasti tahu bahwa yang menjadikan manusia mulia karena manusia dianugerahkan akal oleh Allah. Tapi tidak semua orang memahami bahwa akal itulah yang digunakan untuk mendapatkan keimanan. Ketika seseorang mulai berpikir tentang alam semesta, manusia dan kehidupan maka ia akan mulai bertanya akan tiga hal, yakni:
·        Darimana ia berasal?
·        Untuk apa ia ada di dunia ini?
·        Mau kemana ia setelah kehidupan dunia ini?
Pertanyaan itulah yang berusaha ia jawab karena dengan terjawabnya 3 pertanyaan itu, maka terjawab pula seluruh pertanyaan yang akan muncul setelahnya. Tiga pertanyaan itulah yang akan membawa seseorang kepada keimanannya. Jika kita kembalikan kepada diri kita sebagai seorang Muslim, maka kita pasti akan meyakini bahwa dari Allah kita berasal. Karena kita yakin bahwa dunia ini tidak mungkin ada dengan sendirinya. Adanya sesuatu menunjukkan adanya Pencipta. Adanya ballpoint menunjukkan ada pabrik yang membuatnya. Begitu juga dengan dunia ini  (QS. Ali Imran [3] : 190).
Dan untuk mengetahui siapa Pencipta itu maka kita diyakinkan oleh al Qur’an yang merupakan firman Allah (QS. Al Baqarah [2] : 2). Di sana Allah memperkenalkan diriNya. Lebih dari itu, Allah tidak hanya sekedar memperkenalkan dirinya sebagai Pencipta, tetapi juga mempersembahkan sebuah aturan paripurna yang akan mengatur kehidupan ciptaanNya. Maka Allah adalah Pencipta sekaligus Pengatur (QS. Al A’raaf [7] : 54). Lalu, bagaimana Allah bisa mengatur manusia? Tentu Allah tidak mungkin mengatur manusia secara langsung. Oleh karena itu, Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan manusia untuk bisa menyampaikan risalah yang sudah Allah tetapkan untuk manusia sehingga manusia mampu mengerti (QS. Al Anbiyaa [21] : 107). Apakah selesai sampai disitu? Tentu saja tidak. Karena ternyata setelah kehidupan dunia manusia akan kembali kepada Allah dan akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama di dunia (QS. Al Anbiyaa [21] : 35). Sampai pada akhirnya manusia akan sampai pada tujuan terakhirnya. Dan pilihan manusia selama di dunia akan menentukan kemana ia akan kembali, ke surga atau ke neraka (QS. Al Zalzalah [99] : 7-8).
Keimanan adalah pilihan. Maka taat adalah sebuah konsekuensi dari keimanan. Ketika Islam menjadi keputusan maka keterikatan terhadap aturan Allah secara sempurna merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan karena setiap diri kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak dan kita pasti akan mendapatkan balasan atas apa yang kita kerjakan.
Wallahu ‘alam bi ash shawaab.


Thursday, July 26, 2012

Do'aku

Izinkan aku menengadahkan tangan, meminta untuk yang kesekian kali. Karena tak ada lagi sandaran jiwa selain kepadaMu, wahai Sang Pemilik Segala.

“Ya, Allah, limpahilah hatiku dengan belas kasih-Mu, baik pada siang dan malam hari maupun pada saat pagi dan petang silih berganti. Tak terlewatkan dalam hatiku, waktu aku tidur atau terjaga kecuali mengingat nama-Mu antara jiwa dan nafasku.
Engkau telah masukan kedalam hatiku sebuah pemahaman bahwa Engkau Maha Suci.
Telah banyak dosa yang telah kuperbuat, dan Engkau mengetahuinya. Namun, disaat petang menjelang dan pagi itu datang, aku masih juga berbuat dosa.
Tuntunlah aku pada jalan yang telah ditempuh oleh hamba-hamba-Mu yang shalih dari kalangan para Nabi, shadiqin, dan mujahidin. Dan janganlah sesatkan aku dalam menapaki jejak din-Mu ini.
Bimbinglah aku di dunia ini, dan di akhirat kelak, serta cerahkanlah wajahku pada saat kebanyakan orang bermuka masam.”

