Thursday, November 24, 2011

Between You and I

Aku tidak tahu, apakah membahasmu disini merupakan bentuk penyesalan. Aku berlindung kepada Allah swt untuk itu. Mungkin, aku hanya ingin mengenang saat-saat kita bersama. Saat dimana aku sering abai akan kehadiranmu. Dan saat ini, aku melihatmu sedang tertidur, entah untuk berapa lama. Satu hal, aku masih ingin kau ada di sisiku.

Harus kau tahu, aku tidak sedang patah hati karenamu. Hatiku telah selesai saat aku tahu Allah ingin mengujiku lewat keadaanmu yang sekarang kritis. Apa yang kutulis hanyalah ungkapan yang tidak bisa kuungkapkan padamu dulu, saat kau masih setia menemaniku.

Maafkan aku yang seringkali cuek padamu. Aku hampir mengabaikanmu. Kau lebih banyak bercengkrama dengan mereka. Maafkan aku karena aku pernah mengatakan bahwa aku menyesal dengan kehadiranmu. Namun, benarlah bahwa sesuatu akan terasa berharga saat ia telah tiada. Maafkan aku...

Kini, kau sedang tertidur. Semoga kau merasakan kedamaian dalam tidurmu. Terima kasih telah menemaniku selama setahun ini. Menjadi sarana kami dalam berdakwah. Jumat kemarin mungkin kali terakhirmu mengisi kajian Batik di kampus. Membawamu saat hujan dan panas. Kau sangat membantu. Tidak hanya aku, tetapi semua yang butuh akan bantuanmu.

Beristirahatlah. Aku ingin kau tahun bahwa aku selalu menghargai jasa-jasamu. Aku tidak ingin mengucapkan selamat jalan. Karena Allah pasti akan mengembalikanmu padaku.

In Memoriam, Prince (August 4th 2010-November 19th 2011)

Kesempatan Kedua

Ini bukan judul lagu. Kalopun udah jadi judul lagu, gak apa-apa juga sih. Yang bakal saya tulis di sini gak ada hubungannya kok dengan lagu "Kesempatan Kedua"..

Mungkin, sebagian orang percaya bahwa kesempatan yang baik tidak akan datang dua kali. Tapi, sepertinya dalam kamus Allah akan selalu ada hal-hal yang menurut orang banyak tidak mungkin. Seperti kata kubu yang lain "nothing impossible".
Ya, itulah yang terjadi. Kejadian beberapa waktu yang lalu seakan menampar saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah azza wa jalla. Ketika itu Allah bisa saja menetapkan keputusanNya dan mencabut semua yang ada pada diri saya. Namun, Dia hanya memberi sedikit peringatan. Hingga saya tersadar bahwa kasih sayangNya sungguh amat sangat luas.

Dari peristiwa itu, Dia mengajari saya bagaimana menyemai hati yang selesai. Bagaimana memupuk dan menyuburkan kesabaran, bagaimana mengikhlaskan sesuatu, serta hal lain yang mungkin saja tidak dapat saya ambil pelajaran dari sana. Hanya dengan kondisi seperti ini Dia sekali lagi membuktikan bahwa Dia sungguh Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, yang Menggenggam Jiwa
Yang mengetahui setiap detil hati,
yang tersembunyi, maupun yang ditampakkan
Sungguh, ujianMu membawa ibrah tersendiri bagiku
Bagaimana seharusnya aku terhadap diriku, terhadap saudara-saudaraku, terhadap amanah dakwah yang harus kupikul
Mataku basah. Bukan sengaja menangisi keadaan ataupun menyalahkan diriku sendiri
Namun karena sadarku atas diriku yang penuh dosa dan terima kasihku kepadaMu
yang mengizinkan dosa ini terhapuskan..


