Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman kembali membagi tulisannya kepada saya. Semoga bermanfaat :)
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat”. (HR Bukhari)
Kita sama-sama tahu. Orang yang safar (dalam
perjalanan) memahami betul bahwa Mereka tidak merasa senang dengan
keadaan safarnya, Mereka memahami bahwa mereka pergi hanya
sementara, Mereka menyadari bahwa semua akan mereka tinggalkan, Mereka
merindukan berkumpul kembali pada tempat asalnya.
Begitu juga manusia. Manusia yang mengerti
apa tujuan hidupnya. Mereka dalam berjalanan menuju kampung halaman
(Jannah). dan dunia ini adalah safar mereka. Lantas walaupun dalam
safarnya, mereka hidup enak, mereka tidak akan betah berlama-lama hidup
dalam safarnya.
Kehidupan dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi seorang kafir (HR. Muslim)
Mari kita analogikan :
Seseorang dari kampung, lantas kemudian hidup di kota besar untuk mencari penghasilan. Dalam usahanya itu ia akan menetap sementara di suatu kota. sehingga ia memutuskan untuk menyewa kost. tiap bulan Ia menerima gaji yang lumayan besar. hingga berbulan-bulan. bertahun-tahun. namun kemudian kita lihat kehidupannya. Hidupnya tetap juga tak berubah. begitupun keadaan kostnya. Hingga suatu saat, Orang tersebut berhenti dari pekerjaannya. Lantas Ia kembali ke kampung halamannya. Tebak, apakah keluarganya merasa kecewa. karena dia tak mampu merubah hidupnya walaupun bertahun-tahun hidup di kota besar?
Mari kita lihat keadaannya…
Seseorang dari kampung, lantas kemudian hidup di kota besar untuk mencari penghasilan. Dalam usahanya itu ia akan menetap sementara di suatu kota. sehingga ia memutuskan untuk menyewa kost. tiap bulan Ia menerima gaji yang lumayan besar. hingga berbulan-bulan. bertahun-tahun. namun kemudian kita lihat kehidupannya. Hidupnya tetap juga tak berubah. begitupun keadaan kostnya. Hingga suatu saat, Orang tersebut berhenti dari pekerjaannya. Lantas Ia kembali ke kampung halamannya. Tebak, apakah keluarganya merasa kecewa. karena dia tak mampu merubah hidupnya walaupun bertahun-tahun hidup di kota besar?
Mari kita lihat keadaannya…
Walaupun bertahun-tahun hidup
dikota. dengan gajji yang lumayan besar. Lantas tidak mengubah hidup
orang tersebut. Apa kata orang itu?
“Mas, kenapa udah bertahun-tahun hidup di kota tapi kok hidupmu ga maju-maju mas?”
“Karena saya kirim gaji saya untuk bekal ketika saya kelak kembali ke kampung halaman saya”
“Kenapa ga buat rumah aja mas di Kota, kan enak”
“Begini, di kota itu saya hanya perantauan alias orang yang dalam safar. Saya yakin kelak, saya akan kembali ke kampung halaman, jadi saya mempersiapkan segala sesuatunya, agar kelak saya akan menikmati jerih payah saya selama bertahun-tahun. Karena saya Yakin, dan saya memahami bahwa saya pergi hanya sementara, saya menyadari bahwa semua akan saya tinggalkan, saya rindu akan berkumpul kembali pada tempat asalnya.
“Kenapa ga buat rumah aja mas di Kota, kan enak”
“Begini, di kota itu saya hanya perantauan alias orang yang dalam safar. Saya yakin kelak, saya akan kembali ke kampung halaman, jadi saya mempersiapkan segala sesuatunya, agar kelak saya akan menikmati jerih payah saya selama bertahun-tahun. Karena saya Yakin, dan saya memahami bahwa saya pergi hanya sementara, saya menyadari bahwa semua akan saya tinggalkan, saya rindu akan berkumpul kembali pada tempat asalnya.
Dan benar saja, jika di kota, Kost yang dia
tinggali sangatlah kumuh. Lantas bertahun-tahun itu pula ia hidup
disana. membuat ia tak senang dalam safarnya. hingga saat Ia pulang ke
kampung halamannya. Ternyata Ia sudah membangun rumah yang mewah. yang
didalamnya terdapat perabot-perabot yang harganya terbilang mahal. Dari
sini kita dapat petik hikmah, bahwa..
Kita adalah Orang yang sedang dalam
perjalanan. kita tahu betul bahwa hidup dalam perjalanan itu pasti
susah. karena perjalanan adalah tempat mencari bekal. sehingga kita
memahami betul bahwa kita tidak akan merasa senang dengan keadaan safar
kita walaupun hidup kita dalam perjalanan itu enak. kita pasti tetap
akan merindukan kampung halaman, Kita pergi hanya sementara, dan semua
akan kita tinggalkan, karena kita merindukan berkumpul kembali pada
tempat asalnya.
Manusia yang mengerti tujuan hidupnya.
mengetahui jika dunia ini adalah Safarnya. dan Akhirat adalah kempung
halamannya. Lantas orang yang sukses dalam perantauannya adalah orang
yang mencari bekal sebanyak-banyaknya agar kelak saat kembali ke kampung
halamannya, dia bisa menikmati jerih payahnya.
Lantas muncul pertanyaan.. “Apakah kita sudah memiliki bekal yang banyak untuk kita nikmati di kampung halaman kita (Jannah)?”
Lantas muncul pertanyaan.. “Apakah kita sudah memiliki bekal yang banyak untuk kita nikmati di kampung halaman kita (Jannah)?”
Renungi dan Resapi, kita hidup tidaklah
lama.. Jika Perjalanan hidup kita di dunia hanyalah kurang lebih 70
tahun. lantas Maksimal di Alam kubur 7000 tahun, di padang masyar. lebih
kurang 50.000 tahun. menanti apa kita akan menerima hasil dari kanan
atau belakang.. lantas kita akan kembali ke kampung halaman Akhirat..
Sudahkah kita mempersiapkan itu. Ataukah kita lupa? Renungilah..Wassalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh.
Surakarta, 7 Syawal 1433
source :
http://drprawedha.tumblr.com/post/30129407584/jadilah-orang-asing-atau-hanya-sekedar-lewat
No comments:
Post a Comment