Tuesday, August 28, 2012

IT’S NOT ABOUT FATE, IT’S NOT ABOUT DESTINY, BUT IT’S ABOUT CHOICE

Beberapa waktu yang lalu saya mencari lagu yang sudah lama sekali tidak saya dengar. Lagu yang membuat saya akhirnya kembali berpikir tentang eksistensi saya di dunia ini. Membuat saya berpikir untuk mencari alasan kenapa saya ada di dunia ini dan kenapa saya memilih jalan ini.
Iman tak dapat diwarisi
dari seorang ayah yang bertakwa
Ia tak dapat dijual-beli
Ia tiada di tepian pantai
(Raihan – Iman Mutiara)
Setelah saya pikir-pikir, potongan lirik di atas benar adanya. Keimanan atau aqidah itu bukanlah sesuatu yang diwarisi. Ia diperoleh melalui sebuah proses. Ia adalah jawaban dari pertanyaan inti yang akan menjawab segala pertanyaan yang ada di dunia ini. Ia adalah fondasi yang melandasi perbuatan dan ia pula yang menciptakan tingkah laku yang terpancar dalam sebuah kepribadian. Tentu yang saya bahas di sini adalah keimanan dalam Islam.
Dulu, ketika masih kecil saat ditanya, “Kenapa kamu beragama Islam?” Saya hanya bisa menjawab dengan  polosnya, “Karena orang tua saya Islam”. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya kembali berpikir, di samping melihat banyak fenomena yang terjadi di sekitar saya, bahwa keimanan bukanlah hal yang bisa diwarisi. Tidak ada seorangpun yang bisa menjamin itu. Mungkin, contoh yang bisa saya indera waktu itu adalah seorang guru agama yang notabene­­-nya pasti tahu tentang Islam, namun ternyata anaknya masih belum mengerti bagaimana pakaian yang benar dalam Islam. Dan di sisi lain saya melihat, anak seorang pegawai negeri sipil biasa yang pengetahuan Islamnya mungkin tidak sebagus orang yang lulusan ilmu agama ternyata justru lebih paham bagaimana pakaian dalam Islam, bahkan lebih dari itu. Ada lagi, seorang yang dulunya lahir dari keluarga non Islam, bisa memutuskan untuk memeluk Islam bahkan menjadi orang yang ikut menyebarkan Islam. Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa iman itu adalah sebuah pilihan. Pilihan yang diberikan Allah dalam hidup setiap manusia apapun latar belakangnya. Ia diperoleh melalui sebuah proses. Proses yang juga dipilih oleh manusia tanpa dipaksa. Keimanan bukanlah takdir. Karena setiap orang berhak masuk surga dan tidak ada jaminan bahwa seseorang yang sudah memeluk Islam tidak akan masuk neraka meski ada hadist yang menyatakan bahwa setiap Muslim pasti akan masuk surga, namun tidak menutup kemungkinan mereka masuk neraka dulu sebelum masuk surga.
Akhirnya saya memahami, tentunya setelah mengkaji lebih dalam bahwa keimanan diperoleh melalui proses berpikir yang didukung oleh bukti-bukti yang pasti kebenarannya, bukan sekedar doktrin atau ikut-ikutan semata karena keturunan, mencari ketenangan, keajaiban atau karena kebutuhan semata. Tetapi benar-benar menjadi sebuah keyakinan karena keimanan adalah landasan dalam kehidupan, terutama bagi seorang Muslim. Kebangkitannya ditentukan oleh seberapa kokoh keimanan atau aqidahnya.
Semua pasti tahu bahwa yang menjadikan manusia mulia karena manusia dianugerahkan akal oleh Allah. Tapi tidak semua orang memahami bahwa akal itulah yang digunakan untuk mendapatkan keimanan. Ketika seseorang mulai berpikir tentang alam semesta, manusia dan kehidupan maka ia akan mulai bertanya akan tiga hal, yakni:
·        Darimana ia berasal?
·        Untuk apa ia ada di dunia ini?
·        Mau kemana ia setelah kehidupan dunia ini?
Pertanyaan itulah yang berusaha ia jawab karena dengan terjawabnya 3 pertanyaan itu, maka terjawab pula seluruh pertanyaan yang akan muncul setelahnya. Tiga pertanyaan itulah yang akan membawa seseorang kepada keimanannya. Jika kita kembalikan kepada diri kita sebagai seorang Muslim, maka kita pasti akan meyakini bahwa dari Allah kita berasal. Karena kita yakin bahwa dunia ini tidak mungkin ada dengan sendirinya. Adanya sesuatu menunjukkan adanya Pencipta. Adanya ballpoint menunjukkan ada pabrik yang membuatnya. Begitu juga dengan dunia ini  (QS. Ali Imran [3] : 190).
Dan untuk mengetahui siapa Pencipta itu maka kita diyakinkan oleh al Qur’an yang merupakan firman Allah (QS. Al Baqarah [2] : 2). Di sana Allah memperkenalkan diriNya. Lebih dari itu, Allah tidak hanya sekedar memperkenalkan dirinya sebagai Pencipta, tetapi juga mempersembahkan sebuah aturan paripurna yang akan mengatur kehidupan ciptaanNya. Maka Allah adalah Pencipta sekaligus Pengatur (QS. Al A’raaf [7] : 54). Lalu, bagaimana Allah bisa mengatur manusia? Tentu Allah tidak mungkin mengatur manusia secara langsung. Oleh karena itu, Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan manusia untuk bisa menyampaikan risalah yang sudah Allah tetapkan untuk manusia sehingga manusia mampu mengerti (QS. Al Anbiyaa [21] : 107). Apakah selesai sampai disitu? Tentu saja tidak. Karena ternyata setelah kehidupan dunia manusia akan kembali kepada Allah dan akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama di dunia (QS. Al Anbiyaa [21] : 35). Sampai pada akhirnya manusia akan sampai pada tujuan terakhirnya. Dan pilihan manusia selama di dunia akan menentukan kemana ia akan kembali, ke surga atau ke neraka (QS. Al Zalzalah [99] : 7-8).
Keimanan adalah pilihan. Maka taat adalah sebuah konsekuensi dari keimanan. Ketika Islam menjadi keputusan maka keterikatan terhadap aturan Allah secara sempurna merupakan sebuah keniscayaan yang harus dilakukan karena setiap diri kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak dan kita pasti akan mendapatkan balasan atas apa yang kita kerjakan.
Wallahu ‘alam bi ash shawaab.


No comments:

Post a Comment