@12.52PM
Di dalam kamar, menikmati semilir angin yang tak bisa menembus lewat jendela

Monday, October 10, 2011

ULANG TAHUN

Setiap hari dalam setahun, selalu ada orang yang memperingati hari kelahirannya. Lazimnya hari itu dinamakan hari Ulang Tahun. Dalam bahasa Inggris disebut Birthday, bahasa Korea disebut Saengil, kalau dalam bahasa Jepang disebut Tanjoubi. Ketika hari itu tiba, semua orang terdekat mengucapkan “selamat ulang tahun” kepada mereka yang sedang berulang tahun, diiringi ucapan doa. Tidak lupa hadiah dan kue ulang tahun beserta lilin di atasnya. Sebelum memotong kue, seseorang yang berulang tahun harus mengucapkan permohonan terlebih dahulu.
Jika dilihat sepintas, semua itu tampak begitu indah. Didoakan oleh orang-orang terdekat di hari kelahiran. Bersenang-senang dan bercanda bersama. Hari yang begitu indah. Apalagi bagi yang usianya genap 17 tahun. Moment itu sangat ditunggu-tunggu. Pasalnya, menurut ‘kebanyakan’ orang di dunia ini, 17 tahun adalah gerbang menuju kedewasaan. Orang yang sudah berusia 17 tahun bebas mengambil keputusan sendiri dan melakukan apapun tanpa campur tangan orang lain lagi. Tetapi, kebanyakan yang berulang tahun tidak menyadari bahwa semakin umur mereka bertambah, maka gerbang mereka menuju masa tua semakin dekat. Bukan hanya tua secara fisik tetapi juga lebih dari itu.
Terkadang kita tidak menyadari bahwa dunia ini hanya sebentar sehingga ketika hari berganti bulan dan bulan berganti tahun kita menganggapnya biasa saja seolah kita akan hidup selamanya apalagi dengan keindahan dan gemerlap dunia. Apalagi yang usianya masih belasan, termasuk saya. Kita terkadang lupa, bahwa kita tidak akan hidup selamanya. Tidak ada yang menjamin kita masih bisa mengecap hidup sampai tahun depan. Kita lupa bahwa bukan saja orang tua yang akan mendekat batas akhir hidup mereka, tetapi kita juga, para kaum muda. Akhirnya, kita menghabiskan masa muda kita untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan berstandar dunia. Apalagi kalau bukan materi?
Begitu hari kelahiran kita tiba, kita hanya menunggu ucapan, hadiah atau doa dari orang-orang terdekat kita. Namun, sangat jarang kita merenungi kehidupan yang sudah kita lalui sejak kita mengenal kata “ulang tahun”. Apa yang sudah kita lakukan selama usia kita hingga kita sampai pada usia kita yang sekarang? Jika pun kita merenung, hanya sepintas saja. Setelah kita kembali menghadapi gemerlap dunia, kita kembali lupa. Dan kita baru menyesal ketika malaikat maut datang dan mengambil batas usia kita. Astaghfirullahaladzim…
Jika pun semua mendoakan kita panjang umur, tidak akan ada seorang pun dari mereka yang bisa menjamin seberapa panjang umur kita. Karena, Allah sudah menentukannya sejak awal, sebelum kita bersaksi atas keesaanNya dan mengakui keberadaan RasulNya. Lalu, jika ada yang mengucapkan selamat atas hari kelahiran kita berarti bisa kita katakan bahwa secara tidak langsung orang tersebut mengucapkan selamat atas hari semakin dekatnya kita dengan batas akhir usia kita. Padahal, hari apapun itu, semua itu adalah hadiah. Hadiah dari Dia yang memiliki segalanya. Allah swt. Hadiah terbesar dariNya adalah menganugerahkan kita waktu berupa umur serta akal yang bisa kita gunakan untuk berfikir.
Sebagai seorang Muslim hendaknya kita lebih bijaksana dalam menyikapi hari yang disebut dengan hari ulang tahun. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan kita untuk merayakan ulang tahun. Apalagi dengan bersenang-senang, campur-baur dsb. Rasulullah justru selalu mengajari kita untuk merenungi dan mempergunakan waktu kita sebaik mungkin untuk beribadah kepada Allah karena waktu itu laksana pedang. Waktu tidak akan pernah menunggu. Kitalah yang berlari mengejar waktu. Allah pun mengingatkan kita dalam firmanNya :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al Ashr [103] : 1-3).
Dalam ayat lain Allah juga mengingatkan kita.
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al Ankabuut [29] : 64).
“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS. Al Hadiid [59] : 20).

