Monday, October 10, 2011

ULANG TAHUN

Setiap hari dalam setahun, selalu ada orang yang memperingati hari kelahirannya. Lazimnya hari itu dinamakan hari Ulang Tahun. Dalam bahasa Inggris disebut Birthday, bahasa Korea disebut Saengil, kalau dalam bahasa Jepang disebut Tanjoubi. Ketika hari itu tiba, semua orang terdekat mengucapkan “selamat ulang tahun” kepada mereka yang sedang berulang tahun, diiringi ucapan doa. Tidak lupa hadiah dan kue ulang tahun beserta lilin di atasnya. Sebelum memotong kue, seseorang yang berulang tahun harus mengucapkan permohonan terlebih dahulu.
Jika dilihat sepintas, semua itu tampak begitu indah. Didoakan oleh orang-orang terdekat di hari kelahiran. Bersenang-senang dan bercanda bersama. Hari yang begitu indah. Apalagi bagi yang usianya genap 17 tahun. Moment itu sangat ditunggu-tunggu. Pasalnya, menurut ‘kebanyakan’ orang di dunia ini, 17 tahun adalah gerbang menuju kedewasaan. Orang yang sudah berusia 17 tahun bebas mengambil keputusan sendiri dan melakukan apapun tanpa campur tangan orang lain lagi. Tetapi, kebanyakan yang berulang tahun tidak menyadari bahwa semakin umur mereka bertambah, maka gerbang mereka menuju masa tua semakin dekat. Bukan hanya tua secara fisik tetapi juga lebih dari itu.
Terkadang kita tidak menyadari bahwa dunia ini hanya sebentar sehingga ketika hari berganti bulan dan bulan berganti tahun kita menganggapnya biasa saja seolah kita akan hidup selamanya apalagi dengan keindahan dan gemerlap dunia. Apalagi yang usianya masih belasan, termasuk saya. Kita terkadang lupa, bahwa kita tidak akan hidup selamanya. Tidak ada yang menjamin kita masih bisa mengecap hidup sampai tahun depan. Kita lupa bahwa bukan saja orang tua yang akan mendekat batas akhir hidup mereka, tetapi kita juga, para kaum muda. Akhirnya, kita menghabiskan masa muda kita untuk mencari kesenangan dan kebahagiaan berstandar dunia. Apalagi kalau bukan materi?
Begitu hari kelahiran kita tiba, kita hanya menunggu ucapan, hadiah atau doa dari orang-orang terdekat kita. Namun, sangat jarang kita merenungi kehidupan yang sudah kita lalui sejak kita mengenal kata “ulang tahun”. Apa yang sudah kita lakukan selama usia kita hingga kita sampai pada usia kita yang sekarang? Jika pun kita merenung, hanya sepintas saja. Setelah kita kembali menghadapi gemerlap dunia, kita kembali lupa. Dan kita baru menyesal ketika malaikat maut datang dan mengambil batas usia kita. Astaghfirullahaladzim…
Jika pun semua mendoakan kita panjang umur, tidak akan ada seorang pun dari mereka yang bisa menjamin seberapa panjang umur kita. Karena, Allah sudah menentukannya sejak awal, sebelum kita bersaksi atas keesaanNya dan mengakui keberadaan RasulNya. Lalu, jika ada yang mengucapkan selamat atas hari kelahiran kita berarti bisa kita katakan bahwa secara tidak langsung orang tersebut mengucapkan selamat atas hari semakin dekatnya kita dengan batas akhir usia kita. Padahal, hari apapun itu, semua itu adalah hadiah. Hadiah dari Dia yang memiliki segalanya. Allah swt. Hadiah terbesar dariNya adalah menganugerahkan kita waktu berupa umur serta akal yang bisa kita gunakan untuk berfikir.
Sebagai seorang Muslim hendaknya kita lebih bijaksana dalam menyikapi hari yang disebut dengan hari ulang tahun. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan kita untuk merayakan ulang tahun. Apalagi dengan bersenang-senang, campur-baur dsb. Rasulullah justru selalu mengajari kita untuk merenungi dan mempergunakan waktu kita sebaik mungkin untuk beribadah kepada Allah karena waktu itu laksana pedang. Waktu tidak akan pernah menunggu. Kitalah yang berlari mengejar waktu. Allah pun mengingatkan kita dalam firmanNya :
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian; kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al Ashr [103] : 1-3).
Dalam ayat lain Allah juga mengingatkan kita.
“Dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al Ankabuut [29] : 64).
“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS. Al Hadiid [59] : 20).

Selagi kita masih muda, gunakanlah masa muda kita dengan sebaik-baiknya sebelum sampai batas waktu kita. Karena sesungguhnya manusia diikuti oleh 99 macam sebab kematian dan selainnya adalah hari tua. Sebelum hari itu datang, di hari ini sepatutnya kita merenung. Bukan hanya pada hari kita dilahirkan tetapi setiap hari, merenung tentang apa yang sudah kita lakukan hari ini dalam rangka melaksanakan kewajiban kita untuk beribadah kepada Allah? Apa yang sudah kita lakukan hari ini dalam rangka memperbaiki diri kita agar Allah ridho pada kita? Apa yang sudah kita lakukan dalam rangka menjemput hidayah dariNya?
Renungkanlah, karena waktu tidak akan pernah bisa digantikan. Wallahu ‘alam bi ash shawwaab.

Kendari,
2 September 2011 @11.31 AM
Dalam kontemplasi

No comments:

Post a Comment