Saturday, July 14, 2012

Saigo no LOVE

Cinta, satu kata jutaan makna. Sepertinya ngomongin soal cinta gak bakal ada habisnya. Power apa sih yang dimiliki si cinta ini sampai-sampai dia selalu aja mengisi hari-hari setiap orang dengan warna-warni? Sekarang, apa sih hal yang gak ada sangkut-pautnya dengan cinta? Lagu, novel, sinetron, film, drama, anime, bahkan contoh kalimat tata bahasa yang saya pelajari juga pasti ada hubungannya dengan cinta. Hal kecil bisa jadi besar karena cinta. Hal yang sederhana bisa jadi rumit juga karena cinta. Sepertinya cinta itu multi-tafsir kalo dibalikin ke diri manusia masing-masing. Semua orang bisa jadi pujangga, bahkan untuk orang paling garing se-jagad raya.
Cinta, kadang beda tipis dengan obsesi, ambisi, dan segala hal yang menghiasinya. Bahkan benci pun sekatnya tipis banget dengan cinta. Orang bisa sangat bahagia dan flowering *berbunga-bunga* atau bahkan bisa sangat hancur karena cinta. Bahkan karena cinta yang haram bisa jadi halal lho *naudzubillah* Yah, itu sih kalo dibalikin ke pribadi (baca: perasaan) masing-masing, cinta akan jadi hal yang sangat multi-tafsir.
Saigo no LOVE. Ini bukan judul drama yang saya rampok trus saya jadiin judul tulisan. Kalo ada drama kayak gini, maaf-maaf aja, saya gak tahu. Yang pasti judul ini murni buatan saya saking udah gak kepikiran judul yang lain. Saigo no LOVE atau CINTA Terakhir. Kesannya kayak sendu banget ya judulnya? Tapi, saya gak bakalan ngebahas kisah romantis kok. Nanti aja kalo saya udah punya ide gila buat ngelanjutin jadi cerita *gak penting*
Cinta. Semua pasti pernah merasakan *bagi yang sudah baligh* Sampai ada tuh istilah First Love atau Love at the first sight *jiaaaahhh* Bahkan ada yang bilang, First Love Never Die *teori dari mana tuh?*