Selagi kita masih muda, gunakanlah masa muda kita dengan sebaik-baiknya sebelum sampai batas waktu kita. Karena sesungguhnya manusia diikuti oleh 99 macam sebab kematian dan selainnya adalah hari tua. Sebelum hari itu datang, di hari ini sepatutnya kita merenung. Bukan hanya pada hari kita dilahirkan tetapi setiap hari, merenung tentang apa yang sudah kita lakukan hari ini dalam rangka melaksanakan kewajiban kita untuk beribadah kepada Allah? Apa yang sudah kita lakukan hari ini dalam rangka memperbaiki diri kita agar Allah ridho pada kita? Apa yang sudah kita lakukan dalam rangka menjemput hidayah dariNya?
Renungkanlah, karena waktu tidak akan pernah bisa digantikan. Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

Kendari,
2 September 2011 @11.31 AM
Dalam kontemplasi

Friday, August 19, 2011

UNTUK HARI INI

Untuk hari ini
Kupersembahkan segenap hatiku untukNya
UntukNya yang selalu ada
Untuk hari ini
Kubersihkan pikiranku
Untuk tetap memikirkanNya
Untuk hari ini
Untuk waktu yang tidak mungkin kembali
Untuk waktu yang terus berlari
      Untuk hari ini
      Aku ingin mencintaiNya
      Dengan hatiku..

HARI INI

Ini cerita tentang hari ini
Tentang hidup yang terus berjalan
Tentang waktu yang terus berdetak
Tentang mimpi yang masih saja menjadi angan-angan
       Hari ini banyak sekali cerita
       Hujan pada awan
       Langit pada hujan
       Waktu pada kehidupan
Dan esok
Dia akan datang
Namun hari ini
Mungkin tidak akan bisa menemaninya


Thursday, August 11, 2011

YANG MUDA YANG BERJUANG...


Apakah aku sudah berubah? Mungkin saja. Sejak dulu malah..

Kalau orang-orang pada bilang, ”yang muda, yang bercinta” saya justru harus bilang, ”Yang Muda yang Berjuang”. Why???  Iya, karena yang muda itu masih punya banyak kesempatan. Masa depan mereka jauh terbentang ke depan. Ibaratnya, umur mereka masih panjang, so mereka yang bakalan jadi harapan ke depan buat nerusin perjuangan. Perjuangan? Perjuangan yang mana tuh? Perjuangan kayak yang dilakuin sama pahlawan macam Jenderal Sudirman cs? Ya, ngga gitu-gitu amat kali. Masalahnya, sekarang kita ngga bisa pake perang fisik lagi. Yang ada, yaitu perang yang paling keren sepanjang abad ini, Perang Pemikiran. Hanya sama yang muda, kita bisa berharap. Berharap, suatu saat dunia ini kembali damai dan manusiawi. Kalau sekarang mah, udah lebih parah dari jaman Prasejarah dulu. Ngakunya jaman modern, tapi kok kelakuannya kayak orang-orang jadul, ya? Saya jadi heran. Maka dari itu, kita butuh kader-kader yang bakalan dijadikan peluru buat nerusin perjuangan Rasulullah saw dalam terus menyebarkan agama super duper sempurna, Islam. Perjuangan itu tidak sia-sia, sama sekali tidak. Karena, itu bukan sembarang perjuangan. Itu adalah perjuangan di jalan dakwah dengan terus menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan.

