Beberapa
waktu yang lalu saya mencari lagu yang sudah lama sekali tidak saya dengar.
Lagu yang membuat saya akhirnya kembali berpikir tentang eksistensi saya di
dunia ini. Membuat saya berpikir untuk mencari alasan kenapa saya ada di dunia
ini dan kenapa saya memilih jalan ini.
Iman tak dapat diwarisi
dari seorang ayah yang bertakwa
Ia tak dapat dijual-beli
Ia tiada di tepian pantai
(Raihan – Iman Mutiara)
Setelah
saya pikir-pikir, potongan lirik di atas benar adanya. Keimanan atau aqidah itu
bukanlah sesuatu yang diwarisi. Ia diperoleh melalui sebuah proses. Ia adalah
jawaban dari pertanyaan inti yang akan menjawab segala pertanyaan yang ada di
dunia ini. Ia adalah fondasi yang melandasi perbuatan dan ia pula yang
menciptakan tingkah laku yang terpancar dalam sebuah kepribadian. Tentu yang
saya bahas di sini adalah keimanan dalam Islam.
Dulu,
ketika masih kecil saat ditanya, “Kenapa kamu beragama Islam?” Saya hanya bisa
menjawab dengan polosnya, “Karena orang
tua saya Islam”. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya kembali
berpikir, di samping melihat banyak fenomena yang terjadi di sekitar saya,
bahwa keimanan bukanlah hal yang bisa diwarisi. Tidak ada seorangpun yang bisa
menjamin itu. Mungkin, contoh yang bisa saya indera waktu itu adalah seorang
guru agama yang notabene-nya pasti tahu tentang Islam, namun ternyata
anaknya masih belum mengerti bagaimana pakaian yang benar dalam Islam. Dan di
sisi lain saya melihat, anak seorang pegawai negeri sipil biasa yang
pengetahuan Islamnya mungkin tidak sebagus orang yang lulusan ilmu agama
ternyata justru lebih paham bagaimana pakaian dalam Islam, bahkan lebih dari
itu. Ada lagi, seorang yang dulunya lahir dari keluarga non Islam, bisa
memutuskan untuk memeluk Islam bahkan menjadi orang yang ikut menyebarkan
Islam. Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa iman itu adalah sebuah
pilihan. Pilihan yang diberikan Allah dalam hidup setiap manusia apapun latar
belakangnya. Ia diperoleh melalui sebuah proses. Proses yang juga dipilih oleh
manusia tanpa dipaksa. Keimanan bukanlah takdir. Karena setiap orang berhak
masuk surga dan tidak ada jaminan bahwa seseorang yang sudah memeluk Islam
tidak akan masuk neraka meski ada hadist yang menyatakan bahwa setiap Muslim
pasti akan masuk surga, namun tidak menutup kemungkinan mereka masuk neraka
dulu sebelum masuk surga.
Akhirnya
saya memahami, tentunya setelah mengkaji lebih dalam bahwa keimanan diperoleh
melalui proses berpikir yang didukung oleh bukti-bukti yang pasti kebenarannya,
bukan sekedar doktrin atau ikut-ikutan semata karena keturunan, mencari
ketenangan, keajaiban atau karena kebutuhan semata. Tetapi benar-benar menjadi
sebuah keyakinan karena keimanan adalah landasan dalam kehidupan, terutama bagi
seorang Muslim. Kebangkitannya ditentukan oleh seberapa kokoh keimanan atau
aqidahnya.
Semua
pasti tahu bahwa yang menjadikan manusia mulia karena manusia dianugerahkan
akal oleh Allah. Tapi tidak semua orang memahami bahwa akal itulah yang
digunakan untuk mendapatkan keimanan. Ketika seseorang mulai berpikir tentang
alam semesta, manusia dan kehidupan maka ia akan mulai bertanya akan tiga hal,
yakni:
·
Darimana
ia berasal?
·
Untuk
apa ia ada di dunia ini?
·
Mau
kemana ia setelah kehidupan dunia ini?
Pertanyaan
itulah yang berusaha ia jawab karena dengan terjawabnya 3 pertanyaan itu, maka terjawab
pula seluruh pertanyaan yang akan muncul setelahnya. Tiga pertanyaan itulah
yang akan membawa seseorang kepada keimanannya. Jika kita kembalikan kepada
diri kita sebagai seorang Muslim, maka kita pasti akan meyakini bahwa dari
Allah kita berasal. Karena kita yakin bahwa dunia ini tidak mungkin ada dengan
sendirinya. Adanya sesuatu menunjukkan adanya Pencipta. Adanya ballpoint
menunjukkan ada pabrik yang membuatnya. Begitu juga dengan dunia ini (QS. Ali Imran [3] : 190).
Dan
untuk mengetahui siapa Pencipta itu maka kita diyakinkan oleh al Qur’an yang
merupakan firman Allah (QS. Al Baqarah [2] : 2). Di sana Allah memperkenalkan
diriNya. Lebih dari itu, Allah tidak hanya sekedar memperkenalkan dirinya
sebagai Pencipta, tetapi juga mempersembahkan sebuah aturan paripurna yang akan
mengatur kehidupan ciptaanNya. Maka Allah adalah Pencipta sekaligus Pengatur
(QS. Al A’raaf [7] : 54). Lalu, bagaimana Allah bisa mengatur manusia? Tentu
Allah tidak mungkin mengatur manusia secara langsung. Oleh karena itu, Allah
mengutus seorang Rasul dari kalangan manusia untuk bisa menyampaikan risalah
yang sudah Allah tetapkan untuk manusia sehingga manusia mampu mengerti (QS. Al
Anbiyaa [21] : 107). Apakah selesai sampai disitu? Tentu saja tidak. Karena
ternyata setelah kehidupan dunia manusia akan kembali kepada Allah dan akan
mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama di dunia (QS. Al Anbiyaa [21]
: 35). Sampai pada akhirnya manusia akan sampai pada tujuan terakhirnya. Dan
pilihan manusia selama di dunia akan menentukan kemana ia akan kembali, ke
surga atau ke neraka (QS. Al Zalzalah [99] : 7-8).
Keimanan
adalah pilihan. Maka taat adalah sebuah konsekuensi dari keimanan. Ketika Islam
menjadi keputusan maka keterikatan terhadap aturan Allah secara sempurna
merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan karena setiap diri kita pasti
akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak dan kita pasti akan
mendapatkan balasan atas apa yang kita kerjakan.
Wallahu ‘alam bi ash shawaab.
No comments:
Post a Comment