Manusia, balik lagi sama perasaannya. Hari ini cinta itu ada pada satu orang. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, dia bisa pindah ke orang yang lain. Buktinya? Orang yang ngakunya cinta dan mengekspresikan lewat pacaran bisa kan sampai gonta-ganti pacar berkali-kali *emang baju??* Perasaan manusia itu seperti langit di musim gugur. Senantiasa berubah tergantung waktu. Maka, Cinta pertama belum tentu akan jadi yang terakhir. Belum tentu. Cinta itu akan berpindah kemana dia mau. Makanya, dia butuh diatur. Dengan apa? Pastinya bukan dengan sekehendak hati dong. Kenapa? Karena cinta itu salah satu bentuk potensi yang sudah ada dalam diri manusia sejak ia diciptakan. Cuma salah satu. Berarti masih ada lagi dong? Ya, masih. Tapi, gak akan disinggung di sini. Cinta merupakan salah satu bentuk dorongan atau insting atau naluri manusia. Maka dari itu pemenuhannya harus diatur oleh sebuah aturan baku dari Yang Maha Tahu pastinya bukan dari Yang Maha ‘Sok’ Tahu.
Tapi, kalo udah nyinggung masalah perasaan atau hati, semua pasti pada lupa. Termasuk lupa sama aturan yang seharusnya ditaati. Miris banget ngeliat orang-orang mengekspresikan cinta mereka dengan jalan yang salah. Pacaran, gonta-ganti. Nikah, cerai-rujuk atau malah nikah-cerai, trus nikah lagi. Apa cinta segampang itu berpindah? Mungkin saja, apalagi kalo dia bebas dan gak diatur. Lagian, jaman sekarang mana ada sih aturan baku untuk cinta? Gak ada. Semua dikembalikan sama perasaan masing-masing orang. Trus, kalo udah kayak gitu, berarti gak ada dong yang namanya Saigo no LOVE?
Daripada semakin lama semakin ngawur, lebih baik kita sudahi saja kekacauan ini *???* 
Masalah cinta kalo dibahas emang gak bakal ada habisnya. Kenapa? Karena semua dibalikin ke perasaan. Gak salah sih. Itu wajar, karena manusia punya yang namanya potensi kehidupan, salah satunya naluri. Dan salah satu naluri itu adalah naluri berkasih-sayang. Jadi, wajar kalo manusia merasakan yang namanya perasaan cinta dan kasih sayang. Namun, SANGAT PENTING untuk diingat bahwa yang menciptakan naluri itu adalah Allah. Allah tidak asal menciptakan tetapi Allah juga mengatur naluri itu. Jadi, kalo yakin ciptaan Allah berarti harus MAU diatur dengan aturan Allah termasuk dalam hal naluri. Tapi, kenyataannya sekarang aturan Allah tidak digunakan dalam kehidupan. Sekarang manusia menggunakan aturannya sendiri. Ngerasa SOK PALING TAHU masalah dirinya. Padahal, siapa sih dia? 
Nah, makanya jangan heran kalo sekarang itu CINTA seperti gak ada harganya. Bisa dilempar kesana kemari dan bahkan bisa dijual murah. Dengan sistem sekarang orang sangat gampang untuk jatuh cinta, tapi cintanya bukan sama Allah dan Rasulullah, tapi sama materi. Cintanya gak punya landasan sama sekali. RAPUH. Sekali lagi CINTANYA RAPUH. Ada yang gak sepakat? Silahkan komplain. Tapi sama Allah ya :)   
Padahal Allah sudah memberikan aturan terkait hal ini. Kecintaan tertinggi hanyalah kepadaNya dan RasulNya, baru kemudian kepada yang lain. Dan mencintai yang lain pun harus ada landasannya. Apa itu, ya tentu saja landasan cinta kepada Allah. Kalo cinta kepada Allah ditaruh di belakang, saya jamin 1000%, hidup gak bakalan tenang. Lihat aja sekarang, ketika cinta hanya dibalut dengan perasaan sebagai seorang manusia tanpa landasan, kata kebahagiaan itu hanya seperti fatamorgana. Maka, landasilah cinta itu dengan KEIMANAN dengan sebenar-benarnya IMAN kepada Allah dan kecintaan kepadaNya serta kepada RasulNya. Ingatlah, bahwa kita semua berasal dari Allah dan sudah menjadi hak Allah kalo sewaktu-waktu DIA berniat mengambil apa yang seharusnya menjadi milikNya termasuk diri kita, keluarga kita, sahabat kita dan apapun yang kita cintai.
Saigo no LOVE. Pada akhirnya, DIA yang akan menjadi cinta terakhir. Manusia seringkali lupa. Setiap saat mereka meminta banyak hal padaNya. Namun, ketika DIA mengajari mereka untuk bersabar, mereka marah dan menyalahkanNya. DIA selalu ada, di saat mereka butuh sandaran bahkan DIA selalu menawarkan diri untuk menjadi sandaran. Namun, hampir-hampir tak ada yang mencintaiNya setulus hati. Karena mereka sudah lebih dulu memiliki cinta pertama, kedua, ketiga, dst. Tapi, manusia harus tahu, kemanapun mereka pergi dan sejauh apapun mereka melangkah, mereka tetap akan kembali ke sisiNya. Karena DIA akan menjadi CINTA TERAKHIR.
Wallahu 'alam bi ash shawaab.