Jangan bilang, tugas pemuda itu Cuma hura-hura dan menikmati masa muda. That’s a big fault!!! Salah besar!!! Justru, tugas pemuda itu semakin berat saat jaman udah kayak sekarang. Untuk jadi pejuang, kita kudu belajar. Belajartentang gimana cara jadi pejuang. Nah, masalahnya sekarang kamu siap ngga jadi pemuda pejuang, yang bersedia mengorbankan apapun di jalan Allah? Jawabannya, ada sama kamu. Tapi, sebagai seorang pemuda seharusnya kita sadar akan kewajiban yang dibebankan sama kita yang terus-terusan manggil kita, panggilan untuk berdakwah. Tapi, kok kita masih aja sering mengabaikan panggilan itu? Kita masih aja terus tergoda dengan kenyataan yang semakin menjerumuskan kita? Kita masih aja nganggap kalau kenyataan itu adalah sebuah kebenaran yang harus diikuti? Kita punya akal, tapi ngga mau mikir. Gimana sih? Padahal, Allah berfirman dalam kitabnya, ” Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk  kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata  tidak dipergunakannya untuk melihat(tanda-tanda kebesaran Allah), dan mereka mempunyai telinga  tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (TQS. al-A’raaf[7]:179). Nah, itu hanya sekedar ingatan dan ultimatum yang udah sopan banget deh. Selain itu, Allah juga berfirman, ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ;merekalah orang-orang yang beruntung (TQS. ali-Imran [3]:104). Itu adalah sebuah seruan buat kita, terutama para pemuda untuk berjuang dengan jalan berdakwah. Terus, kamu masih mau ngeles lagi? Aduh, kamu itu maunya apa sih? Mau dikatain binatang ternak atau dibawahnya?
Di atas Allah udah janji sama kita, bahwa kita bakalan jadi orang yang beruntung kalo kita mau berjuang. Nah, kamu mau ngga jadi orang-orang beruntung? Pasti mau-lah, bukan mau dong. Iya, kan? Nah, kalo gitu, tunggu apalagi? Kita kan pemuda. Ngga ada pilihan buat kita selain jadi pejuang dan revolusioner atau jadi perusak dan yang lebih parah lagi jadi pecundang? Yup, karena kita pemuda Muslim, kawan. So, mulai sekarang, tentuin arah hidup loe! That’s your style, guys! Tetapkan prinsip, bahwa waktu adalah kesempatan. Kesempatan untuk berbuat kebajikan, kesempatan untuk amar ma’ruf nahi munkar dan kesempatan buat ngumpulin pahala. Maruk dalam hal kebajikan itu malah dianjurkan. So, Yang Muda Yang Berjuang!!! SELAMAT BERJUANG, ya!!!                                                                                   

Sudahkah Kita Bersyukur ???

Tulisan ini udah lama ada. Beberapa tahun yang lalu. Rasanya pengen bernostalgia dengan masa lalu *gak penting*
Sekedar untuk berkontemplasi aja sih. Mencoba jadi seseorang yang lebih berguna meskipun cuma bisa nulis sedikit.
Yah, ini dia hasil tulisan dan buah pikiranku dengan beberapa editan..

Cekidot.

Subhanallah, Allah itu emang bener-bener ruarrr biasa dan full of surprise. Kenapa??? Karena Dia selalu ngasih surprise dan warna dalam setiap perjalanan hidup kita? Bener kan??? Hayo ngaku aja deh…