MY UNLUCKY DAY

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat salah paham terhadap sebuah kejadian yang menimpa saya. Tulisan ini hanyalah renungan. Mungkin saja, di dunia ini ada orang lain yang pernah merasakan dan menganggap hal tersebut sama dengan anggapan saya dan sama dengan apa yang saya rasakan.
Sore itu saya bermaksud ke kampus untuk sebuah keperluan. Mencari tempat dengan sinyal terkuat dan posisi yang strategis. Tapi, tidak seperti biasa, hari itu sangat aneh menurut saya. Dan saya pun akhirnya membuat sebuah kesimpulan bahwa saya sedang tidak beruntung pada hari itu. Dimulai dengan ketika saya sedang menikmati aktivitas ngenet saya di tempat favorit saya, tentunya. Tiba-tiba, salah seorang Satpam datang menghampiri saya.
“Mbak, jangan ngenet di sini. Kalo mo ngenet, di bawah aja. Di sini sering ada kehilangan soalnya,” kata bapak Satpam itu.
Dengan langkah berat, daripada muncul keributan saya menuruti perkataan Satpam itu. Saya melesat ke dalam lift dan akhirnya saya ngenet di depan gedung megah itu. Namun ternyata saya *lagi-lagi* kurang beruntung. Di saat-saat terakhir download-an saya, baterai laptop saya sekarat dan akhirnya laptop saya stand by. Ditambah lagi, di sekitar situ tidak ada sambungan untuk menge-charge. Dengan berat hati saya meninggalkan tempat itu.
Detik-detik menjelang azan maghrib. Saya berdiri dan tiba-tiba saya merasa ada yang aneh dengan kaki saya. Astaghfirullahaladziim, sepatu saya jebol satu. Saya mencoba berjalan pelan-pelan. Dan sepertinya sepatu saya sudah tidak kuat untuk menanggung gesekan dengan aspal. Dengan berat hati, saya pun melepas kedua sepatu itu. Rasa lucu dan sedih bercampur menjadi satu. Saya tidak sempat menangis. Lagipula, menangis di tempat seperti itu sangat memalukan. Apalagi ada dua orang yang juga sedang berjalan melewati jalan itu. Waktu itu saya sempat berbicara sendiri. Sepertinya kedua orang itu melihat kegaduhan yang saya buat sendiri saking hebohnya karena baru pertama kali saya mengalami kejadian seperti itu. Saya lalu menelpon salah seorang teman saya dan menceritakan kejadian yang saya alami. Pada waktu itu heboh sekali. Aah, jadi malu rasanya jika diingat-ingat lagi.
Kesalahan saya waktu itu adalah saya tidak bersabar sejak awal. Memang, saya tidak marah atau uring-uringan. Tapi, kehebohan yang saya buat sendiri menunjukkan bahwa saya tidak bersabar. Padahal, konsep sabar itu dimulai dari awal sampai akhir. Pahalanya akan berbeda antara orang yang bersabar terus-menerus dengan orang yang sabarnya setengah-setengah. Dan akhirnya saya menyimpulkan bahwa waktu itu saya tidak sabar dan mungkin saja keikhlasan saya berkurang.
Akhirnya, saya pulang dengan menenteng sepatu saya dan hanya memakai kaos kaki. Saya pun jadi bahan tertawaan orang-orang di jalan karena melihat penampilan saya, termasuk Satpam di gerbang yang saya lewati pada saat akan keluar kampus. Namun, saya dapat memetik pelajaran berharga dari hari itu. Kejadian itu bisa saja menimpa saya lagi apalagi kalau ternyata sebelumnya Allah menyatakan saya belum lulus ujian kesabaran.
Semoga ini menjadi pelajaran bagi saya dan mungkin saja ada diantara kita yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Seorang Muslim tidak akan mengenal hari kesialan. Kejadian yang menimpa kita di luar kekuasaan kita merupakan ketetapan Allah, namun bukan berarti Allah otoriter pada kita, karena ada hal-hal yang bisa kita pilih dan kita usahakan sendiri. Terkait hal yang menimpa kita di luar kekuasaan kita, disitulah harus diletakkan kesabaran dan keyakinan penuh bahwa kita adalah seorang Hamba yang mau tidak mau harus mematuhi Sang Pencipta yakni Allah swt.
Wallahu 'alam bi ash shawaab.