Dia udah nyiptain banyak hal yang bikin kita betah hidup lama-lama di dunia ini. Pokoknya, mulai dari hal paling kecil dan paling serius yang kita butuhin sampe hal yang pualing gede. Coba deh kalian bayangin kalo suatu saat Allah cabut nikmat itu dari dunia ini? Udah pasti kita semua, manusia-manusia serakah dan ngga tau terima kasih bakalan pada sussah luar biasa sussahnya. Contohnya, kalau Allah ngejual oksigen dimuka bumi ini buat kita bernapas. Wah, luar biasa kan susahnya??? Ya iyalah, kita kan manusia, makhluk yang paling ngga pernah puas di jagad raya ini, sampe-sampe kita ngalahin tuh satwa-satwa yang ada di kebun binatang. Mereka puas kok, dikasih makan 3 kali sehari. Kita, maunya dikasih melulu. Udah dapat 1 nikmat, minta 1000. Dapat 1000, minta 10000. Wah, emang dasar maruk ya kita? Udah diciptain sebaik-baik bentuk, udah dikasih akal, udah dikasih rizki, apalagi coba yang kurang? Allah berfirman, ”Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (TQS. ar-Rahmaan [55]:13). Sungguh sombong kalo kita ngga mau ngejalanin apa yang Allah perintahin, padahal apa yang kita minta selalu Allah kasih. Istilahnya ngga nurut sama yang nyiptain. Diserukan ke jalan yang bener malah ngeyel.

Saudara-saudara yang selalu kucintai hanya karena Allah, kita itu diciptain ngga ada yang ngga baik. Soal jelek, cantik, kaya atau hal-hal lebih lainnya itu kan relatif. Allah berfirman, ”sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (TQS. at-Tiin [95]:4). Tapi, yang pasti kita ini berwujud manusia (ya iyalah, kalau Uka-uka mana bisa jalan-jalan n’ hura-hura???). Justru karena kita manusia, makanya kita tuh musti mikir, apakah kita ini ada dengan sendirinya kayak Sun Go Kong si Manusia Monkey yang mitosnya lahir dari batu besar atau kita ada yang menciptakan? Let’s think together !!! Kalau udah dapat jawabannya, maka kita harus pandai-pandai bersyukur. Kita tuh diciptain sama Sang Khalik yang tak berawal dan tak berakhir. So, pasti dia juga nurunin hal-hal yang musti kita lakuin buat Dia. Kan Dia yang bikin kita ada di dunia ini. Tapi, kok kita malah ogah ya ngelakuin yang Dia suruh? Padahal, itu bukan karena kita ngga bisa lho. Tapi, karena kita sombong. Kita udah ngerasa bahwa kita itu berkuasa di dunia ini. Sang Pencipta hanya punya kuasa kalau kita udah mati ntar. Wah, kamu bener-bener salah kalau mikir kayak gitu. Justru karena Dia pencipta, maka dia dong yang jadi Tuan kita. Kita ini ibaratnya Budak yang bakalan ngelakuin apa aja untuk tuannya? Tapi, Budak kok sombong sama perintah Tuannya ? Maunya yang enak-enak aja. Mana bisa? Buat ngedapetin kebahagiaan, pasti dong butuh pengorbanan. Ya, iyalah. Masa masuk surga jalannya lurus-lurus dan mulus-mulus aja kayak jalan TOL??? Nah, buat masuk surga kita harus berkorban dulu. Jangan Cuma mau enak doank, ngga mau dapet yang susah-susah. Oh, ya satu lagi, semua yang ada di dalam hidup kita ini Cuma pinjaman lho. Jadi, jangan ngomel kalau suatu saat Dia ngambil kembali apa yang Dia punya. Jangan pikir, ini punya kita, ya and don’t forget jangan sombong sama peraturan yang Allah turunkan buat kita, karena itu semua buat kebaikan kita di dunia dan di akhirat. Kalau kita mau mikir-mikir lagi, apa sih yang bisa kita sombongkan dari diri kita? Kita kan Cuma Budak yang ngga akan pernah memiliki apapun. Yang memiliki segalanya ya hanya Allah, Sang Pencipta sekaligus Pengatur langit dan bumi beserta isinya. Jadi, saran saya pikir-pikir lagi deh kalau mau sombong-sombongan dan ngga nurut sama Sang Pencipta. Kalo gitu, keluar aja dari bumi-Nya Allah.  Met berkontemplasi, ya saudara-saudaraku !!